WHAT THEY SAID
You don’t tell deliberate lies, but sometimes you have to be evasive
Margaret Thatcher
—–oOo—–
Bagi sebagian investor, salah satu data yang kerap dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk membeli ataupun menjual sahamnya adalah rekomendasi dari analis saham. Dalam meliput suatu saham, seorang analis biasanya akan mengeluarkan rekomendasi berbentuk BUY (Beli), HOLD (Netral), ataupun SELL (Jual). Apakah rekomendasi dari para analis ini bisa dipakai sebagai dasar pertimbangan melakukan investasi?
Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kita harus memahami ‘cara kerja’ di Wall Street.
Hal yang pertama-tama harus kita tahu bahwa analis saham (yg sering kita lihat di tv Bloomberg ataupun MSNBC itu) bekerja di perusahaan brokerage ataupun juga di Investment Bank. Rekomendasi yang dikeluarkan oleh para analis tersebut ditujukan kepada para Investor Individual spt kita dan bukan kepada Investor Institusional (Bank, Perusahaan Reksadana, Perusahaan Besar, Pengelola Dana Pensiun, dll). Ini karena umumnya para Investor Institusional besar mempekerjakan analis saham mereka sendiri (in-house) untuk melakukan analisa dan seleksi saham, sehingga mereka tidak membutuhkan rekomendasi dari para analis saham dari ‘luar’ organisasi mereka.
Hal lain yang juga harus kita sadari adalah betapa pentingnya Investor Institusional bagi perusahaan brokerage ataupun Investment Bank tempat para analis itu bekerja. Kebanyakan perusahaan-perusahaan ini umumnya mempunyai 3 sumber pendapatan utama:
- Komisi dan Fee dari menjalankan kegiatan trading pelanggannya
- Keuntungan dari trading sekuritas antar berbagai account perusahaan itu
- Komisi Underwriting dari aktivitas menjual saham di Penawaran Saham Perdana (IPO/Initial Public Offering)
Bagi mereka, Investor Institusional merupakan klien utama, karena besarnya income yang bisa didapat dari berbagai kegiatan di atas. Akibatnya, Investor Institusional ini mempunyai pengaruh kepada apa yang akan dikatakan oleh para analis tersebut.
Suatu ilustrasi yang kerap dipakai untuk menjelaskan kondisi di atas adalah dengan membandingkan bursa saham dengan industri otomotif. Perusahaan otomotif memproduksi berbagai jenis kendaraan. Kendaraan ini lalu dijual melalui para Dealer yang lalu mempromosikan kendaraan itu kepada masyarakat. Tentunya tidak ada Dealer ‘waras’ yang akan mengatakan bahwa kendaraan yang dijualnya itu jelek.
Hal yang sama terjadi juga di dalam bursa saham. Para analis saham yang bekerja di perusahaan brokerage ataupun Investment Bank, akan sangat enggan untuk ‘menjelek-jelekkan’ saham suatu perusahaan. Bayangkan jika misalkan salah satu klien dari perusahaan brokerage tersebut memegang saham perusahaan X dalam jumlah yang besar. Apa yang akan terjadi jika analis dari perusahaan brokerage itu mengeluarkan rekomendasi SELL (jual) yang lalu mengakibatkan harga saham perusahaan X itu turun? Kemungkinan besar klien tersebut akan marah besar kepada analis dan perusahaan brokerage tersebut sehingga kemudian; mengutip KLA Project; ‘pindah ke lain hati’ (alias pindah ke brokerage/investment bank lain)
—–oOo—–
Kondisi di atas mengakibatkan suatu ‘bias’ yang cukup menarik di dalam rekomendasi saham. Karena analis enggan mengeluarkan rekomendasi SELL, maka ketika mereka mempunyai pandangan yang negatif terhadap suatu saham, umumnya mereka hanya mengeluarkan rekomendasi berupa HOLD (Netral). Akibatnya, jumlah rekomendasi BUY dan HOLD jauh melebihi rekomendasi SELL.
Sebagai ilustrasi, sebuah contoh yang saya dapatkan di sebuah publikasi universitas Wharton (July 2000) yang mengulas rekomendasi analis untuk saham Amazon (NASDAQ:AMZN). Sekitar bulan February tahun 2000, harga saham Amazon berada di kisaran $70/lembar. Ketika itu survey yang dilakukan oleh badan Riset First Call menemukan bahwa rekomendasi yang dikeluarkan berbagai analis di saat itu adalah : 13 rekomendasi Strong Buy, 11 rekomendasi Buy, hanya 7 yang memberikan rekomendasi Hold dan tidak ada satupun analis yang merekomendasikan Sell/Jual.
Di bulan Juni tahun 2000 itu, saham Amazon turun hingga mencapai $35. Bagaimana dengan rekomendasi para analis? Di akhir Juni, saham Amazon masih mendapatkan 13 rekomendasi Strong Buy, 11 Buy, 7 Hold, dan tetap tidak ada satupun analis yang merekomendasikan Sell/Jual.
—–oOo—–
Mungkin sebagian para pembaca blog ini yang sudah berpikir ‘ala’ Investor akan bertanya ‘Bukankah 4 bulan itu jangka waktu yg sangat pendek dalam investasi? Bukankah mungkin saja para analis tersebut berpikir jangka panjang dan yakin kepada prospek Amazon di masa depan, sehingga tidak merubah rekomendasi mereka?‘
Pertanyaan ini tentunya sangat relevan. Mari kita sekarang lanjutkan sendiri penelitian universitas Wharton di atas.
Bagaimana performa Amazon selama 8 tahun ini? Harga penutupan Amazon kemarin adalah sekitar $76. Ini pun tercapai berkat kenaikan besar-besaran dalam 1,5 tahun terakhir. Jika kita lihat kembali data tahun 2000 di artikel universitas Wharton di atas, berarti setelah rekomendasi yang ‘gemilang’ dari para Analis di bulan July 2000 tersebut, saham Amazon hanya ‘jalan di tempat’ selama 8 tahun ini. Fakta bahwa Amazon tidak pernah membagikan deviden sepanjang sejarahnya membuat kondisi ini semakin menyakitkan. Bahkan jika investor tersebut menaruh uangnya di deposito, ia akan mendapatkan hasil yang lebih baik.
Dengan prestasi yang begitu ‘mengenaskan’ selama 8 tahun ini, bagaimana rekomendasi para analis selama periode ini? Jika kita lihat dari situs Finance Yahoo ini, kita akan bisa mendapatkan info tentang rekomendasi berbagai analis dari bulan July tahun 2000 sampai saat ini.
Dari data selama 8 tahun itu (kalau saya tidak salah hitung) ada 123 rekomendasi untuk saham Amazon, baik yg berupa rekomendasi baru maupun perubahan rekomendasi. Dari angka 123 itu, kembali terlihat keengganan para analis untuk mengeluarkan rekomendasi SELL/Jual, karena hanya ada 24 rekomendasi yang bernada ‘JUAL’. Itupun 10 di antaranya baru dikeluarkan dalam 2 tahun terakhir. Mungkin karena analisnya sudah kehabisan ‘alasan’ untuk mempertanggung-jawabkan rekomendasinya atas Amazon selama ini.
10 Comments
August 1, 2008 at 9:31 pm
Sangat menarik ulasannya. Kalau begitu rekomendasi analist broker secara fundamental sangat sulit sekali dijadikan dasar untuk melakukan analisa untuk trading jangka pendek…bukan sekedar bahwa analisa analist broker yang beraliran fundamental untuk kebutuhan investasi jangka panjang… tapi lebih kepada keputusan yang bersifat politis. Hehehehe…kasian juga tuh…baca2 rekomendasi yang kadang bisa menipu apalagi kalau sahamnya yang big cap. Bro… coba analisa untuk saham Telkom dan Bumi dong…:)
August 1, 2008 at 9:41 pm
Analis memang memiliki kepentingannya sendiri, jadi jangan investasi saham hanya berdasarkan tips analis.
August 6, 2008 at 8:46 am
halo om nikken,
itu kan praktik yg ada di US sana, nah apakah praktik itu akan sama persis dengan negara kita?
Thanks.
September 4, 2008 at 11:47 pm
Betul sekali Bro…
Kepentingan dari Broker sangat besar..krn bagaimanaupun juga mereka cari untung dari hasil analisa tersebut.
Contoh nyata adalah saham BUMI…hampir semua masih rekomendasi BUY dgn target 10000, 8400 dll.
Padahal kalau di baca lap keu 1H 2008, keliatan sekali kalau net profitnya drop sampai - 58%!, meskipun laba operasionalnya naik 102%…net profit drop maka EPS juga akan drop.
Dgn asumsi laba 1H akan sama dgn 2 H dan PE yang sama dgn thn kemarin, maka harga wajarnya hanya di 4500!!!
Kecuali kalau pasar bener2 “gak waras” naikkan PEnya ke 30an baru dapat 10000
September 9, 2008 at 8:19 pm
Sangat menarik, kalau boleh saya katakan banyak investor retail atau perorangan di Bursa kita belum memahami dengan benar dalam strategi bermain saham. Dominan hanya ikut-ikutan sehingga di dalam memgambil keputusan “Beli , Tahan ataupun Jual” terhadap sahamnya kurang tepat sehingga mengalami kerugian besar. Yang paling berbahaya adalah fasilitas margin dari broker yang biasanya dikenakan bunga 2%/monthly, seperti hari ini kita lihat indeks kita berada di bawah angka 2000 terjadi penurunan nilai saham yang sangat besar !, saya mendengar ada salah satu investor yang mengalami kerugian lebih dari 100 M di saham Bumi karena kena “Call Margin” dari brokernya. Baik buruknya saham suatu perusahaan dapat kita analisa : Fundamental maupun technical + informasi dan situasi ekonomi. Bung Edison telah memberikan cara mudah memahami laporan keuangan perusahaan dan dapat kita gunakan dan banyak buku tentang investasi di saham. Ketakutan kita dominan sangat dipengaruhui ketidaktahuan kita. Salam
November 3, 2008 at 12:55 pm
Bung edi,aga telat ksh komentar dsini,tapi gpp ya? Anda mengatakan rekomendasi analis itu hanya utk investor luar atau yg retail kaya kita2.nah kalo dlm reksadana saham kira2 berlaku juga g ya? Kan manager investasi punya tanggung jawab thd dana kelolaannya. Atau mungkin yang masuk dalam tim pengelola melakukan analisa sendiri,g pake rekom dari in house analist nya ya? Just a simple question,huh?
November 5, 2008 at 1:07 pm
Dalam artikel ini, hal utama yang ingin saya sampaikan adalah agar para teman-teman investor lebih berhati-hati dalam menanggapi rekomendasi dari para analis saham, terutama rekomendasi yang mereka berikan ‘gratis’ seperti yang sering kita lihat di televisi (baik bloomberg, cnbc, dll) maupun yg kita baca (koran, website, forum, dll)….
Tergantung dari ‘ukuran’-nya setiap MI akan mempunyai ‘cara kerja’ yang berbeda-beda… Yang berukuran besar mungkin punya team in-house analyst yang besar juga (hingga puluhan ataupun ratusan orang), sedangkan yang kecil mungkin team in-house analystnya hanya beberapa orang saja..
Apakah MI melakukan analisa sendiri atau sekedar memakai rekomendasi (ikut secara buta-buta) in-house analyst, tentunya akan hanya bisa dijawab oleh MI tersebut
December 5, 2008 at 9:19 am
Secara jujur, amat sulit bagi analis dari perusahaan sekuritas di Indonesia untuk memberikan rekomendasi SELL secara TERBUKA menimbang nilai ketimuran yang menjaga etika untuk tidak menyakiti/membuat tersinggung sebagian orang serta mengingat (potensi) kerjasama yang pernah/sedang berlangsung.
Namun demikian info tentang SELL masih bisa didapat secara private.
[email protected]
Private Investment Management
December 5, 2008 at 1:51 pm
Inti artikel ini sebenarnya adalah bahwa secara umum, rekomendasi dari analis perusahaan sekuritas itu tidak boleh menjadi dasar dari suatu keputusan investasi karena sering kali ada konflik kepentingan
December 5, 2008 at 2:16 pm
bukannya ada ungkapan klo ada rekomendasi
BUY itu artinya HOLD
HOLD itu artinya SELL
trus kapan belinya ya