Ketika saya menulis part 3 artikel seri ini, korban terakhir dari krisis Finansial adalah perusahaan finansial Bear Sterns. Waktu itu saya lalu berniat untuk menulis part 4 ini setelah ada perkembangan lebih lanjut yang sangat signifikan. Ternyata hanya dalam dua bulan sejak part 3 saya tulis, semakin banyak nama-nama besar di dunia finansial yang bertumbangan. Walaupun begitu, saya masih belum terlalu terpikir untuk melanjutkan artikel seri ini, karena beritanya masih relatif sama, yaitu perusahaan finansial tumbang.
Meskipun demikian, dalam satu minggu terakhir, saya membaca beberapa berita ‘seram‘ yang membuat saya berpikir ‘Mungkin sudah saatnya saya meneruskan cerita tentang krisis kredit‘. Meskipun demikian, mungkin kini judul yang tepat bukanlah ‘Krisis Kredit Amerika’ lagi, melainkan Krisis Kredit Global’.
—–oOo—–
Berita ’seram’ pertama yang mungkin terlewatkan dari ‘radar’ kebanyakan orang adalah berita mengenai keadaan di 2 negara bagian Amerika, yaitu Massachusetts dan California. Pengaruh krisis kredit telah begitu meluas dan dampaknya pun terasa ke sektor pemerintahan. Kedua negara bagian tersebut kini mengalami kesulitan keuangan untuk membayar berbagai pengeluaran rutinnya (spt gaji guru, polisi, pemadam kebakaran, dll).
Gubernur California, Arnold Schwarzenegger, beberapa hari lalu menulis surat kepada Departemen Keuangan USA bahwa negara bagiannya mungkin membutuhkan pinjaman lunak darurat sebesar kira-kira US$7 Milyar. Tidak lama kemudian, Bendahara negara bagian Massachusetts pun menyatakan kemungkinan membutuhkan pinjaman lunak untuk menutupi defisit anggarannya.
Dalam kondisi normal, negara bagian USA yang membutuhkan dana bisa dengan mudah mendapatkan dana tersebut dengan menerbitkan obligasi sendiri, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Tetapi dalam krisis kredit saat ini, ‘jalan’ ini bisa dikatakan tertutup. Mengapa demikian? Ini karena setelah tumbangnya berbagai lembaga finansial, berbagai perusahaan finansial yang tersisa mengalami ‘trauma’ untuk meminjamkan uang kepada pihak lain. Uang yang mereka miliki akan mereka ‘pegang erat-erat’ untuk berjaga-jaga.
Sebagai ilustrasi, kondisi ini mungkin bisa kita ibaratkan seandainya kita adalah pemilik toko sembako dan lalu terjadi kelaparan yang sangat parah yang entah kapan akan berakhir. Dalam kondisi ini, seandainya kita mengalami kesulitan mendapatkan pasokan sembako, kita mungkin akan enggan untuk menjual barang dagangan kita dan memilih menyimpannya utk konsumsi keluarga kita sendiri. Singkatnya, kondisi saat ini bisa dikatakan dalam bahasa gaul ‘Elu elu, Gue gue, jaga diri masing-masing‘.
Sulitnya mendapatkan dana dari sektor finansial memaksa para gubernur negara bagian tersebut kini berpaling kepada pemerintah pusat untuk meminta bantuan. Meskipun demikian, belum ada kabar bagaimana jawaban pemerintah pusat terhadap permohonan bantuan pinjaman ini.
Lalu apa yang akan terjadi seandainya bantuan pinjaman ini tidak diberikan ketika para negara bagian itu membutuhkannya? Tentunya negara-negara bagian tersebut tidak bisa membayar para pegawainya (polisi, guru, dll). Proyek-proyek pembangunan akan dikurangi sebagian. Ini semua akan berpengaruh negatif kepada ekonomi yang saat ini sudah ditimpa berbagai masalah lain.
Saya sendiri merasa bahwa perkembangan dari berita ini akan menarik untuk diikuti, terlebih setelah disetujuinya program Bailout terhadap sektor finansial. Jika sektor finansial bisa mendapatkan pertolongan bailout sedangkan negara bagian tidak, bisa diperkirakan akan timbul reaksi yang keras dari masyarakat Amerika. Tetapi jika satu negara bagian diberikan pertolongan, maka ada kemungkinan negara bagian lain juga akan ‘antri’ meminta bantuan dari Depkeu. Ini akan semakin menambah besar beban pemerintah pusat yang sudah harus mengeluarkan uang banyak untuk program Bailout.
—–oOo—–
Berita ‘seram‘ lainnya yang membuat saya merasa harus menulis artikel ini terkait dengan satu negara kecil di Eropa, yaitu Islandia. Perdana Menteri Islandia, dalam satu keterangan pers mengucapkan suatu kalimat yang menimbulkan kehebohan, ‘Islandia terancam bangkrut nasional‘.
Penyebab timbulnya komentar yang mengagetkan ini tidak lain lagi-lagi adalah krisis kredit.
Sama seperti negara lainnya, krisis kredit juga menimpa bank-bank di Islandia. Selama masa booming beberapa tahun terakhir, berbagai bank di Islandia melakukan ekspansi besar-besaran. Begitu hebatnya ekspansi ini, hingga kini hutang di sektor perbankan negara itu mencapai US$100 Milyar, jauh di atas Produk Domestik Bruto Nasionalnya yang cuma US$14 Milyar.
Ketika krisis kredit mulai menyebar, bank-bank tersebut pun mulai sulit mendapatkan pinjaman. Pemerintah Islandia pun mengalami kesulitan yang besar untuk menolong bank-bank tersebut karena ukurannya yang terlalu besar dibandingkan dengan negaranya. Bantuan dari luar negeri pun sulit diharapkan karena negara-negara lain juga sedang sibuk memerangi krisis kredit di negara masing-masing.
Kesulitan yang dialami oleh Islandia ini semakin menumpuk karena mata uangnya sudah melemah hingga 40% dalam tahun ini saja. Akibatnya beban hutang yang mereka tanggung semakin besar. Melemahnya mata uang Islandia ini juga mengancam kondisi perekonomian mereka yang sangat tergantung kepada import, karena menimbulkan inflasi tinggi akibat semakin mahalnya barang import. Berita terakhir menyatakan bahwa inflasi di negara ini telah mencapai 14%.
—–oOo—–
2 tahun yang lalu, saya beruntung menemukan sebuah artikel yang membuat saya tersadar akan bahaya bubble properti di Amerika. Tidak lama setelah itu, saya kembali beruntung menemukan sebuah artikel yang menulis tentang betapa berbahayanya bubble di pasar instrumen derivatif seperti CDO, CDS, dll. Oleh karena itu ketika bubble ini akhirnya pecah, saya tidak kaget sama sekali karena memang sudah saya antisipasi sejak lama. Meskipun demikian, tidak pernah sekalipun saya terpikir bahwa krisis kredit saat ini akan sampai bisa menggoyang sebuah negara bagian ataupun negara (sekalipun negara kecil seperti Islandia).
Dengan perkembangan terakhir ini, saya pikir ada baiknya saya kembali mengulangi ‘wanti-wanti’ saya kepada para pembaca blog ini.
Seperti kita ketahui, saat ini mulai terjadi persaingan antar bank untuk memberikan ‘bunga’ yang tinggi untuk deposito, di atas bunga yang dijamin oleh program LPS bahkan di atas bunga dari Obligasi ORI. Tentunya kita perlu mempertanyakan alasan mengapa bank-bank tersebut melakukan hal seperti ini. Umumnya, penyebab utamanya adalah bank-bank tersebut mengalami kesulitan menghimpun dana dari masyarakat dan ada kemungkinan keadaan keuangannya agak ‘ketat’.
Jika bank-bank tersebut mengalami ‘masalah’, tentunya akan beresiko terhadap nasib uang yang kita tempatkan di bank itu, karena sudah tidak termasuk program penjaminan LPS. Pertimbangkan masak-masak sebelum teman-teman menempatkan uang di sana. Ingatlah bahwa tabungan dan deposito bukanlah tempat mencari hasil yang tinggi. Ingatlah bahwa fungsi utama dari instrumen tabungan dan deposito adalah keamanan dan likuiditas. Jangan sampai karena tergiur bunga lebih tinggi 1%-2% (per tahun), akhirnya menyesal karena timbul masalah yang tidak diinginkan.
42 Comments
October 7, 2008 at 5:33 PM
Wah ternyata krisis ini sangat mengerikan hingga membuat 2 pemerintah negara bagian di US minta dana ke pemerintah pusatnya. Kira2 jika semua pemerintah bagiannya minta ke pusat pemerintah pusatnya bisa ngasih ga ya. Atau malah ikutan seperti Islandia dan nanti presiden baru US akan bicara ‘USA terancam bangkrut nasional’
Kasian bgt tu presiden baru, ditinggalin negara bangkrut sama Bush. Hehehe mudah2an ga terjadi, klo USA bangkrut, ada berapa banyak negara lain yang akan ngikut. Waduh serem amat.
October 7, 2008 at 5:40 PM
analisa yg bagus. sy jadi kepikiran beberapa pertanyaan terutama soal ekonomi syariah…terakhir sy nonton di metro tv, mereka kayak yg senyum lebar kemenangan begitu melihat krisis yg dialami bank konvensional. Apa mereka memang akan tahan menghadapi situasi krisis perbankan ini ?
dan soal islandia yg mau bangkrut, sy jadi teringat dgn indonesia tahun 98. Bukankah kita juga pernah disebut bakal bangkrut. Namun buktinya we’re stick together dan survive…apa ada beda antara situasi indonesia tahun 98 dgn islandia ?
October 7, 2008 at 6:02 PM
Yang Islandia ga jadi bangkrut, dapat pinjaman lunak dari Rusia.
Oh iy bung nikken pasar instrumen derivatif CDO, CDS apaan sih?
Untuk Syariah akan susah diterapkan terkait pajak, karena akan terkena 2 kali pajak CMIW
October 7, 2008 at 6:34 PM
Bro Niken dapat sumber2 darimana ya.. Kira2 berlangganan website apa aza, biar news/analisa keuangan kita selalu aktual biar gak ketinggalan kereta terus..
October 8, 2008 at 1:09 AM
Wah..habis liburan langsung banyak yg keluar nih..
Tapi..kok ada 2 part 3 yah..
http://janganserakah.com/2008/08/08/krisis-kredit-amerika-kisah-kegagalan-sektor-finansial-3/
http://janganserakah.com/2008/10/07/krisis-kredit-amerika-kisah-kegagalan-sektor-finansial-3-2/
Maaf…gak penting..
October 8, 2008 at 7:56 AM
hihihihi…
judulnya udah berubah…
October 8, 2008 at 11:32 AM
saya adalah orang awam tentang ekonomi tetapi saya pingin tau banyak/lebih detail “akar masalah krisis di AS”. seandainya bisa situs janganserakah apa yang harus saya kunjungi
October 8, 2008 at 2:32 PM
Analisa bagus.Saya izin mengambil artikelnya. Thx
October 8, 2008 at 4:17 PM
Ada yang perlu saya tanyakan dengan bro nikken nih ..
Melihat krisis di US seperti ini, banyak temen saya yang menyarankan untuk segera menukarkan uang kita dengan emas untuk berjaga2, sebab dikhawatirkan akan terjadi lagi krismon seperti tahun 98 lalu.
Kira2 gimana menurut pendapat bro nikken ?
Thanks.
October 8, 2008 at 4:33 PM
Klo krismon emang sudah terjadi bung tapi di Amrik. Di Indo ekonomi makro dan fundamentalnya masih kuat kok, kita juga utang2 ke luar negeri udah berkurang banyak tidak seperti krismon dulu. Utang ke IMF aja udah dilunasin pak SBY tahun lalu.
Eh yang ditanya bung nikken ya, kenapa saya yang jawab, kabur……
October 8, 2008 at 9:02 PM
Salam kenal
wah boz,kalo aku mending mikir krisis di kantongku.Hehe…
October 8, 2008 at 10:52 PM
ikutan ya..sekedar sharing aja..apa ini semua adalah dampak dari kapitalisme? dan apa ekonomi Syariah bisa mengatasi masalah ini?lalu, apa gara2 krisis di USA, Indonesia bisa mengalami nightmare seperti tahun 1997/1998?thanks..
October 9, 2008 at 10:11 AM
Sebenarnya bukan di kapitalismenya tapi lebih karena keserakahan dan kesembronoan para institusi keuangan khususnya yg berhubungan dengan kredit properti di AS.
Sistem ekonomi syariah mengharamkan riba tapi menghalalkan bagi hasil. Pada kredit usaha, ini dapat dengan mudah dihitung besarnya uang yg harus dikembalikan si peminjam. Tapi pada kredit properti yg bukan untuk usaha, saya gak ngerti penghitungan bagi hasilnya..atau mungkin tidak ada karena tidak menghasilkan.
Institusi pemberi kredit mungkin tidak akan mengeluarkan obligasi dengan jaminan aset berupa properti yg dikreditkan karena kepemilikan institusi tersebut terhadap properti yg dimaksud akan berkurang seiring si peminjam membayar pinjamannya. Menjaminkan sesuatu yg bukan milik sendiri tentunya diharamkan dalam ekonomi syariah.
Bingung..?
Gakpapa..
Saya juga..:-D
Mohon ditambahkan bro Ed juga yg lainnya,
October 9, 2008 at 11:37 AM
Mungkin gini,bahasa mudahnya.Ekonomi syariah:harga rumah sebenarnya:100jt,utk mendpt keuntungan dijual dg harga 124jt.Jd konsumen hrs mencicil 100jt/12 + 24jt/12 perbulannya dlm 1 thn.Ekonomi konvensional/kapitalisme:konsumen membyr cicilan 100jt/12 + bunga 2% /bln dlm 1 thn.Sbnrnya hampir mirip,yg menjd mslah di amerika,bunga menggelembung mjd 5%,trus rumah yg blm lunas kreditnya bs dijadikan jaminan utk utang lg.Kemudian pinjaman diberikan kpd orang yg sbnrnya tdk mampu utk kredit.
October 9, 2008 at 1:18 PM
Saya mau tahu apa pengaruhnya krisis tsb kepada kita sbg masyarakat indonesia umumnya, apakah kita harus mengetatkan pengeluaran sehari2,barang2 menjadi mahal atau apa? trus kalau kita punya deposito dollar di salah satu bank {syariah} apakah bijak utk menarik bunganya saja saat ini? krn kebetulan lagi butuh sih dan mau jatuh tempo.trm kash
October 9, 2008 at 6:20 PM
iya nih.. pengen tau apa akibatnya sama kita yang ada di ind…?? terus.. sy binggung kenapa ya kurs USD thd IDR terus naik…?? lalu apa ada kemungkinan bank2 di ind juga mengalami nasib yang sama seperti bank2 di eropa sana? terus kemungkinan apa yang bisa dilakukan untuk tetap survive dlm keadaan ini…?? terus sy jg mau tny ternyata ada jg lho bank yang counter rate nya unt deposito lebih rendah dari BI rate nya…. kira2 kenapa ya?? logikanya kan.. bank konvensional nawarin lebih tinggi dari BI rate… tolong dijawab ya… hehehe maap banyak nanya.. Tq
October 10, 2008 at 12:14 AM
Indonesia punya masalah yang lebih kompeks n ruwet ketimbang amerika,,,,, makanya dari pada terus2an mengkaji masalah amrik mendingan melihat n memperbaiki masalah di negri sendiri dech…. btw klo sebagai bahan perbandingan n pembelajaran TOP Banget Deh LO….
October 10, 2008 at 9:59 AM
Salam
Wah trims atas explainnya dari part 1 sd 4 ini, bener2 nambah wawasan. ternyata ya US yang gembongnya ekonomi kapitalis liberal..tumbang juga
October 10, 2008 at 1:26 PM
Wah, baru ngeh saya tentang krisis akibat penerbitan CDO…terus akibatnya koq merambah ke AIG dll, kenapa Bro? Apa pula maksud penerbitan CDS? Sori, lemot mode on nehh!
October 10, 2008 at 7:47 PM
Meskipun aq masih anak SMA, tp aq tertarik dengan masalah krisis finansial US!
Jika US ja bankrut, lalu bagaimana dengan negara indonesia sendiri? Bagaimana dgn rakyat terutama rakyat miskin? Sedangkan qta tw sebagian besar warga qta tdk peduli akan kepentingan negaranya?
Akankah indonesia menangis kembali stlh bencana besar beruntun melanda bangsa qta?
October 11, 2008 at 3:21 AM
ms edison sejak saya membaca blog anda beberapa hari ini,saya jd tertarik ikut mengikuti perkembangan krisis global ini
karena saya termasuk org awam dlm bidang ekonomi,mungkin anda bisa membantu dengan membuat artikel tentang bagaimana krisis ini jg bisa menghancurkan bisnis bisang asuransi seperti tadi saya lihar di tv,perusahaan asuransi yamato akhirnya mengaku bangkrut padahal mereka sudah berkembang sejak 90th yang lalu…
bayangkan usaha selama sekian lama bisa habis dalam sekejap
thanks
dunianyawira
October 13, 2008 at 2:30 PM
wah boss..menarik nih, Amerika memang lagi kena krisis saham, tapi menurut berita yg saya baca, Indonesia sektor finansial gak terlalu terkait dengan Amerika, selain itu menurut sumber yang saya baca 60% orang Amerika itu memiliki saham, jadi wajar mereka bermasalah dengan krisis global ini, orang Indonesia hanya kurang dari 1 juta orang yang bermain di saham. Ekspor kita juga ternyata sudah dialihkan dari USA dan Eropa, ke negara2 ASEAN.. Jadi saya tetap optimis Indonesia masih survive, tragedi 1998 terjadi karena kurang nya kesigapan Pemerintah waktu itu, tapi sekarang kondisinya beda, pemerintahan kita lebih solid…mengantisipasi krisis, bahkan langkah-langkah yang diambil cukup tepat, kita tidak hanya memprioritaskan sektor saham, tapi juga perbankan..sembari menunggu hasilnya, kita sebagai msyrakat jgn terlalu panik, jgn asal dengar isu lgsung “gelagapan”, kondisi kita berbeda dengan USA…kita berdoa aja, semoga tiap langkah yg dibuat pemerintah makin menjauhkan kita dari krisis.. udah waktunya kita kmbangkan produk dalam negeri supaya produk impor yang melemahkan pengusaha dapat di cegah, karena pengusaha dan IKM lah yang bisa membantu menopang kita dari krisis sekarang.
October 14, 2008 at 9:09 PM
LOL. gak perlu pusing dengan apa yang terjadi di negara tersebut. Sudah saatnya kita di indonesia harus mampu menyelenggarakan sektor ekonomi kita sendiri tanpa harus bergantung dengan sistem yang telah dibuat oleh U.S.A dan sekutunya dengan cara memarakan Usaha kecil menengah (UKM) baik secara mandiri maupun kelompok dengan cara tersebut kita bisa mengalihkan sistem ekonomi yang selama ini sudah cukup merugikan kita semua. Dengan pengembangan sektor UKM maka setidaknya kita mampu menyelenggarakan sistem ekonomi yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat maka dengan begitu kita bisa meningkatkan perekonomian rakyat yang pada akhirnya menekan angka pengangguran.Sekarang bukan saatnya jadi pegawai tapi bagaimana menjadi pengusaha kecil yang mandiri. Believe it or not kita bisa tanya atau belajar dari para pelaku UKM yang tetap Solid walaupun keadaan krisis menurut klaim para ekonom maupun spekulan.
October 15, 2008 at 11:40 AM
waduh serem banget nih, ada berita yg menggembirakan ga bro? he he
October 17, 2008 at 9:48 AM
Bung edison, maw tanya, kl g salah saya sempat baca bahwa di irlandia, negara tersebut menjamin tabungan masyarakatnya sebesar 100% ya? Skarang di Indonesia dijamin +- 2 M… Itu salah satu cara untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat agar tidak menarik uangnya di bank kan, knapa negara lain2 tidak mengikuti kebijakan tersebut? Kubaca sih katanya cukup berhasil ^.^ CMIIW…
October 17, 2008 at 3:35 PM
analisisnya bagus banget..kebetulan saya lg nyari bacaan ttg krisis amerika..padahal amerika kan byk perusahaan kaya..kok msh bisa bangkrut..kali gara2 orang kayanya pada serakah..terlalu byk numpuk harta,jd yg lain ga kebagian..mudah2an indonesia ga krisis lg, masak hrus kyk 98..
October 18, 2008 at 1:40 PM
Dengan akumulasi utang bangsa Amerika per 2007 (jumlah utang pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan rumah tangga) sebesar lebih kurang US$ 48 trilyun[1] (dengan kurs 1 US$ = Rp. 9000,- nilainya akan setara dengan kira-kira Rp. 432.000 trilyun, baca: empat ratus tiga puluh dua ribu trilyun rupiah!), secara teoritis, jika Bank Sentral Jepang dan / atau Cina dan/atau sejumlah investor lainnya (cukup salah satu saja yang beraksi, lainnya akan segera mengikuti) memutuskan menarik seluruh investasinya keluar Amerika, maka akan terjadi suatu gempa moneter yang luar biasa hebat, yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah umat manusia, di Amerika dengan episentrumnya terletak pada dua tanduk syaitannya, yaitu bursa saham dan pasar uangnya. Gempa moneter raksasa ini selanjutnya akan menimbulkan gelombang tsunami moneter yang luar biasa dahsyat yang menjalar ke seluruh penjuru dunia! (Barangkali memang layak untuk menjadikan runtuhnya menara kembar WTC sebagai simbol runtuhnya Amerika melalui kedua tanduk syaitannya, yaitu pasar uang dan pasar saham.).
October 25, 2008 at 2:54 PM
Wah…., ngeri banget, yach….
Dari semua analisa yang saya baca, saya hanya melihat bahwa Krisis yang terjadi di Amerika akibat asumsi financial yang rumit seperti krisis perbankan, saham, pasar uang, yang semuanya menjadi dampak dari krisis global.
Saya coba untuk berfikir lain, bahwa memang sudah waktunya Keserakahan itu tenggelam dari muka bumi ini, dan kesabaran terbit ke permukaan seperti layaknya siang dan malam.
Jadi kesimpulannya. betapapun hebatnya financial dan militer AS, tetap saja Keserakahan harus siap mundur karena jatah umurnya sudah habis.Apa buktinya?. musibah yang datang dari alam yang begitu dahsyat menimpa beberapa negara bagian AS.
Woow, kata orang awam
October 26, 2008 at 11:41 PM
Makanya kalau bisa nggak usah ngutang banyak2 ntar nggak bisa bayar jadi kredit macet deh dan akhirnya bikin reot ekonomi nasional. Ehm… nyambung nggak nich?
October 29, 2008 at 5:14 PM
saya pernah buat tulisan yang mirip disini
MustafaKamal.biz – penjelasan krisis amerika buat orang awam
October 29, 2008 at 8:54 PM
Dampak buat indonesia kawan2, CPO kita tersendat penjualannya ke negara2 maju yg terkena krisi tersebut (daya beli mereka turun drastis), alhasil CPO over suply harga jatuh, dijual murahpun gak ada yg beli, daya timbun pabrik sdh full, alhasil banayk TBS (ton Buah Segar) yg ditolak pabrik (-walau pemerintah sdh upayakan pangkas pajak ekspor CPO hingga 0% dr 7,5%-) dampaknya harga TBS sawit ditingkat petani jatuh pula, sekarang Rp300, bahkan sampai Rp200/kg, kawan hitung sendiri kalo perhektar hasilnya 1 hingga 2 ton/bulan (asumsi perawatan optimal) berapa pengahsilan petani yg rata2 punya 2Ha lahan. jika optimal Rp 1,2jt saja itu belum dikurangi ongkos pupuk (yg mahalnya minta ampun)& transporatsi & tenaga kerja perkwartal dibutuhkan 5 karung pupuk @Rp 350.000,-, so saat ini petani sawit di seluruh indonesia sangat menderita sekali, termasuk komoditas lain karet,kakao/coklat, kopi, mengalami kondisi sama. Dalam 3 bulan kedepan tak ada perubahan kawan2 bayangkan apa jadinya saudara kita di sektor ini (termasuk saya). Jadi bagi kawan2 yg punya simpanan uang, butuh mobil murah silahkan datang ke sentra komoditas yg sy sebut tadi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, banyak mobil keluaran 2005-keatas yg dijual dgn harga murah…….sedih sekali.
October 30, 2008 at 6:26 AM
Bukan cuma petani yang ngalamin penderitaan kaya gini. Bagian transportasi juga kena imbasnya. Baru kridit mobil buat usaha angkut2 kopi waktu harga masìh ok, eh kridit belum lunas kopi anjlok g da penjualan. Dealer jg menaikan suku bunga dgn alasan penyesuain dgn suku bunga pasar (ga ngerti alasan n hitungan darimana). Akhirnya mobil oper buat angkut kambing (persiapan jual menjelang idul adha) tapi bbm masih tinggi. Gimana urusannya? Belum lagi perawatan dan upah supir (coba2 manfaatin pengangguran). Wah berabe. Akhirnya mobil dipajang digarasi,tnp hasil dan supir tetep jadi pengangguran. Sabar, sabar… (ngusap2 dada sambil napas panjang)
November 3, 2008 at 6:07 PM
wah analisisna bagus jg neg, pas bgt tuh bwt tugas paper gw, oia sklian gw mo ngucapin makasih bgt ya bwt yg bkin analisis ini!
November 7, 2008 at 11:35 AM
wah,thanks a lot yah buat yg punya situs ini..
seenggaknya bisa bikin kita yg “know nothing” jadi “know something”…
toh belajar bisa dari mana aja kan?
share terus yah…
Jgn lupa dengerin terus
106,3 Pas Fm Business Radio Bandung
ciao…
November 13, 2008 at 8:57 AM
Terima kasih Pak atas tulisannya, saya jadi lebih mnegerti sekarang.
November 14, 2008 at 10:58 AM
waa…nampaknya mengerti sekali tentang krisis as….bisa bantu saya mengerjakan skripsi tentang krisis as ini??? hehehe…thx ya info dan penjelasannya…ditunggu bantuannya…hehehe
November 14, 2008 at 12:49 PM
hahaha… kalau jaman dahulu, jadi ‘pabrik’ skripsi itu satu lembar Rp 10 ribu. Sekarang setelah inflasi jadi berapa ya?
November 14, 2008 at 2:04 PM
satu lembar 20rb siap membantu nih…
private di tempat dech
November 22, 2008 at 7:11 PM
Hwahh..
Makasih2..efeknya aku belum ngrasain si,kecuali produk-produk dari perusahaan transnasional kaya nestle pada naik 4-5rb..(kasian yang pada punya anak kecil),tapi banyak juga teman-teman karyawan pabrik yang udah dirumahkan..gara-gara order dicancel,postpone pa tagihan belum dilunasi,
Tapi aku masih bingung (asli oon mode ga bisa off),sebenernya apa penyebab kredit macet ampe masal gitu..ada faktor lain ga kira-kira..
November 27, 2008 at 10:21 PM
Lembaga financial bisa terseret krisis, gara2 krisis kepercayaan masyarakat / lembaga financial lainnya. akibatnya kesulitan likuiditas dan akhirnya tumbang. nah kalau lembaga non financial, apakah bisa terseret juga? gimana mekanismenya? seperti kasus perusahaan group bakrie? apa gara2 investor hilang kepercayaan, mereka rame2 jual saham bakrie, lalu bakrie kesulitan likuiditas? sepertinya saya salah, ada yang bisa bantu jelaskan?
January 8, 2009 at 12:54 PM
Krisis di Amerika tersebut memberikan pelajaran yang baik bagi masyarakat, bagi pelaku-pelaku bisnis dan bagi pemerintah. Tapi sisi baiknya, disana rakyat yang tidak mampu masih diberi kesempatan memperoleh kredit, di kita rakyat yang butuh bantuan tambahan usaha prosedurnya membuat “eca” alisa eh…cape…deh…., bahkan dalam praktek membagikan dana bantuan akibat kenaikan BBM kepada yang berhak tidak utuh.
January 15, 2009 at 12:55 PM
Assalamualaikum….
menanggapi komentarnya mas toto terakhir yang pake kacamata…itu digambarnya…
satu kata !!!
Mas bener banget…sebenernya masih banyak penjelasan yang harus diberitakan ke masyarakat indonesia tentang perbankan syariah. Jadi………biar bisa pada beralih ke BS dari pada di BK mulu, BI rate naik beserta dampak2nya…akhirnya yang kena nasabah juga deh…
intinya….menurut berbagai artikel sih…krisik AS ini akan lebih parah dari tahun 98 so…………..siap-siap aja deh…
wassalamualaikum…