<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; -INVESTASI vs SPEKULASI-</title>
	<atom:link href="http://janganserakah.com/category/investasi-vs-spekulasi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://janganserakah.com</link>
	<description>Sebuah blog sederhana tentang dunia investasi dan perencanaan keuangan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 12 May 2010 04:06:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='janganserakah.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d528815cd098af4ded4ea5f747ac55f8?s=96&#038;d=http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi &#187; -INVESTASI vs SPEKULASI-</title>
		<link>http://janganserakah.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://janganserakah.com/osd.xml" title="Jangan Serakah : Bedakan antara Investasi dan Spekulasi" />
	<atom:link rel='hub' href='http://janganserakah.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Mati Tertawa Ala Investor</title>
		<link>http://janganserakah.com/2009/05/11/mati-tertawa-ala-investor/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2009/05/11/mati-tertawa-ala-investor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 18:04:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[-INVESTASI vs SPEKULASI-]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Spekulasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.com/?p=1652</guid>
		<description><![CDATA[Sewaktu saya SMP dulu, ada sebuah seri buku kumpulan humor yang cukup populer dan bisa ditemukan dengan mudah di berbagai toko buku. Buku tersebut adalah buku seri &#8220;Mati Tertawa ala &#8230;&#8230;..&#8221;, misalnya saja Mati Tertawa ala Rusia, Mati Tertawa ala Amerika, ataupun Mati Tertawa ala ABG, dan lain sebagainya. Karena saya termasuk salah seorang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1652&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sewaktu saya SMP dulu, ada sebuah seri buku kumpulan humor yang cukup populer dan bisa ditemukan dengan mudah di berbagai toko buku. Buku tersebut adalah buku seri &#8220;Mati Tertawa ala &#8230;&#8230;..&#8221;, misalnya saja Mati Tertawa ala Rusia, Mati Tertawa ala Amerika, ataupun Mati Tertawa ala ABG, dan lain sebagainya. Karena saya termasuk salah seorang yang menyukai humor, saya pun cukup gemar mengikuti buku-buku seri tersebut.<em> &#8216;Terinspirasi&#8217;</em> oleh buku seri tersebut, artikel ini pun akhirnya saya namakan <strong>&#8216;Mati Tertawa Ala Investor&#8217;</strong>.</p>
<p>Jadi apa yang membuat saya <em>(hampir)</em> mati tertawa?<span id="more-1652"></span></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Pagi ini, saya bersama keluarga sedang menikmati makan pagi di salah satu hotel di Jakarta. Sambil menikmati kopi, saya pun mulai membuka koran Kompas yang saya bawa dari kamar hotel. Di salah satu halaman harian tersebut, saya menemukan artikel karya <strong>Adler Haymans Manurung</strong>. Bagi yang tidak mengenal nama ini, Adler ini adalah seorang praktisi Pasar Modal dan Pengajar di beberapa Universitas terkemuka. Dia juga telah menulis beberapa buku, antara lain &#8220;Reksadana Investasiku&#8221;, dan&#8221;Financial Planner: Panduan Praktis Mengelola Keuangan Keluarga&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Artikel Adler sendiri di Kompas hari ini cukup menggelitik rasa ingin tahu saya. Judul artikel tersebut adalah &#8220;Bermain Saham Gorengan&#8221;. Karena penasaran apa pendapat Adler tentang &#8216;bermain saham gorengan&#8217;, saya pun mulai membaca artikel tersebut. Tetapi begitu membaca beberapa paragraf, saya pun tersedak kopi saya karena kaget dengan tulisan Adler tersebut. Berikut saya kutip beberapa bagian dari artikel tersebut : <em>(artikel tersebut bisa dibaca lengkap <a title="baca artikel lengkapnya" href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/05/10/03130662/Bermain.Saham.Gorengan" target="_blank">di sini</a>)</em></p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Saham goreng-gorengan dapat diperhatikan ketika bursa mulai buka.<em><strong> </strong><span style="color:#0000ff;">Tiga puluh menit pertama saham ini sangat bergejolak dan bisa membuat <span style="color:#ff0000;"><strong>investor</strong></span> ketakutan</span></em><span style="color:#0000ff;">.</span> Harga saham turun tajam mendekati batas suspens saham dan bergerak lagi naik menuju suspens batas atas saham tersebut.<em> <span style="color:#0000ff;"><strong><span style="color:#ff0000;">Investor</span></strong> yang sudah sering bertransaksi saham, bahkan yang suka berjudi, sangat cocok memerhatikan saham ini karena memberi keasyikan sendiri</span></em><span style="color:#0000ff;">.</span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8230;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff0000;"><em><strong>Investor</strong></em></span> yang bertransaksi di bursa sering kali mendengar rumor yang membuat harga saham bergerak naik atau turun. <span style="color:#0000ff;"><em>Bahkan, ada<strong><span style="color:#ff0000;"> investor</span></strong> hanya mengandalkan rumor untuk mendapat keuntungan dalam bermain saham di bursa.</em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8230;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;"><strong><span style="color:#ff0000;">Investor</span></strong> yang piawai dan sangat mengenal berinvestasi dan bertransaksi saham di bursa sering juga bertransaksi menggunakan margin</span></em>. Artinya, investor bisa membeli saham beberapa kali dari dana yang dimiliki.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8230;</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em><span style="color:#0000ff;">Bila<strong> <span style="color:#ff0000;">investor</span></strong> melihat harga drop 20 persen dan tidak ada kejadian atau rumor jelek beredar yang membuat harga lebih jatuh esok harinya, <strong><span style="color:#ff0000;">investor</span></strong> ancang-ancang untuk beli. Kemudian, ketika saham ini naik tajam lagi dan melebihi 15 persen dari harga sehari sebelumnya, investor sudah saatnya keluar dan dapat merealisasikan keuntungan yang tinggi</span>.</em> Bila tindakan ini dilakukan dengan jumlah besar dan tepat, <strong><span style="color:#ff0000;">investor</span></strong> akan memperoleh untung besar dan bisa memberikan dana pensiun <span style="color:#ff0000;"><strong>investor</strong></span> sehingga <strong><span style="color:#ff0000;">investor</span></strong> bisa bebas dari masalah finansial.<span style="color:#0000ff;"><em></em></span></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Kalau seseorang mengatakan kepada anda, bahwa ia:</p>
<ul>
<li>Merasa takut karena saham yang dibelinya bergejolak dalam 30 menit pertama bursa dibuka.</li>
<li>Hanya mengandalkan rumor untuk mendapatkan keuntungan dalam<em> &#8216;bermain&#8217;</em> (???) saham di bursa.</li>
<li>Membeli saham &#8216;gorengan&#8217; beberapa kali lipat dari dana yang ia miliki, dengan menggunakan margin.</li>
<li>Membeli saham hanya karena harga saham tersebut hari ini sudah turun 20% dan tidak ada kejadian atau rumor jelek beredar yang bisa membuat harga saham tersebut LEBIH turun lagi BESOK.</li>
<li>Membeli saham hari ini, dan berharap bisa menjual saham tersebut besok&#8230;&#8230;</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">maka apakah yang akan ada di kepala anda? Apakah orang tersebut adalah seorang Investor atau Spekulator (tanpa ia sadari)? Apakah yang dilakukan orang tersebut merupakan Investasi atau Spekulasi? Apakah benar dengan cara seperti ini, seseorang bisa mendapatkan &#8220;kebebasan finansial&#8221;? Atau malahan kemungkinan besar ia akan terkena &#8220;malapetaka finansial&#8221; (cepat atau lambat)?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Membaca apa yang ditulis oleh Adler tersebut, mau tidak mau saya kembali teringat kepada tulisan Ben Graham di bab I &#8220;The Intelligent Investor&#8221;. Dalam bab tersebut, Graham menulis tentang keadaan di Amerika pada tahun 1970-an :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Media massa pada saat ini menggunakan kata &#8220;investor&#8221; dalam hal-hal ini, karena pada saat ini di Wall Street, setiap orang yg membeli atau menjual saham telah dianggap sebagai investor, tanpa memperdulikan apa yang dia beli, harga belinya, ataupun metodenya (cash atau margin)</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Yang membuat saya <em>&#8216;tertawa&#8217;</em> (miris), adalah karena apa yang sedang terjadi di negara kita ini adalah apa yang justru dikritik oleh Graham pada waktu itu. Kata <span style="color:#0000ff;"><strong>&#8216;Investor&#8217;</strong></span> dan <strong><span style="color:#0000ff;">&#8216;Investasi&#8217; </span></strong>diobral dengan mudah, seperti yang bisa terlihat dalam artikel Adler tersebut, meskipun praktek-praktek yang disinggung itu adalah justru praktek spekulasi. Jika seorang Adler Haymans Manurung (yg konon kabarnya kerap dicap sebagai &#8220;bapak Reksadana Indonesia&#8221;) saja tidak membedakan antara Investasi dan Spekulasi, bagaimana dengan khalayak umum?</p>
<p style="text-align:justify;">Jika masyarakat beramai-ramai melakukan apa yang diceritakan oleh Adler dalam artikelnya tersebut, maka di masa depan (cepat atau lambat), saya pasti akan terpaksa menulis artikel dengan judul <span style="color:#0000ff;"><strong>&#8220;Mati Menangis Ala Spekulator&#8221;</strong></span> karena banyaknya orang yang <em>&#8216;mati&#8217;</em> akibat spekulasi seperti ini.</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Pada akhir artikel ini, saya pikir mungkin ada baiknya saya membagi <span style="text-decoration:underline;">sebagian</span> dari apa yang telah dituliskan oleh Ben Graham dalam bab I &#8220;The Intelligent Investor&#8221;. Bab ini merupakan salah satu bab favorit saya. Dengan membaca tulisan Graham tersebut, mudah-mudahan anda bisa lebih mengerti apa yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PS:</strong> <em><span style="text-decoration:underline;">Ini merupakan terjemahan yang saya lakukan sendiri dari buku The Intelligent Investor bahasa Inggris, Revised edition</span>. Mungkin akan sedikit berbeda dibandingkan jika anda membaca versi Indonesia buku tersebut. Dalam melakukan terjemahan/rangkuman ini, saya akan selalu berusaha untuk memakai terjemahan  langsung, tetapi jika saya merasa terjemahan langsung akan sulit dimengerti oleh banyak orang, saya akan menggunakan bahasa yg lebih sederhana. Saya juga akan membuang beberapa kalimat ataupun paragraph yg saya rasa agak repetitive ataupun tidak terlalu penting.</em></p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<h2 style="text-align:center;">THE INTELLIGENT INVESTOR</h2>
<p style="text-align:center;"><strong>Ben Graham<br />
</strong></p>
<p style="text-align:center;"><strong>BAB I: Investasi versus Spekulasi </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><br />
</strong> Apa yg dimaksud dengan &#8220;investor&#8221;? Dalam buku ini, kata &#8220;investor&#8221; akan dipakai secara  berlawanan dari kata &#8220;Spekulator&#8221;. Dalam buku kami &#8220;Analisa Sekuritas&#8221; (1934), kami mencoba memformulasikan perbedaan keduanya sebagai berikut :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;">Investasi adalah sebuah operasi yang, melalui analisa yg mendalam, menjanjikan  keamanan modal pokok dan juga tingkat pengembalian (return/hasil) yg LAYAK.  Operasi yang tidak memenuhi persyaratan di atas adalah spekulasi.</p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Meskipun kami telah berpegang kepada definisi di atas selama masa 38 thn (1934-1972), selama periode ini ada suatu perubahan radikal yg terjadi dalam penggunaan kata &#8220;Investor&#8221;. Setelah periode 1929-1932, <em>(<strong><span style="color:#0000ff;">Edison: </span></strong>Bursa saham USA rontok pada masa tersebut)</em> masyarakat secara luas menganggap bahwa semua saham itu bersifat spekulasi. Seorang pakar ekonomi pada saat itu bahkan menyatakan bahwa hanya obligasi yang pantas disebut sebagai investasi dan hanya pembeli obligasi yg pantas disebut &#8220;investor&#8221;.  Pada saat itu definisi investasi kami dianggap terlalu &#8220;longgar&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat ini (1972), keadaannya justru terbalik. Kami ingin melindungi para pembaca dari penyalah-gunaan kata &#8220;investor&#8221;, dimana trend pada saat ini adalah semua orang yg <em>&#8216;bermain&#8217;</em> di pasar saham disebut &#8220;investor&#8221;. Dalam edisi terdahulu buku ini, kami ada  mengutip sebuah artikel dalam jurnal finansial terkemuka terbitan Juni 1962: <strong>&#8220;Investor kecil Bearish, Mereka melakukan short-selling saham&#8221;</strong>. Kini pada Oktober 1970, jurnal yang  sama memuat sebuah artikel tentang <strong>&#8220;Reckless investor/Investor gegabah yang mulai membeli saham&#8221;. </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><em>(<span style="color:#0000ff;"><strong>Edison:</strong></span> &#8220;Bearish&#8221; adalah kondisi dimana para pelaku dalam pasar saham itu pesimis dan berpendapat bahwa saham akan turun. Kebalikan dari ini adalah &#8220;Bullish&#8221;. Short-sell secara sederhana adalah praktek dimana seseorang yg &#8220;bearish&#8221; itu meminjam saham dari orang lain (dgn membayar fee), lalu menjual saham itu dengan harapan harga saham itu di kemudian hari akan turun. Jika itu terjadi, dia bisa membeli kembali saham itu dengan harga lebih murah utk dikembalikan ke pemilik saham. Selisih antara harga jual (tinggi) dengan harga beli  (rendah) ini menjadi keuntungan bagi si short-seller itu.)<br />
</em><br />
Kedua artikel di atas melukiskan kekacauan dalam penggunaan kata &#8220;investasi&#8221; dan &#8220;spekulasi&#8221; selama ini. Bandingkan definisi &#8220;investasi&#8221; kami dengan perilaku masyarakat di atas. Bagaimana suatu operasi bisa dikatakan sebagai &#8220;investasi&#8221; bila dilakukan oleh orang yg tidak berpengalaman, yang bahkan tidak memiliki barang yg dia jual, dan hanya berdasarkan kepada keyakinan emosional (firasat) bahwa dia akan bisa membeli kembali barang yg dia jual dengan harga yg lebih murah? (Kami ingin mengingatkan kembali bahwa pada tahun 1962 itu, pasar telah jatuh sangat rendah dan justru akan kemudian naik dengan drastis. Masa itu adalah masa paling salah utk melakukan &#8220;short-sell&#8221;)</p>
<p style="text-align:justify;">Artikel kedua yg memakai kata &#8220;investor gegabah&#8221; itu juga bisa ditertawakan karena kontradiksi (pertentangan) diantara kedua kata tersebut. Ini sama halnya seperti jika kita berkata &#8220;orang hemat yang boros&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Media massa pada saat ini menggunakan kata &#8220;investor&#8221; dalam hal-hal ini, karena pada saat ini di Wall Street, setiap orang yg membeli atau menjual saham telah dianggap sebagai investor, tanpa memperdulikan apa yang dia beli, harga belinya, ataupun metodenya (cash atau margin). Bandingkan kondisi ini dengan kondisi pada tahun 1948, dimana dalam suatu survey, 90% orang mempunyai pandangan negatif tentang saham, dengan berbagai alasan spt &#8220;tidak aman&#8221;, &#8220;spekulatif&#8221;, &#8220;spt judi/gambling&#8221; dan &#8220;tidak paham tentang saham&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Sangat ironis (meskipun tidak mengherankan) bahwa saham justru dianggap &#8220;spekulatif&#8221; di saat mereka dijual dengan harga yg sangat murah dan &#8220;atraktif&#8221;. Ironis juga bagaimana sebaliknya justru ketika saham naik ke tingkat harga yg tinggi (mahal) dan &#8220;berbahaya&#8221;, saham justru dianggap sebagai &#8220;investasi&#8221; dan semua pembeli saham disebut sebagai &#8220;investor&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Pembedaan antara &#8220;investasi&#8221; dan &#8220;spekulasi&#8221; adalah sesuatu yg sangat penting, dan semakin menghilangnya pembedaan ini merupakan sesuatu yg sangat mengkhawatirkan. Kami sering berkata bahwa Wall Street sebagai suatu institusi seharusnya membedakan &#8220;investasi&#8221; dan &#8220;spekulasi&#8221; dan menginformasikan perbedaan keduanya kepada publik. Jika tidak, suatu hari, bursa saham bisa disalahkan atas kerugian spekulatif yang besar, yang diderita oleh orang-orang yang tidak diperingatkan tentang perbedaan antara investasi dan spekulasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Kami percaya bahwa pembaca buku ini akan mendapatkan sebuah gambaran yg cukup jelas tentang resiko-resiko yg terkait dalam investasi saham. Resiko ini merupakan bagian yg tidak terpisahkan dari peluang Profit/Untung yang ditawarkan, dan harus menjadi bagian dari perhitungan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang investor harus mengenali bahwa di sebagian besar waktu, akan ada faktor spekulatif dalam investasi saham. Tugas seorang investor adalah menjaga agar komponen spekulatif ini di tingkat yg minimum, dan mempersiapkan diri secara finansial dan psikologis utk hasil yg buruk, yg mungkin saja hanya sementara, ataupun juga berlangsung agak lama.</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu catatan penting, yaitu kita harus membedakan antara spekulasi saham murni dengan faktor spekulatif yg terkandung dalam hampir setiap saham. Spekulasi murni bukanlah sesuatu yang illegal atau juga immoral, tetapi juga biasanya tidak membuat dompet anda lebih tebal (bagi kebanyakan orang).</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti halnya di dunia ini ada &#8220;Intelligent Investing&#8221; (Investasi dengan cerdik), ada juga &#8220;Intelligent Speculation&#8221; (Spekulasi dengan cerdik). Tetapi ada banyak kondisi dimana spekulasi itu menjadi sesuatu yg &#8220;tidak cerdik&#8221; (BODOH). Kondisi-kondisi itu terutama :</p>
<ol>
<li>Berspekulasi dengan berpikir bahwa anda sedang berinvestasi (Tidak sadar kalau sebenarnya sedang berspekulasi).</li>
<li>Berspekulasi secara serius (bukan sbg &#8220;hiburan&#8221;), padahal ilmu, pengetahuan dan kemampuannya tidak mencukupi utk itu.</li>
<li>Berspekulasi dalam jumlah yang terlalu besar, padahal sebenarnya kita tidak mampu utk kehilangan uang sejumlah itu.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dalam pandangan kami, setiap non-profesional yang ber&#8221;main&#8221; saham dengan margin <em>(<span style="color:#0000ff;"><strong>Edison:</strong></span> secara sederhana, membeli dengan margin itu berarti membeli saham dengan meminjam uang dari broker)</em>, harus sadar bahwa sebenarnya dia itu berspekulasi (atau lebih parah lagi berjudi). Demikian juga  dengan orang-orang yg membeli saham yang sedang &#8220;hot&#8221; tanpa analisa.</p>
<p style="text-align:justify;">Spekulasi memang mengasyikkan, terutama jika kita sedang menang. Jika anda ingin mencoba keberuntungan anda, pisahkan sebagian uang anda -semakin sedikit semakin baik- sebagai dana utk spekulasi. Jangan pernah menambahkan uang ke dalam dana ini hanya karena anda sedang menang. Itu justru saatnya untuk menarik sebagian uang dari dana spekulasi tersebut. <em>(<span style="color:#0000ff;"><strong>Edison:</strong></span> Terlebih lagi jika kita kalah&#8230;.jangan kita justru menambah uang utk spekulasi ini)</em>.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Jangan pernah mencampurkan dana utk investasi dan dana utk spekulasi anda! Juga jangan pernah mencampurkan investasi dan spekulasi dalam otak anda!</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/1652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/1652/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=1652&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2009/05/11/mati-tertawa-ala-investor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>102</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Investasi dan Spekulasi</title>
		<link>http://janganserakah.com/2008/05/31/investasi-dan-spekulasi/</link>
		<comments>http://janganserakah.com/2008/05/31/investasi-dan-spekulasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 May 2008 15:14:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Edison</dc:creator>
				<category><![CDATA[-INVESTASI vs SPEKULASI-]]></category>
		<category><![CDATA[Pemikiran tentang Investasi]]></category>
		<category><![CDATA[Investasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://janganserakah.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[WHAT THEY SAID&#8230; There are two times in a man&#8217;s life when he should not speculate : when he can&#8217;t afford it and when he can Mark Twain &#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211; Menurut Benjamin Graham, pengarang buku &#8220;The Intelligent Investor&#8221;, definisi dari INVESTASI adalah : an operation, which upon thorough analysis, promises safety of principal, and an adequate [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=17&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><strong>WHAT THEY SAID&#8230;</strong></p></blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>There are two times in a man&#8217;s life when he should not speculate : when he can&#8217;t afford it and when he can</em></p>
<p style="text-align:right;"><strong>Mark Twain</strong></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Benjamin Graham, pengarang buku &#8220;The Intelligent Investor&#8221;, definisi dari <strong>INVESTASI</strong> adalah :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>an operation, which upon <span style="text-decoration:underline;">thorough analysis</span>, promises <span style="text-decoration:underline;">safety of principal</span>, and an <span style="text-decoration:underline;">adequate return</span>. Operations not meeting these requirements are speculative.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:justify;">Dalam bahasa Indonesia, definisi di atas kurang lebih berarti :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>sebuah operasi, di mana melalui <span style="text-decoration:underline;">analisa yang mendalam</span>, menjanjikan <span style="text-decoration:underline;">keamanan modal pokok</span>, dan juga <span style="text-decoration:underline;">hasil yang layak/pantas</span>. Operasi-operasi yang tidak memenuhi persyaratan di atas adalah spekulatif.</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;">Dari definisi di atas, terlihat ada 3 elemen yang wajib kita perhatikan dalam menjalankan investasi :</p>
<ul>
<li><strong>Kita wajib melakukan analisa yang mendalam</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left:60px;text-align:justify;">Investasi dalam bentuk apapun, haruslah telah melalui suatu analisa yang benar-benar mendalam. Untuk investasi dalam saham misalnya, kita harus melihat bagaimana kondisi perusahaan itu sebenarnya. Ingatlah bahwa jika kita akan membeli selembar saham, kita bukanlah akan membeli secarik kertas, melainkan kita akan turut menjadi pemilik bisnis yg berdiri di balik saham itu.</p>
<p style="padding-left:60px;text-align:justify;"><span id="more-17"></span>Sebagai calon pemilik, Apakah kita tahu bagaimana kondisi bisnis tersebut? Berapa asetnya? Berapa hutangnya? Berapa penjualannya? Berapa marjin keuntungannya? Siapa saja pesaingnya? Siapa saja pelanggannya? Produk apa yang merupakan produk utamanya? Berapa persen kontribusi produk tersebut kepada keuntungan perusahaan?</p>
<p style="padding-left:60px;text-align:justify;">Sebagai investor, tentunya kita ingin menjadi pemilik suatu bisnis yang solid dan menguntungkan. Pertanyaan-pertanyaan di atas hanyalah merupakan sebagian kecil dari pertanyaan yang harus kita ajukan kepada diri sendiri sebelum kita membeli saham, agar kita yakin bahwa kita tidak berinvestasi di perusahaan yang salah. Analisa terhadap kondisi perusahaan seperti di atas dikenal sebagai Analisa Fundamental, dan memerlukan penelitian yang mendalam terhadap laporan keuangan dari perusahaan itu.</p>
<p style="padding-left:60px;text-align:justify;">Repot? Tidaklah serepot kalau modal investasi kita lenyap dan kita harus memulai segalanya dari nol lagi.</p>
<ul>
<li><strong>Kita harus senantiasa menjaga keamanan modal pokok kita<br />
</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left:60px;text-align:justify;">Modal pokok kita adalah ibaratnya pohon di taman kita. Kalau buahnya dicuri, tahun depan ia masih akan bisa berbuah lagi. Kalau cabangnya patah, walaupun mengganggu, selama pohon masih hidup, akan tumbuh cabang yg baru dan tetap hasilnya bisa kita nikmati di masa depan. Tetapi bagaimana jika pohon ini sampai roboh?</p>
<p style="padding-left:60px;text-align:justify;">Dalam melakukan investasi, kita selalu wajib mengutamakan keamanan modal pokok kita. Hal ini begitu penting hingga Warren Buffet pun pernah berkata bahwa dalam investasi ada dua aturan utama : (1) Jangan pernah kehilangan uang anda; dan (2) Jangan pernah lupa peraturan no. 1.</p>
<p style="padding-left:60px;text-align:justify;">Satu hal yang layak diingatkan di sini, bahwa setiap investasi pasti mengandung unsur resiko. Bahkan jika kita membeli obligasi negara seperti ORI atau U.S Treasuries pun tetap ada resiko yang kita tanggung. Oleh karena itu jika ada yang menawarkan investasi bebas resiko (NO RISK), langsung tinggalkan saja karena &#8220;misleading&#8221;/berusaha menyesatkan, atau  bahkan sedang mencoba menipu kita.</p>
<ul>
<li><strong>Kita harus mencoba mendapatkan tingkat hasil yang &#8220;layak/pantas&#8221; dan bukan &#8220;luar biasa/spektakuler&#8221;<br />
</strong></li>
</ul>
<p style="padding-left:60px;text-align:justify;">Salah satu aturan utama di dunia investasi adalah &#8220;Return proportionate to Risk&#8221; atau &#8220;Tingkat hasil sebanding dengan resiko&#8221;. Tingkat resiko yang tinggi menawarkan kemungkinan tingkat hasil yang tinggi pula dan demikian juga sebaliknya. Tidak ada yang namanya &#8220;Resiko Rendah dengan Hasil yang tinggi&#8221;. Jika seseorang menawarkan anda hal seperti ini, langsung balikkan badan anda dan tinggalkan orang itu, karena lagi-lagi  kalau bukan  sengaja  &#8220;misleading&#8221;/menyesatkan,  maka orang itu sedang berusaha menipu anda.</p>
<p style="padding-left:60px;text-align:justify;">Saat ini, setiap hari boleh dikatakan anda bisa menemui iklan Workshop Option, Forex ataupun produk derivatif lainnya yang sibuk &#8220;menjual mimpi&#8221;. Workshop-workshop seperti ini menawarkan prospek seperti &#8220;Over 1100% profit in one day!&#8221;. Apakah mungkin meraih keuntungan 1100% dalam 1 hari dengan option? Mungkin saja, retapi yang tidak ditulis dalam iklan-iklan tersebut adalah utk satu orang yang mendapatkan untung 1100% dalam sehari itu, ada berapa orang yang modalnya habis ludes. Bahkan, sebelum mendapatkan untung 1100% itu (atau juga sesudahnya), berapa kerugian yang diderita orang itu?</p>
<p style="text-align:center;">&#8212;&#8211;oOo&#8212;&#8211;</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu kenyataan yang ironis dalam dunia investasi adalah bahwa banyak orang yang tidak menyadari hal-hal di atas. Mereka terjebak dalam persepsi yang salah, sehingga mereka mengira apa yang telah mereka lakukan adalah investasi, padahal sebenarnya spekulasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada baiknya kita selalu mengingat nasehat Benjamin Graham mengenai spekulasi :</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Just as there is intelligent investing, there&#8217;s also intelligent speculation. But there are many ways in which speculation may be unintelligent. Of these, the foremost are : (1) speculating when you think you are investing; (2) speculating seriously instead of as a pastime, when you lack the proper knowledge and skill for it; and (3) risking more money in speculation than you can afford to lose</em></p>
</blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><em>Sama halnya bahwa ada Investasi dengan cerdik, ada juga Spekulasi dengan cerdik. Tetapi ada beberapa kondisi dimana spekulasi mungkin tidaklah cerdik, terutama : (1) Berspekulasi sambil menganggap bahwa anda itu berinvestasi (2) Berspekulasi secara serius (dan bukan utk bermain-main), padahal tidak mempunyai pengetahuan maupun keahlian utk itu; dan (3) Mempertaruhkan uang di spekulasi dalam jumlah yg terlalu besar</em></p>
</blockquote>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/janganserakah.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/janganserakah.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/janganserakah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/janganserakah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/janganserakah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/janganserakah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/janganserakah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/janganserakah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/janganserakah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/janganserakah.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/janganserakah.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/janganserakah.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=janganserakah.com&blog=3861276&post=17&subd=janganserakah&ref=&feed=1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://janganserakah.com/2008/05/31/investasi-dan-spekulasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ae628bb9f7b7722d08a71d291372e337?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">edison76</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>