February 11, 2009...12:22 PM

[Guest Blogger] Putrie dan Konobe Pergi ke Pasar Syariah (??)

Jump to Comments

Article by : Konobe & Putrie_kmps
Edited by : Alina Primasari

Apakah teman-teman pembaca blog JanganSerakah ada yang pergi ke FES (Festival Ekonomi Syariah)?

Tanggal 4-8 Februari 2009 kemarin Festival Ekonomi Syariah kedua digelar di JCC. Biar lebih tau segala sesuatu tentang syariah, putrie dan konobe janjian buat pergi kesana. Sebenarnya bung Nikken juga diundang datang. Apa mau dikata, ternyata berhalangan (les piano ya Bung? :D )

Putrie sebagai seorang “putrie” datang tepat waktu jam 10. Sementara Konobe yang sudah bilang akan telat, semakin telat karena terjebak macet dan baru datang 1,5 jam kemudian (haha, sory ya Put :P ). Kami berdua cukup lama juga ada disana. Ketemu dan ngobrol dengan beberapa teman, lalu pulang jam 5 sore.

Sebenarnya kunjungan kami ke sana tidak mempunyai target tertentu, melainkan hanya sekedar ingin lebih tahu tentang seluk-beluk dunia ekonomi Syariah di Indonesia. Peserta Festival Ekonomi Syariah tersebut bisa ternyata cukup lengkap, mulai dari Stand Bank, BPR, Asuransi Life dan General, Lembaga Pembiayaan, Lembaga Penjaminan, Penerbit Buku, Organisasi Masyarakat sampai beberapa institusi pendidikan yang berhubungan dengan syariah. Selain itu ada juga beberapa acara lomba dan talkshow. Untuk pengunjung yang telah berkeluarga dan mempunyai anak, penyelenggaranya Festival juga telah menyediakan Kidz Zone. Singkatnya, suasananya meriah sekali.

—–oOo—–

Jadi, info apa yang dibawa dari FES 2009? Ada beberapa info yang cukup berkesan, salah satunya yaitu peluncuran kartu pembiayaan syariah BNI Syariah Card Hasanah.

Kartu Hasanah adalah kartu kredit syariah kedua setelah Dirham dari Danamon Syariah. Kalau membaca sepintas apa yang ditulis diformulirnya, skema akad kartu ini sama dengan Dirham milik Danamon. Apa bedanya dengan kartu kredit biasa? Tanpa riba, jelas. Ini karena akad yag dipakai berbeda. Secara proses juga akan berbeda.

Perbedaan yang paling bisa dilihat adalah adanya komponen yang dibilang monthly fee dan deposit. Jadi, selain dikenakan annual fee, Hasanah Card juga mengenakan monthly fee. Nah, nanti Bank akan memberi diskon untuk monthly fee yang akan disesuaikan dengan keadaan.

Ilustrasinya begini:

Kalau kita bayar semua tagihan kita sebelum jatuh tempo, Bank akan memberikan diskon untuk monthly fee ini sampai 100%. Jadi sebenernya kita ga akan kena biaya apapun selain tagihan kita tsb. Tapi kalo kita mencicil, diskonnya akan diperkecil atau monthly fee payment – diskon (cash rebate) = nett monthly fee payment.

Kalau dari brosurnya, besarnya nett monthly fee payment ini kira-kira 2,95% sisa cicilan. Untuk deposit, hanya berlaku untuk kartu dengan limit maksimal 10 juta. Jumlah depositnya adalah 10% dari limit KK. Sedangkan ketentuan lain kayanya ga jauh beda dengan KK biasa.

Tertarik? Kalau memang niat awalnya memiliki kartu kredit ini bukan untuk berhutang, saya rasa ini merupakan tawaran yang cukup bagus. Kenapa? Beberapa alasan dalam pandangan awam saya:

  • Siklus jatuh tempo yang cukup lama, 90 hari. Bagus sebagai pengganti sementara dana cadangan yang belum cair di deposito.
  • Masa penawaran: satu tahun annual fee. Lumayan, hemat minimal 120ribu. Bisa tutup kalo ntar udah hampir satu tahun, trus ganti KK lain yang masih free 1 tahun annual fee (haha, soal tutupnya cuma joke ya…)
  • Secara psikologis, pengenaan monthly fee di awal akan membuat saya lebih aware dalam berhutang. Percaya atau tidak, buat saya, ketika saya berpikiran bahwa saya harus memberikan fee diawal, saya akan berusaha sebisa mungkin mendapatkan diskon besar sehingga mau ga mau saya akan bayar lunas. Walaupun kenyataannya jatuh tempo untuk monthly fee ini sama dengan jatuh tempo tagihan. Tapi kalau itu baru dibebankan terakhir seperti bunga, saya akan lebih careless dan ngegampangin hutang saya. Well, itu sudut pandang saya aja sih.
  • Syariah, tentu saja.

—–oOo—–

Produk lainnya yang juga menjadi salah satu ‘fokus utama’ di FES 2009 yaitu:

SUKUK Ritel

Ini cuma tambahan info saja mengenai biaya seputar Sukuk Ritel. BSM mengenakan biaya kustodi 0,025% per tahun atau minimum Rp 5000/bulan. Artinya jika kita membeli Sukuk ini sebanyak Rp 5 juta, kita akan dikenakan biaya kustodi minimum sejumlah Rp 5000/bulan. Jadi bisa dibilang biaya kustodinya 1,2% per tahun, dengan semakin besar jumlah Sukuk yang kita beli maka presentasenya akan semakin kecil. Biaya ini baru BEP atau setara 0,025% per tahun jika pembelian sukuk Anda sekitar 240juta. Untuk biaya transaksi di pasar sekunder yang diberikan BSM sebesar Rp 25 ribu.

Lain lagi dengan HSBC, bank ini mengenakan biaya kustodi 0% dan bebas biaya transaksi di pasar sekunder. Tapi… harus punya tabungan di HSBC, atau membuka tabungan baru minimal Rp 100 juta (total asset). Lalu, tapinya lagi untuk HSBC, kalau sukuk ritel yang kita punya mau dijual di pasar sekunder, harus dijual semua, ga bisa sebagian.

Jadi, untuk yang niat memegang SR001 sampai jatuh tempo, dan dananya cukup banyak untuk buka rekening awal, bisa pertimbangkan HSBC. Atau bisa juga untuk yang berniat membeli SR001 dalam jumlah kecil (sehingga hanya diperlukan satu kali penjualan ketika butuh) dan sudah punya account HSBC. Sedangkan bagi yang berniat membeli dalam jumlah besar, atau ada kemungkinan untuk sering bertransaksi sehingga butuh fleksibilitas, mungkin bisa mencoba mencari info lebih lanjut di HSBC.

—–oOo—–

Informasi menarik lainnya yang didapat oleh Putrie & Konobe adalah seputar berita Penjaminan oleh LPS.

Informasi ini sebenarnya didapat secara ‘tidak sengaja’. Awalnya kami berdua cuma ngobrol-ngobrol soal prospek BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah) dan return yang ditawarkan. Lalu kami diberitahukan bahwa umumnya Bank dan BPR Syariah tidak terikat peraturan bunga maksimal penjaminan LPS (yg sekarang sebesar 9,5% utk bank).

Ternyata, secara umum, Bank dan BPR Syariah hanya terikat oleh ketentuan maksimal 2M. Kenapa? Karena Bank Syariah tersebut tidak pernah menjanjikan nasabah pasti akan mendapatkan return x% untuk bulan itu, karena sistem di sana adalah sistem ‘bagi hasil’.. Artinyanya kalau Bank tersebut tidak mendapatkan keuntungan, maka Bank Syariah tersebut tidak memiliki kewajiban untuk memberikan return/hasil kepada nasabahnya di bulan tersebut. Jadi ’secara teoritis’ bisa saja di  periode ini kita mendapatkan bunga 20%, tetapi periode berikutnya 0% (walaupun ditambahkan juga bahwa selama ini belum pernah sampai 0% :) )

Kami berdua pribadi merasakan bahwa ini menarik karena:

  • Kalau Bank Syariah tersebut ternyata memiliki performa yang kurang bagus, kita akan bisa lihat secara tidak langsung dari tingkat return yang diberi. Jadi ada semacam alarm alami disana.
  • Setinggi apapun nilai imbal hasil yang didapatkan, kita tetap bisa tenang karena dana kita dijamin LPS selama masih kurang dari 2M.

Oh ya, perlu diingat, tidak semua bank syariah bebas dari aturan bunga maksimal penjaminan. Bank Syariah yang memberikan ‘jaminan’ hasil di depan, tetap terikat oleh peraturan bunga maksimal penjaminan. Dari informasi yang kami dapat, HSBC Syariah termasuk ke dalam kategori ini.

22 Comments

  • Makin banyak pilihan kita untuk invest di bank-bank Syariah

  • seru juga ya, datang ke FES.

    boleh juga HSBC sebagai agen penjual sukuk ritel.

    ternyata return di bank syariah bisa nol. Walau selama ini belum pernah tapi kan ada istilah bahwa apa yang terjadi di masa lalu belum tentu akan terjadi di masa depan.

  • Saya sudah tanya teman di bni, untuk SR001, di sana tidak ada biaya kustodi, biaya redempt Rp. 50.000,- tidak melihat nominal dan kataya tidak ada syarat lain.
    Tapi secara pastinya baru besok kita mau ketemuan, sekalian pesen SR001 nya. semoga masih kebagian.

  • Coba searching PP no 16 masih belum ketemu, pengin tau saja besaran pajaknya. kayaknya taun ini masih 0% ya?
    wah, klo RD obligasi juga kena pph, berarti gak bisa switching lagi dong.
    Aku nungguin ulasannya bro.
    Bro apa sist ya?
    Bro ama sist deh…

  • Searching PP no 16 juga belum ketemu, pengin tau besaran pajaknya. kayaknya taun ini masih 0% ya?
    wah, klo RD obligasi kena pph juga, gak bisa switching lagi dong?
    Ditunggu ulasannya ya bro?
    Eh bro apa sist ya?
    Bro ama sist deh….sapa yang mo nulis duluan

  • wah.. menarik juga yaa.

  • Sepertinya tadi pagi saya sempat baca hanya sekilas
    lanjutan dari artikel “Meneropong 2009″, kok tiba2 menghilang ,where is the article bung Edison ?

    Edison: wah padahal itu artikelnya cuma nongol sebentar…. Artikel itu keluar sebelum waktunya (prematur) hahaha….. jadinya artikel field report FES dari putrie dan konobe ini yg keluar dulu… Artikel itu menyusul

  • @Bung konobe
    Ada informasi tentang kpr syariah ngak ?

    Katanya kalo kpr syariah bunganya fix ngak seperti krp bank biasa yang biasanya cuma 1 tahun pertama saja yang fix.

  • Thanks artikelnya, btw ada nggak deposito yang memakai prinsip syariah… ?

  • Saya baca di kontan bahwa pajak bunga obligasi 15% . Apakah ini berlaku untuk sukuk juga ?

  • @Fredy
    saya juga baru tanya ke BNI Securities soal SR001. Ko aga sedikit beda ya? Temen saya bilang bebas biaya kustodi dan bebas biaya jual beli di pasar sekunder tuh. Ato itu tergantung marketingnya? ^^

    @Kurniawan
    Informasi KPR ada. Sayangnya saya juga ga banyak tanya soal itu. AFAIK, KPR Syariah ada beberapa macam jenisnya, tergantung dari akad. Umumnya menggunakan akad jual beli. Jadi Bank akan membeli rumah yang kita inginkan, lalu menjual kembali rumah itu ke kita. Bank akan mengambil keuntungan berupa margin. Makanya nanti cicilannya bisa fix. Tapi ada juga yang bisa berubah-ubah cicilannya seperti bank biasa. Akadnya menggunakan IMBT atau Musyarakah Mutanaqishah (CMIIW). Untuk memastikan fix atau tidaknya, bisa tanya dulu ke Bank yang bersangkutan :)

    Untuk pajak sukuk, kalau memang sukuk termasuk obligasi, harusnya terkena peraturan itu ya. Dan kalau benar, sukuk akan semakin menarik sebagai salah satu alternatif investasi. Tapi saya sendiri kurang begitu tahu mengenai perpajakan.

    @Elky
    Deposito Syariah ada di Bank Syariah, dan menggunakan prinsip syariah :)

  • Dah terlanjur pesen di BSM nih…! Jadi kena biaya kustodi 1,2% (Rp. 5000/bulan). Kalo narok Rp. 10 juta, cuma dapet hasil nett 9% (mohon koreksi kalo itungannya salah)? Weleh… harus bener-bener “diliat” ya tingkat return dan biaya-biayanya?

  • @ San

    Beli berapa di BSM? klo Rp 5 juta iya bakal kena biaya kustodian 1,2% (Rp 60 ribu / Rp 5 juta), klo Rp 10 juta bakal kena biya kustodian 0,6% (Rp 60 ribu / Rp 10 juta) begitu seterusnya….. hingga biaya kustodi yang Rp 60 ribu per tahun itu sama dengan 0,025%. Nah setelah itu yang digunakan bukan Rp 60 ribu lagi, tetapi 0,025% per tahun.

    Misalkan San naruh Rp 10 juta, hasil nettnya jika Sukuk termasuk Obligasi yang terkena pajak 15% adalah 9,6%. Tapi jika tidak termasuk obligasi yang terkena pajak 15% atau tetap 20% hasil nettnya 9%.

    Semoga Sukuk termasuk yang terkena aturan pajak 15%

  • @putrie
    Put sndiri beli berapa diMandiri? :D
    Kalo gitu selain biaya kustodi, biaya jual beli (kalo ada) juga harus dipertimbangkan modal yg mau kita cemplungin kayaknya ya? Jangan cuma liat return gede 12% eh yg ktrima cuma 9%,9.6% (what ever). Belum lagi kalo rekening sekuritas(kalo belinya disekuritas) lain ma rekening kita, kena biaya transfer euy! Duh, return abis buat bayar tol lalu lintasnya aja ya?

  • @san
    bener banget. Makanya kalo bisa cari securities yang emang punya Bank. Biar ga kena biaya transfer ke rekening

    @fredy
    kata temen saya, 50ribu itu kalo mau jual via BNI Sec, tapi tadinya ga beli lewat dia. Tapi kalo beli nya lewat dia skarang, trus ntar mau jual lagi lewat dia juga, ga akan kena biaya. Atau mau direkomend ke temen saya itu? :)

  • Aku sudah telp temanku lagi, ternyata 50.000 nya buat traktir dia makan siang katanya….
    sial….aku dikerjain.
    Sorry dah bikin salah info sebelumnya.
    Jadi, memang bener di bni tidak ada biaya transaksi di pasar sekunder.
    Tengkyu konobe

  • sedih euy.. gak jadi ke FES, gara2 si kecil sakit… padahal pengen diajarin investasi sejak masih bayi hahaha, secara dia dah ikut jadi panitia KDR 1 waktu masih di kandungan hehehe…

  • @Kurniawan
    Saya pernah tanya ke BMI dan BSM tentang KPR. Intinya kalau pembiayaan rumah di bank syariah itu, mereka akan membeli rumah yang kita pilih itu, kemudian menjualnya kembali kepada kita. Harga yang dijual ke kita adalah harga rumah sekarang + margin + inflasi. Untuk margin di beberapa bank bisa dinegosiasikan, karena prinsip jual beli dalam Islam adalah kesepakatan harga. Di BMI margin yang ditawarkan adalah 20%, sedangkan di BSM 21%.

    Sebagai tambahan, di BMI rumah/apartemen sudah harus ada, sedangkan di BSM boleh ambil KPR dulu baru bangun rumahnya. Prinsip BMI sebenarnya lebih syariah, karena syarat jual beli salah satunya adalah barangnya sudah ada. Gak tau deh, justifikasi BSM apaan, kok boleh barangnya belum ada. Di BMI term max 10 tahun, di BSM 15 tahun.

    Untuk perbandingan. Dulu saya lihat apartemen seharga 300juta. Di tawarkan oleh apartemen itu, bunga KPR 10% fix 1 tahun pertama dari Bank Bukopin. Cicilan untuk 15 tahun adalah sekitar 2,5-2,7 juta (lupa detailnya). Sementara kalu di BSM dan BMI, cicilannya 3,6juta. Tapi perlu diingat, karena bunga bank umumnya floating di tahun2 berikutnya, cicilan bisa melonjak gila2an kayak tahun 2008 kemaren. Sedangkan di bank syariah, tinggal ongkang2 kali bayar 3,6juta sampai dengan tahun ke-15. Emang sih, nyesek di awal untuk bayar cicilan tahun2 pertama, tapi untuk urusan financial planning di negara kita yang keuangannya selalu bergejolak belakangan ini, saya pribadi mending aman pake syariah dari pada harus deg2an tiap tahun

  • @lilyardas

    Thanks atas infonya, saya juga setuju kpr syariah lebih aman, karena kita tahu berapa cicilan per bulan sampai lunas, jadi bisa di planning.

    Kalau gitu, saya tunggu inflasi turun deh, baru ambil kpr syariah, supaya lebih kecil cicilan per bulan nya.

  • kalo gak salah mereka pake asumsi inflasi X%, bukan inflasi real sesuai kondisi sekarang. coba aja ditanyain dulu

  • Bisa liat BI Rate kalau memang ingin cicilan kecil. Kalo BI Rate turun, dan prediksi ke depannya BI Rate akan naik, KPR Syariah jadi menarik sekali untuk diambil.

    @lily
    wah, baru tau nih kalo di BSM boleh ambil KPR dulu, trus rumahnya baru dibangun ntar. Mereka bilang ga pake akad apa? Kalo tetep pake murabahah, bisa diprotes tuh. Tapi kalo mereka pake istishna or salam, it’s fine :)

  • Kemaren baru dari BSM lagi, margin p.a (including inflasi) untuk 1 tahun 14,26%, utk 10 tahun 16,xx% (lupa detailnya)…. wah, saya gak nanya mas pake akadnya apa


Leave a Reply