Di minggu ini, berita ‘terbesar’ dari USA mungkin adalah mengenai perusahaan Fannie Mae (NYSE:FNM) dan Freddie Mac (NYSE:FRE). Fannie Mae dan Freddie Mac merupakan perusahaan yang dibentuk oleh negara (GSE/Government Sponsored Enterprise), yang tugas utamanya adalah menyediakan likuiditas di pasar Mortgage Amerika (Mortgage=kredit properti).
Jika disederhanakan, bisnis Fannie Mae dan Freddie Mac adalah membeli mortgage/KPR yang telah dikucurkan oleh berbagai bank, mengemas mortgage ini menjadi MBS (Mortgage Backed Securities) yang lalu dijual kepada investor. Untuk menjalankan bisnisnya, kedua perusahaan ini meminjam uang dengan cara menerbitkan obligasi. Karena adanya dukungan pemerintah di belakang mereka, selama ini kedua perusahaan ini mempunyai credit rating yang sangat bagus sehingga bisa meminjam uang dengan murah.
Dalam satu tahun terakhir ini, timbulnya Credit Crisis (krisis kredit) di dunia finansial, membuat Fannie Mae dan Freddie Mac kini mulai kesulitan mendapatkan ‘pinjaman murah’ lagi. Rontoknya pasar CDO (Collateralized Debt Obligation) juga membuat mereka kesulitan untuk menjual produk MBS mereka akibat rendahnya minat investor.
—–oOo—–
Imbas dari kondisi yang saya ceritakan di atas adalah memburuknya kondisi kedua perusahaan tersebut. Likuiditas mereka sangat terganggu dan nilai asset yang mereka pegang pun menurun jauh. Pasar saham pun bereaksi terhadap perkembangan ini. Saham Fannie Mae dalam 1 minggu ini turun hingga ±45%, sehingga untuk 1 tahun terakhir ini, saham tersebut sudah turun hingga ±85%. Saham Freddie Mac pun nasibnya tidak berbeda jauh, dalam 1 minggu terakhir sahamnya turun ±44%, yang berarti dalam 1 tahun terakhir sahamnya telah turun 88%.
Permasalahan yang dihadapi oleh Fannie Mae dan Freddie Mac ini mempunyai konsekuensi yang besar. Setelah rontoknya pasar Subprime Mortgage, boleh dikatakan pemain besar di bidang Mortgage Finance yang paling aktif adalah Fannie Mae dan Freddie Mac. Jumlah obligasi kedua perusahaan ini yang dipegang oleh investor, bank sentral, hedge fund dll, nilainya mencapai US$5.200.000.000.000,- (Lima koma Dua trilliun Dollar Amerika)!!! Separuh dari seluruh KPR yang dikucurkan di Amerika dibeli ataupun dijamin oleh mereka. Jika kedua perusahaan ini sampai rontok, sulit dibayangkan gelombang seperti apa yang akan ditimbulkannya.
Problem yang dialami oleh kedua perusahaan ini menimbulkan polemik bagi pemerintah. Bagaimana jika kedua perusahaan ini sampai tumbang? Apakah pemerintah USA akan melakukan bailout? Ada pengamat ekonomi yang memperkirakan bahwa jika pemerintah USA akan melakukan bailout, maka biaya yang ditanggung oleh negara bisa mencapai US$1 triliun.
Meskipun biaya ini sangat besar, saya merasa bahwa jika memang kedua perusahaan ini sampai terancam tumbang, maka pemerintah USA tidak mempunyai pilihan lain selain melakukan bailout. Ini karena selain akan menimbulkan efek yang sangat besar di dunia finansial, robohnya kedua perusahaan ini bisa dikatakan akan membunuh sektor properti yang sekarang ibaratnya sudah koma.
—–oOo—–
Dari dalam negeri, berita yang menarik bagi saya adalah pemberian izin DPR untuk menaikkan gaji PNS sebesar 15%. Selain itu DPR juga merekomendasikan pemberian gaji ke 13. Seandainya ini benar terjadi, berarti kenaikan totalnya sekitar 24,5%.
Apakah kenaikan di atas pasti akan terjadi? Ini sulit untuk diperkirakan. Di satu sisi, akibat tingkat inflasi tahun ini yang boleh dipastikan akan tinggi, pemerintah akan mendapat tekanan untuk menaikkan gaji dalam persentase yang agak besar juga. Di lain sisi, pengeluaran pemerintah dalam APBN sudah sangat besar akibat beban subsidi BBM. Ini tentunya mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memberikan kenaikan gaji yang besar kepada PNS.
Tetapi seandainya pemerintah benar memberikan kenaikan gaji dengan jumlah yang seperti disarankan DPR di atas, maka logikanya kenaikan UMR 2009 tidak akan jauh dari angka tersebut. Seandainya skenario itu benar terjadi, maka dunia usaha akan menanggung beban yang cukup berat, terlebih lagi mengingat saat ini dunia usaha sudah dilanda masalah pasokan listrik yang kurang (shg tingkat produktifitas menurun) dan harga bahan baku yang melonjak. Dihadapkan pada kondisi ini, berbagai perusahaan mungkin akan terpaksa kembali menaikkan harga produk dan jasanya sehingga resiko timbulnya ‘Wage-Price Spiral”/Spiral Upah-Harga yang pernah saya bahas akan semakin besar.
4 Comments
July 12, 2008 at 12:32 PM
Bailout definisinya apa bro?
wah rasanya kasus Fannie Mae dan Freddie Mac merupakan borok terbesar krisis suprime mortgage ya?
July 13, 2008 at 4:19 PM
dari kemarin mau jawab pertanyaan bro lupa melulu. Bailout itu adalah program ‘penyelamatan’ suatu institusi yang sudah hampir ‘tewas’. Biasanya jika berbicara bailout, diasumsikan yang melakukan ‘penyelamatan’ itu adalah pemerintah. Contoh Bailout misalnya yang dilakukan The Fed untuk Bear Sterns kemarin dulu.
July 13, 2008 at 6:43 PM
ow…baru mau protes gara2 g dijawab2
kesibukan jawab2 yg di IMF sie,wkwkwkwkwk
tanks bro
btw masalah borok gimana?apakah setelah ini masi ada institusi keuangan yg bakal terkapar lg menurut pengamantan bro?
July 13, 2008 at 7:09 PM
Minggu kemarin kan mortgage lender Indymac Bancorp sudah rontok. FDIC (LPS) Amerika sekarang mengawasi 9o institusi keuangan yang sedang dalam ‘problem’. Jumlah ini naik dibandingkan dengan kwartal 1 tahun ini (76 buah). di Kwartal 3 tahun 2006, angka ini cuma 47.
Jadi sepertinya permasalahan di sektor finansial masih belum berakhir.