Hari ini penawaran perdana utk ORI 5 sudah berakhir. Terlepas dari apakah ikut membeli atau tidak di pasar perdana, rasa ingin tahu masyarakat terhadap ORI 5 ini sepertinya cukup tinggi. Ini terlihat dari cukup besarnya viewcount di dua artikel saya yang terkait dengan ORI 5.
Dari pengamatan saya selama masa penawaran perdana ORI 5 ini, baik atas orang-orang di ‘lapangan’, maupun atas pertanyaan yang saya dapat (di blog maupun di e-mail), ada satu hal menarik yang saya temui. Apakah hal yang menarik perhatian saya itu? Hal yang menarik perhatian saya yaitu kekhawatiran orang-orang ORI 5 ini akan bernasib sama dengan ORI 4 yang harganya jatuh di pasar sekunder.
Begitu meluasnya kekhawatiran ini, sampai-sampai orang bank Panin tempat saya membeli ORI sampai bertanya kepada istri saya, ‘Kok beli ORI sih? Kan ada kecenderungan turun..’. Menarik bukan jika si penjual saja sampai ‘ragu‘ pada barang dagangannya? Kekhawatiran ini juga saya rasakan dari banyaknya pertanyaan di email yang bernada serupa, dan juga dari komentar di blog yg bertanya ‘beli sekarang atau di pasar sekunder ya?‘.
—–oOo—–
Dalam hal ini, saya pikir harus ada perubahan pola pandang dalam investasi di obligasi, terutama dalam kaitannya dengan ORI 5 ini.
Yang pertama adalah, fokus utama kita dalam investasi ORI itu hendaknya bukan untuk mendapatkan ‘Capital Gain’/Keuntungan berupa kenaikan harga ORI tersebut. Mengapa demikian?
Sebagai obligasi, memang harga ORI bisa naik/turun, misalkan karena perubahan tingkat suku bunga (bagi yg belum mengerti mengapa demikian, baca dulu artikel ini). Tetapi, kenaikan/penurunan harga ini tidak akan besar karena jangka waktu ORI ini hanya 5 tahun. Lain ceritanya jika masa berlaku ORI itu adalah 20-30 tahun (Obligasi jangka panjang harganya akan lebih fluktuatif).
Hal kedua yang mungkin harus disadari oleh para investor di ORI 5 ini adalah bahwa pada akhirnya, pertanyaan utama yang harus ditanyakan cuma 1: ‘Jika misalkan saya memegang ORI 5 itu sampai jatuh tempo, apakah yield/hasil sebesar 11,45% selama 5 tahun cukup menarik untuk saya?‘
—–oOo—–
Masih terkait dengan masalah di atas, seperti saya katakan, kriteria utama pertimbangan kita seharusnya adalah ‘apakah yield/hasil obligasi tersebut cukup atraktif utk kita?‘. Dalam melakukan pertimbangan ini, tentunya ada beberapa hal yang harus kita lihat, misalnya:
- Bagaimana yield obligasi tersebut jika dibandingkan dengan investasi sejenis (obligasi lain)?
- Bagaimana yield obligasi tersebut jika dibandingkan dengan investasi di instrumen keuangan lain, terutama saham?
- Bagaimana perkiraan kondisi ekonomi makro (inflasi, suku bunga dll) di masa depan, terutama selama masa berlakunya obligasi tersebut?
Untuk perbandingan ORI dengan obligasi sejenis, sudah pernah saya bahas dalam salah satu artikel saya, dimana di artikel itu, saya menulis bahwa dibandingkan dengan SUN yg hampir sama kelasnya, ORI ini lebih atraktif.
Bagaimana jika dibandingkan dengan saham? Saya pribadi merasa bahwa di tingkat sekarang ini, pasar saham di Indonesia belum terlalu atraktif bagi saya karena saya menuntut ‘bemper’ (margin of safety) yang besar sebelum saya mau masuk di bursa saham Indonesia. Bursa saham Indonesia sangat dipengaruhi oleh pasar komoditas, dan seperti kita tahu, pasar komoditas itu sangat sulit diperkirakan arahnya. Tanpa adanya ‘bemper’ yang besar, saya lebih tertarik utk terus berkutat di bursa saham luar negeri.
—–oOo—–
Lalu bagaimana dengan analisa terhadap kondisi ekonomi makro? Di sini perlu kita sadari bahwa, sebenarnya utk memperkirakan kondisi 1 tahun ke depan saja sudah merupakan suatu tugas yang sulit, apalagi jika kita ingin memperkirakan kondisi 5 tahun ke depan (seperti masa berlaku ORI ini).
Dalam jangka waktu 1 tahun ke depan, tidak tertutup kemungkinan bahwa suku bunga akan naik (bahkan dalam satu artikel lama, saya sempat menuliskan bagaimana perkiraan saya utk inflasi dan suku bunga Indonesia utk 1 tahun ini). Tetapi mengikuti contoh Graham, saya bertanya kepada diri saya sendiri ‘Bagaimana jika saya salah?‘.
Sebagai investor, saya berusaha mempersiapkan diri untuk kedua kemungkinan tersebut. Itulah sebabnya mengapa saya hanya membeli ORI di penawaran perdana ini dalam jumlah yang relatif tidak besar (hanya sebagian dari dana yg menganggur).
Dalam hal ini, jika perkiraan saya mengenai inflasi dan suku bunga benar, yaitu inflasi akan relatif tinggi sehingga memaksa pemerintah menaikkan suku bunga, maka kemungkinan besar :
- Harga ORI akan turun di pasar sekunder. Dalam hal ini, uang yang saya investasikan di ORI 5 melalui penawaran perdana ini akan mengalami ‘kerugian’.
- Jika kenaikan suku bunga benar terjadi, maka ada kemungkinan yang cukup besar bahwa bursa saham kita akan semakin ‘melorot’, apalagi jika kenaikan suku bunganya relatif besar.
Pada skenario ini, bursa saham akan menjadi lebih atraktif (karena sudah turun), sehingga dana menganggur saya akan saya masukkan ke bursa saham.
Tetapi bagaimana jika perkiraan saya mengenai inflasi dan suku bunga ternyata salah? Bagaimana jika inflasi ternyata tidak ‘menggila’ sehingga pemerintah tidak menaikkan lagi suku bunga? Maka yang akan terjadi kemungkinan besar adalah:
- Harga ORI di pasar sekunder justru naik.
- Dunia usaha tidak dihantam oleh kenaikan suku bunga, sehingga ancaman terhadap bursa saham berkurang 1 buah (meskipun ancaman dari goncangan pasar komoditas tetap besar).
Pada skenario ini, meskipun peluang saya utk masuk di bursa saham Indonesia jadi lebih kecil, minimal ORI yang saya beli di pasar perdana akan memberikan saya hasil yang ‘lumayan’.
28 Comments
August 30, 2008 at 12:10 PM
bro nikken….
ORI 005 tidak diminati investor.tetapi saya sudah memutuskan untuk membeli di penawaran perdana.semoga nasibnya tidak seperti ORI 004 ,Harganya jatuh dipasar sekunder.apakah ORI 005 yg paling sepi peminatnya dibanding ORI sebelumnya? saya cuma punya 2 ORI .(ORI 004 & 005).
August 30, 2008 at 12:53 PM
menurut saya, bila ingin investasi ori lebih baik fokus pada kuponnya saja, potensi capital gain hanyalah tambahan.
September 1, 2008 at 9:33 AM
dari analisa ini,.. bagaimana bila obligasi di bandingkan dengan reksadana,.. saya liat anda jg kontributor di portal reksadana? sebaiknya ikut reksadana saham ato fix income?
thanks
September 1, 2008 at 11:49 AM
wah ternyata beli ORInya di bank Panin ya bung
belum punya dana nganggur buat beli ORI nih, padahal pgn.
Grrrrh knp tiket mudik mahal bgt
September 1, 2008 at 1:20 PM
“Justru jika sampai jatuh drastis (kalau perlu sampai ke 90), saya tertarik utk memindahkan lagi sebagian uang nganggur saya ke sana.”,
kenapa Pa ?
September 1, 2008 at 1:51 PM
@ er-na
dengan harga yang jatuh sampai ke 90 tentu ini harga yang murah, pegang saja ORI ini hingga maturity date atau jika harga naik hingga lebih dr 100, akan menguntungkan untuk dijual
September 1, 2008 at 2:40 PM
putrie_kmps
“wah ternyata beli ORInya di bank Panin ya bung
belum punya dana nganggur buat beli ORI nih, padahal pgn.
Grrrrh knp tiket mudik mahal bgt”
September 3, 2008 at 7:42 AM
Ada juga lho, pembeli ORI disamping mengharapkan imbalan dari modal yang ditanamkan, namun juga memenuhi ajakan pemerintah untuk berpartisipasi dalam pembangunan. Hitung-hitung balas budi terhadap fasilitas pelebaran jalan hotmix yang dinikmati saban hari dalam perjalanan dari dan menuju tempat kerja.
September 3, 2008 at 11:05 AM
Yap, betul. Ikut membantu negara.! !
Yah, walau ga besar sech uang yang saya tanam tapi mudah-mudahn “bukti cinta saya” pada INDONESIA-ku ini bisa bermanfaat.
amien
September 3, 2008 at 4:05 PM
Mudah-mudahan semuanya akan membaik di ORI selanjutnya. Menurut saya, Bank Panin sebagai Agen Penjual tidak boleh bersikap pesimistis, apalagi sebagai Agen Penjual berarti dia merupakan pihak yang dipercaya oleh Pemerintah untuk menjual produk Pemerintah, lagian mereka juga dapat fee. Harga ORI di pasar sekunder yang turun, menurut saya tidak terlalu bermasalah jika kita memegang prinsip hold to maturity, karena kupon yang kita terima tetap tiap bulannya. Dan pada saat jatuh tempo, Pemerintah tetap akan membayar pokok sebesar 100%.
September 3, 2008 at 4:16 PM
wah ternyata peminat ORI semakin meningkat jumlahnya seiring dengan keuntungan/return yang tinggi dan jaminan keamanan berinvestasi yang tidak ada di instrumen lainnya. Lagian kalau bukan di pasar perdana kapan lagi kita bisa beli ORI, soalnya walaupun harga di pasar sekunder turun tapi barangnya tetap aja tidak tersedia. Ya.. namanya juga produk investasi, pasti ada “provokator” yang akan mempermainkan harganya
September 6, 2008 at 11:07 PM
Sori masih baru di dunia investasi..
Btw ORI tuh brp ya harganya ?
gmn perhitungannya ya Son…
Thanks Son..
September 8, 2008 at 12:34 PM
saya setuju beli ori itu untuk tambahan dalam invetasi fix income kita , bukan dalam main invest kita. sistem yang kita pakai dalam keputusan memegang ori adalah hold to maturity adalah lebih baik. Saya pikir bagaimanapun dilihat dari kaca mata investasi ORI masih memberikan imbal hasi yang bagus, maka kita lebih baik berpikir jernih sebelum memutuskan untuk berinvestasi, bukan ikut arah angin atau spekulasi saja. Berabe kalau kita bukan ahli keuangan kalau spekulasi, bisa2 tekor.
September 9, 2008 at 1:05 PM
Bro Edison, banyak sekali pencerahan yang saya dapatkan sejak menemukan site ini. Semoga amalnya mendapatkan balasan yang setimpal dari Yang Maha Kuasa.
Btw, Saya mau tanya. Kalo mau membeli Obligasi Korporasi gimana caranya?
Jual belinya seperti apa? Dan biasanya bagaimana caranya Perusahaan tersebut membayar kuponnya kepada investor.
thanks yaa.
September 11, 2008 at 8:51 PM
Kalo saya sekarang memiliki ORI 3 dan ORI 4, dan kita bandingkan dengan bunga deposito dari bank yang mencapai 12.50%. Apa yang harus dilakukan ? Menjual ORI nya beralih ke deposito atau bertahan ?
September 20, 2008 at 11:43 PM
Dgn gonjang ganjing surat utang di amerika apa ada kemungkinan terjadi gagal bayar thd produk ORI ini.
agak susah juga saya mengira ngira ya. sptnya kemungkinan gagal bayar cukup kecil krn jangka waktu ORI ini yg cukup pendek. ( 5 tahun). kecuali kalo 10 tahun mungkin kondisi negara bisa berubah total apalagi klo sampe terjadi kudeta, indonesia pecah spt unisoviet, dll. tapi kalo cuma ganti presiden spt nya ok ok aja. liat aja setelah suharto turun, kita udah ganti 4 presiden tapi tidak terlalu banyak berubah di sektor ekonomi.
yg agak menentramkan mungkin pemerintah cukup concern dgn kepentingan publik spt krisis 98 pemerintah menggelontor bank bank dgn BLBI utk menyelamatkan uang rakyat terutama bank bank besar yah.
klo menurut bung edison ( yg punya blog ..gimana nih risiko gagal bayar ORI )
September 24, 2008 at 8:44 AM
Bung klo mau beli ORI di pasar sekunder lewat mana ya bung? Yang feenya atau spreadnya kecil (tetep g mau rugi)
Kemarin nanya di Mandiri ga bisa…
September 24, 2008 at 1:27 PM
pengalaman saya beli ORI di bank mandiri juga gitu. customer service ga tahu prosedur beli ORI di pasar sekunder..setelah tanya ke bos nya ternyata bisa dan baru di layanin. rata rata cs lebih tertarik jualan produk produk yg ngasi fee ke dia. setelah proses ORI saya si cs tetep aja ngebujuk saya utk beli produk unit link.
bisa juga kontak langsung ke mandiri sekuritas..cuma ya rada susah juga kontak kesana..kadang ada yg angkat ..kadang ga jelas. klo mau beli lebih baik ORI2..karena harga di ps sekunder jatuh..dan jatuh temponya gak lama. th 2010 klo ga salah.
September 24, 2008 at 2:24 PM
wah t4 yg tepat buat belajar investasi nih
sdh saya bookmark bang
semoga saya bisa belajar banyak disini
September 24, 2008 at 6:14 PM
hmmm bung kriuk, klo dr ceritanya berarti sebenarnya beli ORI pasar sekunder di Mandiri bs ya? kita harus tanya ke bosnya begitu? Bosnya duduknya di mana ya?
October 15, 2008 at 3:59 PM
Pak Edison, mohon penerangan bank mana yang jual ORI 005 di pasar sekunder dengan spread yang kecil? Kalau di Bank CIMB Niaga skrg dia jual 92.00 tapi kalau dilihat dari harga di koran Bisnis Indonesia seharusnya 85.00, jadi spread yg diambil CIMB Niaga terlalu mahal dan saya rugi kalau beli disana.
October 15, 2008 at 4:07 PM
@ newinv
koran bisnis indonesia berpatokan pada harga transaksi di bursa, sedangkan di Bank (bukan hanya di CIMB Niaga) selalu harga jualnya lebih tinggi dari harga bursa untuk memperoleh keuntungan sebagai agen penjual. Tiap Bank memiliki spread yg berbeda2.
Anda bisa melakukan perbandingan dengan menanyakan ke berbagai bank untuk mencari harga yang paling murah, dengan catatan Anda menanyakan ke berbagai bank tersebut di hari yang sama. Klo hari tidak sama, harga di bursa juga berbeda.
Satu lagi, tiap Bank juga memiliki batasan yang berbeda untuk minimal transaksi atau minimal pembelian yang bisa dilakukan, sebagai contoh Mandiri minimal pembelian 100jt, saya tidak tau di CIMB Niaga berapa. Untuk penjualan juga ada minimal transaksinya, jadi tanyakan lebih detail ke Bank tersebut
Oh iy, perusahaan sekuritas juga melayani pembelian ORI di pasar sekunder
October 16, 2008 at 5:39 PM
Hi putrie_kmps,
Kalau minimal pembelian gak disebut sama org CIMB Niaga. Tentu saja, kalau pembelian lebih besar, harga sell ORI bisa dinego lebih rendah.
Apakah sekuritas cenderung ambil spread yg lebih kecil dibanding bank?
October 16, 2008 at 7:00 PM
@ newinv
Wah maaf nih saya belum pernah bandingin, jadi ga bs ngasih jawaban
October 26, 2008 at 7:37 PM
Halo bro,
Mo nanya neh, Dimana gue bisa ngikutin harga pasar sekunder ORI 005, karena gue ada dana disitu.
Thanks ya .
October 28, 2008 at 12:02 PM
Punya alamat website yang bisa memantau pasar sekunder ORI nda bos?
thx
October 28, 2008 at 12:51 PM
@ LogOut
check this out
http://www.infovesta.com/
October 29, 2008 at 4:40 PM
@putrie_kmps
Thanks ya..:D