Untuk artikel ‘Week in Review’ minggu ini, saya akan fokuskan kepada berita dalam negeri. Bukan karena di minggu ini tidak ada berita menarik dari luar negeri, tetapi lebih karena ingin ganti suasana dan tidak menengok ke negeri orang melulu.
Satu berita yang cukup menarik perhatian saya adalah kenaikan elpiji pada hari Senin 25 Agustus. Pada hari itu Pertamina menaikkan harga elpiji utk kemasan 12 kg dari Rp 63 ribu menjadi Rp 69 ribu. Kemasan 50 kg juga mengalami kenaikan dari Rp 343.900 menjadi Rp 362.750. Angka-angka ini pun baru merupakan harga resmi, dan biasanya harga di ‘lapangan‘ akan berada di atas angka tersebut.
Pertamina membela kenaikan harga elpiji tersebut dengan mengingatkan bahwa pada harga baru ini pun Pertamina masih rugi karena harganya masih di bawah harga internasional. Selain itu sempat tersiar rencana Pertamina utk menaikkan harga elpiji secara bertahap setiap bulannya, meskipun kabar terakhir mengatakan bahwa Pertamina akan menunda rencana kenaikan di bulan depan.
Kenaikan ini sendiri mengundang kecaman dari berbagai kalangan mengingat harga elpiji baru naik awal bulan July lalu. Kepala BPS (Badan Pusat Statistik) Rusman Heriawan misalnya, mengatakan bahwa momen kenaikan elpiji ini agak kurang tepat karena dilakukan menjelang bulan Ramadhan. Gubernur BI Boediono juga mengutarakan kekhawatirannya bahwa kenaikan elpiji ini akan mempercepat laju inflasi.
Di pasar sendiri, ada laporan bahwa kenaikan harga elpiji ini menyebabkan kelangkaan, dimana ada indikasi terjadi penimbunan elpiji. Timbul juga kekhawatiran bahwa akibat kenaikan elpiji 12kg, sebagian penggunanya akan lari ke kemasan 3 kg (yg bersubsidi) sehingga kelangkaan elpiji 3kg akan semakin parah dan mungkin mengancam berjalannya program konversi minyak tanah ke elpiji.
—–oOo—–
Berita lainnya yang menarik mata saya adalah suatu artikel yang saya baca di kompas mengenai ‘diserbunya’ pegadaian menjelang bulan Ramadhan. Entah benar atau tidak, artikel tersebut mengatakan bahwa sepanjang tahun 2007 lalu saja, total kredit yang dikucurkan oleh Pegadaian Jakarta saja mencapai Rp 351 Triliun. Kalau dihitung perbulan, maka berarti rata rata per bulannya warga Jakarta menggadaikan barang senilai hampir Rp 30 Triliun. (Jika angka di artikel ini benar, berapa nilainya utk seluruh Indonesia ya?)
Tentunya angka Rp 30 Triliun di atas tidak akan rata sepanjang tahun. Nilai transaksi di pegadaian cenderung berfluktuasi. Menjelang tahun ajaran baru sekolah misalnya, nilai transaksi di pegadaian akan cenderung naik. Demikian juga masa menjelang bulan Ramadhan yang bisa diibaratkan sebagai ‘masa panen’ pegadaian. Pada tahun ini, kebetulan tahun ajaran baru sekolah dan bulan Ramadhan tidak berselisih jauh. Akibatnya kemungkinan besar dalam 2 bulan terakhir, terjadi pengucuran kredit yang cukup besar melalui pegadaian.
Sedikit terkait dengan berita tersebut, saya sempat juga membaca mengenai persiapan BI utk menghadapi Lebaran. Diberitakan bahwa utk menghadapi Lebaran, BI mempersiapkan dana tunai hingga Rp 90 Triliun untuk mengantisipasi kebutuhan uang tunai di masa ini.
Melihat kondisi ini, saya rasa dalam 2 bulan terakhir ini (dan 1 bulan ke depan) terjadi ‘curahan’ uang dalam jumlah yang cukup besar ke perekonomian.
—–oOo—–
Jika dilihat secara keseluruhan, berita-berita di atas memberikan sinyal bahwa inflasi di akhir tahun ini (terutama 2 bulan ke depan) akan berada di level yang cukup tinggi. Apakah angka inflasi tahun ini akan mencapai 15% seperti perkiraan saya yang lampau? Mari kita tunggu perkembangannya.
5 Comments
August 31, 2008 at 11:06 AM
ehm…ternyata week in review minggu ini untuk mengingatkan akan angka inflasi yg pernah bro prediksi, kayaknya semakin mendekati angka 15% nich
August 31, 2008 at 9:28 PM
wah ni bung blazy selalu ngasih tanggapan pertama tiap ada Edison’s Week in Review
Mengenai inflasi yang diperkirakan akan jd 15 % akhir tahun ini, hal ini berbeda dengan perkiraanahli ekonomi yang mengatakan BI akan menurunkan BI ratenya bulan september ini sebesar 25 basis poin karena memperkirakan inlasi pada bulan Agustus akan turun. Tapi klo lihat keadaan di masyarakat, si ekonom itu lagi tidur atau ngeliat di negara lain. jelas-jelas harga2 pada naik menjelang puasa.Di Aceh saja harga daging sekilo mencapai 100rb, dr yg semula 70rb sekilo (harga daging di aceh termasuk tertinggi di Indo).
Klo melihat akan semakin besarnya inflasi, akan jadi menarik untuk melihat sepak terjang si ORI 005 di pasar sekunder nanti. Akan jadi berapa harga ORI 005 ini di pasar sekunder nanti,setelah penawaran perdana yang kurang diminati dan tingginya inflasi, apalagi klo BI rate bukan diturunkan melainkan malah dinaikkan. Apa jadi semakin banyak yang beli ORI 005 di pasar sekunder krn harganya jadi murah? Bagaimana dengan nasib ORI 004, apa harganya jadi turun karena investor pindah mengkoleksi ORI 005?
Wah jadi ngelantur commentnya, padahal td cm mau nanggapi bung blazy yg selalu dpt ‘pertamax’ di sini…
September 1, 2008 at 9:58 AM
baca tentang inflasi jadi terpikir bunga bank, trus terpikir KPR.
misalkan kalau inflasi 15% sedangkan bunga KPR 12%, berarti kita untung 3% dong? he he he
bener ga bro? atau gimana?
September 1, 2008 at 1:54 PM
Inflasi yang diumumkan oleh BPS untuk bulan Agustus sebesar 0,51%, lebih kecil dr perkiraan para ekonom sebesar 0,7%-0,9%
Wah ga jadi naik BI rate bulan ini, malah sepertinya akan turun
September 2, 2008 at 3:52 AM
nah kan bung niken jg merasa kurang klop dg inflasi yang diumumkan, selain si ekonom yg tidur, ternyata BPS jg tidur. Tiket mudik aja naiknya gila2an (jeritan hati).
baca berita kemarin, kata ekonom yg lain (ekonomnya perbankan) BI harusnya menaikkan BI rate untuk membantu likuiditas bank2 di Indonesia yang lg seret. Diharapkan dengan naiknya BI rate akan banyak dana di masyarakat yang masuk ke Bank. Tapi apa iy bisa, lha wong bulan puasa menjelang lebaran masyarakat kita jadi orang2 yang konsumtif, yang lebih suka belanja. Bisa2 malah pada ngajuin kredit ke Bank.