Minggu ini, berita menarik yang saya baca adalah mengenai inflasi di negara tirai Bambu. Index CPI (Consumer Price Index) tahunan Cina di bulan July adalah sebesar 6,3% (turun dari 7,1% di bulan sebelumnya). Meskipun demikian, masih terlalu cepat utk menarik untuk menarik nafas lega karena nilai PPI (Producers Price Index) China per July ini naik sebesar 10% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan PPI ini adalah yang tertinggi sejak tahun 1996.
Bagi teman-teman pembaca blog yang belum mengenal PPI, angka PPI merupakan cerminan harga berbagai bahan baku untuk para produsen (spt pabrik dll). Jika PPI naik, berarti harga berbagai bahan baku yang dipakai oleh para produsen tersebut mengalami kenaikan. Tentunya kenaikan ini lambat laun akan ‘dioper’ kepada konsumen. Oleh karena itu, sepertinya kemungkinan besar inflasi di China belum akan mereda.
—–oOo—–
Berita lainnya yang mempunyai kaitan dengan berita pertama di atas adalah berita kenaikan harga barang-barang import di Amerika yang sangat besar. Per bulan July, harga barang import di Amerika telah naik sebesar 21,6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan ini adalah yang tertinggi sejak sejak tahun 1982 (itu pun karena sebelum thn 1982, data harga barang import belum dikumpulkan).
Kenaikan harga impor barang ini sendiri sebagian besar disebabkan kenaikan harga minyak. Meskipun demikian, tanpa memperhitungkan kenaikan harga minyak pun kenaikan harga barang impor tetap sangat besar. Data tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga barang impor (tanpa menghitung impor minyak) adalah sebesar 8%, angka tertinggi selama 20 tahun terakhir.
Berita menarik berikutnya datang dari negera asal David Beckham. Di Inggris, tingkat inflasi tahunan per July mencapai 4,4%, 2 kali lipat di atas target inflasi mereka yang sebesar 2%. Bank of England (bank sentral Inggris) juga memperkirakan bahwa angka inflasi ini kemudian akan naik terus di sepanjang tahun ini hingga mencapai angka 5%, sebelum mereda di pertengahan tahun depan.
—–oOo—–
Dalam beberapa artikel saya yang lama, saya telah berbicara mengenai Imported Inflation/inflasi impor. Jika suatu negara mengalami inflasi yg tinggi (alias harga barang-barangnya naik), maka ketika kita mengimpor barang dari negara itu, kenaikan harga di negara itu akan ikut kita rasakan.
Kenaikan harga barang impor di Amerika yang sebesar 8% (tanpa menghitung kenaikan harga minyak) disebabkan oleh inflasi di negara partner dagangnya. Berdasarkan data yg ada, US paling banyak mengimpor barang dari Cina. Dalam 6 tahun terakhir, impor dari China telah meningkat hingga 3 kali lipat. Karena China mengalami inflasi yang tinggi akhir-akhir ini, maka tentunya konsumen di USA akan ikut merasakan akibatnya.
Kondisi serupa saya jg terjadi di Indonesia. Seperti kita tahu, barang impor dari China sudah menjadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Coba tengok ruangan di sekeliling anda saat ini. Boleh dipastikan di tempat anda berada saat ini tidak sedikit barang yang berasal dari negara itu. Dengan demikian, apa yang terjadi di ’seberang’ sana, akan membawa pengaruh yang tidak sedikit bagi konsumen di negara kita.
2 Comments
August 18, 2008 at 8:10 AM
wah inflasi di semua negara masih belum reda, termasuk di Indonesia sendiri. Tahun 2008 ini pemerintah merubah target inflasinya dari 5% plus minus 1 menjadi 11,5% – 12,5%. Bagaimana di tahun 2009? Pemerintah Indonesia dalam hal ini BI menargetkan inflasi tahun 2009 sebesar 6.5% dengan asumsi harga minyak dan komoditas yg cenderung menurun. Semoga hal ini bisa tercapai dan pertumbuhan ekonomi semakin baik.
August 19, 2008 at 7:25 AM
kemungkinan bursa kita akan turun lagi dong bro?
atau gimana?