<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Perencanaan Keuangan</title>
	<atom:link href="http://janganserakah.com/category/perencanaan-keuangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://janganserakah.com</link>
	<description>Sebuah blog sederhana tentang dunia investasi dan perencanaan keuangan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 May 2010 04:06:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='janganserakah.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d528815cd098af4ded4ea5f747ac55f8?s=96&#038;d=http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Perencanaan Keuangan</title>
		<link>http://janganserakah.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://janganserakah.com/osd.xml" title="Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://janganserakah.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>7 Kesalahan Terbesar Dalam Menggunakan Kartu Kredit</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/03/31/7-kesalahan-terbesar-dalam-menggunakan-kartu-kredit/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/03/31/7-kesalahan-terbesar-dalam-menggunakan-kartu-kredit/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 07:17:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>konobe</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang]]></category>
		<category><![CDATA[Kartu Kredit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1322</guid>
		<description><![CDATA[WHAT THEY SAID Lebih baik mencegah daripada mengobati anonim Article by Konobe Edited by Edison Baru-baru ini saya membaca berita di detik kalau NPL (non performing loan) kartu kredit di Indonesia sudah lebih dari 10%. Saya pun jadi teringat artikel yang ditulis Bung Edison Meneropong 2009: Ancaman Kredit Konsumen. Wah, tampaknya sudah mulai terlihat ya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1322&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>WHAT THEY SAID</strong></p></blockquote>
<blockquote><p><em>Lebih baik mencegah daripada mengobati</em></p>
<p style="text-align:right;"><strong>anonim</strong></p>
</blockquote>
<p><strong>Article by <span style="color:#ff0000;">Konobe</span></strong><br />
<strong><span style="color:#ff0000;"><span style="color:#000000;">Edited by</span> Edison<br />
</span></strong></p>
<div id="attachment_1394" class="wp-caption alignleft" style="width: 132px"><img class="size-medium wp-image-1394" title="kk22" src="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/kk22.jpg?w=122&#038;h=122" alt="kk22" width="122" height="122" /><p class="wp-caption-text">Bermacam-macam kartu kredit</p></div>
<p style="text-align:justify;">Baru-baru ini saya membaca berita di detik kalau <a href="http://www.detikfinance.com/read/2009/03/29/142512/1106686/5/npl-kartu-kredit-sudah-tak-aman">NPL (non performing loan) kartu kredit di Indonesia sudah lebih dari 10%</a>. Saya pun jadi teringat artikel yang ditulis Bung Edison <a title="Meneropong 2009: Ancaman Kredit Konsumen" href="http://janganserakah.com/2009/01/08/meneropong-2009-ancaman-kredit-konsumen/">Meneropong 2009: Ancaman Kredit Konsumen.</a> Wah, tampaknya sudah mulai terlihat ya hasil prediksinya..</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun ancaman macetnya kartu kredit mempunyai dampak yang cukup menakutkan terhadap perekonomian, artikel saya kali ini akan membahas masalah ini dari sisi yang lain, yaitu dari sisi si pemegang kartu kredit.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kartu kredit macet, tentunya yang <em>&#8216;pusing&#8217;</em> bukan cuma Bank saja. Si pemegang kartu  kartu (umumnya) juga mengalami tekanan batin yang tidak kecil. Contohnya adalah seorang kenalan saya. Dia memiliki masalah dengan kartu kreditnya hingga gelisah dan stres. Hampir tiap hari  ia ditelepon oleh debt collector. Bukan cuma sekedar teguran yang diterimanya tetapi juga ancaman. Padahal, dari pengamatan  saya, dia termasuk orang yang cukup berada.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi mengapa kenalan saya tersebut bisa sampai terjerat hutang  kartu kredit? Meskipun saya tidak tahu persis penyebabnya, tetapi kemungkinan besar ia melakukan salah satu (atau bahkan beberapa) dari <span style="color:#0000ff;"><strong>7 kesalahan terbesar dalam menggunakan kartu kredit</strong></span>. Jadi apa saja 7 kesalahan terbesar itu?<span id="more-1322"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">1</span> :</span> Tidak melunasi seluruh tagihan kartu kredit<br />
</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ini boleh dikatakan merupakan penyebab utama mengapa banyak orang yang terjerat dalam hutang kartu kredit. Tidak sedikit orang yang hanya membayar sejumlah &#8220;pembayaran minimum&#8221;. Ketika anda melakukan ini, maka saldo hutang yang tersisa akan terkena bunga yang sangat tinggi (bisa mencapai2,9%-4% per <strong>BULAN!</strong>) . Ketika anda melakukan kesalahan ini, maka ibaratnya anda sudah mengambil langkah pertama untuk masuk ke dalam jeratan hutang kartu kredit.</p>
<p style="text-align:justify;">Lunasi seluruh tagihan kartu kredit anda!!!</p>
<p style="text-align:center;">&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">2</span> :</span></strong> <strong>Menganggap kartu kredit sebagai kartu debit (ATM)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ini merupakan salah satu kesalahan yang paling fatal dalam menggunakan kartu kredit. Kartu Kredit bukanlah Kartu Debit (ATM). Hindari menarik uang cash dengan menggunakan kartu kredit karena ini akan dikenakan bunga dan biaya tarik tunai yang sangat tinggi (bahkan lebih tinggi daripada angka yang saya tuliskan di kesalahan no 1).</p>
<p style="text-align:center;">&#8230;</p>
<p><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">3</span> :</span> Menggunakan kartu kredit untuk membayar hutang<br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kartu kredit termasuk ke dalam jenis hutang &#8220;Unsecured Debt&#8221;, alias hutang tanpa agunan. Hutang semacam ini dikenakan bunga yang tinggi. Oleh karena itu hutang semacam ini tidak tepat dipakai untuk modal usaha/bisnis karena akan sangat membebani kondisi keuangan usaha/bisnis anda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kesalahan lainnya yang tergolong &#8216;serupa&#8217; adalah menggunakan kartu kredit untuk menutup ataupun membayar cicilan hutang tipe &#8220;Secured Debt&#8221;/hutang yang menggunakan jaminan. Hutang yang menggunakan jaminan (spt KPR, KMK, dll), bunganya secara umum lebih ringan. Oleh sebab itu jika anda menggunakan kartu kredit untuk membayar hutang tipe ini, berarti anda malah &#8216;menukar&#8217; hutang yang bunganya lebih ringan dengan hutang yang bunganya lebih berat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Salah satu <em>&#8216;malapetaka&#8217;</em> terbesar dalam menggunakan kartu kredit terjadi ketika kesalahan no.2 dan kesalahan no.3 <em>&#8216;dikombinasikan&#8217;</em>. Contoh paling umum <em>&#8216;malapetaka&#8217;</em> seperti ini adalah ketika pemegang kartu kredit mengambil uang tunai dengan kartu kredit yang satu untuk membayar tagihan kartu kredit yang lain.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">&#8230;</p>
<p><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">4</span> : </span></strong><strong>Tidak disiplin mengontrol penggunaan Kartu Kredit dan tagihannya</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kesalahan ini biasanya berawal dari kalimat <em>&#8216;Gesek aja dulu..&#8217;</em> dan lalu diikuti di akhir bulan dengan kalimat<em> &#8216;Astaga!?! Kok gede amat tagihannya&#8217;.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Tentukan batas maksimum yang boleh anda &#8216;gesek&#8217; setiap bulannya. Lalu kontrol dan catat setiap pemakaian kartu kredit anda setiap hari. Ketika jumlah pemakaian tersebut sudah mendekati batas maksimum yang anda tentukan, <em>&#8216;segel&#8217;</em> kartu kredit anda, atau jika perlu (bagi yang lemah terhadap godaan belanja), tinggalkan kartu kredit di rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih terkait dengan kesalahan no 4 ini, adalah tidak disiplin dalam pembayaran kartu kreditnya. Jangan menunggu hingga hari batas terakhir untuk melunasi kartu kredit anda, karena jika di hari tersebut anda sibuk/lupa/ada urusan mendadak, maka bisa-bisa tagihan tersebut jadi tidak terbayar.</p>
<p style="text-align:center;">&#8230;<strong><br />
</strong></p>
<p><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">5</span> :</span> Terlalu banyak memiliki Kartu Kredit</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Semakin banyak Kartu Kredit yang anda miliki, semakin sulit bagi anda untuk mengontrol pengeluaran masing-masing kartu kredit. Dalam pelunasan kartu kredit pun anda akan lebih direpotkan karena perlu mengingat tanggal pelunasan masing-masing kartu agar tidak terlambat bayar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Beberapa financial planner menyarankan untuk memiliki Kartu Kredit maksimal 3 saja. Kalau lebih dari itu, mungkin mulai bisa mempertimbangkan untuk menggunting sisanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">&#8230;</p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">6</span> :</span></strong><strong> </strong><strong>Menganggap Kartu Kredit sebagai <em>&#8216;Uang Tambahan&#8217;</em><br />
</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Meskipun kedengarannya sulit dipercaya, tetapi tidak sedikit orang yang menganggap Kartu Kredit sebagai Uang Tambahan. Ketika permohonan kartu kreditnya disetujui, mereka pun kegirangan seperti mendapatkan <em>&#8216;durian runtuh&#8217;</em>. Seringkali ini lalu berujung dengan <em>&#8216;pesta belanja&#8217;</em> menggunakan kartu kredit baru tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Memiliki kartu kredit bukanlah berarti bahwa anda mempunyai lebih banyak uang untuk dibelanjakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kartu kredit bukanlah <em>&#8216;berkah&#8217;</em>, <em>&#8216;rezeki&#8217;</em> ataupun <em>&#8216;durian runtuh&#8217;</em>.  Jika anda tidak bijak dalam menggunakannya, yang ada justru hanyalah <em>&#8216;malapetaka&#8217;. </em>Ingatlah bahwa <span style="text-decoration:underline;">Kartu kredit hanyalah merupakan alat bantu pembayaran dan bukan pendapatan tambahan</span>. Anda bisa berhutang kepada bank dengan menggunakan kartu kredit, tetapi cepat atau lambat hutang kartu kredit tersebut tentu harus anda bayar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;">&#8230;<strong></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#e51705;">KESALAHAN no <span style="color:#0000ff;">7</span> : </span>Menggunakan kartu kredit untuk SEMUA belanja dan pembayaran</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tidak sedikit orang menggunakan kartu kredit untuk semua jenis pembelanjaan. Padahal, untuk beberapa jenis produk, akan lebih baik jika dibeli dengan menggunakan uang Cash.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketika anda berbelanja dengan kartu kredit, pihak penjual barang akan dikenakan biaya sebesar 2,5-3% dari harga transaksi itu oleh pihak bank. Untuk beberapa jenis produk (terutama yang margin labanya kecil), penjual barang tidak bersedia menanggung biaya tersebut, sehingga mengoper biaya tersebut kepada pembeli (alias anda).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Biasanya dalam kasus seperti ini, penjual akan mengatakan bahwa <em>&#8216;Kalau memakai kartu kredit, kita kenakan charge </em><strong>X</strong><em> %&#8217;.</em> Pada saat ini, biasanya charge ini sebesar 3,5%. Jika anda tetap membelinya dengan cara seperti ini, anda telah membayar bunga 3,5% hanya untuk <em>&#8216;menunda&#8217;</em> sebentar membayar belanjaan itu. Padahal uang anda yang anda taruh di tabungan mendapatkan bunga yang jauh di bawah itu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bahkan jika penjual barang tersebut tidak mengenakan charge, cobalah untuk bertanya apakah ada diskon untuk pembelian cash. Seringkali anda akan mendapatkan potongan harga yang lumayan untuk pembelian dengan menggunakan uang Cash.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p><em>Untuk iseng-iseng, bisakah anda menjawab 2 pertanyaan trivia di bawah ini? </em></p>
<blockquote>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Nyonya Jangan Serakah (JS) berniat belanja baju senilai 1 juta rupiah di SOGO menggunakan KK baru miliknya. Nyonya JS berniat melunasi pembayaran dengan cara mencicil sebesar minimum payment (10% dari tagihan atau minimal 50ribu). Nyonya JS bingung, berapa lama ya kira-kira waktu yang diperlukannya untuk melunasi tagihan satu juta tersebut? Apakah 10 bulan, 1 tahun, atau?&#8230; Tolong dong Nyonya JS untuk menghitung. (dengan asumsi bunga Kartu Kredit 3%/bulan, bunga bulanan dan biaya tahunan 150rb/tahun dibayar di awal tahun, iuran tahun pertama gratis, tanpa biaya materai)</em></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Tuan Jangan Serakah (JS) diberitahu oleh temannya mengenai pentingnya dana cadangan. Lalu, Tuan JS berniat mengikuti nasihat temannya dengan menjadikan KK sebagai dana cadangan. Tolong dong anda memberi masukan kepada Tuan JS apakah  keputusannya itu tepat atau tidak? (dengan alasannya)</em></li>
</ul>
</blockquote>
<p><em>klik <a href="http://janganserakah.com/2009/04/27/mana-yang-lebih-cocok-kk-biasa-atau-kk-syariah-finalized/">disini</a> untuk penjelasannya.<br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1322/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1322/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1322/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1322&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/03/31/7-kesalahan-terbesar-dalam-menggunakan-kartu-kredit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>84</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/99347e0abb95f706cfba65dd0e96dbc3?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">konobe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://janganserakah.files.wordpress.com/2009/03/kk22.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">kk22</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Nadya Suleman: Perencanaan Keluarga dan Perencanaan Keuangan</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/03/12/kisah-nadya-suleman-perencanaan-keluarga-dan-perencanaan-keuangan/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/03/12/kisah-nadya-suleman-perencanaan-keluarga-dan-perencanaan-keuangan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Mar 2009 12:25:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Perencanaan Keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1297</guid>
		<description><![CDATA[Kalau ada orang yang paling &#8216;berjasa&#8217; atas lahirnya artikel ini, maka orang itu bernama Nadya Suleman. Saya terpikir untuk menuliskan artikel ini karena merasa &#8216;gemas&#8217; membaca berita di berbagai media tentang Nadya. Untungnya, meskipun namanya &#8216;berbau&#8217; Indonesia, Nadya bukanlah orang Indonesia melainkan orang Amerika. Tapi sayangnya, saya melihat banyak masyarakat kita yang &#8216;salah langkah&#8217; seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1297&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Kalau ada orang yang paling <em>&#8216;berjasa&#8217;</em> atas lahirnya artikel ini, maka orang itu bernama <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Nadya_Suleman" target="_blank"><strong>Nadya Suleman</strong></a>. Saya terpikir untuk menuliskan artikel ini karena merasa <em>&#8216;gemas&#8217;</em> membaca berita di berbagai media tentang Nadya. Untungnya, meskipun namanya <em>&#8216;berbau&#8217;</em> Indonesia, Nadya bukanlah orang Indonesia melainkan orang Amerika. Tapi sayangnya, saya melihat banyak masyarakat kita yang <em>&#8216;salah langkah&#8217;</em> seperti Nadya, walaupun <em>&#8216;derajat kesalahannya&#8217; </em>belumlah sampai separah yang dilakukan oleh Nadya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jadi siapakah Nadya itu? Dan mengapa dia membuat saya <em>&#8216;gemas&#8217;</em>?<span id="more-1297"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Nadya Suleman akhir-akhir ini menjadi sorotan media akibat &#8216;prestasi&#8217;-nya (dalam tanda kutip) melahirkan Octuplet (Kembar 8). Bayi kembar 8 itu didapatkan melalui proses inseminasi buatan dengan menggunakan sperma salah seorang temannya, karena Nadya sendiri berstatus &#8216;tanpa pasangan&#8217;. Konyolnya, sebelum kelahiran bayi kembar 8 ini, Nadya telah mempunyai 6 orang anak yang berumur antara 7 tahun sampai 2 tahun, sehingga kini Nadya mempunyai 14 orang anak.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8216;Pilihan&#8217;</em> Nadya untuk menambah jumlah anaknya, padahal sudah mempunyai 6 orang anak, menimbulkan reaksi yang cukup keras. Yang membuat banyak orang tidak bersimpati dengan &#8216;pilihan&#8217; yang diambil Nadya adalah bahwa Nadya justru mengambil <em>&#8216;pilihan&#8217;</em> ini di saat ia berada dalam kondisi ekonomi yang tidak mendukung, dimana saat ini Nadya tidak bekerja dan hidup mengandalkan tunjangan dari pemerintah Amerika.</p>
<p style="text-align:justify;">Membaca kisah Nadya, saya jadi teringat salah satu mantan Wakil Presiden Indonesia yang paling <em>&#8216;pintar&#8217;</em> (dalam tanda kutip.. maaf sinis). Beliau sempat menimbulkan kontroversi dengan opini bahwa <em>&#8216;KB itu tidak membuat rakyat menjadi pandai dan kaya&#8217;</em> dan sempat dikabarkan membuat rekomendasi untuk membubarkan BKKBN karena <em>&#8216;program tersebut membuat pemerintah mengeluarkan banyak biaya untuk membeli alat KB dari luar negeri&#8217; </em>(walaupun kemudian beliau menyatakan bahwa pernyataannya itu salah dimengerti).</p>
<p style="text-align:justify;">Sedikit fakta yang agak menarik utk diketahui adalah bahwa mantan Wakil Presiden tersebut mempunyai 12 orang anak (dari 3 istri). Tetapi yang sedikit berbeda mungkin adalah kondisi ekonominya, dimana saya lihat sepertinya mantan Wapres tersebut tidak mempunyai kesulitan untuk membiayai ke 12 anaknya tersebut.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa kaitannya Nadya, mantan Wapres dengan blog ini? Setiap orang hendaknya sadar bahwa Perencanaan Keuangan itu boleh dikatakan sangat terkait dengan Perencanaan Keluarga (Family Planning). Saya sendiri yakin bahwa mungkin tidak ada pembaca blog ini yang mempunyai rencana untuk mengikuti jejak langkah Nadya (saya berdoa mudah-mudahan keyakinan saya ini tidak salah). Meskipun demikian, saya yakin mungkin ada beberapa pembaca blog yg belum berpikir ke arah &#8216;family planning&#8217;, dengan berbagai alasan seperti misalnya :</p>
<ul>
<li><em>&#8216;Yah, nanti saja lihat dikaruniai Tuhan berapa&#8217;</em></li>
<li><em>&#8216;Nanti saja kalau sudah nikah baru ngomong&#8217;.</em></li>
<li><em>&#8216;Walah, punya pacar saja belum&#8217;</em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Saya pribadi berpikir bahwa tidak ada salahnya untuk meluangkan waktu sedikit, (tanpa perlu melihat bagaimana &#8216;status&#8217; anda saat ini) untuk mulai memikirkan Family Planning (Perencanaan Keluarga). Terlebih bagi teman-teman yang baru mulai berkeluarga, ataupun sudah menjalani hubungan yang dalam tahap serius <em>(***sambil melirik ke arah Alina***)</em>, diskusi Perencanaan Keluarga itu bisa dikatakan sangat penting untuk dilakukan, dimana tentunya salah satu yang perlu didiskusikan adalah rencana jumlah anggota keluarga alias <em>&#8216;ingin punya anak berapa?&#8217;</em>. Itu bukanlah berarti anda sudah <em>&#8216;ngebet pengen punya anak&#8217; </em>, tetapi justru memperlihatkan bahwa anda mempunyai perencanaan yang matang dalam hidup.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;-</p>
<p style="text-align:justify;">Mempunyai momongan tentunya bukanlah hal sepele karena mempunyai anak itu melibatkan biaya yang tidak sedikit. Sebagai ilustrasi, mari kita lihat data dari negara Amerika sana. Meskipun tentunya data tersebut tidak bisa dipakai &#8216;mentah-mentah&#8217; di Indonesia, setidaknya data tersebut bisa memberikan sedikit &#8216;gambaran&#8217; kasar. <em>(Alasan lainnya mengapa saya memakai data ini: Saya tidak tahu mesti mencari kemana utk data sejenis ini di Indonesia)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan data tahun 2007 dari badan <strong>Center for Nutrition Policy and Promotion</strong>, jika anda termasuk golongan ekonomi menengah <em>(versi Amerika 2007: pendapatan pertahun sebelum pajak antara $45.800,- sampai $77.100,-)</em>, maka:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Jika mempunyai anak yang lahir di tahun 2007, maka untuk mengasuh satu anak tersebut hingga berumur 17 tahun (thn 2024), anda diperkirakan akan mengeluarkan biaya total sebesar $269.040,- (sekitar Rp 3,2 Milyar dengan kurs Rp 12.000/dollar)</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Jika misalkan anda telah mempunyai 2 anak, maka <span style="text-decoration:underline;">di tahun 2007 saja</span>, anda akan menghabiskan biaya antara $22.900,- sampai $24.060,- tergantung usia kedua anak tsbt (sekitar Rp 275-288 juta dengan kurs Rp 12.000/dollar)</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><em><strong>PS:</strong> Tingkat pengeluaran ini akan sangat dipengaruhi oleh &#8216;golongan ekonomi&#8217;. Golongan ekonomi &#8216;bawah&#8217; akan mengeluarkan biaya di bawah itu, sedangkan golongan ekonomi atas akan mengeluarkan biaya yang di atas itu.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti kita bisa lihat, jika kita bandingkan dengan tingkat penghasilannya <em>(yg SEBELUM pajak adalah antara $45.800,- sampai $77.100,- PER TAHUN)</em>, angka-angka di atas termasuk sangat mencolok. Pengeluaran untuk anak akan menyedot sebagian besar penghasilan dari orang tua. Sekali lagi, seperti saya katakan di atas, data ini tidak bisa digunakan mentah-mentah di Indonesia (biaya mengasuh anak akan lebih kecil) tetapi mengingat tingkat penghasilan rakyat &#8216;kelas menengah&#8217; juga lebih kecil, maka mungkin kondisi di Indonesia (secara rasio) juga tidak berbeda jauh.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Artikel ini akan saya tutup dengan 2 kisah, dimana kisah pertama adalah kisah pengalaman pribadi saya dalam hal ini. Semenjak saya mulai memahami konsep bahwa suatu hari saya akan berkeluarga, saya telah mempunyai <em>&#8216;gambaran&#8217;</em> bahwa saya hanya ingin mempunyai dua anak (meskipun <em>&#8216;idealisme&#8217;</em> tersebut boleh dikatakan timbul akibat <em>&#8216;termakan&#8217;</em> iklan KB saat itu). Lalu ketika saya dan istri saya mulai memasuki tahap serius dalam hubungan kami berdua, kami juga menyempatkan diri utk membahas &#8216;<em>masa depan&#8217;</em> dimana salah satu hal yg didiskusikan tentunya adalah berapa jumlah anak yang kami kehendaki.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena kami sepakat hanya untuk mempunyai 2 anak (kalau bisa, sepasang laki-laki dan perempuan), maka ketika anak pertama kami adalah perempuan, maka kami pun berupaya keras agar dalam kehamilan berikutnya bisa mendapatkan anak laki-laki (melalui berbagai metode kedokteran/ilmiah tentunya). Setelah beruntung dikaruniai anak laki-laki, sebenarnya kami berencana untuk KB permanen, tetapi tidak direkomendasikan oleh dokter karena mengingat usia kami yg relatif muda dan usia anak kami yang masih kecil (sehingga terpaksa memakai metode kontrasepsi lainnya)</p>
<p style="text-align:justify;">Pilihan saya dan istri saya untuk<em> &#8216;cukup 2 saja&#8217;</em> bukanlah suatu pilihan yg mudah (walaupun juga tidak sulit). Saya sendiri merupakan anak sulung dan juga anak lelaki satu-satunya dari ayah saya. Kedua orangtua saya sebenarnya mengharapkan agar saya mau menambah jumlah anak lagi, tetapi saya menolaknya meskipun sebenarnya untuk <em>&#8216;urusan&#8217;</em> ekonomi tidak bermasalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu kisah menarik lainnya datang dari seorang supir yang bekerja pada salah satu Supplier toko istri saya. Ia bercerita bahwa dengan kondisi ekonominya, ia memilih untuk memiliki hanya 1 anak saja, minimal sampai kondisi finansialnya membaik. Ia menyadari bahwa pilihan tersebut adalah pilihan yang terbaik untuk dirinya dan juga anaknya. Ia bahkan menggeleng-gelengkan kepalanya ketika bercerita tentang teman-temannya yang <em>&#8216;mencetak&#8217;</em> anak terus. Dengan sedikit &#8216;<em>sinis&#8217;</em>, supir tersebut malah bisa berkata bahwa teman-temannya tersebut <em>&#8216;Cuma tahu enak bikinnya saja&#8230;. memangnya nanti mau dikasih makan batu?&#8217;</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya yakin bahwa teman-teman pembaca blog ini tentunya tidak akan kalah dari sang supir yang berpikiran panjang tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8230;..</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Bagaimana dengan anda? Apakah anda sudah pernah berpikir tentang perencanaan keluarga?</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1297/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1297/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1297/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1297&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/03/12/kisah-nadya-suleman-perencanaan-keluarga-dan-perencanaan-keuangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Deposito, Suku Bunga Penjaminan Simpanan dan LPS</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/12/01/deposito-suku-bunga-penjaminan-simpanan-dan-lps/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/12/01/deposito-suku-bunga-penjaminan-simpanan-dan-lps/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Dec 2008 06:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Deposito]]></category>
		<category><![CDATA[Obligasi]]></category>
		<category><![CDATA[Tabungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=738</guid>
		<description><![CDATA[Tidak punya uang pusing, punya uang juga pusing. Kedengarannya klise? Tetapi mungkin itulah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan cerita saya kali ini. Beberapa hari lalu, seorang tante saya menelpon untuk bercerita kepada saya  tentang &#8216;trik cerdik&#8216; yang ditemukannya. Trik apakah itu? &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Seperti kita tahu, semenjak kasus Bank Century, sebagian besar anggota masyarakat mulai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=738&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tidak punya uang pusing, punya uang juga pusing. Kedengarannya klise? Tetapi mungkin itulah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan cerita saya kali ini. Beberapa hari lalu, seorang tante saya menelpon untuk bercerita kepada saya  tentang &#8216;<em>trik cerdik</em>&#8216; yang ditemukannya. Trik apakah itu?<span id="more-738"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti kita tahu, semenjak kasus Bank Century, sebagian besar anggota masyarakat mulai mencemaskan bagaimana nasib uangnya di bank. Akibatnya, akhir-akhir ini terjadi &#8216;<em>pengungsian</em>&#8216; dana dari bank-bank kecil ke bank-bank besar yang dianggap lebih &#8216;aman&#8217; oleh masyarakat (<a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/11/28/10504596/bank-bank.besar.kebanjiran.dana.nasabah" target="_blank">link berita</a>). </p>
<p style="text-align:justify;">Dampak lain dari kekhawatiran massal terhadap keamanan uang mereka di bank adalah timbulnya kesadaran mereka mengenai Suku Bunga Penjaminan. Jika dahulu mungkin hanya segelintir orang yang tahu tentang suku bunga penjaminan, kini kesadaran masyarakat tentang suku bunga Penjaminan Simpanan semakin meningkat. Kondisi Inilah yang menjadi latar belakang cerita saya kali ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Semenjak menyadari adanya suku bunga penjaminan simpanan (saat ini max 10%), tante yang saya ceritakan tersebut mulai mengkhawatirkan keamanan depositonya. Meskipun demikian, ada satu dilema yang dialaminya. Lucunya, saya yakin dilema yang dihadapi tante saya tersebut juga banyak dialami oleh banyak orang lainnya. Kira-kira apa dilema tersebut? </p>
<p style="text-align:justify;">Dilema yang saya bicarakan ini bisa dikatakan timbul karena &#8216;<em>salahnya</em>&#8216; bank-bank secara keseluruhan. Apa &#8216;<em>salahnya</em>&#8216; mereka? &#8216;<em>Kesalahan</em>&#8216; mereka adalah bahwa mereka menawarkan bunga deposito di atas suku bunga wajar. Mayoritas bank pada saat ini menawarkan deposito yang justru suku bunganya di atas suku bunga penjaminan yang ditentukan pemerintah, kira-kira pada kisaran 11-13%. (<em>Meskipun saya menulis &#8216;salah&#8217; bank, tetapi sebenarnya ini bukan salah mereka karena mereka hanya didikte oleh kondisi di pasar. Itulah sebabnya saya menulis &#8216;salah&#8217; dengan tanda kutip</em>) </p>
<p style="text-align:justify;">Jika hanya satu-dua bank yang menawarkan bunga seperti di atas, mungkin tidak akan bermasalah. Tetapi karena justru mayoritas bank melakukan praktek ini, banyak orang yang jadi bingung memilih. Di satu sisi, mereka mengkhawatirkan keamanan uang mereka. Tetapi di lain sisi, mereka juga dibayangi pemikiran &#8216;<em>Semua orang juga dapat bunga di atas suku bunga penjaminan, masak semua dibiarkan saja oleh pemerintah?</em>&#8216; (salah satu rayuan customer service bank). Logika ala Indonesianya mungkin tidak berbeda dengan &#8216;<em>jika semua orang melanggar lampu merah, masak semua orang ditilang, kan tidak mungkin</em>&#8216;.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Dihadapkan pada dilema ini (ingin aman, tetapi juga ingin bunga di atas suku bunga penjaminan), tante saya tersebut lalu terpikirkan suatu &#8216;<em>trik cerdik</em>&#8216;. Ia pun melakukan negosiasi dengan bank. Hasilnya, bunga depositonya (seperti yang tertulis dalam bilyet deposito) adalah tetap 10%, tetapi ia mendapatkan bonus 2% lagi di tabungan. Dengan demikian, di atas kertas, depositonya akan dijamin LPS (karena bunganya tidak melebihi suku bunga penjaminan), tetapi di lain sisi, ia tetap mendapatkan 12%.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaannya: apakah benar cara seperti ini bisa dilakukan?</p>
<p style="text-align:justify;">Trik seperti di atas sendiri sebenarnya sudah terpikirkan oleh saya sejak dahulu dan bukan pemikiran baru lagi. Ketika pertama kali terpikirkan &#8216;metode&#8217; di atas, saya lalu mendiskusikannya dengan teman-teman saya yang bekerja di sektor perbankan untuk melihat apakah metode tersebut bisa dijalankan. Kesimpulan diskusinya? <strong>Metode tersebut TIDAK ada gunanya</strong>.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa demikian? Cara termudah untuk menjawab pertanyaan ini adalah dengan menanyakan pertanyaan berikut: Jika bank anda membayar bunga 12% untuk deposito anda, tetapi di bilyet deposito hanya dituliskan bunga sebesar 10%, maka bagaimana cara mereka melakukan pembukuan untuk selisih 2% tersebut?</p>
<p style="text-align:justify;">Skenario pertama adalah bahwa uang 2% yang mereka keluarkan akan tetap mereka catat sebagai pembayaran bunga kepada nasabah tersebut, alias di pembukuan mereka, anda tetap tercatat menerima hasil bunga 12% (meskipun di bilyet depositonya hanya tertulis 10%). Akibatnya, jika bank anda terkena masalah sehingga diaudit, nasabah tersebut akan &#8216;<em>ketahuan</em>&#8216; menerima hasil 12% (dan tidak dijamin LPS).</p>
<p style="text-align:justify;">Skenario lainnya adalah bank tersebut mencatat 2% tersebut di pembukuan mereka sebagai biaya promo, dan membayarnya dari anggaran biaya promosi mereka. Cara seperti ini di atas kertas mungkin lebih valid, dan ada di area &#8216;abu-abu&#8217;. Tetapi kembali di sini akan muncul masalah. Secara operasional, untuk membayar 2% tersebut kepada anda, maka tentunya harus ada &#8216;tanda-terima&#8217; dari anda (bisa berbentuk surat, ataupun sekedar mentransfer 2% tersebut ke rekening anda yang lain). Jika tidak, bayangkan setiap cabang bank tersebut bisa dengan sesukanya menggunakan dana promosi tersebut tanpa tanda terima. Tanda terima ini tentunya akan muncul di pembukuan mereka, dan akan &#8216;nongol&#8217; jika bank tersebut diaudit karena mengalami masalah.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana jika bank tersebut menawarkan metode di atas TANPA memerlukan tanda terima dari anda? (<em>misalnya pembayaran dilakukan dengan cash keras, tanpa perlu tanda terima</em>). Jika saya, maka saya akan langsung mengambil langkah seribu lari dari bank tersebut karena sejujurnya pengelolaan bank tersebut sangat menakutkan bagi saya. Sebuah bank yang bisa mengeluarkan uang tanpa memakai bukti tanda terima tentunya bukan bank yang dikelola dengan baik.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu bagaimana solusi terhadap masalah ini? Apakah ada cara untuk mendapatkan bunga yang tinggi (dan di atas suku bunga penjaminan) tetapi tetap masuk program penjaminan LPS?</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang kerap saya katakan (dan juga saya sampaikan kepada tante saya tersebut),<strong><span style="color:#0000ff;"> manfaat utama deposito adalah untuk memberikan <span style="text-decoration:underline;">likuiditas</span> dan BUKAN untuk memberikan hasil yang tinggi</span></strong>. Jika tujuan anda adalah untuk mendapatkan bunga yang tinggi, maka deposito bukanlah instrumen yang tepat bagi anda.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagi teman-teman yang mencari hasil dalam bentuk bunga yang relatif tinggi, maka obligasi merupakan jawabannya. Sebagai ilustrasi, pada saat artikel ini ditulis, ORI 3 (jatuh tempo Sep 2011) dan 4 (jatuh tempo Mar 2012) memberikan hasil Yield to Maturity sekitar 14,8%. Ini lebih tinggi daripada bunga deposito yg ditawarkan oleh deposito, dan akan jauh lebih aman daripada deposito yg bunganya melebihi batas ditentukan. Likuiditas ORI pun relatif baik karena bisa diperjual-belikan setiap saat. </p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana dengan teman-teman yang membutuhkan manfaat likuiditas sehingga tetap ingin menempatkan uangnya dalam bentuk deposito? Ada baiknya di saat seperti ini, pastikan dengan bank anda bahwa deposito anda memenuhi kriteria yang ditentukan pemerintah sehingga termasuk ke dalam program penjaminan LPS. Jika perlu, tiada salahnya untuk meminta bank tersebut memberikan bukti tertulis untuk hal ini. Tentunya harus diingat bahwa konsekuensinya adalah bunga maksimal yang bisa anda terima di deposito anda adalah 10%.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/738/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/738/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/738/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=738&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/12/01/deposito-suku-bunga-penjaminan-simpanan-dan-lps/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Badai Ekonomi Sudah Berlalu?</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/11/14/apakah-badai-ekonomi-sudah-berlalu/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/11/14/apakah-badai-ekonomi-sudah-berlalu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 05:48:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembahasan kondisi Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan di atas mungkin adalah salah satu pertanyaan yang paling populer ditanyakan akhir-akhir ini. Sebagian orang menjawab pertanyaan tersebut dengan optimisme. Optimisme mereka umumnya didasarkan pada logika bahwa jika melihat situasi saat ini, di mana berita buruk bermunculan di berbagai belahan dunia, sulit rasanya untuk membayangkan bahwa kondisi bisa menjadi lebih jelek lagi. Bagi sebagian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=686&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pertanyaan di atas mungkin adalah salah satu pertanyaan yang paling populer ditanyakan akhir-akhir ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian orang menjawab pertanyaan tersebut dengan optimisme. Optimisme mereka umumnya didasarkan pada logika bahwa jika melihat situasi saat ini, di mana berita buruk bermunculan di berbagai belahan dunia, sulit rasanya untuk membayangkan bahwa kondisi bisa menjadi lebih jelek lagi. Bagi sebagian orang lainnya, pertanyaan di atas mengundang jawaban pesimis. Mereka belum melihat hal berarti yang bisa menimbulkan perbaikan di kondisi ekonomi dalam jangka waktu dekat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kira-kira kubu mana yang lebih &#8216;tepat&#8217;? <span id="more-686"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Artikel ini sendiri saya tulis selepas membaca sebuah artikel dari seseorang yang selalu saya ikuti buah pikirannya, Doktor Nouriel Roubini. Saya pertama kali &#8216;<em>mengenal</em>&#8216; nama Roubini sekitar 2 tahun lalu ketika membaca sebuah artikelnya yang memperingatkan tentang kemungkinan rontoknya sektor properti dan dampaknya ke perekonomian Amerika. Seperti yang kita tahu, analisanya terbukti tepat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam artikelnya yang baru kali ini, Roubini memberikan peringatan bahwa &#8216;badai belum berlalu&#8217;. Beberapa hal yang dikemukakan oleh Roubini antara lain:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ul>
<li>Amerika akan memasuki resesi paling parah sejak pasca Perang Dunia II, lebih parah daripada resesi di tahun 74-75 dan juga tahun 80-82. Konsumen di Amerika kini sudah &#8216;habis&#8217;, tidak mempunyai tabungan dan terjerat hutang. Konsumsi mereka akan menurun, yang pada akhirnya akan membuat berbagai perusahaan mengurangi pekerjanya untuk mengantisipasi hal ini. Akibatnya Roubini memperkirakan bahwa angka pengangguran akan mencapai 9%.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Resesi kali ini akan berbentuk huruf U, dimana ekonomi akan turun, lalu bertahan di bawah untuk beberapa lama (1,5 thn -2 thn), sebelum naik kembali. Kemungkinan timbul resesi berbentuk huruf L (ekonomi turun dan bertahan di bawah utk jangka panjang, seperti yang terjadi di Jepang dahulu) semakin meningkat walaupun kemungkinannya masih kecil.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Dengan kondisi suku bunga saat ini, ada resiko terjadi Liquidity Trap. Liquidity Trap bisa terjadi ketika suku bunga bank Sentral sudah mendekati 0 (ataupun mencapai 0). Dalam keadaan ini, bank sentral tidak bisa lagi menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Defisit fiskal pemerintah Amerika akan bisa mencapai rekor 1 Triliun Dollar pada tahun 2009 dan 2010. Defisit ini akan &#8216;mengikat&#8217; tangan pemerintah Amerika sehingga tidak bebas untuk menstimulasi ekonomi dengan menggunakan kebijakan fiskal.</li>
</ul>
<ul>
<li>Resesi akan terjadi di berbagai negara maju selain Amerika. Negara berkembang akan mengalami pelambatan ekonomi.</li>
</ul>
<p>Apakah Doktor Roubini benar?</p>
<p style="text-align:justify;">Ada baiknya pertama-tama kita harus sadar bahwa tentunya dalam hal ini tidak ada yang namanya kepastian 100%. Meskipun dahulu Doktor Roubini tepat dalam memperkirakan krisis ekonomi ini, bukanlah berarti kali ini dia akan tepat juga. Meskipun demikian, dengan melihat logika dibelakang analisanya, saya pribadi melihat bahwa &#8216;Skenario&#8217; yang dikemukan oleh Doktor Roubini sendiri tampaknya cukup masuk akal dan bukan mustahil terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaannya kini adalah, seandainya ramalan Doktor Roubini itu benar, bagaimana dengan &#8216;nasib&#8217; Indonesia?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Perlambatan ekonomi yang terjadi di luar negeri saat ini telah menimbulkan dampak yang tidak sedikit. Permintaan akan barang ekspor dari Indonesia mengalami penurunan. Teman-teman yang gemar mengikuti ekonomi mungkin telah memperhatikan bahwa akhir-akhir ini makin kerap terdengar berita demo akibat PHK. Ini merupakan salah satu konsekuensi dari ketergantungan negara kita terhadap ekspor. Ketika ekspor menurun, tentunya banyak perusahaan yang &#8216;<em>mengecilkan</em>&#8216; usahanya atau bahkan terpaksa tutup.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah kondisi ini hanya akan mempengaruhi perusahaan yang melakukan ekspor? Tentunya tidak. Ekspor memungkinkan berbagai perusahaan untuk mempekerjakan dan membayar upah karyawan dan buruh. Karyawan dan buruh lalu membelanjakan uangnya untuk berbagai barang dan jasa. Belanja para karyawan dan buruh ini merupakan sumber pemasukan bagi berbagai perusahaan lainnya yang tidak melakukan ekspor. Dengan berkurangnya pendapatan mereka, tentunya belanja konsumsi juga akan berkurang yang pada akhirnya akan dirasakan oleh usaha yang hanya bergerak di &#8216;lokal&#8217;.</p>
<p>Salah satu manfaat yang saya rasakan dari membuat blog JanganSerakah.com ini adalah semakin luasnya jaringan orang-orang yang saya kenal. Dari jaringan tersebut, saya mendapatkan banyak cerita real tentang kondisi usaha mereka ataupun perusahaan tempat mereka bekerja. Dari berbagai cerita yang saya terima, tampaknya kondisi di atas makin meluas akhir-akhir ini.</p>
<p>Seandainya &#8216;ramalan&#8217; Doktor Roubini benar, kemungkinan kondisi di atas akan semakin memburuk.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<div>Di akhir artikel ini, saya ingin memberikan suatu masukan kepada teman-teman kepada investor aktif dan juga investor pasif.</div>
<div>Bagi teman-teman investor aktif yang melakukan pembelian saham, perlu lebih cermat dalam melakukan valuasi, terutama jika valuasinya mengandalkan perkiraan pendapatan di masa depan. Telitilah kapan estimasi pendapatan itu dibuat dan apakah perkiraan tersebut masih feasible serta tidak terlalu optimistik. Di kondisi harga saham yang sedang anjlok seperti ini, akan kerap ditemui kasus dimana seakan-akan suatu saham menawarkan P/E yang sangatmenarik hanya karena unsur E (Earnings)-nya merupakan estimasi pendapatan yang terlalu optimistis</div>
<div>Bagaimana dengan teman-teman investor pasif?</div>
<div>Jawabannya sederhana saja: Tetap disiplin dalam menjalankan investasi rutin dengan metode DCA. Seorang Investor pasif tidak perlu merisaukan apakah akan resesi atau boom. Kunci dari kesuksesan seorang investor pasif justru adalah kemampuannya untuk tetap disiplin menjalankan investasinya di masa seperti ini.</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/686/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=686&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/11/14/apakah-badai-ekonomi-sudah-berlalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Investasi dan Ban Serap</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/07/15/investasi-dan-ban-serap/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/07/15/investasi-dan-ban-serap/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Jul 2008 13:16:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=104</guid>
		<description><![CDATA[WHAT THEY SAID&#8230; By failing to prepare, you are preparing to fail. Benjamin Franklin &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Di thread &#8220;Jangan Serakah&#8221; forum Kaskus, saya beberapa kali  dimintai masukan oleh teman-teman yang baru ingin mulai memasuki dunia investasi. Biasanya, kepada teman-teman tersebut, pertanyaan pertama yang selalu saya ajukan adalah , &#8220;Apakah kamu sudah punya ban serap?&#8220; Salah satu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=104&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>WHAT THEY SAID&#8230;</strong></p></blockquote>
<blockquote><p><em><span class="huge">By failing to prepare, you are preparing to fail.</span></em></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Benjamin Franklin</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Di <a title="J.S on Kaskus" href="http://www.kaskus.us/showthread.php?t=871251" target="_blank">thread &#8220;Jangan Serakah&#8221; forum Kaskus</a>, saya beberapa kali  dimintai masukan oleh teman-teman yang baru ingin mulai memasuki dunia investasi. Biasanya, kepada teman-teman tersebut, pertanyaan pertama yang selalu saya ajukan adalah , &#8220;<em>Apakah kamu sudah punya ban serap?</em>&#8220;</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan oleh orang-orang yang baru memulai investasi adalah lupa untuk membawa &#8216;ban serap&#8217; untuk perjalanan investasinya. Di kehidupan sehari-hari, jika kita akan bepergian jauh dengan mobil, tentunya aneh kalau kita tidak membawa ban serap. Sama juga halnya dengan Investasi. Investasi adalah suatu perjalanan panjang (10 thn&#8230; 20 thn&#8230; 30 thn, bahkan hingga akhir hayat kita), sehingga tentunya kita juga wajib mempersiapkan &#8216;ban serap&#8217;. Lalu seperti apa &#8216;ban serap&#8217; dalam investasi itu?<span id="more-104"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Ban Serap dalam dunia Investasi adalah berbentuk &#8216;dana darurat&#8217;. Setiap perencana keuangan yang baik akan selalu menyarankan kepada kita untuk mempunyai &#8216;dana darurat&#8217;. Mengapa demikian? Ini karena kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bayangkan jika kita tiba-tiba terkena musibah sehingga tidak mendapatkan pemasukan untuk sementara, (misalnya dipecat/sakit sehingga tidak mampu bekerja/dll) dan  kita tidak mempunyai &#8216;dana darurat&#8217;, maka kemungkinan besar kita akan terpaksa mencairkan/menarik investasi kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang sudah pasti dalam dunia investasi adalah bahwa nilai Investasi kita akan selalu berfluktuasi. Bagaimana jika seandainya keadaan pasar saat itu sedang jelek? Akibatnya ketika kita mencairkan investasi di saat itu, kita terpaksa menelan kerugian.</p>
<p style="text-align:justify;">Berapa besar dana darurat yang harus kita miliki? Setiap perencana keuangan mungkin akan mempunyai pendapat yang berbeda-beda, tetapi umumnya perencana keuangan di luar negeri menyarankan agar kita memiliki dana darurat kurang lebih 6-9 kali pengeluaran normal per bulan kita. Misalkan setiap bulan, pengeluaran normal kita adalah Rp 2 juta, maka sebaiknya kita mempunyai dana darurat sebesar Rp 12 juta -18 juta</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin sebagian pembaca blog ini akan bertanya, kenapa harus 6-9 bulan? Ini karena berdasarkan data yang ada, dalam kondisi ekonomi normal, umumnya seseorang yang kehilangan pekerjaannya akan bisa mendapatkan pekerjaan baru dalam tempo tidak lebih dari 6-9 bulan.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun demikian, harus diingat bahwa di luar negeri sana, warga negaranya mempunyai asuransi kesehatan. Beberapa negara bahkan mempunyai tunjangan pengangguran (unemployment benefits). Seperti kita tahu, di Indonesia kita tidak mendapatkan fasilitas seperti itu. Oleh sebab itu, saya pribadi menyarankan untuk mempertimbangkan membuat dana darurat sebesar 6-12 kali pengeluaran normal/bulan.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pengelolaannya, dana darurat ini <span style="text-decoration:underline;">harus</span> ditempatkan dalam instrumen yang sangat likuid, seperti tabungan dan deposito. Jika kita mau, bisa juga <span style="text-decoration:underline;">sebagian</span> dana darurat ini ditempatkan dalam obligasi terbitan pemerintah yang maturity/jatuh temponya kurang dari 1 tahun (karena obligasi tipe ini relatif sangat stabil harganya).</p>
<p style="text-align:justify;">Selama perjalanan saya di forum kaskus, saya kerap kali menemukan orang yang berpendapat bahwa &#8216;<em>menabung malah membuat miskin</em>&#8216;. Sebenarnya Savings (tabungan) dan Investment (Investasi) adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam perencanaan keuangan. Savings tanpa Investment akan membuat pertumbuhan uang kita kurang maksimal, sebaliknya Investment tanpa Savings akan mempengaruhi likuiditas keuangan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/104/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/104/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/104/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/104/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/104/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=104&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/07/15/investasi-dan-ban-serap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kredit Tanpa Agunan dan Ilusi Bunga Flat</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/06/27/kredit-tanpa-agunan-dan-ilusi-bunga-flat/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/06/27/kredit-tanpa-agunan-dan-ilusi-bunga-flat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 08:03:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Hutang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=58</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkah teman-teman mengalami hal seperti ini? Anda sedang bekerja/ngopi/makan siang/nyetir, ketika tiba-tiba&#8230;&#8230; (ring&#8230;ring&#8230;handphone berbunyi&#8230; nomor tidak dikenal) &#8220;Hallo?&#8221; &#8220;Selamat siang pak. Nama saya X dari Bank Y. Saya menelpon untuk menginformasikan kepada bapak bahwa bapak telah terpilih untuk mendapatkan fasilitas kredit tanpa agunan sebesar 50 juta dari bank kami. Uang ini nanti bebas bapak pakai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=58&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pernahkah teman-teman mengalami hal seperti ini? Anda sedang bekerja/ngopi/makan siang/nyetir, ketika tiba-tiba&#8230;&#8230;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>(ring&#8230;ring&#8230;handphone berbunyi&#8230; nomor tidak dikenal)</em></p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Hallo?&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>&#8220;</strong>Selamat siang pak. Nama saya X dari Bank Y. Saya menelpon untuk menginformasikan kepada bapak bahwa bapak telah terpilih untuk mendapatkan fasilitas kredit tanpa agunan sebesar 50 juta dari bank kami. Uang ini nanti bebas bapak pakai untuk&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saya yakin kejadian di atas sudah pernah dialami oleh kebanyakan pembaca blog ini. Beberapa tahun terakhir, berbagai institusi perbankan begitu gencarnya menawarkan <strong>Kredit Tanpa Agunan (KTA)</strong> kepada masyarakat. Saking gencarnya, hingga dalam satu bulan, saya bisa menerima telpon seperti di atas dua atau tiga kali.</p>
<p style="text-align:justify;">Menulis post tentang KTA ini, saya jadi teringat akan suatu kejadian di bulan Oktober tahun lalu  ketika saya diberikan sebuah &#8220;PR&#8221; oleh orang tua saya. Saya diminta untuk membantu mengurus penyelesaian hutang  bank salah satu karyawan kami. Jumlah hutang karyawan itu kepada berbagai bank mencapai lebih dari Rp 40 juta, terdiri dari hutang KTA dan kartu kredit. Dengan gaji pokoknya yang hanya Rp 1,2 juta per bulan tentunya situasi karyawan tersebut bagaikan sebuah mimpi buruk, terlebih mengingat kondisi karyawan tersebut yang sudah ada tanggungan (istri dan 1 anak)<span id="more-58"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Akhir-akhir ini, fasilitas <strong>KTA</strong> bagi banyak orang menjadi  &#8220;jalan keluar&#8221; untuk memenuhi kebutuhan belanjanya, entah apakah itu utk belanja konsumsi ataupun belanja usaha. &#8216;Getolnya&#8217;  bank-bank dalam menawarkan KTA ditambah dengan meluasnya sifat <a title="Consumerism (Wikipedia)" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Consumerism">konsumerisme</a> serta rendahnya pemahaman masyarakat tentang instrumen hutang membuat saya agak mengkhawatirkan ekses negatif yang mungkin timbul di masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di dunia &#8220;perhutangan&#8221;, KTA termasuk ke dalam kategori <a title="unsecured debt (investopedia)" href="http://www.investopedia.com/terms/u/unsecureddebt.asp" target="_blank">unsecured debt</a> (lawannya adalah <a title="secured debt (investopedia)" href="http://www.investopedia.com/terms/s/secureddebt.asp" target="_blank">secured debt</a>).  Dalam unsecured debt, hutang yang diberikan tidak &#8220;terkait&#8221; dengan barang jaminan apapun, sehingga tentunya resiko yang ditanggung oleh si pemberi hutang lebih besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti kita tahu, dalam investasi berlaku hukum &#8220;resiko sebanding dengan prospek keuntungan&#8221;, dan tentunya KTA juga tidak luput dari hukum ini. Karena resiko yang ditanggung oleh pemberi hutang lebih tinggi, orang-orang yang menggunakan KTA pun harus &#8220;membayar lebih mahal&#8221; dalam bentuk bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan hutang tipe &#8220;secured debt&#8221; (dimana kita harus memberikan barang jaminan kepada bank).</p>
<p style="text-align:justify;">Beban bunga yang lebih tinggi (dan bisa sangat mencekik ini) yang menjadi alasan mengapa pada umumnya Financial Planner selalu menyarankan untuk sebisa mungkin menghindari &#8220;unsecured debt&#8221; seperti KTA.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu hal yang membuat banyak orang tertarik untuk mengambil KTA adalah <strong>Ilusi bunga Flat</strong>. Satu hal yang saya sayangkan adalah masih banyak orang yang belum memahami apa itu bunga flat, sehingga saya kerap mendengar kalimat seperti &#8220;<em>Ambil KTA aja, bunganya <span style="text-decoration:underline;">cuma</span> 2% sebulan</em>&#8220;. Sistem bunga Flat yang umumnya dipakai untuk KTA, memang menimbulkan ilusi bahwa bunga yang kita bayar tidak terlalu mahal, padahal kenyataannya tidak demikian.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam sistem bunga Flat, bunga yang kita bayar diperhitungkan atas nilai awal hutang kita. Misalkan kita berhutang Rp 10 juta, maka besarnya bunga yang kita bayar itu selalu dihitung berdasarkan angka 10 juta ini, bahkan jika kita sudah mencicil sebagian dari 10 juta itu. Ini berbeda dengan sistem bunga &#8220;normal&#8221; (efektif) di mana besarnya bunga yang harus kita bayar itu dihitung berdasarkan kepada sisa hutang kita. Jika kita berhutang Rp 10 juta, tetapi sudah kita cicil Rp 1 juta, maka bunga yang kita bayar hanyalah bunga atas Rp 9 juta.</p>
<p style="text-align:justify;">Perbedaan di atas menimbulkan selisih yang besar antara bunga flat dan bunga efektif. Sebagai contoh, jika kita mengambil KTA tempo 1 tahun dengan bunga <em>&#8220;cuma&#8221;</em> 2%/bulan (24%/thn),  bunga efektif yang harus kita bayar sebenarnya adalah sebesar kurang lebih 42%. Dengan tingkat bunga seperti ini, tidaklah mengherankan jika institusi perbankan begitu bernafsu meminjamkan uangnya kepada kita dalam bentuk produk KTA ini (bandingkan dengan bunga deposito yang kita terima jika kita &#8220;meminjamkan&#8221; uang kita kepada bank).</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap kali kita ditawarkan hutang (untuk apapun juga) dengan sistem bunga flat, ada baiknya jika kita menghitung berapa sebenarnya bunga efektif yang kita bayar. Secara kasar, biasanya jika suku bunga flat diubah menjadi suku bunga efektif, maka besarnya kira kira akan menjadi hampir 2 kali lipat (lihat kembali contoh di atas)</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengkonversi bunga flat menjadi bunga efektif dengan lebih tepat, untuk teman-teman yang &#8220;tidak ada waktu&#8221; untuk menghitung secara manual, bisa menggunakan berbagai kalkulator online seperti yang tersedia di <a title="Kalkulator suku bunga" href="http://www.morley-computing.co.uk/resources/scripts/javascript/apr_flat_rate_calculator/" target="_blank">sini</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama-tama masukkan nilai pinjaman, suku bunga FLAT, tipe pinjaman (FLAT) serta lama pinjaman (dalam bulan). Misalkan saja kita masukkan nilai pinjaman 100 juta, suku bunga flat 8%/thn, serta lama pinjaman 24 bulan. Maka hasil yang diberikan oleh kalkulator itu adalah : Total Amount Repayable (jumlah total pembayaran) = 116 juta  dan cicilan perbulan 4.833.333.</p>
<p style="text-align:justify;">Selanjutnya untuk mengetahui berapa sebenarnya bunga efektif yang kita bayar, maka kita lakukan sekali lagi penghitungan. Nilai pinjaman tetap 100 juta, tipe pinjaman diganti ke Compound, lama pinjaman tetap 24 bulan. Karena kita justru sedang mencari tahu berapa tingkat suku bunga efektif, maka kita tidak mengetahui berapa suku bunga efektif yang harus dimasukkan. Untuk mencari besarnya suku bunga ini, kita akan memakai metode &#8220;trial and error&#8221; (meskipun &#8220;trial and error&#8221; tetapi tidak membutuhkan waktu lama).</p>
<p style="text-align:justify;">Utk percobaan pertama, masukkan saja misalnya suku bunga compound=16% (dua kali lipat dari suku bunga flat). Hasil yang kita dapatkan : Total Amount Repayable = 117 juta+ dan cicilan bunga per bulan = 4.896.311. Angka ini lebih besar daripada angka 116 juta pada penghitungan suku bunga flat. Oleh karena itu, kita turunkan sedikit angka suku bunga compound itu, misalnya menjadi 15%. Hasil baru yang kita dapatkan akan menurun menjadi 116,367 juta. Kecilkan terus suku bunga compound hingga hasil yang kita dapat = 116 juta, yang akan didapat pada tingkat suku bunga compound 14,68%. Dengan demikian berarti bahwa suku bunga flat di atas (8% selama 24 bulan) adalah sama dengan bunga efektif sebesar 14,68%.</p>
<p style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/58/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/58/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/58/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/58/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/58/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=58&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/06/27/kredit-tanpa-agunan-dan-ilusi-bunga-flat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>156</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asuransi Jiwa : Bukan Untuk Setiap Orang</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/06/15/asuransi-jiwa-bukan-untuk-setiap-orang/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/06/15/asuransi-jiwa-bukan-untuk-setiap-orang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 10:56:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Asuransi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[WHAT THEY SAID&#8230; Perusahaan asuransi bisa memberitahukan kepada anda dengan sangat akurat BERAPA banyak orang yang akan meninggal besok hari. Yang tidak mereka ketahui hanyalah SIAPA Anonymous &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Ketika menulis post ini, saya sedikit tersenyum membayangkan reaksi yang akan timbul jika post ini dibaca oleh agen asuransi jiwa. Saya terpikir untuk menulis tentang topik asuransi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=41&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>WHAT THEY SAID&#8230;</strong></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Perusahaan asuransi bisa memberitahukan kepada anda dengan sangat akurat BERAPA banyak orang yang akan meninggal besok hari. Yang tidak mereka ketahui hanyalah SIAPA</em></p>
<p style="text-align:right;"><em></em><strong>Anonymous</strong><em><br />
</em></p></blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika menulis post ini, saya sedikit tersenyum membayangkan reaksi yang akan timbul jika post ini dibaca oleh agen asuransi jiwa. Saya terpikir untuk menulis tentang topik asuransi jiwa setelah topik ini muncul dalam dalam percakapan saya dengan seorang teman dari thread &#8220;Jangan Serakah&#8221; di forum Kaskus, sebut saja namanya L. Dalam percakapan itu, L mempertanyakan apakah setiap orang wajib memiliki asuransi jiwa, terutama orang yang sudah mapan sekali?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Isu mengenai apakah setiap orang wajib memiliki asuransi jiwa boleh dikatakan sebagai isu yang agak &#8220;kontroversial&#8221;. <strong>Sebagian Financial Planner/Perencana Keuangan (dan hampir semua agen penjual asuransi jiwa) akan mengatakan bahwa setiap orang wajib memiliki asuransi jiwa. Di lain sisi, ada beberapa Financial Planner lainnya yang berpendapat bahwa asuransi jiwa bukanlah sesuatu yang wajib dimiliki oleh SEMUA orang</strong>. Berdasarkan pada judul post ini, para pembaca blog ini mungkin sudah bisa memperkirakan saya memihak pada &#8220;kubu&#8221; yang mana.<span id="more-41"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Setiap kali kita membeli produk apapun, kita harus selalu mempertimbangkan apa manfaat yang diberikan oleh produk itu, dan apakah kita benar-benar membutuhkan manfaat yang diberikan oleh produk itu.  Sebagai ilustrasi, kita lihat mobil misalnya. Meskipun setiap orang membutuhkan alat transportasi, tentunya tidak berarti bahwa setiap orang harus membeli mobil (bahkan jika mereka mampu membelinya).  Dengan mempertimbangkan biaya kepemilikan mobil (biaya servis berkala, STNK, BBM, dll), seorang ibu rumah tangga yang aktifitas sehari-harinya tidak membutuhkan dia untuk berpergian jauh, mungkin akan lebih cocok (dari sudut ekonomi) dengan alat transportasi lainnya (ojek, taksi, dan lain-lain).</p>
<p style="text-align:justify;">Demikian juga halnya jika kita ingin membeli asuransi jiwa. Satu hal yang harus kita ingat yaitu bahwa manfaat utama asuransi jiwa adalah untuk memberikan perlindungan kepada &#8220;dependen&#8221; (orang-orang yang bergantung kepada kita) jika kita meninggal. Jika kita tidak membutuhkan manfaat yang ditawarkan oleh asuransi jiwa, tentunya kita harus berpikir dua kali sebelum kita membeli asuransi jiwa itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu siapa saja &#8220;orang-orang&#8221; yang tidak membutuhkan manfaat asuransi jiwa? Jika kita lihat kembali manfaat utama dari asuransi jiwa, jawaban termudah yang terpikirkan adalah &#8220;orang-orang yang tidak memiliki dependen&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Contoh pertama untuk &#8220;golongan&#8221; ini adalah anak-anak. Suatu &#8220;fenomena&#8221; yang kita sering lihat di kehidupan sehari-hari, banyak orang yang membeli asuransi jiwa untuk seluruh anggota keluarganya, termasuk atas nama anak-anaknya yang masih kecil. Jika kita lihat berdasarkan manfaat utama asuransi jiwa, membeli asuransi jiwa atas nama anak-anak kita yang masih kecil sebenarnya agak &#8220;aneh&#8221;, mengingat anak-anak kita itu tidak memiliki dependen. Akan lebih baik jika premi yang kita bayarkan atas nama anak-anak kita, kita pakai untuk menambah nilai pertanggungan asuransi atas nama kita. Jika nilai pertanggungan asuransi kita sudah cukup, maka alternatif lainnya yang bisa kita pertimbangkan adalah menginvestasikan uang itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Orang dewasa lajang/single tanpa tanggungan juga termasuk kategori orang-orang yang perlu berpikir dua kali sebelum membeli asuransi jiwa. Sebagai contoh, misalnya kita belum menikah, dan orang tua kita sudah wafat ataupun orang tua kita sudah mempunyai perencanaan keuangan yang baik (sehingga tidak bergantung kepada kita), maka tentunya manfaat dari membeli asuransi jiwa menjadi perlu dipertanyakan.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita telaah lebih dalam, sebenarnya bahkan tidak setiap orang yang sudah berkeluarga wajib memiliki asuransi jiwa. Sebagai contoh, bayangkan sebuah pasangan baru yang belum memiliki anak, dan orang-tua keduanya tidak bergantung kepada mereka. Keduanya masing masing mempunyai income yang mencukupi dan telah memiliki rumah sendiri (telah lunas KPRnya), dan tidak memiliki hutang/cicilan lainnya. Dalam hal ini asuransi jiwa bukanlah sesuatu yang &#8220;wajib&#8221; dimiliki oleh pasangan itu. Meskipun dalam kasus ini asuransi jiwa bukan suatu ide yang buruk, pasangan itu juga bisa mempertimbangkan untuk menggunakan uang itu untuk diinvestasikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai contoh terakhir orang-orang yang mungkin tidak terlalu membutuhkan asuransi jiwa adalah orang-orang yang menjadi subjek pembicaraan antara saya dan L. Orang-orang yang mapan dan telah merencanakan keuangannya dengan sangat baik, misalnya saja memiliki portofolio investasi yang baik dan mencukupi (untuk memenuhi kebutuhan ekonomi masa depan tanggungannya) boleh dikatakan tidak &#8220;wajib&#8221; untuk memiliki asuransi jiwa.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ada baiknya saya ingatkan sekali bahwa yang saya bicarakan dalam post ini adalah asuransi jiwa dan bukan asuransi kesehatan. Dalam prakteknya, produk yang kerap kita temui di Indonesia adalah produk gabungan antara asuransi jiwa dan asuransi kesehatan. Untuk produk semacam ini, premi yang kita bayarkan sebenarnya adalah premi gabungan untuk kedua resiko itu, yaitu resiko untuk meninggal dan resiko untuk sakit.  Tentu saja premi ini akan &#8220;lebih mahal&#8221; daripada jika kita hanya meminta pertanggungan resiko sakit (tidak ada yang &#8220;gratis&#8221; di dunia ini, termasuk juga di dunia asuransi).</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun demikian, terlepas dari wajib atau tidaknya kita memiliki asuransi jiwa, asuransi jiwa tetaplah merupakan suatu produk finansial yang baik dan boleh menjadi pertimbangan setiap orang.</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">
</blockquote>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/41/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/41/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=41&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/06/15/asuransi-jiwa-bukan-untuk-setiap-orang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>65</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>