<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Hutang</title>
	<atom:link href="http://janganserakah.com/tag/hutang/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://janganserakah.com</link>
	<description>Sebuah blog sederhana tentang dunia investasi dan perencanaan keuangan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 May 2010 04:06:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='janganserakah.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d528815cd098af4ded4ea5f747ac55f8?s=96&#038;d=http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Hutang</title>
		<link>http://janganserakah.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://janganserakah.com/osd.xml" title="Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://janganserakah.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>7 Kesalahan Terbesar Dalam Menggunakan Kartu Kredit</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/03/31/7-kesalahan-terbesar-dalam-menggunakan-kartu-kredit/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/03/31/7-kesalahan-terbesar-dalam-menggunakan-kartu-kredit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 07:17:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>konobe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang]]></category>
		<category><![CDATA[Kartu Kredit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1322</guid>
		<description><![CDATA[WHAT THEY SAID Lebih baik mencegah daripada mengobati anonim Article by Konobe Edited by Edison Baru-baru ini saya membaca berita di detik kalau NPL (non performing loan) kartu kredit di Indonesia sudah lebih dari 10%. Saya pun jadi teringat artikel yang ditulis Bung Edison Meneropong 2009: Ancaman Kredit Konsumen. Wah, tampaknya sudah mulai terlihat ya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1322&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>WHAT THEY SAID</strong></p></blockquote>
<blockquote><p><em>Lebih baik mencegah daripada mengobati</em></p>
<p style="text-align:right;"><strong>anonim</strong></p>
</blockquote>
<p><strong>Article by <span style="color:#ff0000;">Konobe</span></strong><br />
<strong><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;">Edited by</span> Edison<br />
</span></strong></p>
<div id="attachment_1394" class="wp-caption alignleft" style="width: 132px"><img class="size-medium wp-image-1394" title="kk22" src="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/kk22.jpg?w=122&#038;h=122" alt="kk22" width="122" height="122" /><p class="wp-caption-text">Bermacam-macam kartu kredit</p></div>
<p style="text-align:justify;">Baru-baru ini saya membaca berita di detik kalau <a href="http://www.detikfinance.com/read/2009/03/29/142512/1106686/5/npl-kartu-kredit-sudah-tak-aman">NPL (non performing loan) kartu kredit di Indonesia sudah lebih dari 10%</a>. Saya pun jadi teringat artikel yang ditulis Bung Edison <a title="Meneropong 2009: Ancaman Kredit Konsumen" href="http://janganserakah.com/2009/01/08/meneropong-2009-ancaman-kredit-konsumen/">Meneropong 2009: Ancaman Kredit Konsumen.</a> Wah, tampaknya sudah mulai terlihat ya hasil prediksinya..</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun ancaman macetnya kartu kredit mempunyai dampak yang cukup menakutkan terhadap perekonomian, artikel saya kali ini akan membahas masalah ini dari sisi yang lain, yaitu dari sisi si pemegang kartu kredit.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kartu kredit macet, tentunya yang <em>&#8216;pusing&#8217;</em> bukan cuma Bank saja. Si pemegang kartu  kartu (umumnya) juga mengalami tekanan batin yang tidak kecil. Contohnya adalah seorang kenalan saya. Dia memiliki masalah dengan kartu kreditnya hingga gelisah dan stres. Hampir tiap hari  ia ditelepon oleh debt collector. Bukan cuma sekedar teguran yang diterimanya tetapi juga ancaman. Padahal, dari pengamatan  saya, dia termasuk orang yang cukup berada.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi mengapa kenalan saya tersebut bisa sampai terjerat hutang  kartu kredit? Meskipun saya tidak tahu persis penyebabnya, tetapi kemungkinan besar ia melakukan salah satu (atau bahkan beberapa) dari <span style="color:#0000ff;"><strong>7 kesalahan terbesar dalam menggunakan kartu kredit</strong></span>. Jadi apa saja 7 kesalahan terbesar itu?<span id="more-1322"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">1</span> :</span> Tidak melunasi seluruh tagihan kartu kredit<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ini boleh dikatakan merupakan penyebab utama mengapa banyak orang yang terjerat dalam hutang kartu kredit. Tidak sedikit orang yang hanya membayar sejumlah &#8220;pembayaran minimum&#8221;. Ketika anda melakukan ini, maka saldo hutang yang tersisa akan terkena bunga yang sangat tinggi (bisa mencapai2,9%-4% per <strong>BULAN!</strong>) . Ketika anda melakukan kesalahan ini, maka ibaratnya anda sudah mengambil langkah pertama untuk masuk ke dalam jeratan hutang kartu kredit.</p>
<p style="text-align:justify;">Lunasi seluruh tagihan kartu kredit anda!!!</p>
<p style="text-align:center;">&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">2</span> :</span></strong> <strong>Menganggap kartu kredit sebagai kartu debit (ATM)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ini merupakan salah satu kesalahan yang paling fatal dalam menggunakan kartu kredit. Kartu Kredit bukanlah Kartu Debit (ATM). Hindari menarik uang cash dengan menggunakan kartu kredit karena ini akan dikenakan bunga dan biaya tarik tunai yang sangat tinggi (bahkan lebih tinggi daripada angka yang saya tuliskan di kesalahan no 1).</p>
<p style="text-align:center;">&#8230;</p>
<p><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">3</span> :</span> Menggunakan kartu kredit untuk membayar hutang<br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kartu kredit termasuk ke dalam jenis hutang &#8220;Unsecured Debt&#8221;, alias hutang tanpa agunan. Hutang semacam ini dikenakan bunga yang tinggi. Oleh karena itu hutang semacam ini tidak tepat dipakai untuk modal usaha/bisnis karena akan sangat membebani kondisi keuangan usaha/bisnis anda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kesalahan lainnya yang tergolong &#8216;serupa&#8217; adalah menggunakan kartu kredit untuk menutup ataupun membayar cicilan hutang tipe &#8220;Secured Debt&#8221;/hutang yang menggunakan jaminan. Hutang yang menggunakan jaminan (spt KPR, KMK, dll), bunganya secara umum lebih ringan. Oleh sebab itu jika anda menggunakan kartu kredit untuk membayar hutang tipe ini, berarti anda malah &#8216;menukar&#8217; hutang yang bunganya lebih ringan dengan hutang yang bunganya lebih berat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Salah satu <em>&#8216;malapetaka&#8217;</em> terbesar dalam menggunakan kartu kredit terjadi ketika kesalahan no.2 dan kesalahan no.3 <em>&#8216;dikombinasikan&#8217;</em>. Contoh paling umum <em>&#8216;malapetaka&#8217;</em> seperti ini adalah ketika pemegang kartu kredit mengambil uang tunai dengan kartu kredit yang satu untuk membayar tagihan kartu kredit yang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">&#8230;</p>
<p><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">4</span> : </span></strong><strong>Tidak disiplin mengontrol penggunaan Kartu Kredit dan tagihannya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kesalahan ini biasanya berawal dari kalimat <em>&#8216;Gesek aja dulu..&#8217;</em> dan lalu diikuti di akhir bulan dengan kalimat<em> &#8216;Astaga!?! Kok gede amat tagihannya&#8217;.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Tentukan batas maksimum yang boleh anda &#8216;gesek&#8217; setiap bulannya. Lalu kontrol dan catat setiap pemakaian kartu kredit anda setiap hari. Ketika jumlah pemakaian tersebut sudah mendekati batas maksimum yang anda tentukan, <em>&#8216;segel&#8217;</em> kartu kredit anda, atau jika perlu (bagi yang lemah terhadap godaan belanja), tinggalkan kartu kredit di rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih terkait dengan kesalahan no 4 ini, adalah tidak disiplin dalam pembayaran kartu kreditnya. Jangan menunggu hingga hari batas terakhir untuk melunasi kartu kredit anda, karena jika di hari tersebut anda sibuk/lupa/ada urusan mendadak, maka bisa-bisa tagihan tersebut jadi tidak terbayar.</p>
<p style="text-align:center;">&#8230;<strong><br />
</strong></p>
<p><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">5</span> :</span> Terlalu banyak memiliki Kartu Kredit</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Semakin banyak Kartu Kredit yang anda miliki, semakin sulit bagi anda untuk mengontrol pengeluaran masing-masing kartu kredit. Dalam pelunasan kartu kredit pun anda akan lebih direpotkan karena perlu mengingat tanggal pelunasan masing-masing kartu agar tidak terlambat bayar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Beberapa financial planner menyarankan untuk memiliki Kartu Kredit maksimal 3 saja. Kalau lebih dari itu, mungkin mulai bisa mempertimbangkan untuk menggunting sisanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">&#8230;</p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">6</span> :</span></strong><strong> </strong><strong>Menganggap Kartu Kredit sebagai <em>&#8216;Uang Tambahan&#8217;</em><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Meskipun kedengarannya sulit dipercaya, tetapi tidak sedikit orang yang menganggap Kartu Kredit sebagai Uang Tambahan. Ketika permohonan kartu kreditnya disetujui, mereka pun kegirangan seperti mendapatkan <em>&#8216;durian runtuh&#8217;</em>. Seringkali ini lalu berujung dengan <em>&#8216;pesta belanja&#8217;</em> menggunakan kartu kredit baru tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Memiliki kartu kredit bukanlah berarti bahwa anda mempunyai lebih banyak uang untuk dibelanjakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kartu kredit bukanlah <em>&#8216;berkah&#8217;</em>, <em>&#8216;rezeki&#8217;</em> ataupun <em>&#8216;durian runtuh&#8217;</em>.  Jika anda tidak bijak dalam menggunakannya, yang ada justru hanyalah <em>&#8216;malapetaka&#8217;. </em>Ingatlah bahwa <span style="text-decoration:underline;">Kartu kredit hanyalah merupakan alat bantu pembayaran dan bukan pendapatan tambahan</span>. Anda bisa berhutang kepada bank dengan menggunakan kartu kredit, tetapi cepat atau lambat hutang kartu kredit tersebut tentu harus anda bayar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">&#8230;<strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">7</span> : </span>Menggunakan kartu kredit untuk SEMUA belanja dan pembayaran</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tidak sedikit orang menggunakan kartu kredit untuk semua jenis pembelanjaan. Padahal, untuk beberapa jenis produk, akan lebih baik jika dibeli dengan menggunakan uang Cash.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketika anda berbelanja dengan kartu kredit, pihak penjual barang akan dikenakan biaya sebesar 2,5-3% dari harga transaksi itu oleh pihak bank. Untuk beberapa jenis produk (terutama yang margin labanya kecil), penjual barang tidak bersedia menanggung biaya tersebut, sehingga mengoper biaya tersebut kepada pembeli (alias anda).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Biasanya dalam kasus seperti ini, penjual akan mengatakan bahwa <em>&#8216;Kalau memakai kartu kredit, kita kenakan charge </em><strong>X</strong><em> %&#8217;.</em> Pada saat ini, biasanya charge ini sebesar 3,5%. Jika anda tetap membelinya dengan cara seperti ini, anda telah membayar bunga 3,5% hanya untuk <em>&#8216;menunda&#8217;</em> sebentar membayar belanjaan itu. Padahal uang anda yang anda taruh di tabungan mendapatkan bunga yang jauh di bawah itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bahkan jika penjual barang tersebut tidak mengenakan charge, cobalah untuk bertanya apakah ada diskon untuk pembelian cash. Seringkali anda akan mendapatkan potongan harga yang lumayan untuk pembelian dengan menggunakan uang Cash.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p><em>Untuk iseng-iseng, bisakah anda menjawab 2 pertanyaan trivia di bawah ini? </em></p>
<blockquote>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Nyonya Jangan Serakah (JS) berniat belanja baju senilai 1 juta rupiah di SOGO menggunakan KK baru miliknya. Nyonya JS berniat melunasi pembayaran dengan cara mencicil sebesar minimum payment (10% dari tagihan atau minimal 50ribu). Nyonya JS bingung, berapa lama ya kira-kira waktu yang diperlukannya untuk melunasi tagihan satu juta tersebut? Apakah 10 bulan, 1 tahun, atau?&#8230; Tolong dong Nyonya JS untuk menghitung. (dengan asumsi bunga Kartu Kredit 3%/bulan, bunga bulanan dan biaya tahunan 150rb/tahun dibayar di awal tahun, iuran tahun pertama gratis, tanpa biaya materai)</em></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Tuan Jangan Serakah (JS) diberitahu oleh temannya mengenai pentingnya dana cadangan. Lalu, Tuan JS berniat mengikuti nasihat temannya dengan menjadikan KK sebagai dana cadangan. Tolong dong anda memberi masukan kepada Tuan JS apakah  keputusannya itu tepat atau tidak? (dengan alasannya)</em></li>
</ul>
</blockquote>
<p><em>klik <a href="http://janganserakah.com/2009/04/27/mana-yang-lebih-cocok-kk-biasa-atau-kk-syariah-finalized/">disini</a> untuk penjelasannya.<br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1322/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1322&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/03/31/7-kesalahan-terbesar-dalam-menggunakan-kartu-kredit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>84</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99347e0abb95f706cfba65dd0e96dbc3?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">konobe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/kk22.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kk22</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meneropong 2009: Ancaman Kredit Konsumen</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/01/08/meneropong-2009-ancaman-kredit-konsumen/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/01/08/meneropong-2009-ancaman-kredit-konsumen/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Jan 2009 08:50:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saya suka cerita Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang]]></category>
		<category><![CDATA[Kartu Kredit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=805</guid>
		<description><![CDATA[Untuk artikel awal tahun ini, saya pikir saya ingin menulis tentang beberapa hal yang saya pikir mungkin akan bisa menjadi isu penting di tahun 2009. Artikel-artikel ini akan saya tuliskan dalam seri &#8220;Meneropong 2009&#8243;. &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Dalam bagian pertama artikel seri ini, saya ingin membahas mengenai kredit konsumen di Indonesia. Kredit konsumen, yang kerap dikenal juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=805&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Untuk artikel awal tahun ini, saya pikir saya ingin menulis tentang beberapa hal yang saya pikir mungkin akan bisa menjadi isu penting di tahun 2009. Artikel-artikel ini akan saya tuliskan dalam seri <span style="color:#0000ff;"><strong>&#8220;Meneropong 2009&#8243;</strong></span>.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bagian pertama artikel seri ini, saya ingin membahas mengenai kredit konsumen di Indonesia. Kredit konsumen, yang kerap dikenal juga sebagai kredit konsumsi, adalah segala pinjaman yang diambil oleh konsumen untuk melakukan keperluan konsumsi. Yang termasuk ke dalam kategori ini misalnya adalah pinjaman kartu kredit, kredit motor, mobil dan lain-lain. Sederhananya? Pinjaman yang tidak dipakai untuk melakukan kegiatan usaha.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa saya tertarik untuk membahas masalah kredit konsumen? Jawabannya bisa ditemukan di Korea Selatan di tahun 2003.<span id="more-805"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam krisis ekonomi asia di akhir dekade 1990an, sektor perbankan di Korea Selatan banyak mengalami kerugian akibat kredit macet ke dunia usaha. Pemerintah Korea Selatan pun lalu menekan sektor perbankan agar tidak memberikan kredit ke perusahaan yang tidak terlalu stabil ataupun meragukan. Kehilangan &#8216;l<em>adang pencaharian</em>&#8216; ini lalu membuat sektor perbankan Korea Selatan menoleh ke &#8216;<em>ladang</em>&#8216; yang lain, kredit konsumen, terutama kartu kredit.</p>
<p style="text-align:justify;">Longgarnya regulasi di sektor ini membuat industri kartu kredit Korea Selatan lalu melaju pesat. Kartu kredit ditawarkan dengan mudahnya kepada berbagai orang, bahkan juga pelajar tanpa ada kontrol dan seleksi kredit yang ketat. Hasilnya? Di tahun 2003, jumlah kartu kredit yang beredar di Korea Selatan mencapai 148 juta lembar.Padahal, jumlah penduduknya hanyalah 49 juta orang. Ini artinya, setiap orang, dari bayi, anak kecil hingga manula, rata-rata mempunyai 3 kartu kredit (<em>tentunya ini sekedar penyederhanaan, krn bayi tidak bisa memegang kartu kredit</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Tiadanya kontrol yang ketat dalam pengucuran kredit konsumen ini, membuat sektor perbankan Korea Selatan akhirnya kembali terjerat kredit macet. Kredit konsumen yang macet di Korea Selatan saat itu mencapai 28%, sehingga sektor perbankan pun kembali ambruk dan kembali menyeret perekonomian Korea Selatan ke dalam krisis.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Baru-baru ini, saya membaca artikel yang menulis tentang adanya kemungkinan cerita di atas terulang kembali di negara lain. Turki, misalnya. Nilai hutang kartu kredit di negara itu mencapai 18 Milyar Dollar, naik 600% dibandingkan 5 tahun lalu. Ini juga diakibatkan oleh mudahnya memperoleh kartu kredit di sana. Akibatnya? Kredit macet pun melambung sehingga akhirnya pemerintah Turki turun tangan memperketat aturan pemasaran kartu kredit.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa artikel yang saya baca juga menyinggung tentang potensi terjadinya hal yang sama di Cina. Di tahun 2008, jumlah kartu kredit yang beredar mencapai 105 juta lembar, bertambah hampir 100% dibandingkan tahun sebelumnya. Padahal pada pertengahan tahun 2003, jumlah kartu kredit di Cina diberitakan hanya sebanyak 3 (tiga) juta lembar.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana dengan Indonesia? Seperti yang kita semua tahu, sekarang ini begitu mudah untuk memperoleh kartu kredit di Indonesia. Mungkin kita semua sudah tidak asing lagi dengan kalimat &#8216;<em>kartu kreditnya pak/mas/om/kak/dik, cuma perlu KTP saja</em>&#8216;.</p>
<p style="text-align:justify;">Akibat mudahnya memperoleh kartu kredit, diberitakan bahwa per bulan Oktober 2008, jumlah kartu kredit yang beredar di Indonesia mencapai 11,23 juta, dan pertumbuhannya mencapai 205.000 lembar setiap bulannya. Gampangnya memperoleh kartu kredit ini pun lalu menimbulkan efek yang bisa diduga. Kredit macet di kartu kredit saat ini  &#8216;<em>kabarnya</em>&#8216; berkisar di angka 10% (ini angka &#8216;<em>resminya</em>&#8216;).</p>
<p style="text-align:justify;">Kredit konsumen tentunya tidak terbatas kepada kartu kredit saja. Beberapa kredit konsumen lainnya yang kerap kita temukan dalam kehidupan sehari-hari (karena terus menerus ditawarkan) adalah kredit otomotif dan KTA (kredit tanpa agunan, yang sudah pernah saya bahas dalam <a href="http://janganserakah.com/2008/06/27/kredit-tanpa-agunan-dan-ilusi-bunga-flat">artikel lama di blog ini</a>). Gencarnya pemberian kredit konsumen juga terjadi dalam tipe kredit ini. Kredit otomotif misalnya, hanya dengan bermodalkan beberapa ratus ribu, seseorang sudah bisa membawa pulang sebuah motor tanpa adanya seleksi kredit yang ketat. Untuk KTA pun ceritanya tidak jauh berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan kondisi ekonomi saat ini, dimana dunia usaha &#8216;lesu&#8217; dan maraknya PHK, di tahun 2009 ini kemungkinan besar sektor perbankan akan mengalami lonjakan kredit macet, terutama dalam kredit konsumen. Selama ini, kredit macet tidak terlalu &#8216;<em>ketara</em>&#8216; karena pertumbuhan kredit juga besar. Tetapi dengan kondisi ekonomi saat ini, mungkin akan semakin banyak &#8216;<em>borok</em>&#8216; yang terkuak di sektor perbankan dan finansial seperti yang kita lihat  akhir-akhir ini.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Di akhir bagian pertama artikel seri ini, saya pikir ada baiknya saya mengingatkan sekali lagi kepada teman-teman pembaca tentang pentingnya mengontrol pemakaian kartu kredit. Ingatlah sekali lagi bahwa kartu kredit merupakan unsecured debt (tanpa agunan) sehingga bunganya sangat tinggi. Lunasi seluruh tagihan kartu kredit kita setiap bulannya dan hindari kebiasaan hanya membayar jumlah pembayaran minimum.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/805/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/805/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/805/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=805&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/01/08/meneropong-2009-ancaman-kredit-konsumen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kredit Tanpa Agunan dan Ilusi Bunga Flat</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/06/27/kredit-tanpa-agunan-dan-ilusi-bunga-flat/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/06/27/kredit-tanpa-agunan-dan-ilusi-bunga-flat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 08:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah teman-teman mengalami hal seperti ini? Anda sedang bekerja/ngopi/makan siang/nyetir, ketika tiba-tiba&#8230;&#8230; (ring&#8230;ring&#8230;handphone berbunyi&#8230; nomor tidak dikenal) &#8220;Hallo?&#8221; &#8220;Selamat siang pak. Nama saya X dari Bank Y. Saya menelpon untuk menginformasikan kepada bapak bahwa bapak telah terpilih untuk mendapatkan fasilitas kredit tanpa agunan sebesar 50 juta dari bank kami. Uang ini nanti bebas bapak pakai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=58&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pernahkah teman-teman mengalami hal seperti ini? Anda sedang bekerja/ngopi/makan siang/nyetir, ketika tiba-tiba&#8230;&#8230;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>(ring&#8230;ring&#8230;handphone berbunyi&#8230; nomor tidak dikenal)</em></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hallo?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>&#8220;</strong>Selamat siang pak. Nama saya X dari Bank Y. Saya menelpon untuk menginformasikan kepada bapak bahwa bapak telah terpilih untuk mendapatkan fasilitas kredit tanpa agunan sebesar 50 juta dari bank kami. Uang ini nanti bebas bapak pakai untuk&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya yakin kejadian di atas sudah pernah dialami oleh kebanyakan pembaca blog ini. Beberapa tahun terakhir, berbagai institusi perbankan begitu gencarnya menawarkan <strong>Kredit Tanpa Agunan (KTA)</strong> kepada masyarakat. Saking gencarnya, hingga dalam satu bulan, saya bisa menerima telpon seperti di atas dua atau tiga kali.</p>
<p style="text-align:justify;">Menulis post tentang KTA ini, saya jadi teringat akan suatu kejadian di bulan Oktober tahun lalu  ketika saya diberikan sebuah &#8220;PR&#8221; oleh orang tua saya. Saya diminta untuk membantu mengurus penyelesaian hutang  bank salah satu karyawan kami. Jumlah hutang karyawan itu kepada berbagai bank mencapai lebih dari Rp 40 juta, terdiri dari hutang KTA dan kartu kredit. Dengan gaji pokoknya yang hanya Rp 1,2 juta per bulan tentunya situasi karyawan tersebut bagaikan sebuah mimpi buruk, terlebih mengingat kondisi karyawan tersebut yang sudah ada tanggungan (istri dan 1 anak)<span id="more-58"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Akhir-akhir ini, fasilitas <strong>KTA</strong> bagi banyak orang menjadi  &#8220;jalan keluar&#8221; untuk memenuhi kebutuhan belanjanya, entah apakah itu utk belanja konsumsi ataupun belanja usaha. &#8216;Getolnya&#8217;  bank-bank dalam menawarkan KTA ditambah dengan meluasnya sifat <a title="Consumerism (Wikipedia)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Consumerism">konsumerisme</a> serta rendahnya pemahaman masyarakat tentang instrumen hutang membuat saya agak mengkhawatirkan ekses negatif yang mungkin timbul di masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dunia &#8220;perhutangan&#8221;, KTA termasuk ke dalam kategori <a title="unsecured debt (investopedia)" href="http://www.investopedia.com/terms/u/unsecureddebt.asp" target="_blank">unsecured debt</a> (lawannya adalah <a title="secured debt (investopedia)" href="http://www.investopedia.com/terms/s/secureddebt.asp" target="_blank">secured debt</a>).  Dalam unsecured debt, hutang yang diberikan tidak &#8220;terkait&#8221; dengan barang jaminan apapun, sehingga tentunya resiko yang ditanggung oleh si pemberi hutang lebih besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti kita tahu, dalam investasi berlaku hukum &#8220;resiko sebanding dengan prospek keuntungan&#8221;, dan tentunya KTA juga tidak luput dari hukum ini. Karena resiko yang ditanggung oleh pemberi hutang lebih tinggi, orang-orang yang menggunakan KTA pun harus &#8220;membayar lebih mahal&#8221; dalam bentuk bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan hutang tipe &#8220;secured debt&#8221; (dimana kita harus memberikan barang jaminan kepada bank).</p>
<p style="text-align:justify;">Beban bunga yang lebih tinggi (dan bisa sangat mencekik ini) yang menjadi alasan mengapa pada umumnya Financial Planner selalu menyarankan untuk sebisa mungkin menghindari &#8220;unsecured debt&#8221; seperti KTA.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu hal yang membuat banyak orang tertarik untuk mengambil KTA adalah <strong>Ilusi bunga Flat</strong>. Satu hal yang saya sayangkan adalah masih banyak orang yang belum memahami apa itu bunga flat, sehingga saya kerap mendengar kalimat seperti &#8220;<em>Ambil KTA aja, bunganya <span style="text-decoration:underline;">cuma</span> 2% sebulan</em>&#8220;. Sistem bunga Flat yang umumnya dipakai untuk KTA, memang menimbulkan ilusi bahwa bunga yang kita bayar tidak terlalu mahal, padahal kenyataannya tidak demikian.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sistem bunga Flat, bunga yang kita bayar diperhitungkan atas nilai awal hutang kita. Misalkan kita berhutang Rp 10 juta, maka besarnya bunga yang kita bayar itu selalu dihitung berdasarkan angka 10 juta ini, bahkan jika kita sudah mencicil sebagian dari 10 juta itu. Ini berbeda dengan sistem bunga &#8220;normal&#8221; (efektif) di mana besarnya bunga yang harus kita bayar itu dihitung berdasarkan kepada sisa hutang kita. Jika kita berhutang Rp 10 juta, tetapi sudah kita cicil Rp 1 juta, maka bunga yang kita bayar hanyalah bunga atas Rp 9 juta.</p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan di atas menimbulkan selisih yang besar antara bunga flat dan bunga efektif. Sebagai contoh, jika kita mengambil KTA tempo 1 tahun dengan bunga <em>&#8220;cuma&#8221;</em> 2%/bulan (24%/thn),  bunga efektif yang harus kita bayar sebenarnya adalah sebesar kurang lebih 42%. Dengan tingkat bunga seperti ini, tidaklah mengherankan jika institusi perbankan begitu bernafsu meminjamkan uangnya kepada kita dalam bentuk produk KTA ini (bandingkan dengan bunga deposito yang kita terima jika kita &#8220;meminjamkan&#8221; uang kita kepada bank).</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap kali kita ditawarkan hutang (untuk apapun juga) dengan sistem bunga flat, ada baiknya jika kita menghitung berapa sebenarnya bunga efektif yang kita bayar. Secara kasar, biasanya jika suku bunga flat diubah menjadi suku bunga efektif, maka besarnya kira kira akan menjadi hampir 2 kali lipat (lihat kembali contoh di atas)</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengkonversi bunga flat menjadi bunga efektif dengan lebih tepat, untuk teman-teman yang &#8220;tidak ada waktu&#8221; untuk menghitung secara manual, bisa menggunakan berbagai kalkulator online seperti yang tersedia di <a title="Kalkulator suku bunga" href="http://www.morley-computing.co.uk/resources/scripts/javascript/apr_flat_rate_calculator/" target="_blank">sini</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama-tama masukkan nilai pinjaman, suku bunga FLAT, tipe pinjaman (FLAT) serta lama pinjaman (dalam bulan). Misalkan saja kita masukkan nilai pinjaman 100 juta, suku bunga flat 8%/thn, serta lama pinjaman 24 bulan. Maka hasil yang diberikan oleh kalkulator itu adalah : Total Amount Repayable (jumlah total pembayaran) = 116 juta  dan cicilan perbulan 4.833.333.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya untuk mengetahui berapa sebenarnya bunga efektif yang kita bayar, maka kita lakukan sekali lagi penghitungan. Nilai pinjaman tetap 100 juta, tipe pinjaman diganti ke Compound, lama pinjaman tetap 24 bulan. Karena kita justru sedang mencari tahu berapa tingkat suku bunga efektif, maka kita tidak mengetahui berapa suku bunga efektif yang harus dimasukkan. Untuk mencari besarnya suku bunga ini, kita akan memakai metode &#8220;trial and error&#8221; (meskipun &#8220;trial and error&#8221; tetapi tidak membutuhkan waktu lama).</p>
<p style="text-align:justify;">Utk percobaan pertama, masukkan saja misalnya suku bunga compound=16% (dua kali lipat dari suku bunga flat). Hasil yang kita dapatkan : Total Amount Repayable = 117 juta+ dan cicilan bunga per bulan = 4.896.311. Angka ini lebih besar daripada angka 116 juta pada penghitungan suku bunga flat. Oleh karena itu, kita turunkan sedikit angka suku bunga compound itu, misalnya menjadi 15%. Hasil baru yang kita dapatkan akan menurun menjadi 116,367 juta. Kecilkan terus suku bunga compound hingga hasil yang kita dapat = 116 juta, yang akan didapat pada tingkat suku bunga compound 14,68%. Dengan demikian berarti bahwa suku bunga flat di atas (8% selama 24 bulan) adalah sama dengan bunga efektif sebesar 14,68%.</p>
<p style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/58/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/58/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=58&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/06/27/kredit-tanpa-agunan-dan-ilusi-bunga-flat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>156</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>