<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Analisa</title>
	<atom:link href="http://janganserakah.com/tag/analisa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://janganserakah.com</link>
	<description>Sebuah blog sederhana tentang dunia investasi dan perencanaan keuangan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 May 2010 04:06:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='janganserakah.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d528815cd098af4ded4ea5f747ac55f8?s=96&#038;d=http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Analisa</title>
		<link>http://janganserakah.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://janganserakah.com/osd.xml" title="Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://janganserakah.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Efek Prestise: Ketika Seorang Investor Terpukau</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/03/16/efek-prestis/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/03/16/efek-prestis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Mar 2009 08:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1132</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin hanya secuil pembaca blog ini yang pernah mendengar nama Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria. Kedua orang tersebut mempunyai &#8216;kisah&#8217; yang hampir sama, dan saya hanya berharap &#8216;kisah&#8216; saya di kemudian hari tidak sama dengan &#8216;kisah&#8216; kedua orang tersebut. Jadi sebenarnya siapa itu Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria? Apa hubungan di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1132&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Mungkin hanya secuil pembaca blog ini yang pernah mendengar nama <span style="color:#0000ff;"><strong>Harry Markopolos</strong></span> dan <span style="color:#0000ff;"><strong>Lawrence J. de Maria</strong></span>. Kedua orang tersebut mempunyai &#8216;<em>kisah&#8217;</em> yang hampir sama, dan saya hanya berharap &#8216;<em>kisah</em>&#8216; saya di kemudian hari tidak sama dengan &#8216;<em>kisah</em>&#8216; kedua orang tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi sebenarnya siapa itu Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria? Apa hubungan di antara keduanya? Dan mengapa saya berharap &#8216;<em>kisah</em>&#8216; saya tidak berakhir seperti &#8216;<em>kisah</em>&#8216; mereka?<span id="more-1132"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Nama Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria akhir-akhir mencuat berkat nama 2 orang lainnya, <strong><span style="color:#0000ff;">Bernard Madoff </span></strong>dan <span style="color:#0000ff;"><strong>Allen Stanford</strong></span>.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin sebagian pembaca blog ini masih ingat dengan nama Bernard Madoff (pernah saya ceritakan dengan detail <a href="http://janganserakah.com/2008/12/13/edisons-week-in-review-13-december-2008/" target="_blank">di sini</a>). Bernard Madoff mencuat akibat kasus penipuan <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Ponzi_scheme" target="_blank">skema ponzi</a> yang dijalankannya. Kerugian yang timbul akibat penipuan madoff ini dikabarkan mencapai US$ 50 Milyar (jika 1$=Rp 10 ribu, maka total kerugiannya berarti sebesar Rp 500 triliun), dan merupakan rekor penipuan ponzi terbesar dalam sejarah.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak berbeda dengan Bernard Madoff yang &#8216;<em>populer</em>&#8216; karena penipuannya, &#8216;<em>popularitas</em>&#8216; nama Allen Stanford pun mencuat karena alasan yang sama. Baru-baru ini, Allen Stanford dituntut oleh SEC (semacam Bapepam di USA) karena tuduhan menjalankan penipuan dengan menggunakan banknya. Operasi Stanford diduga juga berbau penipuan skema ponzi dan diperkirakan nilai uang yang &#8216;<em>tersangkut</em>&#8216; dalam penipuan Allen Stanford ini akan mencapai US$ 8 Milyar. Meskipun belum &#8216;<em>sehebat</em>&#8216; kasus Madoff, nilai tersebut tetap saja sangat besar (Rp 80 Triliun, dengan asumsi kurs 1$=Rp 10 ribu).</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi apa hubungan antara Maddoff dan Stanford dengan Harry Markopolos dan Lawrence J. de Maria yang saya ungkit di awal artikel ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Di tahun 2005, Harry Markopolos menyerahkan sebuah memo hasil karyanya yang berjudul &#8220;<em>The World&#8217;s Largest Hedge Fund is a Ponzi Scam</em>&#8221; kepada badan <strong>SEC</strong> (<em>memo tersebut bisa didownload di widget Box.net di sidebar sebelah kanan blog ini</em>). Dalam memonya itu, Harry Markopolos menyampaikan analisanya bahwa perusahaan investasi Madoff kemungkinan besar adalah sebuah penipuan ponzi. Kalaupun tidak, maka kemungkinan lainnya adalah bahwa Madoff melakukan praktek Insider Trading (yg juga merupakan satu tindakan kriminal). Tetapi analisa Harry tersebut tidak mendapatkan tanggapan dari badan SEC. Akhirnya 3 tahun kemudian (akhir 2008 lalu), barulah penipuan yang dilakukan Madoff terbongkar dan kecurigaan Harry Markopolos pun terbukti benar.</p>
<p style="text-align:justify;">Kisah Lawrence J. de Maria hanya sedikit berbeda dengan kisah Harry.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tahun 2003, Lawrence J. de Maria (seorang ex-jurnalis) direkrut oleh perusahaan Allen Stanford untuk mengelola majalah internal perusahaan Stanford. Tetapi satu tahun kemudian, Lawrence diberhentikan. Menurut Lawrence, ia diberhentikan karena terlalu banyak bertanya dan mengorek-ngorek tentang bisnis sesungguhnya dari perusahaan Stanford, di tahun 2004. Di tahun 2006, Lawrence pun mengajukan tuntutan hukum kepada Stanford dan perusahaannya. Dalam tuntutannya tersebut, Lawrence mengatakan bahwa perusahaan Stanford merupakan suatu penipuan skema Ponzi. Tetapi sehari sebelum sidang, Stanford memilih untuk &#8216;<em>damai</em>&#8216; dengan Lawrence dan membayarkan sejumlah uang kepada Lawrence. Seharusnya kejadian ini mengundang tanda tanya yang cukup besar, tetapi sayangnya SEC tidak menindak-lanjuti kejadian &#8216;<em>aneh</em>&#8216; tersebut. Akibatnya hampir 3 tahun kemudian, (di awal tahun ini) barulah tersibak operasi penipuan yg dilakukan oleh Stanford.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi mengapa penipuan yang dilakukan oleh Madoff dan Stanford bisa luput dari &#8216;<em>mata</em>&#8216;  pihak yang berwenang di Amerika (dalam hal ini badan SEC)? Terlebih lagi mengingat sudah ada suara-suara &#8216;<em>miring</em>&#8216; dari orang-orang seperti Markopolos dan Lawrence J de Maria. Alasan utama yang dikemukakan SEC sendiri  bahwa mereka tidak mempunyai cukup sumber daya manusia untuk mencek secara detail satu-satu pengaduan ataupun &#8216;berita aneh&#8217; yang mereka terima. Alasan lainnya yang dikemukakan adalah bahwa meskipun sempat memeriksa, tetapi mereka tidak berhasil mendapatkan bukti yang mendukung kecurigaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sendiri berpendapat bahwa justru ada penyebab utama lainnya yang membuat penipuan Madoff dan Stanford bisa berjalan &#8216;<em>langgeng</em>&#8216; begitu lama. Anda ingin tahu apa sebab utama tersebut?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya : Efek dari tingkat prestise (prestige) seseorang terhadap kredibilitasnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbagai studi dan riset dalam ilmu sosiologi telah membuktikan bahwa kredibilitas seseorang sangat dipengaruhi oleh tingkat prestise orang tersebut. Semakin tinggi tingkat prestise seseorang, semakin tinggi kredibilitas orang itu dan semakin mudah bagi kita untuk mempercayai orang tersebut. Pengaruh dari tingkat prestise terhadap kredibitas begitu besar sehingga kadang membuat tindakan kita kurang &#8216;<em>rasional</em>&#8216;. Ilustrasi sederhana dari efek ini adalah sebagai berikut:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Misalkan saja anda sedang mengendarai mobil di sebuah kota yang belum pernah anda datangi sebelumnya. Di kursi belakan mobil anda, ada saya (Edison) dan Warren Buffet. Kami berdua (Edison &amp; Warren Buffet) juga tidak pernah datang ke kota tersebut. Setelah beberapa lama mengendarai mobil, anda sampai di sebuah persimpangan jalan. Satu cabang jalan menuju ke kiri, dan satu cabang menuju ke kanan. Saya lalu menganjurkan untuk belok kiri, sedangkan Buffet menganjurkan untuk belok kanan. Saran siapakah yang akan lebih cenderung untuk anda ikuti?</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Jika anda &#8216;<em>rasional</em>&#8216;, seharusnya saran saya ataupun saran Buffet akan sama nilainya, karena kami berdua sama-sama belum pernah datang ke kota tersebut sehingga sama-sama tidak tahu jalan. Tetapi studi sosial menunjukkan bahwa dalam keadaan seperti ini, orang akan lebih cenderung percaya kepada orang yang mempunyai prestise lebih tinggi (dalam hal ini Warren Buffet). Orang-orang yang mempunyai tingkat prestise tinggi di mata kita akan lebih mudah untuk mengubah dan mempengaruhi  pendapat/pendirian kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika anda renungkan sebentar, maka sebenarnya banyak contoh yang sudah anda pernah lihat tentang penggunaan efek &#8216;prestise&#8217; ini dalam kehidupan sehari-hari. Jika anda menghadiri seminar misalnya, pembicaranya akan berpenampilan rapi, berjas dan berdasi, karena salah satu hal yang mempengaruhi tingkat prestise adalah penampilan. Contoh lainnya? Seseorang yang bekerja di sektor finansial tetap mencantumkan gelarnya yang di bidang lain, misalnya ST (Sarjana Teknik), karena tingkat prestise juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan (<em>padahal dalam hal ini, pendidikan yang dikecapnya tidak berhubungan dengan bidang pekerjaannya</em>).</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang kita kembali ke kasus Madoff dan Stanford.</p>
<p style="text-align:justify;">Madoff, seperti yg pernah saya ceritakan <a href="http://janganserakah.com/2008/12/13/edisons-week-in-review-13-december-2008/">di artikel lama saya ini</a>, bukanlah orang &#8216;<em>biasa</em>&#8216;. Dalam perjalanan karirnya, ia merupakan salah satu orang yang dianggap berjasa &#8216;<em>membesarkan</em>&#8216; nama <strong>NASDAQ</strong>, salah satu bursa saham utama di USA. Ia juga memiliki perusahaan broker dan perusahaannya merupakan salah satu market-maker terbesar di bursa saham <strong>NYSE</strong> (New York Stock Exchange). Ia pun pernah menjabat sebagai Ketua Direksi badan <strong>NASD </strong>(National Association of Securities Dealer). Madoff juga terkenal sebagai seorang dermawan yang aktif memberikan sumbangan kepada berbagai badan sosial dan amal.</p>
<p style="text-align:justify;">Stanford, sama seperti Madoff, bukanlah orang &#8216;<em>sembarangan</em>&#8216;. Ia mempunyai gelar kebangsawanan sehingga berhak menambahkan kata &#8216;Sir&#8217; di depan namanya (Sir Allen Stanford). Gelar kebangsawanan tersebut diberikan oleh Commonwealth (gabungan negara eks-jajahan Inggris). Di Antigua, salah satu pusat operasi perusahaannya, ia merupakan pencipta lapangan kerja terbesar (hanya kalah oleh pemerintah Antigua). Stanford juga terkenal karena sepak terjangnya di dunia olahraga, terutama olahraga Kriket (Cricket). Ia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan badan <strong>ECB</strong> (England and Wales Cricket Board), yaitu komite olahraga Kriket di Inggris (mirip dengan PSSI utk olahraga sepakbola di negara kita). Bekerja sama dengan ECB, ia mengadakan turnamen Kriket tahunan dengan hadiah yang tidak tanggung-tanggung, US$20 juta.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan tingkat prestise keduanya yang begitu tinggi, menurut anda, siapakah yang akan lebih kredibel dan lebih dipercaya oleh banyak orang (termasuk juga penyidik SEC)? Madoff dan Stanford? Atau Markopolos dan Lawrence J de Maria?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya pelaku penipuan yang memanfaatkan  &#8216;efek Prestise&#8217; ini tidak hanya Madoff dan Stanford. Sejarah dunia investasi penuh dengan pelaku penipuan yang memanfaatkan efek &#8216;Prestise&#8217; untuk meningkatkan kredibilitasnya sehingga bisa lebih mudah menjerat korbannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Praktek yang sering dilakukan misalnya adalah dengan memberikan &#8216;<em>penampilan</em>&#8216; yang sangat &#8216;<em>wah</em>&#8216;. Beberapa penipuan berskala besar justru mempunyai kantor yang mentereng di lokasi mewah. Materi promosi (brosur, proposal dan lain-lainnya) juga dikerjakan dengan sangat baik dan terkesan sangat profesional.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk meningkatkan prestisenya, tidak sedikit operasi penipuan yang lalu membuka cabang di berbagai kota bahkan negara. Ada juga yang menggunakan argumen bahwa pusat operasi mereka adalah di negara maju, yang lebih ketat pengawasannya. Akibatnya tidak sedikit orang yang &#8216;<em>terhipnotis</em>&#8216; karena merasa tidak mungkin di negara yg &#8216;<em>maju</em>&#8216; masih ada praktek penipuan yang bisa lolos dari pengawasan negara.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya asumsi di atas salah besar. Kasus Bernie Madoff dan Stanford misalnya malah timbul di negara maju seperti Amerika. Di Singapura, negara tetangga kita yang terkenal ketat aturan hukumnya, pun masih bisa terjadi kejahatan penipuan. Mungkin sebagian pembaca ada yang pernah mendengar nama Sunshine Empire Pte. Ltd? Perusahaan gadungan yang sangat mentereng ini (<em>anda bisa mencoba melihat berbagai video promosi mereka di YouTube</em>)  sempat juga membuka cabangnya di Indonesia. Kini, pemilik perusahaan tersebut ditangkap dengan melakukan dakwaan melakukan penipuan berkedok investasi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_1183" class="wp-caption alignright" style="width: 208px"><img class="size-full wp-image-1183" title="singh" src="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/02/singh.gif?w=198&#038;h=165" alt="Vijay Singh dan topi Stanford Financialsnya" width="198" height="165" /><p class="wp-caption-text">Vijay Singh dan topi Stanford Financialsnya</p></div>
<p style="text-align:justify;">Selain pola yang saya ceritakan di atas, pola yang juga kerap dilakukan pelaku penipuan adalah menggandeng &#8216;<em>nama besar</em>&#8216; orang ataupun organisasi lain dan memanfaatkan prestis orang ataupun organisasi tersebut. Ini bisa dilakukan dengan tanpa izin (alias mencatut nama) ataupun bahkan dengan sepengetahuan orang tersebut (karena orang tersebut tidak benar-benar memahami bidang tersebut). Pegolf terkenal Vijay Singh misalnya, adalah salah satu nama besar dari olahraga golf yang disponsori Allen Stanford yang saya ceritakan dalam artikel ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari dalam negeri, mungkin sebagian pembaca masih ingat kisah tentang penipuan PT QSAR (Qurnia Subur Alam Raya)? Mantan Presiden Megawati dan Mantan Ketua MPR Amien Rais sempat menghadiri salah satu acara peresmian mereka. Kehadiran kedua tokoh nasional itu termasuk tokoh yang <em>&#8216;nama besar&#8217;</em>-nya dimanfaatkan PT QSAR untuk meningkatkan prestise mereka agar memudahkan operasi penipuan mereka.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8212;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Di awal artikel ini, saya sempat menulis <em>&#8220;saya hanya berharap kisah saya di kemudian hari tidak sama dengan </em><em>kisah Markopolos dan J. de Maria</em>&#8220;. Mengapa saya menulis seperti itu?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya sederhana, karena baru-baru ini saya menemukan sebuah produk investasi yang menimbulkan tanda tanya besar di dalam pikiran saya. Produk investasi tersebut ditawarkan oleh sebuah perusahaan <em>&#8216;beken&#8217;</em> dari luar negeri. Untuk memuaskan rasa ingin tahu saya, saya pun lalu berkunjung ke kantor mereka dan menemui salah seorang pimpinan perusahaan tersebut untuk wilayah Indonesia. Dalam pertemuan tersebut, saya pun sempat mengajukan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan informasi yang lebih detail.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasilnya? Saya malah pulang dari kunjungan tersebut dengan membawa tanda tanya dan rasa was-was yang justru lebih besar lagi, karena jawaban yang saya terima sangat tidak memuaskan. Beberapa penjelasan yang diberikan terasa sangat meragukan dan untuk beberapa subjek yang saya tanyakan, mereka malah terkesan &#8216;mengelak&#8217; untuk memberikan penjelasan.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun demikian, saya pikir mungkin tidak sedikit orang yang akan terjebak oleh efek prestis perusahaan tersebut sehingga akhirnya lalai bertanya. Ini karena perusahaan tersebut boleh dikatakan cukup mempunyai nama, terutama berkat iklan-iklan mereka yang agresif di salah satu tv berlangganan di Indonesia. Kantor mereka pun didesign dengan mentereng, dan  lokasinya pun sangat <em>&#8216;meyakinkan&#8217;</em>, yaitu di gedung Bursa Efek Jakarta.</p>
<p style="text-align:justify;">Awalnya, artikel ini saya tulis dengan niat mengungkapkan nama perusahaan tersebut. Tetapi niat tersebut saya tunda karena hingga saat ini saya masih terus berkorespondensi dengan perusahaan tersebut untuk <em>&#8216;menggali&#8217;</em> informasi lebih lanjut. Saya masih berencana ingin berkunjung ke kantor pusat mereka yang berlokasi di negara tetangga kita (kebetulan saya lumayan sering berkunjung ke negara tersebut). Setelah saya selesai <em>&#8216;menggali&#8217;</em> informasi yang lebih lanjut, mungkin barulah saya akan menulis artikel tentang perusahaan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian pembaca mungkin lalu bertanya&#8230; <em>&#8216;Wah kalau tidak mengungkapkan nama perusahaan tersebut, untuk apa artikel ini ditulis?&#8217;</em> Harapan saya hanyalah bahwa dengan cerita saya di atas, saya ingin agar anda bisa <em>&#8216;kebal&#8217;</em> dari &#8216;<em>efek prestis</em>&#8216;, sehingga tidak terjatuh dalam perangkap yang sama dengan apa yang dialami orang-orang dalam kisah Madoff dan Stanford. Bagaimana pun meyakinkannya orang yang menawarkan produk investasi tersebut kepada anda, jangan lalai untuk selalu bertanya dan bersikap kritis.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1132&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/03/16/efek-prestis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>53</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/02/singh.gif" medium="image">
			<media:title type="html">singh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa Yang Salah Dengan Artikel Seri &#8220;Laporan Keuangan&#8221;?</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/03/02/apa-yang-salah-dengan-artikel-seri-laporan-keuangan/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/03/02/apa-yang-salah-dengan-artikel-seri-laporan-keuangan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 07:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investor Aktif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1229</guid>
		<description><![CDATA[Berkat polling yang diadakan dalam &#8216;kontes&#8217; iseng kemarin, saya mendapatkan masukan yang sangat berarti bagi saya, terutama dalam penulisan dan penyajian artikel di blog ini. Salah satu masukan yang paling mengena bagi saya adalah mengenai artikel Seri &#8220;Mengenal Laporan Keuangan&#8221;, dimana tidak sedikit di antar teman-teman yang merasa kesulitan untuk memahami artikel seri tersebut. Mendapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1229&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Berkat polling yang diadakan dalam &#8216;kontes&#8217; iseng kemarin, saya mendapatkan masukan yang sangat berarti bagi saya, terutama dalam penulisan dan penyajian artikel di blog ini. Salah satu masukan yang paling mengena bagi saya adalah mengenai artikel Seri &#8220;Mengenal Laporan Keuangan&#8221;, dimana tidak sedikit di antar teman-teman yang merasa kesulitan untuk memahami artikel seri tersebut. Mendapat masukan tersebut, saya pun meluangkan waktu saya untuk melihat kembali artikel seri tersebut dan mencoba menemukan apa yang &#8216;kurang&#8217; dalam penyampaian saya, ataupun bisa lebih saya perbaiki. Setelah beberapa lama, barulah saya menyadari kekurangan terbesar dari artikel seri itu. <span id="more-1229"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ternyata selama ini saya lupa mempertimbangkan bahwa tidak sedikit pembaca blog ini yang bahkan tidak pernah melihat Laporan Keuangan itu seperti apa&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Ibaratnya mungkin seperti ini&#8230; Jika misalkan seseorang belum pernah melihat binatang Tapir (maupun gambarnya) seumur hidupnya, maka cara termudah untuk menjelaskan Tapir itu seperti apa, tentunya adalah dengan memperlihatkan gambar Tapir tersebut. Jika seandainya saya hanya mengatakan bahwa :</p>
<ul>
<li>Hidungnya agak mirip belalai gajah</li>
<li>Badannya mirip babi</li>
<li>Warnanya belang hitam putih</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Maka bisa jadi orang tersebut malah  membayangkan binatang jadi-jadian kombinasi antara Gajah dan Babi dengan warna belang-belang seperti Zebra (ada yg bisa menggambarkan ilustrasi binatang jadi-jadian ini? <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ). Yang pasti, kemungkinan besar Tapir dalam bayangan orang tersebut akan sangat berbeda dengan Tapir sesungguhnya..</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab itu, saya pikir ada baiknya saya memberikan sebuah &#8216;gambar&#8217; tentang Laporan Keuangan sebagai &#8216;tambahan&#8217;/supplemen artikel seri Laporan Keuangan. Saat ini, yang baru saya buat barulah &#8216;gambar&#8217; Balance Sheet (Neraca) yang sudah sangat saya sederhanakan (tidak rumit). File ini saya buat dalam bentuk file EXCEL dan bisa <span style="text-decoration:underline;">didownload melalui Widget Box.net</span> di samping kanan blog ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Harapan saya adalah dengan mencetak file yang saya buat tersebut, sambil melihat kembali artikel seri laporan keuangan, anda lebih bisa memahami penjelasan saya tentang laporan keuangan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PS:</strong> Contoh Laporan Rugi/Laba dan Cash Flow belum sempat saya buat dan akan menyusul di kemudian hari.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1229/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1229/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1229/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1229&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/03/02/apa-yang-salah-dengan-artikel-seri-laporan-keuangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sekilas Laporan Keuangan (7)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/01/18/mengenal-sekilas-laporan-keuangan-7/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/01/18/mengenal-sekilas-laporan-keuangan-7/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 00:38:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investor Aktif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=776</guid>
		<description><![CDATA[(sambungan dari part 6) Costs of Goods Sold (COGS) Dalam bahasa Indonesia Cost of Goods Sold dikenal sebagai HPP atau Harga Pokok  Penjualan (ada juga yang menyebutnya sebagai Harga Pokok Produksi). Ini merupakan segala biaya yg dikeluarkan oleh perusahaan dalam proses membeli dan memproses bahan baku hingga menjadi Produk (Barang Jadi) yg dijual perusahaan itu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=776&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://janganserakah.com/2008/11/10/mengenal-sekilas-laporan-keuangan-6/" target="_self">(sambungan dari part 6)</a></p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><strong>Costs of Goods Sold (COGS)<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam bahasa Indonesia Cost of Goods Sold dikenal sebagai <strong><span style="color:#0000ff;">HPP</span></strong> atau <strong>Harga Pokok  Penjualan</strong> (ada juga yang menyebutnya sebagai Harga Pokok Produksi). Ini merupakan segala biaya yg dikeluarkan oleh perusahaan dalam proses membeli dan memproses bahan baku hingga menjadi Produk (Barang Jadi) yg dijual perusahaan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Biasanya COGS ini terdiri dari 3 komponen utama :<span id="more-776"></span></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong><span style="color:#0000ff;">Direct Materials/Pembelian Bahan Baku Langsung</span></strong>, ini merupakan segala material yg masuk ke dalam barang Jadi.</li>
<li><strong><span style="color:#0000ff;">Direct Labor/Tenaga kerja Langsung</span></strong>, yaitu segala biaya tenaga kerja yg dipakai utk memproses bahan baku menjadi barang jadi. Tenaga karyawan perusahaan yg tidak berkaitan dengan proses produksi, misalnya tenaga akunting, tidak dimasukkan di sini.</li>
<li><strong><span style="color:#0000ff;">Manufacturing Overhead</span></strong>, yaitu segala biaya lainnya yang dikeluarkan yang terkait dengan proses produksi, tetapi tidak termasuk ke dalam kategori Direct Materials ataupun Direct Labor. Contohnya dalam hal ini adalah misalnya penyusutan mesin, biaya listrik untuk operasi mesin, dll.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Hasil pengurangan Sales (Penjualan) dengan COGS, adalah disebut <span style="color:#0000ff;"><strong>Gross Profit</strong></span> ataupun <span style="color:#0000ff;"><strong>Gross Income</strong></span> (di Indonesia dikenal sebagai <span style="color:#0000ff;"><strong>Laba Kotor</strong></span>).</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>Operating Costs</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Income Statement, Gross Profit di atas lalu dikurangi lagi dengan biaya yang dikenal sebagai <span style="color:#0000ff;"><strong>Operating Costs</strong></span>. Biaya-biaya yang termasuk ke dalam kategori ini adalah berbagai biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam operasional utamanya, tetapi tidak terkait dengan proses &#8216;produksi&#8217;-nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai ilustrasi, gaji karyawan administrasi dan accounting akan dimasukkan ke dalam biaya ini. Demikian juga dengan gaji tenaga sales dan marketing. Ini karena pegawai-pegawai tersebut tidak terlibat secara langsung di proses produksi. Contoh lainnya biaya yang termasuk ke dalam operating costs misalnya adalah biaya promosi dan iklan ataupun penyusutan asset-asset perusahaan yang tidak terkait dengan proses produksi, spt mobil operasional.</p>
<p style="text-align:justify;">Hasil pengurangan Gross Profit dengan Operating Costs akan menghasilkan <span style="color:#0000ff;"><strong>Operating Profit</strong></span> atau dikenal juga sebagai <strong><span style="color:#0000ff;">Operating Income</span></strong>. Perlu diketahui bahwa Operating profit ini adalah salah satu angka yang paling diperhatikan seorang Value Investor dalam melakukan analisa fundamental laporan keuangan. Alasannya sederhana, yaitu karena pada intinya ketika seseorang membeli saham, ia membeli bisnis di belakang saham tersebut, dan pada akhirnya nilai sebuah bisnis sakan angat tergantung kepada kemampuan bisnis tersebut untuk menghasilkan keuntungan dari operasinya.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Di dalam part 6 artikel ini, saya telah menuliskan bahwa setiap Income Statement terdiri dari 3 komponen utama, yaitu Revenue (pendapatan), Costs (Biaya) dan Net Income. Sampai saat ini, kita telah melihat 2 komponen pertama, tetapi sebelum kita sampai ke komponen ke 3 (Net Income), kerap kali kita akan menemukan komponen kecil, yaitu<span style="color:#0000ff;"><strong> Non-Operating Income &amp; Expenses<br />
</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Non-Operating Income &amp;</strong> <strong>Expenses</strong> dalam suatu Income Statement, mencatat berbagai pendapatan dan pengeluaran perusahaan yang tidak terkait dengan operasional utama perusahaan. Sebagai ilustrasi, pendapatan yang termasuk ke dalam kategori ini adalah bunga dan deviden yang diterima perusahaan dari berbagai investasinya di obligasi dan saham.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kategori ini, ada juga suatu pengeluaran yang perlu diperhatikan, yaitu Extraordinary Item atau juga kerap dikenal sebagai Non-Recurring Charges. Pengeluaran ini pada awalnya dipakai untuk mencatat segala pengeluaran yang &#8216;tidak terduga&#8217; dan tidak akan terjadi setiap tahun, misalnya saja kerugian akibat bencana banjir. Tetapi dalam perjalanannya, tidak sedikit perusahaan yang menyalah-gunakan pengeluaran ini dengan memasukkan hal-hal yang sebenarnya kurang layak dimasukkan&#8217;. Oleh karena itu, investor perlu waspada jika menemukan biaya Non-Recurring Charges yang keluar terus menerus secara rutin di setiap laporan keuangan dalam jumlah yang relatif besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Operating Income ditambahkan dengan dengan Non-Operating Income &amp; Expenses akan menghasilkan suatu angka yang dikenal sebagai <span style="color:#0000ff;"><strong>EBIT (Earnings Before Interest and Tax)</strong></span>. Ini karena angka ini menunjukkan seluruh keuntungan perusahaan dalam tahun itu, sebelum dipotong pengeluaran untuk membayar bunga (interest) utk pinjamannya dan juga pajak (tax).</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai catatan tambahan, terkait dengan <span style="color:#0000ff;"><strong>EBIT</strong></span>, ada suatu angka pula yang mungkin akan kerap ditemukan teman-teman pembaca, yaitu <span style="color:#0000ff;"><strong>EBITDA (Earnings Before Interest, Tax, Depreciation and Amortization)</strong><span style="color:#888888;"><span style="color:#000000;">. Angka EBITDA bisa didapatkan dengan cara menambahkan EBIT dengan seluruh nilai Depreciation (penyusutan) dan juga Amortization (amortisasi) yang ada di dalam Income Statement. </span></span></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#888888;"><span style="color:#000000;">Angka EBITDA ini sendiri kerap diumbar oleh pihak-pihak tertentu karena angka Earnings (laba) ini tentunya akan lebih besar dibandingkan dengan EBIT. Alasan yg kerap dipakai oleh para pemakai EBITDA adalah bahwa mereka menganggap depresiasi dan amortisasi bukan pengeluaran riil, karena perusahaan sebenarnya tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk depresiasi dan amortisasi. Tetapi Warren Buffet menentang sekali pihak manajeman perusahaan yang menggunakan angka EBITDA, dan pernah mengeluarkan komentar di bawah ini:<em><br />
</em></span></span></span></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#888888;"><span style="color:#000000;"> &#8216;Depreciation and Amortization are REAL costs! </span></span></span>References to EBITDA make us shudder—does management think the tooth fairy pays for capital expenditures?&#8217; </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>(depresiasi dan amortisasi adalah biaya riil! Pemakaian angka EBITDA membuat kami bergidik-Apakah pihak manajemen berpikir bahwa peri yg baik hati yang akan membayar untuk pembelian barang modal&#8217;?)</em></p>
</blockquote>
<p>Charlie Munger, partner Buffet pun mempunyai komentar yang tidak kalah kerasnya mengenai penggunaan EBITDA:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8216;Wherever you read EBITDA, you should substitute itu with BULLSHIT EARNINGS&#8217;</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>(setiapkali anda membaca kata EBITDA, anda harus menggantikannya dengan kata LABA OMONG KOSONG)</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sebagai catatan tambahan, EBITDA bukan angka resmi yang diakui dalam GAAP (Generally Accepted Accounting Principles).</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali kepada angka EBIT, dalam Income Statement angka EBIT diproses lebih lanjut yaitu dengan cara mengurangkannya dengan Interest (bunga) dan Tax (pajak) yang harus dibayarkan oleh perusahaan itu. Setelah dikurangi dengan Interest dan Tax, maka didapatkanlah komponen utama ke 3 dalam Income Statement, yaitu  <span style="color:#0000ff;"><strong>Net Earnings</strong></span> perusahaan tersebut, yang di Indonesia biasanya dikenal sebagai Laba Bersih sesudah pajak.</p>
<p style="text-align:justify;">(bersambung ke part 7)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/776/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/776/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/776/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=776&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/01/18/mengenal-sekilas-laporan-keuangan-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sekilas Laporan Keuangan (6)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/11/10/mengenal-sekilas-laporan-keuangan-6/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/11/10/mengenal-sekilas-laporan-keuangan-6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Nov 2008 05:39:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investor Aktif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=676</guid>
		<description><![CDATA[(sambungan dari part 5) Entah mengapa, akhir-akhir ini saya semakin pelupa. Tadi pagi ketika sedang melihat ulang isi blog, saya melihat part 5 artikel seri ini dan membaca: Bagi para pembaca artikel seri ini, saya minta maaf dulu sebelumnya karena part ini baru sempat saya buat sekarang. Ini merupakan bagian terakhir dari artikel seri ini, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=676&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">(<a title="Baca Part 5 Seri Ini" href="http://janganserakah.com/2008/10/21/mengenal-sekilas-laporan-keuangan-5/" target="_self">sambungan dari part 5</a>)</p>
<p style="text-align:justify;">Entah mengapa, akhir-akhir ini saya semakin pelupa. Tadi pagi ketika sedang melihat ulang isi blog, saya melihat part 5 artikel seri ini dan membaca:</p>
<blockquote><p>Bagi para pembaca artikel seri ini, saya minta maaf dulu sebelumnya karena part ini baru sempat saya buat sekarang. <span style="color:#0000ff;">Ini merupakan bagian terakhir dari artikel seri ini, dan selanjutnya akan diteruskan oleh artikel seri Rasio Keuangan Sederhana</span>.</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Setelah membaca isi part 5, saya langsung tertegun. Loh, rupanya saya baru selesai membahas Balance Sheet (Neraca Keuangan) saja, sedangkan Income Statement (Laporan Laba Rugi) dan Cash Flow Statement (Laporan Arus Kas) belum sempat saya bahas. Ternyata artikel seri ini belum selesai&#8230;&#8230;..</p>
<p style="text-align:justify;">Ok.. back to work&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam artikel kali ini, kita akan mulai berkenalan dengan Income Statement (Laporan Laba Rugi)&#8230;<span id="more-676"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kita dahulu membahas tentang Balance Sheet/Neraca Keuangan, saya pernah mengibaratkan Neraca seperti suatu &#8220;foto&#8221; dari perusahaan. Sebuah foto, hanya menggambarkan keadaaan pada detik foto itu diambil, dan tidak memberikan gambaran sesudah atau sebelumnya. Demikian juga Balance Sheet (Neraca Keuangan), ia  hanya bisa menggambarkan kondisi perusahaan pada tanggal tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, jika sebuah Balance Sheet bisa diibaratkan sebagai &#8220;foto&#8221;, maka mungkin Income Statement (Laporan Laba Rugi)  bisa kita ibaratkan sebagai &#8220;video&#8221; yang menggambarkan bagaiman operasi perusahaan selama periode tertentu. Mirip dengan sebuah video, sebuah Income Statement akan bisa memberikan gambaran bagaimana &#8216;gerakan&#8217; perusahaan selama periode itu. Kita bisa melihat, misalnya, bagaimana keuntungan perusahaan di periode ini, berapa nilai penjualan, berapa biaya produksi, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Analisa terhadap Income Statement penting karena:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li> Laporan ini memberikan kita informasi ttg bagaimana hasil operasi selama periode (1 tahun ataupun 3 bulan terakhir)</li>
<li>Dengan berdasarkan informasi di atas, kita bisa membuat suatu  &#8220;perkiraan&#8221; (ingat, hanya perkiraan) keuntungan perusahaan di masa depan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Jadi apa saja komponen yg terkandung dalam sebuah Income Statement?</p>
<p style="text-align:justify;">Secara garis besar, Income Statement berisi 3 komponen utama, yaitu :</p>
<ol>
<li> Revenue (Pendapatan)</li>
<li>Costs (Segala Biaya &amp; Pengeluaran)</li>
<li>Net Income (ini merupakan selisih antara seluruh Revenue dan berbagai Costs).</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Ketiga komponen ini disusun berurut dari atas seperti hitungan pengurangan bertingkat, yaitu pertama tama komponen Revenue di paling atas, lalu dibawahnya dikurangi dengan berbagai komponen Costs (Biaya/Pengeluaran), dan yang terakhir adalah Profit/Loss (yg merupakan hasil pengurangan Revenue dengan Costs). Untuk mengingat susunan ini tentu tidak sulit karena saya yakin tidak ada orang yang tidak tahu &#8216;<em>aturan</em>&#8216; bahwa Pendapatan (1) dikurangi Pengeluaran (2) adalah Laba/Rugi (3)</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang kita akan mencoba melihat satu per satu ke 3 komponen ini dari paling atas.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Revenue (Pendapatan)<strong><br />
</strong></span></h2>
<p style="text-align:justify;">Revenue (Pendapatan) utama dari sebuah perusahaan biasanya didapat dari <span style="text-decoration:underline;">operasi di bisnis utamanya</span> (core business). Sebuah pabrik sepatu, tentunya mendapatkan pendapatan utamanya dari penjualan sepatu. Akan aneh jika misalnya pendapatan terbesar pabrik sepatu itu justru adalah dari hasil menyewakan propertinya (<em>bukan tidak mungkin, hanya saja akan &#8216;aneh&#8217;</em>). Oleh karena alasan inilah maka Revenue (Pendapatan) yang menjadi &#8216;fokus&#8217; dari sebuah Income Statement adalah Revenue (Pendapatan) dari operasi perusahaan itu (Operating Revenue).</p>
<p style="text-align:justify;">Dari mana suatu perusahaan mendapatkan pendapatan operasinya? Tentu saja dari penjualan (alias Sales), baik apakah berbentuk barang ataupun jasa. Oleh sebab itulah, Operating Revenue ini kerap kali dipanggil dengan istilah yg lebih &#8216;<em>memasyarakat</em>&#8216;, yaitu Sales (ataupun Sales Revenue).</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>PS:</strong> Sales ini terkadang dikenal juga dengan istilah informal &#8216;Top Line&#8217; karena Sales ini ditempatkan di baris (line) paling atas (top) dari income statement.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lalu apakah artinya semua penjualan yang dilakukan oleh perusahaan akan dimasukkan sebagai Sales? Bagaimana jika selama 1 tahun ini perusahaan menjual 1 juta pasang sepatu, tetapi ada retur (pengembalian) barang sebesar 20 ribu pasang? Atau bagaimana jika harga &#8216;asli&#8217; 1 juta pasang sepatu itu adalah Rp 100 ribu, tetapi 50 ribu pasang di antaranya dijual dengan &#8216;diskon&#8217; 35%?</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini, Sales yang diperhitungkan adalah <span style="color:#0000ff;"><strong>Net Sales</strong></span> (Penjualan Bersih), yang telah memperhitungkan berbagai retur (pengembalian) ataupun berbagai hal seperti di atas.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<h2 style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;">Cost (Biaya/Pengeluaran)</span></h2>
<p style="text-align:justify;">Jika pendapatan terbesar dari suatu perusahaan adalah berasal dari Sales (Penjualan) produknya (baik barang ataupun jasa, maka umumnya pengeluaran (biaya) terbesar  untuk operasinya adalah terkait dengan produksi barang atau jasa tersebut. Sebuah pabrik sepatu, misalnya, mungkin akan mempunyai pengeluaran terbesar dalam bentuk pembelian bahan baku dan juga tenaga kerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itulah maka biaya yang pertama-tama dilihat dalam sebuah Income Statement adalah pengeluaran atau biaya untuk menghasilkan &#8216;produk yang dijual&#8217; (baik barang ataupun jasa). Sebuah pabrik sepatu misalnya, mungkin komponen terbesar untuk biaya ini adalah dalam bentuk pembelian bahan baku.</p>
<p style="text-align:justify;">Komponen biaya/pengeluaran yang dikeluarkan oleh perusahaan utk menghasilkan produknya ini dikenal sebagai <span style="color:#0000ff;"><strong>Cost of Goods Sold (COGS)</strong><span style="color:#000000;">.</span></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kita akan melihat lebih jauh lagi tentang COGS ini di artikel selanjutnya&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">(bersambung ke part 7)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/676/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/676/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/676/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=676&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/11/10/mengenal-sekilas-laporan-keuangan-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kresna Index 45: Edison Pergi Ke Pasar&#8230;. (LAGI) Part 2</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/10/29/kresna-index-45-edison-pergi-ke-pasar-lagi-part-2/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/10/29/kresna-index-45-edison-pergi-ke-pasar-lagi-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Oct 2008 14:00:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Instrumen Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Reksadana]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=669</guid>
		<description><![CDATA[(bersambung dari part 1) Dalam part 1, saya telah bercerita tentang beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam prospektus Reksadana Kresna Index 45. Kini cerita akan saya lanjutkan mengenai &#8216;jalan-jalan&#8217; saya ke kantor Reksadana Index 45. &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Seperti yang saya tulis sebelumnya, dalam kunjungan kami (Saya, Putrie_kmps &#38; Rakhmi) diterima oleh saudari Ita dan Bapak Imamat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=669&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="baca part 1" href="http://janganserakah.com/2008/10/28/kresna-index-45-edison-pergi-ke-pasar-lagi-part-1/" target="_self">(bersambung dari part 1)</a></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam part 1, saya telah bercerita tentang beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam prospektus Reksadana Kresna Index 45. Kini cerita akan saya lanjutkan mengenai &#8216;jalan-jalan&#8217; saya ke kantor Reksadana Index 45.<span id="more-669"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang saya tulis sebelumnya, dalam kunjungan kami (Saya, Putrie_kmps &amp; Rakhmi) diterima oleh saudari Ita dan Bapak Imamat Dalimunthe, salah satu anggota tim pengelola Reksadana Kresna Index 45.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembicaraan kami dimulai dengan topik seputar &#8216;aturan main&#8217; redemption yang agak unik di reksadana ini (telah dibahas di part 1). Seperti dugaan saya, pak Imamat menyatakan bahwa memang aturan tersebut dibuat untuk membuat para trader tidak masuk ke reksadana ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain untuk &#8216;memblokir&#8217; para trader, penentuan kesempatan redemption yang &#8217;3 bulan sekali&#8217; ini pun didasari alasan lain. Seperti yang bisa dilihat pada prospektus, Manajer Investasi Kresna Indeks 45 bisa &#8216;menggeser&#8217; porsi dari suatu saham menjadi sebesar 80% hingga 120% dari &#8216;bobot&#8217; aslinya di dalam LQ-45. Sebagai ilustrasi:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Misalkan dalam indeks LQ-45, porsi sebenarnya dari SMGR (Semen Gresik) adalah 2%. Seandainya manajer Investasi &#8216;<em>menyukai</em>&#8216; SMGR, maka ia bisa meningkatkan prosi SMGR dalam reksadana ini hingga maksimal menjadi 2,4% (=120%x2%). Sebaliknya jika manajer Investasi meragukan kinerja perusahaan SMGR, ia bisa &#8216;<em>mengerem</em>&#8216; porsi SMGR dalam reksadana ini hingga menjadi hanya 1,6% (=80%x2%).</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Penyetelan ulang target porsi ini, menurut pak Imamat akan dilakukan 3 bulan sekali. Dengan menyamakan waktu penyetelan ulang ini dengan waktu redemption, maka logikanya manajer Investasi bisa melakukan penghematan biaya transaksi (yang pada akhirnya manfaatnya akan dinikmati oleh para Investor).</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>PENTING:</strong> Dari berbagai penjelasan pak Imamat, kesimpulan yang saya dapatkan adalah bahwa <strong><span style="color:#0000ff;">Reksadana Index Kresna 45 menjalankan metode ENHANCED INDEXING</span></strong>. Dalam metode ini, manajer Investasi bisa sedikit &#8216;mengotak-atik&#8217; reksadana indexnya (tetapi masih dibatasi oleh aturan 80%-120% dari bobot asli saham seperti yg kita telah lihat di atas). Ini berbeda dengan PASSIVE INDEXING (Traditional Indexing) dimana Manajer Investasi hanya sekedar mengikuti komposisi di Index acuannya (tanpa dikotak-katik).</p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan dari ENHANCED INDEXING tentunya sudah jelas. Manajer Investasi yang menerapkan ENHANCED INDEXING mencoba utk memberikan hasil  yang sedikit lebih baik dibandingkan dengan Index (terlepas dari apakah tujuan ini bisa tercapai atau tidak). Akibat dari penggunaan ENHANCED INDEXING adalah bahwa kinerja reksadana index ini bisa  agak &#8216;melenceng&#8217; dari Index.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menerapkan ENHANCED INDEXING, maka berarti <span style="color:#0000ff;"><strong>reksadana KRESNA Indeks 45 ini  dikelola secara aktif</strong></span> (dan bukan pasif).</p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Selepas &#8216;<em>pemanasan</em>&#8216; di atas, pembicaraan pun saya bawa ke topik yang paling penting menurut saya, yaitu biaya dan fee. Para Investor Reksadana harus selalu mengingat ungkapan &#8216;<em>Performance comes and goes, but Fees are Forever</em>&#8216; (Kinerja Reksadana itu bisa naik dan turun, tetapi Fee/biaya adalah untuk selamanya).</p>
<p style="text-align:justify;">Saya lalu mengungkapkan pertanyaan &#8216;utama&#8217; saya, yaitu mengapa reksadana kresna indeks 45 ini mempunyai biaya imbalan manajer investasi yang relatif tinggi, yaitu maksimal 1,5% dibandingkan dengan reksadana Indeks DINAR yg hanya 0,3%. Biaya sebesar ini bisa dikatakan setara dengan reksadana non-index. Dalam hal ini, pak Imamat mengungkapkan bahwa angka tersebut hanya merupakan angka maksimal dan dalam prakteknya, biasanya biaya yang dikenakan tidak mencapai sebesar itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya, ketika saya menyadari bahwa Reksadana Kresna ini menerapkan ENHANCED INDEXING, penyebab  biaya imbalan MI yang relatif besar untuk reksadana index ini sudah jelas.  Seperti yang saya tulis di atas, penerapan ENHANCED INDEXING menandakan bahwa Reksadana ini dikelola secara aktif (Actively Managed) dan bukan pasif (Passively Managed).</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu faktor utama John Bogle dan juga Warren Buffet menganjurkan Reksadana Index adalah karena keunggulan dari segi biayanya (yang relatif rendah karena dikelola secara pasif). Penerapan pengelolaan secara aktif yang dilakukan oleh Manajer Investasi bisa membuat keunggulan biaya dari Index-Investing berkurang ataupun bahkan hilang sama sekali.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan berikutnya yang saya tanyakan adalah seputar tracking-error (selisih antara kinerja reksadana ini dibandingkan dengan index LQ-45). Data dari Pak Imamat menunjukkan bahwa tracking-error terakhir untuk reksadana ini adalah sebesar 3,5%. Beliau juga menginformasikan bahwa target mereka adalah menjaga angka tracking error ini di bawah angka 5%.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Mungkin di sini perlu saya tambahkan penjelasan untuk menghindari timbulnya salah persepsi mengenai tracking error ini. Andaikan  index LQ-45 bergerak naik 10%, dan tracking error sebuah reksadana index adalah 2%, seringkali timbul salah pengertian bahwa Reksadana ini bisa naik antara 8% sampai dengan 12%.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang benar dalam hal ini adalah bahwa seandainya Index LQ-45 bergerak naik 10%, dan tracking errornya adalah 2%, maka Reksadana ini akan bergerak naik antara 9,8% sampai dengan 10,2%</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Besarnya angka tracking error yg relatif besar untuk ukuran reksadana index, dalam hal ini bisa saya pahami mengingat situasi bursa saham kita yang sangat bergejolak akhir-akhir ini dan juga karena penerapan ENHANCED Indexing oleh manajer Investasi.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya masih banyak lagi hal yang sempat kami bicarakan dengan pak Imamat, tetapi mungkin tidak bisa saya tuliskan seluruhnya di sini (pembicaraan kami berlangsung kurang lebih 2 jam). Bagi para teman-teman yang tertarik untuk berinvestasi melalui reksadana ini, saya ingin berbagi beberapa hal yang harus diingat dan dipertimbangkan:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Meskipun merupakan reksadana Index, reksadana ini menerapkan ENHANCED INDEXING dan dikelola secara aktif. Jika anda ingin mencari reksadana index yang dikelola secara pasif, maka ini bukan produk yang anda cari.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Konsekuensi dari pengelolaan aktif di atas adalah biaya yang relatif tinggi, terutama untuk biaya imbalan Manajer Investasi (dibandingkan dengan alternatif index-investing lainnya, yaitu ETF R-LQ45X dan reksadana DINAR)</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Mengingat biaya-biaya yang di atas sulit untuk dinegosiasikan, karena dibebankan secara kolektif ke reksadana, maka rekomendasi saya adalah untuk menegosiasikan biaya subscription. Mengingat besarnya biaya imbalan manajer investasi, saran saya adalah untuk berusaha sebisa mungkin mendapatkan subscription fee sebesar 0%.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Sebagai jalan tengah dalam negosiasi subscription fee o%, pertimbangkan untuk mengajukan semacam &#8216;kontrak&#8217; investasi rutin, dimana calon investor membuat komitmen untuk berinvestasi rutin setiap bulan (ataupun setiap 2 bulan ataupun setiap 3 bulan) dalam jumlah yang tetap serta jangka waktu investasi yang panjang. Seandainya investor gagal memenuhi komitmen tersebut, barulah dikenakan biaya subscription fee. Ajukan permohonan ini secara tertulis (lewat e-mail) lewat marketing yang melayani anda untuk diajukan ke Manajer Investasi.</li>
</ul>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Terlepas dari berbagai hal di atas, saya pribadi merasa senang dengan hadirnya reksadana baru ini. Mengapa? Harapan saya adalah bahwa dengan adanya produk reksadana baru ini, bisa melahirkan persaingan yang lebih kompetitif di dunia index investing Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang kerap saya tulis di blog ini, menjadi Investor di Indonesia memang terkadang melibatkan pilihan yang bagaikan buah simalakama. Produk-produk investasi masih dalam tahap perkembangan sehingga setiap produk bisa dikatakan ada kekurangan maupun kelebihannya, dan tidak ada produk yang sempurna 100%. Dibandingkan dengan reksadana DINAR misalnya, reksadana ini menawarkan diversifikasi yang lebih luas dan juga akses ke sektor finansial (yg tidak tersedia di DINAR). Di lain sisi, DINAR mempunyai struktur biaya yang agak lebih rendah.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya ingin mengingatkan kembali sebuah saran dari Buffet:</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>For most investors, the best way to invest is through a <strong>Low Cost</strong>, <strong>No Load</strong>, P<strong>assively Managed</strong>, <strong>Wide-Diversification</strong> <strong>Index Funds</strong>.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Meskipun Reksadana Kresna Index 45 ini sayangnya belum memenuhi keseluruhan kriteria di atas, seandainya anda bisa mendapatkan subscription 0%, maka kriteria yang &#8216;kurang&#8217; hanyalah tinggal &#8216;Low-Cost&#8217; dan &#8216;Passively Managed&#8217;. Jika anda bisa menerima &#8216;kekurangan&#8217; tersebut, maka produk baru dari Kresna Securities ini bisa menjadi salah satu alternatif instrumen investasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Di akhir artikel ini, saya ingin mengucapkan terima-kasih kepada pihak Kresna Securities yang begitu membantu dalam pengumpulan informasi untuk artikel ini, khususnya kepada pak Imamat dan saudari Ita yang sampai terpaksa &#8216;lembur&#8217; karena kunjungan kami.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/669/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=669&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/10/29/kresna-index-45-edison-pergi-ke-pasar-lagi-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kresna Index 45: Edison Pergi Ke Pasar&#8230;. (LAGI) Part. 1</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/10/28/kresna-index-45-edison-pergi-ke-pasar-lagi-part-1/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/10/28/kresna-index-45-edison-pergi-ke-pasar-lagi-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Oct 2008 13:33:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Instrumen Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Reksadana]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=665</guid>
		<description><![CDATA[Teman-teman pembaca lama mungkin masih ada yang ingat dengan artikel &#8216;Edison Pergi Ke Pasar&#8217; yang pertama di blog ini. Jika ketika itu saya pergi ke &#8216;pasar&#8216; untuk melihat-lihat kondisi pasar perdana ORI 5, maka kali ini saya berangkat ke &#8216;pasar&#8216; untuk mengorek lebih jauh mengenai produk Reksadana  Indeks baru, yaitu Kresna Index 45. Selain &#8216;pasar&#8217; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=665&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Teman-teman pembaca lama mungkin masih ada yang ingat dengan artikel &#8216;<a title="Edison Pergi Ke Pasar..." href="http://janganserakah.com/2008/08/20/ori-seri-005-edison-pergi-ke-pasar/" target="_blank">Edison Pergi Ke Pasar&#8217; yang pertama di blog ini</a>. Jika ketika itu saya pergi ke &#8216;<em>pasar</em>&#8216; untuk melihat-lihat kondisi pasar perdana ORI 5, maka kali ini saya berangkat ke &#8216;<em>pasar</em>&#8216; untuk mengorek lebih jauh mengenai produk Reksadana  Indeks baru, yaitu Kresna Index 45.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain &#8216;<em>pasar&#8217;</em> yang tidak sama, &#8216;<em>jalan-jalan</em>&#8216; kali ini juga mempunyai perbedaan lainnya dengan artikel yang dahulu. Jika dahulu saya &#8216;<em>jalan-jalan</em>&#8216; sendirian, maka kali ini saya sempat mengajak teman-teman pembaca blog untuk <a href="http://janganserakah.com/2008/10/22/event-presentasi-reksadana-kresna-indeks-45/" target="_blank">ikut jalan-jalan bersama saya</a>. Sayangnya tidak banyak yang bisa datang, sehingga pada akhirnya saya hanya ditemani oleh Putrie_kmps dan Rakhmi.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bagaimana hasil &#8216;jalan-jalan&#8217; saya kali ini?<span id="more-665"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum saya menceritakan tentang hasil &#8216;<em>jalan-jalan</em>&#8216; saya, saya ingin terlebih dahulu membagi pandangan saya terhadap berbagai informasi yang terdapat di dalam <a href="http://janganserakah.com/2008/10/24/prospektus-reksadana-kresna-indeks-45/" target="_blank">prospektus Reksadana Kresna Index 45</a> ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu informasi yang paling menarik perhatian saya dalam prospektus tersebut adalah mengenai pembatasan waktu Redemption (pencairan investasi kita). Dalam hal ini, para investor reksadana Kresna Index 45 hanya dapat melakukan Redemption di 7 hari Bursa terakhir di bulan Maret, Juni, September ataupun Desember. Untuk melakukan redemption ini pun harus sudah diinformasikan kepada Manajer Investasi pada awal bulan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari diskusi yang berkembang di artikel tentang prospektus tersebut, banyak dari pembaca blog yang menilai aturan tersebut membuat Reksadana tersebut kurang likuid. Tentunya saya mengerti pemikiran para teman-teman tersebut. Bayangkan jika anda tiba-tiba membutuhkan uang dan ingin mencairkan investasi anda, tetapi akhirnya terpaksa menunggu karena di bulan tersebut tidak bisa melakukan redemption. Tentunya komentar &#8216;kurang likuid&#8217; dalam hal ini bisa dikatakan sulit untuk dibantah..</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun demikian, saya ingin mencoba mengajak pembaca untuk melihat apakah ada konsekuensi lain dari aturan tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu hal yang bisa dikatakan &#8216;ditakuti&#8217; oleh hampir semua  manajer Investasi adalah calon investor yang berpikiran seperti &#8216;trader&#8217;. Calon Investor seperti ini rajin &#8216;keluar-masuk&#8217; dari reksadana, tiada bedanya dengan trader di dalam dunia saham. Mengapa calon investor seperti ini &#8216;ditakuti&#8217;?</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sebagai ilustrasi, marilah kita bayangkan sebuah Reksadana Saham Jangan Serakah. Reksadana ini mempunyai total dana kelolaan sebesar Rp 500 Milyar. Dari nilai tersebut, ternyata ada 1 investor besar yang porsi penyertaannya mencapai Rp 200 Milyar. Sisanya (Rp 300 Milyar), dipegang oleh berbagai investor kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang, mari kita bayangkan bagaimana seandainya Investor besar tersebut mempunyai pola pikir &#8216;trader&#8217;, dan aktif &#8216;keluar-masuk&#8217; reksadana tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Di bulan pertama, karena berpendapat bursa akan turun, investor besar tersebut mencairkan seluruh unit penyertaannya. Manajer Investasi pun akan terpaksa menjual sebagian dari saham yg dimilikinya untuk mengembalikan dana investor tersebut, yaitu dalam hal ini senilai Rp 200 Milyar. Untuk melakukan transaksi dalam jumlah yang besar seperti ini, akan menimbulkan beberapa biaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Biaya yang pertama dan paling jelas terlihat adalah biaya transaksi saham (brokerage). Setiap kali terjadi transaksi saham, tentunya biaya ini tidak bisa dihindari.</p>
<p style="text-align:justify;">Biaya kedua yang akan timbul adalah berupa harga transaksi yang &#8216;jelek&#8217;. Ketika Manajer Investasi melepaskan saham (apalagi dalam jumlah besar), harga saham tersebut akan cenderung &#8216;tertekan&#8217; dan mengalami penurunan. Akibatnya sang manajer investasi terkadang terpaksa menjual dengan harga yang kurang bagus.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana jika setelah itu di bulan berikutnya, karena merasa bursa akan naik, sang &#8216;trader&#8217; reksadana tersebut &#8216;masuk&#8217; kembali?</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Manajer Investasi, kali ini harus membeli saham-saham senilai Rp 200 Milyar. Tentunya ini juga akan menimbulkan biaya transaksi saham (brokerage). Selain itu, permintaan pembelian dalam jumlah sebesar ini akan mendorong harga saham naik. Akibatnya terkadang manajer Investasi terpaksa membeli saham dengan harga yang lebih mahal.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sekarang bayangkan jika misalkan Rp 200 Milyar itu bukan dipegang oleh 1 orang, melainkan oleh sekelompok pemilik dana yang mempunyai pola pikir &#8216;trading&#8217;. Akhir ceritanya tidak jauh berbeda. Ketika dalam sebuah reksadana banyak terdapat orang-orang yang berpola pikir &#8216;trading&#8217; dan bukan &#8216;investor&#8217;, maka akan terjadi perputaran &#8216;keluar-masuk&#8217; yang tinggi di reksadana tersebut, yang akhirnya akan menimbulkan berbagai biaya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Pertanyaannya</strong></span> : Siapakah yang menanggung berbagai biaya ini?</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Jawabannya</strong></span> : Seluruh Investor Reksadana tersebut, termasuk juga para investor yang memegang unit penyertaan sebesar Rp 300 Milyar, meskipun mereka tidak &#8216;salah apa-apa&#8217;. Ini karena biaya transaksi  efek menjadi tanggungan para investor secara keseluruhan dan dipotong dari Nilai Asset Bersih Reksadana tersebut. Ini tentunya akan mengurangi hasil investasi para investor Reksadana tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Dilihat dari sudut pandang di atas, &#8216;<em>aturan main</em>&#8216; yang ditetapkan oleh Kresna, menurut saya merupakan &#8216;dobrakan&#8217; yang cukup berani. Naluri saya mengatakan bahwa aturan main tersebut, meskipun mempunyai konsekuensi &#8216;kurang likuid&#8217;, akan membuat para trader menjauhi reksadana ini. Dengan demikian para investor &#8216;tulen&#8217; reksadana tersebut bisa terhindar dari skenario seperti yang saya ceritakan di atas.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Informasi lainnya yang menarik mata saya di dalam prospektus Reksadana tersebut adalah besaran Fee/Biaya.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kita berbicara mengenai biaya dalam reksadana, secara garis besar kita bisa mengklasifikasikan berbagai biaya tersebut berdasarkan &#8216;siapa yang menanggungnya&#8217;:</p>
<ol>
<li>Pemegang Unit Penyertaan (dalam prakteknya adalah masing-masing individu)</li>
<li>Reksadana Tersebut (sebagai institusi yang berdiri sendiri)</li>
<li>Manajer Investasi (Pengelola Reksadana Tersebut)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dalam prospektus Kresna Indeks 45, biaya-biaya ini bisa dilihat di halaman 21.</p>
<p style="text-align:justify;">Seringkali timbul kesalah-pahaman di kalangan para investor reksadana yang mengira bahwa mereka hanya menanggung biaya-biaya sebagai Pemegang Unit Penyertaan (no. 1 di atas), seperti biaya Subscription maupun Redemption. Akibatnya, kebanyakan orang hanya fokus ke biaya-biaya ini (<em>terlebih karena biaya-biaya ini biasanya bisa dinegosiasikan</em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak Investor di Reksadana terkadang lupa bahwa mereka adalah pemilik dari reksadana tersebut. Akibatnya, biaya yang ditanggung oleh Reksadana tersebut (no. 2 di atas) akan ditanggung oleh mereka. Biaya-biaya yang termasuk ke dalam kategori ini adalah  biaya imbalan untuk Manajer Investasi, biaya untuk Bank Kustodian, dan lain-lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Ironisnya lagi, meskipun para Investor tersebut tidak akan bisa berbuat banyak mengenai biaya yg seperti ini karena berbeda dengan biaya no. 1, biaya no. 2 ini bisa dikatakan tidak bisa ditawar.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bagaimana dengan biaya yang dikenakan oleh Reksadana Kresna Indeks 45 ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk biaya yang ditanggung oleh masing-masing pemegang unit penyertaan:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Biaya Subscription adalah sebesar maksimal 1,5%. Karena besarnya Subscription Fee bisa dinegosiasikan, maka dalam hal ini agak sulit untuk melakukan perbandingan dengan alternatif index investing lainnya (reksadana DINAR). Pada akhirnya, ini akan tergantung kepada posisi tawar menawar masing-masing investor.</li>
<li>Biaya Redemption, jika masa investasi di atas 3 tahun adalah sebesar 0%. Bagaimana dengan biaya Redemption di bawah 3 tahun? Biaya tersebut bagi saya pribadi kurang relevan karena setiap orang yang berinvestasi di reksadana saham seharusnya mempunyai jangka waktu investasi minimal 10 tahun.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">
<p>Untuk biaya yang ditanggung oleh Reksadana Kresna Index (ditanggung oleh keseluruhan investor), ada beberapa hal yang menarik:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Imbalan Jasa Manajer Investasi sebesar maksimal 1,5%. Angka ini sendiri menurut saya relatif tinggi, apalagi untuk sebuah reksadana yang dikelola secara Pasif. Sebagai perbandingan, beberapa reksadana Indonesia yang dikelola secara Aktif pun mengenakan biaya sebesar 1,5%. Dari informasi yang saya dapat, Reksadana DINAR, sebagai alternatif index investing lainnya di Indonesia hanya mengenakan manajemen fee sebesar 0,3%</li>
<li>Imbalan Jasa Agen Penjual Reksadana sebesar maksimal 2,0% (jika ada). Pembebanan biaya ini di sini menurut saya agak kurang &#8216;adil&#8217; karena ditanggung &#8216;bersama&#8217;. Artinya Investor yang invest secara langsung ke Kresna pun bisa ikut menanggung beban, padahal mereka tidak menggunakan jasa agen penjual Reksadana.</li>
</ul>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mendapatkan kejelasan mengenai hal-hal di atas (dan juga beberapa hal teknis lainnya), saya lalu &#8216;<em>jalan-jalan</em>&#8216; ke kantor Kresna Securities. Harapan saya adalah untuk mendapatkan penjelasan dan klarifikasi seputar beberapa hal dalam prospektus tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kunjungan ke Kresna Securities kemarin, Saya, Putrie_kmps, dan Rakhmi (<em>yg agak terlambat karena kantornya nun jauh di Karawaci sana</em>) ditemui oleh saudari Ita Indrawan (Marketing) dan Bapak Imamat Dalimunthe, salah satu anggota Tim Pengelola Investasi untuk Reksadana Kresna Index 45. (<em>Dalam artikel ini saya ingin berterima-kasih atas hadirnya Bapak Imamat karena memungkinkan saya untuk mengajukan berbagai pertanyaan yang lebih mendalam mengenai produk reksadana yang baru ini</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bagaimana hasil tanya jawab kami dengan Bapak Imamat?</p>
<p style="text-align:justify;">(<em>bersambung ke part 2</em>)</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/665/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/665/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/665/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=665&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/10/28/kresna-index-45-edison-pergi-ke-pasar-lagi-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Prospektus Reksadana Kresna Indeks 45</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/10/24/prospektus-reksadana-kresna-indeks-45/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/10/24/prospektus-reksadana-kresna-indeks-45/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 22:09:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Instrumen Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Reksadana]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=663</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu &#8216;kebiasaan&#8217; yang sering saya temukan pada para calon Investor adalah enggan untuk membaca prospektus. Untuk mendapatkan informasi tentang suatu produk investasi, banyak calon investor yang terbiasa semata-mata mengandalkan orang lain, baik itu teman, saudara, ataupun marketing dari produk tersebut (ini yg paling berbahaya). Akibatnya, para calon investor tersebut tidak memahami penuh produk tersebut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=663&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Salah satu &#8216;<em>kebiasaan&#8217;</em> yang sering saya temukan pada para calon Investor adalah enggan untuk membaca prospektus. Untuk mendapatkan informasi tentang suatu produk investasi, banyak calon investor yang terbiasa semata-mata mengandalkan orang lain, baik itu teman, saudara, ataupun marketing dari produk tersebut (ini yg paling berbahaya). Akibatnya, para calon investor tersebut tidak memahami penuh produk tersebut serta resiko yang terkait di antaranya. Biasanya acap kali cerita seperti ini berakhir dengan &#8216;air mata&#8217; calon investor tersebut (<a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/10/16/05473765/ratusan.juta.rupiah.lenyap.seketika" target="_blank">seperti cerita ini misalnya</a>)</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab itu, untuk kali ini saya ingin melakukan sesuatu yg &#8216;<em>lain</em>&#8216; di sini.<span id="more-663"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang teman-teman ketahui, baru-baru ini telah diluncurkan produk reksadana indeks baru, yaitu Kresna Indeks 45. Prospektus dari Reksadana tersebut telah saya upload di blog ini, yang bisa didownload di dalam Widget Box.net di sidebar sebelah kanan blog ini (kotak warna biru).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam prospektus tersebut, saya menemukan beberapa hal penting yang wajib diketahui oleh setiap calon Investor. Tetapi jika biasanya saya langsung menuliskan tentang hal-hal tersebut di blog ini, maka untuk kali ini saya ingin mengajak teman-teman pembaca blog untuk &#8216;<em>mencari</em>&#8216; sendiri hal-hal tersebut untuk lalu dibahas di bagian komentar artikel ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Tentunya &#8216;<em>permainan</em>&#8216; ini tidak terbatas kepada teman-teman yang ingin ikut ke <a title="baca tentang acara ini" href="http://janganserakah.com/2008/10/22/event-presentasi-reksadana-kresna-indeks-45/" target="_blank">acara presentasi reksadana Kresna Indeks 45 tersebut</a>, tetapi juga akan bermanfaat bagi pembaca blog lainnya untuk melatih kecermatan dalam membaca prospektus.</p>
<p style="text-align:justify;">Ok, selamat membaca prospektus!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/663/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=663&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/10/24/prospektus-reksadana-kresna-indeks-45/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Sekilas Laporan Keuangan (5)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/10/21/mengenal-sekilas-laporan-keuangan-5/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/10/21/mengenal-sekilas-laporan-keuangan-5/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Oct 2008 12:35:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investor Aktif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[(bersambung dari part 4) Bagi para pembaca artikel seri ini, saya minta maaf dulu sebelumnya karena part ini baru sempat saya buat sekarang. Ini merupakan bagian terakhir dari artikel seri ini, dan selanjutnya akan diteruskan oleh artikel seri Rasio Keuangan Sederhana. Sebagai catatan penting di bagian terakhir ini, perlu saya ingatkan sekali lagi bahwa apa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=647&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a title="Baca Part 4 Seri Ini" href="http://janganserakah.com/2008/09/23/mengenal-sekilas-laporan-keuangan-4/" target="_self">(bersambung dari part 4)</a></p>
<p style="text-align:justify;">Bagi para pembaca artikel seri ini, saya minta maaf dulu sebelumnya karena part ini baru sempat saya buat sekarang. Ini merupakan bagian terakhir dari artikel seri ini, dan selanjutnya akan diteruskan oleh artikel seri Rasio Keuangan Sederhana.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai catatan penting di bagian terakhir ini, perlu saya ingatkan sekali lagi bahwa apa yang saya tuliskan dalam artikel seri ini, seperti terlihat dari judulnya, hanyalah merupakan pengenalan sekilas dari laporan keuangan. Tujuan utama saya membuat artikel seri ini hanyalah sebagai referensi sehingga ketika di artikel lanjutan mengenai rasio-rasio keuangan, teman-teman yang tidak berlatar belakang pendidikan ekonomi bisa lebih memahami apa yang saya bicarakan.<span id="more-647"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<h2 style="text-align:justify;">EQUITY</h2>
<p style="text-align:justify;">Setelah ASSET dan LIABILITIES, maka komponen dari Neraca Keuangan terakhir adalah Equity atau dikenal jg sbg Shareholder Equity (Ekuitas Pemegang Saham). Equity merupakan nilai &#8220;kepemilikan&#8221; para pemegang saham itu setelah segala asset perusahaan dipotong dengan nilai seluruh hutang. (Ingat: Assets=Liabilities+Equity).</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam Neraca, beberapa komponen Equity yang umum ditemukan adalah :</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>I. Preferred Stocks</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Preferred Stock secara sederhana adalah saham &#8220;khusus&#8221;. Perbedaannya dengan Common Stock (saham biasa) ada dua.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang pertama adalah bahwa pemilik Preferred Stock akan mendapatkan &#8216;dividen&#8217; khusus, yang tidak sama dengan dividen yang diterima oleh saham biasa. Dividen yang diterima oleh Preferred Stocks besarnya selalu tetap, sehingga mirip dengan bunga obligasi. Meskipun demikian, <span style="color:#0000ff;">dividen ini hanya akan dibayarkan jika keadaan keuangan perusahaan memungkinkan</span>, alias keuntungan mencukupi. Ini tentu berbeda dengan bunga obligasi yang harus dibayarkan tanpa perduli apakah perusahaan untung ataupun rugi.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika keadaan keuangan perusahaan tidak memungkinkan (misalnya perusahaan rugi), ada dua kemungkinan yang akan terjadi dengan pembagian dividen Preferred Stocks (tergantung jenis preferred stocksnya) :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Dividen itu tidak dibagikan sama sekali, ataupun;</li>
<li>Dividen yang tidak dibagikan itu diakumulasi (ditambahkan ke pembagian dividen yang berikutnya)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan ke-2 antara Preferred Stocks dan saham biasa adalah mengenai <span style="color:#0000ff;">hak klaim atas asset perusahaan</span>. Pemegang Preferred Stocks mempunyai hak klaim terhadap asset perusahaan di atas pemegang saham biasa. Oleh karena itu, seandainya perusahaan tersebut bangkrut dan dilikuidasi, maka yang berhak mengklaim asset perusahaan itu pertama-tama adalah para kreditor, alias pihak yang memberikan hutang kepada perusahaan (termasuk di dalamnya adalah pemilik obligasi). Setelah para kreditor dilunasi, maka asset yang tersisa dibagikan dahulu kepada para pemegang Preferred Stocks, dan setelah itu jika masih ada yang tersisa barulah dibagikan kepada pemegang saham biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam neraca (balance Sheet), nilai yang tercantum untuk Preferred Stocks adalah berdasarkan nilai &#8220;par&#8221; atau nilai yg tercantum di Preferred Stocks, dikalikan dengan jumlah Preferred Stocks yang beredar.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>II. Common Stocks</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika seseorang berbicara mengenai &#8216;saham&#8217;, umumnya yang ada dibenak mereka adalah saham tipe Common Stocks. Saham ini merupakan tipe saham yang paling umum.</p>
<p style="text-align:justify;">Nilai yang yang terlihat di neraca keuangan adalah nilai &#8220;par&#8221; atau nilai yg tercantum di sertifikat saham dikalikan dengan jumlah saham beredar.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>III. Additional Paid-In Capital</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika perusahaan menjual sahamnya kepada publik, biasanya saham tersebut dijual di atas harga &#8216;par&#8217; (harga yg tercantum di saham). Nilai &#8216;kelebihan&#8217; yg diterima oleh perusahaan dalam penjualan sahamnya akan dicatat sebagai Additional Paid-In Capital.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sebagai ilustrasi, misalnya saja perusahaan itu menerbitkan 1000 lembar saham dengan nilai nominalnya (par) adalah Rp 5000/lembar, tetapi saham baru itu itu dijual oleh perusahaan ke pasar dengan harga Rp 7000 rupiah. Dalam kasus ini, di neraca perusahaan tersebut akan terlihat nilai sebesar Rp 5 juta (Rp 5000&#215;1000) pada &#8216;Common Stocks&#8217; dan Rp 2 juta (Rp 2000&#215;1000) dicatat sebagai Additional Paid-In Capital</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>IV. Retained Earnings</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong> </strong></span>Retained Earning, atau dikenal di Indonesia sebagai &#8216;<span style="text-decoration:underline;">Laba Ditahan</span>&#8216; merupakan total laba perusahaan selama ini yg tidak dibagikan dlm bentuk deviden, melainkan &#8220;ditahan&#8221; oleh perusahaan sejak perusahaan tersebut berjalan.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Sebagai ilustrasi, misalnya saja perusahaan tahun lalu mencetak untung Rp 500 juta. Dari keuntungan tersebut, Rp 100 juta dibagikan sebagai deviden, dan sisanya sebesar  Rp 400 juta akan dicatat sebagai Retained Earnings.</p>
<p style="text-align:justify;">Tahun ini, perusahaan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1 milyar, dan dari nilai tersebut yang dibagikan sebagai deviden hanya sebesar Rp 200 juta. Dengan demikian Retained Earnings bertambah Rp 800 juta, sehingga nilai Retained Earnings kini menjadi Rp 1,3 Milyar.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Satu salah pengertian yang kerap terjadi, adalah bahwa sebagian orang mengira jika seandainya perusahaan tersebut mempunyai Retained Earnings (Laba Ditahan) sebesar X, maka berarti perusahaan tersebut mempunyai uang kas sebesar X juga.  Ini tentunya tidak benar karena laba yang ditahan oleh perusahaan tersebut biasanya sebagian besar telah &#8216;dibelanjakan&#8217; sehingga kebanyakan justru tidak berupa uang, melainkan berbentuk asset jenis lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong>V. Treasury Stock</strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="text-decoration:underline;"><strong> </strong></span>Terkadang suatu perusahaan akan memutuskan untuk membeli kembali sebagian sahamnya dari masyarakat. Proses pembelian saham ini akan mengurangi jumlah saham yg beredar di masyarakat, dan lazimnya disebut dgn Buy-Back. Saham-saham perusahaan yang dibeli melalui Buy-Back akan dicatat sebagai Treasury Stock.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah catatan penting untuk diingat, <span style="color:#0000ff;">pembelian saham semacam ini tidak dicatat sebagai penambahan Asset, tetapi dicatat sebagai pengurangan di Equity.</span> Ini sebabnya nilai Treasury Stock akan dicatat sebagai <span style="text-decoration:underline;">nilai negatif</span>, sesuai dengan harga pembeliannya.</p>
<p style="text-align:justify;">(<a title="Baca Part 6 Seri Ini" href="http://janganserakah.com/2008/11/10/mengenal-sekilas-laporan-keuangan-6/" target="_self">bersambung ke part 6&#8230; ternyata belum habis</a>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/647/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/647/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/647/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=647&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/10/21/mengenal-sekilas-laporan-keuangan-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Reksadana DINAR vs ETF R-LQ45X (part 2)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/10/18/reksadana-dinar-vs-etf-r-lq45x-part-2/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/10/18/reksadana-dinar-vs-etf-r-lq45x-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Oct 2008 03:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Instrumen Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[ETF]]></category>
		<category><![CDATA[Reksadana]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=622</guid>
		<description><![CDATA[(sambungan dari part 1) Di bagian pertama dari artikel ini, kita telah melihat perbandingan biaya &#8216;masuk&#8217; antara reksadana DINAR dan ETF R-LQ45X. Dari pengamatan terhadap angka &#8216;resmi&#8217;  di atas kertas (prospektus), ETF R-LQ45X lebih unggul karena biaya &#8216;masuk&#8217;-nya lebih murah (berupa komisi broker sebesar 0,17%) dibandingkan dengan biaya &#8216;masuk&#8217; reksadana DINAR (2%). Tetapi bagaimana kenyataan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=622&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a title="Part 1 artikel seri ini" href="http://janganserakah.com/2008/10/16/reksadana-dinar-vs-etf-r-lq45x/" target="_self">(sambungan dari part 1)</a></p>
<p style="text-align:justify;">Di bagian pertama dari artikel ini, kita telah melihat perbandingan biaya &#8216;masuk&#8217; antara reksadana DINAR dan ETF R-LQ45X. Dari pengamatan terhadap angka &#8216;resmi&#8217;  di atas kertas (prospektus), ETF R-LQ45X lebih unggul karena biaya &#8216;masuk&#8217;-nya lebih murah (berupa komisi broker sebesar 0,17%) dibandingkan dengan biaya &#8216;masuk&#8217; reksadana DINAR (2%). Tetapi bagaimana kenyataan di lapangan?<span id="more-622"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu kita ingat kembali bahwa meskipun R-LQ45X merupakan reksadana, tetapi ia berbentuk saham. Oleh sebab itu, untuk &#8216;masuk&#8217; kita tentunya harus membeli R-LQ45X di bursa saham. Bagi teman-teman yang sudah akrab dengan dunia saham, tentunya tahu bahwa setiap pembelian saham akan berhadapan dengan masalah &#8216;spread&#8217; bid-ask. Meskipun demikian, saya akan menceritakan sedikit mengenai topik ini, agar teman-teman yang belum akrab dengan dunia saham bisa mendapatkan gambaran tentang apa yang akan kita bicarakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Bursa saham secara sederhana bisa kita samakan dengan suatu pelelangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika saya berbicara pelelangan, mungkin gambaran pertama yang terlintas di pikiran sebagian besar pembaca adalah pelelangan penawaran suatu produk. Dalam pelelangan macam ini, penjualnya ada 1, sedangkan pembelinya lebih dari 1. Untuk bisa mendapatkan produk sang penjual, para pembeli lalu akan &#8216;berlomba&#8217; menawarkan harga yang lebih tinggi. Transaksi jual-beli akan dilakukan pada harga tertinggi yang ditawarkan oleh para pembeli.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain pelelangan seperti di atas, ada lagi jenis pelelangan yang mungkin hanya terpikirkan oleh sebagian kecil pembaca blog. Berbeda dari pelelangan yang kita lihat di atas, pelelangan ini hanya mempunyai 1 pembeli, sedangkan jumlah penjualnya lebih dari 1. Dalam kondisi ini, tentunya para penjual yang harus bersaing utk &#8216;meminang&#8217; si pembeli. Mereka &#8216;berlomba&#8217; untuk menawarkan harga yang lebih murah. Harga termurah yang akan &#8216;menang&#8217; dan transaksi jual beli akan dilakukan pada harga tersebut. Pelelangan semacam ini lebih akrab dikenal sebagai &#8216;Tender&#8217; di dunia bisnis.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, pertanyaannya kini,  termasuk jenis pelelangan yang manakah transaksi di bursa saham?</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini, bursa saham merupakan gabungan dari kedua jenis pelelangan tersebut sekaligus. Baik pembeli maupun penjual saham jumlahnya lebih dari 1. Para pembeli akan berlomba-lomba menawarkan harga yang lebih tinggi, sedangkan para penjual akan berlomba-lomba menawarkan harga yang lebih rendah. Harga tertinggi yang ditawarkan oleh para pembeli akan muncul sebagai harga BID, sedangkan harga terendah yang ditawarkan oleh para penjual akan muncul sebagai harga ASK (ataupun OFFER). Selisih di antara BID dan ASK dikenal sebagai BID-ASK SPREAD.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Kini kita kembali lagi kepada perbandingan biaya &#8216;masuk&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai saham, para investor ETF R-LQ45X akan mengalami biaya tambahan berupa BID-ASK SPREAD yang kita bicarakan di atas. Semakin besar BID-ASK SPREAD, semakin besar biaya yang ditanggung oleh investor. Pertanyaannya kini adalah berapa besar biaya tersebut?</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan pengamatan saya selama ini, dalam kondisi &#8216;tenang&#8217; BID-ASK SPREAD dari ETF ini relatif kecil, terkadang hanya 1 (satu) Rupiah per lembar. Seandainya harga ETF tersebut adalah Rp 300, berarti SPREAD ini hanya sebesar 0,33%, suatu angka yang masih bisa diterima di bursa negara berkembang seperti kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya kondisi di atas hilang ketika saham mengalami gejolak yang besar seperti yang kita alami akhir-akhir ini. Berikut adalah potret dari situasi &#8216;pasar&#8217; utk ETF R-LQ45X yang saya ambil baru-baru ini.</p>
<p style="text-align:center;"><img class="size-full wp-image-626 aligncenter" title="BID-ASK R-LQ45X" src="http://janganserakah.files.wordpress.com/2008/10/new-11.jpg?w=428&#038;h=217" alt="" width="428" height="217" /></p>
<p style="text-align:justify;">Di sisi kanan gambar ini, kita bisa melihat nilai LQ45 saat itu sebesar 288,421. Selain itu, terlihat juga nilai iR-LQ45X adalah sebesar 291,295. Angka ini merupakan angka indikatif (perkiraan) dari harga &#8216;wajar&#8217; dari ETF R-LQ45X.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita lihat sisi kiri gambar tersebut, kita akan bisa melihat betapa timpangnya kondisi di pasar untuk ETF ini. Harga termurah yang ditawarkan untuk ETF ini adalah Rp 349 per lembar, alias hampir 20% lebih tinggi dibandingkan dengan harga &#8216;wajar&#8217;-nya. Bagi para Investor, tentunya kondisi ini sangatlah merugikan, karena ibaratnya, anda diminta membayar Rp 1200 untuk selembar uang Rp 1000.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi para investor yang menjalankan program Investasi rutin dengan metode Dollar Cost Averaging, situasi ini semakin &#8216;menyakitkan&#8217;, karena ketika &#8216;jadwal&#8217; untuk invest tiba, mereka justru harus menghadapi problem ini, padahal kondisi bursa saat ini justru menguntungkan untuk melakukan pembelian.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya sendiri sangat menyayangkan kurang aktifnya Indopremier (sebagai penerbit ETF ini) dalam menjalankan peranan &#8217;market maker&#8217;. Seharusnya ketika kondisi seperti ini timbul, dimana harga penawaran R-LQ45X terlalu tinggi, mereka sebagai &#8216;produsen&#8217; ETF ini seharusnya masuk ke pasar dan menawarkan saham tersebut di harga yang lebih pantas. Dengan demikian para investor yang ingin &#8216;masuk&#8217; tidak &#8216;gigit jari&#8217; karena tidak bisa membeli saham tersebut akibat harganya yang tidak masuk akal.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan mempertimbangkan kondisi ini, maka nilai keunggulan &#8216;biaya&#8217; masuk ETF R-LQ45X (yg saya tulis di part 1) terpaksa saya &#8216;anulir&#8217;.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Skor: </strong><strong><span style="color:#0000ff;">Reksadana DINAR</span> <span style="color:#ff0000;">0</span> <span style="color:#0000ff;">R-LQ45X</span> <span style="color:#ff0000;">0</span></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Skor ini sendiri tidak bertahan lama, karena sejak saya menuliskan part 1 artikel ini, saya telah mendapatkan masukan dari beberapa pembaca blog bahwa Subscription Fee reksadana DINAR  bisa di-&#8217;tawar&#8217; hingga mencapai 0,5%. Pada tingkat ini, biaya &#8216;masuk&#8217; reksadana DINAR lebih atraktif dibandingkan dengan ETF R-LQ45X</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Skor: <span style="color:#0000ff;">Reksadana DINAR</span> <span style="color:#ff0000;">1</span> <span style="color:#0000ff;">R-LQ45X</span> <span style="color:#ff0000;">0</span></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah melihat perbandingan biaya &#8216;masuk&#8217;, langkah selanjutnya kita akan membandingkan biaya &#8216;keluar&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini Investor ETF R-LQ45X akan menanggung biaya komisi broker, yang lagi-lagi bervariasi antar broker. Bagi rata-rata Investor di Indonesia, komisi ini akan berkisar antara 0,27%-0,35%. Sebaliknya, Reksadana DINAR mengenakan biaya &#8216;keluar&#8217; (Redemption Fee) sebesar 1% jika masa Investasi kurang dari 3 tahun, dan 0% jika masa investasi lebih dari 3 tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya selalu menekankan kepada teman-teman, saham adalah instrumen investasi jangka panjang. Jangan berinvestasi menggunakan instrumen saham jika seandainya anda tidak siap untuk berinvestasi minimal 10 tahun. Dengan mempertimbangkan hal ini, maka biaya &#8216;keluar&#8217; Reksadana DINAR yang akan saya hitung adalah 0%, sehingga dalam faktor biaya &#8216;keluar&#8217; reksadana DINAR kembali mengungguli R-LQ45X</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Skor : <span style="color:#0000ff;">Reksadana DINAR <span style="color:#ff0000;">2</span> R-LQ45X <span style="color:#ff0000;">0</span></span></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Perbandingan ketiga yang akan lihat adalah mengenai biaya &#8216;tahunan&#8217; alias Expense Fee. Komponen terbesar biaya ini biasanya adalah Management Fee, yaitu imbalan bagi pengelola reksadana tersebut. Karena baik Reksadana DINAR maupun R-LQ45X merupakan reksadana yang dikelola secara &#8216;pasif&#8217; biaya ini akan relatif lebih kecil dibandingkan dengan reksadana yang dikelola secara &#8216;aktif&#8217; (actively managed).</p>
<p style="text-align:justify;">Reksadana DINAR dalam prospektusnya menginformasikan bahwa biaya tahunan yang ditanggung oleh Investor adalah maksimum 0,46%, yaitu terdiri dari :</p>
<ul>
<li>Management Fee 0,3%</li>
<li>Infaq Pendidikan 0,1%</li>
<li>Custodian Fee sebesar 0,06%.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">ETF R-LQ45X, di lain sisi mengenakan biaya:</p>
<ul>
<li>Management Fee 0,5%</li>
<li>Custodian Fee sebesar max 0,15%</li>
</ul>
<p>Dari faktor ini, kembali DINAR mengungguli ETF R-LQ45X.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Skor: <span style="color:#0000ff;">Reksadana DINAR <span style="color:#ff0000;">3</span> R-LQ45X <span style="color:#ff0000;">0</span></span></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;-oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai faktor perbandingan berikut, kita akan melihat kepada faktor Diversifikasi. Investasi melalui R-LQ45X akan terdiversifikasi ke dalam 45 saham. Sebaliknya Investasi dalam reksadana DINAR akan terdiversifikasi hanya ke dalam 30 saham.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain hal di atas, perlu diingat bahwa karena sifat syariahnya, saham-saham lembaga finansial non syariah seperti BCA, Bank Mandiri dan lain-lainnya tidak akan pernah masuk ke dalam Reksadana DINAR. Oleh karena itu, bisa dikatakan para Investor DINAR tidak akan menikmati pertumbuhan di sektor finansial.</p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi ini sendiri cukup mengganggu pikiran karena di bursa saham Indonesia, sektor finansial mempunyai kontribusi yang besar. Dengan di-&#8217;blokir&#8217;-nya saham-saham lembaga finansial utama dari DINAR, maka kemungkinan DINAR akan sangat dipengaruhi oleh kondisi sektor pertambangan dan Agrikultur, sehingga bisa jadi DINAR lebih rentan terhadap perkembangan di sektor komoditas.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh karena itu, dalam faktor Diversifikasi, saya lihat R-LQ45X mengungguli reksadana DINAR</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Skor: <span style="color:#0000ff;">Reksadana DINAR <span style="color:#ff0000;">3</span> R-LQ45X <span style="color:#ff0000;">1 </span></span></strong><em><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;">(akhirnya pecah juga telurnya)</span><br />
</span></span></em></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya jika diinginkan, ada beberapa lagi faktor yang bisa diperbandingkan seperti misalnya kemudahan akses, minimum invest, dll. Meskipun demikian faktor-faktor tersebut tidak akan saya bandingkan karena (1) tidak mempengaruhi hasil dari Investasi dan (2) hampir tidak ada perbedaan yang berarti di antara keduanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai rangkuman dari perbandingan yang telah kita lakukan, bisa kita lihat bahwa dari segi biaya Reksadana DINAR tampak jauh mengungguli R-LQ45X. Kondisi ini sendiri cukup kontras dengan kondisi di bursa Amerika. Di Amerika, fee ETF bisa dikatakan mengungguli reksadana index, kecuali jika jumlah investasinya terlalu kecil (sehingga keunggulan dalam fee tertelan oleh komisi broker).</p>
<p style="text-align:justify;">Di lain sisi, Investor DINAR harus mempertimbangkan juga faktor diversifikasi dan tiadanya saham-saham lembaga finansial besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun saya selalu berusaha menghindari rekomendasi produk dalam artikel di blog saya ini (apalagi saya tidak menerima imbalan dari produk yang saya rekomendasikan <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ), untuk artikel kali ini mungkin saya terpaksa mengadakan perkecualian.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi teman-teman yang menjalankan investasi rutin bulanan dengan metode Dollar Cost Averaging (seperti yg selalu saya sarankan), mungkin reksadana DINAR akan menjadi pilihan yang lebih baik di saat ini (dibandingkan dengan R-LQ45X)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PS:</strong> <em>Penulis artikel ini memegang saham R-LQ45X, tetapi selepas menulis artikel ini, jadi terpikir untuk memindahkannya ke reksadana DINAR karena faktor biaya. </em></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/622/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/622/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/622/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=622&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/10/18/reksadana-dinar-vs-etf-r-lq45x-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>49</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://janganserakah.files.wordpress.com/2008/10/new-11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">BID-ASK R-LQ45X</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Reksadana DINAR vs ETF R-LQ45X</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/10/16/reksadana-dinar-vs-etf-r-lq45x/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/10/16/reksadana-dinar-vs-etf-r-lq45x/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 07:27:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Instrumen Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[ETF]]></category>
		<category><![CDATA[Reksadana]]></category>
		<category><![CDATA[Analisa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=611</guid>
		<description><![CDATA[Teman-teman blog yang telah lama mengikuti blog ini mungkin sudah tidak asing lagi dengan rekomendasi saya terhadap Index Investing. Dalam artikel lama di blog ini, saya telah menceritakan tentang apa itu index investing, serta mengapa bagi kebanyakan orang index investing merupakan pilihan terbaik. Saat ini di Indonesia, ada dua jalan untuk berinvestasi di saham melalui [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=611&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Teman-teman blog yang telah lama mengikuti blog ini mungkin sudah tidak asing lagi dengan rekomendasi saya terhadap Index Investing. Dalam artikel lama di blog ini, saya telah menceritakan tentang apa itu index investing, serta mengapa bagi kebanyakan orang index investing merupakan pilihan terbaik.</p>
<p style="text-align:justify;">Saat ini di Indonesia, ada dua jalan untuk berinvestasi di saham melalui index investing, yaitu melalui reksadana DINAR (Danareksa Indeks Syariah) dan ETF Index R-LQ45X. Dalam artikel kali ini, saya akan mencoba mengadakan perbandingan antara dua instrumen tersebut sebagai bahan pertimbangan bagi teman-teman yang tertarik untuk melakukan index investing.<span id="more-611"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum kita memasuki pembahasan mengenai kedua Instrumen yang tersedia di Indonesia tersebut, mungkin ada baiknya saya memberikan perbandingan antara kondisi dunia Index Investing di Indonesia dibandingkan dengan Amerika.</p>
<p style="text-align:justify;">Amerika, sebagai tempat lahirnya index investing, bisa diibaratkan bagai &#8216;surga&#8217; para investor yang ingin menjalankan index investing. Ini dikarenakan banyaknya pilihan yang tersedia bagi para investor. Tertarik untuk berinvestasi di Indeks saham global? Bisa dilakukan melalui reksadana Index maupun ETF Index. Tertarik untuk berinvestasi di indeks S&amp;P500 (500 perusahaan terbesar Amerika)? Lagi-lagi tersedia reksadana index maupun ETF indexnya. Index Russel 3000 (yg boleh dikatakan mencakup 99% bursa saham Amerika)? Juga bisa melalui reksadana index ataupun ETF Indexnya. Singkat kata, apapun index yang ingin kita jadikan acuan, boleh dikatakan ada &#8216;jalan&#8217;-nya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain kelebihan di atas, dunia &#8216;Index Investing&#8217; Amerika juga mempunyai kelebihan lainnya, yaitu maraknya kompetisi di bidang ini. Kompetisi ini tentunya memberikan keuntungan bagi para Investor. Perusahaan-perusahan pengelola reksadana maupun ETF tersebut berlomba-lomba menawarkan fee yang lebih rendah. Akibat kompetisi tersebut, kita bisa menemukan reksadana yang tidak mengenakan biaya untuk &#8216;masuk&#8217; ataupun &#8216;keluar&#8217; sama sekali (alias GRATIS Subscription Fee dan Redemption Fee). Biaya pengelolaan (Management Fee) pun sangat kecil, hingga mencapai 0,3% (utk reksadana) atau bahkan 0,07% (utk ETF).</p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya, kondisi di dunia Investasi Indonesia masih sangat jauh dibandingkan dari kondisi di bursa Amerika. Fee/biaya yang ditanggung oleh para Investor relatif besar dibandingkan dengan investor luar negeri. Index Investing di Indonesia pun mengalami masalah yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Dibandingkan dengan &#8216;saudara&#8217; mereka di Amerika, reksadana DINAR (Danareksa Indeks Syariah) maupun ETF R-LQ45X, keduanya melibatkan biaya yang relatif tinggi, baik biaya yg jelas terlihat maupun agak &#8216;tersembunyi&#8217;. Memilih di antara kedua instrumen ini, bisa diibaratkan buah simalakama. Serba salah. Yang bisa kita lakukan hanyalah mencoba memilih instrumen yang &#8216;sedikit&#8217; lebih bagus dibandingkan yg lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Perlu saya tekankan juga sebelumnya, bahwa meskipun saya kecewa dengan kedua pilihan ini (DINAR dan R-LQ45X), ini tidaklah berarti bahwa Index Investing merupakan pilihan yang jelek di Indonesia. Keduanya tetap merupakan pilihan yang terbaik bagi kebanyakan investor dibandingkan dengan alternatif lainnya (investasi di saham individual ataupun reksadana yang dikelola secara aktif).</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk membandingkan antara reksadana DINAR dengan ETF R-LQ45X, ada satu hal yang perlu kita sadari dahulu, yaitu keduanya mengacu kepada Index yang berbeda. DINAR mengacu kepada index JII (Jakarta Islamic Index), sedangkan R-LQ45X mengacu kepada indeks LQ-45. Daftar saham yang termasuk ke dalam indeks LQ-45 bisa dilihat di situs IDX (<a title="Komposisi Index LQ45" href="http://www.idx.co.id/Stocklist/LQ45/tabid/175/language/en-US/Default.aspx" target="_blank">halaman ini</a>), dan komponen index JII bisa dilihat di situs yang sama, (<a title="Komposisi Index JII" href="http://www.idx.co.id/Stocklist/JII/tabid/176/language/en-US/Default.aspx" target="_blank">halaman ini</a>)</p>
<p style="text-align:justify;">Komponen dari kedua indeks ini (LQ-45 dan JII) memang selalu berubah setiap 6 bulan. Meskipun demikian, bisa dikatakan mayoritas saham dalam kedua index ini adalah sama. Berdasarkan pengamatan hari ini, dari 30 saham yang masuk di indeks JII, 20 di antaranya masuk juga di indeks LQ-45. Sedangkan dari 10 saham sisanya, 5 diantaranya masuk di indeks LQ-45 periode yg lalu (February-July 08). Meskipun kedua indeks ini tidak akan bisa sama persis, pergerakan keduanya tidak akan berbeda jauh antara satu sama yang lain (alias mempunyai korelasi yang cukup tinggi).</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya, karena indeks acuannya tidak sama, perbandingan di antara DINAR dan ETF R-LQ45X kurang valid. Meskipun demikian, karena pilihan yang tersedia bagi para Index Investor di Indonesia hanya dua instrumen ini, saya merasa bahwa melakukan perbandingan di antara keduanya akan bermanfaat bagi teman-teman yang tertarik untuk berinvestasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai catatan tambahan, perbandingan ini akan saya lakukan murni hanya dengan kaca-mata investor. Saya tidak akan memasukkan pertimbangan religius sama sekali ke dalam artikel ini. Ini saya lakukan karena Reksadana DINAR terbuka juga bagi para investor non muslim, dan sebaliknya juga tidak semua muslim &#8216;alergi&#8217; untuk investasi di instrumen non-syariah.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;-oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk &#8216;babak pertama&#8217; perbandingan ini, kita akan membandingkan biaya untuk &#8216;masuk&#8217; dari DINAR dan ETF R-LQ45X.</p>
<p style="text-align:justify;">Reksadana DINAR, mengenakan biaya Subscription (dikenakan setiap kali kita memasukkan dana) yang besarnya dalam prospektus dikatakan adalah sebesar 2%.</p>
<p style="text-align:justify;">Anehnya, ketika saya menelpon Danareksa (perusahaan pengelola reksadana ini), oleh agen yang melayani saya dikatakan bahwa Subscription Fee-nya adalah sebesar 3% untuk pembelian dengan nilai di bawah Rp 10 juta. Ketika saya tanyakan mengenai tidak samanya angka Fee tersebut dengan prospektus, agen tersebut dengan mudahnya menjawab bahwa prospektus tersebut belum diperbaharui.</p>
<p style="text-align:justify;">Lucunya lagi, agen yang melayani saya tersebut dengan &#8216;asiknya&#8217; menambahkan bahwa karena hasil investasi di reksadana saham bisa sangat tinggi, Bapepam mengeluarkan aturan bahwa Fee/biaya yang dikenakan juga harus tinggi. Entah benar atau tidak perkataan agen tersebut, karena saya sendiri belum pernah mendengar aturan &#8216;konyol&#8217; seperti ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Informasi lainnya yang saya tanyakan kepada agen tersebut adalah mengenai tempat lainnya yang juga menjual reksadana DINAR tersebut. Agen tersebut hanya memberikan nama 2 bank, yaitu Mandiri dan Danamon. Ketika saya desak untuk memberikan tempat penjualan lainnya, dia mengatakan tidak ada lagi tempat lainnya. Informasi ini juga &#8216;<em>kacau</em>&#8216; karena informasi yang saya dapatkan mengatakan bahwa bank seperti Commonwealth Bank juga menjual reksadana ini (sudah saya konfirmasikan dan ternyata benar).</p>
<p style="text-align:justify;padding-left:30px;"><em><strong>PS:</strong> Pengalaman pribadi selama &#8216;menyelidiki&#8217; DINAR ini sengaja saya tuliskan sebagai masukan kepada teman-teman yang ingin berinvestasi. Jangan pernah mengandalkan informasi dari satu sumber saja. Banyak dari orang-orang yang bekerja di dunia Investasi yang kurang kompeten dalam menjalankan tugasnya. Cerita semacam ini tidak terbatas hanya kepada dunia &#8216;reksadana&#8217; saja. Dalam artikel seputar ORI pun ada pembaca yang mengatakan bahwa customer service dari suatu bank mengatakan tidak menjual ORI, padahal sudah jelas bank tersebut merupakan agen penjual ORI. </em></p>
<p style="text-align:justify;">Tidak puas dengan pelayanan agen tersebut, saya lalu menghubungi tempat penjualan reksadana DINAR lainnya. Salah satu bank yang saya hubungi, mengkonfirmasi bahwa Subscription Fee yang dikenakan adalah sebesar yang tercantum di prospektus, yaitu 2%. Fee ini pun masih bisa ditawar, tergantung kepada nominal dan skema investasi kita (investasi awal, lama jangka waktu investasi, seberapa sering investasinya).</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika saya menulis artikel ini, tawaran fee terendah yang saya dapat adalah 1,5%, meskipun demikian saya optimis bisa mendapatkan fee yg lebih rendah lagi (1%). Firasat saya mengatakan bahwa jika investasi awalnya besar, bukan tidak mungkin fee tersebut ditekan lebih jauh lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bagaimana dengan fee/biaya &#8216;masuk&#8217; dari ETF R-LQ45X?</p>
<p style="text-align:justify;">ETF R-LQ45X sendiri tidak mengenakan &#8216;biaya masuk&#8217; berupa Subscription Fee. Meskipun demikian, karena R-LQ45X berbentuk saham (dan dibeli melalui broker saham), maka untuk pembeliannya kita harus mengeluarkan komisi pembelian untuk broker. Komisi broker dalam hal ini akan bervariasi dari satu broker ke broker lainnya, tetapi akan berkisar dari 0,17%-0,25%.</p>
<p style="text-align:justify;">Biaya &#8216;masuk&#8217; ETF yang sebesar 0,17%-0,25% itu tentunya jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya &#8216;masuk&#8217; Reksadana DINAR yg mencapai 2%. Bahkan jika kita menawar dan dikenakan fee &#8216;hanya&#8217; 1% pun, angka tersebut 4-5 kali lipat lebih besar dari biaya beli ETF.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh sebab itu, &#8216;babak&#8217; ini dimenangkan oleh ETF R-LQ45X.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Skor: <span style="color:#0000ff;">DINAR</span> <span style="color:#ff0000;">0</span> <span style="color:#0000ff;">R-LQ45X</span> <span style="color:#ff0000;">1</span></strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Tetapi sayangnya skor ini tidak &#8216;sah&#8217; karena ada satu hal yang akan sangat mempengaruhi &#8216;biaya masuk&#8217; ini..</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="Baca Part 2 Artikel Ini" href="http://janganserakah.wordpress.com/2008/10/18/reksadana-dinar-vs-etf-r-lq45x-part-2/" target="_self">(bersambung ke part 2)</a></p>
<p style="text-align:justify;">
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/611/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=611&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/10/16/reksadana-dinar-vs-etf-r-lq45x/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>