September 15, 2008...11:34 PM

B.B (Berita Besar): Countrywide, Bear Sterns, Lehman, Merril Lynch, (Siapa Berikutnya)?

Jump to Comments

*Gedebum*… Akhirnya pohon besar itu roboh…..

Mungkin ada sebagian teman-teman pembaca blog ini yang membaca artikel seri Edison’s Week in Review minggu lalu (7 Sep 2008). Ketika itu saya menulis bahwa:

Sebagai seseorang yang mengamati krisis subprime dan krisis kredit dari awal, sejujurnya selama ini saya merasakan suatu kejanggalan. Kepala saya selama ini selalu diisi oleh pertanyaan ‘kok krisis ini sepertinya relatif tenang sih? Padahal jika melihat angka-angkanya, seharusnya krisis ini termasuk dashyat‘.

Sebagai contohnya, satu keanehan yang saya rasakan adalah masih relatif sedikitnya hedge fund yg rontok. Bank yang tumbang pun boleh dikatakan baru relatif sedikit. Bursa saham Amerika, meskipun sudah turun dari titik puncaknya, tetapi penurunannya masih relatif ’standard’ utk sebuah Bear Market, tidak sampai ‘heboh’ spt pada periode ‘30an, ‘70an ataupun internet bubble yang lalu.

Mengamati berita dalam 1 bulan terakhir, tiba-tiba di kepala saya muncul suatu gambaran sebuah pohon besar yang tumbang. Pernahkah teman-teman melihat sebuah pohon besar tumbang? Jika sebuah pohon besar tumbang, dia tidaklah langsung jatuh ‘gedebum’ dalam sesaat. Mula-mula pohon tersebut akan miring sedikit dahulu perlahan-lahan. Setelah beberapa lama, barulah kemiringannya semakin besar dan robohnya semakin cepat.

Mungkinkah kini ‘pohon besar’ sektor finansial dan properti amerika mulai memasuki tahap dimana miringnya semakin cepat dan tidak lama lagi akan terdengar suara ‘gedebum’ besar seperti yang saya tunggu-tunggu? Mari kita lihat ke depannya…

—–oOo—–

Seperti yang teman-teman tahu, di hari ini Investment Bank Lehman Brothers resmi mengumumkan kebangkrutannya, dan mengajukan permohonan proteksi UU kebangkrutan USA pasal 11 (PS: aturan pasal 11 ini cukup menarik dan mungkin akan saya ceritakan kemudian hari).

CEO Lehman Brothers sendiri terpaksa mengambil langkah di atas karena mengalami kesulitan likuiditas dan gagal menemukan pembeli/investor yang mau mengambil alih perusahaan tersebut. Akibat pengajuan permohonan kebangkrutan ini, harga saham Lehman langsung terjun bebas. Ketika saya menulis artikel ini, harga saham Lehman Brothers tinggal 30 sen/lembar.

Selain tumbangnya Lehman, di hari ini di sektor finansial juga terjadi pembelian Investment Bank Merrill Lynch oleh Bank of America dengan harga $50 milyar. Pembelian ini dilakukan oleh Bank of America sepenuhnya dengan menggunakan sahamnya.

Dengan tumbangnya Merrill Lynch dan Lehman Brothers mengikuti nasib Bear Sterns, maka berarti dari 5 Investment Bank terbesar di Amerika, 3 di antaranya telah tumbang, dan yang tersisa hanyalah Goldman Sachs dan Morgan Stanley.

‘Kerusuhan’ di sektor finansial ini sendiri tidak terhenti di Merril Lynch dan Lehman Brothers saja. Beberapa nama besar di sektor finansial lainnya juga dikaitkan dengan berita ‘miring’. AIG (perusahaan asuransi) dan Washington Mutual (perusahaan Savings & Loan) adalah dua nama yang kini menjadi fokus perhatian banyak orang.

—–oOo—–

Meskipun di judul artikel ini saya menuliskan pertanyaan ‘Siapa Berikutnya?’, teman-teman yang membaca artikel ini dengan berharap akan mendapat ‘bocoran’ siapa korban berikutnya akan kecewa. Dalam artikel ini saya tidak akan membuat perkiraan seperti ini, karena untuk melakukannya memerlukan analisa yang sangat mendalam terhadap asset-asset perusahaan-perusahaan tersebut. Dengan kompleksnya berbagai asset derivatif (CDO, MBS, CDS, dll) yg dimiliki perusahaan finansial saat ini, boleh dikatakan mustahil bagi ‘orang luar‘ untuk menganalisa dengan akurat kondisi perusahaan-perusahaan tersebut.

(PS: Jika memang ada di antara teman-teman yang tertarik untuk berinvestasi di sektor ini, mungkin bisa mempertimbangkan untuk melakukannya melalui ETF sektor finansial, yaitu XLF (AMEX:XLF). ETF ini mengacu kepada sektor finansial secara keseluruhan sehingga kita terhindar dari resiko saham individual.)

Lalu jika saya tidak berbicara mengenai ‘siapa berikutnya?‘, apa yang akan saya bicarakan? Dalam artikel ini saya akan berbicara singkat mengenai dampak dari tumbangnya Lehman dan Merrill Lynch serta kira-kira hal apa yang akan terjadi yang akan mempunyai pengaruh terhadap kita sebagai investor.

—–oOo—–

Apa yang terjadi pada Lehman dan Merrill Lynch di hari ini hampir bisa dipastikan mempunyai dampak menyebarnya sikap ‘alergi’ terhadap ‘resiko’, terutama untuk jangka waktu dekat ini. ‘Alergi’ ini sendiri akan mempunyai beberapa konsekuensi.

Konsekuensi pertama adalah bahwa kemungkinan besar akan kembali terjadi ‘flight to safety’. Flight to safety ini adalah timbulnya aliran dana besar yang ‘terbang’ dari investasi yg beresiko (spt di negara kita) dan pindah mencari instrumen ‘aman’, seperti obligasi pemerintah USA. Sudah menjadi sifat alami ‘investor’ bahwa ketika kondisi di pasar sangat mengkhawatirkan, kebanyakan orang akan lari ‘mencari aman’.

Jika Flight to Safety ini benar terjadi, ada dua hal yang mungkin terjadi. Satu, mata uang Rupiah bisa mengalami tekanan yang cukup besar di jangka waktu dekat ini, karena investor asing menjual rupiahnya untuk dibelikan ‘instrumen aman’. Kemungkinan kedua, harga obligasi akan turun karena para investor obligasi akan menuntut yield yang lebih tinggi. Kebetulan besok pemerintah kembali akan mengadakan pelelangan SUN (Surat Utang Negara), sehingga kita bisa melihat apakah kemungkinan ini benar terjadi atau tidak.

Kembali kepada fenomena ‘alergi’ terhadap resiko, konsekuensi kedua dari kondisi ini adalah bank akan semakin ‘enggan’ dan berhati-hati untuk memberikan pinjaman, baik kepada sesama bank maupun kepada masyarakat. Akibatnya, meskipun suku bunga the Fed tidak dinaikkan, kemungkinan besar suku bunga pinjaman di lapangan akan naik.

Kenaikan suku bunga pinjaman ini sendiri akan menambah beban keuangan masyarakat Amerika, terlebih lagi di saat ini banyak masyarakatnya yang kehidupan sehari-harinya mengandalkan hutang. Naiknya suku bunga ini juga akan mempunyai pengaruh negatif terhadap performa dunia usaha karena beban usaha semakin besar.

4 Comments

  • Ulasan yang mantap bro Niken (btw salam kenal ya). Hubungannya dengan pasar saham Indonesia kan secara tidak langsung, apakah bursa kita juga akan terseret jauh? Maksud saya kan tidak seperti institusi keuangan dinegara lain (China, Inggris) yang memegang CDO, surat utang dari Lehman/institusi keuangan Amerika lainnya? Apakah bursa saham Indonesia akan ikut jatuh lebih dalam lagi ? Kalau menuju 1600 bro Niken bakal invest di Saham langsung atau cukup ETF/RDS saja? Kasih bocoran ya, thanks.


    Edison:
    Investasi di saham individual (alias tidak melalui RD ataupun ETF index) hanya layak dilakukan oleh investor aktif yg mampu melakukan analisa sekuritas. Utk mayoritas investor, harus memposisikan dirinya sebagai investor pasif dan invest melalui RD ataupun ETF index. Saya sendiri tidak tertarik utk melakukan analisa sekuritas di Indonesia (krn beberapa alasan), sehingga tentunya saya harus memposisikan diri sebagai investor pasif saja.

    Sebenarnya tidak perlu menunggu sampai 1600 :) Asalkan menjalankan investasi rutin bulanan dengan metode DCA, dimulai dari sekarang sudah jauh lebih menarik dibandingkan tahun lalu. Saya pun telah masuk melalui ETF R-LQ45X.

  • Pas saya tahu bahwa Lehman Brother akan bangkrut saya teringat tulisan di blog tentang pohon besar yang akan tumbang itu….

    Ternyata akibat dahsyat sekali… Rasanya seminggu ini ga berani untuk lihat IHSG.

    Baru belajar investasi di RD sudah mengalami yang seperti ini…

    Edison: Pertanyaaannya di sini adalah ‘kenapa harus dilihat?‘ Jika bro irwan investasinya untuk jangka panjang, dan menjalankan investasi rutin spt yg Graham sarankan, sebenarnya kita tidak perlu melihat, kecuali mungkin saat melakukan pembelian bulanan agar bisa mencatat berapa unit penyertaan yg kita dapat. Selain dari saat itu, sebenarnya tidak perlu dilihat sama sekali :)

  • Bro Ed..
    Saya jadi ingat di CNBC atau Bloomberg, ketika pemerintah US akan mengambil alih Freddie dan Fanny yg katanya sampai US$200B (CMIIW), si MenKeu USA ditanya dari mana duitnya, lha wong anggaran kita (USA) saja defisit?

    Nah..hubungannya apa nih sama kejadian tumbangnya Lehman?
    Kalau memang Freddie dan Fanny jadi yg terakhir diselamatkan pemerintah US, berarti tinggal tunggu waktu saja nih tumbangnya institusi2 keuangan besar lainnya.
    Lalu jika memang anggaran USA defisit, bagaimana hubungannya dengan obligasi pemerintah USA?

    Edison: Jawaban singkatnya, jika anggaran belanja negara defisit, maka tindakan yang dilakukan oleh suatu negara tidak berbeda dengan kalau misalnya uang belanja dapur kita defisit. Apa itu? Cari pinjaman/hutang.

    Kalau anggaran belanja USA defisit, tidak perlu heran karena memang sudah 8 tahun terakhir defisit. Untuk menutupi defisit, setiap tahunnya pemerintah USA menerbitkan surat utang alias obligasi negara.

    Utk jawaban panjangnya, bisa satu artikel..hahaha.. nanti kapan-kapan saya coba bahas… duh..banyak sekali topik yg mau ditulis… cari waktunya yg agak sulit…

  • Selama dunia masih pakai US dollar sebagai mata uang utama, maka bukan hal sulit bagi AS untuk cari pinjaman dengan terbitkan obligasi.
    Morgan Stenley dan Goldman Sachs…tinggal tunggu waktu…meski mungkin tidak sampai masuk chapter 11…
    IHSG bakal puasa dgn jangka waktu yg amat panjang… :(


Leave a Reply