Sebagai seseorang yang senang membaca, salah satu topik yang paling menarik minat saya (selain topik investasi tentunya) adalah ‘seni perang’, terutama dalam perang di ‘jaman dahulu kala’. Sejak sekitar kelas 4 SD, nama-nama ‘seniman perang’ seperti Zhuge Liang, Sun Tzu, Alexander, Nobunaga Oda, dan Genghis Khan lebih melekat di kepala saya dibandingkan dengan nama-nama seperti Superman, Batman dan lain-lainnya. Tidak pernah bosan rasanya saya mengikuti sepak terjang mereka dalam mengalahkan lawannya dalam kancah peperangan.
Ok, sampai di situ saja cerita pribadi tentang saya. Jadi apa kaitan antara (1) investasi, (2) judul artikel ini dan juga (3) celoteh saya tentang kecintaan saya terhadap ‘seni perang’? Penasaran?
—–oOo—–
Ketika kita berbicara tentang perang (terutama perang di ‘jaman dahulu kala’), kira-kira gambaran apa yang akan pertama-tama muncul di benak anda? Meskipun jawabannya akan beraneka ragam (pasukan, jenderal, senjata, dll), mungkin tidak sedikit dari teman-teman yang akan menjawab ‘Benteng’ (Fortress/(Castle). Ini tentunya tidak aneh mengingat Benteng (Fortress/Castle) memang merupakan salah satu fokus dalam perang di jaman dahulu.
Dalam perang, nasib suatu kota bahkan negara kerap ditentukan oleh kekokohan bentengnya. Berbagai cara pun digunakan untuk meningkatkan kekokohan pertahanan benteng. Salah satu cara yang paling sering dipakai untuk memperkuat pertahanan sebuah benteng adalah dengan membuat Moat, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mungkin bisa dikatakan sebagai parit. Sebuah benteng dengan Moat (parit) di sekelilingnya mempunyai keunggulan dibandingkan dengan benteng tanpa Moat (parit).

Benteng dengan Moat (Parit)
Pada jaman dahulu, salah satu cara yang paling umum dipakai oleh pihak lawan untuk memasuki benteng adalah dengan memakai tangga/scaling ladder (gambar) dan juga ‘menara penyerbuan’/Assault Tower (gambar). Fungsi utama kedua alat tersebut adalah untuk memanjat tembok benteng. Tetapi dengan adanya moat/parit, seperti bisa kita bayangkan, kedua alat tersebut akan sulit untuk dipakai karena pihak penyerbu sulit untuk menghampiri tembok benteng.
Alat lainnya yang sering dijumpai dalam penyerbuan sebuah benteng adalah yang dikenal sebagai ‘pendobrak’/Battering Ram (gambar). Alat ini dipakai untuk mendobrak pintu benteng. Tetapi dengan adanya moat/parit, lagi-lagi alat ini jadi tidak ‘berkutik’ karena pihak yang bertahan tinggal mengangkat jembatan yang menuju ke pintu benteng. Alat tersebut pun tidak bisa menghampiri pintu benteng, karena dihalangi oleh moat/parit.
Selain ketiga alat di atas, alat yang juga kerap dipakai pihak penyerang adalah ‘Pelontar Batu’/Catapult (gambar). Fungsi utama alat ini adalah untuk melemparkan batu-batu berukuran besar untuk perlahan-lahan menjebol tembok benteng. Tetapi bahkan jika tembok benteng itu jebol pun, dengan adanya moat/parit, pihak penyerang tetap harus menyeberangi moat/parit sebelum bisa masuk lewat tembok yang sudah ‘jebol’ tersebut. Ini tentunya akan mempersulit gerakan pihak penyerbu.
Dengan berbagai manfaat yang saya ceritakan di atas, tidak heran jika mayoritas benteng di jaman dahulu dilengkapi dengan moat/parit (tentunya jika kondisi alamnya memungkinkan). Semakin lebar dan dalam moat/parit, semakin kuat pertahanan benteng tersebut
—–oOo—–
Sampai di sini, sebagian teman-teman mungkin mulai bertanya-tanya ‘Son, cerita kamu di atas sih sangat menarik membosankan, tetapi apa kaitannya dengan investasi?’
Jawabannya: Karena ternyata ‘Moat’ itu juga bisa ditemui dalam dunia usaha dan investasi.
Meskipun tidak diketahui siapa yang menciptakan istilah ‘Economic Moat’ yang menjadi judul artikel ini, tetapi mungkin boleh dikatakan bahwa istilah tersebut menjadi populer ketika dipakai oleh Warren Buffet. Economic Moat sendiri secara sederhana bisa didefinisikan sebagai “Keunggulan kompetitif suatu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan sejenis lainnya”.
Perusahaan yang memiliki Economic Moat/Parit yang lebar, akan mampu mempertahankan dirinya dari ‘serangan’ para kompetitornya.
Sebagai contoh saya akan memakai contoh Coca-Cola. Perusahaan Coca-Cola mempunyai Economic Moat yang besar dalam bentuk ‘Merek’. Merek Coca-Cola telah mempunyai ‘Share of Mind’ (pangsa ‘pikiran’) yang besar sehingga ketika orang teringat minuman Cola, maka yang terpikirkan pertama oleh mereka kemungkinan besar adalah Coca-Cola.
Misalkan saja saya berhasil mendapatkan ‘resep rahasia’ milik Coca Cola sehingga saya mampu membuat minuman yang rasanya sama persis dengan Coca-Cola. Minuman tersebut lalu saya produksi dengan merek JanganSerakah-Cola. Jika minuman tersebut saya jual dengan harga yang sama dengan Coca-Cola, boleh dipastikan bahwa saya akan gulung tikar dalam waktu yang tidak lama. Ini karena karena minuman produk saya tersebut sulit untuk laku, meskipun rasanya sama persis. Berkat ‘Share of Mind’ yang besar, dengan harga yang sama, orang-orang akan lebih memilih untuk membeli Coca-Cola dibandingkan dengan JanganSerakah-Cola. Akibatnya Coca-Cola bisa menjual produknya lebih mahal dibandingkan dengan pesaing kelas ‘gurem‘ dan bisa menikmati keuntungan yang lebih besar. Keuntungan tersebut lalu digunakan untuk ‘perang’ pemasaran dan mempertahankan ‘Share of Mind’-nya.
—–oOo—–
Tentunya Economic Moat bukan hanya berbentuk “Merek” saja. Moat atau keunggulan kompetitif bisa muncul dalam beberapa bentuk, misalnya keunggulan teknologi, keunggulan biaya dan harga, permodalan dan lain sebagainya. Google misalnya, mempunyai economic moat dalam bentuk keunggulan teknologi Search Enginenya. Sebagai contoh lainnya, kita bisa melihat Carrefour. Perusahaan ritel tersebut mempunyai posisi tawar-menawar yang kuat, sehingga bisa mendapatkan harga yang terbaik dari para produsen barang yang dijualnya. Akibatnya mereka mempunyai moat/keunggulan kompetitif dalam bentuk harga.
Lalu apakah setiap perusahaan hanya bisa mempunyai satu keunggulan? Tentunya tidak. Jika kita kembali ke contoh moat/parit dalam peperangan, semakin lebar dan dalam moat/parit di suatu benteng, semakin baik pertahanannya. Besarnya tingkat keunggulan kompetitif bisa disamakan dengan kedalaman moat/parit. Di sisi lain, semakin banyak jenis aspek yang menjadi keunggulan kompetitif suatu perusahaan, maka semakin ‘lebar’ moat/parit yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.
Sebagai contoh, kita lihat kembali contoh Coca-Cola. Apakah moat/keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh Coca-Cola hanyalah berbentuk ‘Merek’ saja? Tidak, salah satu keunggulan kompetitif utama Coca-Cola justru berada pada jaringan distribusinya. Seperti kita tahu, produk Coca-Cola boleh dikatakan bisa ditemui hampir di setiap negara di dunia ini. Saluran distribusi Coca-Cola juga merupakan salah satu senjata utamanya untuk ‘menghabisi’ pesaingnya, karena jaringan distribusinya begitu ekstensif dan dikelola dengan baik.
Jadi, bisa kita lihat bahwa moat yang dimiliki oleh Coca-Cola selain ‘dalam’ juga ‘lebar’.
Itulah sebabnya mengapa hingga kini boleh dikatakan di dunia ini hanya ada dua minuman Cola utama, yaitu Coca-Cola dan Pepsi Cola. Minuman Cola merek lain hanya bisa memperebutkan ‘remah-remah’ sisa dari Coca-Cola dan Pepsi-Cola, dan sulit sekali untuk bisa menembus dominasi kedua merek minuman Cola tersebut.
—–oOo—–
Lalu apa kaitan semua hal di atas dengan Investasi?
Warren Buffet, kerap kali mengatakan bahwa perusahaan yang bisa memberikan keuntungan kepada para investornya adalah perusahaan yang mempunyai economic moat yang lebar dan dalam. Perusahaan yang mempunyai ciri seperti ini, biasanya mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan tingkat keuntungannya. Tentunya ini akan memberikan dampak yang positif kepada para investor perusahaan tersebut.
Ketika suatu perusahaan tidak mempunyai economic moat, maka perusahaan itu lebih rentan terhadap ‘serangan’ pesaingnya. Umumnya, ini akan berujung pada ‘perang harga’ yang pada akhirnya tentu akan menurunkan tingkat keuntungan perusahaan tersebut. Hasil yang diterima oleh investor pun akhirnya mengecewakan.
Konsep “Economic Moat” dalam investasi yang dipopulerkan oleh Buffet ini boleh dikatakan merupakan buah pemikiran Philip Fisher. Jika Ben Graham kerap dicap sebagai bapak Analisa Fundamental Kuantitatif, maka bisa dikatakan Fisher adalah bapak Analisa Fundamental Kualitatif. Buffet sendiri kerap mengakui bahwa gaya investasinya adalah “85% Ben Graham dan 15% Philip Fisher”.
—–oOo—–
Pertanyaan bagi para calon investor:
- Carilah satu contoh perusahaan/bisnis yang menurut anda mempunyai Economic Moat yang lebar/dalam. Coba uraikan apa economic moat perusahaan tersebut menurut anda
atau jika anda inginkan, bisa juga :
- Carilah satu contoh perusahaan/bisnis yang menurut anda TIDAK mempunyai Economic Moat yang lebar/dalam. Coba uraikan alasan anda.
30 Comments
March 21, 2009 at 7:11 AM
Salah satu perusahaan yg terdapat economic moat mnrtku adalah Indomie dari indofood karena brand sudah kuat dan jaringan distribusi-nya ke pasar2 bagus.coba kalo kita makan di warung2 yg menjual mie instan menjual indomie telor kornet dan bukan menggunakan mie sedap/yg lain.(Jd pengen mkn indomie
) tp entah sedalam coca cola-kah economic moat-nya. Aku perhatikan yg byk terdapat economic moat-nya adalah perusahaan2 consumer goods, sedangkan utk perusahaan berjenis komoditas spt perusahaan besi tdk memiliki economic moat krn tergantung harga pesaingnya krn semua jenis besi kan sama saja jd pembeli lbh perhatian ke harga.
March 22, 2009 at 6:02 AM
Ehm.. yg nunggu2 artikel Suhu Edison dah absen duluan neh..
March 22, 2009 at 7:35 AM
Iya neeh. Ga sabaran ya aku? Suhu Edison minta petunjuk utk memilih obligasi/bond soalnya aku niat mau bond laddering spt strategi yg pernah diberikan suhu.apa pemilihannya cukup kita percaya pd lembaga pemeringkat?
March 22, 2009 at 2:08 PM
perusahaannya indofood kayaknya, produknya baru indomie… hehehhe.. feli terlalu semangat kirim respon nih!!!
March 22, 2009 at 4:39 PM
Semangat! Semangat! Biar ìlmunya setara suhu Edison. – ketauan masih jauh bgt ya kayaknya
March 21, 2009 at 7:41 AM
Kalau Chan Kim dan Renee Mauborgne bilang sih ‘BLUE OCEAN’. Sebuah strategi yg menonjolkan keunikan yg dimiliki dibanding kompetitor sehingga bisa dikatakan kompetisi (perang harga, size, kualitas produk bahkan service) bukan lagi hal yg relevan.
Heh..jadi inget..ada yg baru beli buku Blue Ocean Strategy tapi belum sempat dibuka..
March 21, 2009 at 2:40 PM
apakah perusahaan farmasi yang memiliki hak paten obat bisa dibilang punya economic moat?
Edison: Paten memang bisa dikatakan sebagai salah satu economic moat…. tetapi seberapa dalam/lebarnya moat tersebut tentunya harus diteliti lebih lanjut.
Boleh dibilang perusahaan farmasi besar rata-rata mempunyai kemampuan riset yang relatif sama. Biasanya tidak lama setelah suatu obat ‘laris’ berhasil diciptakan, perusahaan lainnya juga berhasil menciptakan obat yang sejenis…
Pada waktu itu, boleh dikatakan keunggulan kompetitif yg ditawarkan oleh paten itu tidak terasa lagi….
May 21, 2009 at 10:04 PM
ngukur dalemnya plus lebarnya sebuah economi moat perusahaan darimananya bung Edi?? apa mesti make sense pribadi yang kuat
March 21, 2009 at 3:13 PM
contoh emiten di IHSG yg punya economic moat,di sektor telekomunikasi: TLKM, alasannya; kedekatan dgn regulator dalam hal ini BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia) dan Depkominfo,industri ini kan amat sangat bergantung kepada kepastian regulasi,ditengah2 persaingan FWA(Fixed Wireless Access) yg ketat dulu,eh tiba2 Flexi bisa dibawa keluar kota,padahal udah jelas namanya aja FWA, contoh yg plg gress,Telkomsel baru aja dapet tambahan bandwidth 3G 5 Mhz dari pemerintah,padahal Indosat IM2 dan XL ngemis2 supaya jatah bandwitdh nya ditambah,tp blm dikasih..
…..
Edison: Yg bekerja di perusahaan telekomunikasi, memakai contoh dari sektor telekomunikasi
pas.. pas…
March 21, 2009 at 4:38 PM
Teh Botol Sosro, produk ini sangat terkenal dan jaringan distribusinya sangat luas. Dari Kontan yg saya baca keuntungan tahun lalu mampu mengalahkan PT Coca cola Amatil Indonesia.
Parit ekonominya sangat ampuh dari segala krisis.
March 21, 2009 at 6:54 PM
sampoerna mild,rokok mild pertama di indonesia,brandnya sangat kuat paling mahal dikelasnya tp paling laris….
biasanya orang2 (ato cm di indo ya?) produk pelopor mempunya kesan baik,dalam artian brandnya nancep di benak konsumen sangat baik,seperti honda dan aqua…
March 22, 2009 at 2:05 PM
Ikutan…..
Kalo aku fikir UNVR oke juga economic moatnya.
Alasan:
1. Produknya diversified, dari mulai Personal care (lifebuoy, dove dll), Home care (Sunlight, Surf), Food brands (blue band, Knorr, Lipton).
2. Banyak produk-produknya yang telah dipatenkan
3. Telah lama eksis dibidangnya dan tentunya kalo perusahaan dah eksis lama, memiliki kepercayaan konsumennya
4. Sistem distribusinya juga tersebar luas (kalo lagi browse barang di shelf, pasti nemuin produk2nya)
Kayaknya analisanya baru nyampe situ bisanya… hehehhheeh…..
March 24, 2009 at 7:45 PM
saya setuju sekali dgn pendapat anda…
,contohnya saya,kalo mandi gosok gigi pake pepsodent,keramas pake shampo Clear,sabunnya Lifeboy,cuci muka pake Ponds, terus pas mau brgkt kerja biar keringetnya gak bau kita pake Rexona
, atau semprotin AXE, terus kalo bajunya kotor nyucinya pake Rinso,abis itu pas mau masak biar sedap pake Royco sama kecap Bango,kalo haus tinggal minum teh sariwangi,bahkan tukang martabak aja selalu pake Blue Band,luar biasa memang produk2 nya telah mengakar dibenak masyarakat kita, tapi sayang kalo mau koleksi saham ini,harganya sudah kelewat muahaaal,sorry ya kepanjangan nulisnya…
PT Unilever Indonesia adalah primadonanya consumer goods,dari kita bangun tidur sampe tidur lagi gak mungkin kita gak pake produknya UNILEVER
May 9, 2009 at 5:53 AM
Mahal disini maksudnya apa? harga sahamnya melenceng jauhkan dari intrinsic valuenya? mas ngitungnya gimana sampe bilang mahal? minta petunjuk krn tertarik koleksi nih…
March 22, 2009 at 7:54 PM
BUMI…
di dunia pasar modal siapa sih yg ga kenal dg BUMI, penghasil batubara terbesar di Indonesia, dgr2 jg pengekspor ke 2 terbesar di dunia. Penyumbang nilai transaksi terbesar di bursa Indonesìa. Jg pemberi kerugian besar ketika saham sdg jatuh dan pemilik utang yg besar.
hehe maaf bung ga sesuai…
March 24, 2009 at 7:28 PM
hati2 bung sama BUMI,BUMI sangat menarik karna dia punya KPC sama Arutmin
,tapi coba deh anda liat hutangnya,buanyaaak banget,ditambah lagi manajemennya kaya supir Bajaj
cuma mereka doank sama Tuhan yg tahu mau ngapain,gak terbuka sama pemegang saham,akuisisi perusahaan kemahalan,buang2 uang pemegang saham,makanya saham BUMI gak bergerak dari angka 800
March 23, 2009 at 10:18 PM
Waduh sepi amat ya hari ini. Bro Edison minta ijin iseng di JS kan sekarang jaman kampanye nih saking byknya parpol jd bingung.aku mau tanya ada ga ya kira2 parpol2 yg punya political moat(meminjam istilah ‘moat’ bro Edison)shg kmungkinan menangnya jauh lbh besar dr yg lain mnrt temen2 ?
May 21, 2009 at 10:08 PM
ada-ada aja feli ini…. OOT nya sampe segitunya… hihihii….
March 24, 2009 at 6:54 AM
Relatif sedikit yg menjawab ya?
Yang menariknya lagi, dari semua yg menjawab tidak ada yang memberikan contoh perusahaan yang tidak mempunyai economic moat (ataupun moatnya dangkal)….
Ada yg mau mencoba?
March 24, 2009 at 7:50 AM
Bro Edison kalau perusahaan yang economic moat-nya rendah yaitu produk-produk yang dikonsumsi oleh pabrik seperti kemasan plastik, mungkin emitennya Aneka Kemasindo Utama TBK (karena ga tau jadi asal tebak
). Pabrik akan mencari harga yang murah (dengan kualitas yang sama) tanpa memperhatikan merk dari kemasan tsb
March 24, 2009 at 10:19 AM
kalo perusahaan properti seperti alam sutra gimana? dari kemaren rada bingung aja sih.. emang harganya murah, cuma gocap, tapi akhirnya dipending karena blom bisa nemuin keunggulan dia apa
March 24, 2009 at 7:21 PM
wah banyak pak Edison,saya ambil contoh nih yah dari sektor telekomunikasi lagi
PT Mobile 8,economic moatnya dangkal malah sdh hampir bangkrut skrg,perfindo aja sdh mengkategorikan rating obligasi nya FREN default alias gagal bayar,alasannya kalo saya pikir sih strategi marketingnya payah,gak secanggih strategi marketingnya BTEL dlm mempromosikan ESIA,apalgi Mobile 8 dgn FREN nya merupakan pemain baru,pemiliknya MNC(Media Nusantara Citra,yg punya stasiun televisi RCTI,TPI sama Global TV) juga kurang berpengalaman dlm bidang telekomunikasi, jadi sekuat apapun bentengnya dan sedalam apapun paritnya kalo prajuritnya gak bisa berperang yah kalah juga,dalam hal ini kalo saya liat tenaga marketingnya FREN gak kreatif,padahal FREN adalah produk baru,diperparah lagi dgn adanya perang tarif,makin tipis aja deh operating margin yg bisa didapet oleh para operator,apalagi buat operator yg modal nya sedikit
, seleksi alam telah berlangsung…
March 25, 2009 at 7:01 AM
Wah saya kok malahan terhipnotis oleh indome dan coca colanya… Abisa saat baca koment yang atas-atas malah ngomongin itu sih… Mana perut belum diisi lagi…
March 28, 2009 at 12:26 PM
iya nih, WB sudah pegang CC dari dulu, sapa tau bentar lagi Indofood dia kantongi jg. btw mau beli CC tp ngga kuat hehe .. mau beli indomie ah buat isi perut, mmm .. beli Indofood aja sekalian ya
March 28, 2009 at 2:16 PM
kayanya sy milih djisamsoe….itu berkelas hampir seperti cerutu kuba. Tp berbeda dgn cerutu yg kelewat esklusif, djsiamsue itu produk massal. Brandnya bagus…bisa dibeli diseluruh dunia (slama mengijinkan import produk tembakau) hahahah kayaknya djisamsue….selama mentri kesehatan di seluruh dunia itu belum “perang bener bener” maka produk ini selalu regenerasi pengguna fgn cepat,
April 5, 2009 at 6:25 PM
Emiten yg pnya moat bagus adalah unilever (UNVR). Alasannya adalah ketika krisis dan ihsg jatuh pada bulan oktober 2008,saham UNVR tidak mengalami penurunan harga yg begitu dalam,dan waktu untuk pulih begitu cepat. UNVR juga bergerak di bidang good and consumer. Lihat saja jumlah penduduk semakin lama semakin banyak, maka semakin banyak pula yang membutuhkan barang barang kebutuhan pokok, yang merupakan produk unilever
April 8, 2009 at 1:46 PM
telkomsel, walau harga mahal, customernya tetap yang terbesar
April 23, 2009 at 3:58 AM
Yang saya ingat ya Microsoft… Share mind nya itu lo, gak ada Windows, pasti kita gak bisa pake komputer. Belum lagi kampanye nya yang memperbolehkan mahasiswa di beberapa universitas untuk menggunakan produk milik mereka dengan lisensi yang legal, terlepas dari beberapa unsur positif nya… Tujuannya apa? Agar mahasiswa pun gak bisa lepas dari yang namanya Windows…
May 8, 2009 at 9:26 AM
tul, biarpun banyak yang bajakan, tapi tetep windows, hehehe…
May 8, 2009 at 12:22 AM
asyik juga nih analysis ……..meningkatkan wawasan dan polafikir bisnis secara strategis …saya lagi menyusun dan memulai usaha dengan influence ini saya lebih terbuka untuk menentukan langkah-langkah strategis untuk membangun Economic Moat bagi usaha yang saya bangun yang jelas usaha yang saya bangun belum memiliki economic moat karan masih memiliki pangsa pasar dan ketahanan daya saing yang lemah….tar kalo saya udah memiliki economic moat saya pasti bakal cerita lagi….thank you…dan jangan serakah….tpi tetep baca situs ini. sukses amien