Dalam part 1, saya telah bercerita tentang beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam prospektus Reksadana Kresna Index 45. Kini cerita akan saya lanjutkan mengenai ‘jalan-jalan’ saya ke kantor Reksadana Index 45.
—–oOo—–
Seperti yang saya tulis sebelumnya, dalam kunjungan kami (Saya, Putrie_kmps & Rakhmi) diterima oleh saudari Ita dan Bapak Imamat Dalimunthe, salah satu anggota tim pengelola Reksadana Kresna Index 45.
Pembicaraan kami dimulai dengan topik seputar ‘aturan main’ redemption yang agak unik di reksadana ini (telah dibahas di part 1). Seperti dugaan saya, pak Imamat menyatakan bahwa memang aturan tersebut dibuat untuk membuat para trader tidak masuk ke reksadana ini.
Selain untuk ‘memblokir’ para trader, penentuan kesempatan redemption yang ’3 bulan sekali’ ini pun didasari alasan lain. Seperti yang bisa dilihat pada prospektus, Manajer Investasi Kresna Indeks 45 bisa ‘menggeser’ porsi dari suatu saham menjadi sebesar 80% hingga 120% dari ‘bobot’ aslinya di dalam LQ-45. Sebagai ilustrasi:
Misalkan dalam indeks LQ-45, porsi sebenarnya dari SMGR (Semen Gresik) adalah 2%. Seandainya manajer Investasi ‘menyukai‘ SMGR, maka ia bisa meningkatkan prosi SMGR dalam reksadana ini hingga maksimal menjadi 2,4% (=120%x2%). Sebaliknya jika manajer Investasi meragukan kinerja perusahaan SMGR, ia bisa ‘mengerem‘ porsi SMGR dalam reksadana ini hingga menjadi hanya 1,6% (=80%x2%).
Penyetelan ulang target porsi ini, menurut pak Imamat akan dilakukan 3 bulan sekali. Dengan menyamakan waktu penyetelan ulang ini dengan waktu redemption, maka logikanya manajer Investasi bisa melakukan penghematan biaya transaksi (yang pada akhirnya manfaatnya akan dinikmati oleh para Investor).
PENTING: Dari berbagai penjelasan pak Imamat, kesimpulan yang saya dapatkan adalah bahwa Reksadana Index Kresna 45 menjalankan metode ENHANCED INDEXING. Dalam metode ini, manajer Investasi bisa sedikit ‘mengotak-atik’ reksadana indexnya (tetapi masih dibatasi oleh aturan 80%-120% dari bobot asli saham seperti yg kita telah lihat di atas). Ini berbeda dengan PASSIVE INDEXING (Traditional Indexing) dimana Manajer Investasi hanya sekedar mengikuti komposisi di Index acuannya (tanpa dikotak-katik).
Tujuan dari ENHANCED INDEXING tentunya sudah jelas. Manajer Investasi yang menerapkan ENHANCED INDEXING mencoba utk memberikan hasil yang sedikit lebih baik dibandingkan dengan Index (terlepas dari apakah tujuan ini bisa tercapai atau tidak). Akibat dari penggunaan ENHANCED INDEXING adalah bahwa kinerja reksadana index ini bisa agak ‘melenceng’ dari Index.
Dengan menerapkan ENHANCED INDEXING, maka berarti reksadana KRESNA Indeks 45 ini dikelola secara aktif (dan bukan pasif).
—–oOo—–
Selepas ‘pemanasan‘ di atas, pembicaraan pun saya bawa ke topik yang paling penting menurut saya, yaitu biaya dan fee. Para Investor Reksadana harus selalu mengingat ungkapan ‘Performance comes and goes, but Fees are Forever‘ (Kinerja Reksadana itu bisa naik dan turun, tetapi Fee/biaya adalah untuk selamanya).
Saya lalu mengungkapkan pertanyaan ‘utama’ saya, yaitu mengapa reksadana kresna indeks 45 ini mempunyai biaya imbalan manajer investasi yang relatif tinggi, yaitu maksimal 1,5% dibandingkan dengan reksadana Indeks DINAR yg hanya 0,3%. Biaya sebesar ini bisa dikatakan setara dengan reksadana non-index. Dalam hal ini, pak Imamat mengungkapkan bahwa angka tersebut hanya merupakan angka maksimal dan dalam prakteknya, biasanya biaya yang dikenakan tidak mencapai sebesar itu.
Sesungguhnya, ketika saya menyadari bahwa Reksadana Kresna ini menerapkan ENHANCED INDEXING, penyebab biaya imbalan MI yang relatif besar untuk reksadana index ini sudah jelas. Seperti yang saya tulis di atas, penerapan ENHANCED INDEXING menandakan bahwa Reksadana ini dikelola secara aktif (Actively Managed) dan bukan pasif (Passively Managed).
Salah satu faktor utama John Bogle dan juga Warren Buffet menganjurkan Reksadana Index adalah karena keunggulan dari segi biayanya (yang relatif rendah karena dikelola secara pasif). Penerapan pengelolaan secara aktif yang dilakukan oleh Manajer Investasi bisa membuat keunggulan biaya dari Index-Investing berkurang ataupun bahkan hilang sama sekali.
—–oOo—–
Pertanyaan berikutnya yang saya tanyakan adalah seputar tracking-error (selisih antara kinerja reksadana ini dibandingkan dengan index LQ-45). Data dari Pak Imamat menunjukkan bahwa tracking-error terakhir untuk reksadana ini adalah sebesar 3,5%. Beliau juga menginformasikan bahwa target mereka adalah menjaga angka tracking error ini di bawah angka 5%.
Mungkin di sini perlu saya tambahkan penjelasan untuk menghindari timbulnya salah persepsi mengenai tracking error ini. Andaikan index LQ-45 bergerak naik 10%, dan tracking error sebuah reksadana index adalah 2%, seringkali timbul salah pengertian bahwa Reksadana ini bisa naik antara 8% sampai dengan 12%.
Yang benar dalam hal ini adalah bahwa seandainya Index LQ-45 bergerak naik 10%, dan tracking errornya adalah 2%, maka Reksadana ini akan bergerak naik antara 9,8% sampai dengan 10,2%
Besarnya angka tracking error yg relatif besar untuk ukuran reksadana index, dalam hal ini bisa saya pahami mengingat situasi bursa saham kita yang sangat bergejolak akhir-akhir ini dan juga karena penerapan ENHANCED Indexing oleh manajer Investasi.
—–oOo—–
Sesungguhnya masih banyak lagi hal yang sempat kami bicarakan dengan pak Imamat, tetapi mungkin tidak bisa saya tuliskan seluruhnya di sini (pembicaraan kami berlangsung kurang lebih 2 jam). Bagi para teman-teman yang tertarik untuk berinvestasi melalui reksadana ini, saya ingin berbagi beberapa hal yang harus diingat dan dipertimbangkan:
- Meskipun merupakan reksadana Index, reksadana ini menerapkan ENHANCED INDEXING dan dikelola secara aktif. Jika anda ingin mencari reksadana index yang dikelola secara pasif, maka ini bukan produk yang anda cari.
- Konsekuensi dari pengelolaan aktif di atas adalah biaya yang relatif tinggi, terutama untuk biaya imbalan Manajer Investasi (dibandingkan dengan alternatif index-investing lainnya, yaitu ETF R-LQ45X dan reksadana DINAR)
- Mengingat biaya-biaya yang di atas sulit untuk dinegosiasikan, karena dibebankan secara kolektif ke reksadana, maka rekomendasi saya adalah untuk menegosiasikan biaya subscription. Mengingat besarnya biaya imbalan manajer investasi, saran saya adalah untuk berusaha sebisa mungkin mendapatkan subscription fee sebesar 0%.
- Sebagai jalan tengah dalam negosiasi subscription fee o%, pertimbangkan untuk mengajukan semacam ‘kontrak’ investasi rutin, dimana calon investor membuat komitmen untuk berinvestasi rutin setiap bulan (ataupun setiap 2 bulan ataupun setiap 3 bulan) dalam jumlah yang tetap serta jangka waktu investasi yang panjang. Seandainya investor gagal memenuhi komitmen tersebut, barulah dikenakan biaya subscription fee. Ajukan permohonan ini secara tertulis (lewat e-mail) lewat marketing yang melayani anda untuk diajukan ke Manajer Investasi.
—–oOo—–
Terlepas dari berbagai hal di atas, saya pribadi merasa senang dengan hadirnya reksadana baru ini. Mengapa? Harapan saya adalah bahwa dengan adanya produk reksadana baru ini, bisa melahirkan persaingan yang lebih kompetitif di dunia index investing Indonesia.
Seperti yang kerap saya tulis di blog ini, menjadi Investor di Indonesia memang terkadang melibatkan pilihan yang bagaikan buah simalakama. Produk-produk investasi masih dalam tahap perkembangan sehingga setiap produk bisa dikatakan ada kekurangan maupun kelebihannya, dan tidak ada produk yang sempurna 100%. Dibandingkan dengan reksadana DINAR misalnya, reksadana ini menawarkan diversifikasi yang lebih luas dan juga akses ke sektor finansial (yg tidak tersedia di DINAR). Di lain sisi, DINAR mempunyai struktur biaya yang agak lebih rendah.
Saya ingin mengingatkan kembali sebuah saran dari Buffet:
For most investors, the best way to invest is through a Low Cost, No Load, Passively Managed, Wide-Diversification Index Funds.
Meskipun Reksadana Kresna Index 45 ini sayangnya belum memenuhi keseluruhan kriteria di atas, seandainya anda bisa mendapatkan subscription 0%, maka kriteria yang ‘kurang’ hanyalah tinggal ‘Low-Cost’ dan ‘Passively Managed’. Jika anda bisa menerima ‘kekurangan’ tersebut, maka produk baru dari Kresna Securities ini bisa menjadi salah satu alternatif instrumen investasi.
Di akhir artikel ini, saya ingin mengucapkan terima-kasih kepada pihak Kresna Securities yang begitu membantu dalam pengumpulan informasi untuk artikel ini, khususnya kepada pak Imamat dan saudari Ita yang sampai terpaksa ‘lembur’ karena kunjungan kami.
55 Comments
October 29, 2008 at 10:27 PM
saya bingung kenapa banyak produk investasi yang masih dalam tahap pengembangan tapi sudah dijual?\
October 29, 2008 at 10:36 PM
Bung Edison,
Thx atas sharing reksadana kresna index nya.
Imbalan jasa agen penjual max 2% p.a. (bab XII 1.12)
Imbalan jasa MI max 1,5% p.a. (bab XII 1.11)
Berarti ada perbedaan biaya jika kita beli langsung dan jika kita beli lewat agen? (seperti pertanyaan putrie di pembahasan prospektus)
Apakah berarti nilai maximalnya adalah jumlahan dari keduanya, alias 3,5% p.a ?
Lalu apakah sudah ada agen yang ditunjuk? Bagaimana cara membeli RD ini jika kita diluar jakarta? Tolong share lagi infonya, kalau sudah ada, thx.
October 30, 2008 at 6:13 AM
Fee sampe 3,5%? Wah kinerjanya belum ketauan uang untuk fee dah hilang ya? Bung ed, menurut anda sendiri, index investing yg dikelola secara aktif oke g? Kalo menurut saya belum tentu ok,karena ada human error factor yg tjd dlm decision makingnya. Aku tertarik waktu denger berita ada saingannya DINAR, tapi stlh lihat penjelasan anda,ko jadi ilfil alias g napsu ya?
October 30, 2008 at 9:16 AM
bro Nikken…
spt-nya DINAR juga menerapkan “enhanced indexing” spt tertulis di prospektus-nya. Mungkin itu aturan standar Bapepam utk produk RDI ya, sehingga MI bisa menekan tracking error sekecil mungkin.
keunggulan DINAR ada 1 lg menurut sy yaitu force DCA, melalui program IMD (Investasi Masa Depanku) dgn minimum pembelian reguler sebesar 20o rb dg periode minimum 5 th. Keuntungan yg diperoleh:
1. Fee subs = 1% dan dikembalikan dalam bentuk asuransi jiwa.
2. Apabila investor punya rek BCA, bisa menghemat bea transfer (= 0) krn OD menggunakan BCA sbg bank penampung.
so, rekomend mana neh bro Nikken
D
October 30, 2008 at 9:33 AM
wah payah belon ada produk yg murni index seperti Vanguard-nya bogle ya..
pak edison mau ga kasih review reksadana2 yg paling rendah expense ratio -nya di indonesia?
October 30, 2008 at 10:05 AM
Aturan dari BAPEPAM memang memberikan kemungkinan kepada Manajer Investasi untuk melakukan Enhanced Indexing, tetapi apakah manajer investasi melakukan Enhanced Indexing ataupun Passive Indexing, itu merupakan pilihan dari manajer Investasi.
Jika diinginkan, Manajer Investasi bisa memilih untuk menerapkan Passive Indexing dengan menjaga agar bobot setiap saham dalam reksadananya sama persis dengan bobot saham tersebut dalam index.
Jadi belum tentu bahwa karena di prospektus tertulis mereka ‘boleh’ menyetel hingga 80%-120%, berarti mereka ‘pasti’ atau ‘harus’ menyetelnya..
Pada akhirnya, untuk mendapatkan gambaran yg lebih jelas apakah pengelola reksadana itu menjalankan enhanced indexing atau passive indexing ada 2 cara: (1) bertanya langsung kepada tim pengelola investasinya (jangan ke marketingnya ya?) atau (2) untuk reksadana yg sudah berjalan beberapa tahun, bisa dengan meneliti laporan keuangan reksadana tersebut dan membandingkannya dengan komposisi Index
———
Selama ini patokan saya untuk Management fee DINAR (max 0,3%) adalah berasalkan dari situs danareksa yg khusus utk DINAR, yaitu http://danareksa-dinar.interactive.web.id/about.html
Barusan saya mendownload prospektus DINAR untuk mengkonfirmasi hal ini… tetapi di prospektus ternyata expense feenya adalah max 1%.
PS: Dalam FundFact Sheet DINAR (Sept 08) ada ditulis bahwa manajemen saham dilakukan secara pasif, tetapi entah benar atau tidak. Khawatirnya informasinya tidak tepat, seperti kasus informasi tidak jelas 0,3% atau 1% di atas….
Sepertinya ini mesti diteliti lebih lanjut….
(Apakah saya mesti ‘jalan-jalan’ lagi ya ke Danareksa? hahaha…. Kali ini siapa yg mau ikut?)
October 30, 2008 at 12:54 PM
Kl yg gw baca di prospektus DINAR (terbitan th 2006) (hal 25) :
a. Imbalan jasa Manager Investasi 0.3%
b, c, d, e, f Kustodian, Transaksi, Jasa Profesi, Prospektus, Distribusi Surat
nah expense fee = a+b+c+d+e+f < 1% (CMIIW)
Sayangnya punya gw prospektus terbitan 2006, coba kalo 2008 biar bisa liat juga laporan keuangan DINAR (biar keliatan aktualnya berapa tuh expense fee)
October 30, 2008 at 1:27 PM
Kalau utk prospektus 2008, imbalan jasa MI max 1%, plus kustodian 0,06%.
Berarti sudah bergeser dari prospektus 2006 yg maks 1%? (Krn dgn prospektus sekarang adalah max 1,06%)
Sebenarnya jika melihat beban biaya ini dari laporan keuangan, akan kurang akurat. Mengapa? Karena biaya ini dipotong setiap bulan, dan yang bisa kita lihat di laporan keuangan adalah hanya nilai total biaya tersebut sepanjang tahun itu. Akibatnya ada efek ‘time value of money’ dan opportunity cost yang tidak diperhitungkan..
Bingung? Contoh paling sederhananya misalnya begini… (dalam prakteknya akan lebih rumit lagi perhitungannya, tetapi ini sekedar gambaran saja).
di laporan keuangan, kita lihat NAB reksadananya di akhir tahun adalah 100 juta. Lalu kita lihat juga total biaya reksadana tersebut adalah Rp 5 juta. Apakah ini artinya Feenya adalah 5%? Jawabannya adalah Tidak. Ini karena seperti ktia tahu, Rp 5 juta itu itu bukan dibayarkan di akhir tahun, tetapi dibayar setiap bulan, sehingga nilai fee sebenarnya adalah lebih dari 5%…
Biaya-biaya ini membuat jumlah uang yg ‘bekerja utk investor’ semakin kecil… karena sudah terpotong sebagai biaya…
Ini pun belum memperhitungkan bahwa pemotongan Rp 5 juta itu bukanlah terbagi rata ke dalam setiap bulan, tetapi akan berfluktuasi sesuai dengan NAB di setiap bulannya….
Oleh karena itu perhitungan semacam ini akan kurang akurat dan hanya bisa dipakai sebagai gambaran kasar saja…
October 30, 2008 at 2:14 PM
wah telat bacanya nih
Dari yang saya tangkap mengenai cara pengelolaan RD ini oleh pak Imamat, ada hal menarik buat saya. Yaitu cara pengelola RD dalam menentukan porsi saham dalam RD ini.
Bung Nikken sudah menjelaskan klo Manajer Investasi Kresna Indeks 45 bisa ‘menggeser’ porsi dari suatu saham menjadi sebesar 80% hingga 120% dari ‘bobot’ aslinya di dalam LQ-45. Nah pak Imamat bercerita bahwa untuk menentukan porsi 80% hingga 120% ini beliau menggunakan berbagai instrumen dari laporan keuangan setiap emiten yang diterima setiap 3 bulanan mungkin dasar ini juga yang mengakibatkan kenap pergantian porsi dan waktu reedemp 3 bulanan)
Beliau menggunakan metode matrix correlation dan menggunakan bermacam2 instrumen keuangan yang ada. Menurut saya hal ini sangat menarik, bayangkan ada berapa instrumen di dalam sebuah laporan keuangan 1 emiten. Dan beliau menggunakan 45 laporan keuangan.
Oh iya dalam 1 laporan keuangan tidak semua instrumen digunakan, hanya beberapa saja, sepertinya yang mempunyai nilai korelasi tertinggi, sehingga tracking error dengan LQ-45 bisa lebih kecil. Ya informasi ini sifatnya teknis sekali sih, tapi bagi saya sangat menarik
October 30, 2008 at 2:17 PM
Oh iya klo mau ‘jalan-jalan’ ke Danareksa, saya mau ikut lagi bung, siapa tahu teknik penentuan porsinya lebih menarik lagi.
Daftar pertama…
oh iya Danareksa ada di Jl. Medan Merdeka Selatan
Ayo sapa yang kantor atau tempat tinggalnya dekat harus ikutan…
October 30, 2008 at 2:31 PM
Baca komen putrie jadi teringat sesuatu yg lupa saya tuliskan di artikel ini…..
Dari penjelasan pak Imamat, saya tangkap bahwa penentuan ‘penyetelan’ bobot 80%-120% utk setiap saham dilakukan dengan memakai korelasi statistik antara harga saham dengan salah satu/beberapa data finansial perusahaan tersebut (misalnya nilai inventory kwartal sebelumnya, dll)….
Dengan kata lain, penentuannya dilakukan dengan memakai technical analysis…..
(Saya ‘no comment’ mengenai penggunaan technical analysis ini. Tapi pembaca blog yang sudah lama mungkin sudah bisa mengerti bagaimana perasaan saya mengenai hal ini…. hahahaa)
October 30, 2008 at 2:53 PM
Tapi bung menjadikan laporan keuangan sebagai dasar penentuan bobot 80%-120% utk setiap saham apa bukan Fundamental Analysis?
Sebelumnya mengenai pengertian Technical dan Fundamental dl nih
Klo menurut saya (versi putrie nih) :
Fundamental Analysis adalah analisa yang mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan kondisi keuangan suatu perusahaan, bertujuan untuk mengetahui sifat sifat daar dan karakteristik dari perusahan tersebut.
Data yang digunakan bisa data kondisi perekonomian secara umum (PDB, inflasi, tingkat bunga, fluktuasi nilai tukar), data industri (penjualan, laba, dividen, struktur modal), data analisa keuangan (rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio pasar)
Technical Analysis adalah analisa yang menggunakan hystorical data dan diolah dengan berbagai indikator untuk memperoleh kesimpulan.
Indikator yang bisa digunakan bisa SMA (Simple Moving Average), EMA (Exponential Moving Average), Bollinger Bands, PSAR (Parabolic SAR)
October 30, 2008 at 3:06 PM
nilai inventori menurut bung nikken dari dulu memang masuk teknikal, jd inget kasus saham cocacola di US yg dulu turun karena berkurangnya pasokan gula akibat bencana badai klo saya tdk salah ingat
October 30, 2008 at 3:38 PM
Kalau sudah dikatakan mencari korelasi antara X dan Y, itu sudah masuk area technical analysis.
October 30, 2008 at 3:51 PM
hmmm
iya juga sih
data fundamental digunakan secara technical
October 30, 2008 at 5:17 PM
Pada penutupan perdagangan saham Kamis (30/10/2008) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 60,239 poin (5,41%) menjadi 1.173,863.
Indeks LQ-45 naik 14,252 poin (6,84%) menjadi 222,765 dan Jakarta Islamic Index (JII) naik 9,592 poin (5,52%) menjadi 183,279.
Ayo2 pada beli RD indeks LQ 45….
October 31, 2008 at 11:08 AM
Just info untuk RD Dinar:
Per 27 Feb 08 ada perubahan biaya utk RD Dinar:
- Imbal jasa MI naik dari max 0.3% menjadi max 1%
- Biaya pembelian naik dari max 2% menjadi max 3%
October 31, 2008 at 12:55 PM
@ -rd-
Jangan2 ini orang Danareksa
Mas atau mbak mang bisa ya biayanya berubah gitu?
Untuk investor lama akan dikenakan biaya baru atau tetap yang lama?
Apa investor diberitahu dengan adanya perubahan biaya tersebut?
October 31, 2008 at 3:55 PM
Baru keinget nih
Untuk investasi di RD Kresna Index 45 nantinya akan ada biaya transfer ke rekening Kresna di Standard Charter Bank. Mungkin dah pada baca kan di Prospektusnya, biayanya dikenakan ke investor.
Besaran biayanya berapa kurang tahu nih, apa beda2 tiap bank ya?
Nah jika tidak mau terkena biaya ini alternatifnya adalah membuka rekening di Standard Charter Bank, syaratnya : Cukup perlihatkan KTP Anda untuk membuka rekening tabungan Standard Chartered, dengan saldo minimum sebesar Rp. 25,000,000.
Jadi jika mau memulai Investasi di RD Kresna Indeks 45 dengan tidak terkena biaya transfer antar Bank kita harus menyediakan dana awal sebesar Rp. 35,000,000. Rp. 25,000,000 untuk pembukaan rekening di Standard Charter Bank dan Rp. 10,000,000 untuk subcription awal.
Atau alternatif lain tanpa membuka rekening Standard Charter Bank dan memanfaatkan fasilitas ATM Bersama. Saya check list anggota ATM Bersama, ternyata Standard Charter Bank masuk. Dengan fasilitas ini biaya transfer yang dikenakan Rp. 5,000 untuk sekali transfer dengan limit sekali transfer Rp. 5,000,000. Tapi sebelum mencoba transfer cek dulu Bank anda termasuk di daftar ATM Bersama atau tidak. Untuk investor keci seperti saya (bisanya Rp 1,000,000 / 2 bulan) ini bisa membantu sekali.
Nah itu klo kita Subcription, klo redeemp gimana ya? Tar saya cari info lagi dech
Silahkan dicek daftar ATM Bersama di http://www.taf.co.id/Payors_Guide.pdf
November 1, 2008 at 10:16 AM
bea transfer saat redeempt pasti jd beban investor, dan cukup besar +/- Rp 25.000,- krn biasanya menggunakan sistem RTGS. Bisa gak ya investor menentukan cara transfer saat redeempt?
yach, berdoa saja spy Mandiri jd agen penjual Kresna Grha juga jd bisa menghemat bea transfer.
Mungkin kalo punya RD ini punya rekening penampung sekunder di bank lokal (spt MAMI) mungkin bisa mengurangi beban investor (yg kebetulan punya rekening yg sama).
November 1, 2008 at 12:12 PM
Terima kasih banyak sudah menulis part-2 ini..:)
Setelah membaca, saya lebih mantap ke Dinar saja, lebih likuid dan biaya lebih murah.
November 1, 2008 at 1:25 PM
Ada satu hal yang sangat mengganggu pemikiran saya dalam metode Index Investasi. Untuk lebih fokus, mengenai “Diversifikasi”.
Seperti kita ketahui, tujuan “Diversifikasi” adalah untuk memperkecil “salah pilih” dalam investasi saham. Sebisa mungkin menghindari saham-saham yang berbahaya, dalam arti yg mudah di-”manipulasi”. Secara alami, memang kontrol yang paling kuat adalah dari segi market caps. Semakin besar caps, seharusnya semakin susah saham itu untuk di-masak. (di-goreng, di-rebus, di-steam..)
Hal itu yang menurut saya kenapa LQ-45 bahkan Index-IHSG belum layak dijadikan sarana Index Investment. Saya sempat meneliti daftar persentase LQ-45. Ada prosentase yang sangat signifikan dr beberapa saham yang memiliki pertumbuhan dan penurunan yang sangat.. sangat drastis. Jelas sekali saham-saham ini berhasil melewati “filter” caps.
Sedangkan market di U.S memiliki perbedaan yang sangat mendasar:
- laporan finansial dan transaksi yang sangat transparan.
- sekalipun itu belum cukup, masih ada “filter” lain yaitu jumlah saham caps tinggi yang jauh lebih banyak, sehingga dapat mereduksi efek saham-saham yang berbahaya yang lolos.
Jadi intinya, apakah Investasi Index di Indonesia layak untuk Investasi Index model Ben? Market kita yang begitu kecil, regulasi yang lemah, dan pasar global yang luar biasa ukuran-nya menyebabkan besar sekali kemungkinan market kita bisa di-masak sesuka hati.
Malah saya lebih “comfortable” dengan memilih sendiri saham-saham yg di LQ-45 yang lebih aman dari segi reputasi pemilik dan sejarah saham itu sendiri.
Tapi, tentu saja itu sudah bukan “index investing” lagi. :p
Gmn pendapat bro Edi, putrie dan kawan-2? Mohon pencerahan..
November 1, 2008 at 6:39 PM
Mungkin sedikit saya ulas metode yang kami gunakan. Kalau kita berbicara valuasi, umumnya orang hanya berpikir P/E, DCF dst.
Dengan metode P/E, orang mengkorelasikan nilai dengan harapan EPS. Namun kenyataannya antara nilai dengan harga yang terjadi hampir tidak pernah terjadi, meskipun kita mencoba mencari rata-rata harga periode 1 dan EPS periode 0.
Berdasarkan itu, kami mencari faktor lain yang dapat lebih akurat untuk menjelaskan harga (bukan nilai) pada periode 1. Sedikit banyak hal ini telah saya jelaskan kepada teman2 yang berkunjung.
Kemudian mengenai diversifikasi. Diverifikasi bertujuan memaksimumkan return portofolio dalam satu level risiko yang diterima, atau meminimumkan risiko portofolio pada suatu tingkat risiko yang diharapkan. Penurunan risiko ini dipengaruhi oleh korelasi antara komponen portofolio, bukan sekedar banyak atau tidaknya jumlah komponen dalam satu portofolio.
Untuk lebih nyata, coba anda bandingkan volatilitas antara LQ45 dan sektor properti. Walaupun keduanya terdiri dari 45 saham (per 17 Oktober 2008), sektor properti jauh lebih riskan dari LQ45 serta memberikan hasil dibawah LQ45.
Sayangnya, korelasi di masa lalu hampir2 tidak mempunyai predictive power untuk masa depan. Contoh, korelasi antara UNSP dengan sektor pertanian sebelum krisis berbeda jauh dengan setelah krisis.
Yang terakhir masalah metode indexing Pak. Contoh nyata saat ini adalah adanya beberapa komponen LQ45 yang masih disuspen. Apakah mungkin kita menggunakan pasif indexing saat ini? Kedua, LQ45 tersebut direview setiap 6 bulan (1 Agustus dan 1 Februari). Kalau kita tidak mengantisipasi keluar-masuknya komponen LQ45, mungkin terjadi turnover besar pada periode 1 Agustus dan 1 Februari. Kalau lahi bull sih OK, tapi kalau lagi bear?
Jadi, indexing kami tidak benar-benar dikelola secara aktif. Tapi direview dan mungkin dirubah setiap 3 bulan. Sepanjang periode tersebut, setiap subsription akan didistribusikan mengikuti bobot yang telah ditetapkan.
Ok, thanks atas space dan kunjungannya.
November 1, 2008 at 9:38 PM
Welcome pak Imamat Dalimunthe
Jika rekan2 sekalian membaca dengan benar prospektus RD Kresna Indeks 45 pasti akan menemukan nama pak Imamat. Beliau adalah Ketua Tim Pengelola RD Kresna Indeks 45, jadi yang nentuin mau ambil proporsi berapa di tiap saham LQ 45 adalah beliau ini.
Terima kasih pak bersedia meluangkan waktunya ke blog ini dan memberikan penjelasan menenai cara mengelola ReksaDananya. Sabtu2 ga ngantor kan pak.
November 1, 2008 at 10:42 PM
Hi Put,
Sabtu ga ngantor. Cuma di rumah mo update model mingguan. Sekaligus mengamati beberapa tanda2 recovery saham.
Kalau dari financial, Q3 sektor pertanian melebihi perkiraan saya. Khususnya SGRO dan AALI. TBLA mungkin juga akan lebih baik hasilnya. Peningkatan laba SGRO dan TBLA ditunjang oleh tambahan tanaman yang mulai menghasilkan.
Kalau dari segi teknikal, kemarin saya rada surprise karena tidak mengira ada yang berhasil melanjutkan uptrend hingga hari ke empat (UNSP-W). Padahal biasanya sebagian pemodal cenderung square pada hari Jum’at.
Kalau Senin besok AALI dan SGRO ditutup menguat, berarti keduanya memberikan tanda recovery yang medium. Mudah2an ya.
November 2, 2008 at 5:49 AM
Amin pak…
Saya jg secra teknikal melihat bottom IHSG sudah lewat di titik 1,000an kemarin. Saya perkirakan trend penurunan di bulan November sudah tidah ada. Pergerakan akan indeks cenderung sideways dengan trend naik perlahan.
Mengutip analisa kakak kelas saya, untuk memperkirakan rock-bottom level dari IHSG, kita bisa bercermin pada situasi krisis tahun 1998. Pada tahun 1998, IHSG sempat mencapai titik terendah pada level 255,46 pada bulan September 1998. Sementara itu, sebelum krisis, IHSG sempat mencapai level tertinggi 742,95 pada awal bulan Juli 1997. Jadi, dibanding titik tertingginya, IHSG terpuruk sebesar 65,6% dalam tempo sekitar 14 bulan (Juli 1997-September 1998).
Bila angka 65,6% ini kita pakai sebagai patokan penurunan terburuk, maka rock bottom level IHSG pada krisis 2008 ini akan menjadi 976. Dengan menggunakan metode normal return yang sejalan dengan pertumbuhan normal PDB nominal yaitu sekitar 15% per tahun (laju inflasi, yaitu sekitar 5%-12% per tahun, ditambah pertumbuhan
PDB riil sekitar 5%-7%), bila dihitung dari saat IHSG mulai stabil di level 400 tahun 2001, maka level batas bawah sesuai fundamental adalah 400 x 1,15^7 = 1064. Bila dihitung sejak level terendah di bulan September 1998, level batas bawahnya menjadi 255,5 x 1,15^10 = 1033.
Dari hitungan sederhana tersebut, tampaknya angka sekitar 1000 menjadi angka rock-bottom level IHSG. Perlu sekali lagi ditekankan bahwa ini adalah skenario terburuk, dan seperti ditegaskan
oleh Peter Lynch, tak ada orang yang bisa meramalkan dengan akurat kapan harga saham akan mulai berbalik arah. Bisa saja, sesuai harapan
banyak orang, IHSG sudah berbalik arah setelah menyentuh harga 1,000an minggu lalu. Tetapi bisa juga IHSG kembali ke level 1,000an
Masih ada tambahan khabar baik, yaitu harga minyak dunia per akhir minggu lalu sudah turun dari titik tertingginya US$ 147 / barrel menjadi US$ 70 / barrel. Penurunan harga minyak dunia akan meredam liarnya inflasi yang terutama diakibatkan oleh kenaikan harga minyak dunia. Harga BBM non subsidi dan industri di Indonesia sudah mulai diturunkan (pertamax per tgl 1 November Rp 7,000 / liter). Penurunan ini diharapkan dapat sedikit memberi kelonggaran pada dunia bisnis pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Selanjutnya, pemerintah dari beberapa negara besar telah kompak memutuskan untuk mengalokasikan dana senilai total lebih dari
US$ 2 trilyun (Rp 19500 trilyun) untuk bersatu melawan krisis finansial dunia.
Semoga pengumuman data inflasi dan BI rate awal November ini akan memberikan sinyal fundamental yang positif terhadap bursa kita. Klo dilihat dari laporan2 keuangan Q3 pada bagus2 semua.
November 5, 2008 at 12:45 PM
Sudah beberapa hari tidak menyentuh internet sama sekali (karena beberapa hal)….
Begitu masuk, ternyata pak imamat menyempatkan diri mampir ke blog ini…
Thanks pak Imamat..
March 12, 2009 at 11:07 PM
Selagi cari2 info index fund di Indo, ketemu blog nya Pak Edison ini. Nimbrung ya, semoga masih ada yang menanggapi.
Dengan pengetahuan saya yang masih ala kadarnya mengenai index fund, saya penasaran mengenai beberapa hal:
Apabila manajemen index fund mudah, apakah tidak sebaiknya dana dikelola sendiri menggunakan prinsip index fund, tidak usah ikut index fund?
Saya terbayang mengelola dana meniru index fund seperti ini:
* ambil daftar LQ45
* untuk setiap perusahaan di LQ45, beli saham lewat broker sejumlah n dengan nilai n tidak terlalu tinggi sehingga masih masuk budget (apakah betul seperti ini penghitungannya?)
* tidur
* 6 bulan kemudian ambil LQ45 terbaru, jual saham perusahaan yang keluar dari LQ45, beli yang masuk
Pikiran saya keunggulan index fund adalah:
* bila dana tidak mencukupi untuk cover semua perusahaan dalam list, tidak bisa jalan sendiri
* biaya2 ditanggung bersama
* tidak pusing update portfolio
Apakah ada keuntungan lain yang saya lewatkan?
March 13, 2009 at 7:37 AM
Tentu saja bisa dengan cara spt yg endy tulis…. Tetapi bagi banyak investor, cara spt itu agak sulit dijalankan karena nilai minimum investasinya akan jauh lebih besar dan juga lebih ‘repot’ (harus mengontrol porsi setiap saham agar tidak ‘lari’ dari proporsi isi LQ45, tidak bisa sekedar masing-masing saham dibeli 1 lot).
March 13, 2009 at 8:00 AM
Pak tau berapa persen saham A mempengaruhi suatu indeks caranya bagaimana ya?atau bisa kita lihat dimana ya?
March 13, 2009 at 10:36 AM
Setuju dengan Felicia, minta info cara hitung untuk PT X harus beli berapa lot supaya sesuai LQ45. Penasaran nih…
Mungkin harus memperhitungkan juga jumlah saham yang beredar untuk PT X ya, jadi proporsinya:
jumlah saham PT X * harga per saham PT X
——————————————————–
sumLQ45(jumlah saham * harga per saham)
Kemudian kalau kita punya 1jt, porsi PT X = 1jt * rasio di atas?
Thanks sebelumnya.
BTW saya membayangkan untuk mencukupi nilai minimum investasi, bisa join dengan keluarga / teman dekat yang prinsip investasinya sejalan.
March 15, 2009 at 4:06 PM
Ya, penyusunan index itu memang memperhitungkan Market Capitalizationnya. Penghitungannya memang bisa dikatakan seperti yg endy tulis itu…
Jika Endy lihat dalam penghitungan tersebut, untuk investasi dengan cara ini akan membutuhkan dana yg tidak sedikit utk mengcover keseluruhan saham dalam LQ-45 tersebut..
March 16, 2009 at 9:46 PM
Ternyata dalam prospektus Kresna yang bisa di-download dari sini halaman terakhir ada daftar LQ45 beserta market cap nya. Iseng saya hitung, supaya semua terbeli, dengan proporsi terkecil 1 lot, butuh 250jt an (Agustus 2008):
Kode Bobot Lot Biaya
AALI 2.35% 1 8,300,000
AKRA 0.29% 1 515,000
ANTM 1.61% 4 3,760,000
ASII 7.23% 2 19,850,000
BBCA 6.75% 11 16,912,500
BBNI 1.70% 7 4,375,000
BBRI 6.70% 5 15,250,000
BDMN 2.43% 2 5,400,000
BISI 0.81% 1 1,500,000
BLTA 0.74% 2 1,780,000
BMRI 5.40% 9 13,050,000
BNBR 2.53% 41 6,150,000
BNGA 1.09% 6 2,850,000
BNII 2.01% 21 4,830,000
BTEL 0.55% 13 1,397,500
BUMI 8.82% 9 22,725,000
CPIN 0.23% 1 395,000
CPRO 0.33% 9 810,000
CTRA 0.29% 3 735,000
DEWA 0.46% 7 1,155,000
ELTY 0.62% 9 1,552,500
ENRG 0.92% 6 2,130,000
INCO 3.42% 4 7,650,000
INDF 1.61% 4 3,800,000
INKP 1.30% 2 2,650,000
ISAT 2.84% 2 5,800,000
ITMG 2.34% 1 11,500,000
KIJA 0.15% 6 363,000
LPKR 1.18% 8 3,040,000
LSIP 0.72% 1 2,950,000
MEDC 1.28% 1 2,137,500
MIRA 0.22% 1 440,000
MNCN 0.40% 6 975,000
PGAS 4.81% 10 11,625,000
PNBN 1.68% 9 4,185,000
PTBA 2.64% 1 6,375,000
SGRO 0.42% 1 1,225,000
SMCB 0.77% 3 1,680,000
SMGR 2.00% 3 5,625,000
TBLA 0.19% 2 510,000
TINS 1.04% 2 2,300,000
TLKM 13.52% 9 33,525,000
TRUB 0.71% 7 1,785,000
UNSP 0.37% 2 1,080,000
UNTR 2.51% 1 4,900,000
Sori ya kalo kepanjangan
March 17, 2009 at 8:07 AM
Wah Rp 250 juta minimal dana yang harus kita miliki untuk membuat portofolio sesuai dengan LQ45. Dengan Kresna indeks kita bisa membeli dengan minimal Rp 10 juta. Kita juga tidak perlu repot memantau proporsi per saham agar tetap sesuai dengan indeks LQ45. Klo saya milih lewat RD Kresna Indeks saja, selain dana belum cukup juga lebih mudah menerapkan. Bukan begitu bung Nikken.
…..
Edison: Kalau di kresna, seingat saya buka rekening 10 juta, lalu setiap pembelian berikutnya Rp 1 juta…
Seperti yg saya katakan, membeli saham langsung memang akan membutuhkan dana yg jauh lebih besar
March 17, 2009 at 3:05 PM
Pak Edison dalam hati bilang, “gue bilang juga apa!”
Jangan cape ya pak, saya lagi penasaran soalnya, sekaligus ajang bagi saya mengenal dunia saham lebih dekat.
March 17, 2009 at 4:19 PM
hahaha, nggak loh…saya malah senang yg model spt Endy… justru rasa ingin tahu (penasaran) itu bagus
Apalagi yang mau sampai mengeluarkan usaha spt yg Endy lakukan…
March 17, 2009 at 4:50 PM
iya bung rasa penasaran justru harus disalurkan, nanti saya diajarin jg ya
March 19, 2009 at 3:40 PM
Iya agak bingung juga kalo berubah2 komponen saham yg menyusun indeksnya ya.kl ga salah setahun sekali dikasihtau perubahannya ya oleh BEI?
March 20, 2009 at 7:57 AM
Tiap 6 bulan, Februari dan Agustus.
Kalau tiap kali update 25% komponennya ganti seperti Februari 2009 kemarin, bisa kelabakan index fund mengikutinya
March 20, 2009 at 8:56 AM
Oh 6bulan sekali. Endy bisa ga mengadakan penelitian rata2 tiap pergantian komponen indeks tuh brp persen perubahannya? Kan ga bisa kita lihat kalo cuma dari satu kali perubahan indeks saham,apalagi kalo perubahan indeks kmrn itu kayaknya didorong oleh keadaan bursa saham yg benar2 sedang kacau
pasti kt Endy: itung aja sendiri )
(Dasar malas ya
March 13, 2009 at 12:25 AM
Aku juga pernah berpikir hal yang sama tp bagi kebanyakkan investor.tdk cukup uang adl masalah utamanya
March 13, 2009 at 9:16 AM
Ada share dikit ma temen. Dia menyarankan untuk menganalisa 3-4 emiten yang punya fundamental bagus yang memberikan deviden oke, atau kalo belum mampu analisa bisa memilih bluechips banyak dipakai oleh MI. Saham2 ini lalu kita tahan untuk longterm. Selain itu kita memilih saham2 eceran yang bisa kita ‘mainin’ hanya untuk dapet capital gain. Saham ecerannya juga jangan yang ‘bobrok’ banget dan jangan gede2 dananya jadi kalo sampe jeblos ya ga rugi2 banget. Ga perlu pusing2 belajar TA, cukup liat pergerakan hariannya aja. Dan dia mengatakan cara ini lebih ampuh daripada counting on index fund indonesia yang notebene serba belum jelas aturannya.
Duh…. jadi bingung :-/ Minta pendapat temen2 pembaca blog dunk…!!
March 16, 2009 at 11:53 AM
Pertanyaan saya mungkin hanyalah, menurut teman anda itu ‘fundamental bagus’ spt apa
Apa kriteria yg ia pakai untuk menyatakan apakah suatu perusahaan itu punya fundamental yg bagus ataupun tidak… Lalu yg dimaksud dengan ‘lihat pergerakan hariannya aja’ itu seperti apa?
March 17, 2009 at 3:12 AM
@Endy: oh ya kalo perhitungan porsi ini tepat pun(nilai 250juta juga bukan nilai kecil bagi investor kebanyakkan) tiap berapa bulan sekali kalo ga salah porsi saham masing2nya pun ini berubah2 dan jika kita ingin tepat sesuai porsinya dlm indeks maka kita harus melakukan balancing masing2 saham-nya(spt Kresna melakukannya6bulan skali).dlm melakukan balancing kan perlu biaya ke broker utk keluar masuk dan jika kita investor individual hanya dg modal kecil(250juta)kayaknya abis buat biaya broker aja deh.
March 17, 2009 at 7:46 AM
@Felicia: Iseng berikutnya saya mau coba hitung biaya balancing hehe…
March 17, 2009 at 8:37 AM
Seneng deh punya temen yg bersemangat iseng2 menghitung kyk Endy.Aku dukung: “ayo semangat!”jd aku tinggal lihat hasilnya.maklum hitunganku lemah. Oh ya tlg perhitungkan biaya keluar masuk pd broker yg paling murah(kalo pny informasinya)ada lg biaya lain yg harus diperhitungkan ga pak Edison?
March 19, 2009 at 12:30 AM
Saya ambil stock summary dari IDX tanggal 17 Maret 2009 untuk melanjutkan perhitungan iseng.
257jt yang diinvest di awal Agustus 2008 kalau dihitung dengan harga saham 16 Maret nilainya menyusut jadi 155jt, turun 39.84%. Waks!!!
Februari 2009 LQ45 berubah, 10 perusahaan keluar, 10 perusahaan baru masuk. Agustus 2008 10 perusahaan yang keluar itu nilai total sahamnya 39,548,000. Waktu dijual Maret 2009 nilainya tinggal 6,531,500. Sepuluh perusahaan baru perlu dibeli seharga 32,875,000. Jadi nombok 26,343,500.
Untuk mempertahankan proporsi indeks, perlu keluar uang lagi 10,270,000 untuk menaikkan lot beberapa perusahaan (tetap proporsi terkecil 1 lot). Jadi total keluar 36,613,500 untuk merefresh LQ45.
Kemudian ongkos broker:
Agustus 2008 beli 257jt ongkos broker 0.19% = 489,184
Maret 2009 beli 43,145,000 * 0.19% = 81,976
Jual 6,531,500 * 0.29% = 18,941
Abonemen bulanan 33rb, kalau jual beli di atas 33rb abonemen gratis: 33,000 * 6 = 198,000
Total untuk broker: 788,101
Menariknya ongkos broker lebih rendah dari dugaan saya, padahal ini belum cari broker yang fee nya paling rendah.
Sedangkan yang mengagetkan adalah biaya untuk mempertahankan proporsi indeks, besar sekali! Apa mungkin lebih bijaksana untuk TIDAK meng-adjust proporsi kalau pasar sedang bearish?
March 19, 2009 at 4:53 AM
Tx atas iseng2 hitungannya.cukup memberi gambaran.
kalau tdk mempertahankan proporsi sesuai indeks,namanya bukan investasi berdasar indeks saham lg dong.padahal yang kita cari lewat investasi saham berdasarkan indeks saham adalah keuntungan bhw kita bisa tetap bisa memiliki performance diatas rata2 para manajer investasi secara jangka panjang ‘tanpa otak’ kan. Anggaplah pd saat bearish ini kita tdk ambil keputusan jual saham2 kita yg tdk masuk indeks lg,apakah ada jaminan saham2 tsb tdk tambah jatuh.misalkan lg kita tdk membeli saham2 yg baru masuk pd saat bearish ini ada kmungkinan sahamnya akan naik lg.maksudku adl tujuan kita berinvestasi dg mengikuti indeks kan spy membebaskan otak kita utk tdk bpikir secara apakah akan naik/turun lg sahamnya sebab kita hanya bgerak otomatis sesuai proporsi indeks.Jk pny uang sbesar257juta spt hitunganEndy,msh lbh murah lgsg lewat broker dibanding reksadana(krn diRD ada biaya manajemen)tp emang kmungkinan rugi lbh besar krn jml invest yg hrs besar krn bmain sendiri.
March 19, 2009 at 8:27 AM
Buat yang punya Kresna, ada info NAB untuk 1 Agustus 2008 dan 16 Maret 2009? Kalau ada, bisa dibandingkan.
Kalau cari histori IHSG di mana ya?
Kalau reksa dana indeks betulan dan situasinya seperti di atas, dapat uang untuk balancing dari mana ya? Asumsi saya sebagian besar uang nasabah dibelikan saham, kemudian nilainya jatuh, dan harus beli saham baru yang mahal pula.
Kalau komponen indeks gonta-ganti terus, bisa bangkrut kali ya reksa dana indeksnya.
Mungkin ini sebabnya Kresna actively managed ya. Mungkin dalam kondisi tertentu passively managed index fund gak bisa jalan?
March 19, 2009 at 10:30 AM
Info NAB bisa diliat di koran-koran such as bisnis indonesia. Bisa juga ke infovesta.com atau portalreksadana.com
agustus 2008, mungkin NAB nya di 1000/unit. Per 18 Maret 2009 kemarin NAB nya dikisaran 1090/unit. Detailnya coba dicek di web2 diatas ya..
March 20, 2009 at 7:52 AM
Thanks mbak!
Dari infovesta ada info Kresna Indeks tanggal 19 Maret NAB 1,110.28, naik 2.45 poin dari minggu lalu (berarti tanggal 16 Maret kira2 sama lah), naik 11.03% dari Agustus 2008. Beda jauh yak, hitungan saya -39.84%.
Sedangkan dari portalreksadana ada info LQ45, 1 Agustus 2008 467.83, dan 16 Maret 2009 258.57, berarti -44.73%. Hitungan saya lebih mendekati LQ45 daripada kresna indeks.
Info IHSG dari portalreksadana 1 Agustus 2008 2248.75, 16 Maret 2009 1324.85, yaitu -41.09%. Lebih dekat lagi dengan hitungan saya.
Kok kresna bisa beda jauh dengan LQ45 yang di-track ya? Buat nasabah, bisa lega karena investasi tidak anjlok -40%, tapi waswas karena tracking errornya besar donk?
BTW pengumuman NAB itu sepenuhnya hak perusahaan investasi atau ada suatu badan yang mengawasi kebenarannya?
March 20, 2009 at 8:19 AM
FYI, Kresna Indeks adalah reksadana yang masih baru. Di masa awal2, Kresna Indeks belum mengkoleksi semua saham yang ada di dalam LQ45 apalagi pada masa awal penerbitan beberapa saham group bakrie disuspend jadi tidak bisa dibeli oleh MI Kresna Indeks (hasil diskusi dengan MInya pada bulan Oktober 2008). Komposisi tiap-tiap saham juga masih dalam penyesuaian dengan komposisi saham-saham di LQ45.
Nah kenapa Kresna Indeks bisa naik sedangkan LQ45 turun, faktor yang sangat mempengaruhi adalah sebagian besar portofolio Kresna Indeks mulai dibeli saat IHSG berada di titik terendah (pada bulan Oktober 2008). Jadi tidak perlu heran jika Kresna indeks saat ini mengalami kenaikan dibanding Agustus 2008.
March 20, 2009 at 3:43 PM
@alina: thanks infonya. Berarti yang invest di kresna mujur sekali ya.
@felicia: topiknya kurang menarik
Yang lebih menarik sebetulnya kalau simulasi punya 10M, trus mengikuti LQ45 sejak tahun 2000 misalnya. Tapi cape hehehe…
March 20, 2009 at 4:04 PM
Iya tuh lbh menarik! Tp siapa yg mau ngerjain sepanjang itu ya.
November 9, 2009 at 9:51 AM
aku lagi nyusun skripsi tentang LQ45..tapi aku masih nol banget tentang LQ45. baiknya frekuensi perhitungannya bagaimana ya…tolong bantu saya. trimakasih