<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Spekulasi</title>
	<atom:link href="http://janganserakah.com/tag/spekulasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://janganserakah.com</link>
	<description>Sebuah blog sederhana tentang dunia investasi dan perencanaan keuangan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 May 2010 04:06:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='janganserakah.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d528815cd098af4ded4ea5f747ac55f8?s=96&#038;d=http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Spekulasi</title>
		<link>http://janganserakah.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://janganserakah.com/osd.xml" title="Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://janganserakah.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mati Tertawa Ala Investor</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/05/11/mati-tertawa-ala-investor/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/05/11/mati-tertawa-ala-investor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 18:04:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[-INVESTASI vs SPEKULASI-]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1652</guid>
		<description><![CDATA[Sewaktu saya SMP dulu, ada sebuah seri buku kumpulan humor yang cukup populer dan bisa ditemukan dengan mudah di berbagai toko buku. Buku tersebut adalah buku seri &#8220;Mati Tertawa ala &#8230;&#8230;..&#8221;, misalnya saja Mati Tertawa ala Rusia, Mati Tertawa ala Amerika, ataupun Mati Tertawa ala ABG, dan lain sebagainya. Karena saya termasuk salah seorang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1652&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sewaktu saya SMP dulu, ada sebuah seri buku kumpulan humor yang cukup populer dan bisa ditemukan dengan mudah di berbagai toko buku. Buku tersebut adalah buku seri &#8220;Mati Tertawa ala &#8230;&#8230;..&#8221;, misalnya saja Mati Tertawa ala Rusia, Mati Tertawa ala Amerika, ataupun Mati Tertawa ala ABG, dan lain sebagainya. Karena saya termasuk salah seorang yang menyukai humor, saya pun cukup gemar mengikuti buku-buku seri tersebut.<em> &#8216;Terinspirasi&#8217;</em> oleh buku seri tersebut, artikel ini pun akhirnya saya namakan <strong>&#8216;Mati Tertawa Ala Investor&#8217;</strong>.</p>
<p>Jadi apa yang membuat saya <em>(hampir)</em> mati tertawa?<span id="more-1652"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Pagi ini, saya bersama keluarga sedang menikmati makan pagi di salah satu hotel di Jakarta. Sambil menikmati kopi, saya pun mulai membuka koran Kompas yang saya bawa dari kamar hotel. Di salah satu halaman harian tersebut, saya menemukan artikel karya <strong>Adler Haymans Manurung</strong>. Bagi yang tidak mengenal nama ini, Adler ini adalah seorang praktisi Pasar Modal dan Pengajar di beberapa Universitas terkemuka. Dia juga telah menulis beberapa buku, antara lain &#8220;Reksadana Investasiku&#8221;, dan&#8221;Financial Planner: Panduan Praktis Mengelola Keuangan Keluarga&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Artikel Adler sendiri di Kompas hari ini cukup menggelitik rasa ingin tahu saya. Judul artikel tersebut adalah &#8220;Bermain Saham Gorengan&#8221;. Karena penasaran apa pendapat Adler tentang &#8216;bermain saham gorengan&#8217;, saya pun mulai membaca artikel tersebut. Tetapi begitu membaca beberapa paragraf, saya pun tersedak kopi saya karena kaget dengan tulisan Adler tersebut. Berikut saya kutip beberapa bagian dari artikel tersebut : <em>(artikel tersebut bisa dibaca lengkap <a title="baca artikel lengkapnya" href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/10/03130662/Bermain.Saham.Gorengan" target="_blank">di sini</a>)</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saham goreng-gorengan dapat diperhatikan ketika bursa mulai buka.<em><strong> </strong><span style="color:#0000ff;">Tiga puluh menit pertama saham ini sangat bergejolak dan bisa membuat <span style="color:#ff0000;"><strong>investor</strong></span> ketakutan</span></em><span style="color:#0000ff;">.</span> Harga saham turun tajam mendekati batas suspens saham dan bergerak lagi naik menuju suspens batas atas saham tersebut.<em> <span style="color:#0000ff;"><strong><span style="color:#ff0000;">Investor</span></strong> yang sudah sering bertransaksi saham, bahkan yang suka berjudi, sangat cocok memerhatikan saham ini karena memberi keasyikan sendiri</span></em><span style="color:#0000ff;">.</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8230;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><em><strong>Investor</strong></em></span> yang bertransaksi di bursa sering kali mendengar rumor yang membuat harga saham bergerak naik atau turun. <span style="color:#0000ff;"><em>Bahkan, ada<strong><span style="color:#ff0000;"> investor</span></strong> hanya mengandalkan rumor untuk mendapat keuntungan dalam bermain saham di bursa.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8230;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;"><strong><span style="color:#ff0000;">Investor</span></strong> yang piawai dan sangat mengenal berinvestasi dan bertransaksi saham di bursa sering juga bertransaksi menggunakan margin</span></em>. Artinya, investor bisa membeli saham beberapa kali dari dana yang dimiliki.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8230;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">Bila<strong> <span style="color:#ff0000;">investor</span></strong> melihat harga drop 20 persen dan tidak ada kejadian atau rumor jelek beredar yang membuat harga lebih jatuh esok harinya, <strong><span style="color:#ff0000;">investor</span></strong> ancang-ancang untuk beli. Kemudian, ketika saham ini naik tajam lagi dan melebihi 15 persen dari harga sehari sebelumnya, investor sudah saatnya keluar dan dapat merealisasikan keuntungan yang tinggi</span>.</em> Bila tindakan ini dilakukan dengan jumlah besar dan tepat, <strong><span style="color:#ff0000;">investor</span></strong> akan memperoleh untung besar dan bisa memberikan dana pensiun <span style="color:#ff0000;"><strong>investor</strong></span> sehingga <strong><span style="color:#ff0000;">investor</span></strong> bisa bebas dari masalah finansial.<span style="color:#0000ff;"><em></em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalau seseorang mengatakan kepada anda, bahwa ia:</p>
<ul>
<li>Merasa takut karena saham yang dibelinya bergejolak dalam 30 menit pertama bursa dibuka.</li>
<li>Hanya mengandalkan rumor untuk mendapatkan keuntungan dalam<em> &#8216;bermain&#8217;</em> (???) saham di bursa.</li>
<li>Membeli saham &#8216;gorengan&#8217; beberapa kali lipat dari dana yang ia miliki, dengan menggunakan margin.</li>
<li>Membeli saham hanya karena harga saham tersebut hari ini sudah turun 20% dan tidak ada kejadian atau rumor jelek beredar yang bisa membuat harga saham tersebut LEBIH turun lagi BESOK.</li>
<li>Membeli saham hari ini, dan berharap bisa menjual saham tersebut besok&#8230;&#8230;</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">maka apakah yang akan ada di kepala anda? Apakah orang tersebut adalah seorang Investor atau Spekulator (tanpa ia sadari)? Apakah yang dilakukan orang tersebut merupakan Investasi atau Spekulasi? Apakah benar dengan cara seperti ini, seseorang bisa mendapatkan &#8220;kebebasan finansial&#8221;? Atau malahan kemungkinan besar ia akan terkena &#8220;malapetaka finansial&#8221; (cepat atau lambat)?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Membaca apa yang ditulis oleh Adler tersebut, mau tidak mau saya kembali teringat kepada tulisan Ben Graham di bab I &#8220;The Intelligent Investor&#8221;. Dalam bab tersebut, Graham menulis tentang keadaan di Amerika pada tahun 1970-an :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Media massa pada saat ini menggunakan kata &#8220;investor&#8221; dalam hal-hal ini, karena pada saat ini di Wall Street, setiap orang yg membeli atau menjual saham telah dianggap sebagai investor, tanpa memperdulikan apa yang dia beli, harga belinya, ataupun metodenya (cash atau margin)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Yang membuat saya <em>&#8216;tertawa&#8217;</em> (miris), adalah karena apa yang sedang terjadi di negara kita ini adalah apa yang justru dikritik oleh Graham pada waktu itu. Kata <span style="color:#0000ff;"><strong>&#8216;Investor&#8217;</strong></span> dan <strong><span style="color:#0000ff;">&#8216;Investasi&#8217; </span></strong>diobral dengan mudah, seperti yang bisa terlihat dalam artikel Adler tersebut, meskipun praktek-praktek yang disinggung itu adalah justru praktek spekulasi. Jika seorang Adler Haymans Manurung (yg konon kabarnya kerap dicap sebagai &#8220;bapak Reksadana Indonesia&#8221;) saja tidak membedakan antara Investasi dan Spekulasi, bagaimana dengan khalayak umum?</p>
<p style="text-align:justify;">Jika masyarakat beramai-ramai melakukan apa yang diceritakan oleh Adler dalam artikelnya tersebut, maka di masa depan (cepat atau lambat), saya pasti akan terpaksa menulis artikel dengan judul <span style="color:#0000ff;"><strong>&#8220;Mati Menangis Ala Spekulator&#8221;</strong></span> karena banyaknya orang yang <em>&#8216;mati&#8217;</em> akibat spekulasi seperti ini.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir artikel ini, saya pikir mungkin ada baiknya saya membagi <span style="text-decoration:underline;">sebagian</span> dari apa yang telah dituliskan oleh Ben Graham dalam bab I &#8220;The Intelligent Investor&#8221;. Bab ini merupakan salah satu bab favorit saya. Dengan membaca tulisan Graham tersebut, mudah-mudahan anda bisa lebih mengerti apa yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PS:</strong> <em><span style="text-decoration:underline;">Ini merupakan terjemahan yang saya lakukan sendiri dari buku The Intelligent Investor bahasa Inggris, Revised edition</span>. Mungkin akan sedikit berbeda dibandingkan jika anda membaca versi Indonesia buku tersebut. Dalam melakukan terjemahan/rangkuman ini, saya akan selalu berusaha untuk memakai terjemahan  langsung, tetapi jika saya merasa terjemahan langsung akan sulit dimengerti oleh banyak orang, saya akan menggunakan bahasa yg lebih sederhana. Saya juga akan membuang beberapa kalimat ataupun paragraph yg saya rasa agak repetitive ataupun tidak terlalu penting.</em></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<h2 style="text-align:center;">THE INTELLIGENT INVESTOR</h2>
<p style="text-align:center;"><strong>Ben Graham<br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB I: Investasi versus Spekulasi </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong> Apa yg dimaksud dengan &#8220;investor&#8221;? Dalam buku ini, kata &#8220;investor&#8221; akan dipakai secara  berlawanan dari kata &#8220;Spekulator&#8221;. Dalam buku kami &#8220;Analisa Sekuritas&#8221; (1934), kami mencoba memformulasikan perbedaan keduanya sebagai berikut :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Investasi adalah sebuah operasi yang, melalui analisa yg mendalam, menjanjikan  keamanan modal pokok dan juga tingkat pengembalian (return/hasil) yg LAYAK.  Operasi yang tidak memenuhi persyaratan di atas adalah spekulasi.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Meskipun kami telah berpegang kepada definisi di atas selama masa 38 thn (1934-1972), selama periode ini ada suatu perubahan radikal yg terjadi dalam penggunaan kata &#8220;Investor&#8221;. Setelah periode 1929-1932, <em>(<strong><span style="color:#0000ff;">Edison: </span></strong>Bursa saham USA rontok pada masa tersebut)</em> masyarakat secara luas menganggap bahwa semua saham itu bersifat spekulasi. Seorang pakar ekonomi pada saat itu bahkan menyatakan bahwa hanya obligasi yang pantas disebut sebagai investasi dan hanya pembeli obligasi yg pantas disebut &#8220;investor&#8221;.  Pada saat itu definisi investasi kami dianggap terlalu &#8220;longgar&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat ini (1972), keadaannya justru terbalik. Kami ingin melindungi para pembaca dari penyalah-gunaan kata &#8220;investor&#8221;, dimana trend pada saat ini adalah semua orang yg <em>&#8216;bermain&#8217;</em> di pasar saham disebut &#8220;investor&#8221;. Dalam edisi terdahulu buku ini, kami ada  mengutip sebuah artikel dalam jurnal finansial terkemuka terbitan Juni 1962: <strong>&#8220;Investor kecil Bearish, Mereka melakukan short-selling saham&#8221;</strong>. Kini pada Oktober 1970, jurnal yang  sama memuat sebuah artikel tentang <strong>&#8220;Reckless investor/Investor gegabah yang mulai membeli saham&#8221;. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>(<span style="color:#0000ff;"><strong>Edison:</strong></span> &#8220;Bearish&#8221; adalah kondisi dimana para pelaku dalam pasar saham itu pesimis dan berpendapat bahwa saham akan turun. Kebalikan dari ini adalah &#8220;Bullish&#8221;. Short-sell secara sederhana adalah praktek dimana seseorang yg &#8220;bearish&#8221; itu meminjam saham dari orang lain (dgn membayar fee), lalu menjual saham itu dengan harapan harga saham itu di kemudian hari akan turun. Jika itu terjadi, dia bisa membeli kembali saham itu dengan harga lebih murah utk dikembalikan ke pemilik saham. Selisih antara harga jual (tinggi) dengan harga beli  (rendah) ini menjadi keuntungan bagi si short-seller itu.)<br />
</em><br />
Kedua artikel di atas melukiskan kekacauan dalam penggunaan kata &#8220;investasi&#8221; dan &#8220;spekulasi&#8221; selama ini. Bandingkan definisi &#8220;investasi&#8221; kami dengan perilaku masyarakat di atas. Bagaimana suatu operasi bisa dikatakan sebagai &#8220;investasi&#8221; bila dilakukan oleh orang yg tidak berpengalaman, yang bahkan tidak memiliki barang yg dia jual, dan hanya berdasarkan kepada keyakinan emosional (firasat) bahwa dia akan bisa membeli kembali barang yg dia jual dengan harga yg lebih murah? (Kami ingin mengingatkan kembali bahwa pada tahun 1962 itu, pasar telah jatuh sangat rendah dan justru akan kemudian naik dengan drastis. Masa itu adalah masa paling salah utk melakukan &#8220;short-sell&#8221;)</p>
<p style="text-align:justify;">Artikel kedua yg memakai kata &#8220;investor gegabah&#8221; itu juga bisa ditertawakan karena kontradiksi (pertentangan) diantara kedua kata tersebut. Ini sama halnya seperti jika kita berkata &#8220;orang hemat yang boros&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Media massa pada saat ini menggunakan kata &#8220;investor&#8221; dalam hal-hal ini, karena pada saat ini di Wall Street, setiap orang yg membeli atau menjual saham telah dianggap sebagai investor, tanpa memperdulikan apa yang dia beli, harga belinya, ataupun metodenya (cash atau margin). Bandingkan kondisi ini dengan kondisi pada tahun 1948, dimana dalam suatu survey, 90% orang mempunyai pandangan negatif tentang saham, dengan berbagai alasan spt &#8220;tidak aman&#8221;, &#8220;spekulatif&#8221;, &#8220;spt judi/gambling&#8221; dan &#8220;tidak paham tentang saham&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Sangat ironis (meskipun tidak mengherankan) bahwa saham justru dianggap &#8220;spekulatif&#8221; di saat mereka dijual dengan harga yg sangat murah dan &#8220;atraktif&#8221;. Ironis juga bagaimana sebaliknya justru ketika saham naik ke tingkat harga yg tinggi (mahal) dan &#8220;berbahaya&#8221;, saham justru dianggap sebagai &#8220;investasi&#8221; dan semua pembeli saham disebut sebagai &#8220;investor&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembedaan antara &#8220;investasi&#8221; dan &#8220;spekulasi&#8221; adalah sesuatu yg sangat penting, dan semakin menghilangnya pembedaan ini merupakan sesuatu yg sangat mengkhawatirkan. Kami sering berkata bahwa Wall Street sebagai suatu institusi seharusnya membedakan &#8220;investasi&#8221; dan &#8220;spekulasi&#8221; dan menginformasikan perbedaan keduanya kepada publik. Jika tidak, suatu hari, bursa saham bisa disalahkan atas kerugian spekulatif yang besar, yang diderita oleh orang-orang yang tidak diperingatkan tentang perbedaan antara investasi dan spekulasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami percaya bahwa pembaca buku ini akan mendapatkan sebuah gambaran yg cukup jelas tentang resiko-resiko yg terkait dalam investasi saham. Resiko ini merupakan bagian yg tidak terpisahkan dari peluang Profit/Untung yang ditawarkan, dan harus menjadi bagian dari perhitungan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang investor harus mengenali bahwa di sebagian besar waktu, akan ada faktor spekulatif dalam investasi saham. Tugas seorang investor adalah menjaga agar komponen spekulatif ini di tingkat yg minimum, dan mempersiapkan diri secara finansial dan psikologis utk hasil yg buruk, yg mungkin saja hanya sementara, ataupun juga berlangsung agak lama.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu catatan penting, yaitu kita harus membedakan antara spekulasi saham murni dengan faktor spekulatif yg terkandung dalam hampir setiap saham. Spekulasi murni bukanlah sesuatu yang illegal atau juga immoral, tetapi juga biasanya tidak membuat dompet anda lebih tebal (bagi kebanyakan orang).</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti halnya di dunia ini ada &#8220;Intelligent Investing&#8221; (Investasi dengan cerdik), ada juga &#8220;Intelligent Speculation&#8221; (Spekulasi dengan cerdik). Tetapi ada banyak kondisi dimana spekulasi itu menjadi sesuatu yg &#8220;tidak cerdik&#8221; (BODOH). Kondisi-kondisi itu terutama :</p>
<ol>
<li>Berspekulasi dengan berpikir bahwa anda sedang berinvestasi (Tidak sadar kalau sebenarnya sedang berspekulasi).</li>
<li>Berspekulasi secara serius (bukan sbg &#8220;hiburan&#8221;), padahal ilmu, pengetahuan dan kemampuannya tidak mencukupi utk itu.</li>
<li>Berspekulasi dalam jumlah yang terlalu besar, padahal sebenarnya kita tidak mampu utk kehilangan uang sejumlah itu.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dalam pandangan kami, setiap non-profesional yang ber&#8221;main&#8221; saham dengan margin <em>(<span style="color:#0000ff;"><strong>Edison:</strong></span> secara sederhana, membeli dengan margin itu berarti membeli saham dengan meminjam uang dari broker)</em>, harus sadar bahwa sebenarnya dia itu berspekulasi (atau lebih parah lagi berjudi). Demikian juga  dengan orang-orang yg membeli saham yang sedang &#8220;hot&#8221; tanpa analisa.</p>
<p style="text-align:justify;">Spekulasi memang mengasyikkan, terutama jika kita sedang menang. Jika anda ingin mencoba keberuntungan anda, pisahkan sebagian uang anda -semakin sedikit semakin baik- sebagai dana utk spekulasi. Jangan pernah menambahkan uang ke dalam dana ini hanya karena anda sedang menang. Itu justru saatnya untuk menarik sebagian uang dari dana spekulasi tersebut. <em>(<span style="color:#0000ff;"><strong>Edison:</strong></span> Terlebih lagi jika kita kalah&#8230;.jangan kita justru menambah uang utk spekulasi ini)</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan pernah mencampurkan dana utk investasi dan dana utk spekulasi anda! Juga jangan pernah mencampurkan investasi dan spekulasi dalam otak anda!</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1652&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/05/11/mati-tertawa-ala-investor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>102</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkenalan Dengan Options (5)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/04/18/berkenalan-dengan-options-5/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/04/18/berkenalan-dengan-options-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 08:42:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>
		<category><![CDATA[Option]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1561</guid>
		<description><![CDATA[(Sambungan dari part 4) Minggu ini saya pikir ada baiknya kita kembali lagi ke artikel tentang Options, karena artikel seri Options sudah agak lama belum saya lanjutkan (alasan sebenarnya sih karena saya sedang tidak menemukan inspirasi untuk bahan tulisan ). Dalam artikel kali ini, kita akan mulai melihat beberapa Strategi dalam dunia Options. Tetapi dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1561&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://janganserakah.com/2009/03/10/berkenalan-dengan-options-4/" target="_blank">(Sambungan dari part 4)</a></p>
<p style="text-align:justify;">Minggu ini saya pikir ada baiknya kita kembali lagi ke artikel tentang Options, karena artikel seri Options sudah agak lama belum saya lanjutkan <em>(alasan sebenarnya sih karena saya sedang tidak menemukan inspirasi untuk bahan tulisan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  )</em>. Dalam artikel kali ini, kita akan mulai melihat beberapa Strategi dalam dunia Options. Tetapi dalam <a title="Baca artikel part 4" href="http://janganserakah.com/2009/03/10/berkenalan-dengan-options-4/" target="_blank">artikel part 4</a>, saya sempat memberikan &#8220;PR&#8221;. Untuk itu, sebelumnya mari kita melihat jawaban dari &#8220;PR&#8221; tersebut terlebih dahulu.</p>
<p><span id="more-1561"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Harga saham Coca-Cola (KO) saat ini adalah $39,46. Harga option <span style="color:#0000ff;"><strong>KO Aug 2009 <span style="color:#ff0000;">35</span> PUT</strong></span> saat ini adalah $2,4 dan  harga Option <span style="color:#0000ff;"><strong>KO Aug 2009 <span style="color:#ff0000;">42,5</span> PUT</strong></span> saat ini adalah $6,2. Berapakah Nilai Intrinsik dan Nilai Waktu untuk masing-masing option tersebut?</p>
</blockquote>
<p>Jawabannya:</p>
<ul>
<li>Utk Option <span style="color:#0000ff;"><strong>KO Aug 2009 <span style="color:#ff0000;">35</span> PUT</strong></span>, Nilai Intrinsiknya adalah 0 (nol). Ini karena jika kita menjual saham KO dengan menggunakan option PUT tersebut, harga yang kita dapatkan ($35) malah lebih rendah daripada harga di pasar ($39,46). Artinya, tidak ada manfaat yang kita terima sama sekali dari menggunakan Option tersebut. Untuk Time Valuenya, karena Harga=Time Value+Nilai Intrinsik, maka Time Value untuk option ini adalah $2,4.</li>
</ul>
<ul>
<li>Utk Option <span style="color:#0000ff;"><strong>KO Aug 2009 <span style="color:#ff0000;">42,5</span> PUT</strong></span>, Jika kita menjual saham KO dengan menggunakan option PUT tersebut, harga yang kita dapatkan ($42,5) lebih tinggi $3,04 dari harga di pasar ($39,46). Dengan kata lain, manfaat yang kita terima dari menggunakan option PUT tersebut adalah sebesar $3,04. Dengan demikian, nilai Intrinsik dari option tersebut adalah $3,04. Time Value option ini adalah $6,2-$3,04=$3,16.</li>
</ul>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum kita melihat tentang berbagai Strategi penggunan Options, sebelumnya saya ingin berbicara singkat tentang :</p>
<ol>
<li>In-The-Money Options;</li>
<li> At-The-Money Options; dan</li>
<li>Out-of-The-Money Options</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Secara sederhana, <span style="text-decoration:underline;">semua Options yang Nilai Intrinsiknya &gt; 0 (Nol) adalah In-The-Money Options</span>. Lalu bagaimana dengan Options yang nilai Intrinsiknya = 0 (Nol)? Ini sedikit lebih &#8216;rumit&#8217;:</p>
<ul>
<li>Jika sebuah Options mempunyai nilai Intrinsik = Nol, dan Harga Strike Pricenya sama dengan Harga Pasar (ataupun hanya selisih sedikit sekali, dalam dollar mungkin hanya beberapa sen), maka Options tersebut dikatakan sebagai At-The-Money Options.</li>
</ul>
<ul>
<li>Jika sebuah Options mempunyai nilai Intrinsik = Nol, dan Harga Strike Pricenya tidak sama dengan Harga Pasar, maka Options tersebut dikatakan sebagai Out-Of-The Money Options</li>
</ul>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang kita akan mulai masuk ke pembahasan tentang berbagai Strategi dalam Options. Strategi Options yang akan kita lihat pertama-tama adalah strategi yang dikenal sebagai <span style="color:#0000ff;"><strong>Covered Call Writing</strong></span>, ataupun yang biasanya dikenal dengan nama singkatnya <span style="color:#0000ff;"><strong>Covered Call</strong></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#0000ff;">Covered Call</span> </strong>adalah strategi dimana kita <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">membeli</span></span> saham perusahaan X, dan di saat bersamaan <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#ff0000;">menjual</span></span> Option Call saham perusahaan X.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sebagai ilustrasi:</p>
<p style="text-align:justify;">Misalkan harga saham Perusahaan X saat ini adalah $20. Harga Option <strong><span style="color:#0000ff;">X July 2010 <span style="color:#ff0000;">20</span> Call</span></strong> adalah $5. Kita ingin melakukan strategi Covered Call Writing  saham X dengan Option tersebut. Maka  yang kita lakukan adalah membeli 100 lembar saham X, dan menjual 1 kontrak option X July 2010 20 Call (Ingat bahwa 1 kontrak option itu <em>&#8216;mencakup&#8217;</em> 100 lembar saham).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan melakukan ini maka uang yang kita butuhkan untuk melakukan transaksi ini adalah adalah:</p>
<ul>
<li>Membeli 100 lembar saham X &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. $2000; dikurangi dengan</li>
<li>Menjual 1 kontrak X July 2010 20 Call&#8230;&#8230;.. ($500)</li>
</ul>
<p>Dengan demikian, uang yang kita keluarkan adalah sebesar $1500.</p>
<p>Apa efek dari transaksi ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Efek pertama, seperti yang bisa kita lihat adalah berkurangnya modal yang kita butuhkan. Jika kita sekedar membeli 100 lembar saham saja, maka total uang yang kita keluarkan adalah $2000. Tetapi berkat uang yang kita dapatkan dari menjual option, maka total uang yang kita keluarkan hanya $1500. Secara matematika, boleh dikatakan ini artinya kita membeli saham yang harganya $20, hanya dengan membayar $15.<em> (Ini sebabnya beberapa orang memandang Covered Call Writing sebagai &#8216;membeli saham dengan diskon&#8217;).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Berkat <em>&#8216;diskon&#8217;</em> ini, jika seandainya di bulan July 2010, harga saham X ternyata tidak berubah (tetap $20), kita tetap untung  $5 karena modal pembelian saham X kita hanyalah $15 per lembar.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkat <em>&#8216;diskon&#8217;</em> ini juga, jika seandainya di bulan July 2010, harga saham X ternyata malah turun menjadi $15, kita belum menderita kerugian karena <em>&#8216;modal&#8217;</em> kita memang hanyalah $15. Padahal, di saat itu, orang-orang yang hanya membeli saham (dan tidak melakukan Covered Call) sudah rugi $5 per lembar.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;<em><br />
</em></p>
<p>Tetapi tentunya tidak ada yang namanya <em>&#8216;makan siang gratis&#8217;</em>. Untuk mendapatkan <em>&#8216;diskon&#8217;</em> yang kita lihat di atas ada <em>&#8216;harga&#8217;</em> yang harus kita bayar. Dengan melakukan Covered Call, kita akan membatasi keuntungan maksimal kita. Mengapa begitu?</p>
<p>Misalkan saja, dalam contoh di atas setelah kita melakukan Covered Call Writing dengan option di atas, pada bulan July 2010 harga saham X naik menjadi $25, maka:</p>
<ul>
<li>Dari sisi saham, keuntungan yang kita terima dari kenaikan harga 100 lembar saham X yang kita miliki adalah sebesar ($25-$20)x100 lembar= $500</li>
</ul>
<ul>
<li>Options yang kita jual (X July 2010 20) akan expire dengan nilai $5 (karena dengan option tersebut orang bisa membeli saham X kita dengan lebih murah $5 dibandingkan harga pasar). Kita harus mengeluarkan $5 untuk <em>&#8216;menutup&#8217;</em> option yang telah kita jual. Sewaktu kita menjual option, uang yang kita dapatkan juga adalah sebesar $5. Dengan demikian, dari sisi options, kita tidak mendapatkan untung ataupun rugi.</li>
</ul>
<p>Dengan demikian, total keuntungan yang kita dapat yaitu Rp 500 (untung $500 dari saham dan $0 dari options). Seandainya kita hanya membeli saham saja (dan tidak melakukan Covered Call), total keuntungan yang kita dapatkan juga adalah sebesar $500 (dari $25-$20 dikali 100 lembar).</p>
<p>Sekarang kita bandingkan dengan jika seandainya saham harga X naik menjadi $30 pada bulan July 2010. Jika ini terjadi, maka:</p>
<ul>
<li>Dari sisi saham, keuntungan yang kita terima dari kenaikan harga 100 lembar saham X yang kita miliki adalah sebesar ($30-$20)x 100= $1000</li>
</ul>
<ul>
<li>Tetapi ingat juga bahwa kita telah menjual option X July 2010 20 Call. Sekarang option X tersebut &#8216;expire&#8217;/jatuh tempo dengan nilai $10 <em>(karena pemilik option tersebut bisa membeli saham X milik kita dengan harga lebih murah $10 dibandingkan dengan harga pasar)</em>. Kita harus mengeluarkan $10 untuk <em>&#8216;menutup&#8217;</em> option yang telah kita jual. Padahal, ketika kita menjual option tersebut, harganya hanya $5, sehingga dari sisi Options, kita malah menderita kerugian $5 (dari $10-$5).</li>
</ul>
<p>Dalam kasus ini, total keuntungan bersih kita dari Covered Call tetap hanyalah $500 (Untung $1000 dari saham, dikurangi dengan rugi $500 dari options). Seandainya kita hanya membeli saham saja (dan tidak melakukan Covered Call), total keuntungan yang kita dapatkan adalah sebesar $1000 (dari $30-$20 dikali 100 lembar).</p>
<p>Seperti kita bisa lihat, baik apakah harga saham X tetap $20, atau naik menjadi $25 ataupun $30, keuntungannya tetaplah sebesar $500. Ini berbeda dengan hasil yang akan diterima oleh para pembeli saham saja (yg tidak melakukan covered call).</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p>Jika potensi rugi laba dalam ilustrasi di atas dibuat dalam bentuk grafik, maka grafiknya akan berbentuk seperti ini:</p>
<div id="attachment_1571" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/04/chartcc4.jpg"><img class="size-full wp-image-1571" title="ChartCoveredCall" src="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/04/chartcc4.jpg?w=500&#038;h=381" alt="Potensi Laba/Rugi" width="500" height="381" /></a><p class="wp-caption-text">Potensi Laba/Rugi</p></div>
<p style="text-align:justify;">Dari Grafik di atas, bisa kita lihat bahwa keuntungan maksimum yang kita bisa terima dari Covered Call dalam contoh ini, hanyalah $500 <em>(bagi yang ragu-ragu, bisa mencoba memeriksa sendiri bagaimana seandainya saham harga X naik menjadi $ 40, $100 atau bahkan $1000)</em>. Meskipun harga saham X yang kita miliki naik hingga berapapun, keuntungan yang kita terima dari kenaikan harga saham akan <em>&#8216;termakan&#8217;</em> oleh kerugian dari penjualan option yang kita lakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kita juga bisa melihat bahwa dengan Covered Call, titik impas/Break-Even Point (tidak untung maupun rugi) kita lebih rendah dibandingkan dengan kita membeli saham saja. Dalam ilustrasi ini, Titik impas (BEP) untuk Covered Call adalah $15, sedangkan untuk membeli saham saja, titik impasnya adalah $20.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p><em>Sebagai PR, Jika Harga Saham JanganSerakah Ltd. saat ini adalah $50, dan:<br />
</em></p>
<ul>
<li><em>Alina melakukan Covered Call dengan option Dec 2010 55 Call. Harga option tersebut saat ini adalah $2<br />
</em></li>
<li><em>Konobe melakukan Covered Call dengan option Dec 2010 45 Call. Harga option tersebut saat ini adalah $7</em></li>
</ul>
<p><em><strong>Pertanyaan:</strong> (berapa point yang bisa anda dapatkan? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ) </em></p>
<ol>
<li><em>Berapakah Titik Impas/BEP Alina dan Konobe? (1 point)<br />
</em></li>
<li><em>Berapa keuntungan maksimum yang bisa didapat oleh Konobe? (2 point)<br />
</em></li>
<li><em>Berapa keuntungan maksimum yang bisa didapat oleh Alina? (2 point)<br />
</em></li>
<li><em>Pada tingkat harga berapa, keuntungan yang didapat oleh Alina dan Konobe itu sama besar? (5 point) </em></li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1561/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1561/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1561/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1561&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/04/18/berkenalan-dengan-options-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/04/chartcc4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ChartCoveredCall</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkenalan dengan Options (4)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/03/10/berkenalan-dengan-options-4/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/03/10/berkenalan-dengan-options-4/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Mar 2009 01:33:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>
		<category><![CDATA[Option]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1241</guid>
		<description><![CDATA[(sambungan dari part 3) Dalam artikel part 4 ini, kita akan melihat lebih jauh beberapa hal tentang option. Tetapi sebelum saya melanjutkan pembahasan mengenai options, mari kita lihat dulu jawaban atas pertanyaan yang saya berikan di akhir part 3 artikel seri ini. Bagi teman-teman yang telah menjawab pertanyaan tersebut, cobalah utk memeriksa jawaban anda: Jika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1241&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://janganserakah.com/2009/02/06/berkenalan-dengan-options-3/" target="_self">(sambungan dari part 3)</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam artikel part 4 ini, kita akan melihat lebih jauh beberapa hal tentang option. Tetapi sebelum saya melanjutkan pembahasan mengenai options, mari kita lihat dulu jawaban atas pertanyaan yang saya berikan di akhir part 3 artikel seri ini. Bagi teman-teman yang telah menjawab pertanyaan tersebut, cobalah utk memeriksa jawaban anda:</p>
<blockquote>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Jika seseorang berspekulasi bahwa harga saham suatu perusahaan akan naik (bullish), Options apakah yang akan ia <span style="text-decoration:underline;">beli</span>? PUT? atau CALL? <span style="color:#0000ff;">Karena dalam pertanyaan ini, yang ditanyakan adalah &#8216;membeli option&#8217;, maka jawabannya adalah </span><span style="color:#0000ff;"><strong>CALL.</strong></span></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Dan sebaliknya, jika seseorang berspekulasi bahwa harga saham suatu perusahaan akan turun (bearish), Options apakah yang akan ia <span style="text-decoration:underline;">beli</span>? PUT? atau CALL? <span style="color:#0000ff;">Karena yg ditanyakan adalah &#8216;membeli option&#8217;, maka jawabannya adalah </span> <strong><span style="color:#0000ff;">PUT</span></strong></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Apakah mungkin seseorang yang Bullish &#8216;<span style="text-decoration:underline;"><em>bermain</em></span>&#8216; PUT option? <span style="color:#0000ff;"><strong>BISA</strong>, dengan cara MENJUAL PUT. Jika kita lihat pertanyaan no. 2, dimana pembeli PUT mempunyai pandangan yg &#8216;bearish&#8217;, maka tentunya lawannya (PENJUAL option PUT)  mempunyai pandangan &#8216;bullish&#8217;.</span></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Apakah mungkin seseorang yang Bearish &#8216;<span style="text-decoration:underline;"><em>bermain</em></span>&#8216; CALL option? <span style="color:#0000ff;"><strong>BISA</strong>, dengan cara MENJUAL CALL. Jika kita lihat pertanyaan no. 1, dimana pembeli CALL mempunyai pandangan yg &#8216;bullish&#8217;, maka tentunya lawannya (PENJUAL option CALL) mempunyai pandangan &#8216;bearish&#8217;.</span></li>
</ul>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana? Apakah jawaban anda tepat semuanya? Selamat jika anda telah menjawab seluruh pertanyaan saya dengan benar. Kini saya akan mengajak teman-teman untuk melihat lebih detail salah satu <em>&#8216;aspek&#8217;</em> Option, yaitu <span style="color:#0000ff;"><strong>Harga Option</strong></span>.</p>
<p style="text-align:center;"><span id="more-1241"></span>&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Harga Option, selalu terdiri dari 2 komponen, yaitu <strong>Intrinsic Value</strong> (Nilai Intrinsik) dan <strong>Time Value</strong> (Nilai Waktu), dan jika kita tulis dalam bentuk persamaan matematika, maka :</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Harga Option = Nilai Intrinsik + Nilai Waktu</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak definisi yang kerap digunakan untuk menjelaskan  apa itu Nilai Intrinsik dalam option. Tetapi saya akan mencoba memakai  &#8216;definisi&#8217; yg bisa dipakai baik utk option Call maupun Put. Mari kita lihat sebuah ilustrasi option Call terlebih dahulu:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Harga saham perusahaan <span style="color:#0000ff;"><strong>Coca-Cola</strong></span> (kode: <span style="color:#0000ff;"><strong>KO</strong></span>) saat artikel ini ditulis (8 Maret 2009) adalah $39,46. Salah satu option untuk saham KO yg ada di pasar adalah option <strong> </strong><span style="color:#0000ff;"><strong></strong></span> <span style="color:#0000ff;"><strong>KO Aug 2009 <span style="color:#ff0000;">35</span> Call</strong></span> (Masih ingat cara penulisan nama Option seperti ini? Jika sudah lupa, <a href="http://janganserakah.com/2009/02/02/berkenalan-dengan-options-2/" target="_blank">baca kembali part 2</a>). <strong></strong> Option lainnya yang juga ditawarkan di pasar adalah option  <span style="color:#0000ff;"><strong>KO Aug 2009 <span style="color:#ff0000;">42,5</span> Call</strong></span><strong>. </strong>Berapa nilai intrinsik masing-masing option tersebut?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tentunya para pembaca masih ingat bahwa option Call memberikan kita hak untuk membeli saham di harga strike Price tanpa perduli  berapa pun harga saham tersebut di pasar. Option Call yg pertama dalam contoh di atas (<strong><span style="color:#0000ff;">KO Aug 2009 <span style="color:#ff0000;">35</span> Call</span></strong>), memberikan kita hak untuk membeli saham KO dengan harga strike price $35. Tanpa memiliki option tersebut, jika kita ingin membeli saham Coca-cola (KO), saat ini seharusnya kita membayar harga $39,46 alias lebih mahal $4,46.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita lihat situasi di atas, <span style="text-decoration:underline;">pada saat ini</span> option tersebut <span style="text-decoration:underline;">sudah mempunyai <em>&#8216;manfaat&#8217;</em></span> sebesar $4,46. Nilai manfaat $4,46 inilah yang merupakan Nilai Intrinsik dari option tersebut <span style="text-decoration:underline;">pada saat ini</span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana dengan option Call yang kedua dalam contoh (<span style="color:#0000ff;"><strong>KO Aug 2009 <span style="color:#ff0000;">42,5</span> Call</strong></span>)?</p>
<p style="text-align:justify;">Option tersebut memberikan hak kepada kita untuk membeli saham KO dengan harga $42,5. Padahal saat ini, harga saham KO di pasar hanya $39,46. Kita bisa mengatakan bahwa <span style="text-decoration:underline;">saat ini</span> option tersebut belum mempunyai <em>&#8216;manfaat&#8217;</em> apa-apa, karena kita malahan bisa membeli saham tersebut dengan lebih murah tanpa menggunakan perlu menggunakan option. Nilai <em>&#8216;manfaat&#8217;</em> option KO Aug 2009 42,5 Call, pada saat ini adalah $0 (NOL). Ini artinya Nilai Intrinsik Option KO Aug 2009 42,5 Call , <span style="text-decoration:underline;">pada saat ini</span>, adalah $0 (NOL).</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai di sini, mungkin ada beberapa pembaca yang mulai bertanya-tanya: Mengapa Edison terus menerus menggaris bawahi kata &#8216;saat ini&#8217;? Jawabannya sederhana, karena option tersebut pada saat ini (alias pada saat artikel ini saya tulis) belum kadaluarsa . Bagaimana jika misalkan minggu depan,  harga saham KO naik menjadi $ 43?</p>
<p style="text-align:justify;">Jika ini terjadi, maka Option KO Aug 2009 35 Call akan mempunyai <em>&#8216;manfaat&#8217;</em> sebesar $8, dan nilai Intrinsiknya pun menjadi $8. Bagaimana dengan Option KO Aug 2009 42,5 Call? Option tersebut kini akan mempunyai <em>&#8216;manfaat&#8217;</em> sebesar $0,5, dan nilai Intrinsiknya yang tadinya 0 (NOL) kini berubah menjadi $0,5.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bagaimana dengan Nilai Waktu (Time Value)? Mari kita kembangkan contoh kasus di atas.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Harga Saham KO saat ini (8 Maret 2009)  adalah $39,46. Option KO Aug 2009 35 Call, saat ini dijual dengan harga $6, sedangkan option KO Aug 2009 42,5 Call pada saat ini dijual dengan harga $2,1. Berapakah Nilai Waktu untuk masing-masing option tersebut?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mari kita lihat kembali persamaan matematika yang saya berikan di atas;</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Harga = Nilai Intrinsic + Nilai Waktu</strong></span>; maka</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;"><strong>Nilai Waktu= Harga &#8211; Nilai Intrinsic</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Karena harga saham KO saat ini sebesar $39,46, maka kita tahu bahwa Nilai Intrinsik option KO Aug 2009 35 Call adalah sebesar $4,46. Mengingat harga option tersebut saat ini adalah $6,  memakai &#8216;rumus&#8217; di atas, kita bisa tahu bahwa Nilai Waktu option KO Aug 2009 35 Call tersebut adalah $1,54 (didapat dari $6-$4,46).</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana dengan option KO Aug 2009 42,5 Call? Karena harga saham KO saat ini hanya $39,46 maka kita tahu bahwa nilai intrinsik option KO Aug 2009 42,5 Call adalah $0 (NOL). Mengingat harga option tersebut saat ini adalah sebesar $2,1 maka Nilai Waktu option tersebut adalah sebesar $2,1 (didapat dari $2,1-$0).</p>
<p style="text-align:justify;">Jika Nilai Intrinsik dari option menggambarkan <em>&#8216;manfaat&#8217;</em> option tersebut &#8216;saat ini&#8217;, apa yang <em>&#8216;digambarkan&#8217;</em> oleh Nilai Waktu (Time Value)? Seperti kita lihat, kedua option tersebut masih belum kadaluarsa (baru akan kadaluarsa 5 bulan lagi), sehingga masih ada <em>&#8216;waktu&#8217;</em> dan <em>&#8216;harapan&#8217;</em> bahwa Nilai Intrinsik dari kedua option tersebut masih bisa naik (krn waktu kadaluarsanya masih relatif panjang). Semakin dekat dengan waktu kadaluarsanya (dalam contoh ini adalah Agustus 2009), Nilai Waktu kedua option tersebut akan semakin menurun. Nilai Waktu dari option akhirnya akan menjadi 0 (NOL) di saat option tersebut kadaluarsa, karena saat itu option tersebut telah tidak mempunyai <em>&#8216;waktu&#8217;</em> dan <em>&#8216;harapan&#8217;</em> lagi.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Kini, dengan menggunakan cara yang saya berikan di atas, cobalah untuk menjawab pertanyaan di bawah ini:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Harga saham Coca-Cola (KO) saat ini adalah $39,46. Harga option <span style="color:#0000ff;"><strong>KO Aug 2009 <span style="color:#ff0000;">35</span> PUT</strong></span> saat ini adalah $2,4 dan  harga Option <span style="color:#0000ff;"><strong>KO Aug 2009 <span style="color:#ff0000;">42,5</span> PUT</strong></span> saat ini adalah $6,2. Berapakah Nilai Intrinsik dan Nilai Waktu untuk masing-masing option tersebut?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>INGAT BAIK-BAIK:</strong> Dalam contoh ini, yang saya tanyakan adalah option PUT dan bukan CALL. Meskipun demikian, jika anda menggunakan &#8216;metode&#8217; yg saya perlihatkan di atas, anda akan bisa menjawab pertanyaan di atas dengan mudah.</p>
<p style="text-align:justify;">
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1241&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/03/10/berkenalan-dengan-options-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkenalan Dengan Corporate Warrant</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/03/03/berkenalan-dengan-corporate-warrant/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/03/03/berkenalan-dengan-corporate-warrant/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 06:15:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alinaprimasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1160</guid>
		<description><![CDATA[Article by Alina Edited by Edison Membaca artikel seri &#8216;Berkenalan dengan OPTION&#8217; yang sedang digarap oleh Edison, saya pikir ada baiknya jika saya mencoba untuk memperkenalkan Corporate Warrant atau yang di Indonesia lebih dikenal sebagai Waran. Kenapa  Corporate Warrant? Ini karena di pasar modal Indonesia, para pelaku pasar lebih mengenal Corporate Warrant. Berbeda dengan Option [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1160&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;">Article by</span> Alina</span></strong><br />
<strong><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;">Edited by</span> Edison</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Membaca artikel seri &#8216;Berkenalan dengan OPTION&#8217; yang sedang digarap oleh Edison, saya pikir ada baiknya jika saya mencoba untuk memperkenalkan <span style="color:#0000ff;"><strong>Corporate Warrant</strong></span> atau yang di Indonesia lebih dikenal sebagai <strong><span style="color:#0000ff;">Waran</span></strong>. Kenapa  Corporate Warrant? Ini karena di pasar modal Indonesia, para pelaku pasar lebih mengenal Corporate Warrant. Berbeda dengan Option yang tidak terdapat di salah satu instrumen pasar modal Indonesia, peredaran Corporate Warrant ini  cukup luas di bursa Indonesia. Setelah pembaca membaca artikel mengenai Option tentunya pembahasan mengenai Corporate Warrant ini akan lebih mudah dipahami.</p>
<p>Apa itu Warrant?<span id="more-1160"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Corporate Warrant adalah kontrak resmi yang memberikan Hak (tanpa adanya kewajiban) untuk membeli sebuah saham yang diterbitkan Emiten atau Perusahaan Publik pada harga tertentu (yang dikenal sbg <strong>Strike Price</strong>) dan dalam jangka waktu tertentu (expiration).</p>
<p style="text-align:justify;">Hmm&#8230;. mirip dengan Option yg sedang diceritakan oleh Edison ya? Benar sekali, instrumen ini mirip sekali dengan Option, Corporate Warrant bisa dibilang merupakan &#8216;<em>saudara</em>&#8221; dari Option. Oleh karena itu, saya tidak akan membahas lagi tentang apa itu strike price dan apa itu maturity, karena telah dibahas Edison di artikel <a href="http://janganserakah.com/2009/01/30/berkenalan-dengan-options-1/" target="_blank">&#8216;Berkenalan dengan Option&#8217;</a>.</p>
<p>Meskipun di atas saya mengatakan bahwa warran mirip sekali dengan option, tetapi tetapi ada perbedaan mendasar  antara waran dengan Option. Tiga perbedaan yang mendasar antara Corporate Warrant dengan Option adalah :</p>
<ul>
<li><strong>Underlying Asset yang digunakan.</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">Option biasa menggunakan berbagai macam jenis underlying asset seperti saham, obligasi, komoditas, indeks, future. Nah, untuk Corporate Warrant underlying asset yang digunakan hanyalah saham</p>
<ul>
<li><strong>Hak yang diberikan.</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;text-align:justify;">Option terbagi atas dua, Put Option dan Call Option. Option yang memiliki hak untuk menjual underlying asset dan Option yang memiliki hak untuk membeli underlying asset. Untuk Corporate Warrant hak yang bisa dimiliki adalah hak untuk membeli underlying asset dalam hal ini berupa saham.</p>
<ul>
<li><strong> Penerbit.</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">Option bisa diterbitkan oleh berbagai pihak sedangkan Corporate Warrant diterbitkan oleh Emiten atau Perusahaan Publik yang mengeluarkan saham.</p>
<ul>
<li><strong>Expiry Date (Tgl Kadaluarsa)</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left:30px;">Warrant biasanya berlaku untuk waktu yang lebih lama (sampai beberapa tahun), sedangkan kebanyakan option hanya berlaku untuk beberapa bulan.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Penerbitan Corporate Warrant dilakukan oleh Emiten pada saat IPO (<em>Intial Public Offering</em>)  atau dengan CA (<em>Corporate Action</em>). Waran kerapkali  digunakan sebagai &#8216;<em>pemanis</em>&#8216; saat berlangsungnya IPO untuk menjaring banyak investor. Waran sendiri dapat diperdagangkan di bursa layaknya saham.</p>
<p>Untuk memahami cara kerja Waran, saya coba sajikan ilustrasi mengenai Waran ini :</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;<em>Misalkan PT Jangan Serakah melakukan penerbitan saham perdana (IPO) dengan harga saham (PTJS) saat penawaran Rp 5,000 per lembar. Kepada para pembeli saham di IPO itu, PT Jangan Serakah memberikan Waran (PTJS-W) secara cuma-cuma/gratis dengan rasio 2:1, artinya setiap pembelian 2 lembar saham </em><em>PTJS, si pembeli  berhak memperoleh 1 waran PTJS-W dengan jangka waktu maturity 3 tahun. Strike-Price waran (biasanya di atas harga IPO) ditentukan pada harga Rp 5.500.</em><em></em>&#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam ilustrasi di atas,  pembeli saham PT Jangan Serakah yang membeli pada saat IPO, mendapatkan &#8216;<em>hadiah&#8217;</em> berupa waran. Waran ini nantinya bisa dijual, ataupun digunakan untuk membeli saham PTJS dengan harga Rp 5500 tanpa dipengaruhi harga saham tersebut di pasar (selama Waran tersebut masih berlaku, alias selama 3 tahun). Mengenai cara kerja atau penerapan waran di pasar, sama persis dengan option, jadi pembaca bisa  lihat di skenario Option di artikel &#8216;Berkenalan dengan Option&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1160&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/03/03/berkenalan-dengan-corporate-warrant/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4918104d04cc62fd10420c251de7842f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Duri-Duri Derita Derivatif: Pelajaran dari Kasus Perbankan Indonesia</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/02/21/duri-duri-derita-derivatif-pelajaran-dari-kasus-perbankan-indonesia/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/02/21/duri-duri-derita-derivatif-pelajaran-dari-kasus-perbankan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 01:50:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saya suka cerita Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Forex]]></category>
		<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1113</guid>
		<description><![CDATA[Baru-baru ini, saya menerima sebuah e-mail dari pembaca blog ini. Isi emai itu sendiri sangat singkat: Bung Edison, tolong dong diulas mengenai transaksi derivatif yang terjadi di bank akhir-akhir ini. Karena topik itu agak menarik, saya pikir tidak ada salahnya saya memenuhi request/permintaan tersebut. Apalagi mengingat sudah agak lama sejak saya terakhir kali menulis artikel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1113&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Baru-baru ini, saya menerima sebuah e-mail dari pembaca blog ini. Isi emai itu sendiri sangat singkat:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bung Edison, tolong dong diulas mengenai transaksi derivatif yang terjadi di bank akhir-akhir ini.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Karena topik itu agak menarik, saya pikir tidak ada salahnya saya memenuhi request/permintaan tersebut. Apalagi mengingat sudah agak lama sejak saya terakhir kali menulis artikel seri &#8216;Saya suka cerita ekonomi&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apa sih sebenarnya &#8216;<em>derivatif</em>&#8216;? Dan derivatif apa sih yang sedang dihebohkan akhir-akhir ini di Indonesia?<span id="more-1113"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama-tama mari kita lihat kata &#8216;<em>derivatif</em>&#8216;. Derivatif, secara harafiah, mempunyai arti &#8216;<em>turunan</em>&#8216;. Oleh karena itu, produk derivatif itu pada dasarnya berarti &#8216;<em>produk turunan</em>&#8216;. Sebagai ilustrasi sederhana, misalkan saja kita lihat kacang kedelai. Jika kacang kedelai kita anggap sebagai &#8216;<em>produk inti</em>&#8216;, maka tempe, tahu, susu kacang dan kecap bisa dikatakan sebagai produk turunan/derivatif dari kacang kedelai.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah teman-teman mempunyai gambaran kasar tentang apa itu produk derivatif, pertanyaan berikutnya yang mungkin ditanyakan adalah produk derivatif apa yang dihebohkan? Dalam kasus yang sedang ramai dibicarakan di Indonesia saat ini, produk derivatif yang sedang dihebohkan itu adalah sesuatu yang lazimnya dikenal sebagai <span style="color:#0000ff;"><strong>Forward Contract</strong></span>, atau yang lebih akrab dipanggil sebagai <strong><span style="color:#0000ff;">Forward</span></strong> (saja).</p>
<p style="text-align:justify;">Forward, secara umum didefinisikan sebagai kontrak yang mengikat antara 2 pihak untuk melakukan transaksi jual-beli suatu asset di masa depan. Definisi tersebut terlalu rumit? Sederhananya mari kita lihat ilustrasi sederhana saja:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Ilustrasi 1:</strong> Saya ingin menjual sepetak tanah milik saya dengan harga Rp 20 juta. Alina ingin membeli tanah tersebut dan ia mempunyai uang Rp 20 juta. Alina membayar Rp 20 juta ke saya, dan saya lalu menyerahkan surat tanah tersebut saat itu juga.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Ilustrasi 2:</strong> Saya ingin menjual sepetak tanah milik saya dengan harga Rp 20 juta. Alina ingin membeli tanah tersebut, <span style="text-decoration:underline;">TETAPI</span> sayangnya saat ini ia tidak mempunyai uang Rp 20 juta. Ia baru akan mempunyai uang sebesar itu di tahun depan. Akhirnya setelah bernegosiasi, kami berdua menandatangani kontrak untuk melakukan jual beli di tahun depan, tetapi dengan harga Rp 22 juta. <span style="text-decoration:underline;">Kontrak tersebut mengikat secara hukum dan transaksi tidak bisa dibatalkan secara sepihak saja, baik oleh saya ataupun oleh Alina (ingat baik-baik aspek ini, karena sangat penting)</span>.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Apakah anda bisa menebak, mana kira-kira dari 2 ilustrasi transaksi di atas yang merupakan transaksi Forward? Jika anda menjawab ilustrasi yang ke-2, maka berarti anda telah mempunyai gambaran seperti apa kira-kira transaksi forward itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PS:</strong> <em>Sebagian dari teman-teman yang cermat mungkin lalu bertanya, kenapa dalam ilustrasi ke-2, harga transaksinya menjadi Rp 22 juta? Jawabannya adalah karena saya (dalam ilustrasi tersebut) tidak &#8216;bodoh&#8217;. Jika seandainya transaksi jual-beli tanah tersebut dilakukan saat ini, maka saya bisa mendapatkan Rp 20 juta. Jika uang tersebut saya masukkan ke deposito (asumsi bunga bersih 10%), maka di tahun depan uang tersebut sudah akan menjadi Rp 22 juta. Jika transaksi jual beli tersebut dilakukan secara Forward, dan harganya tetap Rp 20 juta, maka tentunya saya &#8216;rugi&#8217; bunga selama setahun.</em></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, jika dalam ilustrasi di atas yang menjadi produk &#8216;<em>inti</em>&#8216; adalah sepetak tanah, apa produk &#8216;<em>inti</em>&#8216; dari kontrak Forward yang menjadi kasus saat ini? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah Dollar. Bagaimana jalan ceritanya? Untuk mengerti cerita ini, mari kita lihat sebuah ilustrasi sederhana tentang bisnis seorang Eksportir sepatu.</p>
<p style="text-align:justify;">Misalkan saja saya adalah seorang eksportir sepatu. Saya menerima pesanan ekspor sepatu senilai $10.000,-. Anggap saja kurs saat ini adalah 1$=Rp 10 Ribu.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk memproduksi sepatu pesanan tersebut, saya perlu mengeluarkan berbagai biaya (biaya bahan baku, upah buruh, dll). Berbagai biaya tersebut tentunya saya bayar dalam Rupiah. Anggaplah saja total seluruh biaya yang saya bayarkan itu adalah Rp 90 juta. Dengan sedikit berhitung, kita bisa melihat bahwa keuntungan saya adalah sebesar Rp 10 juta, yaitu dari ($10.000 x Rp 10 ribu)-Rp 90 juta.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya, dalam prakteknya kenyataannya tidak sederhana itu. Dalam melakukan ekspor, umumnya si pembeli baru akan membayar setelah menerima produk tersebut. Ini akan memakan waktu yang lumayan lama (bisa mencapai beberapa bulan). Anggaplah saja dalam ilustrasi ini, uang $10.000 tersebut baru bisa saya terima 3 bulan lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana seandainya jika dalam masa 3 bulan itu nilai dollar naik drastis menjadi Rp 12.o00/dollar? Tentunya saya akan senang sekali karena keuntungan yang saya dapatkan membengkak dari Rp 10 juta menjadi Rp 30 juta.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi bagaimana jika seandainya nilai dollar turun menjadi 1$=Rp 8.000? Jika ini terjadi, maka alih-alih untung, saya malah akan menderita kerugian, karena nilai uang yang saya terima tinggal menjadi Rp 80 juta (bahkan tidak cukup untuk menutup biaya yang saya keluarkan).</p>
<p style="text-align:justify;">Pelaku bisnis yang <span style="text-decoration:underline;"><em>sehat</em></span> BIASANYA tidak terlalu ingin menanggung resiko seperti di atas. Keuntungan yang mereka harapkan adalah berasal dari operasi bisnis mereka, dan tidak terlalu mengharapkan &#8216;<em>durian runtuh</em>&#8216; dari pergerakan kurs tukar.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa solusinya? Saya pun melakukan proteksi dengan melakukan transaksi Forward. Saya dan bank D mengikat kontrak forward, dimana saya berjanji bahwa 3 bulan kemudian, saya akan menjual $10.000 dollar kepada bank tersebut. Dalam ilustrasi ini, anggap saja bank D tersebut berpendapat bahwa 3 bulan lagi nilai dollar akan naik banyak. Akibatnya mereka berani membeli dari saya dengan harga lebih tinggi dari sekarang. Misalnya saja dengan kurs  1$=Rp 11.000.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana jika 3 bulan kemudian nilai dollar menjadi 1$=Rp 12.000? Saya tetap terpaksa menjual dengan harga Rp 11.000 karena sudah terikat kontrak. Meskipun sepintas, terlihat bahwa saya seperti rugi, tetapi secara operasional saya tetap menikmati keuntungan karena biaya yang saya keluarkan hanya Rp 90 juta, dan uang yang saya dapatkan adalah Rp 110 juta. Saya tetap menikmati keuntungan kenaikan kurs, hanya saja  keuntungan kursnya tidak sebesar seandainya saya tidak terikat kontrak Forward tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebaliknya, jika ternyata tanpa diduga, nilai dollar turun ke 1$=Rp 8500, saya tetap terlindungi karena bank akan tetap harus membeli dari saya dengan harga 1$=Rp 11.000.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Ilustrasi di atas merupakan contoh dari transaksi Forward yang digunakan secara &#8216;<em>sehat</em>&#8216; untuk menjaga kelancaran operasional. Praktek seperti di atas lazimnya dikenal sebagai &#8216;<strong><span style="color:#0000ff;">Hedging&#8217;</span></strong> dan biasanya tidak menimbulkan masalah. Permasalahannya justru timbul ketika Forward dilakukan untuk spekulasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Melanjutkan ilustrasi di atas, anggaplah saja Mister Gekko adalah seorang spekulan sejati. Ia tidak mempunyai pendapatan dalam dollar seperti saya. Tetapi ia mempunyai &#8216;firasat&#8217; bahwa 3 bulan lagi, meskipun dollar bisa mengalami kenaikan, kenaikannya maksimal mencapai kurs 1$=Rp 10.500,-.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apa yang dilakukan oleh Mister Gekko? Ia pun mengambil kontrak forward tersebut sebanyak-banyaknya. Harapannya adalah, dalam 3 bulan lagi, ia akan bisa membeli dollar dengan harga Rp 10.500 di pasar, padahal saat itu bank akan harus membeli darinya dengan harga Rp 11.000,-. Seandainya spekulasinya tepat, ia akan bisa menikmati keuntungan Rp 500 per dollarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi bagaimana jika ternyata 3 bulan kemudian &#8216;<em>ramalan</em>&#8216; Mister Gekko salah total dan dollar menggila ke kurs 1$=Rp 15.000? Pada saat itu (karena ia tidak mempunyai pendapatan dalam dollar), ia pun terpaksa membeli dollar di pasar dengan harga Rp 15.000/dollar dan menjual rugi kepada bank dengan harga Rp 11.000/dollar, alias rugi Rp 4000/dollar.</p>
<p style="text-align:justify;">Ilustrasi kasus Mister Gekko di atas, bisa dikatakan tidak berbeda jauh dengan kisah nasabah-nasabah yang terjerat kasus derivatif akhir-akhir ini. Seperti yg bisa dibaca di <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/30/14225758/tersandung.produk.derivatif.perbankan.nasabah.siapkan.gugatan" target="_blank">artikel harian Kompas</a> ini, seorang nasabah mengikat kontrak untuk menjual dollar kepada bank dengan harga 1$=Rp 9.650. Ketika itu dollar masih berkisar di 1$=Rp 9.100,-. Ia optimis bahwa jikalau naikpun, maksimal dollar hanya akan mencapai 1$=9.575,- (alias ia masih bisa untung Rp 75).</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi apa daya, seperti kita tahu, rupiah kini melemah drastis. Akibatnya untuk memenuhi kontrak Forward tersebut, sang nasabah harus membeli dollar di pasar dengan harga 1$=Rp12.000++ dan menjualnya ke bank dengan harga Rp 9.650,- alias rugi lebih dari Rp 2.000/dollarnya. Sakit kepala kan?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Masih seputar kasus Forward ini, dikabarkan bahwa meskipun kontrak Forward yang &#8216;<em>jebol</em>&#8216; kebanyakan bersifat spekulasi, ada beberapa kontrak Forward yang sebenarnya untuk &#8216;proteksi&#8217; pun jebol. Ini karena tidak sedikit pembeli luar negeri yang membatalkan pesanan dari negara kita (karena kondisi ekonomi negaranya pun lesu). Akibatnya beberapa eksportir tidak mendapatkan dollar seperti yang diperhitungkan. Mereka pun akhirnya kekurangan dollar untuk memenuhi kontrak Forwardnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kasus derivatif ini sendiri kemudian ikut &#8216;<em>melilit</em>&#8216; bank-bank yang memasarkan produk derivatif Forward tersebut. Mengapa demikian? Karena bank lokal pun melakukan kontrak forward dengan bank asing. Dollar yang  mereka beli dari nasabah melalui kontrak forward, langsung &#8216;<em>dioper</em>&#8216; lagi dengan kontrak forward kepada bank asing. Ketika nasabah gagal memenuhi kontrak Forwardnya, bank lokal pun &#8216;<em>kalang-kabut</em>&#8216; karena tetap harus memenuhi kontrak forward dollar mereka ke bank asing.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1113&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/02/21/duri-duri-derita-derivatif-pelajaran-dari-kasus-perbankan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkenalan dengan Options (3)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/02/06/berkenalan-dengan-options-3/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/02/06/berkenalan-dengan-options-3/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Feb 2009 01:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>
		<category><![CDATA[Option]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=925</guid>
		<description><![CDATA[(sambungan dari part 2) Di akhir part 2 artikel seri ini, saya sempat memberikan &#8216;PR&#8217; kepada teman-teman pembaca seputar  option. Dalam artikel kali ini, kita akan melihat &#8216;jawaban&#8216; dari PR tersebut. Harga saham Pepsi Cola (kode : PEP) saat ini adalah $50. Harga option PEP Jul 2009 55 PUT adalah $7,5. Jika kita membeli 1 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=925&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://janganserakah.com/2009/02/02/berkenalan-dengan-options-2/" target="_self">(sambungan dari part 2)<br />
</a></p>
<p>Di akhir part 2 artikel seri ini, saya sempat memberikan &#8216;PR&#8217; kepada teman-teman pembaca seputar  option. Dalam artikel kali ini, kita akan melihat &#8216;<em>jawaban</em>&#8216; dari PR tersebut.<span id="more-925"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Harga saham Pepsi Cola (kode : PEP) saat ini adalah $50. Harga option <strong><span style="color:#ff0000;">PEP Jul 2009 55 <span style="text-decoration:underline;">PUT</span></span></strong> adalah $7,5. Jika kita membeli 1 kontrak option PUT tersebut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Berapa uang yang kita butuhkan?</li>
<li>Jika kita telah membeli 1 kontrak option PUT tersebut, bagaimana jika harga saham Pepsi Cola di bulan July 2009 naik menjadi $80/lembar.</li>
<li>Bagaimana jika harga saham Pepsi Cola di bulan July 2009 turun menjadi $42,5/lembar.</li>
<li>Bagaimana jika di bulan July 2009, tersebar berita bahwa Pepsi Cola terancam kebangkrutan dan harga sahamnya turun menjadi $1/lembar?</li>
<li>Berapa titik Break-Even Point transaksi ini?</li>
</ol>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Hal pertama yang perlu kita ingat untuk menjawab pertanyaan ini adalah tipe dari option tersebut, yaitu PUT. Seperti yang telah kita ketahui, option tipe ini memberikan kita hak untuk MENJUAL suatu saham di harga tertentu. Dalam kasus ini, Option <span style="color:#ff0000;"><strong>PEP Jul 2009 55 PUT</strong></span> memberikan kita hak untuk menjual saham pepsi-cola dengan harga $55/lembar kepada si penjual option tersebut, dimana hak ini hanya berlaku hingga July 2009.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal kedua yang perlu diperhatikan dalam kasus ini adalah bahwa kita hanya membeli options saja dan tidak membeli saham PEP.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang mari kita lihat satu-persatu jawaban dari pertanyaan di atas.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Q: Berapa uang yang kita butuhkan untuk membeli 1 kontrak option PEP Jul 2009 55 PUT?</strong><br />
<strong>A: </strong>Harga 1 kontrak option tersebut adalah sebesar $$750, yaitu dari $7,5&#215;100 (karena 1 kontrak option mencakup hak utk transaksi 100 lembar saham). Ingat, dalam hal ini kita hanya membeli option saja.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Q: Jika kita telah membeli 1 kontrak option PUT tersebut, bagaimana jika harga saham Pepsi Cola di bulan July 2009 naik menjadi $80/lembar?</strong><br />
<strong>A:</strong> Jika seandainya harga selembar saham PEP di pasar adalah $80/lembar, maka tentunya tidak akan ada orang &#8216;waras&#8217; yang mau menjualnya dengan harga $55 (dengan menggunakan option tersebut), karena akan lebih menguntungkan utk dijual di pasar saja. Option yang kita beli pun menjadi tidak ada nilainya. Spekulasi kita gagal, dan kita rugi $750 (sebesar harga beli option tersebut)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Q: Bagaimana jika harga saham Pepsi Cola di bulan July 2009 turun menjadi $42,5/lembar?</strong><br />
<strong>A:</strong> Bayangkanlah jika anda adalah seorang pemilik pom bensin. Harga Solar di SPBU adalah Rp 4500 per liter. Tetapi bagaimana seandainya jika anda diberikan sebuah surat yang memberikan anda hak untuk menjual Solar anda dengan harga Rp 5500 per liter? (dgn asumsi orang tetap harus membeli dari anda, dan tidak bisa pindah ke SPBU lain). Tentunya surat tersebut akan mempunyai nilai/harga yang tidak sedikit.</p>
<p style="text-align:justify;">Kasus ini tiada bedanya dengan pertanyaan di atas. Ketika harga saham Pepsi Cola turun menjadi $42,5/lembar, anda memiliki hak untuk menjual 100 lembar saham PEP dengan harga $55/lembar (dan penjual option tersebut harus membelinya dari anda). Berapa keuntungan kita? Kita bisa membeli 100 lembar saham di pasar dengan harga $4.250 dan lalu menjualnya (menggunakan option itu) dengan harga $5.500. Dengan demikian, kita mendapatkan keuntungan kotor sebesar $1.250.</p>
<p style="text-align:justify;">Keuntungan bersih kita, dalam hal ini adalah $500, yaitu dari $1.250 dikurangi dengan modal awal kita $750.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Q: Bagaimana jika di bulan July 2009, tersebar berita bahwa Pepsi Cola terancam kebangkrutan dan harga sahamnya turun menjadi $1/lembar?<br />
</strong><strong>A:</strong> Sekali lagi, option yang kita miliki memberikan kita hak untuk menjual saham Pepsi-Cola seharga $55/lembar. Padahal kita bisa mendapatkan saham tersebut di pasar dengan harga $1/lembar. Kita bisa membeli 100 lembar saham Pepsicola dengan harga $100 ($1&#215;100) dan lalu menjualnya dengan harga $5.500 ($55&#215;100). Keuntungan kotor kita dalam hal ini adalah sebesar $5.400 ($5500-$100). Keuntungan bersih kita dalam hal ini adalah $4.650,- (dari $5.400-$750)</p>
<p><strong>Q: Berapa titik Break-Even Point transaksi ini?</strong><br />
<strong>A: </strong>Titik BEP transaksi ini akan dicapai ketika keuntungan option = harga pembelian option kita. Ini akan terjadi pada harga $47,5. Pada harga tersebut, keuntungan yang kita dapat dari menjual saham menggunakan option adalah sebesar $7,5/lembar ($55-$47,5). Keuntungan tersebut sama dengan harga pembelian option kita, sehingga kita tidak mendapatkan untung ataupun rugi.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu kesalahpahaman yang kadang terjadi ketika seseorang baru mulai belajar option adalah mengira option dan saham dijual sebagai 1 kesatuan (alias &#8216;<em>kalau beli option, perlu beli sahamnya juga</em>&#8216;).</p>
<p style="text-align:justify;">Yang benar adalah bahwa  option dijual secara terpisah dari saham. Seperti kita lihat dalam contoh yang telah saya pakai selama ini, kita bisa membeli hanya option saja, tanpa perlu membeli sahamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di akhir artikel ini, kembali saya ingin memberikan &#8216;PR&#8217; kepada para pembaca. Sekali lagi, cobalah untuk menjawab pertanyaan ini tanpa melihat jawaban pembaca lain karena akan lebih bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman anda tentang options:</p>
<blockquote>
<ol>
<li>Jika seseorang berspekulasi bahwa harga saham suatu perusahaan akan naik (bullish), Options apakah yang akan ia beli? PUT? atau CALL?</li>
<li>Dan sebaliknya, jika seseorang berspekulasi bahwa harga saham suatu perusahaan akan turun (bearish), Options apakah yang akan ia beli? PUT? atau CALL?</li>
<li>Apakah mungkin seseorang yang Bullish &#8216;<span style="text-decoration:underline;"><em>bermain</em></span>&#8216; PUT option?</li>
<li>Apakah mungkin seseorang yang Bearish &#8216;<span style="text-decoration:underline;"><em>bermain</em></span>&#8216; CALL option?</li>
</ol>
</blockquote>
<p>Selamat mencoba <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/925/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/925/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/925/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/925/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/925/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/925/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/925/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/925/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/925/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/925/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=925&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/02/06/berkenalan-dengan-options-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkenalan dengan Options (2)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/02/02/berkenalan-dengan-options-2/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/02/02/berkenalan-dengan-options-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 08:23:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>
		<category><![CDATA[Option]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=919</guid>
		<description><![CDATA[(sambungan dari part 1) Dalam artikel bagian 1, kita telah melihat sebuah ilustrasi sederhana tentang Options, sehingga saya harapkan bahwa teman-teman pembaca blog ini minimal telah mempunyai sedikit gambaran seperti apa sebenarnya instrumen Options itu. Kini, kita akan melihat lebih detail tentang options dan mekanismenya. &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Options saham seperti saya tulis di part 1, terdiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=919&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="part 1" href="http://janganserakah.com/2009/01/30/berkenalan-dengan-options-1/" target="_self">(sambungan dari part 1)</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam artikel bagian 1, kita telah melihat sebuah ilustrasi sederhana tentang Options, sehingga saya harapkan bahwa teman-teman pembaca blog ini minimal telah mempunyai sedikit gambaran seperti apa sebenarnya instrumen Options itu. Kini, kita akan melihat lebih detail tentang options dan mekanismenya.<span id="more-919"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Options saham seperti saya tulis di part 1, terdiri dari 2 macam, yaitu:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;"><strong>CALL options.</strong></span> Seseorang yang membeli CALL Options memiliki hak untuk <strong>MEMBELI</strong> saham suatu perusahaan dengan harga tertentu (strike price) selama jangka waktu tertentu <span style="text-decoration:underline;">dari</span> orang yang menjual options tersebut</li>
<li><span style="color:#0000ff;"><strong>PUT options.</strong></span> Seseorang yang membeli PUT Options, memiliki hak untuk <strong>MENJUAL</strong> saham suatu perusahaan dengan harga tertentu (strike price) selama jangka waktu tertentu <span style="text-decoration:underline;">kepada</span> orang yang menjual options tersebut.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Options umumnya ditulis dalam format :</p>
<p style="text-align:center;"><strong><span style="color:#0000ff;">[nama saham] [waktu kadaluarsa/expiry] [strike price] [tipe options]</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#0000ff;"><strong>KO Aug 2009 40 CALL</strong></span>, adalah Option utk saham <strong>Coca Cola</strong> (kode: KO). Jika kita membeli 1 kontrak option tersebut, maka kita memiliki hak untuk <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;">MEMBELI</span></span> 100 lembar saham Coca-Cola dengan harga (strike price) $40/lembar saham <span style="text-decoration:underline;">dari</span> orang yang menjual option tersebut. Hak ini hanya berlaku hingga bulan Agustus (Aug) 2009.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><span style="color:#ff0000;"><strong>PEP Jul 2009 55 PUT</strong></span>, adalah Option untuk saham <strong>Pepsi Cola</strong> (kode: PEP). Jika kita membeli 1 kontrak option tersebut, maka kita memiliki hak untuk <span style="color:#ff0000;"><span style="text-decoration:underline;">MENJUAL</span></span> 100 lembar saham Pepsi-Cola dengan harga (strike price) $55/lembar saham <span style="text-decoration:underline;">kepada</span> orang yang menjual option tersebut. Hak ini hanya berlaku hingga bulan July (Jul) 2009.</li>
</ul>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas lagi tentang cara kerja option, mungkin akan lebih baik jika kita menggunakan contoh nyata. Oleh karena itu, mari kita lihat contoh pertama di atas, yaitu <span style="color:#0000ff;"><strong>KO Aug 2009 40 CALL</strong></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Harga <span style="text-decoration:underline;">saham</span> Coca-Cola (KO), pada saat ini adalah $42,72/lembar, sedangkan harga <span style="text-decoration:underline;">option</span> <span style="color:#0000ff;"><strong>KO Aug 2009 40 CALL</strong></span>, pada saat ini adalah $5,6.  Untuk membeli 1 kontrak option tersebut, kita harus mengeluarkan uang sebanyak $5,6&#215;100=$560 (<em>mengapa 100? Karena 1 kontrak option mencakup 100 lembar saham</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan $560 yang kita bayarkan tersebut, maka sampai dengan bulan Agustus 2009, kita memiliki hak untuk membeli 100 lembar saham Coca-Cola dengan harga $40/lembar, tidak perduli berapapun harganya saat itu dipasar :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Skenario 1: Di bulan Agustus 2009, harga saham Coca-Cola naik menjadi $55/lembar</strong>, kita akan tetap berhak membeli 100 lembar saham Coca-Cola dengan harga $40/lembar atau total $4.000 (utk 100 lembar). Setelah itu, saham Coca-Cola tersebut kita jual ke pasar dengan harga $55/lembar atau total $5.500 (utk 100 lembar). Dengan demikian kita mendapatkan keuntungan kotor sebesar $1.500 (dari $5.500-$4.000). Modal yang kita keluarkan adalah $560, sehingga keuntungan kita adalah sebesar $940 (dari $1.500-$560).</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Skenario 2: Di bulan Agustus 2009, harga saham Coca-Cola naik menjadi $45,6/lembar</strong>, kita akan tetap berhak membeli 100 lembar saham Coca-Cola dengan harga $40/lembar atau total $4.000 (utk 100 lembar). Setelah itu, saham Coca-Cola tersebut kita jual ke pasar dengan harga $45,6/lembar atau total $4.560 (utk 100 lembar). Dengan demikian kita mendapatkan keuntungan kotor sebesar $560 (dari $4.560-$4.000). Modal yang kita keluarkan adalah $560, sehingga keuntungan kita adalah sebesar $0 alias Break-Even (tidak untung/tidak rugi). Angka $45,6/lembar saham ini lazimnya dikenal sebagai break-even point.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Skenario 3:</strong> <strong>Di bulan Agustus 2009, bukannya naik, harga saham Coca-Cola di pasar turun menjadi $40/lembar</strong>. Apa yang akan terjadi? Options yang kita miliki bisa dikatakan tidak ada &#8216;guna/nilainya&#8217;. Ini karena setiap orang bisa membeli saham tersebut dengan harga $40/lembar di pasar tanpa perlu memiliki Option tersebut. Option kita kadaluarsa tanpa bernilai apapun, dan uang $560 yang kita keluarkan untuk membeli option tersebut pun hilang. Kerugian kita dalam hal ini adalah $560.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Skenario 4:</strong> <strong>Di bulan Agustus 2009, Perusahaan Coca-Cola bangkrut dan harga sahamnya menjadi $0.</strong> Sama dengan skenario 3, options kita akan kadaluarsa tanpa bernilai apapun. Berapa besar kerugian kita? Ingat, karena Option hanya memberikan kita HAK untuk membeli suatu saham. Kita TIDAK WAJIB membeli saham perusahaan tersebut. Tidak ada orang &#8216;waras&#8217; yang mau membeli saham Coca-Cola dengan harga $40/lembar untuk kemudian dijual dengan harga $0 (sehingga rugi $4000). Kerugian kita dalam hal ini adalah tetap sebesar $560, yaitu uang yang kita keluarkan untuk membeli options di atas.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Beberapa hal yang bisa kita lihat dalam ilustrasi di atas:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li> Agar pembeli CALL options bisa mendapatkan keuntungan, bahwa harga saham perusahaan itu  harus naik dalam jumlah tertentu. Dalam hal ini, harga saham Coca-Cola harus naik menjadi $45,6/lembar  (dari harga sekarang yang sebesar $42,72/lembar) agar pembeli options itu bisa &#8216;<em>balik modal</em>&#8216;. Jika harga saham naik, tetapi tidak mencapai $45,6, maka pembeli CALL options tersebut akan rugi.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Kerugian <span style="text-decoration:underline;">maksimum</span> seorang pembeli options adalah sebesar harga pembelian optionnya (dalam contoh ini $560).</li>
</ul>
<p><strong>PS:</strong> <em>Dalam artikel seri ini, untuk menyederhanakan contoh, saya sengaja tidak menghitung biaya transaksi broker dll. Pada kenyataannya, biaya transaksi akan mempengaruhi hasil yang diterima oleh pembeli options.</em></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Di atas, saya telah memberikan contoh nyata cara kerja CALL Options. Sebagai bahan latihan untuk para pembaca, cobalah untuk menjawab pertanyaan di bawah ini:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Harga saham Pepsi Cola (kode : PEP) saat ini adalah $50. Harga option <strong><span style="color:#ff0000;">PEP Jul 2009 55 <span style="text-decoration:underline;">PUT</span></span></strong> adalah $7,5. Jika kita membeli 1 kontrak option PUT tersebut:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Berapa uang yang kita butuhkan?</li>
<li>Jika kita telah membeli 1 kontrak option PUT tersebut, bagaimana jika harga saham Pepsi Cola di bulan July 2009 naik menjadi $80/lembar.</li>
<li>Bagaimana jika harga saham Pepsi Cola di bulan July 2009 turun menjadi $42,5/lembar.</li>
<li>Bagaimana jika di bulan July 2009, tersebar berita bahwa Pepsi Cola terancam kebangkrutan dan harga sahamnya turun menjadi $1/lembar?</li>
<li>Berapa titik Break-Even Point transaksi ini?</li>
</ol>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Petunjuk:</strong> Ingat baik-baik bahwa ini adalah options PUT dan bukan options CALL.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Teman-teman pembaca bisa menuliskan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas di bagian Komentar artikel ini. <span style="color:#0000ff;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Usahakan untuk menjawab pertanyaan di atas tanpa melihat jawaban dari pembaca yang lain</strong></span></span>. Jawaban pertanyaan tersebut akan saya berikan di part 3. Meskipun demikian, bagi teman-teman yang tertarik untuk mengenal dunia options, akan jauh lebih bermanfaat jika mencoba untuk menjawab sendiri pertanyaan di atas sebelum mencocokkan jawabannya dengan jawaban yang saya berikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat mencoba..</p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/919/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/919/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/919/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=919&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/02/02/berkenalan-dengan-options-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkenalan dengan Options (1)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/01/30/berkenalan-dengan-options-1/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/01/30/berkenalan-dengan-options-1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 08:37:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>
		<category><![CDATA[Option]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=913</guid>
		<description><![CDATA[article by Edison &#38; Alina edited by Edison Sebenarnya rencana awal saya tadinya adalah menuliskan artikel seri Options sesudah artikel seri &#8216;Laporan Keuangan&#8217; selesai. Tetapi terkadang timbul juga &#8216;rasa suntuk&#8217; berbicara tentang topik tertentu, sehingga akhirnya saya putuskan untuk mengeluarkan artikel seri Options ini lebih awal. &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Bagi sebagian pembaca blog ini, mungkin kata &#8216;Options&#8217;  [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=913&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>article by <span style="color:#0000ff;">Edison &amp; Alina</span><br />
edited by <span style="color:#0000ff;">Edison</span></em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya rencana awal saya tadinya adalah menuliskan artikel seri Options sesudah artikel seri &#8216;Laporan Keuangan&#8217; selesai. Tetapi terkadang timbul juga &#8216;rasa suntuk&#8217; berbicara tentang topik tertentu, sehingga akhirnya saya putuskan untuk mengeluarkan artikel seri Options ini lebih awal.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi sebagian pembaca blog ini, mungkin kata &#8216;Options&#8217;  sudah tidak asing lagi. Iklan-iklan yang menawarkan seminar/workshop option bisa dengan mudah ditemukan di berbagai media (walaupun sekarang tidak &#8216;seramai&#8217; dulu lagi). Sebagai contoh, koran Kompas 2 hari lalu masih memuat iklan workshop option seharga Rp 5,5 juta dengan &#8216;<em>garansi</em>&#8216; bahwa &#8216;<em>jika posisi trading rugi, sekalipun rugi sedikit, maka biaya seminar dikembalikan</em>&#8216; (meskipun ada embel-embel <em>&#8216;syarat &amp; ketentuan berlaku</em>&#8216;). Iklan-iklan lainnya yang kerap saya lihat mengiming-imingkan keuntungan ratusan hingga ribuan persen. Dengan begitu gencarnya angin surga yang ditawarkan, tidak mengherankan banyak orang yang tergiur janji &#8216;<em>surga option</em>&#8216; dan rela merogoh koceknya untuk mendapatkan &#8216;<em>jurus ampuh</em>&#8216; bermain option.<span id="more-913"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Percaya atau tidak, sebelum saya bertemu dengan buku &#8216;The Inteligent Investor&#8217;, saya termasuk salah satu di antara orang-orang tersebut.<em> </em>Jika melihat kembali ke masa itu, saya terkadang bisa menggeleng-gelengkan kepala karena apa yang dipelajari dalam workshop Option yang saya ikuti dahulu begitu bertolak-belakang dengan ajaran Ben Graham yang saya pegang kini. Oleh sebab itu, dalam artikel seri ini nantinya saya juga akan mencoba meluruskan berbagai klaim &#8216;<em>menyesatkan</em>&#8216; yang kerap ditemui dalam dunia Option. Tetapi tentunya pertama-tama kita harus &#8216;<em>berkenalan</em>&#8216; dengan apa itu Options.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apakah Options itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bahasa &#8216;<em>resmi</em>&#8216;, Options adalah kontrak resmi yang memberikan Hak (tanpa adanya kewajiban) untuk membeli atau menjual sebuah asset pada harga tertentu (yang dikenal sbg Strike Price) dan dalam jangka waktu tertentu (expiration/maturity).</p>
<p style="text-align:justify;">Options yang memberikan hak untuk &#8216;membeli&#8217; sesuatu, dikenal sebagai CALL OPTIONS, sedangkan Options yang memberikan hak untuk &#8216;menjual&#8217; sesuatu, dikenal sebagai PUT OPTIONS.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin bagi sebagian pembaca blog ini, definisi di atas terlalu &#8216;<em>rumit</em>&#8216;, &#8216;<em>panjang</em>&#8216; ataupun &#8216;<em>bikin sakit kepala</em>&#8216;. Oleh karena itu, untuk mudahnya, bagi teman-teman tersebut akan saya sederhanakan saja dengan definisi yang akan bisa dipahami oleh hampir semua orang:  Options adalah Uang Muka/Panjar/DP(DownPayment)/dll. Meskipun secara mendasar ada perbedaan antara option dan Uang Muka, tetapi banyak kesamaan di antara keduanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat perbandingan 2 ilustrasi:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Tom ingin menjual sepetak tanah miliknya. Kebetulan Alina tertarik untuk membeli tanah tersebut. Harga tanah tersebut oleh Tom ditentukan sebesar Rp 100 juta, sayangnya Alina pada saat itu hanya mempunyai Rp 5 juta. Setelah negosiasi, Tom akhirnya bersedia menerima Rp 5 juta itu sebagai Uang Muka. Tetapi karena banyak orang lain yang juga tertarik untuk membeli rumah tersebut, Tom memberikan batas waktu kepada Alina selama 3 bulan untuk menyelesaikan transaksi jual-beli tersebut. Jika batas 3 bulan tersebut lewat dan Alina belum sanggup melunasi transaksi tersebut, maka uang muka yang telah dibayarkan dianggap hangus.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Tom ingin menjual sepetak tanah miliknya. Kebetulan Alina tertarik untuk membeli tanah tersebut. Harga tanah tersebut oleh Tom ditentukan sebesar Rp 100 juta, sayangnya Alina pada saat itu hanya mempunyai Rp 5 juta. Setelah negosiasi, akhirnya Tom memutuskan untuk menjual CALL Options atas  tanah tersebut seharga Rp 5 juta kepada Alina, dengan ketentuan Harga Transaksi (Strike Price) sebesar Rp 100 juta, dan options tersebut akan kadaluarsa (expire) dalam waktu 3 bulan,</li>
</ul>
<p>Jadi apa persamaannya?</p>
<p style="text-align:justify;">Di kedua ilustrasi itu, Alina mendapatkan hak untuk membeli tanah tersebut dari Tom seharga Rp 100 juta. Dalam hal ini, Alina tidak wajib untuk membeli tanah tersebut. Misalkan saja tiba-tiba setelah 1 bulan, muncul informasi bahwa ternyata di sebelah tanah tersebut akan dijadikan tempat penampungan sampah sehingga harga tanah tersebut turun menjadi hanya Rp 50 juta. Tentunya Alina tidak akan mau lagi membeli tanah tersebut seharga Rp 100 juta. Ia akan lebih merelakan uang mukanya hangus (dalam contoh pertama) atau optionsnya kadaluarsa (dalam contoh kedua).</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi bagaimana seandainya ternyata di tanah tersebut ditemukan tambang emas kecil, sehingga kini harga tanah tersebut ditaksir bernilai Rp 500 juta? Dalam kasus ini, Alina tetap berhak untuk membeli tanah tersebut seharga Rp 100 juta karena telah membayar uang muka (dalam contoh pertama) ataupun karena memiliki hak opsi/options (dalam contoh kedua).</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa perbedaan antara kedua ilustrasi uang muka dan Options di atas? Dalam contoh pertama (uang muka), jika Alina ingin membeli tanah tersebut, ia tinggal membayar Rp 95 juta, karena telah membayar uang muka sebesar Rp 5 juta. Tetapi dalam kasus kedua (options), Alina tetap harus membayar Rp 100 juta, karena Rp 5 juta yang telah ia bayarkan hanyalah untuk membeli options (hak opsi) saja, dan tidak termasuk ke dalam harga pembelian.</p>
<p style="text-align:justify;">Ilustrasi di atas merupakan gambaran kasar bagaimana cara kerja options. Options sendiri bisa ditemukan dalam berbagai macam &#8216;produk&#8217;, baik misalnya properti, komoditas, hingga saham. Meskipun demikian prinsip kerjanya tetap sama. Untuk artikel ini sendiri, kita hanya akan memfokuskan pembahasannya kepada Stock Options (opsi saham).</p>
<p><a href="http://janganserakah.com/2009/02/02/berkenalan-dengan-options-2/">(bersambung ke part 2)</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/913/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/913/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/913/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=913&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/01/30/berkenalan-dengan-options-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Margin Trading: Bermain dengan OPM (Other People’s Money) Part 2</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/12/05/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-people%e2%80%99s-money-part-2/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/12/05/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-people%e2%80%99s-money-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 00:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=753</guid>
		<description><![CDATA[Terkadang karena terlalu banyak hal yang menarik untuk dibahas, saya lupa membuat lanjutan dari suatu artikel. Artikel part 2 ini merupakan salah satu dari artikel yang &#8216;terlupakan&#8217; ini. Terimakasih kepada ghie yang telah mengingatkan saya tentang artikel ini. Karena artikel awalnya sudah lama, utk &#8216;menyegarkan&#8216; ingatan pembaca, saya buatkan link part 1 artikel ini. &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=753&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Terkadang karena terlalu banyak hal yang menarik untuk dibahas, saya lupa membuat lanjutan dari suatu artikel. Artikel part 2 ini merupakan salah satu dari artikel yang &#8216;terlupakan&#8217; ini. Terimakasih kepada <strong>ghie</strong> yang telah mengingatkan saya tentang artikel ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena artikel awalnya sudah lama, utk &#8216;<em>menyegarkan</em>&#8216; ingatan pembaca, saya buatkan <a href="http://janganserakah.com/2008/08/14/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-peoples-money-part-1/" target="_blank">link part 1</a> artikel ini.</p>
<p><span id="more-753"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam setiap transaksi margin trading, ada dua jenis margin yang harus kita ketahui:</p>
<ul>
<li>Initial Margin (Margin Awal)</li>
<li>Maintenance Margin (Margin Pemeliharaan/Perawatan)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Dalam artikel part 1, saya telah memberikan sebuah ilustrasi tentang penggunaan Margin. Contoh yang saya berikan dalam artikel tersebut merupakan adalah ilustrasi untuk <strong>Initial Margin (Margin <span style="font-weight:normal;"><strong>Awal)</strong>. </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">Lalu apa yang dimaksudkan dengan Maintenance Margin?</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">Maintenance Margin adalah suatu rasio yang harus senantiasa kita jaga dalam portofolio kita selama kita menggunakan fasilitas margin dari broker (alias kita membeli sebagian portofolio kita dengan cara berhutang kepada broker). Bagaimana cara perhitungan rasio ini? Untuk menghitung rasio ini, pertama-tama kita harus tahu lebih dahulu </span>nilai ekuitas</strong>, yaitu nilai sekuritas (dalam contoh berikut ini adalah saham) dikurangi dengan pinjaman dari broker. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat ilustrasi berikut:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">Misalkan A tertarik utk membeli saham PT. JanganSerakah dimana harga per lembar sahamnya adalah Rp 5000. Modal yang dimiliki oleh A adalah Rp 5000 (hanya cukup untuk membeli saham). Tetapi oleh broker saham, A diberikan fasilitas Initial Margin 50%, sehingga A bisa membeli 2 lembar saham PT JanganSerakah (50% memakai modalnya, sedangkan 50% dipinjamkan oleh broker).</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berapa nilai ekuitas A pada saat ini? Jawabannya adalah Rp 5000, yaitu Rp 10.000 (nilai saham milik A) minus Rp 5.000 (hutang A kepada Broker)</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah 1 minggu, harga saham PT. JanganSerakah turun menjadi Rp 4000/lbr. Nilai saham yg dimiliki oleh A pun turun dari Rp 10 ribu (Rp 5000&#215;2) menjadi tinggal Rp 8000 (Rp 4000 x 2). Akibatnya nilai ekuitas dalam rekening A pun akan mengalami penurunan. Akibat turunnya harga saham tersebut, nilai ekuitas portofolio A tinggal sebesar Rp 3000, yaitu Rp 8000 (nilai saham milik A) minus Rp 5000 (hutang A kepada broker).</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sekarang mari kita masuk ke konsep &#8216;Maintenance Margin&#8217;. Misalkan saja A diwajibkan oleh brokernya memelihara Maintenance Margin sebesar 20%. Ini artinya, A diwajibkan untuk selalu memiliki nilai ekuitas sebesar 20% dari keseluruhan portofolionya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini artinya nilai ekuitas A saat ini minimal harus sebesar 20% x Rp8000 (nilai saham dalam rekening A) = Rp 1600. Kita lihat di atas, nilai ekuitas A adalah sebesar Rp 3000, alias A masih &#8216;aman&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi bagaimana jika seandainya Maintenance Margin yang ditetapkan oleh broker adalah 40%? Ini artinya A harus selalu menjaga agar nilai ekuitasnya minimal sebesar 40% x Rp8000, alias Rp 3200. Padahal saat ini nilai ekuitasnya hanya tinggal Rp 3000 (alias ada kekurangan Rp 200).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kondisi ini, A akan terkena <strong>&#8220;Margin Call&#8221;</strong>, yaitu suatu perintah utk membayar kekurangan ekuitas dalam rekeningnya. Dalam hal ini A harus menyetorkan uang Rp 200 ke rekeningnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Margin Call&#8221; ini diterapkan oleh Broker untuk menjaga keamanan pinjamannya kepada A. Jika misalnya pada saat ini A gagal/tidak mampu membayar &#8220;margin call&#8221; ini, maka broker bisa menjual saham dalam rekening A senilai Rp 8000. Pinjamannya sebesar Rp 5000 akan ditarik, dan sisa Rp 3000 dikembalikan kepada A.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/753/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=753&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/12/05/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-people%e2%80%99s-money-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Margin Trading: Bermain dengan OPM (Other People&#8217;s Money) part 1</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/08/14/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-peoples-money-part-1/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/08/14/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-peoples-money-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 05:18:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini seorang pembaca thread JanganSerakah di forum kaskus bercerita di thread tersebut tentang permasalahan yang dihadapinya dan meminta saran atas sebuah ide yang dimilikinya: Saya rencananya akan pinjam uang 150jt&#8230;rencananya saya ingin investasikan uang tersebut selama 3 tahun di PR******AL, kemudian saya mengharapkan return minimal 30% pertahun&#8230; Ide seperti ini sendiri bukan pertama kali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=241&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pagi ini seorang pembaca thread JanganSerakah di forum kaskus bercerita di thread tersebut tentang permasalahan yang dihadapinya dan meminta saran atas sebuah ide yang dimilikinya:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya rencananya akan pinjam uang 150jt&#8230;rencananya saya ingin investasikan uang tersebut selama 3 tahun di PR******AL, kemudian saya mengharapkan return minimal 30% pertahun&#8230;</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ide seperti ini sendiri bukan pertama kali saya dengar. Sejak saya memulai thread JS di forum kaskus, beberapa bulan lalu, mungkin ide senada itu sudah saya baca 4-5 kali, baik di thread JS sendiri maupun di thread lain. Apakah ide seperti ini feasible?<span id="more-241"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Praktek seperti di atas itu tiada bedanya dengan praktek <strong>Margin Trading</strong>. Dalam saham, margin trading adalah praktek membeli saham dengan menggunakan hutang, dalam hal ini, yang memberikan hutang adalah Broker. Dalam kasus di atas, rekan tersebut memang tidak meminjam dari broker, tetapi inti prakteknya sama, &#8216;bermain&#8217; dengan <strong>OPM</strong> (Other People&#8217;s Money/Uang orang lain).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menggunakan Margin, memang seseorang bisa mendapatkan keuntungan yang besar dengan modal yang relatif kecil, tetapi tentunya ini juga melibatkan suatu resiko yang besar. Ben Graham dalam bukunya pun menyatakan bahwa orang-orang yang membeli saham dengan margin harus sadar bahwa yang mereka lakukan sebenarnya adalah spekulasi. Besarnya resiko yang terkait dengan margin membuat berbagai negara umumnya sampai melarang pengelola reksadana melakukan pembelian saham dengan menggunakan margin, karena sangat beresiko bagi para investornya.</p>
<p style="text-align:justify;">Agar para pembaca blog bisa mengerti mengapa &#8216;margin trading&#8217; merupakan suatu strategi yang sangat beresiko, dalam artikel ini saya akan coba menjelaskan mengenai cara kerja margin trading. Mudah-mudahan dengan lebih memahami subjek ini, para pembaca blog bisa lebih &#8216;tahan godaan&#8217; dan menghindari &#8216;bermain&#8217; dengan OPM (Other People&#8217;s Money)</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang saya tulis di atas, ketika seseorang dikatakan &#8216;membeli saham dengan margin&#8217;, itu artinya dia membeli saham itu dengan bantuan fasilitas hutang, dalam hal ini yang memberikan hutang adalah broker. Tentu saja broker tidak meminjamkan uang ini dengan &#8216;gratis&#8217;, tetapi mengenakan bunga kepada si peminjam tersebut. Mengapa orang tertarik untuk menggunakan margin? Salah satu alasan utamanya adalah untuk meningkatkan tingkat keuntungan. Bagaimana ini bisa terjadi? Untuk menjelaskan hal ini, mari kita lihat sebuah ilustrasi:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Misalkan Mr. Gekko ingin membeli saham PT. X yang harganya Rp 5000/lembar. Tetapi modal yang dimiliki oleh Mr. Gekko hanya Rp 5 juta. Mr. Gekko tidak diberikan fasilitas Margin oleh brokernya, sehingga Mr. Gekko hanya bisa membeli saham senilai modal yang dimilikinya, yaitu Rp 5 juta. Dengan demikian, Mr. Gekko hanya bisa membeli 1000 lembar saham PT. X tersebut. Jika misalnya harga saham PT. X itu naik hingga menjadi Rp 6000, berarti Mr. Gekko mendapat keuntungan Rp 1.000.000,- (Rp 100&#215;1000 lembar)</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana jika Mr. Gekko mendapatkan fasilitas Margin dari brokernya, misalkan saja margin 50% (mengenai ini akan saya jelaskan lebih detail nanti)? Dengan fasilitas margin ini, maka ketika Mr. Gekko ingin membeli saham, maka dia cukup membayar 50% saja dari nilai saham yang ingin dibeli. Dalam contoh ini, maka dengan modal Rp 5 jutanya, Mr. Gekko bisa membeli saham hingga senilai Rp 10 juta. Kekurangan sebesar 5 juta itu akan dipinjamkan oleh broker.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menggunakan fasilitas Margin ini, kini Mr. Gekko bisa membeli saham PT. X sebanyak 2000 lembar. Jika misalkan harga saham PT. X naik hingga mencapai Rp 6000/lembar, maka keuntungan yang dinikmati oleh Mr. Gekko adalah sebesar Rp 2.000.000 (Rp 100&#215;2000 lembar) dipotong dengan bunga yang harus dibayar kepada broker.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kita lihat dalam kasus pertama, tanpa menggunakan fasilitas margin, keuntungan yang bisa diraih oleh Mr. Gekko adalah sebesar Rp 1.000.000,- dari modal sebesar Rp 5 juta, alias 20%. Dalam kasus kedua, dengan menggunakan fasilitas margin, pada kenaikan harga yg sama, meskipun modal Mr. Gekko tetap Rp 5 juta keuntungan yang diraih kini mencapai Rp 2.000.000,- alias 40% (belum dipotong bunga hutang)</p>
<p style="text-align:justify;">Penggunaan hutang (leverage) seperti dalam margin ini memang bisa &#8216;mendongkrak&#8217; tingkat keuntungan. Tetapi tentunya ada &#8216;harga&#8217; yang harus dibayar, yaitu berupa meningkatnya resiko yang harus ditanggung. Bagaimana wujud resiko ini? Untuk menjelaskannya, mari kita lanjutkan ilustrasi di atas</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dalam ilustrasi di atas, kita mengandaikan harga saham PT. X naik dari Rp5000/lembar menjadi Rp6000/lembar. Bagaimana jika ternyata harga saham PT. X turun Rp1000 menjadi Rp 4000/lembar?</p>
<p style="text-align:justify;">Jika seandainya Mr. Gekko membeli saham PT. X tanpa fasilitas margin, seperti kita tahu, dia hanya bisa membeli 1000 lembar saham. Ketika harga saham PT. X turun menjadi Rp4000/lembar, maka kerugian yang ditanggungnya adalah sebesar Rp1 juta (Rp1000 x 1000 lembar). Ini berarti kerugiannya adalah sebesar 20%.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi jika Mr. Gekko membeli saham PT. X dengan fasilitas margin di atas, maka saham yang dia beli adalah sebanyak 2000 lembar. Ketika harga saham PT. X turun menjadi Rp4000/lembar, maka kerugian yang ditanggung Mr. Gekko kini menjadi Rp 2 juta (Rp1000 x 2000 lembar) belum lagi ditambah dengan biaya bunga hutang kepada broker. Dengan demikian, kerugian yang diderita Mr. Gekko mencapai lebih dari 40% (dengan memperhitungkan bunga hutang broker).</p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang yang mempertimbangkan untuk menggunakan fasilitas &#8220;margin&#8221;, harus tahu bahwa dengan menggunakan fasilitas tersebut:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Kita bisa rugi dalam jumlah yg lebih besar daripada nilai investasi kita. Jika kita misalnya membeli saham dengan Cash, misalnya Rp 1 juta, maka maksimum kerugian kita adalah Rp 1 juta. Tetapi jika kita membeli saham dengan fasilitas margin, jika modal kita Rp 1 juta, kerugian kita bisa lebih dari Rp 1juta</li>
<li>Kita bisa terkena <strong>Margin Call</strong> sehingga harus menyetorkan uang tambahan ke rekening kita di broker. Mengenai margin call akan saya jelaskan lebih lanjut kemudian.</li>
<li>Sekuritas yg kita beli (dalam contoh ini saham) menjadi jaminan atas hutang kita. Broker kita dalam kondisi tertentu mempunyai hak untuk menjual saham itu tanpa perlu meminta ijin kepada kita.</li>
</ul>
<p>(<a href="http://janganserakah.com/2008/12/05/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-people’s-money-part-2/" target="_self">bersambung ke part 2</a>)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/241/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/241/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=241&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/08/14/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-peoples-money-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>