Om… Kasihan Om… Belum Makan Om….
Saya rasa teman-teman yang tinggal di Jakarta mungkin sudah tidak asing lagi dengan kalimat di atas. Di restoran, lampu merah, ataupun ruang publik lainnya, kalimat ini (dan berbagai variasinya) menjadi ‘salam‘ dari kaum papa di negara kita.
‘Salam’ kaum papa ini sendiri terkadang bisa menimbulkan reaksi yang beragam. Bagi sebagian orang, ’salam’ tersebut menimbulkan rasa simpati, tetapi bagi sebagian orang lannya, hal yang sama bisa menimbulkan rasa sebal, Biasanya rasa sebal ini akan muncul kalau kalimat tersebut keluar dari mulut seseorang yang kita rasakan tidak pantas meminta-minta, misalnya saja anak muda yang masih sehat dan masih mampu merokok pula.
2 hari terakhir ini, ’salam’ yang kita bicarakan di atas juga ramai terdengar di Capitol Hill (semacam kompleks DPR USA). Yang menariknya, orang-orang yang mengucapkan ’salam’ tersebut berbaju jas rapi, dan datang ‘mengemis‘ ke Capitol Hill dengan naik pesawat jet pribadi.
—–oOo—–
Kisah yang saya ceritakan di atas saya lihat di berita tadi malam ketika sedang menyaksikan pertemuan antara para anggota Congress (semacam DPR USA) dengan para eksekutif industri otomotif USA, yaitu CEO GM, Ford dan Chrysler. Ketika seorang anggota Congress menanyakan kepada para eksekutif tersebut ‘siapa yang datang dengan pesawat jet pribadi‘, ketiganya mengacungkan tangannya. Adegan lucu ini bagi saya menjadi titik puncak dalam acara temu wicara tersebut.
Industri otomotif USA saat ini memang sedang berada dalam kondisi yang kritis. Kalah dalam persaingan dengan produsen otomotif Jepang, pangsa pasar mereka terus menerus menurun. Ketiga perusahaan ini pun berulang kali melaporkan kerugian dalam operasinya.
Kondisi jelek ketiga perusahaan ini kini diperparah oleh krisis ekonomi saat ini. Akibatnya, ketiga perusahaan tersebut kesulitan untuk mendapatkan dana bahkan untuk sekedar keperluan operasinya saja. GM misalnya, diperkirakan akan kehabisan uang utk beroperasi di awal tahun depan. Ford dan Chrysler pun tidak jauh berbeda. Jika ini terjadi, maka status ‘bangkrut’ bisa jadi menyusul tidak lama kemudian. Situasi inilah yang lalu mendorong ketiga perusahaan otomotif ini datang ke Capitol Hill untuk meminta kucuran dana bantuan sebesar 25 Milyar Dollar dari dana program Bailout Amerika yang sebesar 700 Milyar Dollar.
Meskipun demikian, dari hasil temu wicara antara Congress dengan Henry Paulson (Menteri Keuangan USA), tampaknya sulit untuk ketiga perusahaan otomotif tersebut mendapatkan ‘jatah’ dari dana program Bailout. Henry Paulson sebagai ‘pengelola’ program Bailout bersikeras bahwa dana 700 Milyar Dollar itu adalah semata-mata untuk menstabilkan sektor finansial, dan tentunya industri otomotif tidak tercakup ke dalamnya. Menteri Keuangan tersebut secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa jika seandainya Congress ingin menolong industri otomotif, mereka harus melakukannya melalui program yang terpisah dari program Bailout yg lalu.
—–oOo—–
Kisah GM, Ford, dan Chrysler yang kerap dipanggil sebagai Detroit Big Three ini sendiri cukup menarik untuk diikuti. Sama seperti salam ‘Om, Kasihan Om…’ yang kita lihat di awal artikel, permohonan bantuan dari Big Three ini juga mengundang reaksi yang beragam, ada yang bersimpati dan banyak juga yang menentang dengan ’sebal’.
Pihak yang bersimpati dengan permohonan bantuan Big Three umumnya melihat kasus ini dari dampak seandainya ketiganya benar-benar bangkrut. Ini tentunya akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap perekonomian. Dalam hal ini bukan hanya karyawan Big Three saja yang akan kehilangan pekerjaan, tetapi juga berbagai perusahaan lainnya yang terkait, seperti supplier dan juga dealer otomotif. Diperkirakan kebangkrutan Big Three akan membuat sekitar 2-3 juta orang terancam kehilangan mata pencahariannya.
Di lain sisi pihak yang menentang pemberian bantuan kepada Big Three juga mempunyai argumen tersendiri. Umumnya, pihak-pihak ini mempunyai pendapat bahwa pinjaman sebesar 25 MIlyar tidak akan banyak menolong, dan lebih baik ketiganya masuk ke dalam status bangkrut dan mengajukan perlindungan Kebangkrutan Chapter 11 (bab 11). Mungkin tidak banyak pembaca blog yang mengetahui tentang status Perlindungan Kebangkrutan Chapter 11 ini, sehingga lebih baik saya menceritakan sedikit tentang hal yang satu ini.
Di Amerika, perusahaan yang mengalami kebangkrutan umumnya mempunyai 2 alternatif yang bisa ditempuh.
Alternatif pertama adalah mengajukan perlindungan status kebangkrutan Chapter 7. Dalam alternatif ini, perusahaan tersebut menghentikan keseluruhan operasinya dan memasuki proses Likuidasi. Dalam proses likuidasi ini, perusahaan menunjuk seorang Trustee yang akan mengurus penjualan asset-asset perusahaan itu. Hasil penjualan asset ini akan lalu dipakai untuk membayar segala hutang perusahaan itu. Setelah itu, jika masih ada nilai yang tersisa, akan dibagikan kepada para pemegang saham perusahaan tersebut.
Alternatif kedua bagi para perusahaan yang mengalami kebangkrutan di USA adalah mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11. Berbeda dengan Chapter 7, maka perusahaan yang mengajukan perlindungan Chapter 11 tidak berhenti beroperasi. Latar belakang dari adanya Chapter 11 ini adalah karena terkadang beberapa perusahaan yang bangkrut akan lebih bernilai jika tetap beroperasi dibandingkan dengan seandainya mereka dilikuidasi. Selain itu, dengan tetap beroperasinya perusahaan, diharapkan tidak terlalu banyak orang yang kehilangan mata pencahariannya.
Status perlindungan Chapter 11 ini memberikan kesempatan bagi perusahaan utk melakukan reorganisasi. Perusahaan yang meminta perlindungan Chapter 11, bisa menunda untuk membayar hutang-hutangnya kepada para kreditor. Mereka juga bisa menegosiasikan hutangnya agar dikurangi, dan sebagai imbalannya para kreditor akan mendapatkan saham di perusahaan tersebut senilai pengurangan hutang. Selain itu, mereka juga bisa menegosiasikan kembali kontrak-kontrak mereka, misalnya kontrak dengan serikat buruh, supplier dan lain-lain. Dengan adanya ‘perlindungan’ ini, diharapkan perusahaan tersebut bisa kembali sehat dan keluar dari status ‘bangkrut’-nya.
Lalu apa alasannya ada sebagian orang yang ’sebal’ dan berpendapat lebih baik industri otomotif masuk ke status kebangkrutan Chapter 11 saja? Ini akan saya ceritakan di part 2
(bersambung ke part 2)
7 Comments
November 20, 2008 at 12:14 PM
selasa malam kalo gak salah saya nonton sebagian kecil saham ford dibeli suzuki sebanyak $350juta. Kalo Amerika gak bantu bisa jadi negara lain yang bakal ngambil alih dan itu bisa jadi tidak akan di biarkan oleh Amerika.
November 20, 2008 at 1:15 PM
Alasannya ada sebagian orang yang ’sebal’ dan berpendapat lebih baik industri otomotif masuk ke status kebangkrutan Chapter 11 saja? Karena para CEO GM, Ford dan Chrysler masih saja menghamburkan uang saat krisis. Seperti para petinggi AIG yang berlibur di tempat mewah setelah mendapatkan bantuan kucuran dana dari pemerintah.
November 20, 2008 at 1:21 PM
sorry salah data..yang dibeli suzuki itu 3% sahamnya GM sebanyak $230juta..ngomong2 mau minta advise sama bang edison nih..kira2 rupiah bisa naik sampai berapa yach bang? lagi nunggu nih..hee..kalo gak enak ngomongnya disini dikirim in email juga saya tunggu kok…
November 20, 2008 at 1:38 PM
hati2nya menyebarkan rumors, bisa ditangkap lho
hihihihi…..
November 20, 2008 at 7:39 PM
Bung edison, saya salut dgn info anda yg luas sumber n bahasannya tajam. Tapi bisa g anda juga mengkaitkan dengan keadaan indonesia. Misalnya kasus bumi yang katanya karena banyak direpo itu, selain karena faktor krisis jg sih! Tapi saya juga penasaran dengan kasus iceland yg bankrut. Sebuah negara bangkrut? Ko bisa? Indonesia gmn? Apa qt perlu siap2 hijrah ktpt lain spt warga negara iceland yg dlm 1 wawancara tv mengatakan “no hope”? Thanx buat respon nya
November 21, 2008 at 10:26 AM
kenapa ya para petinggi perusahaan masih pakai jet pribadi? untuk efisiensi waktu atau kurangnya rasa memiliki terhadap perusahaan?
November 23, 2008 at 1:26 PM
Bahasan yang sangat menarik…. ditunggu artikel2 selanjutnya. Dan sekaligus saya ingin permisi untuk mengumpulkan artikel terbaik untuk dikumpulkan sebagai referensi.
salam