Dalam artikel pertama Meneropong 2009, saya telah berbicara mengenai ancaman Kredit Konsumsi. Kini, melanjutkan artikel tersebut, saya ingin mengangkat topik berikutnya yang saya rasakan akan menjadi salah satu fokus tahun 2009 ini, yaitu ancaman tingkat pengangguran.
Sebenarnya saya mulai terpikir untuk menulis artikel ini sejak 1 bulan lalu (13 January, skrg sudah 11 February). Tetapi setelah menulis 2 paragraf, entah mengapa pikiran saya menjadi buntu. Saya tidak menemukan ide untuk menulis tentang topik ini dengan menarik (minimal agar yang membacanya tidak sampai ketiduran).
Jadi mengapa saya ingin mengangkat topik tingkat pengangguran? Mengapa artikel ‘terlantar‘ ini akhirnya saya ‘tongolkan‘ juga?
—–oOo—–
Tingkat pengangguran selalu merupakan isu penting di dalam perekonomian. Ini karena angka pengangguran yang tinggi akan menimbulkan efek buruk yang ‘berlapis‘. Ketika seseorang kehilangan pekerjaannya, ia akan mengurangi secara drastis konsumsi dan belanjanya. Akibatnya dunia usaha kehilangan ‘calon pembeli‘. Ketika pembeli berkurang, tentunya dunia usaha ‘lesu‘, dan ketika dunia usaha ‘lesu‘, biasanya terjadi lonjakan tingkat pengangguran. Ini karena sektor usaha tidak akan menambah jumlah pekerjanya (padahal setiap tahun, jumlah tenaga kerja baru akan selalu bertambah akibat pertumbuhan penduduk). Skenario lebih buruh, bukannya menambah karyawan, dunia usaha malah mengurangi jumlah pekerjanya.
Kondisi di atas, akan menjadi salah satu tantangan besar di tahun ini,
Kita lihat kondisi di luar negeri misalnya. Sejak awal tahun 2009 (alias baru 42 hari) berbagai perusahaan ternama telah mengumumkan pengurangan (ataupun rencana pengurangan) tenaga kerja:
Alcoa (Produsen Alumunium) 13.500 orang, Boeing (Manufaktur pesawat terbang) 10.000 orang, TDK Corp (Manufaktur Komponen Elektronik) 8.000 orang, Seagate (Manufaktur harddisk komputer) 2.950 orang, Dell (Manufaktur Komputer) 1.900 orang, Motorola (Telekomunikasi) 4.000 orang, Barclay’s (Perbankan) 2.100 orang, Saks Fifth Avenue (Department Store kelas Atas) 1.100 orang, Pfizer (Farmasi, produsen Viagra) 20.700 orang, Google (Internet) 100 orang, Autodesk (Software Komputer) 750 orang, AMD (Chip Komputer) 1.100 orang, Conoco Phillips (Energi) 1.300 orang, Hertz (Penyewaan Mobil) 4.000 orang, Circuit City (Distributor dan Retailer Elektronik) 30.000 orang, Honda (Otomotif) 3.100 orang, Intel (Chip Komputer) 6.000 orang, Williams-Sonoma (Retailer peralatan dapur) 1.400 orang, Eaton (Komponen Elektronik, bukan restoran di Indonesia
) 5.200 orang, BHP Billiton (Pertambangan) 6.000 orang, Ericsson (Telekomunikasi) 5.000 orang, Microsoft (Software) 5.000 orang, Harley Davidson (Otomotif/motor) 1.100 orang, Caterpillar (Produsen Alat-Alat Berat) 22.110 orang, ING (Finansial) 7.000 orang, Home Depot (Retailer produk-produk perbaikan rumah, mirip Ace Hardware) 7.000 orang, Volvo (Otomotif) 650 orang, Sprint Nextel (Telekomunikasi) 8.000 orang, QuickSilver (Fashion) 200 orang, Starbucks (Makanan&Minuman) 6.700 orang, Avery Dennison (Kimia) 3.600 orang, Kodak (Produsen peralatan Imaging/Fotografi) 3.000 orang, Walt Disney (Media) 400 orang, Nike (Fashion) 1.400 orang, Nissan (Otomotif) 20.000 orang, General Motors (Otomotif) 10.000 orang, Estee Lauder (Kosmetik) 2.000 orang, Electronic Arts (Software/Game) 100 orang, UBS (Finansial) 1.600 orang, Macy’s (Department Store) 7.000 orang, NEC (Komputer) 20.000 orang, Corning (Material, terutama Keramik) 4.900 orang, WWE (Ingat SmackDown?
) 60 orang….
Sekali lagi angka di atas barulah mencakup angka yang diumumkan sejak awal tahun ini (baru 42 hari), dan sebenarnya masih banyak lagi nama lainnya yang belum saya sebutkan. Jika kita lihat, perusahaan-perusahaan yang terkena pun tersebar di berbagai industri, sehingga bisa dikatakan gelombang PHK ini merata di berbagai sektor.
—–oOo—–
Mungkin sebagian teman-teman ada yang melihat angka tersebut dan berpikir “Ah, sepertinya angka di atas tidak terlalu besar. Apalah artinya pemecatan 10-20 ribu? Populasi Amerika saja sekitar 300 juta orang”.
Perlu diketahui, gelombang PHK, selain mempunyai pengaruh langsung kepada ekonomi pihak yang di-PHK, mempunyai efek yang sangat besar terhadap perekonomian dan orang-orang lain yang tidak di-PHK. Bayangkan jika di sekeliling anda, orang-orang yg anda kenal, teman dan saudara banyak orang yang terkena PHK. Reaksi ‘normal’ orang adalah timbulnya rasa was-was. ‘Bagaimana jika saya menjadi korban PHK berikutnya?’. Reaksi ‘normal’ berikutnya? Kita pun mulai mengencangkan ikat pinggang untuk berjaga-jaga. Konsumsi & belanja yang tidak terlalu penting lalu ditunda atau bahkan dibatalkan.
Ironisnya, reaksi ‘normal‘ tersebut justru semakin memperburuk keadaan ekonomi. Bayangkan jika semua orang menunda/membatalkan belanja & konsumsinya. Dunia usaha akan semakin ‘lesu’ dan jika ini terus berlarut-larut malah ada potensi terjadi gelombang PHK susulan. Akibatnya kekhawatiran kita akan PHK malah bisa menjadi kenyataan (fenomena Self-Fulfilling Prophecy).
—–oOo—–
Bagaimana dengan Indonesia? Tentunya Indonesia pun tidak terlepas dari masalah ini. Pertumbuhan ekonomi kita tahun ini kemungkinan hanya akan sebesar 4%, padahal sebuah study memperkirakan bahwa agar angkatan kerja baru (yang timbul akibat pertumbuhan penduduk) bisa diserap, perekonomian Indonesia perlu tumbuh minimal 9%. Ini artinya sebagian dari angkatan kerja baru akan berujung menjadi pengangguran.
Di sisi lain, ekspor Indonesia di tahun ini pun diperkirakan akan turun, sektor manufaktur banyak yang kehilangan ‘order’ ekspor akibat lesunya perekonomian di luar negeri. Seperti kita tahu, ini lalu berujung dengan ramainya berita gelombang PHK yang kerap kita dengar akhir-akhir ini.
Terkait dengan masalah tingkat pengangguran ini, saya pikir menarik untuk kita lihat hubungannya dengan apa yang saya tulis dalam bagian 1 artikel seri ini, yaitu ancaman kredit konsumsi. Naiknya tingkat pengangguran ini, akan mempunyai dampak terhadap kredit macet di negara kita karena orang yang kehilangan pekerjaannya tentu akan sulit untuk membayar hutang kredit konsumsinya (kartu kredit, cicilan motor, KTA, dll).
…..
Jadi bagaimana dengan teman-teman pembaca? Apakah di sekeliling teman-teman mulai terlihat bayangan ‘monster’ PHK?
24 Comments
February 13, 2009 at 1:05 PM
hhmm… kalo bayangan untuk mengundurkan diri gimana? Hahaha..
Tapi iya nih. Kalo ancaman kredit konsumsi udah liat tiap hari. Dan ancaman kehilangan pekerjaan juga dah mulai keliatan.. Phewww… blom lagi ntar kalo pengangguran luar negri pada lari ke sini ya? wah, makin parah aja ni.
February 13, 2009 at 6:10 PM
jd inget komen ttg anak buah bung yg blg resesi = ekonomi jelek di post ‘apa itu resesi’..
February 13, 2009 at 6:14 PM
semoga badai krisis ini cepat berlalu……..
sedih dan prihatin melihat teman2 di sekitar kita menangis karena diphk
February 13, 2009 at 8:00 PM
bang edison…
saya melihat kenyataan bahwa perusahaan itu semua bersal dari industri2 gede….menimbulkan suatu sangkaan bahwa ternyata usaha kecil2 an seperti jual gorengan, industri kecil yg lain ternyata biasa2 aj menghadapi keadaan perekonomian yang seperti ini…
dan kalau ditilik lebih dalam lagi, usaha yang dicontohkan abang itu semua abroad co.,mgkn kah solusinya menggiatkan ukm???
February 13, 2009 at 9:19 PM
Contoh yg saya berikan itu memang semua perusahaan dari luar negeri. Tetapi di dalam negeri juga sebenarnya terjadi hal yang tidak berbeda jauh. Saat ini sektor yang paling terasa mungkin adalah sektor-sektor padat karya yang bergantung dari eksport, karena mereka yang paling erat kaitannya dengan kondisi ekonomi di luar negeri.
Pada saat ini, memang banyak suara yang mengharapkan ‘UKM’ (Usaha Kecil dan Menengah) sebagai ‘juru selamat’ perekonomian
Alasannya sebenarnya sederhana saja. Jika perekonomian kita ibaratkan sebuah ladang yang sangat luas, maka UKM adalah pojok ladang yang selama ini masih belum digarap. Oleh karena itu, diharapkan pojok ladang yg selama ini tidak memberikan hasil, bisa memberikan hasil tambahan untuk menambah hasil dari bagian ladang lain yg sedang paceklik..
Lalu apakah UKM benar bisa menjadi ‘juru selamat’? Mungkin bisa, tetapi ini akan membutuhkan komitmen dan dukungan yang besar dari pemerintah. Selama ini, yang kerap ditonjolkan adalah bahwa UKM lemah di permodalan, sehingga timbul kesan bahwa jika UKM bisa mendapatkan fasilitas kredit, maka ‘permasalahan selesai‘.
Saya malah agak khawatir karena kelemahan utama UKM yang lainnya justru jarang dibicarakan. UKM secara umum mempunyai kelemahan di sisi manajemen. Akibatnya, tingkat ‘kematian‘ UKM relatif tinggi.Di Amerika misalnya, statistik dari SBA (Small Business Administration) yg pernah saya baca mengatakan bahwa 50% dari UKM ‘tewas’ dalam 5 tahun, dan salah satu penyebab utamanya adalah karena salah manajemen (bisa manajemen operasi, manajemen keuangan dll).
Tetapi kalau di sini, sptnya bimbingan serta pengembangan kemampuan manajemen UKM sptnya belum terlalu menjadi perhatian. Jika kita lihat website menteri koperasi dan UKM, beritanya mayoritas adalah tentang pengucuran kredit. Kekhawatiran saya adalah, tanpa bimbingan dan pengembangan kemampuan manajeman UKM, kredit yg dikucurkan secara gencar malah jadi senjata makan tuan karena malah menjadi kredit macet akibat usaha UKM banyak yg tumbang di kemudian hari…
Oh ya, saya ingin menambahkan sedikit tentang contoh yg anda berikan, yaitu ‘usaha gorengan‘ yang ‘biasa-biasa saja‘ dalam perekonomian sekarang.
Biasanya, untuk mempunyai gambaran yg lebih ‘akurat‘, jangan melihat ke sektor yg terkait dengan kebutuhan primer, apalagi makanan. Karena dalam resesi pun orang akan tetap perlu makan, shg di sektor-sektor tsbt kadang efeknya tidak terlalu ‘ketara‘. Belum lagi jika ada efek ‘substitusi‘ ke barang inferior. Orang-orang yang dahulu makan paginya sarapan 4 sehat 5 sempurna, karena keadaan ekonomi kurang baik, mengganti menu makan paginya menjadi makan gorengan yg mungkin hanya menghabiskan Rp 2000. Oleh karena itu, jika penjualan barang inferior meningkat, itu justru bisa menjadi sinyal bahwa perekonomian kurang baik
Sebenarnya saya agak khawatir orang salah tangkap apa tujuan saya menulis artikel seri ini, terutama part ini.
Tujuan utama saya bukanlah utk menakut-nakuti (bahwa ‘ekonomi sedang jelek’) tetapi justru sebagai sharing bahwa dalam kondisi saat ini, justru perilaku yang ‘berimbang‘ akan lebih baik bagi perekonomian kita. Artinya ini tidak ‘paranoid’ tetapi juga tidak ‘gegabah/sembrono’…. Reaksi ‘normal‘ yaitu ketakutan spt yg saya tulis di artikel ini justru malah bisa membuat skenario buruk yg kita takutkan itu menjadi kenyataan….
*** Baru sadar ini komentar saya panjang banget….ini sih artikel, bukan komentar..hahahaha***
February 13, 2009 at 9:09 PM
Indonesia sepertinya sudah mulai terjadi PHK, khususnya di indutri ekspor dan perusahaan sekuritas.
February 14, 2009 at 12:25 AM
Hehe..panjang bro..
Tapi bener juga tuh, kalo ada satu yg menonjol tiba2, harus dipertanyakan ‘ada apa dengan yg lain?’..
February 14, 2009 at 8:57 AM
Wah, udah mulai seru bicara sektor riil shg bs dpt pencerahan utk buka usaha, nih! Bung Edison, liat disekitar (termasuk nunjuk diri sendiri) byk org coba2 buka usaha. Entah itu sendiri atau sistem joinan. Namun usaha baru itu jadi alternatif aja, sementara yg utama, misalnya jadi karyawan ditempat lain ga berani ditinggalin. Kalo usaha sampingan berhasil ya dpt pemasukan, tapi kalo gagal ya minimal masih ada gaji bulanan jadi karyawan. Lalu gimana ya biar UKM atau usaha kecil yg baru mau lahir bisa berdampak besar terutama bagi pemiliknya (dari status pekerja jadi pemilik usaha). Kan ga lucu kalo SAN pemilik PT OOT yang bergerak jadi agen jualan gorengan ternyata masih jadi karyawan di bank JS
February 14, 2009 at 10:35 AM
Makin lama saya makin senang membaca tulisan Bung Edison!
Dalam situasi krisis seperti sekarang ini, mau tidak mau setiap orang tentu akan menjaga keselamatan ekonominya masing-masing. Sebagaimana halnya fenomena tiap negara yang cari selamat untuk dirinya sendiri. Saya yakin mayoritas konsumen akan mengerem belanja dengan memprioritaskan hal-2 yang penting saja atau menunda. Ini merupakan ujian bagi ketahanan ekonomi sebuah negara, perusahaan maupun rumah tangga.
Balik ke topik utama, PHK merupakan salah satu reaksi perusahaan di dalam melakukan efisiensi seiring dengan turunnya permintaan konsumen/rumah tangga. Dengan melakukan PHK perusahaan berharap dapat merampingkan fixed operating costnya dengan harapan dapat meningkatkan ketahanan perusahaan dalam melewati masa krisis. Pemerintah di satu sisi juga mengalami hal yang sama dikarenakan jumlah income (pajak) pemerintah yang turun. Namun kita belum pernah mendengar berita pemerintah mem-PHK pegawainya untuk tujuan efisiensi … hehehe. Menurut pendapat saya bukan berarti pemerintah tidak melakukan langkah-2 untuk efisiensi, namun efisiensi yang dilakukan tentunya harus juga memperhatikan tugas pemerintah untuk menggerakan roda perekonomian negara – bukan sekedar mencari selamat seperti yang dilakukan oleh perusahaan. Alhasil, meskipun mengalami penurunan pendapatan justeru pemerintah sekarang lagi sibuk untuk ‘menghambur-hamburkan’ uang negara dalam bentuk paket stimulus. Darimana uangnya … ya hutanglah, baik dari luar dan dalam negeri termasuk salah satunya ya lewat SUKUK yang lagi jadi topik hangat bulan ini.
Wah, sudah kepanjangan nich ngelanturnya … sambil harap-harap cemas semoga pemerintah kali ini benar-2 obyektif dalam usahanya untuk membangkitkan roda ekonomi lewat ‘stimulus’-2nya. Tidak bias oleh agenda besar politik, bebas KKN, dan yang paling penting berpihak kepada sebagian besar rakyat.
February 14, 2009 at 1:59 PM
kalo menurut saya, inilah waktunya untuk berinvestasi
February 14, 2009 at 2:35 PM
sektor2 informal makin banyak peminatnya nih keliatannya
February 15, 2009 at 9:19 PM
Bulan lalu ada anggota saya yg minta resign, kaget juga…”lho kamu tau kan di luar lagi ‘badai’ dan orang-orang pada ‘berlindung’?” Trus dia bilang, saya melihat ada peluang buat karier saya di luar Pak. Setelah saya kasih gambaran dan pertimbangan, akhir cerita dia cabut juga.
Saat pulkam, (Ortu saya petani di dekat danau toba) saya tanya ortu tentang krisis, beliau bilang tidak terasa, toh kebutuhan kami tidak ada ‘yg aneh2′. piss.. eh peace……
…..
Edison: Dalam kondisi krisis, biasanya memang orang yg tidak ‘aneh-aneh‘ (mengutip kata orang tua anda) itu justru lebih ‘tahan‘.
Kalau jaman orang tua kita, budaya hidup hemat dan sederhana, giat menabung, dan etos kerja keras itu masih kental. Sekarang ini budaya tersebut semakin berkurang ‘penganutnya’. Yang banyak justru adalah ‘ingin cepat kaya, tetapi kalau bisa tanpa kerja keras’
Jika ada uang lebih pun, biasanya tingkat konsumerisme generasi kita lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelum kita.
oh ya, anda ada bicara anggota, boleh saya tahu anggota apa?
February 15, 2009 at 10:31 PM
@All
Ada satu lagi yang ketinggalan. Seperti kita ketahui, dunia akuntansi umumnya penuh dengan book-dressing dan ekspektasi share-holder yang tinggi.
Dengan krisis global, manajemen mendapat kesempatan untuk ‘release’ borok laporan keuangan. Toh hampir seluruh dunia, bahkan perusahaan Fortune-List juga kena. Dengan demikian, hal ini justru mem-perburuk keadaan.
Jadi ingat pas waktu ulangan jelek (dapat nilai 4-), alasan-nya paling top adalah ,”Mau gimana lagi mama.. 1-kelas nilai-nya 4 semua. Si Anton juara kelas aja dapet 4.5. Guru-nya killer sih
..”
Btw, titip blogroll ya, Son.. Temen-temen yang perlu notebook, boleh visit:
http://www.jakartazone.com
Bonusnya, tar saya antar ke toko bro Edison buat di-traktir makan..
Tom.
…
Edison: hahaha….comment yg ini kena blokir akismet spam filter….
Kalau iklan di kompas mesti bayar, krn kita sudah berteman 15 tahun, ok-lah kamu promo di sini gratis…tapi nanti ulang-tahun pertama blog JanganSerakah.com, bikin acara makan-makan di restoran kamu, diskon 50% ya?
February 16, 2009 at 8:46 PM
Persuahaan kami bergerak di bidang penyediaan bahan baku kertas Bro, ‘anggota’ yang saya maksud itu bawahan saya. GBU
Edison: Walah… saya sempat terpikir ‘anggota’ Mafia…hahaha.. just kidding..
February 17, 2009 at 6:27 AM
@Pall
Wah jadi tertarik ma yang ini nih! Pemasok bhn baku kertasnya bentuk apa bro? Pulp, logs, waste paper or…. Bisa share info di japri? Thanx!
February 17, 2009 at 4:54 PM
Bener nih, saya aja kena imbasnya juga..hehe. trus ngomong2 teknik SEOnya bagus juga yaa…salam kenal. kunjungi juga ya
….
Edison: Wah, saya asli buta mas tentang SEO… cuma tahu kalau SEO itu singkatan dari apa..selain itu tidak tahu apa-apa
February 23, 2009 at 6:52 PM
@Edison: Walah… saya sempat terpikir ‘anggota’ Mafia…hahaha.. just kidding..
Hahaha…Lae Edison mau join jadi ‘anggota’ seandainya kita buka divisi ‘Mavia’?
@San.
Bahan pulp Mas/Miss…..
February 26, 2009 at 8:40 AM
thanks for you`r info
February 28, 2009 at 4:57 PM
wah
kalo liat yang serem2 jadinya ketakutan terus
ada baiknya jika kita jalani saja dengan lebih rileks, karena semuanya udah pada mikirin, jadi kita gak perlu ikut2an mikir………
March 5, 2009 at 12:54 PM
mari kita melihat negara kita semakin meningkat pengangguran disebabkan suku bunga bank sentral naik sehingga perusahaan susah meminjamkan ke bank sentral. Jadi, pemerintah kita harus membuat lapangan pekerjaan bagi pengangguran jangan membuat kepentingan pribadi atau memperkayakan diri.
March 5, 2009 at 1:16 PM
FYI BI baru saja menurunkan BI Rate ke posisi 7.75 basis poin. Pemerintah sudah menurunkan BI Rate dalam 4 bulan terakhir sebanyak 175 basis poin.
Tapi memang sangat disayangkan suku bunga di perbankan belum mengikuti penurunan BI Rate. Suku bunga kredit saat ini masih di kisaran 14% diharapkan dengan penurunan BI Rate akan segera diikuti oleh penurunan suku bunga perbankan
Penurunan suku bunga kredit dapat menekan struktur biaya produksi, sehingga harga produk akhir menjadi lebih kompetitif. Kondisi ini akan menolong penguatan daya beli masyarakat. Jika daya beli masyarakat naik, perusahaan akan memproduksi lebih banyak barang, dan menambah karyawannya. Jadi pengangguran bisa ikut turun. Mudah-mudahan…..
March 12, 2009 at 4:00 PM
Saya masih dapat bunga 9,99% utk 3 th saat transaksi akad kredit dgn salah satu bank swasta nasional bulan 6 th 2008 yg lalu. Setelah itu langsung melonjak deras. Bersyukur deh…
October 28, 2009 at 1:00 AM
Setiap kesulitan pasti ada kesempatan. Optimis bung……..
July 29, 2010 at 5:52 PM
Out Now
Buku “12 Kiat untuk Keluar dari Pengangguran”
Cek di ekonomiyuan.blogspot.com
Regards,
Yuan Acitra