Desember 3, 2008
Kemarin saya sempat ‘curhat’ dengan salah satu pembaca lama blog ini. Saya mengatakan bahwa saya punya banyak hutang. Dalam hal ini, bukan hutang uang, tetapi hutang ‘janji’ kepada pembaca blog, misalnya saja artikel ttg rasio keuangan, lalu proyek ‘kamus ala JS’ yang juga terbengkalai, dan juga part 2 artikel seri ini. Teman tersebut lalu berkomentar ‘Wah bukankah artikel tentang GM sudah basi?’.
Bagi saya pribadi, kondisi 3 raksasa otomotif di atas masih mempunyai aspek yang menarik untuk dibicarakan. Mengapa? Karena selain masih ‘kusut’ dan belum terlihat bagaimana akhir ceritanya, saya melihat adanya sedikit kesamaan dengan kondisi di negara kita. Tahukah anda kira-kira apa kesamaan yang saya maksud? Keep reading →
Desember 2, 2008
Baru-baru ini dalam artikel Apa itu Resesi, saya sempat bercerita bahwa untuk di amerika, badan yang ‘berhak‘ menyatakan kalau ekonomi USA dalam keadaan resesi atau belum adalah NBER (National Bureeau of Economic Research). Meskipun sebenarnya kebanyakan orang sudah tahu bahwa ekonomi USA dalam keadaan resesi, tanpa ‘pengakuan’ resmi dari NBER, rasanya mungkin kurang ‘formal’.
Tadi malam, akhirnya NBER secara resmi menyatakan bahwa ekonomi USA sedang berada dalam resesi. NBER juga menyatakan bahwa resesi ini dimulai sejak desember 2007 lalu, yang berarti bahwa resesi ini sudah berjalan hampir 1 tahun. Keep reading →
Desember 1, 2008
Tidak punya uang pusing, punya uang juga pusing. Kedengarannya klise? Tetapi mungkin itulah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan cerita saya kali ini. Beberapa hari lalu, seorang tante saya menelpon untuk bercerita kepada saya tentang ‘trik cerdik‘ yang ditemukannya. Trik apakah itu? Keep reading →
Nopember 28, 2008
Ini adalah bagian terakhir dari pembahasan mengenai e-mail Rina Sutarto dan komentar dari Imam Semar. Lagi-lagi, e-mail Rina ditampilkan dalam warna biru, komentar Imam Semar dalam warna merah dan komentar saya dalam warna hitam Keep reading →
Nopember 26, 2008
Melanjutkan pembahasan kemarin, hari ini kita akan kembali membedah e-mail Rina Sutarto mengenai Krisis Ekonomi dan juga opini Imam Semar terhadap e-mail tersebut. Sama seperti part 2, e-mail Rina akan saya tampilkan dalam warna biru, opini Imam Semar dalam warna merah, dan pendapat saya akan ditulis dalam warna hitam. Keep reading →
Nopember 25, 2008
Hari ini saya akan melanjutkan pembahasan mengenai e-mail Rina Sutarto tentang krisis ekonomi. Yang menariknya, seorang pembaca blog menginformasikan kepada saya bahwa ternyata e-mail tersebut baru-baru ini sudah pernah dibahas di blog Imam Semar. Oleh karena itu, berbeda dengan rencana awal saya yang cuma sekedar akan membahas pandangan Rina Sutarto, saya pikir akan ada baiknya saya membandingkan juga pandangan saya dengan pandangan Imam Semar.
Agar memudahkan pembaca mengikuti artikel ini, saya akan menggunakan warna untuk membedakan antara opini Rina, Imam Semar dan saya. Opini Rina akan dituliskan dalam warna biru, opini Imam Semar (jika ada) akan dituliskan dalam warna merah, dan opini saya akan dituliskan dalam warna hitam. Pembahasannya juga mungkin tidak akan berurut seperti di dalam e-mail dan ada beberapa bagian yang saya satukan karena tulisannya erat kaitannya. Keep reading →
Nopember 24, 2008
Sebenarnya untuk posting hari ini, rencananya saya ingin melanjutkan cerita saya mengenai kisah GM, Ford dan Chrysler. Tetapi setelah memeriksa inbox e-mail saya, saya pikir mungkin ada baiknya topik tersebut saya tunda dulu dan membahas sebuah forward e-mail yang saya terima. Apa isi e-mail tersebut? Secara garis besar, e-mail tersebut berisikan pandangan mengenai Krisis Ekonomi. Selain itu, penulis asli e-mail tersebut, yang nampaknya bernama Rina Sutarto, juga memberikan beberapa saran pribadinya mengenai beberapa hal yang terkait dengan kondisi ekonomi saat ini.
Mengapa saya lalu tertarik untuk membahas e-mail ini?
Alasan pertama adalah tentu saja karena materi bahasannya yang bisa dikatakan erat kaitannya dengan topik yang sering saya bicarakan di blog ini. Selain itu, tampaknya e-mail tersebut beredar cukup luas dan terus menerus ‘diedarkan’ kembali oleh orang yang menerimanya. Per hari ini, sudah lebih dari 10 kali saya menerima forward e-mail tersebut dari para pembaca blog yang lalu meminta pandangan saya mengenai e-mail tersebut. Keep reading →
Nopember 20, 2008
Om… Kasihan Om… Belum Makan Om….
Saya rasa teman-teman yang tinggal di Jakarta mungkin sudah tidak asing lagi dengan kalimat di atas. Di restoran, lampu merah, ataupun ruang publik lainnya, kalimat ini (dan berbagai variasinya) menjadi ‘salam‘ dari kaum papa di negara kita.
‘Salam’ kaum papa ini sendiri terkadang bisa menimbulkan reaksi yang beragam. Bagi sebagian orang, ’salam’ tersebut menimbulkan rasa simpati, tetapi bagi sebagian orang lannya, hal yang sama bisa menimbulkan rasa sebal, Biasanya rasa sebal ini akan muncul kalau kalimat tersebut keluar dari mulut seseorang yang kita rasakan tidak pantas meminta-minta, misalnya saja anak muda yang masih sehat dan masih mampu merokok pula.
2 hari terakhir ini, ’salam’ yang kita bicarakan di atas juga ramai terdengar di Capitol Hill (semacam kompleks DPR USA). Yang menariknya, orang-orang yang mengucapkan ’salam’ tersebut berbaju jas rapi, dan datang ‘mengemis‘ ke Capitol Hill dengan naik pesawat jet pribadi. Keep reading →
Nopember 17, 2008
Akhir-akhir ini ada kata yang mendadak populer…RESESI. Kata ini kini menjadi bahan pembicaraan berbagai orang, dari menteri hingga pedagang kaki lima. Dalam kondisi saat ini, memang bayangan resesi semakin nyata dan nampaknya sulit bagi perekonomian dunia untuk lari dari kenyataan ini.
Meskipun demikian, di tengah ‘populernya‘ kata Resesi ini, apakah anda tahu sebenarnya apa itu Resesi? Ketika seorang anak buah saya menyinggung soal resesi, saya lalu bertanya kepadanya ‘Apakah kamu tahu resesi itu sebenarnya apa?‘, anak buah saya tersebut berpikir beberapa lama sebelum akhirnya menjawab ‘errr… pokoknya resesi itu artinya ekonomi jelek‘…
Mudah-mudahan setelah membaca artikel ini, anda akan bisa memberikan jawaban yang lebih baik daripada jawaban anak buah saya itu. Keep reading →