<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Forex</title>
	<atom:link href="http://janganserakah.com/tag/forex/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://janganserakah.com</link>
	<description>Sebuah blog sederhana tentang dunia investasi dan perencanaan keuangan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 May 2010 04:06:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='janganserakah.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d528815cd098af4ded4ea5f747ac55f8?s=96&#038;d=http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Forex</title>
		<link>http://janganserakah.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://janganserakah.com/osd.xml" title="Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://janganserakah.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Duri-Duri Derita Derivatif: Pelajaran dari Kasus Perbankan Indonesia</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/02/21/duri-duri-derita-derivatif-pelajaran-dari-kasus-perbankan-indonesia/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/02/21/duri-duri-derita-derivatif-pelajaran-dari-kasus-perbankan-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 01:50:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Saya suka cerita Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Forex]]></category>
		<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1113</guid>
		<description><![CDATA[Baru-baru ini, saya menerima sebuah e-mail dari pembaca blog ini. Isi emai itu sendiri sangat singkat: Bung Edison, tolong dong diulas mengenai transaksi derivatif yang terjadi di bank akhir-akhir ini. Karena topik itu agak menarik, saya pikir tidak ada salahnya saya memenuhi request/permintaan tersebut. Apalagi mengingat sudah agak lama sejak saya terakhir kali menulis artikel [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1113&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Baru-baru ini, saya menerima sebuah e-mail dari pembaca blog ini. Isi emai itu sendiri sangat singkat:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bung Edison, tolong dong diulas mengenai transaksi derivatif yang terjadi di bank akhir-akhir ini.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Karena topik itu agak menarik, saya pikir tidak ada salahnya saya memenuhi request/permintaan tersebut. Apalagi mengingat sudah agak lama sejak saya terakhir kali menulis artikel seri &#8216;Saya suka cerita ekonomi&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apa sih sebenarnya &#8216;<em>derivatif</em>&#8216;? Dan derivatif apa sih yang sedang dihebohkan akhir-akhir ini di Indonesia?<span id="more-1113"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama-tama mari kita lihat kata &#8216;<em>derivatif</em>&#8216;. Derivatif, secara harafiah, mempunyai arti &#8216;<em>turunan</em>&#8216;. Oleh karena itu, produk derivatif itu pada dasarnya berarti &#8216;<em>produk turunan</em>&#8216;. Sebagai ilustrasi sederhana, misalkan saja kita lihat kacang kedelai. Jika kacang kedelai kita anggap sebagai &#8216;<em>produk inti</em>&#8216;, maka tempe, tahu, susu kacang dan kecap bisa dikatakan sebagai produk turunan/derivatif dari kacang kedelai.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah teman-teman mempunyai gambaran kasar tentang apa itu produk derivatif, pertanyaan berikutnya yang mungkin ditanyakan adalah produk derivatif apa yang dihebohkan? Dalam kasus yang sedang ramai dibicarakan di Indonesia saat ini, produk derivatif yang sedang dihebohkan itu adalah sesuatu yang lazimnya dikenal sebagai <span style="color:#0000ff;"><strong>Forward Contract</strong></span>, atau yang lebih akrab dipanggil sebagai <strong><span style="color:#0000ff;">Forward</span></strong> (saja).</p>
<p style="text-align:justify;">Forward, secara umum didefinisikan sebagai kontrak yang mengikat antara 2 pihak untuk melakukan transaksi jual-beli suatu asset di masa depan. Definisi tersebut terlalu rumit? Sederhananya mari kita lihat ilustrasi sederhana saja:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Ilustrasi 1:</strong> Saya ingin menjual sepetak tanah milik saya dengan harga Rp 20 juta. Alina ingin membeli tanah tersebut dan ia mempunyai uang Rp 20 juta. Alina membayar Rp 20 juta ke saya, dan saya lalu menyerahkan surat tanah tersebut saat itu juga.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Ilustrasi 2:</strong> Saya ingin menjual sepetak tanah milik saya dengan harga Rp 20 juta. Alina ingin membeli tanah tersebut, <span style="text-decoration:underline;">TETAPI</span> sayangnya saat ini ia tidak mempunyai uang Rp 20 juta. Ia baru akan mempunyai uang sebesar itu di tahun depan. Akhirnya setelah bernegosiasi, kami berdua menandatangani kontrak untuk melakukan jual beli di tahun depan, tetapi dengan harga Rp 22 juta. <span style="text-decoration:underline;">Kontrak tersebut mengikat secara hukum dan transaksi tidak bisa dibatalkan secara sepihak saja, baik oleh saya ataupun oleh Alina (ingat baik-baik aspek ini, karena sangat penting)</span>.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Apakah anda bisa menebak, mana kira-kira dari 2 ilustrasi transaksi di atas yang merupakan transaksi Forward? Jika anda menjawab ilustrasi yang ke-2, maka berarti anda telah mempunyai gambaran seperti apa kira-kira transaksi forward itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PS:</strong> <em>Sebagian dari teman-teman yang cermat mungkin lalu bertanya, kenapa dalam ilustrasi ke-2, harga transaksinya menjadi Rp 22 juta? Jawabannya adalah karena saya (dalam ilustrasi tersebut) tidak &#8216;bodoh&#8217;. Jika seandainya transaksi jual-beli tanah tersebut dilakukan saat ini, maka saya bisa mendapatkan Rp 20 juta. Jika uang tersebut saya masukkan ke deposito (asumsi bunga bersih 10%), maka di tahun depan uang tersebut sudah akan menjadi Rp 22 juta. Jika transaksi jual beli tersebut dilakukan secara Forward, dan harganya tetap Rp 20 juta, maka tentunya saya &#8216;rugi&#8217; bunga selama setahun.</em></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, jika dalam ilustrasi di atas yang menjadi produk &#8216;<em>inti</em>&#8216; adalah sepetak tanah, apa produk &#8216;<em>inti</em>&#8216; dari kontrak Forward yang menjadi kasus saat ini? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah Dollar. Bagaimana jalan ceritanya? Untuk mengerti cerita ini, mari kita lihat sebuah ilustrasi sederhana tentang bisnis seorang Eksportir sepatu.</p>
<p style="text-align:justify;">Misalkan saja saya adalah seorang eksportir sepatu. Saya menerima pesanan ekspor sepatu senilai $10.000,-. Anggap saja kurs saat ini adalah 1$=Rp 10 Ribu.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk memproduksi sepatu pesanan tersebut, saya perlu mengeluarkan berbagai biaya (biaya bahan baku, upah buruh, dll). Berbagai biaya tersebut tentunya saya bayar dalam Rupiah. Anggaplah saja total seluruh biaya yang saya bayarkan itu adalah Rp 90 juta. Dengan sedikit berhitung, kita bisa melihat bahwa keuntungan saya adalah sebesar Rp 10 juta, yaitu dari ($10.000 x Rp 10 ribu)-Rp 90 juta.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya, dalam prakteknya kenyataannya tidak sederhana itu. Dalam melakukan ekspor, umumnya si pembeli baru akan membayar setelah menerima produk tersebut. Ini akan memakan waktu yang lumayan lama (bisa mencapai beberapa bulan). Anggaplah saja dalam ilustrasi ini, uang $10.000 tersebut baru bisa saya terima 3 bulan lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana seandainya jika dalam masa 3 bulan itu nilai dollar naik drastis menjadi Rp 12.o00/dollar? Tentunya saya akan senang sekali karena keuntungan yang saya dapatkan membengkak dari Rp 10 juta menjadi Rp 30 juta.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi bagaimana jika seandainya nilai dollar turun menjadi 1$=Rp 8.000? Jika ini terjadi, maka alih-alih untung, saya malah akan menderita kerugian, karena nilai uang yang saya terima tinggal menjadi Rp 80 juta (bahkan tidak cukup untuk menutup biaya yang saya keluarkan).</p>
<p style="text-align:justify;">Pelaku bisnis yang <span style="text-decoration:underline;"><em>sehat</em></span> BIASANYA tidak terlalu ingin menanggung resiko seperti di atas. Keuntungan yang mereka harapkan adalah berasal dari operasi bisnis mereka, dan tidak terlalu mengharapkan &#8216;<em>durian runtuh</em>&#8216; dari pergerakan kurs tukar.</p>
<p style="text-align:justify;">Apa solusinya? Saya pun melakukan proteksi dengan melakukan transaksi Forward. Saya dan bank D mengikat kontrak forward, dimana saya berjanji bahwa 3 bulan kemudian, saya akan menjual $10.000 dollar kepada bank tersebut. Dalam ilustrasi ini, anggap saja bank D tersebut berpendapat bahwa 3 bulan lagi nilai dollar akan naik banyak. Akibatnya mereka berani membeli dari saya dengan harga lebih tinggi dari sekarang. Misalnya saja dengan kurs  1$=Rp 11.000.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana jika 3 bulan kemudian nilai dollar menjadi 1$=Rp 12.000? Saya tetap terpaksa menjual dengan harga Rp 11.000 karena sudah terikat kontrak. Meskipun sepintas, terlihat bahwa saya seperti rugi, tetapi secara operasional saya tetap menikmati keuntungan karena biaya yang saya keluarkan hanya Rp 90 juta, dan uang yang saya dapatkan adalah Rp 110 juta. Saya tetap menikmati keuntungan kenaikan kurs, hanya saja  keuntungan kursnya tidak sebesar seandainya saya tidak terikat kontrak Forward tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebaliknya, jika ternyata tanpa diduga, nilai dollar turun ke 1$=Rp 8500, saya tetap terlindungi karena bank akan tetap harus membeli dari saya dengan harga 1$=Rp 11.000.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Ilustrasi di atas merupakan contoh dari transaksi Forward yang digunakan secara &#8216;<em>sehat</em>&#8216; untuk menjaga kelancaran operasional. Praktek seperti di atas lazimnya dikenal sebagai &#8216;<strong><span style="color:#0000ff;">Hedging&#8217;</span></strong> dan biasanya tidak menimbulkan masalah. Permasalahannya justru timbul ketika Forward dilakukan untuk spekulasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Melanjutkan ilustrasi di atas, anggaplah saja Mister Gekko adalah seorang spekulan sejati. Ia tidak mempunyai pendapatan dalam dollar seperti saya. Tetapi ia mempunyai &#8216;firasat&#8217; bahwa 3 bulan lagi, meskipun dollar bisa mengalami kenaikan, kenaikannya maksimal mencapai kurs 1$=Rp 10.500,-.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apa yang dilakukan oleh Mister Gekko? Ia pun mengambil kontrak forward tersebut sebanyak-banyaknya. Harapannya adalah, dalam 3 bulan lagi, ia akan bisa membeli dollar dengan harga Rp 10.500 di pasar, padahal saat itu bank akan harus membeli darinya dengan harga Rp 11.000,-. Seandainya spekulasinya tepat, ia akan bisa menikmati keuntungan Rp 500 per dollarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi bagaimana jika ternyata 3 bulan kemudian &#8216;<em>ramalan</em>&#8216; Mister Gekko salah total dan dollar menggila ke kurs 1$=Rp 15.000? Pada saat itu (karena ia tidak mempunyai pendapatan dalam dollar), ia pun terpaksa membeli dollar di pasar dengan harga Rp 15.000/dollar dan menjual rugi kepada bank dengan harga Rp 11.000/dollar, alias rugi Rp 4000/dollar.</p>
<p style="text-align:justify;">Ilustrasi kasus Mister Gekko di atas, bisa dikatakan tidak berbeda jauh dengan kisah nasabah-nasabah yang terjerat kasus derivatif akhir-akhir ini. Seperti yg bisa dibaca di <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/30/14225758/tersandung.produk.derivatif.perbankan.nasabah.siapkan.gugatan" target="_blank">artikel harian Kompas</a> ini, seorang nasabah mengikat kontrak untuk menjual dollar kepada bank dengan harga 1$=Rp 9.650. Ketika itu dollar masih berkisar di 1$=Rp 9.100,-. Ia optimis bahwa jikalau naikpun, maksimal dollar hanya akan mencapai 1$=9.575,- (alias ia masih bisa untung Rp 75).</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi apa daya, seperti kita tahu, rupiah kini melemah drastis. Akibatnya untuk memenuhi kontrak Forward tersebut, sang nasabah harus membeli dollar di pasar dengan harga 1$=Rp12.000++ dan menjualnya ke bank dengan harga Rp 9.650,- alias rugi lebih dari Rp 2.000/dollarnya. Sakit kepala kan?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Masih seputar kasus Forward ini, dikabarkan bahwa meskipun kontrak Forward yang &#8216;<em>jebol</em>&#8216; kebanyakan bersifat spekulasi, ada beberapa kontrak Forward yang sebenarnya untuk &#8216;proteksi&#8217; pun jebol. Ini karena tidak sedikit pembeli luar negeri yang membatalkan pesanan dari negara kita (karena kondisi ekonomi negaranya pun lesu). Akibatnya beberapa eksportir tidak mendapatkan dollar seperti yang diperhitungkan. Mereka pun akhirnya kekurangan dollar untuk memenuhi kontrak Forwardnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kasus derivatif ini sendiri kemudian ikut &#8216;<em>melilit</em>&#8216; bank-bank yang memasarkan produk derivatif Forward tersebut. Mengapa demikian? Karena bank lokal pun melakukan kontrak forward dengan bank asing. Dollar yang  mereka beli dari nasabah melalui kontrak forward, langsung &#8216;<em>dioper</em>&#8216; lagi dengan kontrak forward kepada bank asing. Ketika nasabah gagal memenuhi kontrak Forwardnya, bank lokal pun &#8216;<em>kalang-kabut</em>&#8216; karena tetap harus memenuhi kontrak forward dollar mereka ke bank asing.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1113&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/02/21/duri-duri-derita-derivatif-pelajaran-dari-kasus-perbankan-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Forex Trading: Kasino Legal Indonesia</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/07/04/forex-trading-kasino-legal-indonesia/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/07/04/forex-trading-kasino-legal-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 02:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>
		<category><![CDATA[Forex]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[WHAT THEY SAID&#8230; Forecasting exchange rates has a success rate no better than that of forecasting the outcome of a coin toss Alan Greenspan (2004) &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Kemarin, ECB (European Central Bank/Bank Sentral Uni Eropa) menaikkan suku bunga patokannya dari 4% menjadi 4,25%. Kenaikan ini membuat selisihnya dengan Fed Rate (2%) milik bank sentral Amerika semakin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=74&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>WHAT THEY SAID&#8230;</p></blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Forecasting exchange rates has a success rate no better than that of forecasting the outcome of a coin toss</em></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Alan Greenspan (2004)<br />
</strong></p></blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Kemarin, <strong>ECB </strong>(European Central Bank/Bank Sentral Uni Eropa) menaikkan suku bunga patokannya dari 4% menjadi 4,25%. Kenaikan ini membuat selisihnya dengan <strong>Fed Rate</strong> (2%) milik bank sentral Amerika semakin besar. Biasanya hal ini akan membuat mata uang Euro menguat terhadap Dollar Amerika, terlebih mengingat pelaku pasar secara umum berpendapat bahwa the Fed kemungkinan besar tidak akan menaikkan suku bunganya hingga akhir tahun ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi apa yang terjadi? Bukannya menguat, nilai tukar Euro terhadap Dollar Amerika malah melemah dari 1,59 menjadi 1,57 (<span style="color:#ff0000;">-1,26%</span>).<span id="more-74"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kejadian ini langsung membuat saya jadi teringat kepada ucapan Greenspan yang saya kutip di atas. Kutipan yang saya dengar beberapa tahun lalu tersebut memang sangat membekas di otak saya. Sebagai Gubernur bank sentral Amerika (The Fed), boleh dikatakan Greenspan mempunyai kuasa untuk menentukan suku bunga patokan Amerika (yang akan mempengaruhi nilai tukar US$). Greenspan sendiri adalah seseorang yang mempunyai tingkat intelegensi tinggi dan dengan jabatannya itu, memiliki akses luas ke berbagai data dan informasi yang mungkin tidak bisa disamai oleh orang lain di dunia finansial serta didukung oleh &#8216;satu pasukan&#8217; tenaga ahli dalam bidang keuangan, statistik dan ilmu terkait lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan berbagai &#8216;kelebihan&#8217; dan &#8216;fasilitas&#8217; yang dimiliki oleh Greenspan tersebut, bukankah sangat menarik jika ia sampai mempunyai pendapat bahwa &#8220;<strong><em>meramalkan pergerakan kurs tidaklah berbeda dengan mencoba meramalkan hasil lemparan koin</em></strong>&#8220;?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ada sebagian pembaca blog ini yang akan berpikir &#8220;<em>ah, kenyataannya ada orang-orang yang berhasil mendapatkan keuntungan dari bermain forex, tuh si A berhasil dapat xxx dari trading forex</em>&#8220;. Sama halnya dengan kasino, dari jutaan orang yang berjudi di sana, tentunya ada sebagian orang yang keluar dengan kocek yang lebih tebal.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai ilustrasi, kita akan melihat kasus &#8220;lemparan koin&#8221; yang dipakai oleh Greenspan. Seperti kita tahu, lemparan koin mempunyai peluang ½-½. Jika kita melempar koin sebanyak 10 kali berturut-turut, peluang untuk menebak secara benar 10 kali adalah sebesar 0,09765625%. Angka tersebut kelihatan kecil, tetapi jika ada 1024 orang yang mengikuti &#8216;tebakan&#8217; ini, maka berdasarkan probabilita, akan ada 1 orang yang berhasil menebak dengan benar 10 lemparan koin tersebut. Mengingat &#8216;pemain&#8217; forex jumlahnya bisa dikatakan jutaan, tentunya tidak aneh jika ada sebagian orang yang bisa mengklaim &#8216;menang&#8217; di forex. Meskipun demikian, <span style="text-decoration:underline;">ini tidak mengubah kenyataan bahwa permainan ini adalah permainan &#8216;lempar koin&#8217;</span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Greenspan, dalam pidato di depan European Banking Congress 2004, mengatakan bahwa problem  utama dalam forecasting pergerakan kurs adalah sulitnya melakukan antisipasi terhadap perubahan supply dan demand suatu mata uang. Ditambah lagi dengan aktifitas spekulasi para pelaku pasar, maka forecasting pergerakan kurs secara akurat dan konsisten (dalam jangka panjang) boleh dikatakan adalah sesuatu yang mustahil.</p>
<p style="text-align:justify;">Greenspan juga menambahkan bahwa beberapa institusi perbankan memang mampu mendapatkan hasil yang cukup konsisten dari trading forex, tetapi hasil ini bukanlah didapat dari kemampuan mereka untuk meramalkan pergerakan kurs. Keuntungan yang didapat oleh institusi-institusi perbankan ini adalah keuntungan yang didapat dari kemampuan mereka untuk &#8216;membuat pasar&#8217;.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Jika saya perhatikan kondisi di Indonesia, akhir-akhir ini kegiatan trading forex, terutama secara online sangat marak. Iklan workshop forex yang ditawarkan berbagai trainer bisa ditemukan setiap hari di koran. Satu hal yang sangat mengganggu pikiran saya adalah sebagian besar iklan dari para trainer ini disertai dengan iming-iming hasil yang sangat tidak realistis, tanpa memberikan gambaran yang tepat mengenai besarnya resiko permainan forex.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin iming-iming yang paling &#8216;ampuh&#8217; para trainer ini adalah &#8220;passive income&#8221; dan &#8220;financial freedom&#8221; dengan forex. Padahal kalau kita mau berpikir sejenak, jika benar trading forex bisa memberikan passive income dan financial freedom, untuk apa para trader itu masih sibuk mencari &#8220;calon murid&#8221; yang mau membayar mahal untuk ikut workshopnya?</p>
<p style="text-align:justify;">Trading Forex adalah suatu aktifitas spekulasi. Tentu saja spekulasi tidak dilarang, tetapi batasilah jumlah yang akan dipakai untuk spekulasi. Jangan sampai spekulasi ini malah memiliki porsi lebih besar dari investasi kita. Porsi uang yang kita pakai untuk spekulasi sebaiknya tidaklah lebih dari 5-10% investasi kita.</p>
<p style="text-align:center;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/74/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/74/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=74&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/07/04/forex-trading-kasino-legal-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>66</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>