
Denzel dengan kacamatanya sepintas mirip noordin kah? j/k ^^
article by Konobe
Minggu lalu saya iseng pergi ke bioskop dan menonton The Taking of Pelham 123 yang dibintangi Denzel Wahington (Garber) dan John Travolta (Ryder). Film ini bercerita mengenai pembajakan kereta dengan kode Pelham 123 oleh Ryder dan komplotannya. Garber adalah seorang pengendali jalur kereta salah satunya adalah Pelham 123. Film ini berpusat pada komunikasi dan negosiasi yang dilakukan antara Garber dan Ryder serta sedikit aksi penangkapan. Lalu apa hubungan film ini dengan Bom Marriot-Ritz Juli 2009 lalu?
Kalau dilihat, yang satu film sedangkan yang satu adalah kisah nyata. Yang satu hanya sekedar pembajakan menggunakan sandera, dan yang satu adalah bom bunuh diri. Tapi keduanya memiliki persamaan terutama efek terhadap bursa saham.
Di The Taking of Pelham 123, si pembajak (Ryder) memang berniat mengguncang bursa dan mengambil keuntungan besar dari hal tersebut. Diceritakan akibat pembajakan itu bursa saham jatuh dan harga emas membumbung. Kejatuhan bursa begitu cepat, hingga si Pembajak berhasil melipat gandakan uangnya yang tadinya 2 juta dollar menjadi 307 juta dollar hanya dalam waktu satu jam. Panik?
Hal yang hampir sama juga menimpa bursa Indonesia ketika terjadi Bom Marriot – Ritz, Juli lalu. Saya ingat sekali hari itu saya sempat berharap ‘tidak pada tempatnya’ agar bursa jatuh. Sayangnya kondisi tersebut hanya ‘hampir sama’. Hari itu bursa indonesia memang turun walaupun penurunan ini ternyata tidak terlalu signifikan hanya sekitar 0,55%.
Bursa kita tampaknya tidak terlalu panik menanggapi berita tersebut, bahkan terkesan adem-ayem. Beberapa berita mengatakan bahwa pemerintah dan BEI ikut berperan menjaga kestabilan bursa saat itu. Namun dengan market share domestik yang hanya 35% saya jadi sedikit bertanya-tanya sekuat apa kita untuk menjaga kestabilan bursa?
Dan pertanyaan ini kembali melintas setelah menonton The Taking of Pelham 123. Apakah pasar dalam film tersebut yang terlalu over, atau pasar kita yang terlalu tenang dan percaya pada pemerintah? Atau mungkin ada indikasi lain dibalik semua gejala tersebut, misalnya pasar kita ternyata memang tidak rasional. Atau justru ini adalah indikasi betapa lemahnya kekuatan domestik kita karena banyaknya investor asing yang merasa tidak terlalu terpengaruh oleh kejadian tersebut.
Any comment?
13 Comments
August 25, 2009 at 5:26 PM
kalo di film pasti sudah di “lebih-lebihkan” agar drama-nya “menarik”
kalo di dunia nyata… no comment saja…. ga ngerti saya sama dunia pasar saham
August 25, 2009 at 8:10 PM
aku juga nonton pilem james bond kemarin di ultah salah satu stasiun tv, seorang tokoh jahatnya sudah mengambil posisi short selling dalam jumlah besar pada saham-saham maskapai penerbangan kemudian menyuruh orang menanam bom di salah satu pesawat, namun berhasil digagalkan James Bond sehingga ia mengalami kerugian yang besar sekali. ga nyangka ya ada orang yang bertindak sejahat itu, mengorbankan nyawa banyak orang hanya untuk mendapatkan keuntungan uang. bener ga sih ada orang yg sejahat itu di kehidupan nyata? atau jangan-jangan salah satu sumber dana teroris juga dengan cara ini. jadi inget kejadian WTC denger2 kabar kalo para teroris juga mengambil posisi short selling sangat besar sebelum mereka menabrakkan pesawat ke menara kembar tersebut dan akhirnya untung besar. Gila ya! kok ada orang sejahat itu, aku ga abis pikir.
August 25, 2009 at 8:17 PM
jadi ingin nonton film tersebut.
pasar kita tenang, mungkin karena tindakan pemerintah yang sigap dalam menangani bom tersebut.
August 25, 2009 at 8:41 PM
Karena indo dah biasa jadi sasaran bom ^_^
Jadi investor dah gak kaget lagi karna kejadian ini juga bukan untuk yang pertama kali ^_^
August 26, 2009 at 8:44 AM
saya setuju nih komentar Galih, gedungnya aja pernah dibom.
hehehe….
August 27, 2009 at 11:53 PM
kalo emang bener, malah jadi ironis kan… sama seperti teori kejenuhan, kesannya pasar modal Indonesia udah terlalu jenuh dengan berita bom sampai akhirnya kejadian itu udah ga ngaruh buat kita
August 26, 2009 at 4:41 PM
Dijaga dgn kekuatan politis donk, para bandar besar kan lgs dikumpulkan dan “diancam” utk tidak bermain api..
August 26, 2009 at 7:45 PM
Lho… bukannya (katanya) investor asing gampang panik kalo Indonesia kena ada prahara? Jadi inget beberapa waktu lalu sempet bicara ma temen di Taiwan soal investasi. Waktu aku bilang akan ada syariah goverment bond (sukuk) beberapa waktu silam, dia bilang “Indo ga aman buat investasi maupun spekulasi baik dari sisi pemain pasar maupun regulasi governmentnya” Jadi malu euy!!!!!
August 27, 2009 at 8:53 AM
hi3x, itu kan analisa standard kalo bursa lg jatoh..kesempatan jg utk media utk publisitas (bad news is a good news)
pemain asing kan gak sebodoh itu, kalo psr uang dan psr modal Indo masih menguntungkan ya masih betah-lah.
August 28, 2009 at 12:10 AM
Nah, apa yang meyakinkan kalau sebenarnya pasar kita sebegitunya masih ‘menguntungkan’? Padahal ini teroris lho. Ga ketangkep bertaun-taun pula. BIN kita sampai kecolongan (coba bayangin kalau CIA/FBI kecolongan). Bisa kapan pun muncul dan bikin kacau. Korban yang kemarin aja ga tanggung2 para CEO perusahaan berpengaruh lho… asing pula.
satu fakta dari teman saya yang kebetulan saat itu di Malaysia dan sedang ada pertukaran pelajar dari berbagai macam negara. Dia bilang, teman2nya dari berbagai negara akhirnya meng-cancel kunjungan ke kota-kota di Indonesia. Padahal, yang di bom kan cuma Jakarta. Bandung, Yogya, Surabaya dll bisa dibilang cukup aman.
Jadi, untung sekedar karena masih bisa ‘mainin pasar’ (mumpung masih pada antusias sama kenaikan index) atau ‘untung’ karena memang merasa kondisi riil memang bisa benar2 save walaupun dibom?
Haha, saya kalau lagi mikir gini suka sampe mbulet sendiri
August 28, 2009 at 2:54 PM
akhirnya, itulah keserakahan membuat orang berbuat sekehendak hatinya untuk tujuannya sendiri.
jadi,
Jangan Serakah…
hehehe…
September 4, 2009 at 5:48 AM
Mikir jelek boleh ya..
65% asing, mayoritas adalah tau sama tau, alias satu gank, jadi mereka kompak diam, mungkin ada link orang atas teroris. Harapan mereka domestik panik, jadi bisa menggebuk 35% rame2. Tapi ternyata mereka kecele, karena domestik dah kebal dan punya ajian bonek.
Sepertinya hal ini juga kejadian pada flu babi, harapannya bisa masif di negara berkembang, trus jualan vaksin, tapi ternyata kita cuma meriang doang, alias dah kebal.
September 4, 2009 at 1:21 PM
hahha… analog yang lutu! makanya yang 35 % harus lebih banyak olahraga biar kekebalannya bertambah!
sapa tau berikutnya ada flu kucing?