Tidak punya uang pusing, punya uang juga pusing. Kedengarannya klise? Tetapi mungkin itulah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan cerita saya kali ini. Beberapa hari lalu, seorang tante saya menelpon untuk bercerita kepada saya tentang ‘trik cerdik‘ yang ditemukannya. Trik apakah itu?
—–oOo—–
Seperti kita tahu, semenjak kasus Bank Century, sebagian besar anggota masyarakat mulai mencemaskan bagaimana nasib uangnya di bank. Akibatnya, akhir-akhir ini terjadi ‘pengungsian‘ dana dari bank-bank kecil ke bank-bank besar yang dianggap lebih ‘aman’ oleh masyarakat (link berita).
Dampak lain dari kekhawatiran massal terhadap keamanan uang mereka di bank adalah timbulnya kesadaran mereka mengenai Suku Bunga Penjaminan. Jika dahulu mungkin hanya segelintir orang yang tahu tentang suku bunga penjaminan, kini kesadaran masyarakat tentang suku bunga Penjaminan Simpanan semakin meningkat. Kondisi Inilah yang menjadi latar belakang cerita saya kali ini.
Semenjak menyadari adanya suku bunga penjaminan simpanan (saat ini max 10%), tante yang saya ceritakan tersebut mulai mengkhawatirkan keamanan depositonya. Meskipun demikian, ada satu dilema yang dialaminya. Lucunya, saya yakin dilema yang dihadapi tante saya tersebut juga banyak dialami oleh banyak orang lainnya. Kira-kira apa dilema tersebut?
Dilema yang saya bicarakan ini bisa dikatakan timbul karena ‘salahnya‘ bank-bank secara keseluruhan. Apa ‘salahnya‘ mereka? ‘Kesalahan‘ mereka adalah bahwa mereka menawarkan bunga deposito di atas suku bunga wajar. Mayoritas bank pada saat ini menawarkan deposito yang justru suku bunganya di atas suku bunga penjaminan yang ditentukan pemerintah, kira-kira pada kisaran 11-13%. (Meskipun saya menulis ‘salah’ bank, tetapi sebenarnya ini bukan salah mereka karena mereka hanya didikte oleh kondisi di pasar. Itulah sebabnya saya menulis ‘salah’ dengan tanda kutip)
Jika hanya satu-dua bank yang menawarkan bunga seperti di atas, mungkin tidak akan bermasalah. Tetapi karena justru mayoritas bank melakukan praktek ini, banyak orang yang jadi bingung memilih. Di satu sisi, mereka mengkhawatirkan keamanan uang mereka. Tetapi di lain sisi, mereka juga dibayangi pemikiran ‘Semua orang juga dapat bunga di atas suku bunga penjaminan, masak semua dibiarkan saja oleh pemerintah?‘ (salah satu rayuan customer service bank). Logika ala Indonesianya mungkin tidak berbeda dengan ‘jika semua orang melanggar lampu merah, masak semua orang ditilang, kan tidak mungkin‘.
—–oOo—–
Dihadapkan pada dilema ini (ingin aman, tetapi juga ingin bunga di atas suku bunga penjaminan), tante saya tersebut lalu terpikirkan suatu ‘trik cerdik‘. Ia pun melakukan negosiasi dengan bank. Hasilnya, bunga depositonya (seperti yang tertulis dalam bilyet deposito) adalah tetap 10%, tetapi ia mendapatkan bonus 2% lagi di tabungan. Dengan demikian, di atas kertas, depositonya akan dijamin LPS (karena bunganya tidak melebihi suku bunga penjaminan), tetapi di lain sisi, ia tetap mendapatkan 12%.
Pertanyaannya: apakah benar cara seperti ini bisa dilakukan?
Trik seperti di atas sendiri sebenarnya sudah terpikirkan oleh saya sejak dahulu dan bukan pemikiran baru lagi. Ketika pertama kali terpikirkan ‘metode’ di atas, saya lalu mendiskusikannya dengan teman-teman saya yang bekerja di sektor perbankan untuk melihat apakah metode tersebut bisa dijalankan. Kesimpulan diskusinya? Metode tersebut TIDAK ada gunanya.
Mengapa demikian? Cara termudah untuk menjawab pertanyaan ini adalah dengan menanyakan pertanyaan berikut: Jika bank anda membayar bunga 12% untuk deposito anda, tetapi di bilyet deposito hanya dituliskan bunga sebesar 10%, maka bagaimana cara mereka melakukan pembukuan untuk selisih 2% tersebut?
Skenario pertama adalah bahwa uang 2% yang mereka keluarkan akan tetap mereka catat sebagai pembayaran bunga kepada nasabah tersebut, alias di pembukuan mereka, anda tetap tercatat menerima hasil bunga 12% (meskipun di bilyet depositonya hanya tertulis 10%). Akibatnya, jika bank anda terkena masalah sehingga diaudit, nasabah tersebut akan ‘ketahuan‘ menerima hasil 12% (dan tidak dijamin LPS).
Skenario lainnya adalah bank tersebut mencatat 2% tersebut di pembukuan mereka sebagai biaya promo, dan membayarnya dari anggaran biaya promosi mereka. Cara seperti ini di atas kertas mungkin lebih valid, dan ada di area ‘abu-abu’. Tetapi kembali di sini akan muncul masalah. Secara operasional, untuk membayar 2% tersebut kepada anda, maka tentunya harus ada ‘tanda-terima’ dari anda (bisa berbentuk surat, ataupun sekedar mentransfer 2% tersebut ke rekening anda yang lain). Jika tidak, bayangkan setiap cabang bank tersebut bisa dengan sesukanya menggunakan dana promosi tersebut tanpa tanda terima. Tanda terima ini tentunya akan muncul di pembukuan mereka, dan akan ‘nongol’ jika bank tersebut diaudit karena mengalami masalah.
Bagaimana jika bank tersebut menawarkan metode di atas TANPA memerlukan tanda terima dari anda? (misalnya pembayaran dilakukan dengan cash keras, tanpa perlu tanda terima). Jika saya, maka saya akan langsung mengambil langkah seribu lari dari bank tersebut karena sejujurnya pengelolaan bank tersebut sangat menakutkan bagi saya. Sebuah bank yang bisa mengeluarkan uang tanpa memakai bukti tanda terima tentunya bukan bank yang dikelola dengan baik.
—–oOo—–
Lalu bagaimana solusi terhadap masalah ini? Apakah ada cara untuk mendapatkan bunga yang tinggi (dan di atas suku bunga penjaminan) tetapi tetap masuk program penjaminan LPS?
Seperti yang kerap saya katakan (dan juga saya sampaikan kepada tante saya tersebut), manfaat utama deposito adalah untuk memberikan likuiditas dan BUKAN untuk memberikan hasil yang tinggi. Jika tujuan anda adalah untuk mendapatkan bunga yang tinggi, maka deposito bukanlah instrumen yang tepat bagi anda.
Bagi teman-teman yang mencari hasil dalam bentuk bunga yang relatif tinggi, maka obligasi merupakan jawabannya. Sebagai ilustrasi, pada saat artikel ini ditulis, ORI 3 (jatuh tempo Sep 2011) dan 4 (jatuh tempo Mar 2012) memberikan hasil Yield to Maturity sekitar 14,8%. Ini lebih tinggi daripada bunga deposito yg ditawarkan oleh deposito, dan akan jauh lebih aman daripada deposito yg bunganya melebihi batas ditentukan. Likuiditas ORI pun relatif baik karena bisa diperjual-belikan setiap saat.
Bagaimana dengan teman-teman yang membutuhkan manfaat likuiditas sehingga tetap ingin menempatkan uangnya dalam bentuk deposito? Ada baiknya di saat seperti ini, pastikan dengan bank anda bahwa deposito anda memenuhi kriteria yang ditentukan pemerintah sehingga termasuk ke dalam program penjaminan LPS. Jika perlu, tiada salahnya untuk meminta bank tersebut memberikan bukti tertulis untuk hal ini. Tentunya harus diingat bahwa konsekuensinya adalah bunga maksimal yang bisa anda terima di deposito anda adalah 10%.
17 Comments
December 1, 2008 at 3:26 PM
Tambahan bung Edison,
Suku bunga wajar dari LPS dibagi 2 kategori:
- Bank : 10%
- BPR : 13%
Jadi kalau ingin dijamin LPS dan bunga cukup besar, ambil depositonya di BPR saja..
Tentu saja BPR yg ikut penjaminan dana di LPS..
Sekedar memberi alternatif lain
December 1, 2008 at 3:53 PM
setuju sekali, punya uang juga pusing, tapi harus lebih bersyukur daripada tidak punya uang.
menurut saya, supaya aman, lakukanlah diversifikasi bank, investasi deposito di beberapa bank nasional.
December 1, 2008 at 3:57 PM
Kami dari EOSI(Ekonomi Orang Susah Indonesia) agaknya tidak terpengaruh dg masalah LPS karena kami memang tidak punya tabungan apalagi deposito.
December 1, 2008 at 4:35 PM
BPR lebih gede? wah baru tahu saya. tapi kalo bank kayaknya lebih sreg
December 1, 2008 at 5:45 PM
sempat pusing juga mikirin diposito.saya juga sempat ditawari bank dg bunga 12% lebih ( 13% kurang dikit ) tapi takut kalau banknya bangkrut.saat ini diposito saya hanya dapat bunga 7,25%. apakah saya bisa minta bunga 10% tapi dijamin LPS ( tidak usah 13%). mudah 2 usul saya bisa diterima oleh CS tempat saya menaruh diposito,ketika menghubungi csnya nanti.
December 1, 2008 at 6:09 PM
cuma mau nanya om,kalo bank syariah gimana syaratnya biar dijamin LPS?thx
December 1, 2008 at 9:07 PM
Semua deposito dgn tingkat bunga tertentu dijamin LPS yg merupakan lembaga bawahannya pemerintah ya? Yg jd pertanyaanku, berapa byk lembaga ini punya duit shg mampu menjamin simpanan masyarakat indonesia jika byk bank bmasalah misalnya kaya century kmrin? Waktu century (1bank) bermasalah,bbrp media mengatakan byk nasabah sulit mencairkan dananya (sampe detik ini g punya info terakhirnya) dan penyelesaiannya pun (dgn penempatan seorg pejabat bank mandiri) tkesan lama… Nah kalo misalnya 10bank bermasalah?berapa lama proses penyelesaiannya? Lalu kalo si LPS ini kurang duit buat nalangin, bakal gimana langkah pemerintah? Naikin pajak, cetak uang (mungkinkah?), cari pinjaman luar negeri (lagi?) ? Jika langkah2 tsb dilakukan, yah merembet2 efeknya, kata kerennya mungkin domino efek. Tambah jadi benang kusut. Bung edison, kalo dah gini, gimana urusannya ya? Mohon penjelasan!
December 1, 2008 at 9:15 PM
Oya, mumpung lagi ngomong2 soal bank, byk juga yg bicara soal blanket guarantee. Apakah itu? Ga ngerti diriku. Bisa dijelasin? Thanx duluan ah!
December 2, 2008 at 11:24 AM
@rd
Dalam kondisi seperti ini, saya pribadi (sekali lagi, ini opini pribadi) akan menghindari menempatkan dana di BPR yang umumnya struktur modalnya relatif lebih lemah dari bank biasa… (meskipun ada jaminan LPS)
@yofa-yola
Tentu saja bisa meminta bunga yg sesuai ketentuan LPS kepada bank yg bersangkutan (mereka akan senang hati mengabulkannya). Hanya saja, kalau bisasebaiknya minta bukti pernyataan tertulis juga dari mereka bahwa deposito yofa itu tidak melanggar ketentuan dan diikut-sertakan dalam penjaminan LPS.
@san
Kalau LPS kekurangan dana, kemungkinan terbesar tentunya adalah penyuntikan dana oleh pemerintah. Dananya dari mana? Bisa dari pencetakan uang, bisa dari dana APBN dll…. pilihannya ada di tangan pemerintah..
Karena dana LPS terbatas, saya pikir mungkin pemerintah akan ketat dalam ‘membatasi’ pertanggungan mereka.
Oleh karena itu, saya pikir ada baiknya nasabah-nasabah yang tabungan/depositonya tidak memenuhi syarat penjaminan (di atas 2 M, ataupun menerima bunga di atas penjaminan) lebih berhati-hati.
Blanket guarantee itu artinya menjamin keseluruhan. Saat ini banyak suara yang meminta pemerintah memberikan blanket guarantee utk semua tabungan (tanpa ada batasan max 2 M)
December 17, 2008 at 2:51 PM
Yang ngomong bukan orang bank, mabok gw bacanya…
December 17, 2008 at 6:48 PM
@jati
Waduh, padahal saya ‘masak’-nya tidak pakai alkohol… bisa mabuk juga ya?
Maaf kalau penjelasan saya kurang sederhana krn saya tidak punya ‘kualifikasi’ sebagai ‘orang bank’….. Ada orang bank yang bisa menolong jati memberi penjelasan yang lebih sederhana?
February 9, 2009 at 12:33 PM
@ boyin
BPR itu juga bank dan diatur dalam undang-undang No. 10 tahun 1998, dan Peraturan Bank Indonesia No. 6/22/PBI/2004, dan semuanya diwajibkan ikut dalam Penjaminan LPS, dan suku bunga yang dijamin adalah 13 %, intinya BPR juga aman dan bisa dilihat juga laporan publikasinya di http/:www.bi.go.id/publikasi/
February 9, 2009 at 11:00 PM
Pernah baca dimana ya… Pada kenyataannya ga semua BPR ikut penjaminan LPS. Tapi kalo Bank udah hampir semuanya ikut. Apa di web BI ya bacanya? lupa…(sedang mencoba mengingat-ingat). CMIIW
@boyin.
Tapi kalo emang BPRnya dijamin dan syarat2 kesehatannya cukup bagus, why not?
@investasi emas
menurutku, ada kalanya kita juga perlu aware dengan biaya-biaya administrasi. Kadang, terlalu banyak diversifikasi bank tempat naruh deposito malah nambah biaya. Apalagi kalo depositonya ga terlalu besar.
@san
Pada umumnya, bank syariah hanya dikenakan aturan Maksimal 2M untuk penjaminan LPS, karena umumnya deposito di bank syariah pake akad mudharabah, sehingga ga ada garansi pasti bakal dapet x%. Tapi ada juga yang kena peraturan batas bunga penjaminan, karena akadnya murabahah (fixed margin). Kapan-kapan akan coba dijelaskan panjang lebar sesuai dengan pengetahuan saya yang masih perlu banyak belajar ini ^^
January 16, 2010 at 8:41 AM
@edison76
klo boleh tahu apa alasan “menghindari menempatkan dana di BPR”?
karena saya rasa BPR aman & menguntungkan krn dijamin LPS & bunganya besar
February 18, 2010 at 8:49 PM
intinya high return means high risk.
BPR memang dijamin oleh LPS, tapi perlu diingat bahwa kekuatan modal BPR jelas dibawah Bank. Kalau terjadi sesuatu, bahkan hal kecil, maka BPR justru lebih besar peluangnya untuk collaps. Begitu pula dengan peminjam/kreditur yang datang ke BPR dianggap lebih berisiko dibandingkan Bank umum. Selain itu, BPR merupakan Bank skala kecil/rakyat yang fasilitas maupun profesionalitasnya bisa jadi jauh dibawah standar Bank. Dan faktor-faktor lain yang membuat BPR jelas berisiko lebih tinggi dibandingkan Bank biasa.
July 15, 2010 at 10:44 PM
Kalo misalnya BPR nya kollaps,apakah LPS bakal menjamin seluruh dana nasabah? Kalo diliat dari fungsinya harusny sih gitu..
July 15, 2010 at 10:45 PM
Kalo misalnya BPR nya kollaps,apakah LPS bakal menjamin seluruh dana nasabah? Kalo diliat dari fungsinya harusny sih gitu..Jadi intinya bukannya aman yah taru di BPR ?