March 16, 2009...3:00 PM

Efek Prestise: Ketika Seorang Investor Terpukau

Jump to Comments

Mungkin hanya secuil pembaca blog ini yang pernah mendengar nama Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria. Kedua orang tersebut mempunyai ‘kisah’ yang hampir sama, dan saya hanya berharap ‘kisah‘ saya di kemudian hari tidak sama dengan ‘kisah‘ kedua orang tersebut.

Jadi sebenarnya siapa itu Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria? Apa hubungan di antara keduanya? Dan mengapa saya berharap ‘kisah‘ saya tidak berakhir seperti ‘kisah‘ mereka?

—–oOo—–

Nama Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria akhir-akhir mencuat berkat nama 2 orang lainnya, Bernard Madoff dan Allen Stanford.

Mungkin sebagian pembaca blog ini masih ingat dengan nama Bernard Madoff (pernah saya ceritakan dengan detail di sini). Bernard Madoff mencuat akibat kasus penipuan skema ponzi yang dijalankannya. Kerugian yang timbul akibat penipuan madoff ini dikabarkan mencapai US$ 50 Milyar (jika 1$=Rp 10 ribu, maka total kerugiannya berarti sebesar Rp 500 triliun), dan merupakan rekor penipuan ponzi terbesar dalam sejarah.

Tidak berbeda dengan Bernard Madoff yang ‘populer‘ karena penipuannya, ‘popularitas‘ nama Allen Stanford pun mencuat karena alasan yang sama. Baru-baru ini, Allen Stanford dituntut oleh SEC (semacam Bapepam di USA) karena tuduhan menjalankan penipuan dengan menggunakan banknya. Operasi Stanford diduga juga berbau penipuan skema ponzi dan diperkirakan nilai uang yang ‘tersangkut‘ dalam penipuan Allen Stanford ini akan mencapai US$ 8 Milyar. Meskipun belum ‘sehebat‘ kasus Madoff, nilai tersebut tetap saja sangat besar (Rp 80 Triliun, dengan asumsi kurs 1$=Rp 10 ribu).

Jadi apa hubungan antara Maddoff dan Stanford dengan Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria yang saya ungkit di awal artikel ini?

Di tahun 2005, Harry Markopolos menyerahkan sebuah memo hasil karyanya yang berjudul “The World’s Largest Hedge Fund is a Ponzi Scam” kepada badan SEC (memo tersebut bisa didownload di widget Box.net di sidebar sebelah kanan blog ini). Dalam memonya itu, Harry Markopolos menyampaikan analisanya bahwa perusahaan investasi Madoff kemungkinan besar adalah sebuah penipuan ponzi. Kalaupun tidak, maka kemungkinan lainnya adalah bahwa Madoff melakukan praktek Insider Trading (yg juga merupakan satu tindakan kriminal). Tetapi analisa Harry tersebut tidak mendapatkan tanggapan dari badan SEC. Akhirnya 3 tahun kemudian (akhir 2008 lalu), barulah penipuan yang dilakukan Madoff terbongkar dan kecurigaan Harry Markopolos pun terbukti benar.

Kisah Lawrence J. de Maria hanya sedikit berbeda dengan kisah Harry.

Di tahun 2003, Lawrence J. de Maria (seorang ex-jurnalis) direkrut oleh perusahaan Allen Stanford untuk mengelola majalah internal perusahaan Stanford. Tetapi satu tahun kemudian, Lawrence diberhentikan. Menurut Lawrence, ia diberhentikan karena terlalu banyak bertanya dan mengorek-ngorek tentang bisnis sesungguhnya dari perusahaan Stanford, di tahun 2004. Di tahun 2006, Lawrence pun mengajukan tuntutan hukum kepada Stanford dan perusahaannya. Dalam tuntutannya tersebut, Lawrence mengatakan bahwa perusahaan Stanford merupakan suatu penipuan skema Ponzi. Tetapi sehari sebelum sidang, Stanford memilih untuk ‘damai‘ dengan Lawrence dan membayarkan sejumlah uang kepada Lawrence. Seharusnya kejadian ini mengundang tanda tanya yang cukup besar, tetapi sayangnya SEC tidak menindak-lanjuti kejadian ‘aneh‘ tersebut. Akibatnya hampir 3 tahun kemudian, (di awal tahun ini) barulah tersibak operasi penipuan yg dilakukan oleh Stanford.

—–oOo—–

Jadi mengapa penipuan yang dilakukan oleh Madoff dan Stanford bisa luput dari ‘mata‘ pihak yang berwenang di Amerika (dalam hal ini badan SEC)? Terlebih lagi mengingat sudah ada suara-suara ‘miring‘ dari orang-orang seperti Markopolos dan Lawrence J de Maria. Alasan utama yang dikemukakan SEC sendiri  bahwa mereka tidak mempunyai cukup sumber daya manusia untuk mencek secara detail satu-satu pengaduan ataupun ‘berita aneh’ yang mereka terima. Alasan lainnya yang dikemukakan adalah bahwa meskipun sempat memeriksa, tetapi mereka tidak berhasil mendapatkan bukti yang mendukung kecurigaan tersebut.

Saya sendiri berpendapat bahwa justru ada penyebab utama lainnya yang membuat penipuan Madoff dan Stanford bisa berjalan ‘langgeng‘ begitu lama. Anda ingin tahu apa sebab utama tersebut?

Jawabannya : Efek dari tingkat prestise (prestige) seseorang terhadap kredibilitasnya.

Berbagai studi dan riset dalam ilmu sosiologi telah membuktikan bahwa kredibilitas seseorang sangat dipengaruhi oleh tingkat prestise orang tersebut. Semakin tinggi tingkat prestise seseorang, semakin tinggi kredibilitas orang itu dan semakin mudah bagi kita untuk mempercayai orang tersebut. Pengaruh dari tingkat prestise terhadap kredibitas begitu besar sehingga kadang membuat tindakan kita kurang ‘rasional‘. Ilustrasi sederhana dari efek ini adalah sebagai berikut:

Misalkan saja anda sedang mengendarai mobil di sebuah kota yang belum pernah anda datangi sebelumnya. Di kursi belakan mobil anda, ada saya (Edison) dan Warren Buffet. Kami berdua (Edison & Warren Buffet) juga tidak pernah datang ke kota tersebut. Setelah beberapa lama mengendarai mobil, anda sampai di sebuah persimpangan jalan. Satu cabang jalan menuju ke kiri, dan satu cabang menuju ke kanan. Saya lalu menganjurkan untuk belok kiri, sedangkan Buffet menganjurkan untuk belok kanan. Saran siapakah yang akan lebih cenderung untuk anda ikuti?

Jika anda ‘rasional‘, seharusnya saran saya ataupun saran Buffet akan sama nilainya, karena kami berdua sama-sama belum pernah datang ke kota tersebut sehingga sama-sama tidak tahu jalan. Tetapi studi sosial menunjukkan bahwa dalam keadaan seperti ini, orang akan lebih cenderung percaya kepada orang yang mempunyai prestise lebih tinggi (dalam hal ini Warren Buffet). Orang-orang yang mempunyai tingkat prestise tinggi di mata kita akan lebih mudah untuk mengubah dan mempengaruhi  pendapat/pendirian kita.

Jika anda renungkan sebentar, maka sebenarnya banyak contoh yang sudah anda pernah lihat tentang penggunaan efek ‘prestise’ ini dalam kehidupan sehari-hari. Jika anda menghadiri seminar misalnya, pembicaranya akan berpenampilan rapi, berjas dan berdasi, karena salah satu hal yang mempengaruhi tingkat prestise adalah penampilan. Contoh lainnya? Seseorang yang bekerja di sektor finansial tetap mencantumkan gelarnya yang di bidang lain, misalnya ST (Sarjana Teknik), karena tingkat prestise juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan (padahal dalam hal ini, pendidikan yang dikecapnya tidak berhubungan dengan bidang pekerjaannya).

—–oOo—–

Sekarang kita kembali ke kasus Madoff dan Stanford.

Madoff, seperti yg pernah saya ceritakan di artikel lama saya ini, bukanlah orang ‘biasa‘. Dalam perjalanan karirnya, ia merupakan salah satu orang yang dianggap berjasa ‘membesarkan‘ nama NASDAQ, salah satu bursa saham utama di USA. Ia juga memiliki perusahaan broker dan perusahaannya merupakan salah satu market-maker terbesar di bursa saham NYSE (New York Stock Exchange). Ia pun pernah menjabat sebagai Ketua Direksi badan NASD (National Association of Securities Dealer). Madoff juga terkenal sebagai seorang dermawan yang aktif memberikan sumbangan kepada berbagai badan sosial dan amal.

Stanford, sama seperti Madoff, bukanlah orang ‘sembarangan‘. Ia mempunyai gelar kebangsawanan sehingga berhak menambahkan kata ‘Sir’ di depan namanya (Sir Allen Stanford). Gelar kebangsawanan tersebut diberikan oleh Commonwealth (gabungan negara eks-jajahan Inggris). Di Antigua, salah satu pusat operasi perusahaannya, ia merupakan pencipta lapangan kerja terbesar (hanya kalah oleh pemerintah Antigua). Stanford juga terkenal karena sepak terjangnya di dunia olahraga, terutama olahraga Kriket (Cricket). Ia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan badan ECB (England and Wales Cricket Board), yaitu komite olahraga Kriket di Inggris (mirip dengan PSSI utk olahraga sepakbola di negara kita). Bekerja sama dengan ECB, ia mengadakan turnamen Kriket tahunan dengan hadiah yang tidak tanggung-tanggung, US$20 juta.

Dengan tingkat prestise keduanya yang begitu tinggi, menurut anda, siapakah yang akan lebih kredibel dan lebih dipercaya oleh banyak orang (termasuk juga penyidik SEC)? Madoff dan Stanford? Atau Markopolos dan Lawrence J de Maria?

—–oOo—–

Tentunya pelaku penipuan yang memanfaatkan  ‘efek Prestise’ ini tidak hanya Madoff dan Stanford. Sejarah dunia investasi penuh dengan pelaku penipuan yang memanfaatkan efek ‘Prestise’ untuk meningkatkan kredibilitasnya sehingga bisa lebih mudah menjerat korbannya.

Praktek yang sering dilakukan misalnya adalah dengan memberikan ‘penampilan‘ yang sangat ‘wah‘. Beberapa penipuan berskala besar justru mempunyai kantor yang mentereng di lokasi mewah. Materi promosi (brosur, proposal dan lain-lainnya) juga dikerjakan dengan sangat baik dan terkesan sangat profesional.

Untuk meningkatkan prestisenya, tidak sedikit operasi penipuan yang lalu membuka cabang di berbagai kota bahkan negara. Ada juga yang menggunakan argumen bahwa pusat operasi mereka adalah di negara maju, yang lebih ketat pengawasannya. Akibatnya tidak sedikit orang yang ‘terhipnotis‘ karena merasa tidak mungkin di negara yg ‘maju‘ masih ada praktek penipuan yang bisa lolos dari pengawasan negara.

Tentunya asumsi di atas salah besar. Kasus Bernie Madoff dan Stanford misalnya malah timbul di negara maju seperti Amerika. Di Singapura, negara tetangga kita yang terkenal ketat aturan hukumnya, pun masih bisa terjadi kejahatan penipuan. Mungkin sebagian pembaca ada yang pernah mendengar nama Sunshine Empire Pte. Ltd? Perusahaan gadungan yang sangat mentereng ini (anda bisa mencoba melihat berbagai video promosi mereka di YouTube)  sempat juga membuka cabangnya di Indonesia. Kini, pemilik perusahaan tersebut ditangkap dengan melakukan dakwaan melakukan penipuan berkedok investasi.

Vijay Singh dan topi Stanford Financialsnya

Vijay Singh dan topi Stanford Financialsnya

Selain pola yang saya ceritakan di atas, pola yang juga kerap dilakukan pelaku penipuan adalah menggandeng ‘nama besar‘ orang ataupun organisasi lain dan memanfaatkan prestis orang ataupun organisasi tersebut. Ini bisa dilakukan dengan tanpa izin (alias mencatut nama) ataupun bahkan dengan sepengetahuan orang tersebut (karena orang tersebut tidak benar-benar memahami bidang tersebut). Pegolf terkenal Vijay Singh misalnya, adalah salah satu nama besar dari olahraga golf yang disponsori Allen Stanford yang saya ceritakan dalam artikel ini.

Dari dalam negeri, mungkin sebagian pembaca masih ingat kisah tentang penipuan PT QSAR (Qurnia Subur Alam Raya)? Mantan Presiden Megawati dan Mantan Ketua MPR Amien Rais sempat menghadiri salah satu acara peresmian mereka. Kehadiran kedua tokoh nasional itu termasuk tokoh yang ‘nama besar’-nya dimanfaatkan PT QSAR untuk meningkatkan prestise mereka agar memudahkan operasi penipuan mereka.

——oOo—–

Di awal artikel ini, saya sempat menulis “saya hanya berharap kisah saya di kemudian hari tidak sama dengan kisah Markopolos dan J. de Maria“. Mengapa saya menulis seperti itu?

Jawabannya sederhana, karena baru-baru ini saya menemukan sebuah produk investasi yang menimbulkan tanda tanya besar di dalam pikiran saya. Produk investasi tersebut ditawarkan oleh sebuah perusahaan ‘beken’ dari luar negeri. Untuk memuaskan rasa ingin tahu saya, saya pun lalu berkunjung ke kantor mereka dan menemui salah seorang pimpinan perusahaan tersebut untuk wilayah Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, saya pun sempat mengajukan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan informasi yang lebih detail.

Hasilnya? Saya malah pulang dari kunjungan tersebut dengan membawa tanda tanya dan rasa was-was yang justru lebih besar lagi, karena jawaban yang saya terima sangat tidak memuaskan. Beberapa penjelasan yang diberikan terasa sangat meragukan dan untuk beberapa subjek yang saya tanyakan, mereka malah terkesan ‘mengelak’ untuk memberikan penjelasan.

Meskipun demikian, saya pikir mungkin tidak sedikit orang yang akan terjebak oleh efek prestis perusahaan tersebut sehingga akhirnya lalai bertanya. Ini karena perusahaan tersebut boleh dikatakan cukup mempunyai nama, terutama berkat iklan-iklan mereka yang agresif di salah satu tv berlangganan di Indonesia. Kantor mereka pun didesign dengan mentereng, dan  lokasinya pun sangat ‘meyakinkan’, yaitu di gedung Bursa Efek Jakarta.

Awalnya, artikel ini saya tulis dengan niat mengungkapkan nama perusahaan tersebut. Tetapi niat tersebut saya tunda karena hingga saat ini saya masih terus berkorespondensi dengan perusahaan tersebut untuk ‘menggali’ informasi lebih lanjut. Saya masih berencana ingin berkunjung ke kantor pusat mereka yang berlokasi di negara tetangga kita (kebetulan saya lumayan sering berkunjung ke negara tersebut). Setelah saya selesai ‘menggali’ informasi yang lebih lanjut, mungkin barulah saya akan menulis artikel tentang perusahaan tersebut.

Sebagian pembaca mungkin lalu bertanya… ‘Wah kalau tidak mengungkapkan nama perusahaan tersebut, untuk apa artikel ini ditulis?’ Harapan saya hanyalah bahwa dengan cerita saya di atas, saya ingin agar anda bisa ‘kebal’ dari ‘efek prestis‘, sehingga tidak terjatuh dalam perangkap yang sama dengan apa yang dialami orang-orang dalam kisah Madoff dan Stanford. Bagaimana pun meyakinkannya orang yang menawarkan produk investasi tersebut kepada anda, jangan lalai untuk selalu bertanya dan bersikap kritis.

53 Comments

  • Hati-hati pak Edison. Tanggapan dari investasi-investasi lokal yang miring pun (spt IMF & Bisnis5M serta barusan KKM) sudah menjurus ke arah ancaman. anda tidak takut kalau ini yang internasional punya. Mengapa ya aku jadi merasa anda terlalu idealis seperti Martin Luther King, hati-hati kalau anda mungkin bisa mati muda dengan melakukan hal-hal semacam ini. Saya sangat respect dengan orang semacam anda yang tidak mementingkan diri sendiri dengan membagi pengetahuan yang anda miliki untuk menyadarkan orang-orang agar berinvestasi lebih bijak. Saya hanya bisa mendoakan anda tetap diberikan keselamatan. Perjuangan pak Edison tampaknya tidak akan segera usai karena bisnis semacam ini sepertinya mati satu tumbuh seribu ya. :(

    …..

    Edison: *gedubrak*… Fel… jauh benar mikirnya… :) Tapi thanks untuk doanya… Mudah-mudahan tidak sampai ke arah yg spt Felicia tulis….

    • @ Felicia
      Tenang aja, bung Nikken sudah punya 2 bodyguard yang cantik2 yang selalu mendampingi beliau. Jeng Alina dan jeng Konobe, klo ada yang macem2 akan mereka lumpuhkan dengan rayuan maut mereka…. hihihihi….

      • gantian *gedubrak*…

        Ya ampyuunn.. dirikuw disuruh melayangkan rayuan maut? bisa2 kabur semua ntar. Ngakak ngedenger rayuan mautku.. Hwahahaha =))

        Kalo Alina boleh lah, bisa-bisa banyak yang terpesona, hihihihi… Gimana Lin? ;)

      • Mudah2an sis Alina&Konobe bener bisa jd bodyguard pak Edison krn aku kuatir kalo JS dikunjungi org2 dg komentar aneh2 lg deh. ttg rayuan maut,investor jg bisa terpesona dg omongan agen penjual dg prestise tinggi.padahal mrk tdk bener2 paham apa yg org tsb bicarakan dan hanya krn omongannya gaya-lah maka investor terbuai

      • alinaprimasari

        Wah putrie ada-ada aja nih :-)

  • waduh2 klo belum bs diungkapkan secara gamblang bole dong suhu edison kasi clue tentang perusahaannya?takutnya tempat saya beli RD -.-

  • menarik sekali….sekaligus buat saya bertanya- tanya apakah itu tempat belanja bulanan saya ya?!!
    ditunggu posting lanjutannya ya.. anyway thanks buat bung edi yang sudah membuat blog ini dan membantu sekali trutama bagi saya seorang ibu rt. GBU.

  • dengan prestise, orang bisa lebih mudah percaya dengan kita. Jadi mulai sekarang kita harus bersikap hati-hati walaupun terhadap orang dengan prestise tinggi.

  • Yang penting, siapin wasiat aja. Kalo ada apa-apa, Alina ato Konobe yg meneruskan JS ini. Haha..

    Sudahlah bro.. Dari dulu, gw uda bilang jangan urusin kaya gituan. Apalagi gw tau Edison ini orangnya agak penakut, teman-teman.

    Lebih baik loe kasi ilmunya aja. Kalo yg baca gak ambil ilmunya, toh mrk tetap akan kena tipu di tempat lain. Tul gak?

    …..

    Edison: With friends like this, who needs enemies…hahaha

  • Btw, bole sharing “talk-show” tadi? Sepertinya ada hubungan dikit..

  • @ bro edison
    saya sependapat dengan felicia.
    tolong bro edison jangan gegabah, karena takutnya walaupun bertujuan baik, tapi justru merugikan bro edison sendiri.
    tulisan bro edison sangat besar manfaatnya saya rasakan. thanks & GBU

  • sory mungkin bukan tempatnya.
    bro edison apa masih punya back up artikel komoditas bagian 3 di tread lama.
    kalau ngga merepotkan tolong diemail bro edison ?
    thank alot & GBU

  • Beberapa minggu sibuk banyak ketinggalan update blog, euy..!!

    Jangan takut bro untuk menyuarakan yang benar… Walau mati satu tumbuh seribu virus2nya.. tapi kalo dah mantep suntikan anti virusnya…. yah… masih aman2 aja kan?

    Apalagi kayaknya (walau dibilang aga penakut) dengan konsep investasi yang kesannya ‘ekstra hati-hati’ untuk hal lain pun bung Edison tentunya bisa memproteksi dirinya sendiri (awas… makin gedubrak entar nih… :D )

    Tetap semangat bro!!!
    BTW, ada yang mo share event 12 maret???

  • Sangat mirip dg kasus Madoff, yaitu kasus investasi Qurnia Subur Alam Raya (QSAR)/pertanian dan AddFarm/peternakan itik. Kemampuan institusi keuangan dalam membelanjakan modal juga ada batasnya, tidak segampang itu mengeluarkan uang untuk belanja modal.
    Dari kasus QSAR/AddFarm, gak mungkin QSAR/AddFarm bisa menanamkan semua modal untuk pertanian, krn lahan pertanian dan pasar yang menyerap produk pertanian juga terbatas. AddFarm juga perlu waktu mencari pasar dan membesarkan ternaknya. Akhirnya return yg dibayar QSAR/AddFarm berasal dari duit investor yang masuk belakangan.
    Dan yang jelas, tidak ada investasi yang menjanjikan return tinggi dan stabil. Bahkan Buffet sekalipun.

  • Hm….rasanya jadi ingat kasus bang century. Siapakah yang salah ? si Broker yang menyebarkan informasi ato bang senturinya ? Bagi saya, yang salah adalah orang yang dipenjara…dia salah, makanya masuk penjara.

    Yang bener yang mana ? Ya bang senturi dong karena dia tidak masuk penjara.

    Meskipun sekarang bang senturi dananya DIBEKUKAN itu masalah lain. Yang bener adalah si broker menyebar berita HANYA MELALUI EMAIL tidak bener alias fitnah.

    Trus…si broker dapet apa ? Cuman ucapan selamat dari nasabahnya saja plus menginap di penjara gratis…..

    Saya senang dengan tulisan – tulisan anda pak Edison. Perjalanan anda mendidik orang – orang untuk melek finansial masih panjang. Saran saya, cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati….Mencantumkan sebuah nama perusahaan berarti masalah ! Berurusan dengan hukum juga masalah….Salam

    • Saya setuju sekali dg Wapannuri.perjalanan bro Edison msh panjang kenapa hrs mencari masalah jika tdk harus.ada cara2 lain yg lbh mudah,kenapa cari yg sulit.
      Spt Wapannuri td mencontohkan bang Senturi utk menunjuk suatu institusi yg sbenernya kita semua tau tp Wapannuri
      tdk langsung menunjukkannya scr gamblang.lbh spt perumpamaan. aku tau maksud bro Edison spy org2 yg (hampir) terlibat sgera sadar krn nama “investasi”nya langsung disebut tp konsekuensinya anda terlibat frontal dg mrk&bukan mustahil suatu hari mereka yg takut ketahuan menipu akan bertindak nekat dan menyerang anda.sekali lg aku harus setuju perkataan Wapannuri: Cerdik spt ular,Tulus spt merpati! Tetap Semangat against Scam!

    • Bagaimana kalau bung Edison menyebutkan ciri – ciri perusahaan “bermasalah” tsb (lebih spesifik),tanpa menyebut nama.
      Maksud saya hal2 apa saja yang patut diketahui / kita waspadai sehingga kita langsung bisa ambil sikap untuk tidak ikutan bisnis tsb.Ini hanya sekedar saran lho, soalnya kalau “something happen” terhadap bung Edison kita tidak akan dapat ilmu lagi dong lewat tulisan2nya (dasar bokis ya, lebih mementingkan tulisannya dari orangnya he..he)

      • Jadi temen-temen disini lebih peduli bro Edison / tulisannya ya? *bingung*

      • @Felicia
        Care dua-duanya dunk….!!!

      • alinaprimasari

        Untuk ciri-ciri perusahaan atau tempat investasi yang “bermasalah” sudah sering dibahas. Cukup lihat dari return investasi yang ditawarkan, apakah masuk akal atau tidak. Nah jika tidak masuk akal patut dicurigai. Biasanya memberikan hasil investasi yang fantastis dalam jangka waktu investasi yang singkat.

  • Terimakasih infonya, membuat saya lebih berhati-hati. Kunci untuk tetap hati-hati adalah jangan serakah… :)

  • alinaprimasari

    Jika ada yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Markopolos pembongkar kejahatan Madoof ada di kompas hari ini atau di link ini :
    http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/18/03542310/Markopolos..Pembongkar.Skandal.Madoff

  • masalahnya yg prestise tinggi aja nipu, gimana yg ga punya prestise ? cape dehhh menyeleksinya bro. help me………….

  • Maaf Pak Edison aku lagi nagih nih artikel di JS. Aku udah kecanduan berat JS. aku haus ilmu, kok hari ini ga ada yang baru ya :(

  • Jadi ga enak dg komentarku td,tuntutanku tlalu banyak ya.:-) Udah untung ya aku bisa ktemu JS jadi bisa banyak belajar membedakan spekulasi&investasi.tx bro Edison utk JSnya

    • alinaprimasari

      Sabar ya mbak, kita (bung Nikken, Konobe dan Saya) sedang berusaha membuat artikel-artikel lainnya kok. Membuat artikel diperlukan penelitian-penelitian kecil terlebih dahulu, jadi perlu waktu yang tidak sebentar. Terkadang sebuah artikel diperlukan waktu lebih dari 1 minggu. Apalagi klo kerjaan di kantor lagi numpuk. :-)

      • Iya mba Alina.trimakasih ya utk usaha&waktu yg diberikan mba,Konobe&bro Edison utk membuat artikel. Usaha kalian mencerdaskan masyarakat luar biasa! SALUT!

    • Kebetulan memang sedang banyak kerjaan nih Fel, jadi belum sempat nulis artikel baru… mungkin weekend ini :) Konobe juga sedang menggarap artikel ttg Kartu Kredit, Alina juga sudah ada ‘pr’ artikel dari saya…

  • upss, sory bro edison, saya salah yang belum ada part 4, ( belum ditulis, atau saya yang ngga punya ya ) haha.kalau emang belum ditulis bagaimana kalau dilanjutin bro edison
    analoginya wapannuri bagus sekali – cerdik seperti ular tulus seperti merpati
    @ bro edison
    mengenai keputusan akhirnya di tangan bro edison
    , coz bro yang paling paham resiko dan manfaatnya

    IMHO
    tapi yang pasti saya rasa semua teman -teman disini (include me) pasti mendukung
    GBU

    • Wah, saya lupa loh saya sudah menulis part 4 atau belum… Rasanya sudah (tapi juga tidak terlalu ingat)… soalnya ketika thread kaskus yang lama hilang, ada beberapa artikel saya yang ‘tidak terselamatkan’…..

      Sepertinya lama-lama ucapan wapannuri ‘cerdik seperti ular, tulus seperti merpati’ bisa jadi peribahasa…hahaha (atau jangan-jangan memang ada peribahasa spt itu??)

      Terimakasih atas masukannya dari semua teman-teman, perhatiannya kepada saya amat saya hargai..

    • Saya ada tuh artikel tentang komoditi part 3 dan 4.

  • @Felicia

    Gimana ngasihnya Fel?

  • @ toto lutu apa bisa tolong di emailkan ke [email protected]
    thanks

  • artikel komoditinya the end di part 4 yah ?

  • @ bro tutu
    thank alot paketnya, very very useful

    @bro edison
    thank alot karena sudah nulis yah bro

  • Heh..
    Jadi pengen bebek betutu.. :-D

  • Di Bali Fel..
    Ayam betutu sih..
    Variannya bebek..
    Maknyus deh..

    • Oh pantes kayak pernah denger ayam betutu,baru tau ada variannya bebek betutu.mesti dicoba nich.tx 4 the advice for my next wisata kuliner:-) oh ya di Bandung dijual ga ya? Jd laper berat

      • Wah..gak tau ya apa ada cabangnya di Bandung..
        Kamu aja yg buka..
        ‘Ayam Betutu Teh Wiwih’..
        Nanti grand openingnya undang temen2 di JS.com ;-)

  • Ayam Betutu Jangan Serakah ya namanya? Laku ga kira2 ya kalo pake nama itu.padahal sbg penjual harusnya kita seneng ya kl pembeli “serakah” belinya krn untung makin byk :-)

  • Atau cari nama yg lebih berefek prestise aja biar tambah laku. Seperti Ayam betutu Toto_Lutu kan seirama gitu :-) btw bro Edison dibahas ga diblog ini cara ber-investasi di bidang bisnis? mis.restoran.

  • makasi mas edison utk artikel ini .. sangat2 menyadarkan kembali ^.^”


Leave a Reply