January 30, 2009...3:37 PM

Berkenalan dengan Options (1)

Jump to Comments

article by Edison & Alina
edited by Edison

Sebenarnya rencana awal saya tadinya adalah menuliskan artikel seri Options sesudah artikel seri ‘Laporan Keuangan’ selesai. Tetapi terkadang timbul juga ‘rasa suntuk’ berbicara tentang topik tertentu, sehingga akhirnya saya putuskan untuk mengeluarkan artikel seri Options ini lebih awal.

—–oOo—–

Bagi sebagian pembaca blog ini, mungkin kata ‘Options’  sudah tidak asing lagi. Iklan-iklan yang menawarkan seminar/workshop option bisa dengan mudah ditemukan di berbagai media (walaupun sekarang tidak ’seramai’ dulu lagi). Sebagai contoh, koran Kompas 2 hari lalu masih memuat iklan workshop option seharga Rp 5,5 juta dengan ‘garansi‘ bahwa ‘jika posisi trading rugi, sekalipun rugi sedikit, maka biaya seminar dikembalikan‘ (meskipun ada embel-embel ’syarat & ketentuan berlaku‘). Iklan-iklan lainnya yang kerap saya lihat mengiming-imingkan keuntungan ratusan hingga ribuan persen. Dengan begitu gencarnya angin surga yang ditawarkan, tidak mengherankan banyak orang yang tergiur janji ‘surga option‘ dan rela merogoh koceknya untuk mendapatkan ‘jurus ampuh‘ bermain option.

Percaya atau tidak, sebelum saya bertemu dengan buku ‘The Inteligent Investor’, saya termasuk salah satu di antara orang-orang tersebut. Jika melihat kembali ke masa itu, saya terkadang bisa menggeleng-gelengkan kepala karena apa yang dipelajari dalam workshop Option yang saya ikuti dahulu begitu bertolak-belakang dengan ajaran Ben Graham yang saya pegang kini. Oleh sebab itu, dalam artikel seri ini nantinya saya juga akan mencoba meluruskan berbagai klaim ‘menyesatkan‘ yang kerap ditemui dalam dunia Option. Tetapi tentunya pertama-tama kita harus ‘berkenalan‘ dengan apa itu Options.

Jadi apakah Options itu?

Dalam bahasa ‘resmi‘, Options adalah kontrak resmi yang memberikan Hak (tanpa adanya kewajiban) untuk membeli atau menjual sebuah asset pada harga tertentu (yang dikenal sbg Strike Price) dan dalam jangka waktu tertentu (expiration/maturity).

Options yang memberikan hak untuk ‘membeli’ sesuatu, dikenal sebagai CALL OPTIONS, sedangkan Options yang memberikan hak untuk ‘menjual’ sesuatu, dikenal sebagai PUT OPTIONS.

Mungkin bagi sebagian pembaca blog ini, definisi di atas terlalu ‘rumit‘, ‘panjang‘ ataupun ‘bikin sakit kepala‘. Oleh karena itu, untuk mudahnya, bagi teman-teman tersebut akan saya sederhanakan saja dengan definisi yang akan bisa dipahami oleh hampir semua orang:  Options adalah Uang Muka/Panjar/DP(DownPayment)/dll. Meskipun secara mendasar ada perbedaan antara option dan Uang Muka, tetapi banyak kesamaan di antara keduanya.

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat perbandingan 2 ilustrasi:

  • Tom ingin menjual sepetak tanah miliknya. Kebetulan Alina tertarik untuk membeli tanah tersebut. Harga tanah tersebut oleh Tom ditentukan sebesar Rp 100 juta, sayangnya Alina pada saat itu hanya mempunyai Rp 5 juta. Setelah negosiasi, Tom akhirnya bersedia menerima Rp 5 juta itu sebagai Uang Muka. Tetapi karena banyak orang lain yang juga tertarik untuk membeli rumah tersebut, Tom memberikan batas waktu kepada Alina selama 3 bulan untuk menyelesaikan transaksi jual-beli tersebut. Jika batas 3 bulan tersebut lewat dan Alina belum sanggup melunasi transaksi tersebut, maka uang muka yang telah dibayarkan dianggap hangus.
  • Tom ingin menjual sepetak tanah miliknya. Kebetulan Alina tertarik untuk membeli tanah tersebut. Harga tanah tersebut oleh Tom ditentukan sebesar Rp 100 juta, sayangnya Alina pada saat itu hanya mempunyai Rp 5 juta. Setelah negosiasi, akhirnya Tom memutuskan untuk menjual CALL Options atas  tanah tersebut seharga Rp 5 juta kepada Alina, dengan ketentuan Harga Transaksi (Strike Price) sebesar Rp 100 juta, dan options tersebut akan kadaluarsa (expire) dalam waktu 3 bulan,

Jadi apa persamaannya?

Di kedua ilustrasi itu, Alina mendapatkan hak untuk membeli tanah tersebut dari Tom seharga Rp 100 juta. Dalam hal ini, Alina tidak wajib untuk membeli tanah tersebut. Misalkan saja tiba-tiba setelah 1 bulan, muncul informasi bahwa ternyata di sebelah tanah tersebut akan dijadikan tempat penampungan sampah sehingga harga tanah tersebut turun menjadi hanya Rp 50 juta. Tentunya Alina tidak akan mau lagi membeli tanah tersebut seharga Rp 100 juta. Ia akan lebih merelakan uang mukanya hangus (dalam contoh pertama) atau optionsnya kadaluarsa (dalam contoh kedua).

Tetapi bagaimana seandainya ternyata di tanah tersebut ditemukan tambang emas kecil, sehingga kini harga tanah tersebut ditaksir bernilai Rp 500 juta? Dalam kasus ini, Alina tetap berhak untuk membeli tanah tersebut seharga Rp 100 juta karena telah membayar uang muka (dalam contoh pertama) ataupun karena memiliki hak opsi/options (dalam contoh kedua).

Lalu apa perbedaan antara kedua ilustrasi uang muka dan Options di atas? Dalam contoh pertama (uang muka), jika Alina ingin membeli tanah tersebut, ia tinggal membayar Rp 95 juta, karena telah membayar uang muka sebesar Rp 5 juta. Tetapi dalam kasus kedua (options), Alina tetap harus membayar Rp 100 juta, karena Rp 5 juta yang telah ia bayarkan hanyalah untuk membeli options (hak opsi) saja, dan tidak termasuk ke dalam harga pembelian.

Ilustrasi di atas merupakan gambaran kasar bagaimana cara kerja options. Options sendiri bisa ditemukan dalam berbagai macam ‘produk’, baik misalnya properti, komoditas, hingga saham. Meskipun demikian prinsip kerjanya tetap sama. Untuk artikel ini sendiri, kita hanya akan memfokuskan pembahasannya kepada Stock Options (opsi saham).

(bersambung ke part 2)

16 Comments


Leave a Reply