<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Saham</title>
	<atom:link href="http://janganserakah.com/tag/saham/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://janganserakah.com</link>
	<description>Sebuah blog sederhana tentang dunia investasi dan perencanaan keuangan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 May 2010 04:06:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='janganserakah.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d528815cd098af4ded4ea5f747ac55f8?s=96&#038;d=http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Saham</title>
		<link>http://janganserakah.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://janganserakah.com/osd.xml" title="Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://janganserakah.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ada Apa dengan Saham Perbankan?</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/04/23/ada-apa-dengan-saham-perbankan/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/04/23/ada-apa-dengan-saham-perbankan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 08:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1599</guid>
		<description><![CDATA[Senin lalu, di kafetaria Kantor Redaksi Harian Jangan Serakah, saya dan Mister Ben sedang makan siang bersama. Sambil menunggu makanan kami diantarkan, kami berdua pun ngobrol-ngobrol sebentar. Mister Ben: Bagaimana dengan investasi kamu di Indonesia, son? Ada hal yang menarik akhir-akhir ini? Edison: Kalau investasi sih tidak ada yang menarik, mister. Kan cuma sekedar menjalankan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1599&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Senin lalu, di kafetaria Kantor Redaksi Harian Jangan Serakah, saya dan Mister Ben sedang makan siang bersama. Sambil menunggu makanan kami diantarkan, kami berdua pun ngobrol-ngobrol sebentar.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Mister Ben:</strong></span> <em>Bagaimana dengan investasi kamu di Indonesia, son? Ada hal yang menarik akhir-akhir ini?</em><br />
<span style="color:#008000;"><strong>Edison:</strong></span> <em>Kalau investasi sih tidak ada yang menarik, mister. Kan cuma sekedar menjalankan Dollar Cost Averaging. Tapi kalau di bagian spekulasi sih ada.</em><br />
<span style="color:#0000ff;"><strong>Mister Ben:</strong></span> <em>Oh ya? Memangnya ada apa dengan Spekulasi kamu?</em><br />
<span style="color:#008000;"><strong>Edison:</strong></span> <em>Dua bulan lalu saya membeli saham bank X. Tetapi minggu lalu saya &#8216;terpaksa&#8217; jual saham tersebut minggu lalu.</em><br />
<span style="color:#0000ff;"><strong>Mister Ben:</strong></span> <em>Loh? Memangnya kamu dipaksa siapa?</em><br />
<span style="color:#008000;"><strong>Edison:</strong></span> <em>Dipaksa Mister Market&#8230;</em><span style="color:#0000ff;"><br />
<strong>Mister Ben:</strong></span> <em>Loh kok begitu?</em><br />
<span style="color:#008000;"><strong>Edison:</strong> </span><em>Ceritanya begini nih, mister&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</em></p></blockquote>
<p style="text-align:center;"><span id="more-1599"></span>&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Dua bulan lalu, saya melakukan transaksi dengan uang spekulasi saya yang kebetulan sedang &#8216;nganggur&#8217;. Setelah melirik kiri-kanan, saya pun akhirnya memutuskan untuk membeli saham Bank XYZ (salah satu bank utama di Indonesia). Mengapa demikian? Di satu sisi, saya menganggap bahwa bank XYZ tersebut mempunyai <a title="Masih ingat dengan artikel yang ini?" href="http://janganserakah.com/2009/03/20/economic-moat-ciri-saham-tahan-serangan/" target="_blank">&#8216;economic moat&#8217;</a> yang baik. Di lain sisi, saya merasa bahwa prospek perbankan Indonesia untuk 1-2 tahun ke depan agak suram&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Lho? Suram kok malah dibeli?</p>
<p style="text-align:justify;">Ini karena salah satu metode spekulasi favorit saya adalah dengan <span style="text-decoration:underline;">pelan-pelan</span> mengkoleksi saham-saham bluechip di saat saham-saham tersebut sedang &#8216;suram&#8217;. Harapan saya adalah untuk <em>&#8216;menimbun&#8217;</em> saham Bank XYZ tersebut, dalam 1-2 tahun ini dimana sektor perbankan Indonesia sepertinya akan menghadapi masa-masa yang sulit.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa teman pembaca mungkin masih ingat dengan artikel <a href="http://janganserakah.com/2009/01/08/meneropong-2009-ancaman-kredit-konsumen/" target="_self">&#8216;Meneropong 2009: Ancaman Kredit Konsumen&#8217;</a> yang saya tulis. Dalam artikel tersebut saya mengatakan bahwa saya agak mengkhawatirkan kalau akan terjadi lonjakan kredit macet karena selama beberapa tahun terakhir, bank-bank dan berbagai institusi keuangan begitu gencar memberikan kredit konsumsi ke masyarakat. Resiko ini semakin besar karena berdasarkan pengamatan saya, pemberian kredit konsumsi tersebut pun umumnya tanpa melalui seleksi yang ketat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kekhawatiran saya di atas, sedikit banyak mulai terbukti. Baru-baru ini saya membaca kalau  dari data di lapangan, mulai terjadi lonjakan hutang macet di berbagai tipe kredit konsumsi, mulai dari kartu kredit hingga ke KPR. Ini tentunya akan menjadi beban bagi sektor perbankan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi ini diperparah dengan pertumbuhan kredit yang melambat. Dengan kondisi sekarang ini, Bank-bank sangat berhati-hati dalam memberikan pinjaman. Pertumbuhan kredit di 3 bulan pertama tahun ini, merosot jauh dibandingkan dengan di tahun 2008. Padahal seperti kita tahu, sumber pendapatan utama Bank justru adalah dari pemberian kredit/pinjaman. Pertumbuhan kredit yang merosot tentu akan mempengaruhi pertumbuhan pendapatan Bank.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan melihat berbagai faktor di atas, berdasarkan perkiraan saya seharusnya performa perbankan dalam 1-2 tahun ke depan tidak akan terlalu <em>&#8216;mengkilap&#8217;</em>. Tetapi anehnya, justru dengan kondisi seperti ini, saham-saham perbankan secara umum akhir-akhir ini mengalami kenaikan yang lumayan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saham XYZ yang saya beli 2 bulan lalu, bukannya bergerak turun, malah naik hampir 30%. Rencana saya untuk pelan-pelan <em>&#8216;menimbun&#8217;</em> saham tersebut pun batal. Karena saya tidak memahami apa alasan penyebab kenaikannya, dan saya merasa <em>&#8216;tidak nyaman&#8217;</em> dengan situasi ini, saya pun kehilangan &#8216;minat&#8217; untuk menimbun saham XYZ tersebut dan <em>&#8216;terpaksa&#8217;</em> keluar&#8230;..</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#008000;"><strong>Edison:</strong></span> <em>Jadi begitu ceritanya mister&#8230; Saya dipaksa keluar oleh mister Market (alias pasar). Soalnya saya nggak tahu apa yang ada di pikiran si mister Market.</em><br />
<span style="color:#0000ff;"><strong>Mister Ben:</strong></span> <em>Rupanya begitu toh.. Lalu? Kamu apa tidak takut kalau ternyata sahamnya semakin naik setelah kamu jual? Nanti kamu menyesal, karena  untung kamu bisa lebih besar lagi&#8230;</em><br />
<span style="color:#008000;"><strong>Edison:</strong></span> <em>Tidak kok, mister. Namanya juga spekulasi.. Untung 30% dalam 2 bulan sudah cukup utk saya. Toh jika sektor perbankan terus  naik, saya juga bisa menikmati dari porsi Investasi saya yang memakai metode Dollar Cost Averaging&#8230;. Tapi bagaimana pendapat mister Ben tentang sektor perbankan ini? Saya benar atau salah ya?</em></p></blockquote>
<p>Sayangnya, belum sempat mister Ben menjawab, obrolan kami  terputus di sana karena Soto Betawi yang kami pesan sudah datang. Tetapi dalam hati, saya tetap penasaran&#8230; apa ya kira-kira pendapat mister Ben?</p>
<p>&#8230;..</p>
<p><em>Ada orang lain yang juga bingung dengan mister Market seperti saya?</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1599/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1599&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/04/23/ada-apa-dengan-saham-perbankan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Economic Moat: Ciri Saham &#8216;Tahan&#8217; Serangan</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/03/20/economic-moat-ciri-saham-tahan-serangan/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/03/20/economic-moat-ciri-saham-tahan-serangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 16:42:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investor Aktif]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1332</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai seseorang yang senang membaca, salah satu topik yang paling menarik minat saya (selain topik investasi tentunya) adalah &#8216;seni perang&#8217;, terutama dalam perang di &#8216;jaman dahulu kala&#8217;. Sejak sekitar kelas 4 SD,  nama-nama &#8216;seniman perang&#8217; seperti Zhuge Liang, Sun Tzu, Alexander, Nobunaga Oda, dan Genghis Khan lebih melekat di kepala saya dibandingkan dengan nama-nama seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1332&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebagai seseorang yang senang membaca, salah satu topik yang paling menarik minat saya <em>(selain topik investasi tentunya)</em> adalah <em>&#8216;seni perang&#8217;</em>, terutama dalam perang di <em>&#8216;jaman dahulu kala&#8217;</em>. Sejak sekitar kelas 4 SD,  nama-nama <em>&#8216;seniman perang&#8217;</em> seperti Zhuge Liang, Sun Tzu, Alexander, Nobunaga Oda, dan Genghis Khan lebih melekat di kepala saya dibandingkan dengan nama-nama seperti Superman, Batman dan lain-lainnya. Tidak pernah bosan rasanya saya mengikuti sepak terjang mereka dalam mengalahkan lawannya dalam kancah peperangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ok, sampai di situ saja cerita pribadi tentang saya. Jadi apa kaitan antara (1) investasi, (2) judul artikel ini dan juga (3) celoteh saya tentang kecintaan saya terhadap <em>&#8216;seni perang&#8217;</em>? Penasaran?<span id="more-1332"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kita berbicara tentang perang (terutama perang di <em>&#8216;jaman dahulu kala&#8217;</em>), kira-kira gambaran apa yang akan pertama-tama muncul di benak anda? Meskipun jawabannya akan beraneka ragam (pasukan, jenderal, senjata, dll), mungkin tidak sedikit dari teman-teman yang akan menjawab &#8216;Benteng&#8217; (Fortress/(Castle). Ini tentunya tidak aneh mengingat Benteng (Fortress/Castle) memang merupakan salah satu fokus dalam perang di jaman dahulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam perang, nasib suatu kota bahkan negara kerap ditentukan oleh kekokohan bentengnya. Berbagai cara pun digunakan untuk meningkatkan kekokohan pertahanan benteng. Salah satu cara yang paling sering dipakai untuk memperkuat pertahanan sebuah benteng adalah dengan membuat <span style="color:#0000ff;"><strong>Moat</strong></span>, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mungkin bisa dikatakan sebagai parit. Sebuah benteng dengan Moat (parit) di sekelilingnya mempunyai keunggulan dibandingkan dengan benteng tanpa Moat (parit).</p>
<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_1333" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1333" title="beaumaris_castle_and_moat" src="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/beaumaris_castle_and_moat.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Benteng dengan Moat (Parit)" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Benteng dengan Moat (Parit)</p></div>
<p style="text-align:justify;">Pada jaman dahulu, salah satu cara yang paling umum dipakai oleh pihak lawan untuk memasuki benteng adalah dengan memakai <strong>tangga/scaling ladder</strong> (<a title="Gambar Scaling Ladder" href="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/ladder.jpg" target="_blank">gambar</a>) dan juga &#8216;<strong>menara penyerbuan&#8217;/Assault Tower</strong> (<a title="Gambar Assault Tower" href="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/assaulttower.jpg" target="_blank">gambar</a>). Fungsi utama kedua alat tersebut adalah untuk memanjat tembok benteng. Tetapi dengan adanya moat/parit, seperti bisa kita bayangkan, kedua alat tersebut akan sulit untuk dipakai karena pihak penyerbu sulit untuk menghampiri tembok benteng.</p>
<p style="text-align:justify;">Alat lainnya yang sering dijumpai dalam penyerbuan sebuah benteng adalah yang dikenal sebagai <strong>&#8216;pendobrak&#8217;/Battering Ram</strong> (<a title="Gambar Battering Ram" href="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/batteringram.jpg" target="_blank">gambar</a>). Alat ini dipakai untuk mendobrak pintu benteng. Tetapi dengan adanya moat/parit, lagi-lagi alat ini jadi tidak <em>&#8216;berkutik&#8217;</em> karena pihak yang bertahan tinggal mengangkat jembatan yang menuju ke pintu benteng. Alat tersebut pun tidak bisa menghampiri pintu benteng, karena dihalangi oleh moat/parit.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain ketiga alat di atas, alat yang juga kerap dipakai pihak penyerang adalah <strong>&#8216;Pelontar Batu&#8217;/Catapult</strong> (<a title="Gambar Catapult" href="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/catapult.jpg" target="_blank">gambar</a>). Fungsi utama alat ini adalah untuk melemparkan batu-batu berukuran besar untuk perlahan-lahan menjebol tembok benteng. Tetapi bahkan jika tembok benteng itu jebol pun, dengan adanya moat/parit, pihak penyerang tetap harus menyeberangi moat/parit sebelum bisa masuk lewat tembok yang sudah &#8216;jebol&#8217; tersebut. Ini tentunya akan mempersulit gerakan pihak penyerbu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan berbagai manfaat yang saya ceritakan di atas, tidak heran jika mayoritas benteng di jaman dahulu dilengkapi dengan moat/parit <em>(tentunya jika kondisi alamnya memungkinkan)</em>. Semakin lebar dan dalam moat/parit, semakin kuat pertahanan benteng tersebut</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai di sini, sebagian teman-teman mungkin mulai bertanya-tanya <em>&#8216;Son, cerita kamu di atas sih sangat <span style="text-decoration:line-through;">menarik</span> membosankan, tetapi apa kaitannya dengan investasi?&#8217; </em></p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya: Karena ternyata &#8216;Moat&#8217; itu juga bisa ditemui dalam dunia usaha dan investasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun tidak diketahui siapa yang menciptakan istilah <strong>&#8216;Economic Moat&#8217;</strong> yang menjadi judul artikel ini, tetapi mungkin boleh dikatakan bahwa istilah tersebut menjadi populer ketika dipakai oleh Warren Buffet. Economic Moat sendiri secara sederhana bisa didefinisikan sebagai <strong><em>&#8220;Keunggulan kompetitif suatu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan sejenis lainnya&#8221;</em></strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Perusahaan yang memiliki Economic Moat/Parit yang lebar, akan mampu mempertahankan dirinya dari <em>&#8216;serangan&#8217;</em> para kompetitornya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh saya akan memakai contoh <strong>Coca-Cola</strong>. Perusahaan Coca-Cola mempunyai Economic Moat yang besar dalam bentuk &#8216;Merek&#8217;. Merek Coca-Cola telah mempunyai <strong>&#8216;Share of Mind&#8217; (pangsa &#8216;pikiran&#8217;)</strong> yang besar sehingga ketika orang teringat minuman Cola, maka yang terpikirkan pertama oleh mereka kemungkinan besar adalah Coca-Cola.</p>
<p style="text-align:justify;">Misalkan saja saya berhasil mendapatkan &#8216;resep rahasia&#8217; milik Coca Cola sehingga saya mampu membuat minuman yang rasanya sama persis dengan Coca-Cola. Minuman tersebut lalu saya produksi dengan merek <strong>JanganSerakah-Cola</strong>. Jika minuman tersebut saya jual dengan harga yang sama dengan Coca-Cola, boleh dipastikan bahwa saya akan gulung tikar dalam waktu yang tidak lama. Ini karena karena minuman produk saya tersebut sulit untuk laku, meskipun rasanya sama persis. Berkat &#8216;Share of Mind&#8217; yang besar, dengan harga yang sama, orang-orang akan lebih memilih untuk membeli Coca-Cola dibandingkan dengan JanganSerakah-Cola. Akibatnya Coca-Cola bisa menjual produknya lebih mahal dibandingkan dengan pesaing kelas &#8216;<em>gurem</em>&#8216; dan bisa menikmati keuntungan yang lebih besar. Keuntungan tersebut lalu digunakan untuk <em>&#8216;perang&#8217;</em> pemasaran dan mempertahankan &#8216;Share of Mind&#8217;-nya.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya Economic Moat bukan hanya berbentuk &#8220;Merek&#8221; saja. Moat atau keunggulan kompetitif bisa muncul dalam beberapa bentuk, misalnya keunggulan teknologi, keunggulan biaya dan harga, permodalan dan lain sebagainya. Google misalnya, mempunyai economic moat dalam bentuk keunggulan teknologi Search Enginenya. Sebagai contoh lainnya, kita bisa melihat Carrefour. Perusahaan ritel tersebut mempunyai posisi tawar-menawar yang kuat, sehingga bisa mendapatkan harga yang terbaik dari para produsen barang yang dijualnya. Akibatnya mereka mempunyai moat/keunggulan kompetitif dalam bentuk harga.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apakah setiap perusahaan hanya bisa mempunyai satu keunggulan? Tentunya tidak. Jika kita kembali ke contoh moat/parit dalam peperangan, semakin <span style="text-decoration:underline;">lebar</span> dan <span style="text-decoration:underline;">dalam</span> moat/parit di suatu benteng, semakin baik pertahanannya. Besarnya tingkat keunggulan kompetitif bisa disamakan dengan kedalaman moat/parit. Di sisi lain, semakin banyak  jenis aspek yang menjadi keunggulan kompetitif suatu perusahaan, maka semakin &#8216;lebar&#8217; moat/parit yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh, kita lihat kembali contoh Coca-Cola. Apakah moat/keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh Coca-Cola hanyalah berbentuk &#8216;Merek&#8217; saja? Tidak, salah satu keunggulan kompetitif utama Coca-Cola justru berada pada jaringan distribusinya. Seperti kita tahu, produk Coca-Cola boleh dikatakan bisa ditemui hampir di setiap negara di dunia ini. Saluran distribusi Coca-Cola juga merupakan salah satu senjata utamanya untuk <em>&#8216;menghabisi&#8217;</em> pesaingnya, karena jaringan distribusinya begitu ekstensif dan dikelola dengan baik.</p>
<p>Jadi, bisa kita lihat bahwa moat yang dimiliki oleh Coca-Cola selain &#8216;dalam&#8217; juga &#8216;lebar&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah sebabnya mengapa hingga kini boleh dikatakan di dunia ini hanya ada dua minuman Cola utama, yaitu Coca-Cola dan Pepsi Cola. Minuman Cola merek lain hanya bisa memperebutkan <em>&#8216;remah-remah&#8217;</em> sisa dari Coca-Cola dan Pepsi-Cola, dan sulit sekali untuk bisa menembus dominasi kedua merek minuman Cola tersebut.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa kaitan semua hal di atas dengan Investasi?</p>
<p style="text-align:justify;">Warren Buffet, kerap kali mengatakan bahwa perusahaan yang bisa memberikan keuntungan kepada para investornya  adalah perusahaan yang mempunyai economic moat yang lebar dan dalam. Perusahaan yang mempunyai ciri seperti ini, biasanya mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan tingkat keuntungannya. Tentunya ini akan memberikan dampak yang positif kepada para investor perusahaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika suatu perusahaan tidak mempunyai economic moat, maka perusahaan itu lebih rentan terhadap &#8216;<em>serangan&#8217;</em> pesaingnya. Umumnya, ini akan berujung pada <em>&#8216;perang harga&#8217;</em> yang pada akhirnya tentu akan menurunkan tingkat keuntungan perusahaan tersebut. Hasil yang diterima oleh investor pun akhirnya mengecewakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Konsep <em>&#8220;Economic Moat&#8221;</em> dalam investasi yang dipopulerkan oleh Buffet ini boleh dikatakan merupakan buah pemikiran <span style="color:#0000ff;"><strong>Philip Fisher</strong></span>. Jika Ben Graham kerap dicap sebagai bapak Analisa Fundamental Kuantitatif, maka bisa dikatakan Fisher adalah bapak Analisa Fundamental Kualitatif. Buffet sendiri kerap mengakui bahwa gaya investasinya adalah <em>&#8220;85% Ben Graham dan 15% Philip Fisher&#8221;.</em></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><strong>Pertanyaan bagi para calon investor:</strong></span><br />
</em></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Carilah satu contoh perusahaan/bisnis yang menurut anda mempunyai Economic Moat yang lebar/dalam. Coba uraikan apa economic moat perusahaan tersebut menurut anda</em></li>
</ul>
<p><em>atau jika anda inginkan, bisa juga :</em></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Carilah satu contoh perusahaan/bisnis yang menurut anda <strong>TIDAK</strong> mempunyai Economic Moat yang lebar/dalam. Coba uraikan alasan anda.</em></li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1332&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/03/20/economic-moat-ciri-saham-tahan-serangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/beaumaris_castle_and_moat.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">beaumaris_castle_and_moat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guest Blogger: Seusai Kasus Sarijaya &#8211; Seberapa Aman Portofolio Anda?</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/01/13/guest-blogger-seusai-kasus-sarijaya-seberapa-aman-portofolio-anda/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/01/13/guest-blogger-seusai-kasus-sarijaya-seberapa-aman-portofolio-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Jan 2009 05:19:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Guest Blogger]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=836</guid>
		<description><![CDATA[Bersamaan dengan kasus Sarijaya Securities yang terjadi baru-baru ini, beberapa pembaca menanyakan kepada saya tentang bagaimana nasib portofolio mereka di broker yg lain? Apakah aman? Bagaimana mereka bisa tahu bahwa portofolio mereka tidak seenaknya saja dimainkan oleh perusahaan sekuritas yg mereka pakai? Salah satu e-mail seputar masalah ini yang saya terima adalah dari rekan Sutanto, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=836&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Bersamaan dengan kasus Sarijaya Securities yang terjadi baru-baru ini, beberapa pembaca menanyakan kepada saya tentang bagaimana nasib portofolio mereka di broker yg lain? Apakah aman? Bagaimana mereka bisa tahu bahwa portofolio mereka tidak seenaknya saja dimainkan oleh perusahaan sekuritas yg mereka pakai? Salah satu e-mail seputar masalah ini yang saya terima adalah dari rekan Sutanto, dan isinya adalah seperti di bawah ini:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Bung Edison,</em></p>
<p><em>Ini kali kedua saya mengirim email ke anda. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p><em>Kali ini saya ingin menanyakan soal rekening sub-account KSEI, mengingat saya kuatir juga dengan kasus-kasus broker/manajer investasi yang menilep duit nasabahnya. Dulu, waktu saya buka rekening saham di broker, saya kan juga isi form pembukaan rekening di KSEI. Barusan saya tanya ke broker dan diberi tahu bahwa nomer sub rekening account KSEI saya XXXXX-XXXX-XXX-XX. Tapi bagaimana saya tahu bahwa rekening tersebut benar-benar ada dan isinya juga sesuai dengan saham/dividen yang saya miliki?</em><span id="more-836"></span></p>
<p><em>Kemudian, seandainya saya membuka rekening saham baru lewat broker lain, apakah saya juga harus membuka rekening sub-account baru lagi atau masih menggunakan yang lama? Kasus yang sama, bagaimana kalau saya menutup rekening di broker A lalu pindah ke broker B. Bagaimana nasib rekening dan saham yang saya miliki?</em></p>
<p><em>Satu lagi yang mengganjal. Saat ini saham yang tercatat di KSEI scripless dan tanpa nama. Perlukah kita mendaftarkan saham atas nama kita? Saya berniat investasi untuk jangka sangat panjang dan hanya mengharap pemasukan dari dividen saja. Kalau dengan nama kita barangkali suatu saat kelak bisa diwariskan untuk anak/cucu kita?</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya pikir e-mail ini cukup menarik untuk dibahas karena mungkin tidak sedikit orang yang mempunyai pertanyaan yang hampir senada. Untuk itu saya lalu mengundang seorang rekan pembaca blog ini, <span style="color:#0000ff;"><strong>putrie_kmps</strong></span>, untuk menulis artikel yang menjawab e-mail tersebut. Kebetulan pekerjaan rekan tersebut erat kaitannya dengan topik ini sehingga bisa memberikan jawaban teknis yang lebih baik daripada saya. Ok, selamat menikmati tulisan putrie di bawah ini.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Penggelapan dana Investor tidak terjadi di Amerika saja. Selepas Bernard L. Madoff mengagetkan dunia investasi, kasus senada pun muncul di Indonesia. Belum reda kasus PT Antaboga Delta Sekuritas dan Bank Century dibicarakan, dunia investasi Indonesia kembali dihebohkan dengan penggelapan dana hampir 300 Milyar oleh Komisaris Utama Sarijaya Securities.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbagai pertanyaan pun diajukan oleh investor di Indonesia seputar tugas BAPEPAM sebagai pengawas investasi pasar modal di Indonesia dan SRO (BEI, KSEI, KPEI) yang mengatur transaksi pasar modal. Keterbukaan informasi mengenai portofolio para investor pun semakin menjadi tuntutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam prakteknya, semua portofolio investor akan tercatat di KSEI dalam bentuk Sub-Rekening. Format Sub-Rekening itu adalah  <span style="color:#ff0000;"><strong><span style="color:#0000ff;">AAAAA-BBBB-CCC-DD</span></strong><span style="color:#000000;">, (misalnya saja 9X001-AB73-001-XX), dimana: </span></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;">AAAAA adalah Kode Pemegang Rekening Broker (dlm contoh adalah 9X001)<br />
</span></span></li>
<li><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;">BBBB adalah kode Sub Rekening Efek. (dlm contoh adalah AB73)<br />
</span></span></li>
<li><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;">CCC adalah Jenis rekening Efek, biasanya selalu diisi dengan 001 (Rekening Depositori)</span></span></li>
<li><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;">DD adalah check digit</span></span></li>
</ul>
<p align="justify">Lalu bagaimana caranya agar kita bisa tahu bahwa rekening tersebut benar-benar ada dan isinya sesuai dengan saham/dividen yang kita miliki? Untuk memfasilitasi keinginan ini, KSEI sudah merancang system yang bernama Investor Area sejak tahun 2007. Penggunaan system ini sendiri baru akan dimulai bulan Februari 2009 ini. Dengan adanya system ini, para investor dapat melihat secara online portofolio yang tercatat di KSEI dan membandingkannya dengan data di brokernya.</p>
<p align="justify">Untuk pembukaan rekening saham baru di broker yang berbeda, tentunya akan dibukakan sub-rekening yang baru. Ini karena seperti kita lihat di atas, 5 digit awal nomor Sub-Rekening Efek adalah kode broker. Sehingga jika brokernya berbeda, tentu nomor sub-rekeningnya akan berbeda juga. Ini seperti kita mempunyai tabungan di 2 bank yang berbeda, tentunya nomor rekening tabungannya juga akan berbeda.</p>
<p align="justify">Bagaimana dengan nasib saham kita jika kita berganti broker? Kita bisa mengajukan transfer isi portofolio yg ada di broker satu ke broker yang lain, tidak berbeda dengan transfer antar Bank. Tentunya ini akan melibatkan sejumlah biaya.</p>
<p align="justify">Saat ini, saham yang tercatat di KSEI memang Scriptless (tanpa kertas). Sistem Scritpless akan memudahkan dalam penyelesaian transaksi. Bayangkan jika dalam sehari transaksi yang terjadi lebih dari 1 milyar lembar saham. Kalau transaksinya masih dilakukan dalam bentuk kertas, mungkin penyelesaian transaksi tidak bisa selesai dalam waktu T+3. (<em>Edison: Selain itu, bayangkan juga banyaknya kertas yang dibutuhkan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em> )</p>
<p align="justify">Dalam sistem saham Scriptless ini, memang tidak ada saham dalam bentuk fisik yang mencantumkan nama pemilik sahamnya. Tetapi selama saham tersebut tercatat dalam sub-rekening milik investor di KSEI, para investor tidak perlu khawatir akan nasib assetnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai catatan tambahan, perlu diketahui bahwa Informasi mengenai Sub-Rekening ini bersifat rahasia dan diatur oleh Undang-Undang. Apabila ada pihak ketiga (orang lain) yg bermaksud untuk meminta informasi tentang Rekening Efek atau Sub-Rekening Efek yg tercatat di KSEI, maka sesuai ketentuan pasal 47 UU no. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal, pihak tersebut perlu mendapatkan persetujuan BAPEPAM terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align:center;">&#8230;..</p>
<p><em>(article by <strong>Putrie_kmps</strong>, edited by <strong>Edison</strong>)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/836/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/836/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/836/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=836&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/01/13/guest-blogger-seusai-kasus-sarijaya-seberapa-aman-portofolio-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Margin Trading: Bermain dengan OPM (Other People’s Money) Part 2</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/12/05/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-people%e2%80%99s-money-part-2/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/12/05/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-people%e2%80%99s-money-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 00:06:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=753</guid>
		<description><![CDATA[Terkadang karena terlalu banyak hal yang menarik untuk dibahas, saya lupa membuat lanjutan dari suatu artikel. Artikel part 2 ini merupakan salah satu dari artikel yang &#8216;terlupakan&#8217; ini. Terimakasih kepada ghie yang telah mengingatkan saya tentang artikel ini. Karena artikel awalnya sudah lama, utk &#8216;menyegarkan&#8216; ingatan pembaca, saya buatkan link part 1 artikel ini. &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=753&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Terkadang karena terlalu banyak hal yang menarik untuk dibahas, saya lupa membuat lanjutan dari suatu artikel. Artikel part 2 ini merupakan salah satu dari artikel yang &#8216;terlupakan&#8217; ini. Terimakasih kepada <strong>ghie</strong> yang telah mengingatkan saya tentang artikel ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena artikel awalnya sudah lama, utk &#8216;<em>menyegarkan</em>&#8216; ingatan pembaca, saya buatkan <a href="http://janganserakah.com/2008/08/14/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-peoples-money-part-1/" target="_blank">link part 1</a> artikel ini.</p>
<p><span id="more-753"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam setiap transaksi margin trading, ada dua jenis margin yang harus kita ketahui:</p>
<ul>
<li>Initial Margin (Margin Awal)</li>
<li>Maintenance Margin (Margin Pemeliharaan/Perawatan)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Dalam artikel part 1, saya telah memberikan sebuah ilustrasi tentang penggunaan Margin. Contoh yang saya berikan dalam artikel tersebut merupakan adalah ilustrasi untuk <strong>Initial Margin (Margin <span style="font-weight:normal;"><strong>Awal)</strong>. </span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">Lalu apa yang dimaksudkan dengan Maintenance Margin?</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">Maintenance Margin adalah suatu rasio yang harus senantiasa kita jaga dalam portofolio kita selama kita menggunakan fasilitas margin dari broker (alias kita membeli sebagian portofolio kita dengan cara berhutang kepada broker). Bagaimana cara perhitungan rasio ini? Untuk menghitung rasio ini, pertama-tama kita harus tahu lebih dahulu </span>nilai ekuitas</strong>, yaitu nilai sekuritas (dalam contoh berikut ini adalah saham) dikurangi dengan pinjaman dari broker. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat ilustrasi berikut:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="font-weight:normal;">Misalkan A tertarik utk membeli saham PT. JanganSerakah dimana harga per lembar sahamnya adalah Rp 5000. Modal yang dimiliki oleh A adalah Rp 5000 (hanya cukup untuk membeli saham). Tetapi oleh broker saham, A diberikan fasilitas Initial Margin 50%, sehingga A bisa membeli 2 lembar saham PT JanganSerakah (50% memakai modalnya, sedangkan 50% dipinjamkan oleh broker).</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berapa nilai ekuitas A pada saat ini? Jawabannya adalah Rp 5000, yaitu Rp 10.000 (nilai saham milik A) minus Rp 5.000 (hutang A kepada Broker)</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah 1 minggu, harga saham PT. JanganSerakah turun menjadi Rp 4000/lbr. Nilai saham yg dimiliki oleh A pun turun dari Rp 10 ribu (Rp 5000&#215;2) menjadi tinggal Rp 8000 (Rp 4000 x 2). Akibatnya nilai ekuitas dalam rekening A pun akan mengalami penurunan. Akibat turunnya harga saham tersebut, nilai ekuitas portofolio A tinggal sebesar Rp 3000, yaitu Rp 8000 (nilai saham milik A) minus Rp 5000 (hutang A kepada broker).</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sekarang mari kita masuk ke konsep &#8216;Maintenance Margin&#8217;. Misalkan saja A diwajibkan oleh brokernya memelihara Maintenance Margin sebesar 20%. Ini artinya, A diwajibkan untuk selalu memiliki nilai ekuitas sebesar 20% dari keseluruhan portofolionya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini artinya nilai ekuitas A saat ini minimal harus sebesar 20% x Rp8000 (nilai saham dalam rekening A) = Rp 1600. Kita lihat di atas, nilai ekuitas A adalah sebesar Rp 3000, alias A masih &#8216;aman&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi bagaimana jika seandainya Maintenance Margin yang ditetapkan oleh broker adalah 40%? Ini artinya A harus selalu menjaga agar nilai ekuitasnya minimal sebesar 40% x Rp8000, alias Rp 3200. Padahal saat ini nilai ekuitasnya hanya tinggal Rp 3000 (alias ada kekurangan Rp 200).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kondisi ini, A akan terkena <strong>&#8220;Margin Call&#8221;</strong>, yaitu suatu perintah utk membayar kekurangan ekuitas dalam rekeningnya. Dalam hal ini A harus menyetorkan uang Rp 200 ke rekeningnya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Margin Call&#8221; ini diterapkan oleh Broker untuk menjaga keamanan pinjamannya kepada A. Jika misalnya pada saat ini A gagal/tidak mampu membayar &#8220;margin call&#8221; ini, maka broker bisa menjual saham dalam rekening A senilai Rp 8000. Pinjamannya sebesar Rp 5000 akan ditarik, dan sisa Rp 3000 dikembalikan kepada A.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/753/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/753/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/753/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=753&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/12/05/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-people%e2%80%99s-money-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Edison&#8217;s Week in Review: 14 September 2008</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/09/15/edisons-week-in-review-14-septermber-2008/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/09/15/edisons-week-in-review-14-septermber-2008/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Sep 2008 17:18:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Edison's Week in Review]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>
		<category><![CDATA[Ulasan Mingguan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[WHAT THEY SAID&#8230; Investing is simple, but it&#8217;s not easy Warren Buffet &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Ulasan minggu ini agak berbeda dari ulasan mingguan biasanya. Dalam ulasan minggu ini, saya hanya akan berbagi suatu cerita yang entah bisa berguna atau tidak bagi teman-teman pembaca blog (meskipun saya harap bisa berguna). Saya tidak akan berbicara panjang-lebar tentang kondisi bursa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=469&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>WHAT THEY SAID&#8230;</strong></p></blockquote>
<blockquote><p><em>Investing is simple, but it&#8217;s not easy</em></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Warren Buffet<br />
</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Ulasan minggu ini agak berbeda dari ulasan mingguan biasanya. Dalam ulasan minggu ini, saya hanya akan berbagi suatu cerita yang entah bisa berguna atau tidak bagi teman-teman pembaca blog (meskipun saya harap bisa berguna). Saya tidak akan berbicara panjang-lebar tentang kondisi bursa saham kita karena saya pikir hampir semua teman-teman tahu apa yang terjadi di bursa saham kita dalam 1 minggu terakhir, index IHSG di minggu ini turun hingga mencapai titik 1800.<span id="more-469"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi saya sendiri, angka 1800 ini mempunyai arti yang agak &#8216;signifikan&#8217;. Sekitar 5-6 bulan lalu saya baru berkenalan dengan Parahita (&#8216;<strong>dunkz</strong>&#8216; dari PortalRD) di thread Jangan Serakah forum kaskus. Dalam diskusi awal saya dengannya di forum kaskus tersebut, saya sempat sharing (<em>karena selama ini hanya invest di bursa saham luar negeri, dan belum masuk di bursa lokal</em>) bahwa :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Terus terang, utk ke depan pun, jika saya masuk di bursa indonesia, saya akan memakai dana spekulasi saya, saya nggak berani memakai dana investasi. Ataupun jika sampai memakai dana investasi, mungkin akan kecil sekali persentasenya, hanya 5%an.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Tapi pada saat ini, belum mau masuk rasanya. Saya merasa pasar indonesia masih terlalu tinggi valuasinya, apalagi saya maunya cari margin of error yg besar. Mungkin jika IHSG dibawah 1800, saya baru tertarik utk mulai &#8220;lihat-lihat&#8221;.</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Apa bisa sampai 1800? Nggak tahu juga, possibility sih ada kalau melihat kekacauan dunia finansial saat ini (global).</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">(<strong>PS</strong>: Kutipan di atas saya ambil dari back-up thread Jangan Serakah forum Kaskus, karena thread originalnya hilang ketika Kaskus kena serangan hacker.)</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika itu index IHSG berada di level 2400-2500. Meskipun sudah turun dari titik tertingginya di 2800-an, pada level tersebut index bursa kita tetap mengalami kenaikan besar-besaran dari titik 500-an dalam jangka waktu hanya 5 tahun. Dibandingkan dengan bursa saham berbagai negara tetangga kita waktu itu, saham kita pun termasuk &#8216;<em>mahal</em>&#8216;.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kutipan diskusi saya dengan Parahita (&#8216;dunkz&#8217;) di atas, ada satu hal menarik yang bisa dilihat. Tetapi sebelumnya ada satu hal yang harus saya tekankan. Meskipun kini IHSG benar mencapai titik 1800, <span style="text-decoration:underline;">saya bukanlah seorang &#8216;<em>peramal</em>&#8216;</span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang bisa dilihat dalam kutipan di atas, saya mengatakan bahwa saya tidak tahu apakah IHSG akan 1800 atau tidak, hanya saja : &#8216;<em>jika tidak sampai di bawah 1800, rasanya saya tidak tertarik&#8217;</em>. Ini adalah suatu hal yang sangat penting utk dimengerti (<em>terutama agar saya tidak dihujani pertanyaan &#8216;apakah saham masih akan terus turun lagi?&#8217;</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi hal apa yang menarik utk dilihat dari kutipan diskusi lama saya dengan Parahita tersebut?</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang ingin saya angkat dalam artikel ini adalah kata &#8216;<strong><em>margin of error</em></strong>&#8216; yang muncul di diskusi tersebut. Graham sendiri menyebut ini sebagai &#8216;Margin of Safety&#8217;. Secara sederhana ini artinya seberapa besar &#8216;bemper&#8217; yang kita punya sebelum kita harus membayar untuk kesalahan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk lebih mengerti apa itu &#8216;Margin of Safety&#8217;, mari kita lihat sebuah ilustrasi:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Anggaplah misalkan saat ini, seseorang menawarkan utk menjual kepada saya dan anda masing-masing 1 buah laptop bekas (modelnya sama persis).  Asumsikan jika kita berdua tidak tahu berapa nilai dari laptop tersebut, dan kita hanya diberi waktu 1 menit utk menawar dan membeli laptop tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Misalkan saja, kita berdiskusi dan &#8216;mengira-ngira&#8217; bahwa Laptop itu sepertinya bernilai Rp 1,1juta. karena saya tidak pandai menawar, saya akhirnya membeli laptop tersebut seharga Rp 1 juta. Sedangkan, karena &#8216;darah&#8217; pedagang anda, anda berhasil menawar dan membeli laptop yang sama dengan harga Rp 500 ribu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam contoh ini, &#8216;margin of safety&#8217; anda tentunya jauh lebih besar daripada saya. Seandainya perkiraan kita akan nilai laptop tersebut meleset 200 ribu saja (artinya nilai laptop tersebut sebenarnya adalah Rp 900 ribu)  maka saya sudah rugi 100 ribu, sedangkan anda masih bisa menikmati keuntungan yang relatif besar.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Seperti kita lihat, semakin mahal kita membeli sesuatu yg nilai tepatnya kita tidak tahu, semakin kecil &#8216;<em>margin of safety</em>&#8216; yang kita miliki.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika seseorang membeli saham ketika index saham berada di tingkat 2500, maka secara umum bisa berarti &#8216;<em>margin of safety</em>&#8216; yang ia miliki akan lebih kecil dibandingkan dengan ketika index saham berada di tingkat 1800. Ini berarti bahwa investasi saham di saat ini justru lebih &#8216;<em>aman</em>&#8216; dibandingkan dengan satu tahun lalu.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Di awal artikel ini, saya mengutip ucapan Buffet yang mengatakan bahwa <strong>investasi itu simpel (tidak rumit), tetapi tidak &#8216;mudah&#8217;</strong>. Mengapa simpel? Karena untuk mendapatkan hasil yang memuaskan dalam investasi itu tidak rumit, cukup dengan menjadi investor pasif, menyusun dan memelihara sebuah <a href="http://janganserakah.com/2008/07/07/portofolio-investasi-untuk-investor-defensif/" target="_blank">portofolio utk investor pasif</a>, melakukan investasi rutin dengan Index investing dan metode Dollar Cost Averaging. Untuk melakukan ini semua, seseorang mungkin hanya butuh tidak sampai 30 menit setiap bulannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi meskipun demikian, hal di atas menjadi &#8216;sulit&#8217; karena memang investasi seperti ini membutuhkan disiplin mental yang tinggi untuk tetap komitmen menjalankan investasi rutinnya. Di saat pasar (Mister Market) sedang tersenyum, kebanyakan orang bisa dengan &#8216;mudah&#8217; terus menjalankan investasinya. Tetapi di saat seperti ini, kebanyakan orang mengalami &#8216;kesulitan&#8217; untuk bertahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mudah-mudahan dengan mengenal konsep &#8216;Margin of Safety&#8217; yang saya tulis di atas, sebagian teman-teman akan lebih bisa memandang kondisi saat ini dengan kacamata yang benar.</p>
<p style="text-align:justify;"> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/469/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/469/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/469/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=469&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/09/15/edisons-week-in-review-14-septermber-2008/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fear &amp; Greed, 1 Koin 2 Sisi</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/09/11/fear-greed-1-koin-2-sisi/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/09/11/fear-greed-1-koin-2-sisi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Sep 2008 06:45:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=441</guid>
		<description><![CDATA[&#8216;Bagaimana nih? RD saya sudah turun banyak nih, apa saya redeem dan cut-loss saja ya?&#8217; &#8216;Saya mau keluar dulu deh dari saham, rasanya pasar akan terus turun nih&#8217; 2 kalimat di atas terasa &#8216;familiar&#8216; bagi saya karena akhir-akhir ini saya banyak mendapatkan e-mail dari pembaca blog saya yang isinya rata-rata tidak jauh dari 2 kalimat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=441&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><span style="color:#0000ff;"><em>&#8216;Bagaimana nih? RD saya sudah turun banyak nih, apa saya redeem dan cut-loss saja ya?&#8217;</em></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><em>&#8216;Saya mau keluar dulu deh dari saham, rasanya pasar akan terus turun nih&#8217;</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">2 kalimat di atas terasa &#8216;<em>familiar</em>&#8216; bagi saya karena akhir-akhir ini saya banyak mendapatkan e-mail dari pembaca blog saya yang isinya rata-rata tidak jauh dari 2 kalimat di atas (dan berbagai variasinya).</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap kali saya menerima e-mail seperti itu, saya selalu teringat kepada ucapan Ben Graham bahwa &#8216;<strong>musuh terbesar seorang investor adalah dirinya sendiri</strong>&#8216;. Jika dijabarkan dengan lebih spesifik, musuh tersebut adalah <strong>Fear</strong> (Takut) dan <strong>Greed</strong> (Serakah). Hampir setiap investor dalam perjalanan investasinya akan pernah menghadapi musuh besar ini.<span id="more-441"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Percaya atau tidak, Fear &amp; Greed itu ibaratnya adalah 1 koin yang mempunyai dua sisi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kondisi pasar &#8216;cerah&#8217;, dunia dihiasi warna hijau, setiap hari bursa saham naik dengan drastis, memang sangat mudah bagi seseorang untuk terseret &#8216;arus&#8217; Greed/Serakah sehingga lupa bertanya apakah hasil yang diharapkannya itu wajar/pantas. Apa lagi jika ada teman/saudara/broker/(masukkan nama seseorang yg kita kenal) memperlihatkan hasil &#8216;fantastis&#8217;-nya (<em>&#8216;Bursa kita naik dari 500 menjadi 2500 dalam 5 tahun loh!! Masak kamu nggak mau untung seperti ini?&#8217;</em>). Kita menjadi lupa bahwa justru ketika bursa saham sudah naik &#8216;gila-gilaan&#8217;, artinya saham tersebut sudah menjadi mahal, dan justru semakin berpeluang untuk jatuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebaliknya, ketika kondisi pasar di saat seperti ini, dimana dunia diwarnai rona merah, setiap hari bursa saham ibaratnya terjun bebas, sangat mudah bagi seseorang untuk terseret arus Fear/Takut sehingga akhirnya lupa bahwa justru dengan turunnya harga saham, berarti saham itu lebih atraktif untuk dibeli. Ketakutan pun semakin menjadi-jadi ketika ada teman/saudara/broker/(masukkan nama seseorang yg kita kenal) mengirimkan artikel kepada kita bahwa ada &#8216;analis&#8217; yang memperkirakan bahwa bursa akan semakin turun (<em>&#8216;Wah, kamu nggak tahu analis A bilang bahwa bursa akan crash?! Nekat namanya kalau kamu beli saham sekarang!</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai seorang Investor, ada satu hal menarik yang saya amati, adalah bahwa hampir setiap orang tahu teori &#8216;<strong>Buy Low Sell High</strong>&#8216; (Beli murah, Jual mahal), tetapi karena pengaruh Fear &amp; Greed, yang dilakukan justru adalah sebaliknya, yaitu &#8216;<strong>Buy High Sell Low</strong>&#8216; (Beli mahal, Jual murah).</p>
<p style="text-align:justify;">Bukti paling nyata fenomena ini? Coba tanyakan berapa banyak di antara kita  yang ramai-ramai masuk ke RD saham ketika index kita ada di 2500-an, tetapi setelah itu redeem dengan loss ketika index ada di 2300, 2100 atau bahkan 1900 kemarin? Ketika saham sedang &#8216;high&#8217; dan mahal (index di 2500), banyak di antara kita yang tanpa ragu &#8216;masuk&#8217; di RD saham. Tetapi justru di saat ini dimana dari segi harga, investasi saham (baik melalui RD maupung langsung) itu lebih atraktif, banyak di antara kita yang malah &#8216;lari kalang-kabut&#8217;.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin sebagian teman-teman yang membaca artikel ini lalu bertanya, &#8216;<span style="text-decoration:underline;">KALAU</span> memang bursa saham akan turun, kenapa harus beli sekarang? Bukankah lebih baik saya membeli nanti <span style="text-decoration:underline;">JIKA</span> sudah lebih murah?&#8217;</p>
<p style="text-align:justify;">Jawaban dari pertanyaan di atas, sebenarnya sudah terlihat dari 2 kata yang ada dalam pertanyaan itu, yaitu KALAU dan JIKA. Siapa orang yang bisa yakin 100% KALAU pasar akan lebih turun lagi? Bahkan JIKA pasar turun pun, apakah di saat itu kita akan mempunyai keberanian untuk &#8216;<em>masuk</em>&#8216; dan tidak menunda dengan alasan &#8216;<em>ah nanti lebih turun lagi</em>&#8216;?</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai investor, bagaimana kita harus bersikap di saat ini? Kalau kita bermain lempar koin, dan koin tersebut 1 sisinya adalah Fear dan sisi lainnya adalah Greed, apa yang sebaiknya kita lakukan?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya sederhana, buang koin tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Caranya? Seperti yang pernah saya bahas di blog ini sebelumnya,  mulailah program investasi rutin dengan menerapkan metode Dollar Cost Averaging secara disiplin. Sisihkan uang dalam nominal yg sama setiap bulan, dan di setiap tanggal yang sudah ditentukan, investasikan uang tersebut secara disiplin di instrumen saham.</p>
<p style="text-align:justify;">Komitmen investasi rutin seperti ini akan membuat kita tidak lagi diombang-ambingkan oleh Fear &amp; Greed. Jika harga saham mahal, secara otomatis kita hanya akan membeli sedikit saham. Sebaliknya ketika harga saham turun, otomatis kita akan bisa membeli lebih banyak saham dengan jumlah uang yang telah kita tentukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan cara di atas, kita tidak lagi terjebak &#8216;<em>Buy High Sell Low</em>&#8216;. Secara otomatis, kita sudah melakukan &#8216;<em>Buy less when it&#8217;s high, and buy more when it&#8217;s low</em>&#8216;.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Edison</strong> (<em>seorang investor yg justru baru tertarik masuk di bursa lokal saat ini ketika orang berlarian keluar</em>)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/441/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/441/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/441/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/441/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/441/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=441&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/09/11/fear-greed-1-koin-2-sisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MacGyver, DINAR dan Socially Responsible Investing</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/09/02/macgyver-dinar-dan-socially-responsible-investing/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/09/02/macgyver-dinar-dan-socially-responsible-investing/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Sep 2008 23:22:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=346</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin sebagian besar pembaca blog ini bingung membaca judul artikel saya yang ini, karena tidak tahu apa kaitan antara MacGyver, DINAR dan juga Socially Responsible Investing. Mungkin sebagian di antara teman-teman bahkan bahkan tidak tahu apa/siapa itu MacGyver. MacGyver adalah nama sebuah film seri (sekaligus tokoh utama dalam film seri tersebut) yang sangat populer sewaktu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=346&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Mungkin sebagian besar pembaca blog ini bingung membaca judul artikel saya yang ini, karena tidak tahu apa kaitan antara MacGyver, DINAR dan juga Socially Responsible Investing. Mungkin sebagian di antara teman-teman bahkan bahkan tidak tahu apa/siapa itu MacGyver.</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="MacGyver" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Macgyver" target="_blank">MacGyver</a> adalah nama sebuah film seri (sekaligus tokoh utama dalam film seri tersebut) yang sangat populer sewaktu saya SMP-SMA.  Tokoh MacGyver itu digambarkan sebagai seseorang yang sangat kreatif dalam berpikir sehingga ia bisa keluar dari berbagai kesulitan dengan menggunakan berbagai barang sehari-hari (misalnya lakban, deterjen, dll).</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa kaitan MacGyver dengan Danareksa Indeks Syariah (DINAR) dan Socially Responsible Investing (SRI)?<span id="more-346"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<div class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><img src="http://i49.photobucket.com/albums/f281/edison76/SenjataMacGyver.jpg" alt="Senjata MacGyver" width="240" height="204" /><p class="wp-caption-text">Victorinox: &#39;senjata&#39; MacGyver</p></div>
<p style="text-align:justify;">Saya menyinggung MacGyver dalam artikel ini karena suatu benda yang menjadi &#8216;<em>ciri khas</em>&#8216; MacGyver. Dalam aksinya, MacGyver selalu mengandalkan sebuah &#8216;senjata&#8217; yang ia bawa kemana-mana, yaitu pisau Swiss Army (Victorinox). Seperti yang kita tahu, pisau Swiss Army merupakan kumpulan dari berbagai alat, sehingga mempunyai berbagai fungsi. Dengan dibantu alat-alat yang ada di dalam pisau Swiss Army ini, MacGyver bisa keluar dari berbagai permasalahan yang dihadapinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam dunia investasi, sebenarnya para investor juga bisa memiliki &#8216;<em>pisau Swiss Army</em>&#8216;. Apa wujud dari pisau Swiss Army ala dunia Investasi? Jawabannya adalah : <strong><span style="color:#0000ff;">Index Investing</span></strong>, yang pernah saya singgung di <a title="Investasi di Reksadana Index" href="http://janganserakah.com/2008/06/12/investor-pasif-dan-bogleheads/" target="_blank">artikel yang lampau</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">(<strong>PS:</strong> Mohon diperhatikan bahwa Index Investing di sini bukanlah &#8216;permainan&#8217; tebak-tebakan index, baik Hangseng, Nikkei ataupun Kospi spt yang kerap ditawarkan oleh berbagai perusahaan di Indonesia. Produk -produk tersebut tidak layak dikategorikan sebagai investasi).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam melakukan Index Investing di saham, kita berinvestasi di seluruh perusahaan yang terdaftar pada sebuah index. Jika misalkan kita melakukan Index Investing di index S&amp;P 500, berarti kita berinvestasi di seluruh 500 perusahaan yang termasuk di dalam index S&amp;P 500 tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa manfaatnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai investor di saham, kita harus melihat diri kita sebagai pemilik perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Dalam hal S&amp;P 500 misalnya, kita harus berpikir &#8216;<em>oh, saya adalah pemilik 500 perusahaan terbesar Amerika</em>&#8216;. 500 perusahaan yang kita miliki itu terdiri dari berbagai macam perusahaan yang berada di berbagai macam sektor, manufaktur, finansial, teknologi, dll. Seperti kita tahu, dunia usaha itu mempunyai siklus, dimana siklus setiap sektor usaha itu berbeda-beda. Dalam kondisi tertentu, mungkin sektor A kurang bagus, tetapi sektor B justru melejit. Sebaliknya, di kondisi lain, performa sektor A akan menonjol, tetapi sektor B justru &#8216;<em>memble</em>&#8216;.</p>
<p style="text-align:justify;">Melanjutkan ilustrasi saya di S&amp;P 500, sebagai pemilik 500 perusahaan di atas, kita bisa berpikir &#8216;<em>Wah, usaha saya yang A sedang kurang bagus, tetapi untung saja usaha saya yang di bidang B sedang maju pesat</em>&#8216;. Tiada bedanya dengan seorang konglomerat (yg punya berbagai macam usaha), kita mempunyai banyak &#8216;ladang&#8217; yang bisa diandalkan. Ini merupakan ilustrasi sederhana dari konsep <strong><span style="color:#0000ff;">Diversifikasi</span></strong>. Di setiap kondisi ekonomi, biasanya ada sektor yang hasilnya akan relatif bagus dibandingkan sektor lain, dan berkat diversifikasi (dengan index investing), kita hampir bisa dipastikan akan mempunyai saham di sektor tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Dilihat dari aspek ini, index investing bisa dikatakan mirip dengan pisau Swiss Army milik MacGyver, karena menawarkan &#8216;solusi&#8217; utk setiap &#8216;permasalahan&#8217; yang kita hadapi dalam investasi kita.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa kaitannya pisau MacGyver di atas dengan Danareksa Index Syariah (DINAR) dan Socially Responsible Investing (SRI)? Mungkin ada baiknya di sini saya berbicara mengenai DINAR dan SRI terlebih dahulu.</p>
<p style="text-align:justify;">DINAR yang saya tulis di artikel ini bukanlah mata uang dinar irak. DINAR dalam hal ini merupakan sebuah reksadana index (produk dari PT. Danareksa) yang mengacu kepada Jakarta Islamic Index (JII). Jakarta Islamic Index sendiri berisikan 30 perusahaan yang aktivitas bisnisnya tidak bertentangan dengan prinsip Syariah Islam, antara lain :</p>
<ul>
<li>Usaha di sektor perjudian</li>
<li>Usaha di sektor finansial konvensional seperti Bank (karena berkaitan dengan bunga)</li>
<li>Usaha di perusahaan yang memproduksi produk-produk yang dilarang seperti alkohol, rokok, dll.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Socially Responsible Investing (SRI) di lain sisi merupakan suatu konsep investasi dimana seseorang dalam menjalankan investasinya mempertimbangkan juga faktor &#8216;tanggung jawab sosial&#8217;-nya. Dalam SRI, seseorang biasanya menolak utk berinvestasi di perusahaan yang dianggapnya &#8216;berefek sosial negatif&#8217; terhadap masyarakat, misalnya perusahaan yang memproduksi senjata, alkohol, berkontribusi dalam &#8216;perusakan lingkungan&#8217;, dll.</p>
<p style="text-align:justify;">Dilihat dari operasionalnya, sebenarnya DINAR dan SRI bisa dikatakan hampir sejenis, yaitu investasi dengan &#8216;<em>batasan</em>&#8216;. Dalam DINAR, batasannya adalah agama, sedangkan dalam SRI batasannya adalah keyakinan pribadi orang itu. Keduanya secara umum akan menolak berinvestasi dalam <span style="color:#000000;">saham-saham &#8216;dosa&#8217;</span> (<span style="color:#0000ff;"><strong>Sin Stock</strong></span>), yaitu saham-saham perusahaan industri judi, alkohol, dan juga rokok.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bagaimana dampak adanya &#8216;batasan&#8217; dalam investasi di atas?</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang menarik di sini adalah karakter dari saham-saham Sin Stock. Selain dihindari oleh investor yang terikat &#8216;batasan&#8217; (baik agama maupun keyakinan pribadi), Sin Stock juga biasanya dijauhi oleh investor institusi (karena masalah image di masyarakat). Akibat dijauhinya saham-saham ini,  kerap kali Sin Stock justru mempunyai Value/nilai yang menarik jika dibandingkan dengan harganya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal kedua yang menarik dari Sin Stock adalah karena produk-produk perusahaan  mereka bisa dikatakan &#8216;<em>tahan banting</em>&#8216;, terutama utk alkohol dan rokok. Meskipun agak miris, tetapi tidak bisa dipungkiri, ketika resesi pun kebanyakan perokok akan tetap merokok dan orang akan tetap minum alkohol (malah mungkin semakin banyak?). Dalam aspek ini, bisa dikatakan bahwa saham-saham Sin Stock mempunyai karakter defensif yang akan &#8216;<em>menolong</em>&#8216; hasil investasi kita ketika resesi.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita kembali ke ilustrasi MacGyver dan pisau Swiss Army-nya, dalam hal ini mungkin investasi dengan &#8216;<em>batasan</em>&#8216; seperti DINAR dan SRI bisa kita ibaratkan seperti pisau Swiss Army yang tidak begitu lengkap, misalkan tidak ada obengnya. Akibatnya ketika kita butuh obeng, mungkin kita akan sedikit mengalami masalah.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Di akhir artikel ini, saya ingin menekankan bahwa dalam hal ini <span style="text-decoration:underline;"><strong>bukan</strong></span> berarti saya berkata investasi dengan &#8216;<em>batasan</em>&#8216; seperti investasi syariah dan SRI itu tidak bagus.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu hal yang penting ditanyakan dalam menjalankan investasi adalah apakah kita bisa tidur nyenyak dengan investasi kita? Jika karena investasi, kita tidak bisa tidur nyenyak karena merasa berdosa/bersalah (krn aturan agama maupun krn keyakinan pribadi), berarti investasi yang kita jalankan itu sudah &#8216;<em>salah</em>&#8216;. Tetapi dalam kasus di mana kita tidak terikat oleh batasan-batasan tersebut, mungkin perlu dipikirkan  lagi apakah kita ingin membeli pisau Swiss Army yang tidak ada obengnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8230;</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Jadi anda termasuk golongan investor yang mana? Obeng atau tanpa obeng?</em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/346/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/346/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/346/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/346/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/346/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=346&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/09/02/macgyver-dinar-dan-socially-responsible-investing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://i49.photobucket.com/albums/f281/edison76/SenjataMacGyver.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Senjata MacGyver</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Margin Trading: Bermain dengan OPM (Other People&#8217;s Money) part 1</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/08/14/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-peoples-money-part-1/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/08/14/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-peoples-money-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Aug 2008 05:18:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini seorang pembaca thread JanganSerakah di forum kaskus bercerita di thread tersebut tentang permasalahan yang dihadapinya dan meminta saran atas sebuah ide yang dimilikinya: Saya rencananya akan pinjam uang 150jt&#8230;rencananya saya ingin investasikan uang tersebut selama 3 tahun di PR******AL, kemudian saya mengharapkan return minimal 30% pertahun&#8230; Ide seperti ini sendiri bukan pertama kali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=241&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pagi ini seorang pembaca thread JanganSerakah di forum kaskus bercerita di thread tersebut tentang permasalahan yang dihadapinya dan meminta saran atas sebuah ide yang dimilikinya:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya rencananya akan pinjam uang 150jt&#8230;rencananya saya ingin investasikan uang tersebut selama 3 tahun di PR******AL, kemudian saya mengharapkan return minimal 30% pertahun&#8230;</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Ide seperti ini sendiri bukan pertama kali saya dengar. Sejak saya memulai thread JS di forum kaskus, beberapa bulan lalu, mungkin ide senada itu sudah saya baca 4-5 kali, baik di thread JS sendiri maupun di thread lain. Apakah ide seperti ini feasible?<span id="more-241"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Praktek seperti di atas itu tiada bedanya dengan praktek <strong>Margin Trading</strong>. Dalam saham, margin trading adalah praktek membeli saham dengan menggunakan hutang, dalam hal ini, yang memberikan hutang adalah Broker. Dalam kasus di atas, rekan tersebut memang tidak meminjam dari broker, tetapi inti prakteknya sama, &#8216;bermain&#8217; dengan <strong>OPM</strong> (Other People&#8217;s Money/Uang orang lain).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menggunakan Margin, memang seseorang bisa mendapatkan keuntungan yang besar dengan modal yang relatif kecil, tetapi tentunya ini juga melibatkan suatu resiko yang besar. Ben Graham dalam bukunya pun menyatakan bahwa orang-orang yang membeli saham dengan margin harus sadar bahwa yang mereka lakukan sebenarnya adalah spekulasi. Besarnya resiko yang terkait dengan margin membuat berbagai negara umumnya sampai melarang pengelola reksadana melakukan pembelian saham dengan menggunakan margin, karena sangat beresiko bagi para investornya.</p>
<p style="text-align:justify;">Agar para pembaca blog bisa mengerti mengapa &#8216;margin trading&#8217; merupakan suatu strategi yang sangat beresiko, dalam artikel ini saya akan coba menjelaskan mengenai cara kerja margin trading. Mudah-mudahan dengan lebih memahami subjek ini, para pembaca blog bisa lebih &#8216;tahan godaan&#8217; dan menghindari &#8216;bermain&#8217; dengan OPM (Other People&#8217;s Money)</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang saya tulis di atas, ketika seseorang dikatakan &#8216;membeli saham dengan margin&#8217;, itu artinya dia membeli saham itu dengan bantuan fasilitas hutang, dalam hal ini yang memberikan hutang adalah broker. Tentu saja broker tidak meminjamkan uang ini dengan &#8216;gratis&#8217;, tetapi mengenakan bunga kepada si peminjam tersebut. Mengapa orang tertarik untuk menggunakan margin? Salah satu alasan utamanya adalah untuk meningkatkan tingkat keuntungan. Bagaimana ini bisa terjadi? Untuk menjelaskan hal ini, mari kita lihat sebuah ilustrasi:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Misalkan Mr. Gekko ingin membeli saham PT. X yang harganya Rp 5000/lembar. Tetapi modal yang dimiliki oleh Mr. Gekko hanya Rp 5 juta. Mr. Gekko tidak diberikan fasilitas Margin oleh brokernya, sehingga Mr. Gekko hanya bisa membeli saham senilai modal yang dimilikinya, yaitu Rp 5 juta. Dengan demikian, Mr. Gekko hanya bisa membeli 1000 lembar saham PT. X tersebut. Jika misalnya harga saham PT. X itu naik hingga menjadi Rp 6000, berarti Mr. Gekko mendapat keuntungan Rp 1.000.000,- (Rp 100&#215;1000 lembar)</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana jika Mr. Gekko mendapatkan fasilitas Margin dari brokernya, misalkan saja margin 50% (mengenai ini akan saya jelaskan lebih detail nanti)? Dengan fasilitas margin ini, maka ketika Mr. Gekko ingin membeli saham, maka dia cukup membayar 50% saja dari nilai saham yang ingin dibeli. Dalam contoh ini, maka dengan modal Rp 5 jutanya, Mr. Gekko bisa membeli saham hingga senilai Rp 10 juta. Kekurangan sebesar 5 juta itu akan dipinjamkan oleh broker.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menggunakan fasilitas Margin ini, kini Mr. Gekko bisa membeli saham PT. X sebanyak 2000 lembar. Jika misalkan harga saham PT. X naik hingga mencapai Rp 6000/lembar, maka keuntungan yang dinikmati oleh Mr. Gekko adalah sebesar Rp 2.000.000 (Rp 100&#215;2000 lembar) dipotong dengan bunga yang harus dibayar kepada broker.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kita lihat dalam kasus pertama, tanpa menggunakan fasilitas margin, keuntungan yang bisa diraih oleh Mr. Gekko adalah sebesar Rp 1.000.000,- dari modal sebesar Rp 5 juta, alias 20%. Dalam kasus kedua, dengan menggunakan fasilitas margin, pada kenaikan harga yg sama, meskipun modal Mr. Gekko tetap Rp 5 juta keuntungan yang diraih kini mencapai Rp 2.000.000,- alias 40% (belum dipotong bunga hutang)</p>
<p style="text-align:justify;">Penggunaan hutang (leverage) seperti dalam margin ini memang bisa &#8216;mendongkrak&#8217; tingkat keuntungan. Tetapi tentunya ada &#8216;harga&#8217; yang harus dibayar, yaitu berupa meningkatnya resiko yang harus ditanggung. Bagaimana wujud resiko ini? Untuk menjelaskannya, mari kita lanjutkan ilustrasi di atas</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dalam ilustrasi di atas, kita mengandaikan harga saham PT. X naik dari Rp5000/lembar menjadi Rp6000/lembar. Bagaimana jika ternyata harga saham PT. X turun Rp1000 menjadi Rp 4000/lembar?</p>
<p style="text-align:justify;">Jika seandainya Mr. Gekko membeli saham PT. X tanpa fasilitas margin, seperti kita tahu, dia hanya bisa membeli 1000 lembar saham. Ketika harga saham PT. X turun menjadi Rp4000/lembar, maka kerugian yang ditanggungnya adalah sebesar Rp1 juta (Rp1000 x 1000 lembar). Ini berarti kerugiannya adalah sebesar 20%.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi jika Mr. Gekko membeli saham PT. X dengan fasilitas margin di atas, maka saham yang dia beli adalah sebanyak 2000 lembar. Ketika harga saham PT. X turun menjadi Rp4000/lembar, maka kerugian yang ditanggung Mr. Gekko kini menjadi Rp 2 juta (Rp1000 x 2000 lembar) belum lagi ditambah dengan biaya bunga hutang kepada broker. Dengan demikian, kerugian yang diderita Mr. Gekko mencapai lebih dari 40% (dengan memperhitungkan bunga hutang broker).</p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang yang mempertimbangkan untuk menggunakan fasilitas &#8220;margin&#8221;, harus tahu bahwa dengan menggunakan fasilitas tersebut:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Kita bisa rugi dalam jumlah yg lebih besar daripada nilai investasi kita. Jika kita misalnya membeli saham dengan Cash, misalnya Rp 1 juta, maka maksimum kerugian kita adalah Rp 1 juta. Tetapi jika kita membeli saham dengan fasilitas margin, jika modal kita Rp 1 juta, kerugian kita bisa lebih dari Rp 1juta</li>
<li>Kita bisa terkena <strong>Margin Call</strong> sehingga harus menyetorkan uang tambahan ke rekening kita di broker. Mengenai margin call akan saya jelaskan lebih lanjut kemudian.</li>
<li>Sekuritas yg kita beli (dalam contoh ini saham) menjadi jaminan atas hutang kita. Broker kita dalam kondisi tertentu mempunyai hak untuk menjual saham itu tanpa perlu meminta ijin kepada kita.</li>
</ul>
<p>(<a href="http://janganserakah.com/2008/12/05/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-people’s-money-part-2/" target="_self">bersambung ke part 2</a>)</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/241/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/241/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/241/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/241/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/241/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=241&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/08/14/margin-trading-bermain-dengan-opm-other-peoples-money-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BUY-SELL-HOLD: Memahami Konflik Kepentingan Analis Saham</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/08/01/buy-sell-hold-memahami-konflik-kepentingan-analis-saham/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/08/01/buy-sell-hold-memahami-konflik-kepentingan-analis-saham/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Aug 2008 05:13:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Instrumen Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investor Aktif]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=197</guid>
		<description><![CDATA[WHAT THEY SAID You don&#8217;t tell deliberate lies, but sometimes you have to be evasive Margaret Thatcher &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Bagi sebagian investor, salah satu data yang kerap dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk membeli ataupun menjual sahamnya adalah rekomendasi dari analis saham. Dalam meliput suatu saham, seorang analis biasanya akan mengeluarkan rekomendasi berbentuk BUY (Beli), HOLD (Netral), [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=197&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>WHAT THEY SAID</strong></p></blockquote>
<blockquote><p><em><span class="huge">You don&#8217;t tell deliberate lies, but sometimes you have to be evasive</span></em></p>
<p style="text-align:right;"><span class="bodybold"><strong>Margaret Thatcher</strong></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi sebagian investor, salah satu data yang kerap dipakai sebagai bahan pertimbangan untuk membeli ataupun menjual sahamnya adalah rekomendasi dari analis saham. Dalam meliput suatu saham, seorang analis biasanya akan mengeluarkan rekomendasi berbentuk <strong>BUY</strong> (Beli), <strong>HOLD</strong> (Netral), ataupun <strong>SELL</strong> (Jual). Apakah rekomendasi dari para analis ini bisa dipakai sebagai dasar pertimbangan melakukan investasi?</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama kita harus memahami &#8216;cara kerja&#8217; di Wall Street.<span id="more-197"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang pertama-tama harus kita tahu bahwa analis saham (yg sering kita lihat di tv Bloomberg ataupun MSNBC itu) bekerja di perusahaan brokerage ataupun juga di Investment Bank. Rekomendasi yang dikeluarkan oleh para analis tersebut ditujukan kepada para Investor Individual  spt kita dan bukan kepada Investor Institusional (Bank, Perusahaan Reksadana, Perusahaan Besar, Pengelola Dana Pensiun, dll). Ini karena umumnya para Investor Institusional besar mempekerjakan analis saham mereka sendiri (in-house) untuk melakukan analisa dan seleksi saham, sehingga mereka tidak membutuhkan rekomendasi dari para analis saham dari &#8216;luar&#8217; organisasi mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal lain yang juga harus kita sadari adalah betapa pentingnya Investor Institusional bagi perusahaan brokerage ataupun Investment Bank tempat para analis itu bekerja. Kebanyakan perusahaan-perusahaan ini umumnya mempunyai 3 sumber pendapatan utama:</p>
<ul>
<li>Komisi dan Fee dari menjalankan kegiatan trading pelanggannya</li>
<li>Keuntungan dari trading sekuritas antar berbagai account perusahaan itu</li>
<li>Komisi Underwriting dari aktivitas menjual saham di Penawaran Saham Perdana (IPO/Initial Public Offering)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Bagi mereka, Investor Institusional merupakan klien utama, karena besarnya income yang bisa didapat dari berbagai kegiatan di atas. Akibatnya, Investor Institusional ini mempunyai pengaruh kepada apa yang akan dikatakan oleh para analis tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu ilustrasi yang kerap dipakai untuk menjelaskan kondisi di atas adalah dengan membandingkan bursa saham dengan industri otomotif. Perusahaan otomotif memproduksi berbagai jenis kendaraan. Kendaraan ini  lalu dijual melalui para Dealer yang lalu mempromosikan kendaraan itu kepada masyarakat. Tentunya tidak ada Dealer &#8216;waras&#8217; yang akan mengatakan bahwa kendaraan yang dijualnya itu jelek.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang sama terjadi juga di dalam bursa saham. Para analis saham yang bekerja di perusahaan brokerage ataupun Investment Bank, akan sangat enggan untuk &#8216;menjelek-jelekkan&#8217; saham suatu perusahaan. Bayangkan jika misalkan salah satu klien dari perusahaan brokerage tersebut memegang saham perusahaan X dalam jumlah yang besar. Apa yang akan terjadi jika analis dari perusahaan brokerage itu mengeluarkan rekomendasi SELL (jual) yang lalu mengakibatkan harga saham perusahaan X itu turun? Kemungkinan besar klien tersebut akan marah besar kepada analis dan perusahaan brokerage tersebut sehingga kemudian; mengutip KLA Project; &#8216;pindah ke lain hati&#8217; (alias pindah ke brokerage/investment bank lain)</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi di atas mengakibatkan suatu &#8216;bias&#8217; yang cukup menarik di dalam rekomendasi saham. Karena analis enggan mengeluarkan rekomendasi SELL, maka ketika mereka mempunyai pandangan yang negatif terhadap suatu saham, umumnya mereka hanya mengeluarkan rekomendasi berupa HOLD (Netral). Akibatnya, jumlah rekomendasi BUY dan HOLD jauh melebihi rekomendasi SELL.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai ilustrasi, sebuah contoh yang saya dapatkan di sebuah publikasi universitas Wharton  (July 2000) yang mengulas rekomendasi analis untuk saham <span style="color:#0000ff;">Amazon</span> (<a title="Info saham Amazon" href="http://money.cnn.com/quote/quote.html?symb=AMZN" target="_blank">NASDAQ:AMZN</a>). Sekitar bulan February tahun 2000, harga saham Amazon berada di kisaran $70/lembar. Ketika itu survey yang dilakukan oleh badan Riset First Call menemukan bahwa rekomendasi yang dikeluarkan berbagai analis di saat itu adalah :  <span style="color:#0000ff;">13 </span>rekomendasi Strong Buy, <span style="color:#0000ff;">11</span> rekomendasi Buy, hanya <span style="color:#0000ff;">7</span> yang memberikan rekomendasi Hold dan <span style="color:#0000ff;">tidak ada satupun</span> analis yang merekomendasikan Sell/Jual.</p>
<p style="text-align:justify;">Di bulan Juni tahun 2000 itu, saham Amazon turun hingga mencapai $35. Bagaimana dengan rekomendasi para analis? Di akhir Juni, saham Amazon masih mendapatkan <span style="color:#0000ff;">13</span> rekomendasi Strong Buy, <span style="color:#0000ff;">11</span> Buy, <span style="color:#0000ff;">7</span> Hold, dan tetap <span style="color:#0000ff;">tidak ada satupun</span> analis yang merekomendasikan Sell/Jual.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin sebagian para pembaca blog ini yang sudah berpikir &#8216;ala&#8217; Investor akan bertanya &#8216;<em>Bukankah 4 bulan itu jangka waktu yg sangat pendek dalam investasi? Bukankah mungkin saja para analis tersebut berpikir jangka panjang dan yakin kepada prospek Amazon di masa depan, sehingga tidak merubah rekomendasi mereka?</em>&#8216;</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan ini tentunya sangat relevan. Mari kita sekarang lanjutkan sendiri penelitian universitas Wharton di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana performa Amazon selama 8 tahun ini? Harga penutupan Amazon kemarin adalah sekitar $76. Ini pun tercapai berkat kenaikan besar-besaran dalam 1,5 tahun terakhir. Jika kita lihat kembali data tahun 2000 di artikel universitas Wharton di atas, berarti setelah rekomendasi yang &#8216;gemilang&#8217; dari para Analis di bulan July 2000 tersebut, saham Amazon hanya &#8216;jalan di tempat&#8217; selama 8 tahun ini. Fakta bahwa Amazon tidak pernah membagikan deviden sepanjang sejarahnya membuat kondisi ini semakin menyakitkan. Bahkan jika investor tersebut menaruh uangnya di deposito, ia akan mendapatkan hasil yang lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan prestasi yang begitu &#8216;mengenaskan&#8217; selama 8 tahun ini, bagaimana rekomendasi para analis selama periode ini? Jika kita lihat dari <a title="ayo kita lihat sendiri" href="http://finance.yahoo.com/q/ud?s=AMZN" target="_blank">situs Finance Yahoo ini</a>, kita akan bisa mendapatkan info tentang rekomendasi berbagai analis dari bulan July tahun 2000 sampai saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari data selama 8 tahun itu (kalau saya tidak salah hitung) ada 123 rekomendasi untuk saham Amazon, baik yg berupa rekomendasi baru maupun perubahan rekomendasi. Dari angka 123 itu, kembali terlihat keengganan para analis untuk mengeluarkan rekomendasi SELL/Jual, karena hanya ada 24 rekomendasi yang bernada &#8216;JUAL&#8217;. Itupun 10 di antaranya baru dikeluarkan dalam 2 tahun terakhir. Mungkin karena analisnya sudah kehabisan &#8216;alasan&#8217; untuk mempertanggung-jawabkan rekomendasinya atas Amazon selama ini.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/197/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/197/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/197/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/197/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/197/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=197&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/08/01/buy-sell-hold-memahami-konflik-kepentingan-analis-saham/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Insider&#8217;s Holding: Ketika Manajemen dan Kita Satu Kapal</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/07/19/insiders-holding-ketika-manajemen-dan-kita-satu-kapal/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/07/19/insiders-holding-ketika-manajemen-dan-kita-satu-kapal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jul 2008 20:17:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Instrumen Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investor Aktif]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[WHAT THEY SAID&#8230; Setiap kali saya melakukan kesalahan yang bodoh, saya ingin agar anda setidaknya bisa sedikit &#8216;terhibur&#8217; karena kerugian finansial yang saya alami akan jauh lebih besar daripada kerugian anda. Warren Buffet kpd pemegang saham Berkshire Hathaway &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Mungkin di dunia ini tidak terlalu banyak CEO yang bisa mengikuti Buffet mengucapkan kalimat seperti di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=78&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>WHAT THEY SAID&#8230;</strong></p></blockquote>
<blockquote><p><em>Setiap kali saya melakukan kesalahan yang bodoh, saya ingin agar anda setidaknya bisa sedikit &#8216;terhibur&#8217; karena kerugian finansial yang saya alami akan jauh lebih besar daripada kerugian anda. </em></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Warren Buffet kpd pemegang saham Berkshire Hathaway<br />
</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin di dunia ini tidak terlalu banyak CEO yang bisa mengikuti Buffet mengucapkan kalimat seperti di atas. Buffet sendiri memang layak mengucapkan kalimat tersebut karena sekitar 99% dari nilai kekayaan dia adalah berbentuk saham Berkshire Hathaway, perusahaan yg dikelolanya (Buffet adalah CEO perusahaan tersebut). Charlie Munger, partner Buffet dan wakil CEO Berkshire juga tidak jauh berbeda, hampir seluruh kekayaannya ditempatkan dalam bentuk saham Berkshire Hathaway. Konsekuensinya adalah jika keduanya sampai melakukan kesalahan bodoh dalam menjalankan Berkshire Hathaway, maka kerugian yang mereka tanggung akan sangat besar, baik dalam nilai nominal maupun dalam persentase terhadap nilai kekayaan mereka.<span id="more-78"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya kita tahu bahwa hanya sedikit orang yang akan &#8216;senang&#8217; ketika dia kehilangan uang banyak hanya karena orang lain kehilangan uang lebih banyak lagi. Jika kita mengalami kerugian 100 juta, maka umumnya kita tetap akan &#8216;kesal&#8217; meskipun orang lain rugi 200 juta. Kalau begitu, bukankah ucapan Buffet di atas menjadi tidak berarti?</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini, yang ingin disampaikan Buffet kepada para pemegang saham Berkshire adalah bahwa dia dan para pemegang saham lainnya berada di dalam satu kapal. Jika sampai sang kapten (Buffet) membuat kapal ini karam, maka dia juga akan ikut tenggelam bersama kapal itu dan para penumpang lainnya. Oleh karena itu sudah tentu Buffet akan berusaha sekuat tenaganya agar kapal tersebut bisa berjalan dengan lancar hingga sampai di tujuannya.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi &#8220;sama-sama satu kapal&#8221; seperti yang saya ceritakan di atas secara umum merupakan salah satu cara mengenali perusahaan yang baik prospeknya. Ketika manajemen suatu perusahaan berada di &#8216;satu kapal&#8217; dengan pemegang sahamnya, secara natural para pemegang saham itu akan lebih &#8216;terjamin&#8217; masa depannya  karena  keduanya mempunyai kepentingan yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu &#8216;trik&#8217; umum yang kerap dipakai oleh para investor untuk melihat apakah pihak manajeman  &#8216;<em>mempunyai kepentingan yang sama</em>&#8216; dengan para pemegang saham adalah dengan cara melihat <strong>Insider Transaction</strong>. Insider Transaction sendiri adalah transaksi yang berkaitan dengan saham maupun opsi yang dilakukan oleh para &#8216;<em>orang dalam</em>&#8216; perusahaan. Di Amerika, badan SEC mengharuskan setiap anggota manajemen (level atas) perusahaan untuk melaporkan setiap transaksi sejenis ini yang mereka lakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah ilustrasi sederhana yang relevan di sini  adalah ibaratnya kita berniat untuk naik ke suatu kapal, maka tentunya kita akan was-was jika kita melihat kapten dan anak buah kapal malah berebutan untuk naik ke sekoci penyelamat. Jika hal ini terjadi, maka kemungkinan besar tentunya adalah bahwa kapal itu sedang dalam masalah. Hal yang sama juga berlaku di dalam investasi. Bayangkan jika anda ingin membeli saham suatu perusahaan, tetapi CEO, Vice-CEO, CFO, dan berbagai anggota manajemen lainnya malah sibuk menjual saham yang mereka miliki. Tentunya kita harus berpikir dua kali &#8216;ada apa ini?&#8217;.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk melihat Insider Transaction, mungkin sebagian pembaca blog ini sudah pernah melakukannya. Data Insider Transaction ini bisa dilihat dengan mudah dengan mencek info suatu saham di berbagai situs finansial, misalnya <a title="Yahoo! Finance" href="http://finance.yahoo.com/" target="_blank">Yahoo! Finance</a>, <a title="CNN Money" href="http://money.cnn.com/" target="_blank">CNN Money</a>, <a title="MSN Money" href="http://moneycentral.msn.com/home.asp" target="_blank">MSN Money</a>, dan masih banyak lagi situs finansial lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari berbagai situs itu, kita bisa melihat berbagai transaksi terkait dengan saham yang dilakukan oleh para anggota manajemen perusahaan tersebut, apakah mereka membeli saham, menjual saham, exercise option, ataupun tindakan lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun <strong>Insider Transaction</strong> bisa memberikan gambaran tentang apa yang sedang dilakukan oleh pihak manajeman, melirik dari contoh Buffet di atas, ada baiknya jika kita juga memperhatikan satu data lainnya, yaitu <strong>Insider Holding</strong>, alias besarnya nilai saham yang dimiliki oleh para anggota manajemen perusahaan itu. Jika para anggota manajemen perusahaan itu menaruh sebagian besar kekayaan mereka di saham perusahaan yg mereka jalankan, maka itu bisa menjadi indikasi keyakinan mereka kepada masa depan perusahaan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai ilustrasi, misalkan saja kita dari data <a title="contoh Insider Holding" href="http://biz.yahoo.com/t/96/4146.html" target="_blank">Insider Holding ini</a>, kita bisa melihat bahwa  <span class="lingo_region">John G Drosdick </span>(CEO Sunoco) per 31 Maret 08 memiliki 187.100 lembar saham Sunoco. Berdasarkan harga penutupan kemarin ($36,6) berarti nilainya kira kira US$6,86 juta.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi kebanyakan dari kita, tentunya US$6,86 juta adalah nilai yang besar, tetapi yang jadi pertanyaan adalah apakah nilai tersebut besar bagi untuk Drosdick? Bagaimana jika nilai kekayaan Drosdick adalah $500 juta? Dalam hal ini $6,86 juta itu meskipun secara nominal merupakan jumlah yang besar, tetapi bagi Drosdick, itu hanya merupakan porsi kecil dari kekayaannya (sekitar 1,3%). Tentunya ini tidak berarti bahwa Drosdick akan mau menderita kerugian di saham Sunoco-nya, tetapi bukankah kita akan lebih yakin Drosdick ada di &#8216;kapal yang sama&#8217; jika misalkan ternyata kekayaan total Drosdick hanya $7 juta (dibandingkan dengan misalnya ia memiliki $500 juta)?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya, di Amerika, kita tidak bisa mencari tahu nilai kekayaan seseorang (tindakan ini termasuk illegal, karena adalah data pribadi). Meskipun demikian, ada beberapa alternatif yang bisa kita pakai, misalkan saja dengan melihat <a title="Daftar Gaji CEO Amerika" href="http://www.forbes.com/ceos/" target="_blank">daftar gaji CEO yang ada di Forbes</a>. Dari situ kita bisa melihat bahwa ternyata total kompensasi (gaji plus berbagai bonus dan tunjangan) yang diterima Drosdick selama 5 tahun terakhir adalah sekitar $121,26 juta. Jika kita hitung-hitung, ini artinya saham Sunoco yang dimiliki oleh Drosdick cuma sebesar kurang lebih 3 bulan total kompensasi dia!!</p>
<p style="text-align:justify;">Tentu saja kita tidak boleh menilai apakah Drosdick ini seorang CEO yg buruk ataupun baik hanya berdasarkan data di atas. Meskipun demikian, tentunya fakta ini menimbulkan suatu pertanyaan yang ada baiknya dipertanyakan oleh setiap investor. Jika sang CEO saja hanya bersedia menaruh 3 bulan gajinya di sana, mengapa saya (yg tidak mempunyai kendali atas operasional perusahaan) harus investasi di sana?</p>
<p style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/78/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/78/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/78/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/78/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/78/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=78&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/07/19/insiders-holding-ketika-manajemen-dan-kita-satu-kapal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>