<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Investasi</title>
	<atom:link href="http://janganserakah.com/tag/investasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://janganserakah.com</link>
	<description>Sebuah blog sederhana tentang dunia investasi dan perencanaan keuangan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 May 2010 04:06:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='janganserakah.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d528815cd098af4ded4ea5f747ac55f8?s=96&#038;d=http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Investasi</title>
		<link>http://janganserakah.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://janganserakah.com/osd.xml" title="Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://janganserakah.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ind Ver &#8211; Intelligent Investor: Kata Pengantar [2]</title>
		<link>http://janganserakah.com/2010/01/11/ind-ver-intelligent-investor-kata-pengantar-2/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2010/01/11/ind-ver-intelligent-investor-kata-pengantar-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 10:23:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>konobe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Intelligent Investor]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1984</guid>
		<description><![CDATA[translated by Edison &#8211; posted by Konobe bagian pertama THE INTELLIGENT INVESTOR (revised Edition) KATA PENGANTAR (2) Sebuah pandangan yg telah lama dipegang, adalah kunci dari investasi yg sukses terletak pertama tama pada memilih sektor industri yang paling mungkin akan berkembang di masa depan, lalu kemudian mencari perusahaan yg paling menjanjikan dalam industri ini. Contohnya, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1984&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#0000ff;"><strong>translated by Edison &#8211; posted by Konobe</strong></span></p>
<p><a href="http://janganserakah.com/2010/01/11/ind-ver-intelligent-investor-kata-pengantar-1/"><span style="color:#0000ff;">bagian pertama</span></a></p>
<p style="text-align:center;"><strong>THE INTELLIGENT INVESTOR (revised Edition)</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>KATA PENGANTAR (2)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah pandangan yg telah lama dipegang, adalah kunci dari investasi yg sukses terletak pertama tama pada memilih sektor industri yang paling mungkin akan berkembang di masa depan, lalu kemudian mencari perusahaan yg paling menjanjikan dalam industri ini. Contohnya, investor-investor pintar telah sejak lama menyadari potensi pertumbuhan industry komputer (secara umum) dan juga potensi IBM (secara khusus). Tetapi dalam retrospeksi, ini tidaklah semudah yang kita bayangkan. Sebagai buktinya, kita akan melihat satu contoh dari edisi pertama buku ini (edisi 1 thn 1949)</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1984"></span>Pada edisi thn 49 buku ini, kami telah berusaha mengingatkan kepada para investor ttg resiko dalam industry angkutan udara <em>(Nikken: Pada tahun 1949, saat edisi pertama diterbitkan, industry angkutan udara sangat menarik bagi para calon investor. Ini karena ramalan-ramalan yg optimistis ttg potensi pertumbuhan industri angkutan udara.) </em>Pada tahun 70, meskipun lalu lintas udara mencatat angka rekor baru, perusahaan angkutan udara menderita kerugian sebesar $200 juta (lebih besar daripada rata-rata industri lain) karena kombinasi dari persoalan teknologi dan juga kapasitas yg berlebih. Kembali kepada contoh IBM, meskipun investasi dalam IBM memberikan hasil yg baik, pada kenyataannya banyak juga (malahan kebanyakan) dari investasi dalam sector komputer malah tidak memberikan keuntungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari kedua contoh di atas, <strong>kita bisa mengambil 2 moral </strong>:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Prospek pertumbuhan fisik suatu usaha bukanlah jaminan akan adanya keuntungan bagi investor</li>
<li style="text-align:justify;">Para ahli pun tidak mempunyai cara yg bisa diandalkan untuk memilih perusahaan mana yg paling baik prospeknya, atau industri mana yg paling menjanjikan.</li>
</ol>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-oOo&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan utama kami dalam buku ini adalah untuk menuntun pembaca untuk menghindari area-area yg bisa menimbulkan kesalahan-kesalahan besar, dan juga membantu mengembangkan kebijakan investasi yg cocok bagi mereka. Kami juga akan berbicara sedikit tentang psikologi investor. Ini karena <strong>musuh utama seorang investor adalah dirinya sendiri</strong>. Melalui berbagai contoh dan argumen, (bahkan melalui ibaan), kami berharap bisa membentuk suatu kondisi mental dan emosional yang baik dalam pembaca kami, yang akan membantu mereka dalam mengambil keputusan investasinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami telah melihat banyak kasus dimana &#8220;orang-orang biasa&#8221; dengan temperamen yg &#8220;cocok utk investasi&#8221; yang mampu menghasilkan dan menjaga keuntungan dalam investasinya. Sebaliknya juga kami telah melihat &#8220;orang-orang pintar&#8221; yang tidak mempunyai temperamen investasi mengalami kerugian besar, meskipun mereka mempunyai pengetahuan tentang finance, accounting dan juga pasar saham yang mendalam.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai tambahan, kami berharap utk menanamkan kebiasaan untuk mengukur/mengkuantifikasi. 99 dari 100 saham, pada satu tingkat harga tertentu boleh dikatakan &#8220;murah sekali&#8221; sehingga layak dibeli, dan pada tingkat harga lain boleh dikatakan &#8220;mahal sekali&#8221; sehingga harus dijual. Kebiasaan membandingkan harga yg kita bayar dengan apa yg kita dapatkan adalah suatu sifat yang sangat baik dalam investasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam suatu artikel kami dalam suatu majalah, kami pernah meminta pembaca untuk membeli saham-saham mereka dengan cara yg sama seperti ketika membeli sembako <em>(Nikken: Cari yg termurah)</em>, dan bukan dengan cara yg sama seperti ketika mereka membeli parfum <em>(Nikken: makin mahal makin gengsi)</em>. Kerugian-kerugian yg paling besar selama ini selalu timbul dalam saham dimana pembeli saham tersebut lupa bertanya &#8220;Berapa harganya?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Kami ingin menyarankan kpd pembaca untuk membatasi investasi saham mereka dalam saham saham yg harganya tidak jauh dari nilai asset-berwujud yg mereka miliki <em>(Nikken:</em> <em>misalnya gedung, stok barang, dll)</em>. Meskipun saran kami ini kedengarannya &#8220;kuno&#8221;, tetapi ada alasan praktis dan psikologisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Pengalaman telah mengajarkan kepada kami bahwa meskipun ada beberapa perusahaan &#8220;growth&#8221; <em>(Nikken: bg yg kurang tahu apa itu perusahaan &#8220;growth&#8221;, nanti tanya saja, kita bahas)</em>, pembeli saham saham perusahaan ini akan sangat dipengaruhi oleh fluktuasi di<em> </em>pasar saham. Sebaliknya investor dalam saham saham perusahaan semisalnya perusahaan utilitas-publik (perusahaan listrik,dll) bisa selalu memandang dirinya sebagai pemilik dari sebuah perusahaan yg &#8220;aman&#8221;, yg mereka beli dengan harga rasional, dan tidak perlu terlalu memperdulikan pasar.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-oOo&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align:justify;">Seni Investasi mempunyai suatu karakteristik yang secara umum tidak dihargai. Setiap investor itu bisa mencapai tingkat hasil yg &#8220;baik dan layak&#8221; meskipun &#8220;tidak spektakuler, hanya dengan usaha dan kemampuan yang minimum. Tetapi untuk meningkatkan hasil agar menjadi lebih dari sekedar &#8220;baik dan layak&#8221; ini, diperlukan kerja keras dan pengetahuan yang sangat dalam. Jika kita hanya mencoba utk &#8220;usaha lebih keras sedikit&#8221; dan juga &#8220;belajar lebih banyak sedikit&#8221;, kebanyakan hasilnya malahan lebih jelek. Karena semua orang bisa menyamai hasil/tingkat keuntungan dari pasar (Nikken : dengan instrumen spt index fund dan etf index), maka banyak orang yang salah sangka dan berpikir &#8220;buat mengalahkan index itu pasti mudah&#8221;. Tetapi pada kenyataannya sebagian besar dari orang-orang pintar yg mencoba untuk melakukan ini gagal besar. Demikian juga dengan Fund-fund investasi besar yang dikelola oleh berbagai institusi, dengan begitu banyaknya orang-orang &#8220;berpengalaman&#8221; di dalamnya, juga mengalami kegagalan dalam hal ini. Ini membuktikan bahwa ramalan-ramalan yg mereka buat terkadang masih kalah akurat daripada kita meramal dengan melempar koin.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam menulis buku ini, kami mencoba utk selalu mengingat tentang kesalahan-kesalahan dasar dalam investasi. Sebuah kebijakan portofolio yg sederhana (dengan membeli saham-saham unggulan dan juga obligasi grade tinggi) bisa dilakukan oleh semua orang dengan mudah. Jika kita ingin melakukan yang lebih daripada ini, kita harus menyadari besarnya resiko yg akan kita hadapi. Sebelum melakukan itu, kita harus menyadari dulu perbedaaan antara investasi dan spekulasi, juga perbedaan antara harga pasar dan &#8220;nilai sebenarnya&#8221; dari suatu perusahaan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1984/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1984/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1984/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1984/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1984/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1984/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1984/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1984/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1984/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1984/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1984&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2010/01/11/ind-ver-intelligent-investor-kata-pengantar-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99347e0abb95f706cfba65dd0e96dbc3?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">konobe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ind Ver &#8211; Intelligent Investor: Kata Pengantar [1]</title>
		<link>http://janganserakah.com/2010/01/11/ind-ver-intelligent-investor-kata-pengantar-1/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2010/01/11/ind-ver-intelligent-investor-kata-pengantar-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 10:17:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>konobe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Intelligent Investor]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1981</guid>
		<description><![CDATA[translated by Edison &#8211; posted by konobe Ini adalah terjemahan bebas dari bab Introduction Intelligent Investor oleh Bung Edison yang pernah di posting di thread JS @kaskus. Semoga bisa jadi  bahan bacaan yang berguna PS: terjemahan ini akan saya bagi menjadi 2 bagian. &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;oOo&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- THE INTELLIGENT INVESTOR (revised Edition) KATA PENGANTAR Tujuan dari buku ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1981&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#0000ff;"><strong>translated by Edison &#8211; posted by konobe</strong></span></p>
<p>Ini adalah terjemahan bebas dari bab Introduction Intelligent Investor oleh Bung Edison yang pernah di posting di thread JS @kaskus. Semoga bisa jadi  bahan bacaan yang berguna <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>PS: terjemahan ini akan saya bagi menjadi 2 bagian.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;oOo&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align:center;"><strong>THE INTELLIGENT INVESTOR (revised Edition)</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>KATA PENGANTAR</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan dari buku ini adalah untuk memberikan bimbingan dalam mengadopsi dan melaksanakan kebijakan investasi. Buku ini hanya akan berbicara sedikit tentang teknik analisa sekuritas; Fokus dari buku ini adalah terutama kepada prinsip-prinsip investasi dan perilaku/sikap seorang investor.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Buku ini ditujukan kepada investor (dan bukan kepada spekulator) dan tugas pertama kita adalah untuk menjelaskan perbedaan di antara keduanya</strong>. Kami ingin menekankan bahwa ini bukanlah buku &#8220;bagaimana mendapatkan $1 juta&#8221;. Tidak ada jalan menuju kekayaan yg mudah dan pasti, baik di Wall   Street maupun di mana saja. Sebagai pembuktian kalimat di atas, ada baiknya kita melihat sebuah contoh historis dari dunia finansial.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1981"></span>Pd tahun 1929, John J Raskob, seorang tokoh penting di   Wall Street, menulis sebuah artikel berjudul &#8220;Semua Orang Bisa Kaya&#8221;. Teorinya adalah dengan investasi hanya $15/bulan di saham-saham terkemuka -dengan dividen diinvestasikan kembali- akan menghasilkan kekayaan sebesar $80.000, dalam waktu 20 tahun, dari total investasi hanya sebesar $3600.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah teori ini benar?</p>
<p style="text-align:justify;">Perhitungan kasar -berdasarkan atas asumsi investasi dalam 30 stock dalam Dow Jones Index- memberikan hasil bahwa jika kita mengikuti &#8220;resep&#8221; Raskob di atas dari tahun 1929-1948 (periode 20 thn dari setelah artikel ini ditulis), maka pada awal tahun 1949, portofolio itu akan bernilai sekitar $8500. Tentu saja ini jauh sekali dari $80.000 yg dijanjikan Raskob. Ini menunjukkan bagaimana kita tidak bisa berpegang kepada ramalan-ramalan dan jaminan yg optimistis seperti di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi, sebagai catatan tambahan, kami juga ingin menyadarkan bahwa tingkat pengembalian dari operasi 20 tahun di atas, mencapai 8%/tahun compounded (bunga berbunga). Dan yg lebih hebatnya lagi adalah tingkat return ini dicapai dalam keadaan dimana ketika program investasi diatas dimulai, Dow Jones Index ada pada nilai 300, dan ketika program investasi ini berakhir, Dow Jones Index berada pada nilai 177. <em>(Nikken: artinya Dow jones lebih rendah dari saat kita memulai. Kita masuk di 300, tetapi setelah 20 thn index ada di 177 alias lebih rendah&#8230;tetapi dgn &#8220;resep&#8221; ini tetap bisa dapat return 8%/thn -dgn perhitungan bunga-berbunga pula)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Hasil di atas bisa kita artikan sebagai suatu pembuktian keampuhan prinsip investasi berkala per bulan dalam saham-saham unggulan, baik di masa &#8220;senang&#8221; maupun &#8220;susah&#8221;, &#8211; suatu program yg kita kenal sebagai &#8220;<strong>Dollar Cost Averaging</strong>&#8221; <em>(Nikken: pernah saya singgung dalam satu posting saya)</em></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;oOo&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align:justify;">Karena buku ini tidak ditujukan kepada spekulator, maka buku ini tidak ditujukan utk orang orang yg &#8220;trading&#8221;. Kebanyakan orang-orang ini dipandu oleh chart atau juga metode mekanik/teknikal lainnya dalam menentukan waktu yg tepat untuk menjual/membeli. <strong>Satu prinsip yg berlaku kepada hampir semua &#8220;pendekatan teknikal&#8221; ini adalah kita harus membeli &#8220;KARENA&#8221; sebuah saham telah naik, dan kita harus menjual &#8220;KARENA&#8221; saham itu telah turun</strong>. Ini sangat terbalik dari prinsip bisnis yg benar dalam bidang bisnis apa saja, dan praktek di atas kecil kemungkinannya akan bisa memberikan sukses yg berkepanjangan di Wall Street. Dalam pengalaman kami pribadi dan juga berdasarkan pengamatan kami selama 50 tahun, kami belum pernah mengenal satu orangpun yg secara konsisten bisa menghasilkan uang dengan &#8220;mengikuti pasar&#8221;. Kami bahkan tidak ragu untuk mengatakan metode ini sama sekali tidak bisa dipakai karena tidak benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Rontoknya pasar saham pada tahun 69-70 telah membuktikan betapa salahnya sebuah ilusi dalam masyarakat, yaitu bahwa saham bisa dibeli kapan saja dan pada tingkat harga berapa saja, dengan jaminan keuntungan, dan bahkan jika ada penurunan harga pun, akan bisa ditutupi oleh naiknya pasar ke tingkat yg lebih tinggi. Ini tentu saja &#8220;<strong>terlalu bagus/indah untuk dipercaya</strong>&#8220;.</p>
<p style="text-align:justify;">Di waktu lalu, kami telah membedakan antara dua tipe investor, &#8211; &#8220;<strong>Defensive/Pasif</strong>&#8221; dan &#8220;<strong>Enterprising/Aktif</strong>&#8220;. Tujuan utama Investor &#8220;Defensive&#8221; adalah menghindari kesalahan/kerugian yg serius. Tujuan tambahan/sampingan investor ini adalah kebebasan dari kerepotan dalam mengambil keputusan ttg investasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah ciri dasar seorang Investor &#8220;Enterprising&#8221; adalah kesediaannya untuk mencurahkan waktu dan pikiran untuk menseleksi sekuritas yg AMAN, dan JUGA lebih &#8220;atraktif&#8221;. Sebagai imbalan atas kerja keras dan waktunya ini, maka investor tipe ini bisa mengharapkan tingkat keuntungan yg lebih tinggi daripada investor &#8220;defensive&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://janganserakah.com/2010/01/11/ind-ver-intelligent-investor-kata-pengantar-2/"><span style="color:#0000ff;">bersambung ke bagian 2</span></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1981/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1981/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1981/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1981&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2010/01/11/ind-ver-intelligent-investor-kata-pengantar-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99347e0abb95f706cfba65dd0e96dbc3?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">konobe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diskusi &#8211; Intelligent Investor: Kata Pengantar</title>
		<link>http://janganserakah.com/2010/01/11/diskusi-intelligent-investor-kata-pengantar/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2010/01/11/diskusi-intelligent-investor-kata-pengantar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 23:32:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>konobe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Intelligent Investor]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1970</guid>
		<description><![CDATA[posted by Konobe Beberapa kali saya sempat membawa buku ini ketika berkumpul dengan beberapa teman. Ketika mereka menanyakan pada saya apa isi dari buku ini, yang mereka tangkap adalah buku ini berbicara mengenai chart. Saya tidak mengerti apakah karena memang penjelasan saya yang kurang baik (dikarenakan pemahaman yang masih sedikit) atau karena memang telah terjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1970&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong>posted by Konobe<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa kali saya sempat membawa buku ini ketika berkumpul dengan beberapa teman. Ketika mereka menanyakan pada saya apa isi dari buku ini, yang mereka tangkap adalah buku ini berbicara mengenai chart. Saya tidak mengerti apakah karena memang penjelasan saya yang kurang baik (dikarenakan pemahaman yang masih sedikit) atau karena memang telah terjadi pergeseran makna dalam dunia investasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1970"></span>Karena itu tidak salah rasanya sebelum kita mulai dengan bab I, ada baiknya kita mereview bab Introduction / Kata Pengantar dalam buku ini. Kenapa?  Bab Pengantar biasanya sering dijadikan resume keseluruhan oleh pengarang mengenai apa sebenarnya isi buku. Siapa target pembacanya dan poin-poin penting yang perlu diingat. Dan Graham pun melakukan hal yang sama.  Graham jelas sudah memberikan state dari awal mengenai target pembaca buku dan maksud pembuatan buku tersebut.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-oOo&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>&#8220;Buku ini ditujukan kepada investor (dan bukan kepada spekulator) dan tugas pertama kita adalah untuk menjelaskan perbedaan di antara keduanya</strong>. Kami ingin menekankan bahwa ini bukanlah buku &#8220;bagaimana mendapatkan $1 juta&#8221;. Tidak ada jalan menuju kekayaan yg mudah dan pasti, baik di Wall   Street maupun di mana saja.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jadi Note pertama dari buku ini yang saya rasa perlu kita ingat adalah mari kita pahami dulu bahwa seorang Investor berbeda dengan spekulator (pembahasan pada Bab 1). Dan buku ini jelas ditujukan bagi seorang investor. Bukan berarti seorang spekulator tidak boleh membaca. Hanya saja kata-kata ini ada untuk menghilangkan angan-angan tinggi pembaca spekulator yang mengharapkan jalan pintas untuk menjadi kaya,  misalnya dengan cara:  membaca chart.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-oOo&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tujuan utama kami dalam buku ini adalah untuk menuntun pembaca untuk menghindari area-area yg bisa menimbulkan kesalahan-kesalahan besar, dan juga membantu mengembangkan kebijakan investasi yg cocok bagi mereka. Kami juga akan berbicara sedikit tentang psikologi investor. Ini karena <strong>musuh utama seorang investor adalah dirinya sendiri</strong>.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Note kedua yang saya rasa perlu sekali kita ingat dalam bab introduction adalah Musuh utama seorang investor adalah dirinya sendiri. Karena itu, mempelajari buku ini lebih ditujukan untuk membuat diri kita menjadi lebih baik salah satunya dengan belajar dari kesalahan-kesalahan dasar yang pernah terjadi. Ibaratnya buku ini menyediakan sebagian bahan-bahan untuk dijadikan tameng dan senjata untuk berinvestasi. Tapi bagaimana membuatnya menjadi tameng dan senjata yang cocok akan tergantung dari masing-masing pribadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain kedua note diatas bab introduction juga cukup menarik karena pembelajaran mengenai kesalahan dasar sudah dimulai. Dari kasus kesalahan investasi dalam industri angkatan udara hingga prediksi yang berlebihan dalam return jangka panjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi yang memiliki buku ini beserta komentar dari Jason Zweig, ada baiknya juga membaca bagian tersebut. Kita akan menemukan beberapa contoh kasus tambahan yang cukup menarik yang terjadi selama kurun waktu tahun 1970-2000 yang tidak terpublish dalam tulisan Graham.</p>
<p style="text-align:justify;">So&#8230; any comment bout this chapter? Mungkin ada hal penting lain yang dirasakan berbeda? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1970/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1970/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1970/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1970/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1970/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1970/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1970/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1970/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1970/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1970/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1970&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2010/01/11/diskusi-intelligent-investor-kata-pengantar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99347e0abb95f706cfba65dd0e96dbc3?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">konobe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Investasi Lebih Dekat (part1)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/09/11/mengenal-investasi-lebih-dekat-part1/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/09/11/mengenal-investasi-lebih-dekat-part1/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Sep 2009 06:14:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alinaprimasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1877</guid>
		<description><![CDATA[article by Alina Artikel ini saya buat karena adanya pertanyaan dari salah satu pembaca blog. Di sebuah artikel  pembaca tersebut bertanya apakah &#8216;ini&#8217; termasuk investasi. Pasti semua sudah tahu apa yang dimaksud dengan &#8216;ini&#8217;. Hal ini membuat saya mencoba membuat artikel agar kita bisa mengetahui apa sih investasi tersebut, apa saja yang merupakan instrumen investasi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1877&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1881" title="investasi" src="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/09/investasi-emas.jpg?w=251&#038;h=216" alt="investasi" width="251" height="216" /></p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>article by Alina</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Artikel ini saya buat karena adanya pertanyaan dari salah satu pembaca blog. Di sebuah artikel  pembaca tersebut bertanya apakah &#8216;ini&#8217; termasuk investasi. Pasti semua sudah tahu apa yang dimaksud dengan &#8216;ini&#8217;. Hal ini membuat saya mencoba membuat artikel agar kita bisa mengetahui apa sih investasi tersebut, apa saja yang merupakan instrumen investasi, apa saja tipe investasi, dan bagaimana seharusnya proses dari sebuah investasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1877"></span>Ketika saya sedang berkeinginan membuat artikel ini, saya menemukan sebuah buku menarik yang bisa dijadikan sumber informasi mengenai investasi ini. Buku ini berjudul &#8220;Fundamentals of Investing&#8221; karangan Gitman &amp; Joehnk.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;oooO000&#8212;</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian besar pembaca blog kemungkinan besar telah menjadi Investor tanpa disadari. Jika seseorang mempunyai uang dan disimpan dalam rekening tabungan maka orang tersebut telah memiliki paling tidak 1 investasi atas namanya sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Hanya saja, return dari tabungan yang rata-rata 3% per tahun masih kalah oleh inflasi. Investasi adalah sebuah sarana menyimpan uang yang kita miliki dengan harapan akan memberikan tambahan pendapatan atau peningkatan nilai.</p>
<p>Ya, ada dua hal dasar yang ingin dihasilkan dari investasi, yaitu :</p>
<ol>
<li>Tambahan Pendapatan</li>
<li>Pertumbuhan Nilai Uang</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Uang yang disimpan dalam rekening tabungan menghasilkan tambahan pendapatan berupa bunga yang diberikan secara <em>periodic.</em> Saham sebagai sarana investasi diharapkan untuk naik harganya dari saat pembelian hingga saat penjualan, hal ini mencerminkan pertumbuhan nilai uang.</p>
<p><span style="color:#0000ff;"><strong>Tipe Investasi</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda. Hal ini pula yang membedakan tipe investasi yang akan diambil setiap orang. Investasi yang dipilih tergantung dari sumber dana, tujuan, dan kepribadian Investor. Kita bisa membedakan tipe investasi dari beberapa faktor.</p>
<ul>
<li><strong><em>Securities</em> atau <em>Property</em></strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><em>Securities</em> adalah investasi yang menggambarkan kepemilikan secara finansial. Secara garis besar <em>Securities </em>dibedakan menjadi dua :</p>
<ol>
<li><em>Debt</em> (Surat Hutang)</li>
<li><em>Equity</em> (Saham)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><em>Property</em> adalah investasi yang berupa kekayaan atau hak milik. <em>Property</em> dapat dibedakan menjadi dua :</p>
<ol>
<li><em>Real Property</em> (Tanah, Rumah, Gedung)</li>
<li><em>Tangible Personal Property</em> (Emas, Lukisan, Barang Antik)</li>
</ol>
<ul>
<li><strong><em>Direct</em> atau <em>Indirect</em></strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><em>Direct Investment</em> adalah ketika Investor secara langsung memiliki dan mengelola investasinya yang dapat berupa <em>securities</em> ataupun <em>property</em>. Pembelian dan pengelolaan dilakukan sendiri tanpa ada bantuan siapapun. Tentu saja Investor yang memilih tipe investasi ini harus memiliki ilmu yang cukup.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbeda dari <em>Direct Investment</em>, dalam <em>Indirect Investment</em> Investor menyewa seorang profesional untuk mengelola kumpulan <em>securities</em> atau <em>properties </em>yang dimilikinya.<em> </em></p>
<ul>
<li><strong><em>Debt, Equity</em> atau <em>Derivative</em></strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ketiga instrumen investasi ini termasuk dalam <em>Securities</em>. <em>Debt</em> merupakan instrumen investasi yang berupa surat hutang. Dapat digambarkan Investor meminjamkan uang untuk memperoleh kupon bunga yang dibayarkan secara rutin dan pengembalian uang pinjaman disaat jatuh tempo. Contoh <em>Debt</em> yang menjadi favorite adalah obligasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Equity</em> merupakan bagian kepemilikan dari suatu perusahaan. Dapat digambarkan Investor menyetor modal untuk jalannya bisnis perusahaan. Instrumen yang merupakan <em>equity</em> adalah saham. Harga saham dapat naik dan turun, pemilik saham bisa memperoleh keuntungan dari pertumbuhan harga saham ini jika mereka menjual saham mereka. Mereka juga mengharapkan keuntungan dari deviden. Deviden sendiri merupakan pembagian laba kepada pemegang saham, karena mereka juga dianggap sebagai pemilik perusahaan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Derivative</em> merupakan instrumen investasi turunan dari <em>debt</em> dan <em>equity.</em> Pada awalnya <em>derivative</em> terbentuk untuk melindungi atau mengurangi risiko dari asset Investor. Sebagian besar <em>derivative</em> merupakan <em>leveraged</em>, jadi ketika nilai <em>underlying</em>nya (<em>debt</em> atau <em>equity</em>) mengalami perubahan kecil, maka nilai <em>derivative</em>nya mengalami perubahan yang besar. Contoh dari instrumen ini adalah option, future, swap, rights, warran.</p>
<ul>
<li><strong><em>Low Risk</em> atau <em>High Risk</em></strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Investasi terkadang dibedakan dari risiko yang bisa dihadapi oleh Investor. Investor selalu dihadapkan oleh besaran risiko dari yang rendah hingga yang tinggi. Setiap instrumen investasi memiliki risiko yang berbeda, sebagai contoh, saham memiliki risiko lebih besar daripada obligasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Investasi berisiko rendah diharapkan untuk menghasilkan return yang selalu positif. Investor tidak mengharapkan hasil yang negatif ketika memilih instrumen ini. Investasi berisiko tinggi terkadang dianggap sebagai spekulasi . Adanya kemungkinan besar menghasilkan return negatif harusnya sudah diketahui oleh Investor yang memilih instrumen ini. Bagaimanapun juga, investasi yang memiliki risiko tinggi juga berpeluang menghasilkan return yang tinggi.</p>
<ul>
<li><strong><em>Short Term</em> atau <em>Long Term</em></strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Jangka waktu dalam berinvestasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu investasi jangka pendek dan investasi jangka panjang. Investasi jangka pendek merupakan investasi dengan waktu kurang dari 1 tahun. Instrumen investasi yang banyak digunakan dalam tipe investasi ini adalah tabungan, deposito atau Reksa Dana Pasar Uang. Likuiditas (kemudahan dalam mencairkan uang) menjadi alasan dasar memilih investasi ini. Instrumen ini sering digunakan sebagai tempat dalam menyimpan dana darurat.</p>
<p style="text-align:justify;">Investasi jangka panjang memiliki jangka waktu yang lebih lama, beberapa mensyaratkan lebih dari 3 tahun sudah dapat dikatakan investasi jangka panjang, ada juga yang menyatakan minimal 5 tahun. Instrumen investasi jangka panjang tidak memiliki batas waktu atau jatuh tempo. Instrumen investasi yang banyak digunakan dalam investasi ini adalah saham atau Reksa Dana Saham.</p>
<ul>
<li><strong><em>Domestic</em> atau <em>Foreign</em></strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Domestic investments berarti Investor melakukan investasi di dalam negeri dengan membeli produk investasi lokal. Foreign Investments berarti Investor melakukan investasi di luar negeri dengan membeli produk investasi luar. Saya yakin di Indonesia tidak sedikit Investor yang berinvestasi di luar, di US, Singapura, China.</p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan ada Investor Indonesia yang malah tidak mau berinvestasi di Indonesia ( pembaca blog lama pasti tahu <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  ). Hal inilah yang menjadi PR oleh regulator pasar modal kita, agar jumlah Investor lokal semakin banyak.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk bagian pertama sepertinya cukup di sini dulu, terlalu panjang nanti malah bikin pusing. Di bagian kedua nanti saya akan coba bercerita mengenai proses dari investasi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1877/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1877/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1877/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1877/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1877/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1877/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1877/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1877/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1877/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1877/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1877&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/09/11/mengenal-investasi-lebih-dekat-part1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4918104d04cc62fd10420c251de7842f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alina</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/09/investasi-emas.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">investasi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hadiah Cerita Dari Danau Loch Ness</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/06/02/hadiah-cerita-dari-danau-loch-ness/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/06/02/hadiah-cerita-dari-danau-loch-ness/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 14:35:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1745</guid>
		<description><![CDATA[Akhir-akhir ini, saya menerima &#8216;keluhan&#8217; kalau blog ini di bulan Mei kemarin jarang diupdate. Sebagai pembelaan saya,  alasan utama mengapa ini terjadi adalah karena di bulan Mei kemarin saya sedang &#8216;berkelana&#8217; ke negeri orang, tepatnya negara Ratu Elizabeth, alias Inggris Raya. Dan sebagai permintaan maaf saya karena &#8216;terlantarnya&#8217; blog ini di bulan lalu, maka saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1745&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Akhir-akhir ini, saya menerima &#8216;keluhan&#8217; kalau blog ini di bulan Mei kemarin jarang diupdate. Sebagai pembelaan saya,  alasan utama mengapa ini terjadi adalah karena di bulan Mei kemarin saya sedang &#8216;berkelana&#8217; ke negeri orang, tepatnya negara Ratu Elizabeth, alias Inggris Raya. Dan sebagai permintaan maaf saya karena &#8216;terlantarnya&#8217; blog ini di bulan lalu, maka saya akan memberikan hadiah dari negara seberang sana, yaitu sebuah cerita dari Skotlandia, tepatnya dari daerah Danau Loch Ness. Kebetulan dalam perjalanan kemarin, danau tersebut adalah salah satu tempat yang sempat saya kunjungi.</p>
<p style="text-align:center;">
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 250px"><img title="Danau Loch Ness" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/51/LochNessUrquhart.jpg/240px-LochNessUrquhart.jpg" alt="Loch Ness" width="240" height="159" /><p class="wp-caption-text">Loch Ness</p></div>
<p style="text-align:justify;"><em>(Tenang, kali ini artikel yg anda baca ini ada kaitannya dengan investasi <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  )</em><span id="more-1745"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian teman-teman mungkin sudah tahu mengenai danau Loch Ness dan penghuninya yang paling terkenal, <a title="Nessie di Wikipedia" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Loch_Ness_Monster" target="_blank">Nessie</a>. Nessie adalah nama panggilan dari &#8216;monster&#8217; yang dikatakan menghuni danau tersebut. Meskipun legenda Nessie sudah ada sejak lama, tetapi popularitasnya menggila sejak beredarnya sebuah fotonya di koran Daily Mail di tahun 1934 (yang dikemudian hari dibuktikan sebagai foto palsu)</p>
<p style="text-align:justify;">
<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 210px"><img title="Nessie" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/7/79/Lochnessmonster.jpg/200px-Lochnessmonster.jpg" alt="Nessie" width="200" height="185" /><p class="wp-caption-text">Nessie</p></div>
<p style="text-align:justify;">Sejak saat itu, ribuan orang telah berusaha untuk menjadi orang yang berhasil menangkap atau setidaknya menemukan bukti yang lebih kuat tentang keberadaan Nessie, tetapi semuanya gagal.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apa yang menarik tentang Nessie dan Loch Ness? Tour Guide saya menceritakan, bahwa meskipun terkesan sulit ditemukan (terbukti dari ribuan orang yang gagal di atas), sebenarnya Nessie itu sebenarnya sering muncul dan bisa dilihat dengan mudah, bahkan dia selalu muncul sehari dua kali!!! Nah mau tahu kapan waktunya Nessie muncul setiap harinya? Ok, tetapi jangan beritahu orang lain ya? Nessie selalu muncul di waktu berikut ini:</p>
<ul>
<li>5 menit SEBELUM anda sampai ke Loch Ness</li>
<li>5 menit SETELAH anda meninggalkan Loch Ness</li>
</ul>
<p>Demikianlah cerita tour guide saya.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apa kaitan cerita di atas dengan &#8216;Investasi&#8217;? Beberapa waktu lalu sempat ngobrol dengan salah satu pembaca blog ini. Kebetulan teman tersebut juga merupakan &#8216;fans&#8217; Graham seperti saya. Kami pun berbincang tentang rencana investasinya utk di masa depan. Dalam perbincangan itu, tanpa ia sadari berkata &#8220;<span style="text-decoration:underline;"><strong>COBA KALAU</strong></span> waktu kemarin index di 1100 saya beli saham ya?&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat itu, saya langsung teringat cerita Loch Ness dari tour guide saya. Bayangkan jika seandainya Nessie itu benar-benar ada, tetapi dia selalu muncul di waktu yang diceritakan di atas. Setiap orang yang datang ke danau itu pasti selalu pulang dengan kecewa dan salah satu dari 2 komentar di bawah ini :</p>
<ul>
<li><span style="text-decoration:underline;"><strong>COBA KALAU</strong></span> saya datang lebih awal 5 menit&#8230;, ataupun</li>
<li><span style="text-decoration:underline;"><strong>COBA KALAU</strong></span> saya pulang lebih lambat 5 menit&#8230;.</li>
</ul>
<p>Teman-teman mulai bisa melihat kaitan dari dua cerita tersebut?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya dalam cerita ini, ada dua &#8216;pelajaran&#8217; yang bisa kita petik.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang pertama, ada baiknya dalam perjalanan investasi kita, kita menghindari untuk mengatakan &#8216;COBA KALAU&#8217;. Mengucapkan dua kata tersebut terlalu sering, bisa berbahaya bagi kesehatan investasi anda. Tidak sedikit orang yang &#8216;memukuli&#8217; dirinya sendiri karena melewatkan <em>&#8216;kesempatan emas&#8217;</em>. Kerap kali ini lalu mempengaruhi pengambilan keputusannya di kemudian hari. Akal sehat tidak digubris lagi karena takut kelewatan <em>&#8216;kesempatan emas&#8217;</em> untuk kedua kalinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ada sebagian pembaca yang lalu berpikir, loh lalu apakah kita tidak boleh &#8220;belajar&#8221; dari kesalahan masa lampau? Tentu saja boleh, dan malahan sangat dianjurkan. Tetapi bagi kebanyakan orang, kata &#8220;COBA KALAU&#8221; itu umumnya diucapkan bukan dalam rangka &#8216;belajar&#8217;. Yang harus kita lakukan adalah bertanya &#8216;Apakah dulu itu saya salah? Dan jika salah, apa ya kesalahan saya?&#8217;. Dengan demikian kita (mudah-mudahan) tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Pelajaran kedua yang bisa kita petik di sini adalah, <span style="text-decoration:underline;">jika seandainya Nessie benar-benar ada</span> (PS: Ini hanya sekedar khayal saja ya?) dan ia datang sehari dua kali di waktu yang diceritakan di atas, bagaimana solusinya? Jangan hanya berkunjung ke Loch Ness dalam waktu yang singkat. Jika anda hanya ke sana selama 1-2 jam, atau bahkan 5 menit, anda pasti tidak akan bisa melihatnya. Belilah tenda, dan tinggal di pinggir danau tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa kaitan pelajaran kedua ini dengan investasi? Ini biar teman-teman pikirkan sendiri, tetapi biar saya bantu dengan sedikit petunjuk:</p>
<p style="text-align:center;"><span style="color:#ff0000;">Trading dan Market Timing</span> VS <span style="color:#0000ff;">Buy and Hold Forever </span></p>
<p style="text-align:justify;">Ayo, siapa yang mengerti? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1745/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1745/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1745/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1745&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/06/02/hadiah-cerita-dari-danau-loch-ness/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/51/LochNessUrquhart.jpg/240px-LochNessUrquhart.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Danau Loch Ness</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/thumb/7/79/Lochnessmonster.jpg/200px-Lochnessmonster.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Nessie</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mati Tertawa Ala Investor</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/05/11/mati-tertawa-ala-investor/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/05/11/mati-tertawa-ala-investor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 18:04:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[-INVESTASI vs SPEKULASI-]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1652</guid>
		<description><![CDATA[Sewaktu saya SMP dulu, ada sebuah seri buku kumpulan humor yang cukup populer dan bisa ditemukan dengan mudah di berbagai toko buku. Buku tersebut adalah buku seri &#8220;Mati Tertawa ala &#8230;&#8230;..&#8221;, misalnya saja Mati Tertawa ala Rusia, Mati Tertawa ala Amerika, ataupun Mati Tertawa ala ABG, dan lain sebagainya. Karena saya termasuk salah seorang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1652&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sewaktu saya SMP dulu, ada sebuah seri buku kumpulan humor yang cukup populer dan bisa ditemukan dengan mudah di berbagai toko buku. Buku tersebut adalah buku seri &#8220;Mati Tertawa ala &#8230;&#8230;..&#8221;, misalnya saja Mati Tertawa ala Rusia, Mati Tertawa ala Amerika, ataupun Mati Tertawa ala ABG, dan lain sebagainya. Karena saya termasuk salah seorang yang menyukai humor, saya pun cukup gemar mengikuti buku-buku seri tersebut.<em> &#8216;Terinspirasi&#8217;</em> oleh buku seri tersebut, artikel ini pun akhirnya saya namakan <strong>&#8216;Mati Tertawa Ala Investor&#8217;</strong>.</p>
<p>Jadi apa yang membuat saya <em>(hampir)</em> mati tertawa?<span id="more-1652"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Pagi ini, saya bersama keluarga sedang menikmati makan pagi di salah satu hotel di Jakarta. Sambil menikmati kopi, saya pun mulai membuka koran Kompas yang saya bawa dari kamar hotel. Di salah satu halaman harian tersebut, saya menemukan artikel karya <strong>Adler Haymans Manurung</strong>. Bagi yang tidak mengenal nama ini, Adler ini adalah seorang praktisi Pasar Modal dan Pengajar di beberapa Universitas terkemuka. Dia juga telah menulis beberapa buku, antara lain &#8220;Reksadana Investasiku&#8221;, dan&#8221;Financial Planner: Panduan Praktis Mengelola Keuangan Keluarga&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Artikel Adler sendiri di Kompas hari ini cukup menggelitik rasa ingin tahu saya. Judul artikel tersebut adalah &#8220;Bermain Saham Gorengan&#8221;. Karena penasaran apa pendapat Adler tentang &#8216;bermain saham gorengan&#8217;, saya pun mulai membaca artikel tersebut. Tetapi begitu membaca beberapa paragraf, saya pun tersedak kopi saya karena kaget dengan tulisan Adler tersebut. Berikut saya kutip beberapa bagian dari artikel tersebut : <em>(artikel tersebut bisa dibaca lengkap <a title="baca artikel lengkapnya" href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/10/03130662/Bermain.Saham.Gorengan" target="_blank">di sini</a>)</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saham goreng-gorengan dapat diperhatikan ketika bursa mulai buka.<em><strong> </strong><span style="color:#0000ff;">Tiga puluh menit pertama saham ini sangat bergejolak dan bisa membuat <span style="color:#ff0000;"><strong>investor</strong></span> ketakutan</span></em><span style="color:#0000ff;">.</span> Harga saham turun tajam mendekati batas suspens saham dan bergerak lagi naik menuju suspens batas atas saham tersebut.<em> <span style="color:#0000ff;"><strong><span style="color:#ff0000;">Investor</span></strong> yang sudah sering bertransaksi saham, bahkan yang suka berjudi, sangat cocok memerhatikan saham ini karena memberi keasyikan sendiri</span></em><span style="color:#0000ff;">.</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8230;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><em><strong>Investor</strong></em></span> yang bertransaksi di bursa sering kali mendengar rumor yang membuat harga saham bergerak naik atau turun. <span style="color:#0000ff;"><em>Bahkan, ada<strong><span style="color:#ff0000;"> investor</span></strong> hanya mengandalkan rumor untuk mendapat keuntungan dalam bermain saham di bursa.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8230;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;"><strong><span style="color:#ff0000;">Investor</span></strong> yang piawai dan sangat mengenal berinvestasi dan bertransaksi saham di bursa sering juga bertransaksi menggunakan margin</span></em>. Artinya, investor bisa membeli saham beberapa kali dari dana yang dimiliki.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8230;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">Bila<strong> <span style="color:#ff0000;">investor</span></strong> melihat harga drop 20 persen dan tidak ada kejadian atau rumor jelek beredar yang membuat harga lebih jatuh esok harinya, <strong><span style="color:#ff0000;">investor</span></strong> ancang-ancang untuk beli. Kemudian, ketika saham ini naik tajam lagi dan melebihi 15 persen dari harga sehari sebelumnya, investor sudah saatnya keluar dan dapat merealisasikan keuntungan yang tinggi</span>.</em> Bila tindakan ini dilakukan dengan jumlah besar dan tepat, <strong><span style="color:#ff0000;">investor</span></strong> akan memperoleh untung besar dan bisa memberikan dana pensiun <span style="color:#ff0000;"><strong>investor</strong></span> sehingga <strong><span style="color:#ff0000;">investor</span></strong> bisa bebas dari masalah finansial.<span style="color:#0000ff;"><em></em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalau seseorang mengatakan kepada anda, bahwa ia:</p>
<ul>
<li>Merasa takut karena saham yang dibelinya bergejolak dalam 30 menit pertama bursa dibuka.</li>
<li>Hanya mengandalkan rumor untuk mendapatkan keuntungan dalam<em> &#8216;bermain&#8217;</em> (???) saham di bursa.</li>
<li>Membeli saham &#8216;gorengan&#8217; beberapa kali lipat dari dana yang ia miliki, dengan menggunakan margin.</li>
<li>Membeli saham hanya karena harga saham tersebut hari ini sudah turun 20% dan tidak ada kejadian atau rumor jelek beredar yang bisa membuat harga saham tersebut LEBIH turun lagi BESOK.</li>
<li>Membeli saham hari ini, dan berharap bisa menjual saham tersebut besok&#8230;&#8230;</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">maka apakah yang akan ada di kepala anda? Apakah orang tersebut adalah seorang Investor atau Spekulator (tanpa ia sadari)? Apakah yang dilakukan orang tersebut merupakan Investasi atau Spekulasi? Apakah benar dengan cara seperti ini, seseorang bisa mendapatkan &#8220;kebebasan finansial&#8221;? Atau malahan kemungkinan besar ia akan terkena &#8220;malapetaka finansial&#8221; (cepat atau lambat)?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Membaca apa yang ditulis oleh Adler tersebut, mau tidak mau saya kembali teringat kepada tulisan Ben Graham di bab I &#8220;The Intelligent Investor&#8221;. Dalam bab tersebut, Graham menulis tentang keadaan di Amerika pada tahun 1970-an :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Media massa pada saat ini menggunakan kata &#8220;investor&#8221; dalam hal-hal ini, karena pada saat ini di Wall Street, setiap orang yg membeli atau menjual saham telah dianggap sebagai investor, tanpa memperdulikan apa yang dia beli, harga belinya, ataupun metodenya (cash atau margin)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Yang membuat saya <em>&#8216;tertawa&#8217;</em> (miris), adalah karena apa yang sedang terjadi di negara kita ini adalah apa yang justru dikritik oleh Graham pada waktu itu. Kata <span style="color:#0000ff;"><strong>&#8216;Investor&#8217;</strong></span> dan <strong><span style="color:#0000ff;">&#8216;Investasi&#8217; </span></strong>diobral dengan mudah, seperti yang bisa terlihat dalam artikel Adler tersebut, meskipun praktek-praktek yang disinggung itu adalah justru praktek spekulasi. Jika seorang Adler Haymans Manurung (yg konon kabarnya kerap dicap sebagai &#8220;bapak Reksadana Indonesia&#8221;) saja tidak membedakan antara Investasi dan Spekulasi, bagaimana dengan khalayak umum?</p>
<p style="text-align:justify;">Jika masyarakat beramai-ramai melakukan apa yang diceritakan oleh Adler dalam artikelnya tersebut, maka di masa depan (cepat atau lambat), saya pasti akan terpaksa menulis artikel dengan judul <span style="color:#0000ff;"><strong>&#8220;Mati Menangis Ala Spekulator&#8221;</strong></span> karena banyaknya orang yang <em>&#8216;mati&#8217;</em> akibat spekulasi seperti ini.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir artikel ini, saya pikir mungkin ada baiknya saya membagi <span style="text-decoration:underline;">sebagian</span> dari apa yang telah dituliskan oleh Ben Graham dalam bab I &#8220;The Intelligent Investor&#8221;. Bab ini merupakan salah satu bab favorit saya. Dengan membaca tulisan Graham tersebut, mudah-mudahan anda bisa lebih mengerti apa yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PS:</strong> <em><span style="text-decoration:underline;">Ini merupakan terjemahan yang saya lakukan sendiri dari buku The Intelligent Investor bahasa Inggris, Revised edition</span>. Mungkin akan sedikit berbeda dibandingkan jika anda membaca versi Indonesia buku tersebut. Dalam melakukan terjemahan/rangkuman ini, saya akan selalu berusaha untuk memakai terjemahan  langsung, tetapi jika saya merasa terjemahan langsung akan sulit dimengerti oleh banyak orang, saya akan menggunakan bahasa yg lebih sederhana. Saya juga akan membuang beberapa kalimat ataupun paragraph yg saya rasa agak repetitive ataupun tidak terlalu penting.</em></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<h2 style="text-align:center;">THE INTELLIGENT INVESTOR</h2>
<p style="text-align:center;"><strong>Ben Graham<br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB I: Investasi versus Spekulasi </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong> Apa yg dimaksud dengan &#8220;investor&#8221;? Dalam buku ini, kata &#8220;investor&#8221; akan dipakai secara  berlawanan dari kata &#8220;Spekulator&#8221;. Dalam buku kami &#8220;Analisa Sekuritas&#8221; (1934), kami mencoba memformulasikan perbedaan keduanya sebagai berikut :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Investasi adalah sebuah operasi yang, melalui analisa yg mendalam, menjanjikan  keamanan modal pokok dan juga tingkat pengembalian (return/hasil) yg LAYAK.  Operasi yang tidak memenuhi persyaratan di atas adalah spekulasi.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Meskipun kami telah berpegang kepada definisi di atas selama masa 38 thn (1934-1972), selama periode ini ada suatu perubahan radikal yg terjadi dalam penggunaan kata &#8220;Investor&#8221;. Setelah periode 1929-1932, <em>(<strong><span style="color:#0000ff;">Edison: </span></strong>Bursa saham USA rontok pada masa tersebut)</em> masyarakat secara luas menganggap bahwa semua saham itu bersifat spekulasi. Seorang pakar ekonomi pada saat itu bahkan menyatakan bahwa hanya obligasi yang pantas disebut sebagai investasi dan hanya pembeli obligasi yg pantas disebut &#8220;investor&#8221;.  Pada saat itu definisi investasi kami dianggap terlalu &#8220;longgar&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat ini (1972), keadaannya justru terbalik. Kami ingin melindungi para pembaca dari penyalah-gunaan kata &#8220;investor&#8221;, dimana trend pada saat ini adalah semua orang yg <em>&#8216;bermain&#8217;</em> di pasar saham disebut &#8220;investor&#8221;. Dalam edisi terdahulu buku ini, kami ada  mengutip sebuah artikel dalam jurnal finansial terkemuka terbitan Juni 1962: <strong>&#8220;Investor kecil Bearish, Mereka melakukan short-selling saham&#8221;</strong>. Kini pada Oktober 1970, jurnal yang  sama memuat sebuah artikel tentang <strong>&#8220;Reckless investor/Investor gegabah yang mulai membeli saham&#8221;. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>(<span style="color:#0000ff;"><strong>Edison:</strong></span> &#8220;Bearish&#8221; adalah kondisi dimana para pelaku dalam pasar saham itu pesimis dan berpendapat bahwa saham akan turun. Kebalikan dari ini adalah &#8220;Bullish&#8221;. Short-sell secara sederhana adalah praktek dimana seseorang yg &#8220;bearish&#8221; itu meminjam saham dari orang lain (dgn membayar fee), lalu menjual saham itu dengan harapan harga saham itu di kemudian hari akan turun. Jika itu terjadi, dia bisa membeli kembali saham itu dengan harga lebih murah utk dikembalikan ke pemilik saham. Selisih antara harga jual (tinggi) dengan harga beli  (rendah) ini menjadi keuntungan bagi si short-seller itu.)<br />
</em><br />
Kedua artikel di atas melukiskan kekacauan dalam penggunaan kata &#8220;investasi&#8221; dan &#8220;spekulasi&#8221; selama ini. Bandingkan definisi &#8220;investasi&#8221; kami dengan perilaku masyarakat di atas. Bagaimana suatu operasi bisa dikatakan sebagai &#8220;investasi&#8221; bila dilakukan oleh orang yg tidak berpengalaman, yang bahkan tidak memiliki barang yg dia jual, dan hanya berdasarkan kepada keyakinan emosional (firasat) bahwa dia akan bisa membeli kembali barang yg dia jual dengan harga yg lebih murah? (Kami ingin mengingatkan kembali bahwa pada tahun 1962 itu, pasar telah jatuh sangat rendah dan justru akan kemudian naik dengan drastis. Masa itu adalah masa paling salah utk melakukan &#8220;short-sell&#8221;)</p>
<p style="text-align:justify;">Artikel kedua yg memakai kata &#8220;investor gegabah&#8221; itu juga bisa ditertawakan karena kontradiksi (pertentangan) diantara kedua kata tersebut. Ini sama halnya seperti jika kita berkata &#8220;orang hemat yang boros&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Media massa pada saat ini menggunakan kata &#8220;investor&#8221; dalam hal-hal ini, karena pada saat ini di Wall Street, setiap orang yg membeli atau menjual saham telah dianggap sebagai investor, tanpa memperdulikan apa yang dia beli, harga belinya, ataupun metodenya (cash atau margin). Bandingkan kondisi ini dengan kondisi pada tahun 1948, dimana dalam suatu survey, 90% orang mempunyai pandangan negatif tentang saham, dengan berbagai alasan spt &#8220;tidak aman&#8221;, &#8220;spekulatif&#8221;, &#8220;spt judi/gambling&#8221; dan &#8220;tidak paham tentang saham&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Sangat ironis (meskipun tidak mengherankan) bahwa saham justru dianggap &#8220;spekulatif&#8221; di saat mereka dijual dengan harga yg sangat murah dan &#8220;atraktif&#8221;. Ironis juga bagaimana sebaliknya justru ketika saham naik ke tingkat harga yg tinggi (mahal) dan &#8220;berbahaya&#8221;, saham justru dianggap sebagai &#8220;investasi&#8221; dan semua pembeli saham disebut sebagai &#8220;investor&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembedaan antara &#8220;investasi&#8221; dan &#8220;spekulasi&#8221; adalah sesuatu yg sangat penting, dan semakin menghilangnya pembedaan ini merupakan sesuatu yg sangat mengkhawatirkan. Kami sering berkata bahwa Wall Street sebagai suatu institusi seharusnya membedakan &#8220;investasi&#8221; dan &#8220;spekulasi&#8221; dan menginformasikan perbedaan keduanya kepada publik. Jika tidak, suatu hari, bursa saham bisa disalahkan atas kerugian spekulatif yang besar, yang diderita oleh orang-orang yang tidak diperingatkan tentang perbedaan antara investasi dan spekulasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami percaya bahwa pembaca buku ini akan mendapatkan sebuah gambaran yg cukup jelas tentang resiko-resiko yg terkait dalam investasi saham. Resiko ini merupakan bagian yg tidak terpisahkan dari peluang Profit/Untung yang ditawarkan, dan harus menjadi bagian dari perhitungan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang investor harus mengenali bahwa di sebagian besar waktu, akan ada faktor spekulatif dalam investasi saham. Tugas seorang investor adalah menjaga agar komponen spekulatif ini di tingkat yg minimum, dan mempersiapkan diri secara finansial dan psikologis utk hasil yg buruk, yg mungkin saja hanya sementara, ataupun juga berlangsung agak lama.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu catatan penting, yaitu kita harus membedakan antara spekulasi saham murni dengan faktor spekulatif yg terkandung dalam hampir setiap saham. Spekulasi murni bukanlah sesuatu yang illegal atau juga immoral, tetapi juga biasanya tidak membuat dompet anda lebih tebal (bagi kebanyakan orang).</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti halnya di dunia ini ada &#8220;Intelligent Investing&#8221; (Investasi dengan cerdik), ada juga &#8220;Intelligent Speculation&#8221; (Spekulasi dengan cerdik). Tetapi ada banyak kondisi dimana spekulasi itu menjadi sesuatu yg &#8220;tidak cerdik&#8221; (BODOH). Kondisi-kondisi itu terutama :</p>
<ol>
<li>Berspekulasi dengan berpikir bahwa anda sedang berinvestasi (Tidak sadar kalau sebenarnya sedang berspekulasi).</li>
<li>Berspekulasi secara serius (bukan sbg &#8220;hiburan&#8221;), padahal ilmu, pengetahuan dan kemampuannya tidak mencukupi utk itu.</li>
<li>Berspekulasi dalam jumlah yang terlalu besar, padahal sebenarnya kita tidak mampu utk kehilangan uang sejumlah itu.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dalam pandangan kami, setiap non-profesional yang ber&#8221;main&#8221; saham dengan margin <em>(<span style="color:#0000ff;"><strong>Edison:</strong></span> secara sederhana, membeli dengan margin itu berarti membeli saham dengan meminjam uang dari broker)</em>, harus sadar bahwa sebenarnya dia itu berspekulasi (atau lebih parah lagi berjudi). Demikian juga  dengan orang-orang yg membeli saham yang sedang &#8220;hot&#8221; tanpa analisa.</p>
<p style="text-align:justify;">Spekulasi memang mengasyikkan, terutama jika kita sedang menang. Jika anda ingin mencoba keberuntungan anda, pisahkan sebagian uang anda -semakin sedikit semakin baik- sebagai dana utk spekulasi. Jangan pernah menambahkan uang ke dalam dana ini hanya karena anda sedang menang. Itu justru saatnya untuk menarik sebagian uang dari dana spekulasi tersebut. <em>(<span style="color:#0000ff;"><strong>Edison:</strong></span> Terlebih lagi jika kita kalah&#8230;.jangan kita justru menambah uang utk spekulasi ini)</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan pernah mencampurkan dana utk investasi dan dana utk spekulasi anda! Juga jangan pernah mencampurkan investasi dan spekulasi dalam otak anda!</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1652&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/05/11/mati-tertawa-ala-investor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>102</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Investor atau Spekulator?</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/05/06/investor-atau-spekulator/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/05/06/investor-atau-spekulator/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 May 2009 11:45:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alinaprimasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1640</guid>
		<description><![CDATA[WHAT THEY SAID Never buy a stock immediately after a substantial rise or sell one immediately after a substantial drop Benjamin Graham Article by Alina 2 tahun lalu, ketika bursa saham sedang dalam trend kenaikan (bullish) dan indeks sedang mencetak rekor tertinggi, seorang pemuda melihat keuntungan yang diperoleh para ‘investor’ yang berinvestasi sejak awal 2007. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1640&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>WHAT THEY SAID</strong></p></blockquote>
<blockquote><p><em>Never buy a stock immediately after a substantial rise or sell one immediately after a substantial drop</em><strong></strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Benjamin Graham</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Article by <span style="color:#0000ff;">Alina</span><br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">2 tahun lalu, ketika bursa saham sedang dalam trend kenaikan (<em>bullish</em>) dan indeks sedang mencetak rekor tertinggi, seorang pemuda melihat keuntungan yang diperoleh para <em>‘investor’</em> yang berinvestasi sejak awal 2007. Tanpa pengetahuan berinvestasi yang mencukupi ditambah Ia baru saja memperoleh dana, Ia pun berpikir untuk  mencoba peruntungannya terjun dan <em>‘berinvestasi’</em> di bursa saham. Si pemuda pun senang merasa telah menjadi seorang <em>‘investor’</em> di bursa saham dan berharap memperoleh keuntungan yang sama besar seperti para <em>‘investor’</em> sebelumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Belum genap satu tahun Ia berinvestasi, kecemasan, penyesalan, dan berbagai pertanyaan berkecamuk dalam dirinya. Kenapa bursa saham malah mengalami trend penurunan (<em>bearish</em>)? Apa yang salah dengan investasinya sehingga mengalami kerugian begitu banyak? Si pemuda akhirnya bertemu dengan om Ben (<em>Benjamin Graham</em>).<span id="more-1640"></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#339966;">Si Pemuda </span></strong> : Kenapa investasi saya mengalami kerugian?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#0000ff;">Om Ben </span></strong> : Kamu melakukan kesalahan fatal dalam berinvestasi. Kamu membeli di saat harga saham  sudah terlalu tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#339966;">Si Pemuda </span> </strong> : Lalu apa yang harus saya lakukan saat ini?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#0000ff;">Om Ben </span></strong> : Ubah cara kamu berinvestasi, gunakan metode <em>Dollar Cost Averaging</em> (DCA). Membeli sedikit-demi sedikit dengan jumlah uang yang sama secara rutin setiap bulan, tanpa memperhatikan gerakan pasar yang sedang naik atau turun.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#339966;">Si Pemuda </span></strong> : Kapan saya harus memulai metode ini?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#0000ff;">Om Ben </span></strong> : Lakukan mulai saat ini jangan perhatikan gerakan pasar yang sedang naik atau turun.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#339966;">Si Pemuda </span></strong> : Baik Om Ben.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Si Pemuda sudah memperoleh pengetahuan dari Benjamin Graham tentang bagaimana cara berinvestasi bagi seorang investor. Namun si pemuda masih tetap khawatir dengan trend penurunan bursa saham yang masih terus berlanjut. Ia pun memutuskan untuk menunggu trend penurunan bursa saham berakhir. Meskipun Ia sedang memiliki dana untuk memulai DCA di bursa saham, Ia malah memilih berinvestasi secara aman di Obligasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika bursa saham mulai mengalami trend kenaikan trauma masa lalu masih menghantui dirinya. Bayangan kerugian yang pernah terjadi membuat Ia menunggu <em>‘waktu yang tepat’</em> untuk kembali memulai berinvestasi di bursa saham, meskipun Ia sendiri tidak tahu kapan waktu itu akan datang.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini, Ia belum juga memulai kembali untuk berinvestasi di bursa saham. Kembali kecemasan, penyesalan, dan berbagai pertanyaan berkecamuk dalam dirinya karena bursa saham terus naik. Apakah bursa saham sudah memasuki trend kenaikan (bullish)? Apakah sekarang waktu yang tepat untuk memulai metode DCA seperti yang disarankan Om Ben? Kenapa Ia idak memulai metode DCA dari dulu sehingga bisa menikmati keuntungan saat ini?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;-00O00&#8212;-</p>
<p style="text-align:justify;">Cerita di atas hanya sebuah ilustrasi yang mungkin sedang banyak terjadi saat ini. IHSG yang memcapai rekor tertingginya pada Januari 2008 tiba-tiba turun tajam pada Oktober 2008, kurang dari satu tahun. Namun kini IHSG kembali perkasa dan telah naik lebih dari 60% dari titik terendahnya di September 2008. Banyak orang yang ingin menjadi <em>‘investor’ </em>di bursa saham memiliki rasa khawatir akan kembali jatuhnya bursa saham. Tanpa mereka sadari, rasa khawatir dari fluktuasi pasar telah membuat mereka menjadi seorang spekulator.</p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan paling realistis antara investor dan spekulator ada pada perilaku mereka terhadap pergerakan pasar saham. Kepentingan utama seorang spekulator terletak pada tindakan antisipasi dan pengambilan keuntungan dari fluktuasi pasar. Seorang investor sadar bahwa harga sahamnya akan berfluktuasi dan tidak merasa khawatir oleh penurunan besar, juga tidak akan girang dengan kenaikan tajam. Ia akan selalu ingat bahwa harga pasar akan selalu memihaknya. Ia tidak akan pernah membeli saham karena harganya naik, atau menjualnya karena harga turun.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia tidak akan pernah membuat membuat kesalahan besar jika mengikuti moto sederhana ini : “<strong>Jangan pernah membeli saham segera setelah terjadi kenaikan substansial atau menjual saham segera setelah terjadi penurunan substansial”</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1640/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1640/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1640/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1640&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/05/06/investor-atau-spekulator/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>68</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4918104d04cc62fd10420c251de7842f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekilas Tentang Repo (Repurchase Agreement)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/04/24/sekilas-tentang-repo-repurchase-agreement/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/04/24/sekilas-tentang-repo-repurchase-agreement/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Apr 2009 04:16:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alinaprimasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Instrumen Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1460</guid>
		<description><![CDATA[Article by Alina Beberapa bulan terakhir, transaksi Repo kerap diangkat di berbagai berita ekonomi. Kasus Antaboga misalnya, termasuk salah satu kasus yang melibatkan transaksi repo.  Tetapi apakah teman-teman pembaca blog ini tahu apa itu  Transaksi Repo? Aritkel ini akan mencoba menjelaskan secara sederhana apa itu sebenarnya transaksi Repo. Repurchase Agreement atau Repo dapat dikatakan sebagai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1460&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Article by <span style="color:#0000ff;">Alina</span></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa bulan terakhir, transaksi Repo kerap diangkat di berbagai berita ekonomi. Kasus Antaboga misalnya, termasuk salah satu kasus yang melibatkan transaksi repo.  Tetapi apakah teman-teman pembaca blog ini tahu apa itu  Transaksi Repo? Aritkel ini akan mencoba menjelaskan secara sederhana apa itu sebenarnya transaksi Repo.</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>Repurchase Agreement</strong></em> atau Repo dapat dikatakan sebagai perjanjian meminjam uang dengan suatu jaminan. Dalam hal ini, jaminannya umumnya berupa instrumen investasi di pasar modal, seperti : saham, SUN, obligasi korporasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh sederhananya: Misalkan si A sedang butuh dana dalam waktu cepat. Si A meminjam sejumlah dana kepada si B. Si A memberikan jaminan kepada si B berupa saham yang dimiliknya. Nantinya ketika si A sudah mengembalikan dana yang dipinjam ditambah bunga yang disepakati si B akan mengembalikan saham yang dijaminkan kepada B. Nah jika si A tidak bisa mengembalikan dana yang dipinjam, maka saham A akan &#8216;disita&#8217; dan menjadi milik si B.<span id="more-1460"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;ooO00&#8212;</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum transaksi Repo terjadi akan dibuat dulu ketentuan-ketentuan yang disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat. Secara sederhana instrumen yang terlibat dalam transaksi Repo ada 5 hal :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong><em>Seller</em></strong> (pihak yang butuh dana)</li>
<li><strong><em>Buyer </em></strong>(pihak yang meminjamkan dana)</li>
<li><strong>Nilai Repo </strong>(Jumlah uang yang akan dipinjamkan)</li>
<li><strong>Instrumen Efek</strong> (yang dijadikan jaminan, bisa berupa SUN, Obligasi Korporasi, SBI, atau Saham)</li>
<li><strong>Bunga</strong> (besarnya &#8216;imbalan&#8217; bagi pihak yang meminjamkan dana)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dari segi waktu jatuh temponya, Repo terbagi atas 3 jenis, yaitu :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong><em>Overnight</em></strong> (jatuh tempo dalam satu hari)</li>
<li><strong><em>Term</em></strong> (jatuh tempo dalam kurun waktu tertentu)</li>
<li><strong><em>Open Repo</em></strong> (tidak ditentukan waktu jatuh temponya)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dari segi transaksinya, Repo terbagi atas 2 jenis, yaitu :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong><em>Classic Repo</em></strong> : Transaksi Repo tanpa terjadi kepindahan kepemilikan efek, efek tetap berada di pihak penjual. Efek tersebut tidak dapat dijual sebelum Repo tersebut jatuh tempo.</li>
<li><em><strong>Sell/Buy Back Repo</strong></em> : Transaksi Repo yang melibatkan transfer efek dan dana antara pihak penjual dan pihak pembeli.</li>
</ol>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam transaksi Repo, umumnya nilai transaksi Repo akan berada di bawah nilai jaminannya. Salah satu yang mempengaruhi nilai transaksi Repo ini tentunya adalah jenis <em>&#8216;jaminannya&#8217;</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh, untuk untuk Repo Obligasi misalnya, nilai transaksi Reponya bisa berkisar di sekitar 70% dari nilai obligasinya. Jika nilai Obligasi yang dijaminkan Rp 1 milyar, maka nilai uang yang bisa dipinjam sebesar Rp 700 juta. Sebaliknya untuk Repo Saham, nilai Reponya mungkin akan berkisar sebesar 50% dari nilai saham yang dijaminkan. Jika nilai saham yang dijaminkan adalah Rp 1 milyar, maka uang yang akan dipinjamkan hanya sebesar Rp 500 juta.</p>
<p style="text-align:justify;">Ini tentunya wajar, karena harga obligasi biasanya lebih stabil dan pergerakannya tidak terlalu fluktuatif dibandingkan dengan harga saham.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal lain yang akan mempengaruhi nilai transaksi Repo tentunya juga adalah <em>&#8216;kualitas&#8217;</em> dari barang jaminannya. Jika kita menjaminkan saham Coca-Cola misalnya, nilai yang bisa kita dapatkan tentunya akan lebih tinggi dibandingkan dengan saham PT. Antah Berantah.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oO0&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi mengapa akhir-akhir ini transaksi Repo banyak dibicarakan? Sebagian besar transaksi Repo yang jadi pemberitaan adalah transaksi Repo dengan instrumen efek jaminannya berupa saham. Kenapa yang jaminan saham ini jadi masalah? Turunnya nilai saham-saham IHSG menjadi jawabannya. Agar lebih jelas simak ilustrasi berikut ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Perusahaan A sedang mengalami kesulitan dana, untuk memperoleh dana, pada 20 April 2009 perusahaan A mengajukan Repo ke perusahaan Z dengan ketentuan sebagai berikut :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Asset yang digadaikan berupa saham PTJS sebanyak 1 juta lembar dengan harga per lembar saham saat penawaran Repo Rp10,000, jadi nilai asset total Rp 10 milyar.</li>
<li>Nilai Repo yang ditawarkan bernilai Rp 5 milyar (50%).</li>
<li>Jangka waktu 3 bulan.</li>
<li>Bunga 12% per tahun.</li>
<li>Tipe Repo yang digunakan adalah <em><strong>Sell/Buy Back Repo.</strong></em></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Setelah 2 bulan atau pada 20 Juni 2009 harga saham PTJS turun menjadi Rp 6,000. Asset jaminan Perusahaan A nilainya juga turun menjadi Rp 6 milyar atau hanya Rp 1 milyar di atas nilai Repo. Artinya, nilai uang yang dipinjamkan kini sudah menjadi 83% dari nilai  barang yang dijaminkan.  Perusahaan Z tentunya khawatir, karena jika harga saham PTJS turun terus, bisa-bisa nilai barang jaminannya malah akan dibawah uang yang sudah dipinjamkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab ini, Perusahaan Z pun meminta Perusahaan A untuk menambah jaminan sahamnya (top up) kepada Perusahaan Z. Misalkan dalam hal ini jaminan yang ditambahkan adalah 650 ribu lembar saham PTJS. Dengan demikian total asset penjaminan kembali naik menjadi Rp 9,9 milyar (yaitu nilai pasar 1 juta + 650 ribu lembar PT JS). Nilai Repo  kini kembali menjadi 51% dari nilai penjaminan.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah 3 bulan atau pada 20 Juli 2009 kontrak Repo berakhir. Perusahaan A harus mengembalikan uang Perusahaan B sejumlah Rp 5 milyar + bunga Rp 150 juta (<em>terkadang bunga dibayar per bulan</em>). Perusahaan Z  juga harus mengembalikan saham PTJS sejumlah 1,65  juta lembar kepada Perusahaan A.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah bagaimana jika Perusahaan A tidak mampu menambah jaminan sahamnya ? Perusahaan Z bisa menjual saham PTJS yang menjadi jaminannya bila khawatir nilai saham PTJS akan terus turun dalam waktu dekat. Karena jumlah saham yang dijaminkan biasanya banyak, penjualan saham ini bisa menekan harga saham di pasar untuk turun lebih dalam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1460/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1460/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1460/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1460&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/04/24/sekilas-tentang-repo-repurchase-agreement/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4918104d04cc62fd10420c251de7842f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">alina</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Economic Moat: Ciri Saham &#8216;Tahan&#8217; Serangan</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/03/20/economic-moat-ciri-saham-tahan-serangan/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/03/20/economic-moat-ciri-saham-tahan-serangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Mar 2009 16:42:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investor Aktif]]></category>
		<category><![CDATA[Saham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1332</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai seseorang yang senang membaca, salah satu topik yang paling menarik minat saya (selain topik investasi tentunya) adalah &#8216;seni perang&#8217;, terutama dalam perang di &#8216;jaman dahulu kala&#8217;. Sejak sekitar kelas 4 SD,  nama-nama &#8216;seniman perang&#8217; seperti Zhuge Liang, Sun Tzu, Alexander, Nobunaga Oda, dan Genghis Khan lebih melekat di kepala saya dibandingkan dengan nama-nama seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1332&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebagai seseorang yang senang membaca, salah satu topik yang paling menarik minat saya <em>(selain topik investasi tentunya)</em> adalah <em>&#8216;seni perang&#8217;</em>, terutama dalam perang di <em>&#8216;jaman dahulu kala&#8217;</em>. Sejak sekitar kelas 4 SD,  nama-nama <em>&#8216;seniman perang&#8217;</em> seperti Zhuge Liang, Sun Tzu, Alexander, Nobunaga Oda, dan Genghis Khan lebih melekat di kepala saya dibandingkan dengan nama-nama seperti Superman, Batman dan lain-lainnya. Tidak pernah bosan rasanya saya mengikuti sepak terjang mereka dalam mengalahkan lawannya dalam kancah peperangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ok, sampai di situ saja cerita pribadi tentang saya. Jadi apa kaitan antara (1) investasi, (2) judul artikel ini dan juga (3) celoteh saya tentang kecintaan saya terhadap <em>&#8216;seni perang&#8217;</em>? Penasaran?<span id="more-1332"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kita berbicara tentang perang (terutama perang di <em>&#8216;jaman dahulu kala&#8217;</em>), kira-kira gambaran apa yang akan pertama-tama muncul di benak anda? Meskipun jawabannya akan beraneka ragam (pasukan, jenderal, senjata, dll), mungkin tidak sedikit dari teman-teman yang akan menjawab &#8216;Benteng&#8217; (Fortress/(Castle). Ini tentunya tidak aneh mengingat Benteng (Fortress/Castle) memang merupakan salah satu fokus dalam perang di jaman dahulu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam perang, nasib suatu kota bahkan negara kerap ditentukan oleh kekokohan bentengnya. Berbagai cara pun digunakan untuk meningkatkan kekokohan pertahanan benteng. Salah satu cara yang paling sering dipakai untuk memperkuat pertahanan sebuah benteng adalah dengan membuat <span style="color:#0000ff;"><strong>Moat</strong></span>, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia mungkin bisa dikatakan sebagai parit. Sebuah benteng dengan Moat (parit) di sekelilingnya mempunyai keunggulan dibandingkan dengan benteng tanpa Moat (parit).</p>
<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_1333" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1333" title="beaumaris_castle_and_moat" src="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/beaumaris_castle_and_moat.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Benteng dengan Moat (Parit)" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Benteng dengan Moat (Parit)</p></div>
<p style="text-align:justify;">Pada jaman dahulu, salah satu cara yang paling umum dipakai oleh pihak lawan untuk memasuki benteng adalah dengan memakai <strong>tangga/scaling ladder</strong> (<a title="Gambar Scaling Ladder" href="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/ladder.jpg" target="_blank">gambar</a>) dan juga &#8216;<strong>menara penyerbuan&#8217;/Assault Tower</strong> (<a title="Gambar Assault Tower" href="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/assaulttower.jpg" target="_blank">gambar</a>). Fungsi utama kedua alat tersebut adalah untuk memanjat tembok benteng. Tetapi dengan adanya moat/parit, seperti bisa kita bayangkan, kedua alat tersebut akan sulit untuk dipakai karena pihak penyerbu sulit untuk menghampiri tembok benteng.</p>
<p style="text-align:justify;">Alat lainnya yang sering dijumpai dalam penyerbuan sebuah benteng adalah yang dikenal sebagai <strong>&#8216;pendobrak&#8217;/Battering Ram</strong> (<a title="Gambar Battering Ram" href="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/batteringram.jpg" target="_blank">gambar</a>). Alat ini dipakai untuk mendobrak pintu benteng. Tetapi dengan adanya moat/parit, lagi-lagi alat ini jadi tidak <em>&#8216;berkutik&#8217;</em> karena pihak yang bertahan tinggal mengangkat jembatan yang menuju ke pintu benteng. Alat tersebut pun tidak bisa menghampiri pintu benteng, karena dihalangi oleh moat/parit.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain ketiga alat di atas, alat yang juga kerap dipakai pihak penyerang adalah <strong>&#8216;Pelontar Batu&#8217;/Catapult</strong> (<a title="Gambar Catapult" href="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/catapult.jpg" target="_blank">gambar</a>). Fungsi utama alat ini adalah untuk melemparkan batu-batu berukuran besar untuk perlahan-lahan menjebol tembok benteng. Tetapi bahkan jika tembok benteng itu jebol pun, dengan adanya moat/parit, pihak penyerang tetap harus menyeberangi moat/parit sebelum bisa masuk lewat tembok yang sudah &#8216;jebol&#8217; tersebut. Ini tentunya akan mempersulit gerakan pihak penyerbu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan berbagai manfaat yang saya ceritakan di atas, tidak heran jika mayoritas benteng di jaman dahulu dilengkapi dengan moat/parit <em>(tentunya jika kondisi alamnya memungkinkan)</em>. Semakin lebar dan dalam moat/parit, semakin kuat pertahanan benteng tersebut</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai di sini, sebagian teman-teman mungkin mulai bertanya-tanya <em>&#8216;Son, cerita kamu di atas sih sangat <span style="text-decoration:line-through;">menarik</span> membosankan, tetapi apa kaitannya dengan investasi?&#8217; </em></p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya: Karena ternyata &#8216;Moat&#8217; itu juga bisa ditemui dalam dunia usaha dan investasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun tidak diketahui siapa yang menciptakan istilah <strong>&#8216;Economic Moat&#8217;</strong> yang menjadi judul artikel ini, tetapi mungkin boleh dikatakan bahwa istilah tersebut menjadi populer ketika dipakai oleh Warren Buffet. Economic Moat sendiri secara sederhana bisa didefinisikan sebagai <strong><em>&#8220;Keunggulan kompetitif suatu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan sejenis lainnya&#8221;</em></strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Perusahaan yang memiliki Economic Moat/Parit yang lebar, akan mampu mempertahankan dirinya dari <em>&#8216;serangan&#8217;</em> para kompetitornya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh saya akan memakai contoh <strong>Coca-Cola</strong>. Perusahaan Coca-Cola mempunyai Economic Moat yang besar dalam bentuk &#8216;Merek&#8217;. Merek Coca-Cola telah mempunyai <strong>&#8216;Share of Mind&#8217; (pangsa &#8216;pikiran&#8217;)</strong> yang besar sehingga ketika orang teringat minuman Cola, maka yang terpikirkan pertama oleh mereka kemungkinan besar adalah Coca-Cola.</p>
<p style="text-align:justify;">Misalkan saja saya berhasil mendapatkan &#8216;resep rahasia&#8217; milik Coca Cola sehingga saya mampu membuat minuman yang rasanya sama persis dengan Coca-Cola. Minuman tersebut lalu saya produksi dengan merek <strong>JanganSerakah-Cola</strong>. Jika minuman tersebut saya jual dengan harga yang sama dengan Coca-Cola, boleh dipastikan bahwa saya akan gulung tikar dalam waktu yang tidak lama. Ini karena karena minuman produk saya tersebut sulit untuk laku, meskipun rasanya sama persis. Berkat &#8216;Share of Mind&#8217; yang besar, dengan harga yang sama, orang-orang akan lebih memilih untuk membeli Coca-Cola dibandingkan dengan JanganSerakah-Cola. Akibatnya Coca-Cola bisa menjual produknya lebih mahal dibandingkan dengan pesaing kelas &#8216;<em>gurem</em>&#8216; dan bisa menikmati keuntungan yang lebih besar. Keuntungan tersebut lalu digunakan untuk <em>&#8216;perang&#8217;</em> pemasaran dan mempertahankan &#8216;Share of Mind&#8217;-nya.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya Economic Moat bukan hanya berbentuk &#8220;Merek&#8221; saja. Moat atau keunggulan kompetitif bisa muncul dalam beberapa bentuk, misalnya keunggulan teknologi, keunggulan biaya dan harga, permodalan dan lain sebagainya. Google misalnya, mempunyai economic moat dalam bentuk keunggulan teknologi Search Enginenya. Sebagai contoh lainnya, kita bisa melihat Carrefour. Perusahaan ritel tersebut mempunyai posisi tawar-menawar yang kuat, sehingga bisa mendapatkan harga yang terbaik dari para produsen barang yang dijualnya. Akibatnya mereka mempunyai moat/keunggulan kompetitif dalam bentuk harga.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apakah setiap perusahaan hanya bisa mempunyai satu keunggulan? Tentunya tidak. Jika kita kembali ke contoh moat/parit dalam peperangan, semakin <span style="text-decoration:underline;">lebar</span> dan <span style="text-decoration:underline;">dalam</span> moat/parit di suatu benteng, semakin baik pertahanannya. Besarnya tingkat keunggulan kompetitif bisa disamakan dengan kedalaman moat/parit. Di sisi lain, semakin banyak  jenis aspek yang menjadi keunggulan kompetitif suatu perusahaan, maka semakin &#8216;lebar&#8217; moat/parit yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh, kita lihat kembali contoh Coca-Cola. Apakah moat/keunggulan kompetitif yang dimiliki oleh Coca-Cola hanyalah berbentuk &#8216;Merek&#8217; saja? Tidak, salah satu keunggulan kompetitif utama Coca-Cola justru berada pada jaringan distribusinya. Seperti kita tahu, produk Coca-Cola boleh dikatakan bisa ditemui hampir di setiap negara di dunia ini. Saluran distribusi Coca-Cola juga merupakan salah satu senjata utamanya untuk <em>&#8216;menghabisi&#8217;</em> pesaingnya, karena jaringan distribusinya begitu ekstensif dan dikelola dengan baik.</p>
<p>Jadi, bisa kita lihat bahwa moat yang dimiliki oleh Coca-Cola selain &#8216;dalam&#8217; juga &#8216;lebar&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Itulah sebabnya mengapa hingga kini boleh dikatakan di dunia ini hanya ada dua minuman Cola utama, yaitu Coca-Cola dan Pepsi Cola. Minuman Cola merek lain hanya bisa memperebutkan <em>&#8216;remah-remah&#8217;</em> sisa dari Coca-Cola dan Pepsi-Cola, dan sulit sekali untuk bisa menembus dominasi kedua merek minuman Cola tersebut.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa kaitan semua hal di atas dengan Investasi?</p>
<p style="text-align:justify;">Warren Buffet, kerap kali mengatakan bahwa perusahaan yang bisa memberikan keuntungan kepada para investornya  adalah perusahaan yang mempunyai economic moat yang lebar dan dalam. Perusahaan yang mempunyai ciri seperti ini, biasanya mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan tingkat keuntungannya. Tentunya ini akan memberikan dampak yang positif kepada para investor perusahaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika suatu perusahaan tidak mempunyai economic moat, maka perusahaan itu lebih rentan terhadap &#8216;<em>serangan&#8217;</em> pesaingnya. Umumnya, ini akan berujung pada <em>&#8216;perang harga&#8217;</em> yang pada akhirnya tentu akan menurunkan tingkat keuntungan perusahaan tersebut. Hasil yang diterima oleh investor pun akhirnya mengecewakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Konsep <em>&#8220;Economic Moat&#8221;</em> dalam investasi yang dipopulerkan oleh Buffet ini boleh dikatakan merupakan buah pemikiran <span style="color:#0000ff;"><strong>Philip Fisher</strong></span>. Jika Ben Graham kerap dicap sebagai bapak Analisa Fundamental Kuantitatif, maka bisa dikatakan Fisher adalah bapak Analisa Fundamental Kualitatif. Buffet sendiri kerap mengakui bahwa gaya investasinya adalah <em>&#8220;85% Ben Graham dan 15% Philip Fisher&#8221;.</em></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="text-decoration:underline;"><strong>Pertanyaan bagi para calon investor:</strong></span><br />
</em></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Carilah satu contoh perusahaan/bisnis yang menurut anda mempunyai Economic Moat yang lebar/dalam. Coba uraikan apa economic moat perusahaan tersebut menurut anda</em></li>
</ul>
<p><em>atau jika anda inginkan, bisa juga :</em></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Carilah satu contoh perusahaan/bisnis yang menurut anda <strong>TIDAK</strong> mempunyai Economic Moat yang lebar/dalam. Coba uraikan alasan anda.</em></li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1332&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/03/20/economic-moat-ciri-saham-tahan-serangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/beaumaris_castle_and_moat.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">beaumaris_castle_and_moat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Efek Prestise: Ketika Seorang Investor Terpukau</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/03/16/efek-prestis/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/03/16/efek-prestis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 08:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1132</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin hanya secuil pembaca blog ini yang pernah mendengar nama Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria. Kedua orang tersebut mempunyai &#8216;kisah&#8217; yang hampir sama, dan saya hanya berharap &#8216;kisah&#8216; saya di kemudian hari tidak sama dengan &#8216;kisah&#8216; kedua orang tersebut. Jadi sebenarnya siapa itu Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria? Apa hubungan di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1132&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Mungkin hanya secuil pembaca blog ini yang pernah mendengar nama <span style="color:#0000ff;"><strong>Harry Markopolos</strong></span> dan <span style="color:#0000ff;"><strong>Lawrence J. de Maria</strong></span>. Kedua orang tersebut mempunyai &#8216;<em>kisah&#8217;</em> yang hampir sama, dan saya hanya berharap &#8216;<em>kisah</em>&#8216; saya di kemudian hari tidak sama dengan &#8216;<em>kisah</em>&#8216; kedua orang tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi sebenarnya siapa itu Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria? Apa hubungan di antara keduanya? Dan mengapa saya berharap &#8216;<em>kisah</em>&#8216; saya tidak berakhir seperti &#8216;<em>kisah</em>&#8216; mereka?<span id="more-1132"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Nama Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria akhir-akhir mencuat berkat nama 2 orang lainnya, <strong><span style="color:#0000ff;">Bernard Madoff </span></strong>dan <span style="color:#0000ff;"><strong>Allen Stanford</strong></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin sebagian pembaca blog ini masih ingat dengan nama Bernard Madoff (pernah saya ceritakan dengan detail <a href="http://janganserakah.com/2008/12/13/edisons-week-in-review-13-december-2008/" target="_blank">di sini</a>). Bernard Madoff mencuat akibat kasus penipuan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ponzi_scheme" target="_blank">skema ponzi</a> yang dijalankannya. Kerugian yang timbul akibat penipuan madoff ini dikabarkan mencapai US$ 50 Milyar (jika 1$=Rp 10 ribu, maka total kerugiannya berarti sebesar Rp 500 triliun), dan merupakan rekor penipuan ponzi terbesar dalam sejarah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak berbeda dengan Bernard Madoff yang &#8216;<em>populer</em>&#8216; karena penipuannya, &#8216;<em>popularitas</em>&#8216; nama Allen Stanford pun mencuat karena alasan yang sama. Baru-baru ini, Allen Stanford dituntut oleh SEC (semacam Bapepam di USA) karena tuduhan menjalankan penipuan dengan menggunakan banknya. Operasi Stanford diduga juga berbau penipuan skema ponzi dan diperkirakan nilai uang yang &#8216;<em>tersangkut</em>&#8216; dalam penipuan Allen Stanford ini akan mencapai US$ 8 Milyar. Meskipun belum &#8216;<em>sehebat</em>&#8216; kasus Madoff, nilai tersebut tetap saja sangat besar (Rp 80 Triliun, dengan asumsi kurs 1$=Rp 10 ribu).</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apa hubungan antara Maddoff dan Stanford dengan Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria yang saya ungkit di awal artikel ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Di tahun 2005, Harry Markopolos menyerahkan sebuah memo hasil karyanya yang berjudul &#8220;<em>The World&#8217;s Largest Hedge Fund is a Ponzi Scam</em>&#8221; kepada badan <strong>SEC</strong> (<em>memo tersebut bisa didownload di widget Box.net di sidebar sebelah kanan blog ini</em>). Dalam memonya itu, Harry Markopolos menyampaikan analisanya bahwa perusahaan investasi Madoff kemungkinan besar adalah sebuah penipuan ponzi. Kalaupun tidak, maka kemungkinan lainnya adalah bahwa Madoff melakukan praktek Insider Trading (yg juga merupakan satu tindakan kriminal). Tetapi analisa Harry tersebut tidak mendapatkan tanggapan dari badan SEC. Akhirnya 3 tahun kemudian (akhir 2008 lalu), barulah penipuan yang dilakukan Madoff terbongkar dan kecurigaan Harry Markopolos pun terbukti benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Kisah Lawrence J. de Maria hanya sedikit berbeda dengan kisah Harry.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tahun 2003, Lawrence J. de Maria (seorang ex-jurnalis) direkrut oleh perusahaan Allen Stanford untuk mengelola majalah internal perusahaan Stanford. Tetapi satu tahun kemudian, Lawrence diberhentikan. Menurut Lawrence, ia diberhentikan karena terlalu banyak bertanya dan mengorek-ngorek tentang bisnis sesungguhnya dari perusahaan Stanford, di tahun 2004. Di tahun 2006, Lawrence pun mengajukan tuntutan hukum kepada Stanford dan perusahaannya. Dalam tuntutannya tersebut, Lawrence mengatakan bahwa perusahaan Stanford merupakan suatu penipuan skema Ponzi. Tetapi sehari sebelum sidang, Stanford memilih untuk &#8216;<em>damai</em>&#8216; dengan Lawrence dan membayarkan sejumlah uang kepada Lawrence. Seharusnya kejadian ini mengundang tanda tanya yang cukup besar, tetapi sayangnya SEC tidak menindak-lanjuti kejadian &#8216;<em>aneh</em>&#8216; tersebut. Akibatnya hampir 3 tahun kemudian, (di awal tahun ini) barulah tersibak operasi penipuan yg dilakukan oleh Stanford.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi mengapa penipuan yang dilakukan oleh Madoff dan Stanford bisa luput dari &#8216;<em>mata</em>&#8216;  pihak yang berwenang di Amerika (dalam hal ini badan SEC)? Terlebih lagi mengingat sudah ada suara-suara &#8216;<em>miring</em>&#8216; dari orang-orang seperti Markopolos dan Lawrence J de Maria. Alasan utama yang dikemukakan SEC sendiri  bahwa mereka tidak mempunyai cukup sumber daya manusia untuk mencek secara detail satu-satu pengaduan ataupun &#8216;berita aneh&#8217; yang mereka terima. Alasan lainnya yang dikemukakan adalah bahwa meskipun sempat memeriksa, tetapi mereka tidak berhasil mendapatkan bukti yang mendukung kecurigaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sendiri berpendapat bahwa justru ada penyebab utama lainnya yang membuat penipuan Madoff dan Stanford bisa berjalan &#8216;<em>langgeng</em>&#8216; begitu lama. Anda ingin tahu apa sebab utama tersebut?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya : Efek dari tingkat prestise (prestige) seseorang terhadap kredibilitasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbagai studi dan riset dalam ilmu sosiologi telah membuktikan bahwa kredibilitas seseorang sangat dipengaruhi oleh tingkat prestise orang tersebut. Semakin tinggi tingkat prestise seseorang, semakin tinggi kredibilitas orang itu dan semakin mudah bagi kita untuk mempercayai orang tersebut. Pengaruh dari tingkat prestise terhadap kredibitas begitu besar sehingga kadang membuat tindakan kita kurang &#8216;<em>rasional</em>&#8216;. Ilustrasi sederhana dari efek ini adalah sebagai berikut:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Misalkan saja anda sedang mengendarai mobil di sebuah kota yang belum pernah anda datangi sebelumnya. Di kursi belakan mobil anda, ada saya (Edison) dan Warren Buffet. Kami berdua (Edison &amp; Warren Buffet) juga tidak pernah datang ke kota tersebut. Setelah beberapa lama mengendarai mobil, anda sampai di sebuah persimpangan jalan. Satu cabang jalan menuju ke kiri, dan satu cabang menuju ke kanan. Saya lalu menganjurkan untuk belok kiri, sedangkan Buffet menganjurkan untuk belok kanan. Saran siapakah yang akan lebih cenderung untuk anda ikuti?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jika anda &#8216;<em>rasional</em>&#8216;, seharusnya saran saya ataupun saran Buffet akan sama nilainya, karena kami berdua sama-sama belum pernah datang ke kota tersebut sehingga sama-sama tidak tahu jalan. Tetapi studi sosial menunjukkan bahwa dalam keadaan seperti ini, orang akan lebih cenderung percaya kepada orang yang mempunyai prestise lebih tinggi (dalam hal ini Warren Buffet). Orang-orang yang mempunyai tingkat prestise tinggi di mata kita akan lebih mudah untuk mengubah dan mempengaruhi  pendapat/pendirian kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika anda renungkan sebentar, maka sebenarnya banyak contoh yang sudah anda pernah lihat tentang penggunaan efek &#8216;prestise&#8217; ini dalam kehidupan sehari-hari. Jika anda menghadiri seminar misalnya, pembicaranya akan berpenampilan rapi, berjas dan berdasi, karena salah satu hal yang mempengaruhi tingkat prestise adalah penampilan. Contoh lainnya? Seseorang yang bekerja di sektor finansial tetap mencantumkan gelarnya yang di bidang lain, misalnya ST (Sarjana Teknik), karena tingkat prestise juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan (<em>padahal dalam hal ini, pendidikan yang dikecapnya tidak berhubungan dengan bidang pekerjaannya</em>).</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang kita kembali ke kasus Madoff dan Stanford.</p>
<p style="text-align:justify;">Madoff, seperti yg pernah saya ceritakan <a href="http://janganserakah.com/2008/12/13/edisons-week-in-review-13-december-2008/">di artikel lama saya ini</a>, bukanlah orang &#8216;<em>biasa</em>&#8216;. Dalam perjalanan karirnya, ia merupakan salah satu orang yang dianggap berjasa &#8216;<em>membesarkan</em>&#8216; nama <strong>NASDAQ</strong>, salah satu bursa saham utama di USA. Ia juga memiliki perusahaan broker dan perusahaannya merupakan salah satu market-maker terbesar di bursa saham <strong>NYSE</strong> (New York Stock Exchange). Ia pun pernah menjabat sebagai Ketua Direksi badan <strong>NASD </strong>(National Association of Securities Dealer). Madoff juga terkenal sebagai seorang dermawan yang aktif memberikan sumbangan kepada berbagai badan sosial dan amal.</p>
<p style="text-align:justify;">Stanford, sama seperti Madoff, bukanlah orang &#8216;<em>sembarangan</em>&#8216;. Ia mempunyai gelar kebangsawanan sehingga berhak menambahkan kata &#8216;Sir&#8217; di depan namanya (Sir Allen Stanford). Gelar kebangsawanan tersebut diberikan oleh Commonwealth (gabungan negara eks-jajahan Inggris). Di Antigua, salah satu pusat operasi perusahaannya, ia merupakan pencipta lapangan kerja terbesar (hanya kalah oleh pemerintah Antigua). Stanford juga terkenal karena sepak terjangnya di dunia olahraga, terutama olahraga Kriket (Cricket). Ia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan badan <strong>ECB</strong> (England and Wales Cricket Board), yaitu komite olahraga Kriket di Inggris (mirip dengan PSSI utk olahraga sepakbola di negara kita). Bekerja sama dengan ECB, ia mengadakan turnamen Kriket tahunan dengan hadiah yang tidak tanggung-tanggung, US$20 juta.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan tingkat prestise keduanya yang begitu tinggi, menurut anda, siapakah yang akan lebih kredibel dan lebih dipercaya oleh banyak orang (termasuk juga penyidik SEC)? Madoff dan Stanford? Atau Markopolos dan Lawrence J de Maria?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya pelaku penipuan yang memanfaatkan  &#8216;efek Prestise&#8217; ini tidak hanya Madoff dan Stanford. Sejarah dunia investasi penuh dengan pelaku penipuan yang memanfaatkan efek &#8216;Prestise&#8217; untuk meningkatkan kredibilitasnya sehingga bisa lebih mudah menjerat korbannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Praktek yang sering dilakukan misalnya adalah dengan memberikan &#8216;<em>penampilan</em>&#8216; yang sangat &#8216;<em>wah</em>&#8216;. Beberapa penipuan berskala besar justru mempunyai kantor yang mentereng di lokasi mewah. Materi promosi (brosur, proposal dan lain-lainnya) juga dikerjakan dengan sangat baik dan terkesan sangat profesional.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk meningkatkan prestisenya, tidak sedikit operasi penipuan yang lalu membuka cabang di berbagai kota bahkan negara. Ada juga yang menggunakan argumen bahwa pusat operasi mereka adalah di negara maju, yang lebih ketat pengawasannya. Akibatnya tidak sedikit orang yang &#8216;<em>terhipnotis</em>&#8216; karena merasa tidak mungkin di negara yg &#8216;<em>maju</em>&#8216; masih ada praktek penipuan yang bisa lolos dari pengawasan negara.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya asumsi di atas salah besar. Kasus Bernie Madoff dan Stanford misalnya malah timbul di negara maju seperti Amerika. Di Singapura, negara tetangga kita yang terkenal ketat aturan hukumnya, pun masih bisa terjadi kejahatan penipuan. Mungkin sebagian pembaca ada yang pernah mendengar nama Sunshine Empire Pte. Ltd? Perusahaan gadungan yang sangat mentereng ini (<em>anda bisa mencoba melihat berbagai video promosi mereka di YouTube</em>)  sempat juga membuka cabangnya di Indonesia. Kini, pemilik perusahaan tersebut ditangkap dengan melakukan dakwaan melakukan penipuan berkedok investasi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_1183" class="wp-caption alignright" style="width: 208px"><img class="size-full wp-image-1183" title="singh" src="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/02/singh.gif?w=198&#038;h=165" alt="Vijay Singh dan topi Stanford Financialsnya" width="198" height="165" /><p class="wp-caption-text">Vijay Singh dan topi Stanford Financialsnya</p></div>
<p style="text-align:justify;">Selain pola yang saya ceritakan di atas, pola yang juga kerap dilakukan pelaku penipuan adalah menggandeng &#8216;<em>nama besar</em>&#8216; orang ataupun organisasi lain dan memanfaatkan prestis orang ataupun organisasi tersebut. Ini bisa dilakukan dengan tanpa izin (alias mencatut nama) ataupun bahkan dengan sepengetahuan orang tersebut (karena orang tersebut tidak benar-benar memahami bidang tersebut). Pegolf terkenal Vijay Singh misalnya, adalah salah satu nama besar dari olahraga golf yang disponsori Allen Stanford yang saya ceritakan dalam artikel ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari dalam negeri, mungkin sebagian pembaca masih ingat kisah tentang penipuan PT QSAR (Qurnia Subur Alam Raya)? Mantan Presiden Megawati dan Mantan Ketua MPR Amien Rais sempat menghadiri salah satu acara peresmian mereka. Kehadiran kedua tokoh nasional itu termasuk tokoh yang <em>&#8216;nama besar&#8217;</em>-nya dimanfaatkan PT QSAR untuk meningkatkan prestise mereka agar memudahkan operasi penipuan mereka.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8212;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Di awal artikel ini, saya sempat menulis <em>&#8220;saya hanya berharap kisah saya di kemudian hari tidak sama dengan </em><em>kisah Markopolos dan J. de Maria</em>&#8220;. Mengapa saya menulis seperti itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya sederhana, karena baru-baru ini saya menemukan sebuah produk investasi yang menimbulkan tanda tanya besar di dalam pikiran saya. Produk investasi tersebut ditawarkan oleh sebuah perusahaan <em>&#8216;beken&#8217;</em> dari luar negeri. Untuk memuaskan rasa ingin tahu saya, saya pun lalu berkunjung ke kantor mereka dan menemui salah seorang pimpinan perusahaan tersebut untuk wilayah Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, saya pun sempat mengajukan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan informasi yang lebih detail.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasilnya? Saya malah pulang dari kunjungan tersebut dengan membawa tanda tanya dan rasa was-was yang justru lebih besar lagi, karena jawaban yang saya terima sangat tidak memuaskan. Beberapa penjelasan yang diberikan terasa sangat meragukan dan untuk beberapa subjek yang saya tanyakan, mereka malah terkesan &#8216;mengelak&#8217; untuk memberikan penjelasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun demikian, saya pikir mungkin tidak sedikit orang yang akan terjebak oleh efek prestis perusahaan tersebut sehingga akhirnya lalai bertanya. Ini karena perusahaan tersebut boleh dikatakan cukup mempunyai nama, terutama berkat iklan-iklan mereka yang agresif di salah satu tv berlangganan di Indonesia. Kantor mereka pun didesign dengan mentereng, dan  lokasinya pun sangat <em>&#8216;meyakinkan&#8217;</em>, yaitu di gedung Bursa Efek Jakarta.</p>
<p style="text-align:justify;">Awalnya, artikel ini saya tulis dengan niat mengungkapkan nama perusahaan tersebut. Tetapi niat tersebut saya tunda karena hingga saat ini saya masih terus berkorespondensi dengan perusahaan tersebut untuk <em>&#8216;menggali&#8217;</em> informasi lebih lanjut. Saya masih berencana ingin berkunjung ke kantor pusat mereka yang berlokasi di negara tetangga kita (kebetulan saya lumayan sering berkunjung ke negara tersebut). Setelah saya selesai <em>&#8216;menggali&#8217;</em> informasi yang lebih lanjut, mungkin barulah saya akan menulis artikel tentang perusahaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian pembaca mungkin lalu bertanya&#8230; <em>&#8216;Wah kalau tidak mengungkapkan nama perusahaan tersebut, untuk apa artikel ini ditulis?&#8217;</em> Harapan saya hanyalah bahwa dengan cerita saya di atas, saya ingin agar anda bisa <em>&#8216;kebal&#8217;</em> dari &#8216;<em>efek prestis</em>&#8216;, sehingga tidak terjatuh dalam perangkap yang sama dengan apa yang dialami orang-orang dalam kisah Madoff dan Stanford. Bagaimana pun meyakinkannya orang yang menawarkan produk investasi tersebut kepada anda, jangan lalai untuk selalu bertanya dan bersikap kritis.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1132&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/03/16/efek-prestis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/02/singh.gif" medium="image">
			<media:title type="html">singh</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>