<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Pembahasan kondisi Ekonomi Makro</title>
	<atom:link href="http://janganserakah.com/category/pembahasan-kondisi-ekonomi-makro/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://janganserakah.com</link>
	<description>Sebuah blog sederhana tentang dunia investasi dan perencanaan keuangan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 May 2010 04:06:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='janganserakah.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d528815cd098af4ded4ea5f747ac55f8?s=96&#038;d=http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; Pembahasan kondisi Ekonomi Makro</title>
		<link>http://janganserakah.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://janganserakah.com/osd.xml" title="Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://janganserakah.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>E-mail Heboh Mengenai Krisis Ekonomi (tamat)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/11/28/e-mail-heboh-mengenai-krisis-ekonomi-tamat/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/11/28/e-mail-heboh-mengenai-krisis-ekonomi-tamat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Nov 2008 07:00:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembahasan kondisi Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=730</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah bagian terakhir dari pembahasan mengenai e-mail Rina Sutarto dan komentar dari Imam Semar. Lagi-lagi, e-mail Rina ditampilkan dalam warna biru, komentar Imam Semar dalam warna merah dan komentar saya dalam warna hitam &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; RINA: Hutang luar negeri kita sangat2 kecil saat ini dan cadangan devisa kita jauh lebih kuat daripada tahun 97/98. Dulu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=730&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Ini adalah bagian terakhir dari pembahasan mengenai e-mail Rina Sutarto dan komentar dari Imam Semar. Lagi-lagi, e-mail <strong><span style="color:#0000ff;">Rina</span></strong> ditampilkan dalam warna <strong><span style="color:#0000ff;">biru</span></strong>, komentar <span style="color:#ff0000;"><strong>Imam Semar</strong></span> dalam warna <span style="color:#ff0000;"><strong>merah</strong></span> dan komentar <strong>saya</strong> dalam warna <strong>hitam</strong><span id="more-730"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;"><em><strong><span style="color:#0000ff;"><span style="font-style:normal;">RINA:</span></span></strong><span style="color:#0000ff;"><span style="font-style:normal;"> Hutang luar negeri kita sangat2 kecil saat ini dan cadangan devisa kita jauh lebih kuat daripada tahun 97/98. Dulu hutang luar negeri kita 100% dan cadangan devisa kita nol. Saat ini kita juga tidak ada hubungan lagi dengan IMF. Semua hutang kita itu independent.</span></span><br />
</em><br />
<strong><span style="color:#ff0000;">IMAM SEMAR:</span></strong><span style="color:#ff0000;"> Surat Hutang Negara (SUN) Indonesia tidak laku. Dulu bunga pinjaman IMF hanya 3% &#8211; 6%, dengan SUN bisa di atas 10%. Beban bunganya lebih berat. Pakistan dapat pinjaman dari IMF dengan bunga 6% &#8211; 6.5% [</span><a href="http://story.chinanationalnews.com/index.php/ct/9/cid/b8de8e630faf3631/id/428660/cs/1/"><span style="color:#ff0000;">link:</span></a><span style="color:#ff0000;">]. Ukrania dapat dengan bunga 4% [</span><a href="http://www.ukranews.com/eng/article/161107.html"><span style="color:#ff0000;">link</span></a><span style="color:#ff0000;">]. Indonesia ini bodoh atau pinter sih?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>EDISON:</strong> Dalam hal ini, saya kurang mengerti apa yang dimaksud RINA dengan hutang luar negeri kita 100%, dan juga tidak jelas 100% itu adalah dibandingkan dengan apa? Informasi RINA mengenai cadangan devisa yang dikatakan NOL juga kurang tepat karena setahu saya pada krisis 97 cadangan devisa Indonesia adalah kira-kira sebesar 20 Milyar Dollar.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang saat ini banyak sekali orang yang tertarik untuk membandingkan kondisi sekarang dengan tahun 97, karena khawatir kondisi saat itu akan berulang. Dalam beberapa hal, kondisi Indonesia saat ini berbeda dengan kondisi saat itu:</p>
<p style="text-align:justify;">Pra krisis 97, negara kita menganut sistem mata uang Managed Floating (mengambang terkendali), yang berarti pemerintah &#8216;wajib&#8217; menjaga nilai tukar mata uang dalam batas tertentu. Akibatnya, ketika nilai tukar Rupiah melemah sampai 600% (dari sekitar 2500 menjadi hampir 16000), cadangan devisa banyak tersedot untuk upaya intervensi menjaga nilai tukar Rupiah.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat ini, negara kita menganut sistem mata uang Free Floating (mengambang bebas), dan pemerintah tidak &#8216;wajib&#8217; untuk menjaga nilai tukar rupiah di batas tertentu. Sistem ini akan lebih ringan di &#8216;kocek&#8217; pemerintah. Saya pribadi ragu Rupiah akan terjun bebas hingga 600% dari nilainya yang sekarang (1 US$=60-70 Ribu Rupiah?!?). Oleh karena itu, jalan cerita &#8216;krisis&#8217; kali ini rasanya akan berbeda dari jalan cerita yang lama.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain hal di atas, dalam beberapa segi, memang kondisi ekonomi Indonesia saat ini sedikit lebih baik dibandingkan dengan kondisi tahun 97 (misalnya dalam Current Account, regulasi sektor perbankan, dll). Jadi, di atas kertas, memang kondisi Indonesia saat ini lebih siap utk menghadapi krisis dibandingkan dengan pada tahun 97. Hanya saja, krisis ekonomi saat ini juga sepertinya akan lebih dashyat dibandingkan krisis waktu itu. Apakah persiapan Indonesia sudah cukup? Ini yang akan menjadi bahan perdebatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Masih dalam bagian ini, komentar Imam Semar juga agak menarik untuk dilihat, terutama seputar pertanyaannya tentang &#8216;<em><span style="color:#ff0000;">Indonesia ini bodoh atau pinter sih?</span>&#8216;</em>. Imam Semar mempertanyakan &#8216;kepintaran&#8217; pemerintah karena meminjam uang dengan bunga 10%+ (dengan SUN) padahal Pakistan bisa mendapatkan pinjaman dengan bunga hanya 6-6,5% dan Ukraina hanya membayar bunga 4%.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini, perbandingan yang dilakukan oleh Imam Semar agak kurang &#8216;adil&#8217;. Mungkin karena terlalu &#8216;<em>bersemangat</em>&#8216; dalam menulis komentarnya, sepertinya Imam Semar lupa bahwa pinjaman dari IMF untuk Pakistan dan Ukraina termasuk dalam kategori &#8216;bantuan&#8217; dan termasuk hutang &#8216;lunak&#8217; sehingga bunganya lebih ringan dibandingkan dengan SUN (Surat Utang Negara) yang merupakan hutang &#8216;komersil&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain hal di atas, pinjaman kepada Pakistan dan Ukraina adalah dalam mata uang US$, sehingga jika ingin melakukan perbandingan, tentunya harus dengan SUN yang bermata uang US$. Terakhir kali pemerintah menjual SUN dalam US$ adalah pada bulan Juni kemarin. Yield SUN yang dijual tersebut berkisar dari 6,7% (jatuh tempo 6 thn) hingga 8,1% (jatuh tempo 30 thn). Ini tentunya masih jauh dari angka 10% yang disebutkan Imam Semar.</p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin sebagian pembaca lalu bertanya, jika memang meminjam kepada IMF bisa lebih murah, mengapa harus meminjam melalui SUN? Alasan utamanya dalam hal ini adalah karena negara yang meminta bantuan kepada IMF akan &#8216;dicap&#8217; negatif oleh para investor global. Label &#8216;negatif&#8217; ini akan membuat pemerintah justru harus membayar lebih mahal ketika menerbitkan obligasi di kemudian hari karena dianggap beresiko tinggi untuk gagal bayar. Inilah sebabnya meminjam dari IMF bisa dikatakan hanya merupakan alternatif terakhir ketika memang tiada jalan lain lagi.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong>RINA:</strong> </span><span style="color:#0000ff;">Bagi kalian yang punya reksadana di saham, kalo nilai investasi kalian sudah di bawah 50%, biarkan saja, jangan dijual karena kalo kalian jual maka uang kalian benar2 akan tinggal dikit. Biarkan saja nanti balik lagi&#8230;tapi kali ini memang lama&#8230;.minimal 2 tahun bahkan lebih. Sekali lagi ini krisis yang sangat besar, terbesar sepanjang masa ekonomi dunia modern.</span><span style="color:#0000ff;"><br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">IMAM SEMAR:</span></strong><span style="color:#ff0000;"> Seorang investor harus punya exit strategy, trailing stop misalnya. Kalau trailing stop anda adalah 50% (atau 40% atau 25% atau berapalah). Maka setelah lewat 50%, anda harus exit. Kami jadi ingat nasehat kami kepada beberapa email yang masuk. Ada di antaranya dari seorang ibu rumah tangga yang beli BUMI di Rp 7000 dan waktu itu harganya Rp 5600 (sudah rugi 20%). Saran kami, bahwa ekonomi akan memburuk dan saham akan jatuh. Dia bisa beli lagi dengan uang yang sama dan dapat lebih banyak. Kalau dia mau beli sekarang bisa dapat 5 kali lebih banyak. Bahkan kalau mau tunggu lagi bisa dapat 20 kali lebih banyak.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>EDISON:</strong> Kalau menurut &#8216;aliran&#8217; yang saya anut, mungkin komentar Imam Semar lebih tepat jika diubah menjadi &#8216;<em>Seorang </em><strong><em>SPEKULATOR </em></strong><em>(bisa juga </em><strong><em>TRADER</em></strong><em>) harus punya exit strategy, trailing stop misalnya</em>&#8216;.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun saya pribadi tidak melakukan analisa fundamental terhadap saham BUMI, tetapi firasat saya mengatakan bahwa seorang Investor (berdasarkan definisi Ben Graham) kemungkinan besar tidak akan membeli saham BUMI di harga Rp 7000.  </p>
<p style="text-align:justify;">Bagi para pembaca blog ini, cobalah ingat kembali 3 syarat yang dikemukakan Graham agar sesuatu bisa disebut sebagai investasi. Apakah menurut anda apa yang dilakukan oleh ibu rumah tangga tersebut lebih tepat dikatakan sebagai investasi atau spekulasi?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Ini merupakan akhir dari artikel seri ini. Dengan selesainya artikel ini, saya harapkan teman-teman pembaca blog bisa mendapatkan gambaran yang cukup jelas tentang pandangan saya terhadap e-mail Rina tersebut. Mudah-mudahan ini akan memberikan perspektif yang baru bagi teman-teman.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/730/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/730/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/730/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=730&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/11/28/e-mail-heboh-mengenai-krisis-ekonomi-tamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>E-mail Heboh Mengenai Krisis Ekonomi (part 3)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/11/26/e-mail-heboh-mengenai-krisis-ekonomi-part-3/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/11/26/e-mail-heboh-mengenai-krisis-ekonomi-part-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Nov 2008 03:49:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembahasan kondisi Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=727</guid>
		<description><![CDATA[Melanjutkan pembahasan kemarin, hari ini kita akan kembali membedah e-mail Rina Sutarto mengenai Krisis Ekonomi dan juga opini Imam Semar terhadap e-mail tersebut. Sama seperti part 2, e-mail Rina akan saya tampilkan dalam warna biru, opini Imam Semar dalam warna merah, dan pendapat saya akan ditulis dalam warna hitam. &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; RINA: Barang2 tertier terutama yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=727&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Melanjutkan pembahasan kemarin, hari ini kita akan kembali membedah e-mail Rina Sutarto mengenai Krisis Ekonomi dan juga opini Imam Semar terhadap e-mail tersebut. Sama seperti part 2, e-mail <strong><span style="color:#0000ff;">Rina</span></strong> akan saya tampilkan dalam warna <strong><span style="color:#0000ff;">biru</span></strong>, opini <span style="color:#ff0000;"><strong>Imam Semar</strong></span> dalam warna <strong><span style="color:#ff0000;">merah</span></strong>, dan pendapat <strong>saya</strong> akan ditulis dalam warna <strong><span style="color:#000000;">hitam</span></strong>.<span id="more-727"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-style:normal;"><span style="color:#0000ff;"><strong>RINA</strong>: Barang2 tertier terutama yang bakal dibeli pake kredit nanti dulu deh, pegang cash dulu. Barang2 akan mahal, susu anak mahal&#8230;so, pegang cash.<br />
</span></span><br />
</em><strong><span style="color:#ff0000;">IMAM SEMAR: </span></strong><span style="color:#ff0000;"> Pernyataan kontradiksi. Kalau barang-barang akan naik harganya maka sebaiknya tidak memegang cash, tetapi beli barang dan timbun!</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>EDISON: </strong>Di sini, apa yang dikatakan oleh Imam Semar memang benar. Jika kita mengantisipasi bahwa harga barang akan naik maka tindakan yang logis memang seharusnya adalah menimbun barang sebelum harganya naik. Memegang cash sewaktu harga barang-barang akan naik justru merupakan tindakan yang salah.</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi mungkin di sini pertanyaan utama yang perlu kita tanyakan adalah apakah benar harga barang-barang akan naik? Ini akan lebih menarik untuk dibahas.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai dengan bulan Agustus kemarin, akibat bubble komoditas, kekhawatiran terbesar dalam perekonomian adalah mengenai inflasi. Pecahnya bubble komoditas ini, bagi Indonesia sendiri ibaratnya bagaikan pedang bermata dua. Sisi negatifnya adalah nilai pendapatan ekspor Indonesia jadi menurun karena ekspor komoditas mempunyai sumbangan yang besar dalam pendapatan ekspor kita. Sisi positifnya adalah inflasi (<em>seharusnya</em>) mereda karena harga bahan baku berbagai barang mengalami penurunan. </p>
<p style="text-align:justify;">Sayangnya, pada saat ini, timbullah masalah baru, yaitu merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika. Akibat melemahnya nilai tukar ini, harga berbagai barang impor mengalami kenaikan. Mengingat negara kita mempunyai ketergantungan impor yang besar untuk berbagai jenis barang (barang modal, barang 1/2 jadi dan juga barang jadi), melemahnya nilai tukar rupiah yang terjadi hingga hari ini mempunyai pengaruh yang cukup terasa terhadap harga-harga barang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai ilustrasi, saya akan menggunakan contoh biji plastik (resin) PET, karena kebetulan ini merupakan bahan baku utama yang dipakai di usaha saya. Bulan ini, harga Resin PET adalah US$1050 per ton, turun drastis dari harga bulan lalu yang sebesar US$1200 per ton (turun 12,5%). Tetapi jika di bulan lalu, kurs dollar yang saya dapatkan adalah Rp 10500/US$1 maka di bulan ini, kurs yang saya harus bayarkan adalah Rp 12500/US$1. Akibatnya, alih-alih turun, harga bahan baku dalam Rupiah malah naik sekitar 4%.</p>
<p style="text-align:justify;">Kondisi ini sendiri tidak terbatas kepada industri yang saya tekuni. Pengamatan langsung saya terhadap berbagai industri lain juga memperlihatkan gejala yang sama. </p>
<p style="text-align:justify;">Mungkin ada pembaca yang lalu terpikir, bagaimana dengan industri yang bahan bakunya umumnya didapat dari lokal, karet misalnya. Bukankah seharusnya industri yang bahan baku utamanya adalah karet tidak akan terpengaruh? Sayangnya realitasnya bukanlah seperti ini. Harga pasar domestik, sedikit banyak akan dipengaruhi oleh harganya di pasar internasional. Produsen karet tentunya akan menyesuaikan harga karet dalam Rupiah dengan harga karet dalam Dollar US. Jika harga domestik dalam Rupiah berselisih jauh dengan harga internasional, produsen karet akan lebih memilih untuk mengekspor karetnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali lagi ke permasalahan apakah harga-harga akan naik di tahun depan? Bagi negara kita, jawaban pertanyaan ini akan sangat tergantung kepada nilai tukar Rupiah terhadap Dollar US$ ke depannya. Jika nilai tukar Rupiah bisa stabil terhadap dollar, maka seharusnya harga-harga akan relatif stabil mengingat kondisi harga komoditas yang telah mengalami penurunan jauh. Tetapi jika Rupiah terus melemah, di tahun depan mungkin akan terjadi gelombang lanjutan kenaikan harga barang-barang akibat kenaikan harga barang impor.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-style:normal;"><strong><span style="color:#0000ff;">RINA:</span></strong><span style="color:#0000ff;"> Bila kalian dengar harga emas naik dan sebagainya, jangan tergiur. Emas memang naik, tapi sangat volatile. Contoh temanku, beli emas, niatnya mau jualan,&#8230;.eh telat, sekarang turun lagi. Lagian percaya deh, sulit jualnya karena semua orang dalam kondisi pengin jualan. Kalian bisa beli kemungkinan besar susah jualnya</span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">IMAM SEMAR:</span></strong><span style="color:#ff0000;"> Tidak benar bahwa emas tidak liquid (susah dijual). Emas sangat liquid, tetapi perak tidak liquid di Indonesia. Ditempat lain perak liquid. Bahkan saat ini kalau mau beli emas sulit, pemodal/investor besar tidak mau melepas emasnya. Karena emas adalah alat lindung nilai (hedging) di masa krisis.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong><span style="color:#000000;">EDISON:<span style="font-weight:normal;"> Di sini saya lihat dua-duanya salah. Tidak benar bahwa emas susah dijual seperti kata Rina, dan tidak benar juga bahwa emas sulit dibeli seperti kata Imam Semar. </span></span></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><strong><span style="color:#000000;"><span style="font-weight:normal;">Saya pribadi tertarik untuk ingin tahu mengapa Imam Semar bisa berkesimpulan bahwa &#8216;untuk membeli emas sulit karena pemodal/investor besar tidak mau melepas emasnya&#8217;. Jika ada tertarik untuk membeli Logam Mulia saat ini, banyak tempat yang menjualnya, misalnya saja PERUM PEGADAIAN (LM produksi Antam). Per hari ini saya cek pun masih banyak stok yang tersedia. </span></span></strong></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-style:normal;"><span style="color:#0000ff;"><strong>RINA:</strong> Jangan panik lalu ikut2an beli emas atau dollar. Dollar justru tinggi2nya. Udah Rp 10,000 an. Dollar yang tinggi ini karena investor asing menarik uangnya dari Indonesia , mereka kan butuh dollar supaya bisa dibawa ke negara mereka. Jadi bukan karena kondisi ekonomi kita yang jelek.</span></span><br />
</em><br />
<strong><span style="color:#ff0000;">IMAM SEMAR:</span></strong><span style="color:#ff0000;"> Apakah turunnya eksport komoditi tidak akan memukul ekonomi Indonesia? Apakah kalau kredit macet di sektor komoditi, pertambangan dan properti tidak menggoyang ekonomi Indonesia?</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><strong>EDISON:</strong> Di sini, bagi saya yang menariknya adalah ajakan Rina untuk tidak panik, padahal di beberapa bagian e-mail tersebut ada kesan bahwa Rina sendiri &#8216;panik&#8217;.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;">Lalu apakah kondisi ekonomi kita jelek? Tidak bisa dipungkiri bahwa selama beberapa tahun terakhir, perekonomian Indonesia sangat tertopang oleh kondisi di sektor komoditas. Dengan pecahnya bubble komoditas, maka pengaruh yang akan dirasakan oleh negara kita tentunya tidak kecil. </span></p>
<p style="text-align:justify;">Yang agak membuat saya tertawa adalah karena Rina sendiri di awal e-mailnya menulis:</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong>RINA:</strong> Krisis ekonomi sudah menjalar ke sektor real artinya akan kita rasakan. Sekarang sebenarnya sudah tapi tidak banyak orang awam yang benar2 sadar dampaknya. Ekspor kita sudah melambat, harga2 komoditas kita sudah jatuh, eksportir2 kita sudah memecati karyawan, impor ilegal sudah masuk. Pertumbuhan ekonomi kita bisa negatif.<br />
</span></p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita bandingkan dua paragraf yang ditulis Rina ini, mungkin yang timbul adalah pertanyaan: &#8216;<em>Jadinya menurut Rina ekonomi kita jelek atau tidak sih?</em>&#8216;</p>
<p style="text-align:justify;">Komentar Imam Semar mengenai kredit macet di bagian ini juga cukup menarik. Saya pribadi tidak mempunyai data berapa besar kucuran kredit perbankan ke sektor komoditi dan properti. Saya pribadi juga tidak mempunyai gambaran apakah kredit yang dikucurkan ke sektor-sektor itu dilakukan dengan seleksi yang ketat. Oleh sebab itu, sejujurnya saya tidak bisa memperkirakan apakah akan timbul gelombang kredit macet di sektor-sektor tersebut. Jika sekedar &#8216;menebak&#8217;, saya mungkin akan cenderung sependapat dengan Imam Semar, yaitu mencurigai adanya kemungkinan kredit macet yang cukup besar di sektor-sektor tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, ada lagi satu hal yang membuat saya agak khawatir, yaitu kredit konsumsi (kartu kredit, kredit otomotif, dll), dimana dalam beberapa tahun terakhir:</p>
<ul>
<li>Proses seleksi dalam pemberian kartu kredit terlalu mudah. Di berbagai mall misalnya, siapa yang belum pernah ditawari kartu kredit dengan &#8216;<em>cuma perlu KTP saja Oom</em>&#8216;. </li>
<li>Meluasnya pemakaian Kredit Tanpa Agunan (KTA)</li>
<li>Agresifnya pemberian kredit otomotif, terutama motor.</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Ketiga hal di atas membuat saya bertanya-tanya apakah sektor perbankan kita sesehat seperti yang kerap diumumkan, dimana dikatakan hutang macet (Non-Performing Loan) kalau tidak salah dikatakan hanya sebesar 3-4%. </p>
<p style="text-align:justify;">(<em>bersambung ke part 4</em>)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/727/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/727/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/727/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=727&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/11/26/e-mail-heboh-mengenai-krisis-ekonomi-part-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>E-mail Heboh Mengenai Krisis Ekonomi (part 2)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/11/25/e-mail-heboh-mengenai-krisis-ekonomi-part-2/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/11/25/e-mail-heboh-mengenai-krisis-ekonomi-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Nov 2008 08:54:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembahasan kondisi Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=719</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini saya akan melanjutkan pembahasan mengenai e-mail Rina Sutarto tentang krisis ekonomi. Yang menariknya, seorang pembaca blog menginformasikan kepada saya bahwa ternyata e-mail tersebut baru-baru ini sudah pernah dibahas di blog Imam Semar. Oleh karena itu, berbeda dengan rencana awal saya yang cuma sekedar akan membahas pandangan Rina Sutarto, saya pikir akan ada baiknya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=719&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Hari ini saya akan melanjutkan pembahasan mengenai e-mail Rina Sutarto tentang krisis ekonomi. Yang menariknya, seorang pembaca blog menginformasikan kepada saya bahwa ternyata e-mail tersebut baru-baru ini sudah pernah dibahas di blog Imam Semar. Oleh karena itu, berbeda dengan rencana awal saya yang cuma sekedar akan membahas pandangan Rina Sutarto, saya pikir akan ada baiknya saya membandingkan juga pandangan saya dengan pandangan Imam Semar. </p>
<p style="text-align:justify;">Agar memudahkan pembaca mengikuti artikel ini, saya akan menggunakan warna untuk membedakan antara opini Rina, Imam Semar dan saya. Opini <strong><span style="color:#0000ff;">Rina</span></strong> akan dituliskan dalam warna <strong><span style="color:#0000ff;">biru</span></strong>, opini <span style="color:#ff0000;"><strong>Imam Semar</strong></span> (jika ada) akan dituliskan dalam warna <span style="color:#ff0000;"><strong>merah</strong></span>, dan opini <strong>saya</strong> akan dituliskan dalam warna <strong>hitam</strong>. Pembahasannya juga mungkin tidak akan berurut seperti di dalam e-mail dan ada beberapa bagian yang saya satukan karena tulisannya erat kaitannya.<span id="more-719"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#0000ff;">RINA:</span></strong><span style="color:#0000ff;"> Banyak negara sudah memasuki masa resesi, seperti Inggris dan Singapur. Sebenarnya banyak sekali negara sudah masuk resesi tapi secara definisi belum karena dalam definisi ekonomi suatu negara dinyatakan resesi bila pertumbuhan ekonominya negatif 2 kuartal berturut2. Jadi yang tinggal di Singapore , Inggris dan US benar2 harus melakukan perubahan cara hidup mulai sekarang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>EDISON:</strong> Ini cuma sekedar komen teknis saja, tetapi seperti yang saya bahas dalam artikel &#8216;<a href="http://janganserakah.com/2008/11/17/apa-itu-resesi/" target="_blank">Apa itu Resesi</a>&#8216;, aturan bahwa Resesi itu adalah  pertumbuhan ekonomi negatif 2 kuartal berturut-turut itu justru bukan &#8216;aturan&#8217; resmi. Ini hanya definisi yg kerap dipakai umum. Untuk Amerika misalnya, yang &#8216;berhak&#8217; menyatakan ekonomi US memasuki resesi atau belum adalah badan NBER, dan definisi Resesi versi mereka bukanlah seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang menariknya, Rina cuma meminta orang-orang yang tinggal di Singapore, Inggris dan USA saja untuk merubah cara hidup. Bagaimana dengan yang di Indonesia?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#0000ff;">RINA:</span></strong><span style="color:#0000ff;"> Gaji dan semua income jangan dibelikan investasi lagi. PEGANG CASH. Buat kalian yang pas2an sekali, aku saranin, akumulasi cash dalam bentuk hard cash yaitu rekening tabungan (yang bisa ditarik dengan ATM). So, gaji masuk jangan belanja apa2.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><span style="color:#ff0000;">IMAM SEMAR:</span></strong><span style="color:#ff0000;"> kalau orang akan memperebutkan cash, maka seharusnya jangan memenyimpan di bank karena kalau bank juga perlu cash, maka anda tidak dapat. Mesin ATM akan tutup.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>EDISON:</strong> Di sini Rina bicara tentang &#8216;PEGANG CASH&#8217;, yang lalu disentil oleh Imam Semar dengan gaya sinisme khasnya, bahwa jika memang harus memegang Cash seharusnya jangan menyimpan di bank. Jadi mana yang benar?</p>
<p style="text-align:justify;">Ini akan tergantung kepada apa yang dimaksud oleh Rina dan cara kita melihatnya. Jika yang dimaksud oleh Rina adalah Cash &amp; Equivalent, maka saran Rina tidak kontradiktif, karena tabungan memang masih termasuk ekuivalen dari Cash (seperti yang umum dilakukan dalam laporan keuangan).</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi jika diteliti, Rina lalu menuliskan istilah &#8216;HARD CASH&#8217;. Dalam bahasa Inggris, kata &#8216;hard cash&#8217; itu dipakai untuk menggambarkan uang kertas ataupun logam. Oleh karena itu, dalam hal ini Imam Semar benar bahwa jika memang ingin mengakumulasi HARD CASH, seharusnya tidak dimasukkan ke bank.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi tentunya komen di atas hanyalah bersifat &#8216;teknis&#8217;. Isu utamanya dalam hal ini sebenarnya adalah saran RINA bahwa Gaji dan Income jangan dibelikan Investasi lagi. Bagi saya, saran tersebut merupakan <strong>saran yang sangat buruk</strong>. Mengapa?</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti yang telah saya tekankan berkali-kali di blog ini, <strong>cara terbaik untuk menjalankan investasi bagi kebanyakan orang adalah melalui program investasi rutin melalui index investing dengan menerapkan metode Dollar Cost Averaging. Bagi para investor ini, berhenti berinvestasi di saat pasar modal sedang jatuh (sehingga harganya lebih atraktif) seperti sekarang ini justru merupakan tindakan yang amat salah.</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Selama uang yang diinvestasikan merupakan uang &#8216;lebih&#8217; dari penghasilan kita, dan kita telah mempunyai dana cadangan (untuk berbagai keadaan darurat), maka tidak ada alasan untuk menghentikan investasi dengan cara di atas.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-style:normal;"><strong><span style="color:#0000ff;">RINA:</span></strong><span style="color:#0000ff;"> Investasi tunda dulu deh. Kalo memang ada duit lebih deposito saat ini yang paling cocok, itu juga near to cash walaupun ada jatuh temponya. Nah untuk deposito aku saranin, masukkan ke bank yang aman, buat kalian aku sarankan kalo bisa bank pemerintah. </span></span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="font-style:normal;"><span style="color:#0000ff;">Bunga penjaminan pemerintah hanya 10%. Artinya bila deposito kalian mendapat bunga di atas 10% maka uang kalian tidak akan dijamin oleh pemerintah. Bila, bank itu kolaps, maka uang kalian bisa saja hilang&#8230;.lang lang. Terus nominal yang diganti hanya maksimal 2 M. Mungkin kalian tidak ada yang punya sebanyak itu tapi informasi ini bisa dishare ke bokap atau nyokap.</span><br />
</span></em><br />
<strong><span style="color:#ff0000;">IMAM SEMAR:</span></strong><span style="color:#ff0000;"> Apa bank pemerintah aman? Uang anda bisa utuh, tetapi tidak dijamin bahwa tidak akan dibekukan. Dan ketika anda bisa mencairkannya, nilainya sudah turun. Sejarah Argentina tahun 2001 dan Indonesia tahun 1997 membuktikannya.</span> </p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;">Kalau sdri Rina pada emailnya menganjurkan agar membiarkan uang anda di bank (sebaiknya bank pemerintah), kami di EOWI menganjurkan untuk mengambil dan mencairkan deposit anda sebelum bank nya di-rush. Bisa jadi anda tidak kebagian. Paniklah sebelum terjadi panik massal. Menaruh uang di bawah kasur lebih baik dari pada di bank pada saat seperti itu. Uang di bawah kasur resikonya adalah perampok dan pencuri. Alternatif lain adalah safe deposit box. Timbang-timbang saja lah.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>EDISON:</strong> Di sini lagi-lagi Rina menyarankan untuk menunda investasi. Seperti yang telah saya bahas di atas, saya pribadi sangat tidak setuju dengan saran tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun demikian, peringatan Rina tentang suku bunga penjaminan (10%) memang perlu diperhatikan. Saran mengenai penjaminan LPS ini juga kerap saya sampaikan kepada teman-teman pembaca blog ini (terutama di forum Jangan Serakah di kaskus).</p>
<p style="text-align:justify;">Ironisnya, saat ini hampir semua bank menawarkan bunga yang di atas bunga penjaminan. Yang lebih &#8216;<em>menyedihkan</em>&#8216; lagi bagi saya, jika kita menanyakan kepada mereka bagaimana nasib uang kita seandainya terjadi masalah, jawaban yang kerap didapatkan adalah:</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Pegawai bank tersebut menyatakan bahwa depositonya dijamin oleh pemerintah. Ini bisa terjadi karena pegawai bank itu sendiri tidak terlalu paham tentang suku bunga penjaminan (kisah nyata yg saya alami) ataupun karena pegawai bank tersebut &#8216;nakal&#8217; baik atas inisiatif sendiri ataupun instruksi supervisornya (lagi-lagi kisah nyata yg saya alami).</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Pegawai bank tersebut memakai jawaban &#8216;<em>Tenang saja pak, bank kita adalah bank besar dan semuanya mendapatkan bunga seperti ini. Tidak mungkin pemerintah membiarkan semua nasabah kami mati uangnya, bisa rusuh/kacau nanti</em>&#8216;.<em></em></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana sebaiknya kita menyikapi kondisi yang tidak sehat ini? Ada beberapa alternatif.</p>
<p style="text-align:justify;">Alternatif pertama adalah menekankan kepada pegawai bank tersebut bahwa yang kita inginkan adalah produk deposito yang dijamin oleh pemerintah dengan meminta bukti pernyataan tertulis. Tentunya konsekuensinya di sini adalah maksimal sebesar bunga penjaminan LPS (saat ini sebesar 10%).</p>
<p style="text-align:justify;">Alternatif kedua adalah memindahkan deposito ke instrumen ORI dan memegangnya hingga jatuh tempo. Pada saat ini hasil yang bisa diterima dari obligasi ORI bergerak di kisaran 12,5%-13%, tidak berbeda jauh dengan suku bunga deposito &#8216;nakal&#8217;. Saya pribadi lebih memilih alternatif ini, terutama jika uang tersebut tidak saya butuhkan dalam waktu dekat.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sini perlu saya ingatkan juga alternatif kedua mempunyai konsekuensi bahwa uang akan &#8216;terikat&#8217; lebih lama sehingga ada resiko tambahan yang kita tanggung seperti misalnya resiko perubahan suku bunga (bisa dibaca di artikel tentang obligasi). </p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana dengan komentar Imam Semar dalam hal ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Opini Imam Semar bahwa bank pemerintah juga bukan jaminan aman di satu sisi memang benar. Negara pun bisa bangkrut. Dan ini pun bukan terbatas kepada negara &#8216;kecil&#8217;. Perekonomian besar seperti Amerika pun bisa bangkrut.</p>
<p style="text-align:justify;">Tetapi di sini mungkin yang perlu kita pertanyakan adalah, bagaimana kita bisa &#8216;hidup&#8217; jika kita selalu melihat kepada kemungkinan &#8216;kiamat&#8217;. Bayangkan kalau anda hidup dengan takut &#8217;mati disambar petir&#8217; ataupun takut bahwa &#8217;bumi akan ditabrak meteor&#8217;?</p>
<p style="text-align:justify;">Hal-hal seperti di atas memang bukan mustahil terjadi, tetapi tentunya kita harus mempertimbangkan juga kemungkinan/probabilita terjadinya hal tersebut. Memang betul bahwa bukan tidak mungkin bank pemerintah bisa bangkrut dan lalu pemerintah tidak sanggup untuk &#8216;menalangi&#8217;-nya sehingga tabungan masyarakat &#8216;dibekukan&#8217; seperti yang ditulis skenario Imam Semar. Tetapi kembali lagi yang perlu kita pertanyakan, berapa besar kemungkinannya?</p>
<p style="text-align:justify;">Saya pikir mungkin Imam Semar pun tidak terlalu serius untuk mempercayai bahwa skenario di atas akan terjadi. Jika memang benar Imam Semar meyakini skenario tersebut akan terjadi, maka seharusnya ia akan lebih dahulu melakukan sarannya (alias Paniklah sebelum terjadi panik massal).  Untuk itu, ia harus memegang seluruh uangnya dalam bentuk HARD CASH, tidak mempunyai tabungan sama sekali dan juga tidak memegang mata uang Rupiah sama sekali (kecuali untuk kebutuhan sehari-hari). Selain itu tentunya ia juga akan meminta seluruh keluarganya (orang tua dan saudara) untuk melakukan hal yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah bagaimana menurut anda, tetapi saya pribadi merasa kecil kemungkinannya Imam Semar melakukan hal di atas.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>(bersambung ke part 3)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/719/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/719/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/719/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=719&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/11/25/e-mail-heboh-mengenai-krisis-ekonomi-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>E-mail Heboh mengenai Krisis Ekonomi</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/11/24/e-mail-heboh-mengenai-krisis-ekonomi/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/11/24/e-mail-heboh-mengenai-krisis-ekonomi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 05:46:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembahasan kondisi Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[Sebenarnya untuk posting hari ini, rencananya saya ingin melanjutkan cerita saya mengenai kisah GM, Ford dan Chrysler. Tetapi setelah memeriksa inbox e-mail saya, saya pikir mungkin ada baiknya topik tersebut saya tunda dulu dan membahas sebuah forward e-mail yang saya terima. Apa isi e-mail tersebut? Secara garis besar, e-mail tersebut berisikan pandangan mengenai Krisis Ekonomi. Selain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=707&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebenarnya untuk posting hari ini, rencananya saya ingin melanjutkan cerita saya mengenai kisah GM, Ford dan Chrysler. Tetapi setelah memeriksa inbox e-mail saya, saya pikir mungkin ada baiknya topik tersebut saya tunda dulu dan membahas sebuah forward e-mail yang saya terima. Apa isi e-mail tersebut? Secara garis besar, e-mail tersebut berisikan pandangan mengenai Krisis Ekonomi. Selain itu, penulis asli e-mail tersebut, yang nampaknya bernama Rina Sutarto, juga memberikan beberapa saran pribadinya mengenai beberapa hal yang terkait dengan kondisi ekonomi saat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengapa saya lalu tertarik untuk membahas e-mail ini?</p>
<p style="text-align:justify;">Alasan pertama adalah tentu saja karena materi bahasannya yang bisa dikatakan erat kaitannya dengan topik yang sering saya bicarakan di blog ini. Selain itu,  tampaknya e-mail tersebut beredar cukup luas dan terus menerus &#8216;diedarkan&#8217; kembali oleh orang yang menerimanya. Per hari ini, sudah lebih dari 10 kali saya menerima forward e-mail tersebut dari para pembaca blog yang lalu meminta pandangan saya mengenai e-mail tersebut.<span id="more-707"></span></p>
<div style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</div>
<div style="text-align:justify;">Ketika saya memutuskan untuk membahas tentang e-mail ini, hal yang pertama saya lakukan adalah mencoba untuk mencari tahu sedikit tentang penulisnya. Kebetulan e-mail terakhir yang saya dapatkan ada memuat nomor telpon si penulis asli e-mail, yaitu 08111834xxx. Meskipun demikian, ketika saya mencoba untuk menghubungi nomor tersebut, yang saya dapatkan hanyalah &#8216;<em>nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi. Mohon periksa kembali nomor tujuan anda</em>.&#8217;</div>
<div style="text-align:justify;">Nomor berikutnya yang saya coba adalah nomor HP salah satu orang yang memforward e-mail tersebut, untuk menanyakan seandainya ia mengenal langsung Rina Sutarto yang menulis e-mail tersebut. Tetapi lagi-lagi di sini saya menemui jalan buntu. </div>
<div style="text-align:justify;">Upaya berikutnya yang saya lakukan adalah mencoba Google. Setelah menelusuri beberapa forum, akhirny saya menemukan bahwa sepertinya saudari Rina Sutarto ini bekerja di Asuransi Sinar Mas (minimal pada tahun 2005). Sayangnya tidak ada nomor kontak lain yang bisa saya dapatkan. </div>
<div style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</div>
<div style="text-align:justify;">Lalu apa isi e-mail tersebut dan bagaimana pandangan saya mengenai apa yang dikemukakan oleh saudari Rina Sutarto tersebut? Mengingat e-mail ini cukup panjang, dalam part 1 ini, saya baru akan sekedar berbagi isi e-mail tersebut. Pandangan pribadi saya terhadap isi e-mail tersebut akan saya tuliskan di part 2. </div>
<div style="text-align:justify;"><strong>CATATAN:</strong> Saya ingatkan sekali lagi,  ini baru merupakan isi e-mail yang saya terima dan bukanlah opini ataupun saya.</div>
<blockquote>
<div style="text-align:justify;"><em>Teman2, </em><span class="nfakPe"><em>agak</em></span><em> serius dikit ya.<br />
</em></div>
<div style="text-align:justify;"><em><br />
</em></div>
<div style="text-align:justify;"><span class="nfakPe"><em>Sebetulnya</em></span><em> </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> </em><span class="nfakPe"><em>agak</em></span><em> </em><span class="nfakPe"><em>telat</em></span><em>, </em><span class="nfakPe"><em>tapi</em></span><em> </em><span class="nfakPe"><em>sorry</em></span><em> </em><span class="nfakPe"><em>karena</em></span><em> </em><span class="nfakPe"><em>pikiranku</em></span><em> </em><span class="nfakPe"><em>kesita</em></span><em> </em><span class="nfakPe"><em>banget</em></span><em> </em><span class="nfakPe"><em>ama</em></span><em> </em><span class="nfakPe"><em>kerjaan</em></span><em>. Barusan aja aku kepikiran untuk share </em><span class="nfakPe"><em>ama</em></span><em> kalian di milist </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em>. Aku sendiri juga kelimpungan jawab pertanyaan dari orang2 soal </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em>. </em><span class="nfakPe"><em>Ini</em></span><em> bukan nakut2in </em><span class="nfakPe"><em>tapi</em></span><em> kenyataan dan aku nulis </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> supaya kalian tahu apa yang harus dilakukan. </em></div>
<div style="text-align:justify;"><em><br />
</em></div>
<div style="text-align:justify;"><em>Aku kerja di bidang investasi dan keuangan dan aku dah tahu duluan tentang hal </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em>. Aku dah tahu dan ngerasain krisis </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> dari awal tahun </em><span class="nfakPe"><em>tapi</em></span><em> kan belum ngefek ke real sector, berhubung sekarang udah menjalar dan kalian akan segera merasakannya maka aku tulis </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em>. Krisis </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> bisa lebih buruk dari krisis 98, </em><span class="nfakPe"><em>tapi</em></span><em> kondisi ekonomi kita lebih kuat sekarang.</em></div>
<div style="text-align:justify;"><em><br />
</em></div>
<div style="text-align:justify;"><em>Krisis yang sekarang asalnya dari luar bukan dari dalam negeri. So, aku minta kalian benar2 baca tulisan aku ampe selesai. Terserah kalian akan ikutin atau tidak, yang jelas aku punya license nasional dan pemahaman yang membuat tulisan aku di bawah </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> suatu penjelasan dan saran yang bisa diikuti, bukan nakut2in. Bila ada pertanyaan bisa menghubungi aku di 0811xxxxxxxxxx, free of charge. </em><span class="nfakPe"><em>Ini</em></span><em> juga bukan iklan, gue ngga butuh. Please feel free. </em><span class="nfakPe"><em>Tapi</em></span><em> please jangan marah kalo gue ngga jawab </em><span class="nfakPe"><em>karena</em></span><em> kantor juga kacau abis.</em></div>
<div style="text-align:justify;"><em><br />
</em></div>
<div style="text-align:justify;"><em>Singkatnya gini deh:</em></div>
<div><em><br />
</em></div>
<div><em>Kondisi ekonomi:</em></div>
<div>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Krisis keuangan di AS sangat sangat sangat parah. Tidak ada yang selamat.</em><span class="nfakPe"><em>Ini</em></span><em> sistem yang hancur.</em></li>
<li><em>Krisis itu telah menjalar ke seluruh dunia, sekali lagi tidak ada yang selamat. Kalo ada rumor yang mengatakan bahwa negara </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> bakal kuat, bakal jadi pemimpin, jangan percaya.</em></li>
<li><em>Banyak negara sudah memasuki masa resesi, seperti Inggris dan Singapur.Sebenarnya banyak sekali negara sudah masuk resesi </em><span class="nfakPe"><em>tapi</em></span><em> secara definisi belum </em><span class="nfakPe"><em>karena</em></span><em> dalam definisi ekonomi suatu negara dinyatakan resesi bila pertumbuhan ekonominya negatif 2 kuartal berturut2. Jadi yang tinggal di Singapore, Inggris dan US benar2 harus melakukan perubahan cara hidup Mulai sekarang.</em></li>
<li><em>Krisis ekonomi sudah menjalar ke sektor real artinya akan kita rasakan. Sekarang sebenarnya sudah </em><span class="nfakPe"><em>tapi</em></span><em> tidak banyak orang awam yang benar2 sadar dampaknya. Ekspor kita sudah melambat, harga2 komoditas kita sudah jatuh, eksportir2 kita sudah memecati karyawan, impor ilegal sudah masuk. Pertumbuhan ekonomi kita bisa negatif.</em></li>
<li><em>Sektor2 yang paling dulu terkena imbasnya adalah properti, manufaktur, pertambangan, perkebunan.. ..sebenarnya sekarang udah terasa. Jadi tahun depan jangan harapkan perusahaan kalian kasi bonus besar lagi atau kasi kenaikan gaji tinggi lagi,</em></li>
</ol>
</div>
<div style="text-align:justify;"><em>Artinya : Semua orang, semua negara sedang dalam perang memperebutkan cash. Siapa yang punya cash nantinya punya kemampuan lebih untuk bertahan</em></div>
<div><em><br />
</em></div>
<div><em>Saran dari aku:</em></div>
<div>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Gaji dan semua income jangan dibelikan investasi lagi. PEGANG CASH. Buat kalian yang pas2an sekali, aku saranin, akumulasi cash dalam bentuk hard cash yaitu rekening tabungan (yang bisa ditarik dengan ATM). So, gaji masuk jangan belanja apa2.</em></li>
<li><em>Barang2 tertier terutama yang bakal dibeli pake kredit nanti dulu deh, pegang cash dulu. Barang2 akan mahal, susu anak mahal&#8230;so, pegang cash.</em></li>
<li><em>Bila kalian dengar harga emas naik dan sebagainya, jangan tergiur. Emas memang naik, </em><span class="nfakPe"><em>tapi</em></span><em> sangat volatile. Contoh temanku, beli emas, niatnya mau jualan,&#8230;.eh </em><span class="nfakPe"><em>telat</em></span><em>, sekarang turun lagi. Lagian percaya deh, sulit jualnya</em><span class="nfakPe"><em>karena</em></span><em> semua orang dalam kondisi pengin jualan. Kalian bisa beli kemungkinan besar susah jualnya.</em></li>
<li><em>Investasi tunda dulu deh. Kalo memang ada duit lebih deposito saat </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> yang paling cocok, itu juga near to cash walaupun ada jatuh temponya. </em></li>
</ol>
<p><em>Nah untuk deposito aku saranin:</em></div>
<div>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Masukkan ke bank yang aman, buat kalian aku sarankan kalo bisa bank pemerintah.</em></li>
<li><em>Bunga penjaminan pemerintah hanya 10%. Artinya bila deposito kalian mendapat bunga di atas 10% maka uang kalian tidak akan dijamin oleh pemerintah. Bila, bank itu kolaps, maka uang kalian bisa saja hilang&#8230;.lang lang. Terus nominal yang diganti hanya maksimal 2 M. Mungkin kalian tidak ada yang punya sebanyak itu </em><span class="nfakPe"><em>tapi</em></span><em> informasi</em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> bisa dishare ke bokap atau nyokap.</em></li>
<li><em>Jangan panik lalu ikut2an beli emas atau dollar. Dollar justru tinggi2nya. Udah diatas Rp 10,000 an. Dollar yang tinggi </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> </em><span class="nfakPe"><em>karena</em></span><em> investor asing menarik uangnya dari Indonesia, mereka kan butuh dollar supaya bisa dibawa ke negara mereka. Jadi bukan </em><span class="nfakPe"><em>karena</em></span><em> kondisi ekonomi kita yang jelek.</em></li>
</ol>
</div>
<div><em>Rumor: </em></div>
<div>
<ol style="text-align:justify;">
<li><em>Ekonomi Indonesia kuat, jauh lebih kuat daripada Singapore bahkan Singapore sudah masuk resesi, 2 kuartal berturut2 -6%. Indonesia masih tumbuh 6%. Bila ada rumor yang mengatakan bahwa krisis kali </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> disebabkan oleh pemerintah kita yang payah jangan percaya. Tim ekonomi kita sekarang </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> tangguh. Cara mereka menanggulangi krisis sudah on track. BI mungkin membuat kebijakan yang mengejutkan </em><span class="nfakPe"><em>tapi</em></span><em> Menkeu tidak. I am objective di sini</em><span class="nfakPe"><em>karena</em></span><em> aku pelaku pasar bukan orang politik.</em></li>
<li><em>Jadi, bila ada rumor yang mengajak kalian menggulingkan pemerintah sekarang seperti zaman Soeharto, jangan terpancing.</em></li>
<li><em>Hutang luar negeri kita sangat2 kecil saat </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> dan cadangan devisa kita jauh lebih kuat daripada tahun 97/98. Dulu hutang luar negeri kita 100% dan cadangan devisa kita nol. Saat </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> kita juga tidak ada hubungan lagi dengan IMF. Semua hutang kita itu independent.</em></li>
</ol>
</div>
<div><em>Tindakan:</em></div>
<div>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Selain menyediakan cash untuk keperluan kita dan keluarga, mulai sekarang belilah dan pakailah produk dalam negeri. Aku ngga sok idealis, </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> ada logikanya. Logikanya gini. Sekarang semua negara butuh cash, istilahnya ngga ada yang beli dagangan mereka, semua negara maunya jualan produk mereka supaya dapat cash. Nah, ngapain coba kita ngasih rakyat negara lain pendapatan dengan membeli produk2 mereka? Rugi amat. So, pake semua produk lokal. Kita mulai dari diri kita sendiri. Belanja ke Singapore nya ntar dulu. Travelling ke Phuket nya ntar dulu. Beneran&#8230;.</em></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Produk impor yang menggiurkan sudah masuk menyerbu ke Indonesia. Itu sebenarnya dagangan negara2 lain yang tidak laku di USA </em><span class="nfakPe"><em>karena</em></span><em> USA dan negara2 kaya dan maju sudah bangkrut sehingga ngga minat lagi. Harga barang2 itu murah </em><span class="nfakPe"><em>tapi</em></span><em> sekali lagi, ngapain kasi makan negara lain sementara negara2 itu sudah tidak punya kapasitas lagi kasih makan kita. </em><span class="nfakPe"><em>Ini</em></span><em> bukan kondisi normal lagi ketika perdagangan antar negara terjadi </em><span class="nfakPe"><em>karena </em></span><em>saling membutuhkan, </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> sih negara yang jualan udah ngga bisa timbal balik beli barang kita. Lagian ati2, mereka masuk dengan barang2 palsu kaya telur palsu dari bahan kimia.Yang sudah masuk sih barang2 dari China </em><span class="nfakPe"><em>karena</em></span><em> ekspor mereka tidak terserap oleh US makanya dibuang ke Asia. Dan ingat walaupun ekonomi China masih tumbuh 10% dan cadangan valas merekan terbesar di dunia, duit mereka juga sudah banyak ketanam di AS sehingga mereka juga merasakan dampak krisis </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em>.</em></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Sekarang udah ngga pada kondisinya deh ngributin masalah politik dan ideologi, so jangan terpancing..<br />
</em></li>
</ul>
</div>
<div><em>Investasi;</em></div>
<div>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Bagi kalian yang punya reksadana di saham, kalo nilai investasi kalian sudah di bawah 50%, biarkan saja, jangan dijual </em><span class="nfakPe"><em>karena</em></span><em> kalo kalian jual maka uang kalian benar2 akan tinggal dikit. Biarkan saja nanti balik lagi&#8230;</em><span class="nfakPe"><em>tapi</em></span><em>kali </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> memang lama&#8230;.minimal 2 tahun bahkan lebih. Sekali lagi </em><span class="nfakPe"><em>ini</em></span><em> krisis yang sangat besar, terbesar sepanjang masa ekonomi dunia modern.</em></li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>jangan beli asuransi dengan link lagi. Bila ada asuransi dengan link di dalamnya aku jamin hasil investasi kalian kecil sekali. Kalo belum lama belinya tanya ke agennya bisa tidak diswitch ke murni asuransi.</em></li>
</ul>
</div>
<ul style="text-align:justify;">
<li><em>Kalo memang ada duit lebih, masukkan saja ke deposito. Sekarang yieldnya lagi tinggi </em><span class="nfakPe"><em>tapi</em></span><em> ingat penjelasan ku tentang deposito di atas.</em></li>
</ul>
</blockquote>
<p><em>(bersambung ke part 2)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/707/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/707/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/707/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=707&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/11/24/e-mail-heboh-mengenai-krisis-ekonomi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah Badai Ekonomi Sudah Berlalu?</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/11/14/apakah-badai-ekonomi-sudah-berlalu/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/11/14/apakah-badai-ekonomi-sudah-berlalu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Nov 2008 05:48:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembahasan kondisi Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Perencanaan Keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=686</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan di atas mungkin adalah salah satu pertanyaan yang paling populer ditanyakan akhir-akhir ini. Sebagian orang menjawab pertanyaan tersebut dengan optimisme. Optimisme mereka umumnya didasarkan pada logika bahwa jika melihat situasi saat ini, di mana berita buruk bermunculan di berbagai belahan dunia, sulit rasanya untuk membayangkan bahwa kondisi bisa menjadi lebih jelek lagi. Bagi sebagian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=686&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pertanyaan di atas mungkin adalah salah satu pertanyaan yang paling populer ditanyakan akhir-akhir ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagian orang menjawab pertanyaan tersebut dengan optimisme. Optimisme mereka umumnya didasarkan pada logika bahwa jika melihat situasi saat ini, di mana berita buruk bermunculan di berbagai belahan dunia, sulit rasanya untuk membayangkan bahwa kondisi bisa menjadi lebih jelek lagi. Bagi sebagian orang lainnya, pertanyaan di atas mengundang jawaban pesimis. Mereka belum melihat hal berarti yang bisa menimbulkan perbaikan di kondisi ekonomi dalam jangka waktu dekat ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Kira-kira kubu mana yang lebih &#8216;tepat&#8217;? <span id="more-686"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Artikel ini sendiri saya tulis selepas membaca sebuah artikel dari seseorang yang selalu saya ikuti buah pikirannya, Doktor Nouriel Roubini. Saya pertama kali &#8216;<em>mengenal</em>&#8216; nama Roubini sekitar 2 tahun lalu ketika membaca sebuah artikelnya yang memperingatkan tentang kemungkinan rontoknya sektor properti dan dampaknya ke perekonomian Amerika. Seperti yang kita tahu, analisanya terbukti tepat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam artikelnya yang baru kali ini, Roubini memberikan peringatan bahwa &#8216;badai belum berlalu&#8217;. Beberapa hal yang dikemukakan oleh Roubini antara lain:</p>
<p style="text-align:justify;">
<ul>
<li>Amerika akan memasuki resesi paling parah sejak pasca Perang Dunia II, lebih parah daripada resesi di tahun 74-75 dan juga tahun 80-82. Konsumen di Amerika kini sudah &#8216;habis&#8217;, tidak mempunyai tabungan dan terjerat hutang. Konsumsi mereka akan menurun, yang pada akhirnya akan membuat berbagai perusahaan mengurangi pekerjanya untuk mengantisipasi hal ini. Akibatnya Roubini memperkirakan bahwa angka pengangguran akan mencapai 9%.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Resesi kali ini akan berbentuk huruf U, dimana ekonomi akan turun, lalu bertahan di bawah untuk beberapa lama (1,5 thn -2 thn), sebelum naik kembali. Kemungkinan timbul resesi berbentuk huruf L (ekonomi turun dan bertahan di bawah utk jangka panjang, seperti yang terjadi di Jepang dahulu) semakin meningkat walaupun kemungkinannya masih kecil.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Dengan kondisi suku bunga saat ini, ada resiko terjadi Liquidity Trap. Liquidity Trap bisa terjadi ketika suku bunga bank Sentral sudah mendekati 0 (ataupun mencapai 0). Dalam keadaan ini, bank sentral tidak bisa lagi menurunkan suku bunga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Defisit fiskal pemerintah Amerika akan bisa mencapai rekor 1 Triliun Dollar pada tahun 2009 dan 2010. Defisit ini akan &#8216;mengikat&#8217; tangan pemerintah Amerika sehingga tidak bebas untuk menstimulasi ekonomi dengan menggunakan kebijakan fiskal.</li>
</ul>
<ul>
<li>Resesi akan terjadi di berbagai negara maju selain Amerika. Negara berkembang akan mengalami pelambatan ekonomi.</li>
</ul>
<p>Apakah Doktor Roubini benar?</p>
<p style="text-align:justify;">Ada baiknya pertama-tama kita harus sadar bahwa tentunya dalam hal ini tidak ada yang namanya kepastian 100%. Meskipun dahulu Doktor Roubini tepat dalam memperkirakan krisis ekonomi ini, bukanlah berarti kali ini dia akan tepat juga. Meskipun demikian, dengan melihat logika dibelakang analisanya, saya pribadi melihat bahwa &#8216;Skenario&#8217; yang dikemukan oleh Doktor Roubini sendiri tampaknya cukup masuk akal dan bukan mustahil terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaannya kini adalah, seandainya ramalan Doktor Roubini itu benar, bagaimana dengan &#8216;nasib&#8217; Indonesia?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Perlambatan ekonomi yang terjadi di luar negeri saat ini telah menimbulkan dampak yang tidak sedikit. Permintaan akan barang ekspor dari Indonesia mengalami penurunan. Teman-teman yang gemar mengikuti ekonomi mungkin telah memperhatikan bahwa akhir-akhir ini makin kerap terdengar berita demo akibat PHK. Ini merupakan salah satu konsekuensi dari ketergantungan negara kita terhadap ekspor. Ketika ekspor menurun, tentunya banyak perusahaan yang &#8216;<em>mengecilkan</em>&#8216; usahanya atau bahkan terpaksa tutup.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah kondisi ini hanya akan mempengaruhi perusahaan yang melakukan ekspor? Tentunya tidak. Ekspor memungkinkan berbagai perusahaan untuk mempekerjakan dan membayar upah karyawan dan buruh. Karyawan dan buruh lalu membelanjakan uangnya untuk berbagai barang dan jasa. Belanja para karyawan dan buruh ini merupakan sumber pemasukan bagi berbagai perusahaan lainnya yang tidak melakukan ekspor. Dengan berkurangnya pendapatan mereka, tentunya belanja konsumsi juga akan berkurang yang pada akhirnya akan dirasakan oleh usaha yang hanya bergerak di &#8216;lokal&#8217;.</p>
<p>Salah satu manfaat yang saya rasakan dari membuat blog JanganSerakah.com ini adalah semakin luasnya jaringan orang-orang yang saya kenal. Dari jaringan tersebut, saya mendapatkan banyak cerita real tentang kondisi usaha mereka ataupun perusahaan tempat mereka bekerja. Dari berbagai cerita yang saya terima, tampaknya kondisi di atas makin meluas akhir-akhir ini.</p>
<p>Seandainya &#8216;ramalan&#8217; Doktor Roubini benar, kemungkinan kondisi di atas akan semakin memburuk.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<div>Di akhir artikel ini, saya ingin memberikan suatu masukan kepada teman-teman kepada investor aktif dan juga investor pasif.</div>
<div>Bagi teman-teman investor aktif yang melakukan pembelian saham, perlu lebih cermat dalam melakukan valuasi, terutama jika valuasinya mengandalkan perkiraan pendapatan di masa depan. Telitilah kapan estimasi pendapatan itu dibuat dan apakah perkiraan tersebut masih feasible serta tidak terlalu optimistik. Di kondisi harga saham yang sedang anjlok seperti ini, akan kerap ditemui kasus dimana seakan-akan suatu saham menawarkan P/E yang sangatmenarik hanya karena unsur E (Earnings)-nya merupakan estimasi pendapatan yang terlalu optimistis</div>
<div>Bagaimana dengan teman-teman investor pasif?</div>
<div>Jawabannya sederhana saja: Tetap disiplin dalam menjalankan investasi rutin dengan metode DCA. Seorang Investor pasif tidak perlu merisaukan apakah akan resesi atau boom. Kunci dari kesuksesan seorang investor pasif justru adalah kemampuannya untuk tetap disiplin menjalankan investasinya di masa seperti ini.</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/686/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/686/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/686/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=686&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/11/14/apakah-badai-ekonomi-sudah-berlalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hati-Hati Mister Bernanke!</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/10/09/hati-hati-mister-bernanke/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/10/09/hati-hati-mister-bernanke/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 17:01:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembahasan kondisi Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=580</guid>
		<description><![CDATA[WHAT THEY SAID&#8230; May you live in interesting times Anonim &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; &#8216;Semoga kau hidup di masa yang menarik&#8216;. Begitu kira-kira arti dari kutipan di atas. Kutipan di atas seringkali saya baca, tetapi entah di mana. Entah siapa juga yang pertama kali mengucapkan kalimat tersebut. Ketika saya periksa di Wikipedia, ada teori yang mengatakan bahwa sebenarnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=580&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>WHAT THEY SAID&#8230;</strong></p></blockquote>
<blockquote><p><em>May you live in interesting times</em><strong></strong></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Anonim</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8216;<em>Semoga kau hidup di masa yang menarik</em>&#8216;.</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu kira-kira arti dari kutipan di atas. Kutipan di atas seringkali saya baca, tetapi entah di mana. Entah siapa juga yang pertama kali mengucapkan kalimat tersebut. Ketika saya periksa di Wikipedia, ada teori yang mengatakan bahwa sebenarnya kalimat di atas merupakan suatu kutukan Cina kuno. Entah benar atau tidak, tetapi jika benar itu merupakan kutukan, maka berarti sejak dahulu saya telah berharap &#8216;<em>kutukan</em>&#8216; tersebut menimpa saya. Saya selalu merasa bahwa &#8216;<em>hidup di masa yang menarik</em>&#8216; itu lebih tepat dikatakan sebagai &#8216;<em>berkah</em>&#8216; daripada &#8216;<em>kutukan</em>&#8216;.</p>
<p style="text-align:justify;">Tampaknya hari ini harapan saya terkabul.<span id="more-580"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Hari ini Ben Bernanke, gubernur Bank Sentral Amerika dalam suatu &#8216;langkah darurat&#8217; menurunkan suku bunga Fed Rate dari 2% menjadi 1,5% (bagi yg belum memahami apa itu Fed Rate bisa membaca <a title="Suku Bunga" href="http://janganserakah.com/2008/08/05/suku-bunga/" target="_blank">artikel ini</a>). Langkah penurunan suku bunga ini selain disebabkan karena krisis kredit, tampaknya juga didorong oleh memburuknya kondisi di berbagai bursa saham US dan juga global</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam hal ini, tindakan penurunan suku bunga bukan hanya dilakukan oleh Bank Sentral Amerika, tetapi juga oleh Bank Sentral Kanada, Inggris, ECB (Uni Eropa), Swedia, dan Swiss. Langkah penurunan suku bunga ini juga telah dilakukan oleh Bank Sentral Australia dan Hong Kong. Meskipun demikian, penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika adalah satu-satunya yang membuat saya tertegun. Mengapa demikian?</p>
<p style="text-align:justify;">Suku bunga, bagi sebuah bank Sentral merupakan salah satu alat utama utk &#8216;mengontrol&#8217; aktivitas ekonomi. Jika ekonomi suatu negara diibaratkan sebagai mobil, maka suku bunga bisa diibaratkan sebagai pedal Gas. Jika pertumbuhan perekonomian negara itu dirasakan terlalu &#8216;pelan&#8217;, maka pedal gas tersebut diinjak alias suku bunga diturunkan. Sebaliknya jika pertumbuhan perekonomin dirasakan terlalu &#8216;cepat&#8217; (ini akan bisa menimbulkan inflasi tinggi), maka pedal gas tersebut dilepas, alias suku bunga dinaikkan. (<em>Untuk ilustrasi lebih detail efek kenaikan dan penurunan suku bunga, bisa dibaca di <a href="http://janganserakah.com/2008/07/01/cerita-di-warung-soto-subprime-subprim-supri-dan-supir-1/" target="_blank">artikel ini</a></em>).</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan diturunkannya suku bunga Fed Rate dari 2% menjadi1,5%, maka bisa diibaratkan bahwa &#8216;pedal gas&#8217; perekonomian Amerika telah diinjak sampai hampir Full (<em>atau spt kata supir mikrolet &#8216;Tancap POL&#8217;</em>). Selama ini tingkat suku bunga Fed Rate terendah sepanjang masa adalah 1% (yang ironisnya lalu mengakibatkan krisis Subprime saat ini).</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum penurunan suku bunga hari ini, perlu kita ingat bahwa sejak krisis subprime ini dimulai pemerintah USA telah menurunkan suku bunga secara drastis dari 5,25% menjadi 2%. Seperti kita lihat, penurunan suku bunga itu tidak memberikan hasil yang berarti. Saya meragukan bahwa dengan penurunan 0,5%  kali ini akan memberikan hasil yang signifikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya merasa bahwa penurunan suku bunga kali ini terkesan sekedar memberikan &#8216;angin segar&#8217; utk mencoba menenangkan bursa saham. Ini pun sepertinya tidak terlalu efektif karena per saat artikel ini saya tulis, index Dow Jones misalnya, saat bursa dibuka langsung minus 200-an, lalu sempat rebound hingga plus 100-an, tetapi kini kembali turun lagi minus 150.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang menjadi kekhawatiran saya adalah dengan diturunkannya suku bunga Fed Rate ini, maka &#8216;peluru&#8217; yang tersisa oleh bank Sentral Amerika tersebut semakin sedikit. Tentunya kita tahu bahwa penurunan suku bunga tidak bisa dilakukan terus menerus. Tentunya kalau sudah mencapai 0%, suku bunga tidak bisa diturunkan lagi. Sepanjang yang saya ketahui, cuma Jepang yang suku bunganya diturunkan hingga mencapai 0%. Setelah itu, Bank Sentral Jepang bagaikan kehabisan peluru sehingga perekonomian Jepang terpuruk ke resesi yang berkepanjangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mengingat program Bailout yang begitu drastis baru saja dijalankan, saya pikir mungkin tindakan yang lebih bijak adalah membiarkan program Bailout itu berjalan dahulu beberapa saat dan melihat bagaimana hasil dari program tersebut. Penurunan suku bunga lebih baik disimpan sebagai &#8216;peluru&#8217; di kemudian hari,  sehingga tidak kehabisan &#8216;peluru&#8217; ketika benar-benar dibutuhkan. Tentunya tidak ada seorangpun yang ingin Amerika masuk ke dalam resesi berkepanjangan seperti yang telah dialami Jepang.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Kembali lagi kepada kutipan &#8216;May you live in interesting times&#8217; yang ada di awal artikel ini. Adakah teman-teman yang berpikiran sama seperti saya bahwa kita beruntung hidup di saat ini? Begitu banyak hal yang terjadi saat ini, begitu banyak hal yang bisa terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah Amerika akan bernasib sama seperti Jepang? Bagaimana wajah baru dunia finansial setelah krisis ini? Bubble apalagi yang timbul berikutnya? Bagaimana kondisi perekonomian kita setelah krisis saat ini berlalu?</p>
<p style="text-align:justify;">Begitu banyak cerita yang menarik untuk diikuti perkembangannya. Saya hanya bisa berharap semoga blog ini bisa terus berjalan untuk berbagi cerita-cerita tersebut dan teman-teman tidak bosan mendengarkan cerita saya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/580/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/580/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/580/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/580/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/580/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/580/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/580/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/580/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/580/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/580/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=580&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/10/09/hati-hati-mister-bernanke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Fundamental Ekonomi Masih Baik???</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/07/28/fundamental-ekonomi-masih-baik/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/07/28/fundamental-ekonomi-masih-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 06:46:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembahasan kondisi Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[BI Rate]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Inflasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Tadi pagi saya membaca satu artikel yang menarik di Harian Kompas. Artikel tersebut berjudul &#8216;Fundamental Ekonomi Masih Baik&#8216; (tanpa ??? seperti judul post saya ini) dan ditulis oleh Purbaya Yudhi Sadewa, Chief Economist Danareksa Research Institute. Dalam post ini saya akan coba mengulas artikel tersebut karena di Harian JanganSerakah ini saya juga merangkap sebagai Chief [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=172&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Tadi pagi saya membaca satu artikel yang menarik di Harian <strong>Kompas</strong>. Artikel tersebut berjudul &#8216;<a title="Baca artikel ini online" href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/07/28/01292420/fundamental.ekonomi.masih.baik" target="_blank"><strong>Fundamental Ekonomi Masih Baik</strong></a>&#8216; (tanpa ??? seperti judul post saya ini) dan ditulis oleh Purbaya Yudhi Sadewa, Chief Economist Danareksa Research Institute. Dalam post ini saya akan coba mengulas artikel tersebut karena di Harian <strong>JanganSerakah</strong> ini saya juga merangkap sebagai Chief Economist (jabatan saya yang lain di harian ini antara lain: Editor, Personalia, IT Manajer, satpam, operator telepon, office boy/tukang sapu spam, dll)</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam artikel di harian Kompas tersebut, ada beberapa hal yang menarik. Tetapi bagi saya, mungkin hal yang paling menarik adalah kesimpulan di paragraf terakhirnya, yaitu :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Memang, dalam jangka pendek masih ada sentimen negatif, yang ditimbulkan oleh kenaikan inflasi, suku bunga, harga minyak yang tinggi, dan dampak sentimen negatif di bursa saham dunia, yang akan membuat IHSG sulit naik secara berkesinambungan. Namun, ini tidak akan berlangsung lama. <span style="color:#0000ff;">Dengan fundamental ekonomi yang cukup baik, IHSG lambat laun akan naik secara signifikan. Pada akhir tahun IHSG diperkirakan akan jauh lebih baik dibandingkan saat ini..</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-172"></span>Pak Purbaya membuat perkiraan di atas dengan berdasarkan kepada pengamatannya kepada faktor fundamental dalam ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, dalam membahas &#8216;prediksi&#8217; pak Purbaya tersebut, saya akan mencoba menganalisa pengamatan pak Purbaya terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Salah satu faktor yang membuat pak Purbaya optimis terhadap IHSG di akhir tahun adalah perkiraan inflasinya untuk tahun ini. Dalam kaitannya dengan inflasi tahun ini, Chief Economist DRI tersebut menulis bahwa :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Inflasi untuk tahun ini diperkirakan masih dua digit. <span style="text-decoration:underline;"><span style="color:#0000ff;">Angka inflasi tahunan pada akhir 2008 diperkirakan pada kisaran 10,97 persen</span></span>. Inflasi tahunan akan cenderung menurun pada tahun 2009, dan pada Mei 2009 inflasi akan turun tajam ke bawah level 9 persen. Pada akhir 2009 inflasi tahunan diperkirakan akan turun ke sekitar 7,59 persen.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Bagi para pembaca blog yang tidak terlalu akrab dengan dunia ekonomi, kalimat yang saya garis-bawahi di atas mempunyai arti bahwa pak Purbaya memperkirakan kenaikan harga antara <strong>Januari-Desember 2008</strong> adalah sebesar 10,97%.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang mari kita bedah angka 10,97% ini. Dalam pandangan saya, angka ini sendiri boleh dikatakan sangat optimistis, karena perkiraan inflasi pemerintah saja (yang biasanya cenderung optimistis) adalah sebesar 11,5%-12,5%.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari data BPS, angka inflasi tahunan (year on year) pada bulan Juni 2008 adalah 11,03%. Angka ini mencakup kenaikan harga selama periode <strong>July 2007-Juni 2008</strong>. Berdasarkan kedua angka tersebut (11,03% dan 10,97%), maka berarti agar target 10,97% versi pak Purbaya tersebut bisa dicapai, inflasi dalam 6 bulan ke depan (<strong>July 2008-December 2008</strong>) harus lebih kecil daripada inflasi pada periode  yg sama tahun lalu (<strong>July 2007-December 2007</strong>). Sebagai catatan, inflasi pada periode July 2007-December 2007 adalah sebesar 4,4%. Agar prediksi pak Purbaya bahwa inflasi tahun ini sebesar 10,97% bisa menjadi kenyataan, dalam 6 bulan ke depan tingkat inflasi tidak boleh lebih dari angka 4,4% ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Saya pribadi berpendapat bahwa kondisi di atas sulit tercapai, mengingat berbagai kondisi yang pernah saya tuliskan di post lama saya (artikel seri &#8220;<a title="Perkiraan saya tentang inflasi tahun ini" href="http://janganserakah.com/2008/06/18/mimpi-dan-realita-part-1/" target="_blank">Mimpi&amp;Realita</a>&#8220;).</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Faktor Fundamental lainnya yang dibahas dalam artikel di harian Kompas tersebut adalah mengenai BI Rate. Pak Purbaya dalam artikel tersebut menulis bahwa :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Angka inflasi tahunan yang masih dua digit tentu akan mendorong BI untuk menaikkan suku bunga. Namun, melihat prospek inflasi di atas, rasanya suku bunga tidak harus dinaikkan terlalu tinggi. <span style="color:#0000ff;">BI Rate mungkin akan dinaikkan ke level 9 persen pada awal Agustus dan dipertahankan pada level tersebut sepanjang 2008</span>.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Perlu diketahui bahwa dalam sistem &#8220;Inflation Targeting&#8221; yang dianut oleh Indonesia, instrumen yang dipakai oleh pemerintah untuk mengendalikan inflasi adalah dengan menggunakan suku bunga, dalam hal ini adalah BI Rate. Jika tingkat inflasi terlalu tinggi, maka pemerintah akan menginjak &#8216;rem&#8217; perekonomian dengan menaikkan suku bunga. Dengan naiknya suku bunga, maka jumlah uang yang berputar di dalam ekonomi akan berkurang sehingga bisa menekan tingkat inflasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kasus artikel pak Purbaya ini, saya pribadi merasakan adanya suatu kejanggalan. Di satu sisi, pak Purbaya merasa pemerintah tidak perlu menginjak &#8216;rem&#8217; terlalu dalam dan BI Rate cukup dinaikkan hingga ke level 9% dan tidak perlu dinaikkan lagi hingga akhir tahun ini. Tetapi di lain sisi, pak Purbaya mengharapkan inflasi turun drastis hingga di bawah 9% pada bulan Mei 2009 bahkan sampai ke tingkat 7,59% di akhir tahun 2009. Pertanyaan yang mungkin perlu dipikirkan dalam hal ini adalah, &#8216;Tanpa kenaikan suku bunga yang drastis, bagaimana  caranya tingkat inflasi bisa turun drastis?&#8217;</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai perbandingan, mari kita lihat apa yang dilakukan oleh oleh pemerintah agar bisa meredam inflasi di tahun 2005 yang mencapai 17,11%. Pada saat itu, dalam periode 6 bulan, BI menaikkan tingkat suku bunga hingga sebesar 450 basis point (dari 8,25% hingga 12,75%).</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan pengamatan pribadi saya, sejujurnya saya meragukan bahwa BI Rate sebesar 9% akan cukup untuk mengerem inflasi, apalagi agar bisa turun hingga ke tingkat 7,59% seperti harapan pak Purbaya tersebut.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan analisa di atas (terhadap inflasi dan tingkat suku bunga), saya merasa bahwa artikel tulisan pak Purbaya tersebut agak terlalu optimistis terhadap IHSG di akhir tahun ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang ingin saya tekankan, dalam post ini yang ingin saya sampaikan bukanlah bahwa &#8216;IHSG tidak mungkin naik di akhir tahun ini&#8217; (meskipun saya memang ragu bahwa<span style="color:#0000ff;"> &#8216;<em><span style="color:#000000;">Pada akhir tahun IHSG akan jauh lebih baik</span></em>&#8216;</span><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#000000;"> seperti yg diperkirakan oleh pak Purbaya). Bukan tidak mungkin di akhir tahun IHSG naik misalnya karena :</span></span></p>
<ul>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#000000;">kembali semaraknya aktivitas spekulasi di bursa saham<br />
</span></span></li>
<li><span style="color:#0000ff;"><span style="color:#000000;">harga komoditas kembali naik drastis seperti tahun-tahun kemarin (karena IHSG sarat dengan saham komoditas)</span></span></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Meskipun demikian, jikalau di akhir tahun IHSG benar naik, saya meragukan bahwa kenaikan itu disebabkan oleh &#8216;Fundamental Ekonomi Masih Baik&#8217;.</p>
<p style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/172/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/172/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=172&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/07/28/fundamental-ekonomi-masih-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mimpi dan Realita (part 3)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/06/21/mimpi-dan-realita-part-3/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/06/21/mimpi-dan-realita-part-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jun 2008 00:24:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembahasan kondisi Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Inflasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=51</guid>
		<description><![CDATA[(sambungan dari part 2) Melanjutkan pembahasan di part satu dan dua, dalam post ini saya akan kembali berbicara seputar keterangan pers Gubernur BI Boediono pada keterangan persnya 5 Juni lalu. Seperti yang telah kita tahu, dalam keterangan pers tersebut, pemerintah menetapkan target inflasi untuk tahun 2009 di tingkat 6,5%±1%. Angka yang dikeluarkan pemerintah ini menurut [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=51&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a title="baca part 2" href="http://janganserakah.com/2008/06/19/mimpi-dan-realita-part-2/" target="_self">(sambungan dari part 2)</a></p>
<p style="text-align:justify;">Melanjutkan pembahasan di part satu dan dua, dalam post ini saya akan kembali berbicara seputar keterangan pers Gubernur BI Boediono pada keterangan persnya 5 Juni lalu. Seperti yang telah kita tahu, dalam keterangan pers tersebut, pemerintah menetapkan target inflasi untuk tahun 2009 di tingkat 6,5%±1%. Angka yang dikeluarkan pemerintah ini menurut saya merupakan sebuah angka yang menarik untuk diamati.</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama-tama mari kita pertimbangkan angka inflasi untuk tahun 2008 ini, yaitu menurut pemerintah akan sebesar 11,5%-12,5% (yang saya rasa terlalu rendah, dan  kemungkinan besar di atas 15%). Terlepas dari perkiraan mana yang lebih tepat, dari angka-angka inilah kita sebenarnya bisa mendapat suatu &#8220;pesan&#8221; tersembunyi dari pemerintah.<span id="more-51"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menekan tingkat inflasi dari 12,5% hingga ke 6,5%, pemerintah tentunya tidak bisa sekedar &#8220;berpangku tangan&#8221; (apalagi kalau inflasinya 15%). Untuk mencapai penurunan yang begitu drastis dalam 1 tahun seperti yang &#8220;direncanakan&#8221; oleh pemerintah, tentunya perlu tindakan yang &#8220;drastis&#8221; juga.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk menekan inflasi, secara umum ada dua instrumen yang bisa dipakai pemerintah, yaitu kebijakan fiskal dan kebijakan moneter (ataupun kombinasi dari kedua kebijakan ini). Mengamati kondisi saat ini, sepertinya kecil kemungkinan untuk menggunakan kebijakan fiskal yang drastis (seperti menaikkan pajak besar besaran), karena kemungkinan besar akan menimbulkan reaksi yang keras dari masyarakat, terlebih mengingat kenaikan BBM kemarin dan akan diadakannya pemilu tahun depan. Oleh karena itu, pemerintah akan lebih memilih untuk menggunakan instrumen moneter untuk menekan tingkat inflasi. Mengingat pemerintah menganut kebijakan &#8220;Inflation Targeting&#8221;, maka instrumen moneter yang dipakai terutama adalah suku bunga antar bank, atau yang kita kenal sebagai BI Rate.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti kita tahu, dalam 2 bulan terakhir, pemerintah mulai menaikkan BI Rate, yaitu sebesar 0,25% pada bulan Mei dan 0,25% pada bulan Juni. Perlu diingat bahwa dampak dari kenaikan suku bunga tidaklah instant. Para ahli ekonomi umumnya berpendapat bahwa efek dari perubahan suku bunga baru akan dirasakan 6 bulan setelah perubahan suku bunga itu dilakukan. Hal ini membuat Bank Sentral itu biasanya menghindari merubah suku bunga secara drastis, karena mereka ingin melihat dulu efek dari perubahan suku bunga yang telah dilakukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun demikian, jika berpatokan kepada perkiraan inflasi versi saya (yang 15%), saya merasa bahwa kenaikan BI rate yang dilakukan ini agak terlalu &#8220;pelan&#8221;. Sebagai perbandingan, pada tahun 2005, Indonesia juga mengalami tingkat inflasi yang tinggi, yaitu 17,11%. Dalam tahun itu, pemerintah menginjak &#8220;rem&#8221; perekonomian keras-keras, yaitu dengan menaikkan bunga sebesar 450 basis  poin (dari 8,25%-12,75%) <span style="text-decoration:underline;">hanya dalam tempo 6 bulan</span>. Dengan &#8220;injak rem mendadak&#8221; seperti itu, barulah inflasi 2006 bisa ditekan agak drastis hingga 6,6%.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti saya tulis dalam part 1 artikel ini, estimasi pemerintah untuk inflasi bulan Juni 2008 adalah 2%. Jika kita bandingkan dengan efek dari kenaikan BBM 2005 (yang menaikkan tingkat inflasi hingga 8,7% dalam 1 bulan), maka angka 2% ini sepertinya agak kecil. Berdasarkan pemikiran ini, saya pikir bukan mustahil bahwa pemerintah akan &#8220;terpaksa&#8221; lebih drastis dalam menaikkan suku bunganya karena inflasi dalam 2-3 bulan ke depan kemungkinan akan meleset dari estimasi mereka.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Satu hal yang juga menjadi pikiran saya juga adalah bahwa kondisi saat ini agak berbeda dengan kondisi tahun 2005. Pada tahun 2005, kita tidak menghadapi permasalahan harga komoditas pangan, karena lonjakan harga komoditas pangan belum terlalu terlihat. Pada saat ini sendiri, harga komoditas pangan mengalami lonjakan yang cukup tinggi sehingga menimbulkan tekanan inflasi tambahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Faktor lainnya yang agak membedakan situasi saat ini dengan tahun 2005 adalah faktor Imported Inflation yang sudah beberapa kali saya bicarakan dalam blog ini. Bagi yang gemar membaca berita ekonomi, mungkin tahu bahwa saat ini boleh dikatakan semua negara di dunia mengalami tingkat inflasi yang tinggi. Inflasi yang tinggi di negara-negara mitra dagang utama kita seperti Cina, akan dirasakan juga oleh kita ketika kita mengimpor barang dari negara itu. Kondisi ini tidak terlalu kita rasakan di tahun 2005. Ada satu hal relevan yang ingin saya tambahkan di sini adalah bahwa beberapa ekonom berpendapat kebijakan moneter tidak terlalu efektif untuk menekan efek dari imported inflation.</p>
<p style="text-align:justify;">Di lain sisi, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan akan melambat. Hal ini mungkin akan membantu menekan tingkat inflasi di kemudian hari. Meskipun demikian, perlu saya ingatkan juga bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi di USA telah melambat dalam 1 tahun terakhir, inflasi tetap melonjak. Kondisi &#8220;membandelnya&#8221; inflasi di saat ekonomi telah melambat, membuat kata &#8220;horor&#8221; <strong>Stagflasi</strong> mulai keluar dari mulut beberapa orang. <strong>Stagflasi</strong> adalah keadaan dimana pertumbuhan ekonomi melambat/stagnan, tetapi tingkat inflasi tetapi tinggi. Kondisi ini terakhir kali terjadi pada dekade 70-an.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbagai hal yang saya sebutkan di atas membuat tantangan yang dihadapi pemerintah dalam memerangi inflasi di saat ini akan berbeda dengan yang mereka hadapi di tahun 2005.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai catatan akhir, saya ingin menambahkan sesuatu untuk melengkapi part 2 artikel ini. Dalam part 2, saya ada menulis bahwa salah satu hal yang bisa mencegah Wage-Price Spiral adalah tingkat pengangguran yang tinggi. Hal ini karena jika tingkat pengangguran tinggi, pekerja sulit untuk meminta kenaikan upah. Hal yang ingin saya tambahkan di sini adalah bahwa ada satu hal lainnya yang bisa mencegah timbulnya Wage-Price Spiral. Hal ini adalah kondisi market/pasar yang kompetitif. Jika kondisi market/pasar sangat kompetitif, pengusaha akan berpikir 2-3 kali sebelum menaikkan harga, karena persaingan sangat ketat. Dengan demikian, spiral upah-harga pun akan terhenti.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/51/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/51/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/51/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/51/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/51/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=51&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/06/21/mimpi-dan-realita-part-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mimpi dan Realita (part 2)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/06/19/mimpi-dan-realita-part-2/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/06/19/mimpi-dan-realita-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 07:46:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembahasan kondisi Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Inflasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[(sambungan dari part 1) Beberapa hari lalu, saya telah menulis bagian pertama artikel ini yang membahas mengenai keterangan pers Gubernur BI tentang target inflasi utk tahun ini dan tahun depan. Reaksi dari teman-teman yang membaca post itu cukup beragam. Ada yang jadi takut, ada yang pasrah, ada yang mengeluh, dan ada juga yang &#8220;penasaran&#8221;. Dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=49&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a title="baca part 1" href="http://janganserakah.com/2008/06/18/mimpi-dan-realita-part-1/" target="_self">(sambungan dari part 1)</a></p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa hari lalu, saya telah menulis bagian pertama artikel ini yang membahas mengenai keterangan pers Gubernur BI tentang target inflasi utk tahun ini dan tahun depan. Reaksi dari teman-teman yang membaca post itu cukup beragam. Ada yang jadi takut, ada yang pasrah, ada yang mengeluh, dan ada juga yang &#8220;penasaran&#8221;. Dalam hal ini, yang membuat mereka &#8220;penasaran&#8221; adalah jika saya berpendapat bahwa target inflasi tahun ini yang 11,5-12,5% kurang realistis, berapa angka inflasi yang akan terjadi menurut saya?</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam post ini sebenarnya saya ingin berbicara mengenai target inflasi pemerintah untuk tahun 2009 yang dikatakan akan berada pada tingkat 1 digit, tepatnya pada tingkat 6,5%±1%. Tetapi mungkin ada baiknya saya awali dulu post ini dengan membahas &#8220;estimasi kasar&#8221; angka inflasi untuk tahun 2008 ini sebelum melihat ke tingkat inflasi 2009.<span id="more-49"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Jika kita berbicara mengenai perkiraan tingkat inflasi untuk tahun ini, mungkin angka pertama yang akan  terlintas di kepala saya adalah 15%. Angka ini sendiri bukanlah berdasarkan model matematika rumit, melainkan hanya berdasarkan logika dan pengamatan saya atas kondisi ekonomi saat ini.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Satu titik tolak yang membuat saya terpikir angka 15% adalah wawancara dengan ibu Marie Pangestu di TV Bloomberg. Dalam wawancara itu, dikatakan bahwa perkiraan inflasi pemerintah untuk bulan Juni ini adalah 2%. Saya sendiri berpendapat bahwa angka 2% sepertinya agak terlalu kecil mengingat bulan Juni ini akan sangat dipengaruhi oleh kenaikan BBM Mei kemarin. Tetapi dalam kasus ini, anggap saja bahwa estimasi ibu Marie Pangestu yang 2% itu benar. Maka berarti inflasi 6 bulan pertama tahun ini sudah mencapai 7,47%.</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti kita tahu, Hari Raya Lebaran memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap tingkat inflasi di Indonesia. Ditambah lagi dengan perayaan Natal dan Tahun Baru, maka seharusnya inflasi July-Desember akan lebih tinggi daripada Januari-Juni. Jika kita lihat data inflasi thn 2005-2007 misalnya,  pengaruh  kedua hari raya ini cukup terasa. Selama 3 tahun itu inflasi July-Desember selalu lebih tinggi daripada Januari-Juni. Tetapi dalam hal ini,&#8221;untuk amannya&#8221; anggaplah saja bahwa inflasi July-Desember 2008 akan sama dengan Januari-Juni. Dengan kondisi seperti ini saja, maka nflasi tahun 2008 ini sudah akan berada pada tingkat 14,94% alias kurang lebih 15%.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau kita pertimbangkan juga faktor-faktor lain yang saya tulis di bagian pertama artikel ini, maka angka inflasi 15% itu sepertinya lebih realistis daripada 111,5-12,5%,. Itupun sudah berdasarkan asumsi yang cukup konservatif.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah kita melihat perkiraan kasar inflasi 2008, maka selanjutnya saya ingin mengajak teman-teman untuk melirik inflasi tahun 2009 yang diperkirakan pemerintah akan berada di tingkat 6,5%±1%.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika perkiraan inflasi tahun 2008 yang dikeluarkan pemerintah menyerupai &#8220;mimpi (indah)&#8221;, maka kalau berbicara tentang inflasi tahun 2009, saya justru mengalami beberapa &#8220;mimpi (buruk)&#8221;. Salah satu &#8220;mimpi buruk&#8221; ini adalah kekhawatiran saya akan terjadinya &#8220;Wage-Price Spiral&#8221; (Spiral Upah-Harga).</p>
<p style="text-align:justify;">Apa itu &#8220;Wage-Price Spiral&#8221;? &#8220;Wage-Price Spiral&#8221; adalah suatu kondisi dimana inflasi terus menerus naik yang diakibatkan oleh Upah dan Harga barang saling &#8220;berkejar-kejaran&#8221;. Kondisi ini terdiri dari 2 tahap, yang jika disederhanakan adalah :</p>
<ol>
<li>Akibat tingkat inflasi tinggi (harga-harga kebutuhan hidup naik), para pekerja menuntut kenaikan upah karena upahnya dirasakan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup</li>
<li>Akibat kenaikan upah, para pengusaha dan produsen barang mengalami kenaikan biaya dalam usahanya. Kenaikan biaya ini memaksa pengusaha dan produsen barang menaikkan harga barang-barang, dan semakin mendorong inflasi. Kita pun kembali &#8220;terlempar&#8221; pada tahap 1 di atas.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Bisakan teman-teman bayangkan betapa berbahayanya jika siklus di atas terus terjadi berulang-ulang? Sebuah &#8220;Wage-Price Spiral&#8221; yang parah sangat sulit untuk diatasi, dan terkadang hanya resesi yang bisa menghentikan kondisi ini.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Apakah &#8220;Wage-Price Spiral&#8221; akan terjadi di Indonesia? Terlepas dari apakah inflasi 15% yang saya katakan di atas akan terjadi atau tidak, kita bisa memastikan bahwa inflasi tahun ini akan tinggi. Oleh sebab itu, menurut perkiraan saya, di akhir tahun ini pemerintah akan menaikkan UMR dalam jumlah yang relatif besar akibat tekanan dari masyarakat. Kenaikan UMR ini boleh dipastikan akan menimbulkan &#8220;gelombang&#8221; kenaikan harga susulan. Jika kenaikan harga ini lalu disusul lagi dengan permintaan kenaikan upah, maka kekhawatiran saya pun menjadi kenyataan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebenarnya, suatu negara yang tingkat penganggurannya tinggi seperti Indonesia seharusnya tidak akan mengalami Wage-Price Spiral. Ini karena jika pekerja menuntut gaji yang lebih tinggi, pengusaha bisa dengan mudah memperkerjakan orang lain (karena banyaknya pengangguran) sehingga siklus Wage-Price Spiral langsung terhenti di situ (Buat teman-teman yang termasuk &#8220;pekerja&#8221;, maaf kalau cerita ini terasa &#8220;kejam&#8221;, tetapi memang beginilah teori ekonominya).</p>
<p style="text-align:justify;">Pada kenyataannya, seperti yang kita tahu, di Indonesia kita mengenal adanya kebijakan UMR. Kebijakan UMR sendiri sebenarnya tidak terlalu bermasalah, karena ada juga negara yang memakai UMR dan tidak terperangkap dalam Wage-Price Spiral. Yang menjadi permasalahan adalah bahwa di Indonesia, UMR setiap tahun diperbaharui dan dalam penghitungan tingkat kenaikannya juga berpatokan kepada tingkat inflasi.</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="baca part 3" href="http://janganserakah.com/2008/06/21/mimpi-dan-realita-part-3/" target="_self">(bersambung ke part 3)</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/49/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/49/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=49&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/06/19/mimpi-dan-realita-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mimpi dan Realita (part 1)</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/06/18/mimpi-dan-realita-part-1/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/06/18/mimpi-dan-realita-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 17:55:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pembahasan kondisi Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi Makro]]></category>
		<category><![CDATA[Inflasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[WHAT THEY SAID&#8230; Wishful thinking is one thing, and reality another Jalal Talabani &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; &#8220;Mimpi dan Realita adalah dua hal yang berbeda&#8221;, begitu kira kira maksud presiden Irak yang saya kutip ini. Kalimat tersebut sangat pas untuk menggambarkan apa yang terlintas dalam pikiran saya ketika menyempatkan diri membaca keterangan pers Gubernur BI 5 juni lalu. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=44&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>WHAT THEY SAID&#8230;</strong></p></blockquote>
<blockquote><p><em>Wishful thinking is one thing, and reality another</em></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Jalal Talabani</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mimpi dan Realita adalah dua hal yang berbeda&#8221;, begitu kira kira maksud presiden Irak yang saya kutip ini. Kalimat tersebut sangat pas untuk menggambarkan apa yang terlintas dalam pikiran saya ketika menyempatkan diri membaca keterangan pers Gubernur BI 5 juni lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam rapat Dewan Gubernur BI yang terakhir itu, Gubernur Bank Sentral Boediono menyampaikan :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Inflasi pada 2008 kemungkinan akan meningkat pada kisaran 11,5-12,5% (yoy). Namun kami memperkirakan bahwa dengan berbagai kebijakan yang telah dan akan dilakukan, baik oleh Bank Indonesia maupun Pemerintah, inflasi akan kembali mengarah ke satu digit di tahun 2009 pada kisaran 6,5%±1%. Bank Indonesia akan memfokuskan pada upaya meredam dampak tidak langsung dari kenaikan harga BBM dan pangan.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Lalu apa kaitannya keterangan pers ini dengan ucapan Jalal Talabani yang saya kutip di atas?<span id="more-44"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Pertama-tama mari kita lihat target inflasi pemerintah yang dikatakan berada pada kisaran &#8220;11,5-12,5%&#8221;. Apakah ini sebuah target yang realistis, atau lebih dekat kepada &#8220;mimpi&#8221;? Dalam 5 bulan pertama tahun 2008 ini, tingkat inflasi sudah mencapai 5,47%. Berarti dalam 7 bulan yang tersisa, inflasi &#8220;ditargetkan&#8221; oleh pemerintah tidak akan melebihi 7%. Meskipun dalam hidup segala sesuatu bisa terjadi, ada beberapa alasan yang membuat saya meragukan target tingkat inflasi itu bisa dicapai.</p>
<p style="text-align:justify;">Sewaktu harga BBM dinaikkan pada tahun 2005, tingkat inflasi bulan berikutnya mencapai 8,7%. Meskipun kenaikan BBM pada bulan Mei lalu secara persentase tidak sebesar kenaikan tahun 2005, kenaikan BBM tahun ini tetaplah cukup tinggi. Tekanan inflasi akibat kenaikan harga BBM ini masih akan kita rasakan dalam beberapa bulan ke depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Alasan kedua yang membuat saya ragu akan target inflasi pemerintah itu, adalah karena di paruh kedua tahun ini, kita akan melalui periode Lebaran dan juga Natal. Seperti yang kita tahu, kedua Hari Raya tersebut selalu cenderung diikuti oleh kenaikan harga-harga barang. Ini berarti tekanan inflasi juga akan bertambah besar.</p>
<p style="text-align:justify;">Alasan ketiga adalah faktor Imported Inflation (Inflasi &#8220;import&#8221;) yang pernah saya bahas dalam post &#8220;<a href="http://janganserakah.wordpress.com/2008/06/05/bernanke-bank-indonesia-dan-bi-rate/">Bernanke, Bank Indonesia dan BI Rate</a>&#8220;. Permasalahan inflasi bukan hanya dialami oleh Indonesia. Pada saat ini, boleh dikatakan setiap negara di dunia juga mengalami tingkat inflasi yang tinggi. Setiap kali kita mengimpor barang dari negara-negara itu, kita juga &#8220;mengimpor&#8221; inflasi dari negara itu. &#8220;Sumbangan&#8221; inflasi dari luar negeri ini juga akan mendorong tingkat kenaikan inflasi di negara kita. Faktor &#8220;Imported Inflation&#8221; ini lalu semakin parah karena menguatnya mata uang berbagai negara terhadap Dollar US dan juga Rupiah.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Alasan terakhir mengapa saya meragukan target inflasi pemerintah bisa tercapai adalah karena kondisi pasar komoditas dunia. Dalam hal ini saya bukan hanya berbicara mengenai minyak ataupun emas, tetapi juga mengenai berbagai bahan pangan seperti gandum, beras, jagung, dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kenaikan harga berbagai komoditas pangan secara drastis selama ini, bisa dikatakan sebagian besar diakibatkan oleh faktor supply dan demand, dan bukan karena aksi spekulasi. Oleh karena itu, kemungkinan harga komoditas pangan akan turun drastis sepertinya relatif kecil.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagaimana dengan komoditas minyak? Meskipun ada beberapa pihak yang menyalahkan aksi spekulan sebagai penyebab kondisi harga minyak saat ini, ada juga beberapa pihak yang menyatakan bahwa kenaikan harga minyak lebih disebabkan karena faktor supply dan demand. Terlepas dari pihak mana yang benar, pada saat ini, tidak ada yang berani meramalkan kapan harga minyak akan turun (itu pun kalau benar akan turun).</p>
<p style="text-align:justify;">Kombinasi dari berbagai faktor di atas membuat saya berpendapat bahwa target inflasi pemerintah lebih dekat ke &#8220;mimpi&#8221; daripada realita.</p>
<p style="text-align:justify;"><a title="baca part 2" href="http://janganserakah.com/2008/06/19/mimpi-dan-realita-part-2/" target="_self">(<span style="text-decoration:underline;">bersambung ke part 2</span>)</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/44/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/44/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=44&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/06/18/mimpi-dan-realita-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>